27 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dua Kampus, Satu Irama: Pementasan Seni yang Menggetarkan Sasana Budaya Singaraja

Ni Wayan Suwini by Ni Wayan Suwini
October 29, 2025
in Panggung
Dua Kampus, Satu Irama: Pementasan Seni yang Menggetarkan Sasana Budaya Singaraja

Salah satu pementasan dalam panggung kolaborasi IAHN Mpu Kuturan dan UPMI Bali

WAKTU begitu cepat menunjukkan pukul tiga sore kala itu. Suasana di Sasana Budaya, 25 Oktober 2025, terasa sedikit tegang dan serius di awal. Mahasiswa dari Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) dan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan baru saja melewati beberapa sesi workshop seni dari para narasumber yang dikenal ahli di bidangnya.

Beberapa mahasiswa masih terlihat mengais atau mencari sisa semangatnya setelah mengikuti kegiatan sebelumnya. Namun, begitu sesi keempat dibuka, yaitu pementasan seni budaya, semua ketegangan perlahan mencair. Pementasan budaya kolaborasi yang sangat dinanti dengan antusias antara UPMI dan IAHN Mpu Kuturan yang menjadi salah satu agenda Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Fakultas Bahasa dan Seni UPMI Bali.

Dua mahasiswa dari IAHN Mpu Kuturan dengan topeng berwajah lucu sebagai pembawa acara datang dari balik panggung sukses mengalihkan perhatian semua audiens. Dengan gaya kocak dan celetukan spontan, keduanya berhasil memecah suasana kaku jadi hangat dan penuh tawa. Setiap lelucon yang dilontarkan mengundang senyum bahkan tawa renyah dari penonton, mereka amat pandai dalam mengulur waktu sembari menunggu sembari para pementas bersiap di belakang panggung.

Pementasan akhirnya dimulai, tepuk tangan penonton bergema ketika pembawa acara mengumumkan penampilan pertama. Mahasiswa dari Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) tampil dengan karya tari kreasi berjudul “Pratima”, yang merupakan simbol atau wujud Dewa/Dewi/Bhatara yang digunakan sebagai media pemujaan dalam Agama Hindu Bali.

Secara harfiah “Pratima” berarti kemiripan/representasi dalam Bahasa Sansekerta. Tari kreasi yang ditampilkan ini menggambarkan secara estetis melalui Pratima Sang Hyang Dedari, perwujudan Bidadari/Dewi Suci yang dipuja dalam keyakinan umat Hindu Bali untuk memohon keselamatan dan penolak bala. Tarian ini merupakan karya hasil eksplorasi 2 Dosen Prodi Pendidikan Sendratasik, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, I Gede Gusman Adhi Gunawan, S.Sn., M.Sn. sebagai konseptor dan koreografer, serta Kadek Agung Sari Wiguna, S.Sn., M.Sn. sebagai komposer.

Begitu musik gamelan mulai terdengar, penonton langsung terhanyut. Para penari dengan busana dominan kuning keemasan itu bergerak luwes namun tajam da penuh tenaga. Gerakannya menggabungkan unsur klasik dengan kreasi modern yang dinamis. Salah satu momen yang paling mencuri perhatian adalah ketika seorang penari diangkat ke atas bahu penari lain, gerakan ekstrem yang jarang terlihat dalam tarian tradisional dan tidak lupa dengan kejutan ketika para penari mengubah sedikit kostum yang dikenakan langsung di atas panggung membuat sorak kagum pun pecah dari penonton.

Tarian ini bukan hanya soal keindahan tubuh yang bergerak, tapi juga tentang spiritualitas yang diwujudkan melalui gerak dan irama. “Pratima” menjadi bukti bahwa tradisi bisa terus hidup, bahkan melalui bentuk-bentuk baru yang lebih segar tanpa kehilangan makna dasarnya.

Setalah penampilan menawan dari UPMI, giliran IAHN Mpu Kuturan mengambil alih panggung dengan garapan musik eksperimental berjudul “Ancak-Ancak Alit”. Karya musik kontemporer ini terinspirasi dari permainan tradisional dan lagu anak Curik-curik. Karya ini menggambarkan suatu suasana anak-anak yang bermain dengan penuh tawa dan semangat melalui bunyi gamelan yang riang serta enerjik ditampilkan kegembiraan, kebersamaan, dan keceriaan saat bermain.

Sejak alunan gamelan pertama berbunyi, suasana langsung berubah menjadi riuh. Bunyi-bunyi gamelan berpadu dengan nyanyian para pemain. Namun yang membuat karya ini unik bukan hanya pada garapan musik eksperimentalnya, melainkan pada komposisi panggungnya. Para pemain tidak hanya duduk memainkan alat musik, mereka juga berpindah posisi, kemudian bergantian memainkan instrumen yang berbeda.

Gerakan mereka tampak seperti permainan yang hidup. Di satu momen, dua penari lainnya yang berlakon sebagai anak-anak bermain datang dipertengahan, mereka berdua tampak bersenda gurau layaknya teman akrab, dilanjutkan dengan adegan kecil dimana mereka terlihat sedang bertengkar, lalu kemudian berbaikan dan menari bersama.

Di titik ini, penonton tidak hanya menikmati musik, tetapi juga ikut merasakan energi masa kecil yang sederhana, riang, dan penuh tawa. “Ancak-Ancak Alit” berhasil membangkitkan nostalgia dan kesadaran akan pentingnya menjaga permainan tradisional sebagai bagian dari warisan budaya yang berharga.

