24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Book of Fire”: Api, Tubuh, dan Perlawanan

Wayan Jengki Sunarta by Wayan Jengki Sunarta
October 24, 2025
in Ulas Rupa
“Book of Fire”: Api, Tubuh, dan Perlawanan

Pameran seni rupa karya Citra Sasmita

DALAM peta seni rupa kontemporer, Citra Sasmita hadir sebagai sosok yang menyalakan kembali percakapan tentang tubuh, tradisi, dan kuasa dari perspektif perempuan. Dia adalah suara yang lahir dari persimpangan antara warisan visual tradisi Bali dan kesadaran feminis global.

Hal itu bisa disimak pada pameran tunggal dan peluncuran buku puisi bertajuk Book of Fire yang digelar di RAD, Tegalalang, Gianyar, Bali. Pameran itu menampilkan sejumlah lukisan Citra Sasmita yang dicetak dengan teknik print riso oleh Rpff dalam edisi terbatas. Lukisan-lukisan cetakan tersebut diambil dari Timur Merah Project yang telah mendapat apresiasi luas di tingkat internasional.

Melalui pameran yang digelar dari tanggal 27 September hingga 27 Oktober 2025 itu, Citra menghadirkan karya-karya yang menyala, baik secara visual maupun konseptual. Karya-karyanya menjadi ruang tafsir atas tubuh perempuan yang selama berabad-abad didefinisikan oleh sistem patriarki dan mitologi yang bias.

Citra Sasmita lahir di Tabanan, Bali, 30 Maret 1990. Sebagai perupa, dia memulai karirnya dengan menjadi ilustrator cerpen di Bali Post (2012 – 2018) yang digawangi sastrawan Oka Rusmini. Pada masa itu, dia juga rajin menulis esai, cerpen, prosa liris, dan puisi. Dia intens bergaul di dunia sastra dan teater di Bali, khususnya di Denpasar.

Pertemuannya dengan penyair legendaris Umbu Landu Paranggi semakin membuka wawasannya tentang dunia tulis menulis., yakni puisi dan prosa liris. Beberapa puisi, prosa liris, dan esai pendeknya pernah dimuat di Bali Post Minggu yang diasuh Umbu Landu Paranggi. Selain itu, puisi-puisinya juga masuk dalam beberapa antologi, antara lain “Ijen Purba: Tanah, Air, dan Batu” (2024).

Citra Sasmita termasuk seniman multi talenta. Selain seni rupa, dia merambah sastra dan teater. Pergaulannya yang lintas batas seni dan pengetahuannya yang luas berpengaruh pada karya-karyanya yang cenderung konseptual. Selain di Indonesia, karya-karyanya telah tampil di Singapura, Thailand, Amerika, Inggris, Italia, Arab Saudi, Brasil, Australia, Hawaii, Nepal, Jepang, China, dll. Dia juga pernah meraih penghargaan Gold Award Winner of the UOB Painting of the Year (2017).

Tubuh perempuan adalah medan utama dalam karya-karya Citra. Dalam seri-seri lukisan Book of Fire, tubuh kerap digambarkan terbelah, termutilasi, terpapar api, atau mengalirkan darah. Imaji-imaji ini bukan bentuk kekerasan visual yang kosong, melainkan pernyataan estetik dan politik. Citra sedang menunjukkan bagaimana tubuh perempuan selalu menjadi medan pertarungan antara moralitas, kekuasaan, dan budaya.

Dalam lukisannya, tubuh tidak pernah utuh dalam pengertian anatomi. Ia justru hadir sebagai serpihan, sebagai fragmen yang menyimpan cerita. Tubuh-tubuh itu seolah menolak menjadi citra ideal yang diatur oleh pandangan laki-laki. Mereka menjadi tubuh-tubuh yang sadar akan keterlukaan dan sejarah penindasan yang membentuknya. Dalam konteks ini, mutilasi bukan sekadar bentuk penderitaan, melainkan simbol resistensi. Tubuh yang terpotong tetap memiliki suara, bahkan suara yang lebih keras.

Citra kerap menempatkan api sebagai elemen utama dalam komposisi. Api bukan hanya latar atau efek visual, tetapi metafora yang berlapis makna. Api bisa dimaknai sebagai penghukuman, penyucian, dan kelahiran kembali. Dalam Book of Fire, api menjadi lambang dari kesadaran feminis yang membakar, energi yang menolak diam dan menantang dogma lama. Perempuan-perempuan dalam lukisannya tidak pasrah; mereka menatap balik, berdiri di tengah kobaran api, menuntut ruang dan makna baru bagi dirinya.

Salah satu kekuatan utama Citra adalah kemampuannya mengolah tradisi menjadi perlawanan. Dia mengambil dasar teknik dan gaya lukisan Kamasan Bali, dengan garis-garis dekoratif, bidang datar, dan struktur naratif pewayangan, tetapi mengganti isinya dengan kisah yang sama sekali berbeda. Di tangan Citra, mitologi wayang Kamasan tidak lagi berkisah tentang kepahlawanan lelaki atau dewa-dewa yang agung, melainkan tentang perempuan yang dilupakan, disalahkan, dan ingin bicara.

