3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Book of Fire”: Api, Tubuh, dan Perlawanan

Wayan Jengki Sunarta by Wayan Jengki Sunarta
October 24, 2025
in Ulas Rupa
“Book of Fire”: Api, Tubuh, dan Perlawanan

Pameran seni rupa karya Citra Sasmita

DALAM peta seni rupa kontemporer, Citra Sasmita hadir sebagai sosok yang menyalakan kembali percakapan tentang tubuh, tradisi, dan kuasa dari perspektif perempuan. Dia adalah suara yang lahir dari persimpangan antara warisan visual tradisi Bali dan kesadaran feminis global.

Hal itu bisa disimak pada pameran tunggal dan peluncuran buku puisi bertajuk Book of Fire yang digelar di RAD, Tegalalang, Gianyar, Bali. Pameran itu menampilkan sejumlah lukisan Citra Sasmita yang dicetak dengan teknik print riso oleh Rpff dalam edisi terbatas. Lukisan-lukisan cetakan tersebut diambil dari Timur Merah Project yang telah mendapat apresiasi luas di tingkat internasional.

Melalui pameran yang digelar dari tanggal 27 September hingga 27 Oktober 2025 itu, Citra menghadirkan karya-karya yang menyala, baik secara visual maupun konseptual. Karya-karyanya menjadi ruang tafsir atas tubuh perempuan yang selama berabad-abad didefinisikan oleh sistem patriarki dan mitologi yang bias.

Citra Sasmita lahir di Tabanan, Bali, 30 Maret 1990. Sebagai perupa, dia memulai karirnya dengan menjadi ilustrator cerpen di Bali Post (2012 – 2018) yang digawangi sastrawan Oka Rusmini. Pada masa itu, dia juga rajin menulis esai, cerpen, prosa liris, dan puisi. Dia intens bergaul di dunia sastra dan teater di Bali, khususnya di Denpasar.

Pertemuannya dengan penyair legendaris Umbu Landu Paranggi semakin membuka wawasannya tentang dunia tulis menulis., yakni puisi dan prosa liris. Beberapa puisi, prosa liris, dan esai pendeknya pernah dimuat di Bali Post Minggu yang diasuh Umbu Landu Paranggi. Selain itu, puisi-puisinya juga masuk dalam beberapa antologi, antara lain “Ijen Purba: Tanah, Air, dan Batu” (2024).

Citra Sasmita termasuk seniman multi talenta. Selain seni rupa, dia merambah sastra dan teater. Pergaulannya yang lintas batas seni dan pengetahuannya yang luas berpengaruh pada karya-karyanya yang cenderung konseptual. Selain di Indonesia, karya-karyanya telah tampil di Singapura, Thailand, Amerika, Inggris, Italia, Arab Saudi, Brasil, Australia, Hawaii, Nepal, Jepang, China, dll. Dia juga pernah meraih penghargaan Gold Award Winner of the UOB Painting of the Year (2017).

Tubuh perempuan adalah medan utama dalam karya-karya Citra. Dalam seri-seri lukisan Book of Fire, tubuh kerap digambarkan terbelah, termutilasi, terpapar api, atau mengalirkan darah. Imaji-imaji ini bukan bentuk kekerasan visual yang kosong, melainkan pernyataan estetik dan politik. Citra sedang menunjukkan bagaimana tubuh perempuan selalu menjadi medan pertarungan antara moralitas, kekuasaan, dan budaya.

Dalam lukisannya, tubuh tidak pernah utuh dalam pengertian anatomi. Ia justru hadir sebagai serpihan, sebagai fragmen yang menyimpan cerita. Tubuh-tubuh itu seolah menolak menjadi citra ideal yang diatur oleh pandangan laki-laki. Mereka menjadi tubuh-tubuh yang sadar akan keterlukaan dan sejarah penindasan yang membentuknya. Dalam konteks ini, mutilasi bukan sekadar bentuk penderitaan, melainkan simbol resistensi. Tubuh yang terpotong tetap memiliki suara, bahkan suara yang lebih keras.

