3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Krisis Adab dan Mentalitas Pelajar Indonesia: Cermin Gagalnya Sistem Pendidikan Kita

Isran Kamal by Isran Kamal
October 24, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

BELAKANGAN ini, publik dikejutkan dengan berbagai peristiwa yang menggambarkan kemerosotan kualitas mental dan moral generasi muda di sekolah dasar hingga menengah atas. Fenomena seperti siswa yang merokok di area sekolah, berbicara kasar terhadap guru, hingga meningkatnya kasus perundungan dan pelanggaran disiplin menjadi berita yang terlalu sering kita dengar.

Tak hanya itu, data kemampuan dasar membaca dan berhitung siswa sekolah menengah atas di Indonesia masih menunjukkan hasil yang memprihatinkan, hal ini menjadi sebuah ironi di tengah jargon “Merdeka Belajar” dan “Indonesia Emas” yang mengusung kebebasan berpikir dan inovasi.

Kasus SMAN 1 Cimarga di Lebak, Banten, menjadi contoh yang menarik. Seorang kepala sekolah menegur keras siswa yang merokok di area sekolah, bahkan sampai “menampar” siswa tersebut sebagai bentuk pendisiplinan. Orang tua siswa tersebut tidak menerima anaknya diperlakukan seperti itu sehingga melapor ke polisi, sementara aksi solidaritas dari teman-temannya muncul dalam bentuk mogok belajar, dan pada akhirnya terjadi pemutusan hubungan antara sekolah dan sebagian besar wali murid.

Kasus itu memicu perdebatan nasional.  Apakah otoritas sekolah sudah kehilangan makna? Mengapa norma dasar seperti menghormati guru, bersikap sopan, dan mematuhi aturan sekolah kini terasa rapuh?

Pertanyaannya, apa yang sebenarnya terjadi secara psikologis di balik fenomena ini? Dan sejauh mana sistem pendidikan kita turut berperan dalam membentuk atau bahkan menyulut kemunduran kualitas mental dan karakter siswa?

Faktor Psikologi Perkembangan Remaja dan Belajar

Secara psikologis, masa remaja, terutama pada rentang usia SMP hingga SMA merupakan periode krusial dalam pembentukan identitas dan kemandirian. Menurut Erik Erikson, remaja berada pada tahap identity vs. role confusion, di mana mereka berusaha menemukan jati diri melalui eksplorasi nilai, peran sosial, dan tujuan hidup. Dalam proses ini, perilaku menentang otoritas sering kali muncul sebagai bentuk pencarian otonomi diri. Kebutuhan akan pengakuan dari kelompok sebaya (peer acceptance) pun menjadi sangat dominan, kadang menggeser rasa hormat terhadap figur otoritas seperti guru atau orang tua.

Kecenderungan tersebut berimplikasi langsung terhadap dinamika belajar. Dalam konteks psikologi pendidikan, banyak siswa menunjukkan penurunan motivasi intrinsik. Mereka belajar bukan lagi karena dorongan rasa ingin tahu, tetapi karena tekanan eksternal seperti nilai, ujian, dan ekspektasi sosial.

Ketika motivasi belajar lebih banyak bersumber dari luar diri, maka regulasi diri (self-regulation) akan melemah. Akibatnya, siswa cenderung kehilangan arah ketika tidak ada pengawasan langsung dan mudah tergoda pada hal-hal yang memberi kepuasan instan. Lingkungan digital yang serba cepat dan stimulatif semakin memperkuat pola ini, menurunkan daya tahan terhadap frustrasi (frustration tolerance) dan kemampuan mengendalikan impuls.

Kondisi psikologis ini kemudian berdampak pada aspek yang lebih luas seperti pembentukan adab, sopan santun, dan kesadaran moral. Nilai-nilai tersebut sejatinya tumbuh dari kemampuan untuk berempati, mengenali norma sosial, dan mengatur diri dalam konteks sosial. Namun, ketika anak dibesarkan dalam lingkungan yang permisif, minim batasan, dan dikelilingi distraksi digital, proses internalisasi nilai sosial menjadi terhambat. Akibatnya, muncul generasi yang mungkin cerdas secara teknis tetapi miskin kesadaran sosial, empati, dan tanggung jawab pribadi.

Sistem Pendidikan dan Lingkungan Sekolah sebagai Konteks

Sekolah idealnya bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi juga arena pembentukan karakter dan norma sosial. Namun, dalam praktiknya, sistem pendidikan kita sering kali kehilangan fungsi itu. Jadwal belajar yang padat, tekanan ujian, serta budaya “hukuman” tanpa pembinaan membuat siswa mengalami kejenuhan psikologis.

Guru pun banyak yang frustrasi, di satu sisi mereka dituntut membentuk karakter, tapi di sisi lain dibatasi oleh regulasi dan kekhawatiran sosial takut viral, takut dilaporkan, takut disalahpahami belum lagi pekerjaan administrasi yang sangat banyak juga turut membatasi ruang gerak guru.

