10 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dua Kampus, Satu Irama: Pementasan Seni yang Menggetarkan Sasana Budaya Singaraja

Ni Wayan Suwini by Ni Wayan Suwini
October 29, 2025
in Panggung
Dua Kampus, Satu Irama: Pementasan Seni yang Menggetarkan Sasana Budaya Singaraja

Salah satu pementasan dalam panggung kolaborasi IAHN Mpu Kuturan dan UPMI Bali

WAKTU begitu cepat menunjukkan pukul tiga sore kala itu. Suasana di Sasana Budaya, 25 Oktober 2025, terasa sedikit tegang dan serius di awal. Mahasiswa dari Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) dan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan baru saja melewati beberapa sesi workshop seni dari para narasumber yang dikenal ahli di bidangnya.

Beberapa mahasiswa masih terlihat mengais atau mencari sisa semangatnya setelah mengikuti kegiatan sebelumnya. Namun, begitu sesi keempat dibuka, yaitu pementasan seni budaya, semua ketegangan perlahan mencair. Pementasan budaya kolaborasi yang sangat dinanti dengan antusias antara UPMI dan IAHN Mpu Kuturan yang menjadi salah satu agenda Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Fakultas Bahasa dan Seni UPMI Bali.

Dua mahasiswa dari IAHN Mpu Kuturan dengan topeng berwajah lucu sebagai pembawa acara datang dari balik panggung sukses mengalihkan perhatian semua audiens. Dengan gaya kocak dan celetukan spontan, keduanya berhasil memecah suasana kaku jadi hangat dan penuh tawa. Setiap lelucon yang dilontarkan mengundang senyum bahkan tawa renyah dari penonton, mereka amat pandai dalam mengulur waktu sembari menunggu sembari para pementas bersiap di belakang panggung.

Pementasan akhirnya dimulai, tepuk tangan penonton bergema ketika pembawa acara mengumumkan penampilan pertama. Mahasiswa dari Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) tampil dengan karya tari kreasi berjudul “Pratima”, yang merupakan simbol atau wujud Dewa/Dewi/Bhatara yang digunakan sebagai media pemujaan dalam Agama Hindu Bali.

Secara harfiah “Pratima” berarti kemiripan/representasi dalam Bahasa Sansekerta. Tari kreasi yang ditampilkan ini menggambarkan secara estetis melalui Pratima Sang Hyang Dedari, perwujudan Bidadari/Dewi Suci yang dipuja dalam keyakinan umat Hindu Bali untuk memohon keselamatan dan penolak bala. Tarian ini merupakan karya hasil eksplorasi 2 Dosen Prodi Pendidikan Sendratasik, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, I Gede Gusman Adhi Gunawan, S.Sn., M.Sn. sebagai konseptor dan koreografer, serta Kadek Agung Sari Wiguna, S.Sn., M.Sn. sebagai komposer.

Begitu musik gamelan mulai terdengar, penonton langsung terhanyut. Para penari dengan busana dominan kuning keemasan itu bergerak luwes namun tajam da penuh tenaga. Gerakannya menggabungkan unsur klasik dengan kreasi modern yang dinamis. Salah satu momen yang paling mencuri perhatian adalah ketika seorang penari diangkat ke atas bahu penari lain, gerakan ekstrem yang jarang terlihat dalam tarian tradisional dan tidak lupa dengan kejutan ketika para penari mengubah sedikit kostum yang dikenakan langsung di atas panggung membuat sorak kagum pun pecah dari penonton.

Tarian ini bukan hanya soal keindahan tubuh yang bergerak, tapi juga tentang spiritualitas yang diwujudkan melalui gerak dan irama. “Pratima” menjadi bukti bahwa tradisi bisa terus hidup, bahkan melalui bentuk-bentuk baru yang lebih segar tanpa kehilangan makna dasarnya.

Setalah penampilan menawan dari UPMI, giliran IAHN Mpu Kuturan mengambil alih panggung dengan garapan musik eksperimental berjudul “Ancak-Ancak Alit”. Karya musik kontemporer ini terinspirasi dari permainan tradisional dan lagu anak Curik-curik. Karya ini menggambarkan suatu suasana anak-anak yang bermain dengan penuh tawa dan semangat melalui bunyi gamelan yang riang serta enerjik ditampilkan kegembiraan, kebersamaan, dan keceriaan saat bermain.

Sejak alunan gamelan pertama berbunyi, suasana langsung berubah menjadi riuh. Bunyi-bunyi gamelan berpadu dengan nyanyian para pemain. Namun yang membuat karya ini unik bukan hanya pada garapan musik eksperimentalnya, melainkan pada komposisi panggungnya. Para pemain tidak hanya duduk memainkan alat musik, mereka juga berpindah posisi, kemudian bergantian memainkan instrumen yang berbeda.

