15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Beda Cara, Satu Tujuan: Cerita Healing Versi Gen Z

Ni Wayan Suwini by Ni Wayan Suwini
October 29, 2025
in Gaya
Beda Cara, Satu Tujuan: Cerita Healing Versi Gen Z

Stevany healing di Bukit Trunyan

“Healing dulu deh!” Kalimat yang rasanya sudah cukup sering terdengar di kalangan anak muda. Entah diucapkan setelah seminggu penuh kerja, setelah nugas yang bikin pusing, atau kegundahan lainnya. Beberapa tahun terakhir, istilah healing sepertinya sudah menjadi keseharian anak muda, mulai dari caption Instagram, story WhatsApp, sampai obrolan nongkrong bareng, kata tersebut muncul di mana-mana. Kadang serius, kadang juga hanya bahan bercandaan. Tapi, satu hal yang pasti, di balik kata healing, selalu ada rasa lelah yang ingin ditenangkan.

Generasi muda sekarang punya caranya sendiri untuk pulih, ada yang merasa tenang saat menghirup udara pantai, ada yang lebih suka menatap langit gunung, dan ada juga yang cukup rebahan di kamar dengan mendengar lagu favoritnya. Healing tidak lagi melulu soal liburan mewah atau perjalanan jauh, kadang sesederhana memberi waktu untuk diri sendiri agar bisa bernapas lega juga sudah merupakan healing tersendiri.

Bagi Ni Kadek Stevany Riska Priyani (20), mahasiswa semester V di Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia (INSTIKI), healing yang sesungguhnya ada di alam terbuka. “Kalau lagi ada duit, biasanya aku ke pantai. Apalagi kalau ada temen, bisa ngobrol sambil liat laut. Tapi kalau lagi nggak mood keluar, paling tidur sambil denger lagu,” ujarnya santai.

Stevany mengaku dirinya bukan tipe yang suka nongkrong di kafe ramai. Ia lebih suka suasana alam seperti pantai atau gunung. “Alam tuh kayak langsung bikin mata seger, sambil mikir kayak, wah ciptaan Tuhan indah banget ya,” tambahnya sambil tertawa kecil.

Ni Kadek Diah Giri Harta Muliasari

Salah satu momen healing terbaik baginya adalah saat kumpul di pantai bersama teman-temannya. “Kita nge-grill, deep talk, ketawa bareng. Rasanya nyambung banget dan bener-bener bikin hati tenang.” Tapi ternyata tak semua momen healing berjalan sempurna bagi Stevany, “kadang sih bukan gagal total, cuma energinya nggak nyatu aja sama orang-orangnya. Jadi feelnya kurang dapet,” ungkapnya.

Stevany percaya kalau alam punya kekuatan menenangkan yang nyata. “Kalo itu sih real 100% iyaa! berdasarkan pengalaman mendaki kemarin, itu walaupun di awal capek banget, kaki pegel, tapi pas dijalanin nyampe puncak, capeknya langsung ilang setelah liat pemandangan alam yang bener-bener wow banget kayak ga nyangka ternyata alam seindah itu,” ceritanya penuh dengan semangat.

Ketika diberi pertanyaan tentang ingin healing kemana dan ngelakuin apa saja tanpa memikirkan apapun, Stevany dengan cepat menjawab, “Keliling dunia sih, dari dulu pengen banget menjelajahi dunia gitu, kayak berasa nambah ilmu dan experience.” Ia juga memberikan rekomendasi healing versinya, “mendaki sihh, menurutku minimal sekali seumur hidup harus nyoba mendaki karena emang seseru itu, apalagi bisa survive sampai puncak, itu keren banget sih. Kayak banyak kenangan dan memori selama tracking sampe puncak, dan itu yang paling berkesan.”

Senada dengan Stevany, Komang Ayu Sintya Pratiwi juga mengaku lebih sering healing di alam terbuka. Kesibukan Sintya kini bekerja, ia berusia 20 tahun. “Lebih nyaman aja kalo di outdoor, contohnya pantai. Yaa, emang ga sering banget sih, cuma suasananya tuh bikin tenang apalagi sambil liat sunset terus dengerin suara ombak, bisa foto-foto juga terus biaya akses masuk ke pantai ga terlalu mahal, palingan cuma bayar parkir atau tiket masuk 5 ribu doang, sekalian jadi tempat piknik kecil-kecilan, bebas bawa makanan atau minuman,” ungkapnya.

Sintya di Blue Lagoon

Sintya mengaku kadang juga pergi ke tempat indoor seperti mall, terutama saat gabut, “Biasanya keliling mall, beli jajanan favorit, atau main di funworld. Pokoknya kalo dah gabut di rumah, pasti langsung cuss ke living world.”

