14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Book of Fire”: Api, Tubuh, dan Perlawanan

Wayan Jengki Sunarta by Wayan Jengki Sunarta
October 24, 2025
in Ulas Rupa
“Book of Fire”: Api, Tubuh, dan Perlawanan

Pameran seni rupa karya Citra Sasmita

DALAM peta seni rupa kontemporer, Citra Sasmita hadir sebagai sosok yang menyalakan kembali percakapan tentang tubuh, tradisi, dan kuasa dari perspektif perempuan. Dia adalah suara yang lahir dari persimpangan antara warisan visual tradisi Bali dan kesadaran feminis global.

Hal itu bisa disimak pada pameran tunggal dan peluncuran buku puisi bertajuk Book of Fire yang digelar di RAD, Tegalalang, Gianyar, Bali. Pameran itu menampilkan sejumlah lukisan Citra Sasmita yang dicetak dengan teknik print riso oleh Rpff dalam edisi terbatas. Lukisan-lukisan cetakan tersebut diambil dari Timur Merah Project yang telah mendapat apresiasi luas di tingkat internasional.

Melalui pameran yang digelar dari tanggal 27 September hingga 27 Oktober 2025 itu, Citra menghadirkan karya-karya yang menyala, baik secara visual maupun konseptual. Karya-karyanya menjadi ruang tafsir atas tubuh perempuan yang selama berabad-abad didefinisikan oleh sistem patriarki dan mitologi yang bias.

Citra Sasmita lahir di Tabanan, Bali, 30 Maret 1990. Sebagai perupa, dia memulai karirnya dengan menjadi ilustrator cerpen di Bali Post (2012 – 2018) yang digawangi sastrawan Oka Rusmini. Pada masa itu, dia juga rajin menulis esai, cerpen, prosa liris, dan puisi. Dia intens bergaul di dunia sastra dan teater di Bali, khususnya di Denpasar.

Pertemuannya dengan penyair legendaris Umbu Landu Paranggi semakin membuka wawasannya tentang dunia tulis menulis., yakni puisi dan prosa liris. Beberapa puisi, prosa liris, dan esai pendeknya pernah dimuat di Bali Post Minggu yang diasuh Umbu Landu Paranggi. Selain itu, puisi-puisinya juga masuk dalam beberapa antologi, antara lain “Ijen Purba: Tanah, Air, dan Batu” (2024).

Citra Sasmita termasuk seniman multi talenta. Selain seni rupa, dia merambah sastra dan teater. Pergaulannya yang lintas batas seni dan pengetahuannya yang luas berpengaruh pada karya-karyanya yang cenderung konseptual. Selain di Indonesia, karya-karyanya telah tampil di Singapura, Thailand, Amerika, Inggris, Italia, Arab Saudi, Brasil, Australia, Hawaii, Nepal, Jepang, China, dll. Dia juga pernah meraih penghargaan Gold Award Winner of the UOB Painting of the Year (2017).

Tubuh perempuan adalah medan utama dalam karya-karya Citra. Dalam seri-seri lukisan Book of Fire, tubuh kerap digambarkan terbelah, termutilasi, terpapar api, atau mengalirkan darah. Imaji-imaji ini bukan bentuk kekerasan visual yang kosong, melainkan pernyataan estetik dan politik. Citra sedang menunjukkan bagaimana tubuh perempuan selalu menjadi medan pertarungan antara moralitas, kekuasaan, dan budaya.

Dalam lukisannya, tubuh tidak pernah utuh dalam pengertian anatomi. Ia justru hadir sebagai serpihan, sebagai fragmen yang menyimpan cerita. Tubuh-tubuh itu seolah menolak menjadi citra ideal yang diatur oleh pandangan laki-laki. Mereka menjadi tubuh-tubuh yang sadar akan keterlukaan dan sejarah penindasan yang membentuknya. Dalam konteks ini, mutilasi bukan sekadar bentuk penderitaan, melainkan simbol resistensi. Tubuh yang terpotong tetap memiliki suara, bahkan suara yang lebih keras.