Lebih jauh, ada kesalahan fundamental dalam mengadaptasi sistem pendidikan negara maju seperti Jepang dan Finlandia. Kedua negara itu membangun sistem berbasis otonomi dan tanggung jawab karena masyarakatnya telah memiliki disiplin sosial dan kontrol diri tinggi. Indonesia mencoba mengadopsi bentuk luarnya tanpa membangun fondasi psiko-sosialnya terlebih dahulu. Akibatnya, sistem “merdeka belajar” sering kali dimaknai siswa sebagai “bebas tanpa batas,” bukan sebagai “kebebasan yang bertanggung jawab.”

Kesalahpahaman ini juga mencerminkan mismatch antara filosofi pendidikan dan kesiapan budaya belajar masyarakat. Di negara-negara seperti Finlandia, kemandirian belajar ditopang oleh kultur keluarga yang menghargai proses, bukan hanya hasil, selain itu guru juga dipercaya penuh sebagai profesional dan regulasi sosial membentuk disiplin anak sejak dini.

Sementara di Indonesia, sistem nilai yang masih paternalistik dan berorientasi pada hasil membuat kebebasan belajar tanpa bimbingan justru melahirkan kebingungan dan kehilangan arah. Dari perspektif psikologi pendidikan, hal ini memperlihatkan bahwa reformasi kurikulum tanpa reformasi mentalitas dan budaya belajar hanyalah kosmetik kebijakan yang gagal menumbuhkan perubahan dari dalam.

Studi Kasus SMAN 1 Cimarga – Implikasi Psikologis

Kasus Cimarga adalah cermin kompleks dari krisis relasi antara guru, siswa, dan orang tua. Dari sisi kronologi, seorang siswa kedapatan merokok di lingkungan sekolah, kepala sekolah menegur dengan keras hingga melakukan tindakan fisik, kemudian orang tua melapor, dan siswa bersama rekan-rekannya melakukan mogok sekolah sebagai aksi protes dan menuntut kepala sekolah untuk diturunkan.

Dari perspektif psikologis, peristiwa ini memperlihatkan runtuhnya sistem norma dan otoritas sosial. Ketika siswa tidak lagi melihat guru sebagai figur yang patut dihormati, kontrol diri dan kedisiplinan tidak lagi terinternalisasi. Sebaliknya, muncul pola pikir reaktif dimana siswa merasa sebagai korban ketika ditegur, bukan reflektif terhadap kesalahan.

Bagi guru dan institusi sekolah, kasus seperti ini memicu trauma sosial dan ketakutan profesional. Akibatnya, banyak guru memilih “diam” dan membiarkan perilaku indisipliner berlalu tanpa konsekuensi. Dalam jangka panjang, ini menciptakan efek domino berupa erosi kepercayaan terhadap lembaga pendidikan dan pelonggaran norma sosial di lingkungan belajar.

Saran dari Perspektif Psikologi

Untuk membenahi krisis ini, perlu perubahan paradigma, bukan sekadar menambah aturan atau hukuman.

  • Menumbuhkan empati dan kontrol diri sejak dini. Sekolah perlu mengintegrasikan program pembelajaran sosial-emosional (social-emotional learning) yang melatih anak mengenali emosi, menunda dorongan, dan memahami sudut pandang orang lain. Program seperti ini terbukti efektif meningkatkan moralitas dan performa akademik.
  • Keterlibatan orang tua dan sekolah. Pendidikan karakter tidak akan efektif tanpa sinergi keluarga. Diperlukan parenting education dan forum komunikasi antara orang tua-guru untuk menyamakan nilai dan pendekatan terhadap anak.
  • Reformasi sistem pendidikan. Fokus pendidikan tidak boleh semata akademik. Sekolah harus menyediakan ruang bagi counseling service, kegiatan sosial, dan refleksi moral. Kementerian terkait perlu mendorong transformasi dari “ujian dan nilai” menjadi “perkembangan diri dan tanggung jawab sosial.”
  • Perubahan mindset kolektif juga tidak kalah penting. Revolusi mental bukan slogan, tapi proses internalisasi nilai dalam kebiasaan sehari-hari seperti cara berbicara, cara menghargai guru, cara menghadapi frustrasi dan lain sebagainya.

Adab dan sopan santun bukanlah warisan otomatis, tetapi hasil pembiasaan sosial dan kesadaran moral yang terus-menerus ditanamkan. Bila kita ingin generasi muda tumbuh dengan kualitas mental yang sehat, maka orang tua, guru, dan siswa harus bersama-sama menumbuhkan budaya empati dan tanggung jawab.

Membangun generasi beradab tidak bisa dimulai dari sistem pendidikan saja tetapi dari tindakan kecil sehari-hari seperti menyapa dengan sopan, menghormati perbedaan pendapat, berani mengakui kesalahan, dan belajar untuk menahan diri. Karena dari kebiasaan kecil itulah terbentuk karakter besar sebuah bangsa. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

Tags: PendidikanPsikologipsikologi anakpsikologi orang tuasekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pertemuan Batin Tolstoy dan Gandhi dalam “A Letter to a Hindu”: Dua Sosok yang Menginspirasi Dunia

Next Post

“Book of Fire”: Api, Tubuh, dan Perlawanan

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
“Book of Fire”: Api, Tubuh, dan Perlawanan

"Book of Fire": Api, Tubuh, dan Perlawanan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co