Melewati dua penampilan yang sarat makna budaya, suasana berubah lagi. Kali ini lebih ringan, santai, tapi tetap menghangatkan hati. Seorang mahasiswa dari Universitas PGRI Mahadewa Indonesia naik ke panggung membawa gitar. Dengan suara yang jernih dan percaya diri, ia membawakan dua lagu pop legendaris Indonesia, yaitu “Aku Milikmu” dari Dewa 19 dan “Hapus Aku” dari Nidji.

Nada-nada awal sudah cukup membuat para penonton ikut bersenandung. Tidak butuh waktu lama, sebagian besar mahasiswa ikut bernyanyi pelan sambil menggoyangkan kepala ke kanan dan ke kiri menikmati alunan lagu, beberapa bahkan bertepuk tangan mengikuti irama. Suasana berubah menjadi seperti konser kecil yang penuh keakraban. Lagu-lagu itu meski sederhana, sukses menjembatani suasana formal kegiatan menjadi lebih hidup daan cair. Semua yang hadir seolah melupakan sejenak lelahnya aktvitas hari itu dan tenggelam dalam kebersamaan.

Menuju penghujung acara, sebagai penutup, IAHN Mpu Kuturan kembali naik ke panggung dengan penampilan Joged Bumbung. Tarian rakyat Bali yang terkenal dengan unsur interaktifnya ini berhasil membuat suasana makin meriah. Dua penari yang tampil lincah dengan gerakan khas joget bumbung. Namun yang paling ditunggu tentu adalah momen “pengibing” naik ke atas panggung, ketika penonton diajak naik ke panggung untuk ikut menari adalah yang disebut pengibing. Beberapa “pengibing” bahkan menjadi sorotan karena gerakannya lebih heboh dari penarinya sendiri, membuat penonton tertawa terbahak-bahak.

Ada yang malu-malu, ada pula yang kabur saat diajak naik ke panggung, tapi justru itu yang membuat suasana makin pecah sehingga tanpa disadari sore itu berubah menjadi sore yang penuh dengan kenangan. Pementasan yang mungkin awalnya dijadwalkan hanya sebagai pelengkap kegiatan justru menjadi momen yang mempererat hubungan dua instansi dan memperlihatkan bagaimana seni bis menjadi jembatan yang mempertemukan perbedaan.

Kegiatan yang bertajuk “Jejak Tradisi, Napas Masa Kini: Kolaborasi UPMI dengan IAHN Mpu Kuturan” ini bukan hanya ajang pertunjukan seni, tapi juga cermin dari semangat kolaborasi lintas kampus. Melalui kerja sama antara UPMI dan IAHN Mpu Kuturan, kegiatan ini menunjukkan bahwa seni tradisi bukan sekadar warisan yang dilestarikan, tetapi juga sesuatu yang terus berkembang seiring waktu.

Setiap karya yang ditampilkan sore itu membawa pesan yang sama, bahwa tradisi bisa beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya, bahwa modernitas dan budaya lokal bisa berdampingan dengan harmoni, dan juga bahwa seni dalam bentuk apapun selalu punya kekuatan untuk menyatukan orang-orang, bahkan hanya dalam satu panggung yang sama. Satu hal terasa jelas, jejak tradisi tidak akan pernah pudar selama masih ada generasi muda yang mau memberi napas baru bagi kebudayaan. [T]

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co

Penulis: Ni Wayan Suwini
Editor: Adnyana Ole

Tags: IMK BaliInstitut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu KuturanSeniUPMI Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Beda Cara, Satu Tujuan: Cerita Healing Versi Gen Z

Next Post

Kabupaten Badung Juara Umum Utsawa Dharma Gita 2025

Ni Wayan Suwini

Ni Wayan Suwini

Lahir 04 Februari 2005. Mahasiswa Universitas PGRI Mahadewa Indonesia Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah

Related Posts

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
0
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

Read moreDetails

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
0
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

Read moreDetails

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
0
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
0
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

Read moreDetails

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

Read moreDetails

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

Read moreDetails

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
0
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

Read moreDetails

Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

SALAH satu momen menarik ketika Salamander Big Band tampil membuka Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026 pada Jumat, 7...

Read moreDetails
Next Post
Kabupaten Badung Juara Umum Utsawa Dharma Gita 2025

Kabupaten Badung Juara Umum Utsawa Dharma Gita 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Agung Ngurah Astara, Kepala Sekolah SMKN 5 Denpasar dengan Perubahan dan Harapan Baru
Pendidikan

Agung Ngurah Astara, Kepala Sekolah SMKN 5 Denpasar dengan Perubahan dan Harapan Baru

SEMUA berawal dari kesungguhan, keteguhan, disiplin dan upaya kreatif dalam menggapai sebuah kemuliaan. Tidak mudah melewati dan menghadapi  tantangan dalam...

by Nyoman Budarsana
August 27, 2026
BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar
Esai

BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

Kebudayaan tidak pernah benar-benar hidup hanya karena diwariskan. Sebuah tradisi akan tetap hidup apabila pengetahuan, nilai, simbol, dan ingatan yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 27, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Destinasi “Detour”: Tren Wisata Alternatif Menyimpang Rute Utama

BERWISATA kadang berjalan tidak sesuai dengan yang direncanakan. Di awal perjalanan sudah ditentukan destinasi wisata mana yang akan dikunjungi. Namun...

by Chusmeru
August 27, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

by Andre Syahreza
August 26, 2026
Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede
Esai

Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

RANGKAIAN Karya Pedudusan Agung, Ngusaba Desa, dan Ngusaba Nini yang berpusat di Pura Puseh Sibanggede sudah mencapai akhir melalui upacara...

by Dharma Yuda
August 26, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya
Ulas Rupa

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

by Hartanto
August 26, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co