Gerakan mereka tampak seperti permainan yang hidup. Di satu momen, dua penari lainnya yang berlakon sebagai anak-anak bermain datang dipertengahan, mereka berdua tampak bersenda gurau layaknya teman akrab, dilanjutkan dengan adegan kecil dimana mereka terlihat sedang bertengkar, lalu kemudian berbaikan dan menari bersama.

Di titik ini, penonton tidak hanya menikmati musik, tetapi juga ikut merasakan energi masa kecil yang sederhana, riang, dan penuh tawa. “Ancak-Ancak Alit” berhasil membangkitkan nostalgia dan kesadaran akan pentingnya menjaga permainan tradisional sebagai bagian dari warisan budaya yang berharga.

Melewati dua penampilan yang sarat makna budaya, suasana berubah lagi. Kali ini lebih ringan, santai, tapi tetap menghangatkan hati. Seorang mahasiswa dari Universitas PGRI Mahadewa Indonesia naik ke panggung membawa gitar. Dengan suara yang jernih dan percaya diri, ia membawakan dua lagu pop legendaris Indonesia, yaitu “Aku Milikmu” dari Dewa 19 dan “Hapus Aku” dari Nidji.

Nada-nada awal sudah cukup membuat para penonton ikut bersenandung. Tidak butuh waktu lama, sebagian besar mahasiswa ikut bernyanyi pelan sambil menggoyangkan kepala ke kanan dan ke kiri menikmati alunan lagu, beberapa bahkan bertepuk tangan mengikuti irama. Suasana berubah menjadi seperti konser kecil yang penuh keakraban. Lagu-lagu itu meski sederhana, sukses menjembatani suasana formal kegiatan menjadi lebih hidup daan cair. Semua yang hadir seolah melupakan sejenak lelahnya aktvitas hari itu dan tenggelam dalam kebersamaan.

Menuju penghujung acara, sebagai penutup, IAHN Mpu Kuturan kembali naik ke panggung dengan penampilan Joged Bumbung. Tarian rakyat Bali yang terkenal dengan unsur interaktifnya ini berhasil membuat suasana makin meriah. Dua penari yang tampil lincah dengan gerakan khas joget bumbung. Namun yang paling ditunggu tentu adalah momen “pengibing” naik ke atas panggung, ketika penonton diajak naik ke panggung untuk ikut menari adalah yang disebut pengibing. Beberapa “pengibing” bahkan menjadi sorotan karena gerakannya lebih heboh dari penarinya sendiri, membuat penonton tertawa terbahak-bahak.

Ada yang malu-malu, ada pula yang kabur saat diajak naik ke panggung, tapi justru itu yang membuat suasana makin pecah sehingga tanpa disadari sore itu berubah menjadi sore yang penuh dengan kenangan. Pementasan yang mungkin awalnya dijadwalkan hanya sebagai pelengkap kegiatan justru menjadi momen yang mempererat hubungan dua instansi dan memperlihatkan bagaimana seni bis menjadi jembatan yang mempertemukan perbedaan.

Kegiatan yang bertajuk “Jejak Tradisi, Napas Masa Kini: Kolaborasi UPMI dengan IAHN Mpu Kuturan” ini bukan hanya ajang pertunjukan seni, tapi juga cermin dari semangat kolaborasi lintas kampus. Melalui kerja sama antara UPMI dan IAHN Mpu Kuturan, kegiatan ini menunjukkan bahwa seni tradisi bukan sekadar warisan yang dilestarikan, tetapi juga sesuatu yang terus berkembang seiring waktu.

Setiap karya yang ditampilkan sore itu membawa pesan yang sama, bahwa tradisi bisa beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya, bahwa modernitas dan budaya lokal bisa berdampingan dengan harmoni, dan juga bahwa seni dalam bentuk apapun selalu punya kekuatan untuk menyatukan orang-orang, bahkan hanya dalam satu panggung yang sama. Satu hal terasa jelas, jejak tradisi tidak akan pernah pudar selama masih ada generasi muda yang mau memberi napas baru bagi kebudayaan. [T]

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co

Penulis: Ni Wayan Suwini
Editor: Adnyana Ole

Tags: IMK BaliInstitut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu KuturanSeniUPMI Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Beda Cara, Satu Tujuan: Cerita Healing Versi Gen Z

Next Post

Kabupaten Badung Juara Umum Utsawa Dharma Gita 2025

Ni Wayan Suwini

Ni Wayan Suwini

Lahir 04 Februari 2005. Mahasiswa Universitas PGRI Mahadewa Indonesia Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah

Related Posts

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
0
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

Read moreDetails

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
0
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

Read moreDetails

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails
Next Post
Kabupaten Badung Juara Umum Utsawa Dharma Gita 2025

Kabupaten Badung Juara Umum Utsawa Dharma Gita 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti
Ulas Buku

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

by Emi Suy
October 8, 2026
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal
Esai

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru
Pameran

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan
Kuliner

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co