Namun, tak semua rencana healing berjalan mulus. “Pernah ih, dan kejadiannya baru-baru ini. Jadi udah susun rencana tuh mau ngapain aja di Kebun Raya Bedugul, udah punya plan mau main sepeda sambil kelilingin Kebun Raya Bedugul sekalian tuh buat video-video aesthetic bareng my boyfie,” ucapnya sambil tersenyum malu-malu, “Eh tiba-tiba malah hujan deres dongg, sedih bangett. Emang sih udah sempet bikin video sama foto ala-ala, cuma kan tetep aja jadi ga seruu, tapi gabisa disalahin sih soalnya daerah sana rawan hujan dan aku kurang siap-siap bawa jashuja plastik, alhasil cuma bisa neduh, jadi lebih lama kejebak hujan daripada jalan-jalan di Kebun Raya Bedugul. Tapi, next bakal ulang kesana lagi sih,” ceritanya dengan menggebu-gebu.

Sintya juga percaya jika suasana hijau dan udara segar bisa banget untuk nurunin stres. “Sekarang malah lebih suka healing ke alam ketimbang nongkrong di kafe,” katanya. Ketika diberikan pilihan antara duduk di kafe estetik atau di tepi pantai, ia langsung menjawab, “duduk tepi pantai lah, sambil makan cemilan, liat sunset, dengerin lagu. Rasanya bebas aja gitu.”

Stevany di dermaga Bedugul

Sintya juga sempat merekomendasikan satu tempat cocok untuk healing versinya, yaitu Restaurant Bloo Lagoon yang berlokasi di Padang Bai, Karangasem, “dari Denpasar juga ga terlalu jauh-jauh banget. Terus nih view di sana muantep poll, kita bisa liat orang snorkeling, liat kapal nyebrang, pantainya juga bersih, adem, tenang. Selain itu, kita juga bisa liat bukit-bukit di sana dari atas, bisa liat Candidasa juga, sama pohon-pohon. Harganya juga terjangkau banget, tanpa pajak tambahan, terus staff di sana juga ramah-ramah. Cuma ya, siap-siap gosong aja karena pas kesananya tuh panas banget,” ceritanya dengan semangat.

Berbeda dari dua orang sebelumnya, Ni Kadek Diah Giri Harta Muliasari (20) justru menemukan ketenangan di ruang tertutup. Kesibukannya bekerja membuatnya lebih memilih tempat yang bisa membuatnya rehat sejenak. Ketika ditanya tentang healing itu apa menurutnya, ia menjawab, “Healing tuh tergantung gimana perasaan kita, nyaman dengan situasi atau kejadian tertentu yang bisa buat kita ngerasa santai, entah itu jalan-jalan atau makan enak bahkan sekedar duduk diam natap langit pun selagi kita ngerasa tenang dan dapet energi positif itu bisa disebut healing” ucapnya dengan tenang. Diah mengaku lebih sering ke tempat indoor karena suasana dan tidak ada terpikirkan tempat lain olehnya. Ketika ditanya mengenai pernahkah gagal ketika ingin healing dan berujung stress, ia menjawab, “Belum pernah sih. Sejauh ini masih di ukuran standar, karean itu perlu orang yang mendengarkan keluh kesah kita aja sih. Kecuali duit abis baru tuh buat stres,” jawabnya dengan cukup realistis dan tersenyum karir.

Akan tetapi, Diah mengakui bahwa melihat suasana hijau alam berpengaruh ke fisik dan batin karena ia sempat merasakannya. Bahkan ketika ditanya mengenai keinginan dan rekomendasi tempat healing versinya, jawabannya cukup mengejutkan, “aku pengen healing ke dataran hijau dengan banyak bukit-bukit kecil dan liat aurora, bintang sama bulan di malam hari. Oh, untuk rekomendasi tempat, aku belum pernah ke sana sih tapi tetep aku rekomendasiin, karena aku pengen ke sana juga. Tempatnya itu Bali Farm House, karena bisa menyatu dengan alam plus ada nuansa Swissnya,” jawabnya dengan penuh semangat.

Diah

Dari ketiga jawaban mereka, satu hal yang jelas, healing bukan sekadar tren media sosial, tapi kebutuhan emosional yang nyata. Setiap orang punya cara berbeda untuk menenangkan dirinya, ada yang memilih pantai, ada yang memilih gunung, ada pula yang memilih diam di kamar. Tidak ad acara yang paling benar atau paling salah, karena healing sejatinya bukan soal tempat, tapi tentang keberanian untuk berhenti sejenak dan berdamai dengan diri sendiri.