Pendekatan ini menciptakan dialektika yang menegangkan antara bentuk yang tradisional dan isi yang subversif. Citra tidak menolak tradisi, tetapi mengolahnya dari dalam, menjadikannya alat untuk membongkar ide-ide patriarkal yang melekat di dalamnya. Dengan begitu, Citra tidak hanya mengubah ikonografi, tetapi juga epistemologinya. Dia menafsirkan ulang cara kita memahami tubuh dan mitos dari perspektif perempuan.

Citra belajar langsung teknik Kamasan dari Mangku Muriati, salah satu pelukis penting dari Kamasan, Klungkung, Bali. Namun, jika Kamasan klasik berpusat pada kisah Ramayana dan Mahabharata, karya Citra justru memperlihatkan “mitologi alternatif”, di mana perempuan menjadi pusat narasi. Dia menciptakan tokoh-tokoh baru, kadang tanpa nama, kadang tanpa wajah, yang merepresentasikan pengalaman kolektif perempuan di Bali dan dunia.

Secara visual, lukisan-lukisan Citra sering kali didominasi oleh warna-warna merah, orange, cokelat, dan hitam. Warna merah menjadi simbol darah dan api, dua unsur yang berulang dalam karyanya. Pada beberapa lukisan, tubuh perempuan tampak seolah menari dalam kobaran api. Sementara pada lukisan lain tampak tubuh perempuan yang termulitasi atau terbelah ditumbuhi pohon. Kadang simbol ular belang (lipi poleng) muncul juga pada lukisannya. Simbol-simbol tersebut membawa konotasi kengerian sekaligus mistis.

Struktur visual lukisan-lukisan Citra cenderung padat, tetapi tertata rapi seperti peta energi. Dia memiliki disiplin komposisi yang kuat barangkali pengaruh dari latar belakang akademisnya di bidang fisika sehingga di tengah kekacauan simbolik, masih terasa keteraturan dan harmoni. Lukisan-lukisannya bisa dibaca sebagai diagram emosi. Setiap bidang, setiap garis, menyimpan hubungan antara kekuatan batin dan pengalaman sejarah perempuan.

Keterlibatan Citra dalam dunia sastra memberi dimensi lain bagi karya-karyanya. Dalam Book of Fire, puisi dan lukisan hadir bukan sebagai dua medium terpisah, melainkan dua elemen yang saling melengkapi. Teks puisinya tajam, metaforis, dan penuh gugatan bertemu dengan bahasa visual yang sama-sama emosional. Melalui pendekatan ini, Citra memperluas batas praktik seni rupa. Dia menjadikan kata dan rupa sebagai medan intertekstual yang saling membakar.

Lukisan karya Citra Sasmita

Keterpaduan ini juga memperkuat narasi feminis pada karya-karya Citra. Puisi memberi tubuh bagi ide, sementara lukisan memberi ruang bagi emosi yang tak bisa diucapkan. Dalam kombinasi keduanya, lahirlah karya yang bukan sekadar indah secara visual, tetapi juga menggugah secara ideologis.

Citra menolak menganggap seni sebagai ruang netral. Dia sadar bahwa setiap goresan adalah pernyataan politik. Dalam dunia seni rupa yang masih bias gender, dia menegaskan posisinya sebagai perempuan yang berdiri dengan kuas dan pena, yang siap bertarung dengan laki-laki.

Hal itu senada dengan pernyataan salah satu baris puisinya: “keangkuhanku mesti lebih keras dari biji jakun seorang laki-laki”. Citra menulis puisinya dengan kemarahan, dan melukis dengan keberanian. Lukisan-lukisannya adalah catatan atas luka, tetapi juga perayaan atas keberlangsungan hidup.

Melalui Book of Fire, Citra menghadirkan seni yang politis tanpa kehilangan kedalaman estetiknya. Citra mengingatkan kita bahwa keindahan tidak harus jinak. Bahwa api tidak selalu menghancurkan, kadang ia justru menerangi jalan bagi kesadaran baru. Karya-karya Citra Sasmita adalah ajakan untuk membaca ulang tubuh, mitos, dan sejarah dari sudut pandang perempuan. Dia menggali akar tradisi Bali bukan untuk nostalgia, tetapi untuk mengungkap lapisan kuasa yang tersembunyi di baliknya. Dalam lukisannya, tubuh perempuan yang dulu dianggap aib kini menjadi sumber cahaya, api yang menolak padam. [T]

Penulis: Wayan Jengki Sunarta
Editor: Adnyana Ole

Tags: buku puisiCitra SasmitaPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Krisis Adab dan Mentalitas Pelajar Indonesia: Cermin Gagalnya Sistem Pendidikan Kita

Next Post

Mengemas Hidup Hari-Hari Biasa pada Pameran “TOLERAKSI” di Kampus Undiksha Singaraja

Wayan Jengki Sunarta

Wayan Jengki Sunarta

Penulis puisi, cerpen, novel, esai/artikel/ulasan seni. Penyuka seni, batu akik & barang antik.

Related Posts

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails
Next Post
Mengemas Hidup Hari-Hari Biasa pada Pameran “TOLERAKSI” di Kampus Undiksha Singaraja

Mengemas Hidup Hari-Hari Biasa pada Pameran “TOLERAKSI” di Kampus Undiksha Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co