Citra kerap menempatkan api sebagai elemen utama dalam komposisi. Api bukan hanya latar atau efek visual, tetapi metafora yang berlapis makna. Api bisa dimaknai sebagai penghukuman, penyucian, dan kelahiran kembali. Dalam Book of Fire, api menjadi lambang dari kesadaran feminis yang membakar, energi yang menolak diam dan menantang dogma lama. Perempuan-perempuan dalam lukisannya tidak pasrah; mereka menatap balik, berdiri di tengah kobaran api, menuntut ruang dan makna baru bagi dirinya.

Salah satu kekuatan utama Citra adalah kemampuannya mengolah tradisi menjadi perlawanan. Dia mengambil dasar teknik dan gaya lukisan Kamasan Bali, dengan garis-garis dekoratif, bidang datar, dan struktur naratif pewayangan, tetapi mengganti isinya dengan kisah yang sama sekali berbeda. Di tangan Citra, mitologi wayang Kamasan tidak lagi berkisah tentang kepahlawanan lelaki atau dewa-dewa yang agung, melainkan tentang perempuan yang dilupakan, disalahkan, dan ingin bicara.

Pendekatan ini menciptakan dialektika yang menegangkan antara bentuk yang tradisional dan isi yang subversif. Citra tidak menolak tradisi, tetapi mengolahnya dari dalam, menjadikannya alat untuk membongkar ide-ide patriarkal yang melekat di dalamnya. Dengan begitu, Citra tidak hanya mengubah ikonografi, tetapi juga epistemologinya. Dia menafsirkan ulang cara kita memahami tubuh dan mitos dari perspektif perempuan.

Citra belajar langsung teknik Kamasan dari Mangku Muriati, salah satu pelukis penting dari Kamasan, Klungkung, Bali. Namun, jika Kamasan klasik berpusat pada kisah Ramayana dan Mahabharata, karya Citra justru memperlihatkan “mitologi alternatif”, di mana perempuan menjadi pusat narasi. Dia menciptakan tokoh-tokoh baru, kadang tanpa nama, kadang tanpa wajah, yang merepresentasikan pengalaman kolektif perempuan di Bali dan dunia.

Secara visual, lukisan-lukisan Citra sering kali didominasi oleh warna-warna merah, orange, cokelat, dan hitam. Warna merah menjadi simbol darah dan api, dua unsur yang berulang dalam karyanya. Pada beberapa lukisan, tubuh perempuan tampak seolah menari dalam kobaran api. Sementara pada lukisan lain tampak tubuh perempuan yang termulitasi atau terbelah ditumbuhi pohon. Kadang simbol ular belang (lipi poleng) muncul juga pada lukisannya. Simbol-simbol tersebut membawa konotasi kengerian sekaligus mistis.

Struktur visual lukisan-lukisan Citra cenderung padat, tetapi tertata rapi seperti peta energi. Dia memiliki disiplin komposisi yang kuat barangkali pengaruh dari latar belakang akademisnya di bidang fisika sehingga di tengah kekacauan simbolik, masih terasa keteraturan dan harmoni. Lukisan-lukisannya bisa dibaca sebagai diagram emosi. Setiap bidang, setiap garis, menyimpan hubungan antara kekuatan batin dan pengalaman sejarah perempuan.

Keterlibatan Citra dalam dunia sastra memberi dimensi lain bagi karya-karyanya. Dalam Book of Fire, puisi dan lukisan hadir bukan sebagai dua medium terpisah, melainkan dua elemen yang saling melengkapi. Teks puisinya tajam, metaforis, dan penuh gugatan bertemu dengan bahasa visual yang sama-sama emosional. Melalui pendekatan ini, Citra memperluas batas praktik seni rupa. Dia menjadikan kata dan rupa sebagai medan intertekstual yang saling membakar.

Lukisan karya Citra Sasmita

Keterpaduan ini juga memperkuat narasi feminis pada karya-karya Citra. Puisi memberi tubuh bagi ide, sementara lukisan memberi ruang bagi emosi yang tak bisa diucapkan. Dalam kombinasi keduanya, lahirlah karya yang bukan sekadar indah secara visual, tetapi juga menggugah secara ideologis.