Mungkin bagi sebagian orang, healing berarti melangkah jauh, menatap cakrawala, atau menghirup udara pegunungan. Tapi bagi yang lain, healing bisa sesederhana tidu cukup, minum kopi sambil dengerin lagu, atau menulis di jurnal pribadi. Yang paling penting itu bukan sejauh ap akita pergi, tapi seberapa tulus kita memberi ruang untuk diri sendiri agar bisa pulih kembali. [T]

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co

Penulis: Ni Wayan Suwini
Editor: Adnyana Ole

Tags: Gen Zhealing
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menjelajahi Akar Tradisi dari Lukisan Wayang Kaca Bali Utara

Next Post

Dua Kampus, Satu Irama: Pementasan Seni yang Menggetarkan Sasana Budaya Singaraja

Ni Wayan Suwini

Ni Wayan Suwini

Lahir 04 Februari 2005. Mahasiswa Universitas PGRI Mahadewa Indonesia Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah

Related Posts

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
0
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

Read moreDetails

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
0
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

Read moreDetails

5 Kesalahan Fatal Saat Pakai Parfum Wanita —Nomor 3 Paling Sering!

by tatkala
May 29, 2026
0
5 Kesalahan Fatal Saat Pakai Parfum Wanita —Nomor 3 Paling Sering!

MENGGUNAKAN parfum wanita memang jadi cara paling simpel untuk meningkatkan rasa percaya diri dan meninggalkan kesan yang elegan. Tapi, tahukah...

Read moreDetails

‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026

by Julio Saputra
May 20, 2026
0
‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026

SEMAKIN malam, semakin meriah juga suasana di Gedung Kesenian I Ketut Marya, pada Jumat, 8 Mei 2016. Tepuk tangan riuh...

Read moreDetails

Antara Proses dan Hasil: Cara Pemain Menentukan Nilai Akun di Valorant

by tatkala
May 4, 2026
0
Antara Proses dan Hasil: Cara Pemain Menentukan Nilai Akun di Valorant

TIDAK semua pemain menikmati perjalanan yang sama dalam game. Ada yang menghargai setiap tahap perkembangan, ada juga yang lebih fokus...

Read moreDetails

HP 12 Jutaan Paling Worth It? —Ini Infinix Note 60 Ultra Harga dan Ulasan Lengkapnya

by tatkala
May 1, 2026
0
HP 12 Jutaan Paling Worth It? —Ini Infinix Note 60 Ultra Harga dan Ulasan Lengkapnya

PASAR ponsel pintar di Indonesia kembali diramaikan oleh kehadiran perangkat yang mendobrak batas kewajaran spesifikasi di kelasnya. Infinix Note 60...

Read moreDetails

Grand Final Pemilihan Duta GenRe Kota Denpasar 2026: Krishna Dananjaya dan Trisna Darmayanti Siap Jadi Figur Remaja Teladan

by Dede Putra Wiguna
April 13, 2026
0
Grand Final Pemilihan Duta GenRe Kota Denpasar 2026: Krishna Dananjaya dan Trisna Darmayanti Siap Jadi Figur Remaja Teladan

A.A Ngurah Agung Krishna Dananjaya dan Komang Trisna Darmayanti resmi terpilih sebagai Winner Duta Generasi Berencana (GenRe) Kota Denpasar 2026....

Read moreDetails

5 Keuntungan Mengubah Footage Drone Menjadi Visual Travel Sinematik 4K

by tatkala
April 6, 2026
0
5 Keuntungan Mengubah Footage Drone Menjadi Visual Travel Sinematik 4K

Teknologi drone telah mengubah cara kita merekam pengalaman perjalanan. Dengan menerbangkan drone, kreator dapat menangkap pegunungan, garis pantai, kota, hingga...

Read moreDetails

Preliminary Show Jegeg Bagus Buleleng 2026: Bagaimana Ajang Muda-Mudi Mampu Mempromosikan UMKM Lokal

by Radha Dwi Pradnyani
March 13, 2026
0
Preliminary Show Jegeg Bagus Buleleng 2026: Bagaimana Ajang Muda-Mudi Mampu Mempromosikan UMKM Lokal

LAMPU sorot menyambar dan menerangi panggung Gedung Kesenian Gde Manik yang menampilkan sepuluh pasangan finalis Jegeg Bagus Buleleng 2026. Mereka...

Read moreDetails

Suara Anak Gianyar Tahun 2026: Menolak Normalisasi Perkawinan Anak Hingga Etika Penggunaan ‘Artificial Intellegence’ Pada Anak

by Wahyu Mahaputra
March 2, 2026
0
Suara Anak Gianyar Tahun 2026: Menolak Normalisasi Perkawinan Anak Hingga Etika Penggunaan ‘Artificial Intellegence’ Pada Anak

SUDAH empat belas tahun Forum Anak Daerah (FAD) Gianyar hadir sebagai salah satu wadah partisipasi anak di Kabupaten Gianyar, dan...

Read moreDetails
Next Post
Dua Kampus, Satu Irama: Pementasan Seni yang Menggetarkan Sasana Budaya Singaraja

Dua Kampus, Satu Irama: Pementasan Seni yang Menggetarkan Sasana Budaya Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co