2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Krisis Adab dan Mentalitas Pelajar Indonesia: Cermin Gagalnya Sistem Pendidikan Kita

Isran Kamal by Isran Kamal
October 24, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

BELAKANGAN ini, publik dikejutkan dengan berbagai peristiwa yang menggambarkan kemerosotan kualitas mental dan moral generasi muda di sekolah dasar hingga menengah atas. Fenomena seperti siswa yang merokok di area sekolah, berbicara kasar terhadap guru, hingga meningkatnya kasus perundungan dan pelanggaran disiplin menjadi berita yang terlalu sering kita dengar.

Tak hanya itu, data kemampuan dasar membaca dan berhitung siswa sekolah menengah atas di Indonesia masih menunjukkan hasil yang memprihatinkan, hal ini menjadi sebuah ironi di tengah jargon “Merdeka Belajar” dan “Indonesia Emas” yang mengusung kebebasan berpikir dan inovasi.

Kasus SMAN 1 Cimarga di Lebak, Banten, menjadi contoh yang menarik. Seorang kepala sekolah menegur keras siswa yang merokok di area sekolah, bahkan sampai “menampar” siswa tersebut sebagai bentuk pendisiplinan. Orang tua siswa tersebut tidak menerima anaknya diperlakukan seperti itu sehingga melapor ke polisi, sementara aksi solidaritas dari teman-temannya muncul dalam bentuk mogok belajar, dan pada akhirnya terjadi pemutusan hubungan antara sekolah dan sebagian besar wali murid.

Kasus itu memicu perdebatan nasional.  Apakah otoritas sekolah sudah kehilangan makna? Mengapa norma dasar seperti menghormati guru, bersikap sopan, dan mematuhi aturan sekolah kini terasa rapuh?

Pertanyaannya, apa yang sebenarnya terjadi secara psikologis di balik fenomena ini? Dan sejauh mana sistem pendidikan kita turut berperan dalam membentuk atau bahkan menyulut kemunduran kualitas mental dan karakter siswa?

Faktor Psikologi Perkembangan Remaja dan Belajar

Secara psikologis, masa remaja, terutama pada rentang usia SMP hingga SMA merupakan periode krusial dalam pembentukan identitas dan kemandirian. Menurut Erik Erikson, remaja berada pada tahap identity vs. role confusion, di mana mereka berusaha menemukan jati diri melalui eksplorasi nilai, peran sosial, dan tujuan hidup. Dalam proses ini, perilaku menentang otoritas sering kali muncul sebagai bentuk pencarian otonomi diri. Kebutuhan akan pengakuan dari kelompok sebaya (peer acceptance) pun menjadi sangat dominan, kadang menggeser rasa hormat terhadap figur otoritas seperti guru atau orang tua.

Kecenderungan tersebut berimplikasi langsung terhadap dinamika belajar. Dalam konteks psikologi pendidikan, banyak siswa menunjukkan penurunan motivasi intrinsik. Mereka belajar bukan lagi karena dorongan rasa ingin tahu, tetapi karena tekanan eksternal seperti nilai, ujian, dan ekspektasi sosial.

Ketika motivasi belajar lebih banyak bersumber dari luar diri, maka regulasi diri (self-regulation) akan melemah. Akibatnya, siswa cenderung kehilangan arah ketika tidak ada pengawasan langsung dan mudah tergoda pada hal-hal yang memberi kepuasan instan. Lingkungan digital yang serba cepat dan stimulatif semakin memperkuat pola ini, menurunkan daya tahan terhadap frustrasi (frustration tolerance) dan kemampuan mengendalikan impuls.

Kondisi psikologis ini kemudian berdampak pada aspek yang lebih luas seperti pembentukan adab, sopan santun, dan kesadaran moral. Nilai-nilai tersebut sejatinya tumbuh dari kemampuan untuk berempati, mengenali norma sosial, dan mengatur diri dalam konteks sosial. Namun, ketika anak dibesarkan dalam lingkungan yang permisif, minim batasan, dan dikelilingi distraksi digital, proses internalisasi nilai sosial menjadi terhambat. Akibatnya, muncul generasi yang mungkin cerdas secara teknis tetapi miskin kesadaran sosial, empati, dan tanggung jawab pribadi.

Sistem Pendidikan dan Lingkungan Sekolah sebagai Konteks

Sekolah idealnya bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi juga arena pembentukan karakter dan norma sosial. Namun, dalam praktiknya, sistem pendidikan kita sering kali kehilangan fungsi itu. Jadwal belajar yang padat, tekanan ujian, serta budaya “hukuman” tanpa pembinaan membuat siswa mengalami kejenuhan psikologis.

Guru pun banyak yang frustrasi, di satu sisi mereka dituntut membentuk karakter, tapi di sisi lain dibatasi oleh regulasi dan kekhawatiran sosial takut viral, takut dilaporkan, takut disalahpahami belum lagi pekerjaan administrasi yang sangat banyak juga turut membatasi ruang gerak guru.

