13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Book of Fire”: Api, Tubuh, dan Perlawanan

Wayan Jengki Sunarta by Wayan Jengki Sunarta
October 24, 2025
in Ulas Rupa
“Book of Fire”: Api, Tubuh, dan Perlawanan

Pameran seni rupa karya Citra Sasmita

DALAM peta seni rupa kontemporer, Citra Sasmita hadir sebagai sosok yang menyalakan kembali percakapan tentang tubuh, tradisi, dan kuasa dari perspektif perempuan. Dia adalah suara yang lahir dari persimpangan antara warisan visual tradisi Bali dan kesadaran feminis global.

Hal itu bisa disimak pada pameran tunggal dan peluncuran buku puisi bertajuk Book of Fire yang digelar di RAD, Tegalalang, Gianyar, Bali. Pameran itu menampilkan sejumlah lukisan Citra Sasmita yang dicetak dengan teknik print riso oleh Rpff dalam edisi terbatas. Lukisan-lukisan cetakan tersebut diambil dari Timur Merah Project yang telah mendapat apresiasi luas di tingkat internasional.

Melalui pameran yang digelar dari tanggal 27 September hingga 27 Oktober 2025 itu, Citra menghadirkan karya-karya yang menyala, baik secara visual maupun konseptual. Karya-karyanya menjadi ruang tafsir atas tubuh perempuan yang selama berabad-abad didefinisikan oleh sistem patriarki dan mitologi yang bias.

Citra Sasmita lahir di Tabanan, Bali, 30 Maret 1990. Sebagai perupa, dia memulai karirnya dengan menjadi ilustrator cerpen di Bali Post (2012 – 2018) yang digawangi sastrawan Oka Rusmini. Pada masa itu, dia juga rajin menulis esai, cerpen, prosa liris, dan puisi. Dia intens bergaul di dunia sastra dan teater di Bali, khususnya di Denpasar.

Pertemuannya dengan penyair legendaris Umbu Landu Paranggi semakin membuka wawasannya tentang dunia tulis menulis., yakni puisi dan prosa liris. Beberapa puisi, prosa liris, dan esai pendeknya pernah dimuat di Bali Post Minggu yang diasuh Umbu Landu Paranggi. Selain itu, puisi-puisinya juga masuk dalam beberapa antologi, antara lain “Ijen Purba: Tanah, Air, dan Batu” (2024).

Citra Sasmita termasuk seniman multi talenta. Selain seni rupa, dia merambah sastra dan teater. Pergaulannya yang lintas batas seni dan pengetahuannya yang luas berpengaruh pada karya-karyanya yang cenderung konseptual. Selain di Indonesia, karya-karyanya telah tampil di Singapura, Thailand, Amerika, Inggris, Italia, Arab Saudi, Brasil, Australia, Hawaii, Nepal, Jepang, China, dll. Dia juga pernah meraih penghargaan Gold Award Winner of the UOB Painting of the Year (2017).

Tubuh perempuan adalah medan utama dalam karya-karya Citra. Dalam seri-seri lukisan Book of Fire, tubuh kerap digambarkan terbelah, termutilasi, terpapar api, atau mengalirkan darah. Imaji-imaji ini bukan bentuk kekerasan visual yang kosong, melainkan pernyataan estetik dan politik. Citra sedang menunjukkan bagaimana tubuh perempuan selalu menjadi medan pertarungan antara moralitas, kekuasaan, dan budaya.

Dalam lukisannya, tubuh tidak pernah utuh dalam pengertian anatomi. Ia justru hadir sebagai serpihan, sebagai fragmen yang menyimpan cerita. Tubuh-tubuh itu seolah menolak menjadi citra ideal yang diatur oleh pandangan laki-laki. Mereka menjadi tubuh-tubuh yang sadar akan keterlukaan dan sejarah penindasan yang membentuknya. Dalam konteks ini, mutilasi bukan sekadar bentuk penderitaan, melainkan simbol resistensi. Tubuh yang terpotong tetap memiliki suara, bahkan suara yang lebih keras.

