16 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dua Kampus, Satu Irama: Pementasan Seni yang Menggetarkan Sasana Budaya Singaraja

Ni Wayan Suwini by Ni Wayan Suwini
October 29, 2025
in Panggung
Dua Kampus, Satu Irama: Pementasan Seni yang Menggetarkan Sasana Budaya Singaraja

Salah satu pementasan dalam panggung kolaborasi IAHN Mpu Kuturan dan UPMI Bali

WAKTU begitu cepat menunjukkan pukul tiga sore kala itu. Suasana di Sasana Budaya, 25 Oktober 2025, terasa sedikit tegang dan serius di awal. Mahasiswa dari Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) dan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan baru saja melewati beberapa sesi workshop seni dari para narasumber yang dikenal ahli di bidangnya.

Beberapa mahasiswa masih terlihat mengais atau mencari sisa semangatnya setelah mengikuti kegiatan sebelumnya. Namun, begitu sesi keempat dibuka, yaitu pementasan seni budaya, semua ketegangan perlahan mencair. Pementasan budaya kolaborasi yang sangat dinanti dengan antusias antara UPMI dan IAHN Mpu Kuturan yang menjadi salah satu agenda Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Fakultas Bahasa dan Seni UPMI Bali.

Dua mahasiswa dari IAHN Mpu Kuturan dengan topeng berwajah lucu sebagai pembawa acara datang dari balik panggung sukses mengalihkan perhatian semua audiens. Dengan gaya kocak dan celetukan spontan, keduanya berhasil memecah suasana kaku jadi hangat dan penuh tawa. Setiap lelucon yang dilontarkan mengundang senyum bahkan tawa renyah dari penonton, mereka amat pandai dalam mengulur waktu sembari menunggu sembari para pementas bersiap di belakang panggung.

Pementasan akhirnya dimulai, tepuk tangan penonton bergema ketika pembawa acara mengumumkan penampilan pertama. Mahasiswa dari Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) tampil dengan karya tari kreasi berjudul “Pratima”, yang merupakan simbol atau wujud Dewa/Dewi/Bhatara yang digunakan sebagai media pemujaan dalam Agama Hindu Bali.

Secara harfiah “Pratima” berarti kemiripan/representasi dalam Bahasa Sansekerta. Tari kreasi yang ditampilkan ini menggambarkan secara estetis melalui Pratima Sang Hyang Dedari, perwujudan Bidadari/Dewi Suci yang dipuja dalam keyakinan umat Hindu Bali untuk memohon keselamatan dan penolak bala. Tarian ini merupakan karya hasil eksplorasi 2 Dosen Prodi Pendidikan Sendratasik, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, I Gede Gusman Adhi Gunawan, S.Sn., M.Sn. sebagai konseptor dan koreografer, serta Kadek Agung Sari Wiguna, S.Sn., M.Sn. sebagai komposer.

Begitu musik gamelan mulai terdengar, penonton langsung terhanyut. Para penari dengan busana dominan kuning keemasan itu bergerak luwes namun tajam da penuh tenaga. Gerakannya menggabungkan unsur klasik dengan kreasi modern yang dinamis. Salah satu momen yang paling mencuri perhatian adalah ketika seorang penari diangkat ke atas bahu penari lain, gerakan ekstrem yang jarang terlihat dalam tarian tradisional dan tidak lupa dengan kejutan ketika para penari mengubah sedikit kostum yang dikenakan langsung di atas panggung membuat sorak kagum pun pecah dari penonton.

Tarian ini bukan hanya soal keindahan tubuh yang bergerak, tapi juga tentang spiritualitas yang diwujudkan melalui gerak dan irama. “Pratima” menjadi bukti bahwa tradisi bisa terus hidup, bahkan melalui bentuk-bentuk baru yang lebih segar tanpa kehilangan makna dasarnya.

Setalah penampilan menawan dari UPMI, giliran IAHN Mpu Kuturan mengambil alih panggung dengan garapan musik eksperimental berjudul “Ancak-Ancak Alit”. Karya musik kontemporer ini terinspirasi dari permainan tradisional dan lagu anak Curik-curik. Karya ini menggambarkan suatu suasana anak-anak yang bermain dengan penuh tawa dan semangat melalui bunyi gamelan yang riang serta enerjik ditampilkan kegembiraan, kebersamaan, dan keceriaan saat bermain.

Sejak alunan gamelan pertama berbunyi, suasana langsung berubah menjadi riuh. Bunyi-bunyi gamelan berpadu dengan nyanyian para pemain. Namun yang membuat karya ini unik bukan hanya pada garapan musik eksperimentalnya, melainkan pada komposisi panggungnya. Para pemain tidak hanya duduk memainkan alat musik, mereka juga berpindah posisi, kemudian bergantian memainkan instrumen yang berbeda.

Gerakan mereka tampak seperti permainan yang hidup. Di satu momen, dua penari lainnya yang berlakon sebagai anak-anak bermain datang dipertengahan, mereka berdua tampak bersenda gurau layaknya teman akrab, dilanjutkan dengan adegan kecil dimana mereka terlihat sedang bertengkar, lalu kemudian berbaikan dan menari bersama.

Di titik ini, penonton tidak hanya menikmati musik, tetapi juga ikut merasakan energi masa kecil yang sederhana, riang, dan penuh tawa. “Ancak-Ancak Alit” berhasil membangkitkan nostalgia dan kesadaran akan pentingnya menjaga permainan tradisional sebagai bagian dari warisan budaya yang berharga.

