23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Krisis Adab dan Mentalitas Pelajar Indonesia: Cermin Gagalnya Sistem Pendidikan Kita

Isran Kamal by Isran Kamal
October 24, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

BELAKANGAN ini, publik dikejutkan dengan berbagai peristiwa yang menggambarkan kemerosotan kualitas mental dan moral generasi muda di sekolah dasar hingga menengah atas. Fenomena seperti siswa yang merokok di area sekolah, berbicara kasar terhadap guru, hingga meningkatnya kasus perundungan dan pelanggaran disiplin menjadi berita yang terlalu sering kita dengar.

Tak hanya itu, data kemampuan dasar membaca dan berhitung siswa sekolah menengah atas di Indonesia masih menunjukkan hasil yang memprihatinkan, hal ini menjadi sebuah ironi di tengah jargon “Merdeka Belajar” dan “Indonesia Emas” yang mengusung kebebasan berpikir dan inovasi.

Kasus SMAN 1 Cimarga di Lebak, Banten, menjadi contoh yang menarik. Seorang kepala sekolah menegur keras siswa yang merokok di area sekolah, bahkan sampai “menampar” siswa tersebut sebagai bentuk pendisiplinan. Orang tua siswa tersebut tidak menerima anaknya diperlakukan seperti itu sehingga melapor ke polisi, sementara aksi solidaritas dari teman-temannya muncul dalam bentuk mogok belajar, dan pada akhirnya terjadi pemutusan hubungan antara sekolah dan sebagian besar wali murid.

Kasus itu memicu perdebatan nasional.  Apakah otoritas sekolah sudah kehilangan makna? Mengapa norma dasar seperti menghormati guru, bersikap sopan, dan mematuhi aturan sekolah kini terasa rapuh?

Pertanyaannya, apa yang sebenarnya terjadi secara psikologis di balik fenomena ini? Dan sejauh mana sistem pendidikan kita turut berperan dalam membentuk atau bahkan menyulut kemunduran kualitas mental dan karakter siswa?

Faktor Psikologi Perkembangan Remaja dan Belajar

Secara psikologis, masa remaja, terutama pada rentang usia SMP hingga SMA merupakan periode krusial dalam pembentukan identitas dan kemandirian. Menurut Erik Erikson, remaja berada pada tahap identity vs. role confusion, di mana mereka berusaha menemukan jati diri melalui eksplorasi nilai, peran sosial, dan tujuan hidup. Dalam proses ini, perilaku menentang otoritas sering kali muncul sebagai bentuk pencarian otonomi diri. Kebutuhan akan pengakuan dari kelompok sebaya (peer acceptance) pun menjadi sangat dominan, kadang menggeser rasa hormat terhadap figur otoritas seperti guru atau orang tua.

Kecenderungan tersebut berimplikasi langsung terhadap dinamika belajar. Dalam konteks psikologi pendidikan, banyak siswa menunjukkan penurunan motivasi intrinsik. Mereka belajar bukan lagi karena dorongan rasa ingin tahu, tetapi karena tekanan eksternal seperti nilai, ujian, dan ekspektasi sosial.

Ketika motivasi belajar lebih banyak bersumber dari luar diri, maka regulasi diri (self-regulation) akan melemah. Akibatnya, siswa cenderung kehilangan arah ketika tidak ada pengawasan langsung dan mudah tergoda pada hal-hal yang memberi kepuasan instan. Lingkungan digital yang serba cepat dan stimulatif semakin memperkuat pola ini, menurunkan daya tahan terhadap frustrasi (frustration tolerance) dan kemampuan mengendalikan impuls.

Kondisi psikologis ini kemudian berdampak pada aspek yang lebih luas seperti pembentukan adab, sopan santun, dan kesadaran moral. Nilai-nilai tersebut sejatinya tumbuh dari kemampuan untuk berempati, mengenali norma sosial, dan mengatur diri dalam konteks sosial. Namun, ketika anak dibesarkan dalam lingkungan yang permisif, minim batasan, dan dikelilingi distraksi digital, proses internalisasi nilai sosial menjadi terhambat. Akibatnya, muncul generasi yang mungkin cerdas secara teknis tetapi miskin kesadaran sosial, empati, dan tanggung jawab pribadi.

Sistem Pendidikan dan Lingkungan Sekolah sebagai Konteks

Sekolah idealnya bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi juga arena pembentukan karakter dan norma sosial. Namun, dalam praktiknya, sistem pendidikan kita sering kali kehilangan fungsi itu. Jadwal belajar yang padat, tekanan ujian, serta budaya “hukuman” tanpa pembinaan membuat siswa mengalami kejenuhan psikologis.

Guru pun banyak yang frustrasi, di satu sisi mereka dituntut membentuk karakter, tapi di sisi lain dibatasi oleh regulasi dan kekhawatiran sosial takut viral, takut dilaporkan, takut disalahpahami belum lagi pekerjaan administrasi yang sangat banyak juga turut membatasi ruang gerak guru.