Citra kerap menempatkan api sebagai elemen utama dalam komposisi. Api bukan hanya latar atau efek visual, tetapi metafora yang berlapis makna. Api bisa dimaknai sebagai penghukuman, penyucian, dan kelahiran kembali. Dalam Book of Fire, api menjadi lambang dari kesadaran feminis yang membakar, energi yang menolak diam dan menantang dogma lama. Perempuan-perempuan dalam lukisannya tidak pasrah; mereka menatap balik, berdiri di tengah kobaran api, menuntut ruang dan makna baru bagi dirinya.

Salah satu kekuatan utama Citra adalah kemampuannya mengolah tradisi menjadi perlawanan. Dia mengambil dasar teknik dan gaya lukisan Kamasan Bali, dengan garis-garis dekoratif, bidang datar, dan struktur naratif pewayangan, tetapi mengganti isinya dengan kisah yang sama sekali berbeda. Di tangan Citra, mitologi wayang Kamasan tidak lagi berkisah tentang kepahlawanan lelaki atau dewa-dewa yang agung, melainkan tentang perempuan yang dilupakan, disalahkan, dan ingin bicara.

Pendekatan ini menciptakan dialektika yang menegangkan antara bentuk yang tradisional dan isi yang subversif. Citra tidak menolak tradisi, tetapi mengolahnya dari dalam, menjadikannya alat untuk membongkar ide-ide patriarkal yang melekat di dalamnya. Dengan begitu, Citra tidak hanya mengubah ikonografi, tetapi juga epistemologinya. Dia menafsirkan ulang cara kita memahami tubuh dan mitos dari perspektif perempuan.

Citra belajar langsung teknik Kamasan dari Mangku Muriati, salah satu pelukis penting dari Kamasan, Klungkung, Bali. Namun, jika Kamasan klasik berpusat pada kisah Ramayana dan Mahabharata, karya Citra justru memperlihatkan “mitologi alternatif”, di mana perempuan menjadi pusat narasi. Dia menciptakan tokoh-tokoh baru, kadang tanpa nama, kadang tanpa wajah, yang merepresentasikan pengalaman kolektif perempuan di Bali dan dunia.

Secara visual, lukisan-lukisan Citra sering kali didominasi oleh warna-warna merah, orange, cokelat, dan hitam. Warna merah menjadi simbol darah dan api, dua unsur yang berulang dalam karyanya. Pada beberapa lukisan, tubuh perempuan tampak seolah menari dalam kobaran api. Sementara pada lukisan lain tampak tubuh perempuan yang termulitasi atau terbelah ditumbuhi pohon. Kadang simbol ular belang (lipi poleng) muncul juga pada lukisannya. Simbol-simbol tersebut membawa konotasi kengerian sekaligus mistis.

Struktur visual lukisan-lukisan Citra cenderung padat, tetapi tertata rapi seperti peta energi. Dia memiliki disiplin komposisi yang kuat barangkali pengaruh dari latar belakang akademisnya di bidang fisika sehingga di tengah kekacauan simbolik, masih terasa keteraturan dan harmoni. Lukisan-lukisannya bisa dibaca sebagai diagram emosi. Setiap bidang, setiap garis, menyimpan hubungan antara kekuatan batin dan pengalaman sejarah perempuan.

Keterlibatan Citra dalam dunia sastra memberi dimensi lain bagi karya-karyanya. Dalam Book of Fire, puisi dan lukisan hadir bukan sebagai dua medium terpisah, melainkan dua elemen yang saling melengkapi. Teks puisinya tajam, metaforis, dan penuh gugatan bertemu dengan bahasa visual yang sama-sama emosional. Melalui pendekatan ini, Citra memperluas batas praktik seni rupa. Dia menjadikan kata dan rupa sebagai medan intertekstual yang saling membakar.