Melewati dua penampilan yang sarat makna budaya, suasana berubah lagi. Kali ini lebih ringan, santai, tapi tetap menghangatkan hati. Seorang mahasiswa dari Universitas PGRI Mahadewa Indonesia naik ke panggung membawa gitar. Dengan suara yang jernih dan percaya diri, ia membawakan dua lagu pop legendaris Indonesia, yaitu “Aku Milikmu” dari Dewa 19 dan “Hapus Aku” dari Nidji.

Nada-nada awal sudah cukup membuat para penonton ikut bersenandung. Tidak butuh waktu lama, sebagian besar mahasiswa ikut bernyanyi pelan sambil menggoyangkan kepala ke kanan dan ke kiri menikmati alunan lagu, beberapa bahkan bertepuk tangan mengikuti irama. Suasana berubah menjadi seperti konser kecil yang penuh keakraban. Lagu-lagu itu meski sederhana, sukses menjembatani suasana formal kegiatan menjadi lebih hidup daan cair. Semua yang hadir seolah melupakan sejenak lelahnya aktvitas hari itu dan tenggelam dalam kebersamaan.

Menuju penghujung acara, sebagai penutup, IAHN Mpu Kuturan kembali naik ke panggung dengan penampilan Joged Bumbung. Tarian rakyat Bali yang terkenal dengan unsur interaktifnya ini berhasil membuat suasana makin meriah. Dua penari yang tampil lincah dengan gerakan khas joget bumbung. Namun yang paling ditunggu tentu adalah momen “pengibing” naik ke atas panggung, ketika penonton diajak naik ke panggung untuk ikut menari adalah yang disebut pengibing. Beberapa “pengibing” bahkan menjadi sorotan karena gerakannya lebih heboh dari penarinya sendiri, membuat penonton tertawa terbahak-bahak.

Ada yang malu-malu, ada pula yang kabur saat diajak naik ke panggung, tapi justru itu yang membuat suasana makin pecah sehingga tanpa disadari sore itu berubah menjadi sore yang penuh dengan kenangan. Pementasan yang mungkin awalnya dijadwalkan hanya sebagai pelengkap kegiatan justru menjadi momen yang mempererat hubungan dua instansi dan memperlihatkan bagaimana seni bis menjadi jembatan yang mempertemukan perbedaan.

Kegiatan yang bertajuk “Jejak Tradisi, Napas Masa Kini: Kolaborasi UPMI dengan IAHN Mpu Kuturan” ini bukan hanya ajang pertunjukan seni, tapi juga cermin dari semangat kolaborasi lintas kampus. Melalui kerja sama antara UPMI dan IAHN Mpu Kuturan, kegiatan ini menunjukkan bahwa seni tradisi bukan sekadar warisan yang dilestarikan, tetapi juga sesuatu yang terus berkembang seiring waktu.

Setiap karya yang ditampilkan sore itu membawa pesan yang sama, bahwa tradisi bisa beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya, bahwa modernitas dan budaya lokal bisa berdampingan dengan harmoni, dan juga bahwa seni dalam bentuk apapun selalu punya kekuatan untuk menyatukan orang-orang, bahkan hanya dalam satu panggung yang sama. Satu hal terasa jelas, jejak tradisi tidak akan pernah pudar selama masih ada generasi muda yang mau memberi napas baru bagi kebudayaan. [T]

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co

Penulis: Ni Wayan Suwini
Editor: Adnyana Ole

Tags: IMK BaliInstitut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu KuturanSeniUPMI Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Beda Cara, Satu Tujuan: Cerita Healing Versi Gen Z

Next Post

Kabupaten Badung Juara Umum Utsawa Dharma Gita 2025

Ni Wayan Suwini

Ni Wayan Suwini

Lahir 04 Februari 2005. Mahasiswa Universitas PGRI Mahadewa Indonesia Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah

Related Posts

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
0
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

Read moreDetails

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
0
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

Read moreDetails

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
0
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

Read moreDetails

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
0
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

Read moreDetails

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
0
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

Read moreDetails

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
0
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
0
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

Read moreDetails

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
0
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

Read moreDetails

‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 10, 2026
0
‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026

MALAM itu nyaris tak terdengar suara selain desir angin dan dialog yang mengalun dari layar. Puluhan pasang mata tertuju ke...

Read moreDetails

Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali

SORE itu, suasana sakral menyelimuti Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Provinsi Bali, Kamis (9/7/2026). Nada-nada yang terdengar sederhana, tetapi kokoh...

Read moreDetails
Next Post
Kabupaten Badung Juara Umum Utsawa Dharma Gita 2025

Kabupaten Badung Juara Umum Utsawa Dharma Gita 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih
Esai

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   
Esai

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng
Khas

Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

RUMAH itu kembali ramai, tetapi bukan karena bunyi pahat atau aroma cat yang biasa mengisi ruang-ruangnya. Sabtu, 11 Juli 2026...

by Komang Puja Savitri
July 15, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)
Khas

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Tema: Menelusuri Jejak Awal Kepariwisataan Budaya Bali dalam Perspektif Sejarah dan Kebudayaan Focus Group Discussion (FGD) Kajian 100 Tahun Pariwisata...

by Nyoman Mariyana
July 15, 2026
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi
Ulas Rupa

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif
Esai

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co