Lebih jauh, ada kesalahan fundamental dalam mengadaptasi sistem pendidikan negara maju seperti Jepang dan Finlandia. Kedua negara itu membangun sistem berbasis otonomi dan tanggung jawab karena masyarakatnya telah memiliki disiplin sosial dan kontrol diri tinggi. Indonesia mencoba mengadopsi bentuk luarnya tanpa membangun fondasi psiko-sosialnya terlebih dahulu. Akibatnya, sistem “merdeka belajar” sering kali dimaknai siswa sebagai “bebas tanpa batas,” bukan sebagai “kebebasan yang bertanggung jawab.”

Kesalahpahaman ini juga mencerminkan mismatch antara filosofi pendidikan dan kesiapan budaya belajar masyarakat. Di negara-negara seperti Finlandia, kemandirian belajar ditopang oleh kultur keluarga yang menghargai proses, bukan hanya hasil, selain itu guru juga dipercaya penuh sebagai profesional dan regulasi sosial membentuk disiplin anak sejak dini.

Sementara di Indonesia, sistem nilai yang masih paternalistik dan berorientasi pada hasil membuat kebebasan belajar tanpa bimbingan justru melahirkan kebingungan dan kehilangan arah. Dari perspektif psikologi pendidikan, hal ini memperlihatkan bahwa reformasi kurikulum tanpa reformasi mentalitas dan budaya belajar hanyalah kosmetik kebijakan yang gagal menumbuhkan perubahan dari dalam.

Studi Kasus SMAN 1 Cimarga – Implikasi Psikologis

Kasus Cimarga adalah cermin kompleks dari krisis relasi antara guru, siswa, dan orang tua. Dari sisi kronologi, seorang siswa kedapatan merokok di lingkungan sekolah, kepala sekolah menegur dengan keras hingga melakukan tindakan fisik, kemudian orang tua melapor, dan siswa bersama rekan-rekannya melakukan mogok sekolah sebagai aksi protes dan menuntut kepala sekolah untuk diturunkan.

Dari perspektif psikologis, peristiwa ini memperlihatkan runtuhnya sistem norma dan otoritas sosial. Ketika siswa tidak lagi melihat guru sebagai figur yang patut dihormati, kontrol diri dan kedisiplinan tidak lagi terinternalisasi. Sebaliknya, muncul pola pikir reaktif dimana siswa merasa sebagai korban ketika ditegur, bukan reflektif terhadap kesalahan.

Bagi guru dan institusi sekolah, kasus seperti ini memicu trauma sosial dan ketakutan profesional. Akibatnya, banyak guru memilih “diam” dan membiarkan perilaku indisipliner berlalu tanpa konsekuensi. Dalam jangka panjang, ini menciptakan efek domino berupa erosi kepercayaan terhadap lembaga pendidikan dan pelonggaran norma sosial di lingkungan belajar.

Saran dari Perspektif Psikologi

Untuk membenahi krisis ini, perlu perubahan paradigma, bukan sekadar menambah aturan atau hukuman.

  • Menumbuhkan empati dan kontrol diri sejak dini. Sekolah perlu mengintegrasikan program pembelajaran sosial-emosional (social-emotional learning) yang melatih anak mengenali emosi, menunda dorongan, dan memahami sudut pandang orang lain. Program seperti ini terbukti efektif meningkatkan moralitas dan performa akademik.
  • Keterlibatan orang tua dan sekolah. Pendidikan karakter tidak akan efektif tanpa sinergi keluarga. Diperlukan parenting education dan forum komunikasi antara orang tua-guru untuk menyamakan nilai dan pendekatan terhadap anak.
  • Reformasi sistem pendidikan. Fokus pendidikan tidak boleh semata akademik. Sekolah harus menyediakan ruang bagi counseling service, kegiatan sosial, dan refleksi moral. Kementerian terkait perlu mendorong transformasi dari “ujian dan nilai” menjadi “perkembangan diri dan tanggung jawab sosial.”
  • Perubahan mindset kolektif juga tidak kalah penting. Revolusi mental bukan slogan, tapi proses internalisasi nilai dalam kebiasaan sehari-hari seperti cara berbicara, cara menghargai guru, cara menghadapi frustrasi dan lain sebagainya.

Adab dan sopan santun bukanlah warisan otomatis, tetapi hasil pembiasaan sosial dan kesadaran moral yang terus-menerus ditanamkan. Bila kita ingin generasi muda tumbuh dengan kualitas mental yang sehat, maka orang tua, guru, dan siswa harus bersama-sama menumbuhkan budaya empati dan tanggung jawab.

Membangun generasi beradab tidak bisa dimulai dari sistem pendidikan saja tetapi dari tindakan kecil sehari-hari seperti menyapa dengan sopan, menghormati perbedaan pendapat, berani mengakui kesalahan, dan belajar untuk menahan diri. Karena dari kebiasaan kecil itulah terbentuk karakter besar sebuah bangsa. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

Tags: PendidikanPsikologipsikologi anakpsikologi orang tuasekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pertemuan Batin Tolstoy dan Gandhi dalam “A Letter to a Hindu”: Dua Sosok yang Menginspirasi Dunia

Next Post

“Book of Fire”: Api, Tubuh, dan Perlawanan

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
“Book of Fire”: Api, Tubuh, dan Perlawanan

"Book of Fire": Api, Tubuh, dan Perlawanan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co