Lukisan karya Citra Sasmita

Keterpaduan ini juga memperkuat narasi feminis pada karya-karya Citra. Puisi memberi tubuh bagi ide, sementara lukisan memberi ruang bagi emosi yang tak bisa diucapkan. Dalam kombinasi keduanya, lahirlah karya yang bukan sekadar indah secara visual, tetapi juga menggugah secara ideologis.

Citra menolak menganggap seni sebagai ruang netral. Dia sadar bahwa setiap goresan adalah pernyataan politik. Dalam dunia seni rupa yang masih bias gender, dia menegaskan posisinya sebagai perempuan yang berdiri dengan kuas dan pena, yang siap bertarung dengan laki-laki.

Hal itu senada dengan pernyataan salah satu baris puisinya: “keangkuhanku mesti lebih keras dari biji jakun seorang laki-laki”. Citra menulis puisinya dengan kemarahan, dan melukis dengan keberanian. Lukisan-lukisannya adalah catatan atas luka, tetapi juga perayaan atas keberlangsungan hidup.

Melalui Book of Fire, Citra menghadirkan seni yang politis tanpa kehilangan kedalaman estetiknya. Citra mengingatkan kita bahwa keindahan tidak harus jinak. Bahwa api tidak selalu menghancurkan, kadang ia justru menerangi jalan bagi kesadaran baru. Karya-karya Citra Sasmita adalah ajakan untuk membaca ulang tubuh, mitos, dan sejarah dari sudut pandang perempuan. Dia menggali akar tradisi Bali bukan untuk nostalgia, tetapi untuk mengungkap lapisan kuasa yang tersembunyi di baliknya. Dalam lukisannya, tubuh perempuan yang dulu dianggap aib kini menjadi sumber cahaya, api yang menolak padam. [T]

Penulis: Wayan Jengki Sunarta
Editor: Adnyana Ole

Tags: buku puisiCitra SasmitaPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Krisis Adab dan Mentalitas Pelajar Indonesia: Cermin Gagalnya Sistem Pendidikan Kita

Next Post

Mengemas Hidup Hari-Hari Biasa pada Pameran “TOLERAKSI” di Kampus Undiksha Singaraja

Wayan Jengki Sunarta

Wayan Jengki Sunarta

Penulis puisi, cerpen, novel, esai/artikel/ulasan seni. Penyuka seni, batu akik & barang antik.

Related Posts

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

by Angga Wijaya
July 8, 2026
0
Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

DI Bale Daja Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, aroma tanah bakar seperti masih tertinggal di antara puluhan karya...

Read moreDetails

BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 7, 2026
0
BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

“Ring wwang haywa nirāśrayeka gawayen tekeng mahānaśraya” – Niti Sastra SENI rupa kontemporer tidak lagi menekankan pada aspek pemaknaan sebuah...

Read moreDetails

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

by Mahesa Putra
July 6, 2026
0
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh...

Read moreDetails

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

by Hartanto
July 4, 2026
0
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni...

Read moreDetails

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

by Mahesa Putra
June 30, 2026
0
Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana,...

Read moreDetails

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

by Hartanto
June 29, 2026
0
‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu,...

Read moreDetails

Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

by Mahesa Putra
June 18, 2026
0
Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini...

Read moreDetails

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

by Oka Rusmini
June 15, 2026
0
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”,...

Read moreDetails

Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

by Mas Ruscitadewi
June 13, 2026
0
Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar....

Read moreDetails

Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

by Made Chandra
June 8, 2026
0
Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

DERAP langkah beranjak naik, kain tirai perlahan mulai disingkapkan, lalu dengan segera bunyi-bunyian kendang, tembang dan segala perangkat kesenian jaranan,...

Read moreDetails
Next Post
Mengemas Hidup Hari-Hari Biasa pada Pameran “TOLERAKSI” di Kampus Undiksha Singaraja

Mengemas Hidup Hari-Hari Biasa pada Pameran “TOLERAKSI” di Kampus Undiksha Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co