Lebih jauh, ada kesalahan fundamental dalam mengadaptasi sistem pendidikan negara maju seperti Jepang dan Finlandia. Kedua negara itu membangun sistem berbasis otonomi dan tanggung jawab karena masyarakatnya telah memiliki disiplin sosial dan kontrol diri tinggi. Indonesia mencoba mengadopsi bentuk luarnya tanpa membangun fondasi psiko-sosialnya terlebih dahulu. Akibatnya, sistem “merdeka belajar” sering kali dimaknai siswa sebagai “bebas tanpa batas,” bukan sebagai “kebebasan yang bertanggung jawab.”

Kesalahpahaman ini juga mencerminkan mismatch antara filosofi pendidikan dan kesiapan budaya belajar masyarakat. Di negara-negara seperti Finlandia, kemandirian belajar ditopang oleh kultur keluarga yang menghargai proses, bukan hanya hasil, selain itu guru juga dipercaya penuh sebagai profesional dan regulasi sosial membentuk disiplin anak sejak dini.

Sementara di Indonesia, sistem nilai yang masih paternalistik dan berorientasi pada hasil membuat kebebasan belajar tanpa bimbingan justru melahirkan kebingungan dan kehilangan arah. Dari perspektif psikologi pendidikan, hal ini memperlihatkan bahwa reformasi kurikulum tanpa reformasi mentalitas dan budaya belajar hanyalah kosmetik kebijakan yang gagal menumbuhkan perubahan dari dalam.

Studi Kasus SMAN 1 Cimarga – Implikasi Psikologis

Kasus Cimarga adalah cermin kompleks dari krisis relasi antara guru, siswa, dan orang tua. Dari sisi kronologi, seorang siswa kedapatan merokok di lingkungan sekolah, kepala sekolah menegur dengan keras hingga melakukan tindakan fisik, kemudian orang tua melapor, dan siswa bersama rekan-rekannya melakukan mogok sekolah sebagai aksi protes dan menuntut kepala sekolah untuk diturunkan.

Dari perspektif psikologis, peristiwa ini memperlihatkan runtuhnya sistem norma dan otoritas sosial. Ketika siswa tidak lagi melihat guru sebagai figur yang patut dihormati, kontrol diri dan kedisiplinan tidak lagi terinternalisasi. Sebaliknya, muncul pola pikir reaktif dimana siswa merasa sebagai korban ketika ditegur, bukan reflektif terhadap kesalahan.

Bagi guru dan institusi sekolah, kasus seperti ini memicu trauma sosial dan ketakutan profesional. Akibatnya, banyak guru memilih “diam” dan membiarkan perilaku indisipliner berlalu tanpa konsekuensi. Dalam jangka panjang, ini menciptakan efek domino berupa erosi kepercayaan terhadap lembaga pendidikan dan pelonggaran norma sosial di lingkungan belajar.

Saran dari Perspektif Psikologi

Untuk membenahi krisis ini, perlu perubahan paradigma, bukan sekadar menambah aturan atau hukuman.

  • Menumbuhkan empati dan kontrol diri sejak dini. Sekolah perlu mengintegrasikan program pembelajaran sosial-emosional (social-emotional learning) yang melatih anak mengenali emosi, menunda dorongan, dan memahami sudut pandang orang lain. Program seperti ini terbukti efektif meningkatkan moralitas dan performa akademik.
  • Keterlibatan orang tua dan sekolah. Pendidikan karakter tidak akan efektif tanpa sinergi keluarga. Diperlukan parenting education dan forum komunikasi antara orang tua-guru untuk menyamakan nilai dan pendekatan terhadap anak.
  • Reformasi sistem pendidikan. Fokus pendidikan tidak boleh semata akademik. Sekolah harus menyediakan ruang bagi counseling service, kegiatan sosial, dan refleksi moral. Kementerian terkait perlu mendorong transformasi dari “ujian dan nilai” menjadi “perkembangan diri dan tanggung jawab sosial.”
  • Perubahan mindset kolektif juga tidak kalah penting. Revolusi mental bukan slogan, tapi proses internalisasi nilai dalam kebiasaan sehari-hari seperti cara berbicara, cara menghargai guru, cara menghadapi frustrasi dan lain sebagainya.

Adab dan sopan santun bukanlah warisan otomatis, tetapi hasil pembiasaan sosial dan kesadaran moral yang terus-menerus ditanamkan. Bila kita ingin generasi muda tumbuh dengan kualitas mental yang sehat, maka orang tua, guru, dan siswa harus bersama-sama menumbuhkan budaya empati dan tanggung jawab.

Membangun generasi beradab tidak bisa dimulai dari sistem pendidikan saja tetapi dari tindakan kecil sehari-hari seperti menyapa dengan sopan, menghormati perbedaan pendapat, berani mengakui kesalahan, dan belajar untuk menahan diri. Karena dari kebiasaan kecil itulah terbentuk karakter besar sebuah bangsa. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

Tags: PendidikanPsikologipsikologi anakpsikologi orang tuasekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pertemuan Batin Tolstoy dan Gandhi dalam “A Letter to a Hindu”: Dua Sosok yang Menginspirasi Dunia

Next Post

“Book of Fire”: Api, Tubuh, dan Perlawanan

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
“Book of Fire”: Api, Tubuh, dan Perlawanan

"Book of Fire": Api, Tubuh, dan Perlawanan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co