Citra menolak menganggap seni sebagai ruang netral. Dia sadar bahwa setiap goresan adalah pernyataan politik. Dalam dunia seni rupa yang masih bias gender, dia menegaskan posisinya sebagai perempuan yang berdiri dengan kuas dan pena, yang siap bertarung dengan laki-laki.

Hal itu senada dengan pernyataan salah satu baris puisinya: “keangkuhanku mesti lebih keras dari biji jakun seorang laki-laki”. Citra menulis puisinya dengan kemarahan, dan melukis dengan keberanian. Lukisan-lukisannya adalah catatan atas luka, tetapi juga perayaan atas keberlangsungan hidup.

Melalui Book of Fire, Citra menghadirkan seni yang politis tanpa kehilangan kedalaman estetiknya. Citra mengingatkan kita bahwa keindahan tidak harus jinak. Bahwa api tidak selalu menghancurkan, kadang ia justru menerangi jalan bagi kesadaran baru. Karya-karya Citra Sasmita adalah ajakan untuk membaca ulang tubuh, mitos, dan sejarah dari sudut pandang perempuan. Dia menggali akar tradisi Bali bukan untuk nostalgia, tetapi untuk mengungkap lapisan kuasa yang tersembunyi di baliknya. Dalam lukisannya, tubuh perempuan yang dulu dianggap aib kini menjadi sumber cahaya, api yang menolak padam. [T]

Penulis: Wayan Jengki Sunarta
Editor: Adnyana Ole

Tags: buku puisiCitra SasmitaPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Krisis Adab dan Mentalitas Pelajar Indonesia: Cermin Gagalnya Sistem Pendidikan Kita

Next Post

Mengemas Hidup Hari-Hari Biasa pada Pameran “TOLERAKSI” di Kampus Undiksha Singaraja

Wayan Jengki Sunarta

Wayan Jengki Sunarta

Penulis puisi, cerpen, novel, esai/artikel/ulasan seni. Penyuka seni, batu akik & barang antik.

Related Posts

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026
0
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

Read moreDetails

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

by Made Chandra
May 4, 2026
0
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

Read moreDetails

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

by Made Chandra
April 14, 2026
0
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam...

Read moreDetails

Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan? —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

by I Wayan Sujana Suklu
March 27, 2026
0
Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan?  —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

Membaca Aurora Blue dan Red Blossom karya Wayan Kun Adnyana, pameran Parama Paraga Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New...

Read moreDetails

SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

by I Wayan Sujana Suklu
March 24, 2026
0
SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

Liminalitas sebagai Ambang Kosmologis LIMINALITAS, dalam pengertian paling mendasar, bukan sekadar fase peralihan, melainkan kondisi ontologis di mana batas-batas eksistensi...

Read moreDetails

Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

by Agung Bawantara
March 23, 2026
0
Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

Di tengah hiruk-pikuk malam pengerupukan, sehari menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Çaka 1948, ketika ogoh-ogoh diarak dalam gegap gempita, sosok...

Read moreDetails

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

by Agung Bawantara
March 17, 2026
0
Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Karya ogoh-ogoh berjudul “Tugu Mayang” dari ST. Pandawa Banjar Tarukan, Desa Adat Mas, Ubud, Gianyar, menguatkan sebuah kecenderungan estetika yang...

Read moreDetails

Gerabah dan Manusia yang Berubah

by Mas Ruscitadewi
March 7, 2026
0
Gerabah dan Manusia yang Berubah

Dalam pameran Bali Bhuwana Rupa oleh ISI Denpasar di ARMA Museum Ubud, yang bertajuk ' Adhi Jnana Astam (Mastery-Mind-Marvel), banyak...

Read moreDetails

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

by Hartanto
February 24, 2026
0
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana...

Read moreDetails

Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

by Agung Bawantara
February 22, 2026
0
Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

OGOH-OGOH Kalabendu karya Sekaa Teruna (ST) Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu, Kuta Selatan, menempatkan figur bhutakala bertangan enam sebagai pusat komposisi....

Read moreDetails
Next Post
Mengemas Hidup Hari-Hari Biasa pada Pameran “TOLERAKSI” di Kampus Undiksha Singaraja

Mengemas Hidup Hari-Hari Biasa pada Pameran “TOLERAKSI” di Kampus Undiksha Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co