Citra kerap menempatkan api sebagai elemen utama dalam komposisi. Api bukan hanya latar atau efek visual, tetapi metafora yang berlapis makna. Api bisa dimaknai sebagai penghukuman, penyucian, dan kelahiran kembali. Dalam Book of Fire, api menjadi lambang dari kesadaran feminis yang membakar, energi yang menolak diam dan menantang dogma lama. Perempuan-perempuan dalam lukisannya tidak pasrah; mereka menatap balik, berdiri di tengah kobaran api, menuntut ruang dan makna baru bagi dirinya.

Salah satu kekuatan utama Citra adalah kemampuannya mengolah tradisi menjadi perlawanan. Dia mengambil dasar teknik dan gaya lukisan Kamasan Bali, dengan garis-garis dekoratif, bidang datar, dan struktur naratif pewayangan, tetapi mengganti isinya dengan kisah yang sama sekali berbeda. Di tangan Citra, mitologi wayang Kamasan tidak lagi berkisah tentang kepahlawanan lelaki atau dewa-dewa yang agung, melainkan tentang perempuan yang dilupakan, disalahkan, dan ingin bicara.

Pendekatan ini menciptakan dialektika yang menegangkan antara bentuk yang tradisional dan isi yang subversif. Citra tidak menolak tradisi, tetapi mengolahnya dari dalam, menjadikannya alat untuk membongkar ide-ide patriarkal yang melekat di dalamnya. Dengan begitu, Citra tidak hanya mengubah ikonografi, tetapi juga epistemologinya. Dia menafsirkan ulang cara kita memahami tubuh dan mitos dari perspektif perempuan.

Citra belajar langsung teknik Kamasan dari Mangku Muriati, salah satu pelukis penting dari Kamasan, Klungkung, Bali. Namun, jika Kamasan klasik berpusat pada kisah Ramayana dan Mahabharata, karya Citra justru memperlihatkan “mitologi alternatif”, di mana perempuan menjadi pusat narasi. Dia menciptakan tokoh-tokoh baru, kadang tanpa nama, kadang tanpa wajah, yang merepresentasikan pengalaman kolektif perempuan di Bali dan dunia.

Secara visual, lukisan-lukisan Citra sering kali didominasi oleh warna-warna merah, orange, cokelat, dan hitam. Warna merah menjadi simbol darah dan api, dua unsur yang berulang dalam karyanya. Pada beberapa lukisan, tubuh perempuan tampak seolah menari dalam kobaran api. Sementara pada lukisan lain tampak tubuh perempuan yang termulitasi atau terbelah ditumbuhi pohon. Kadang simbol ular belang (lipi poleng) muncul juga pada lukisannya. Simbol-simbol tersebut membawa konotasi kengerian sekaligus mistis.

Struktur visual lukisan-lukisan Citra cenderung padat, tetapi tertata rapi seperti peta energi. Dia memiliki disiplin komposisi yang kuat barangkali pengaruh dari latar belakang akademisnya di bidang fisika sehingga di tengah kekacauan simbolik, masih terasa keteraturan dan harmoni. Lukisan-lukisannya bisa dibaca sebagai diagram emosi. Setiap bidang, setiap garis, menyimpan hubungan antara kekuatan batin dan pengalaman sejarah perempuan.

Keterlibatan Citra dalam dunia sastra memberi dimensi lain bagi karya-karyanya. Dalam Book of Fire, puisi dan lukisan hadir bukan sebagai dua medium terpisah, melainkan dua elemen yang saling melengkapi. Teks puisinya tajam, metaforis, dan penuh gugatan bertemu dengan bahasa visual yang sama-sama emosional. Melalui pendekatan ini, Citra memperluas batas praktik seni rupa. Dia menjadikan kata dan rupa sebagai medan intertekstual yang saling membakar.

Lukisan karya Citra Sasmita

Keterpaduan ini juga memperkuat narasi feminis pada karya-karya Citra. Puisi memberi tubuh bagi ide, sementara lukisan memberi ruang bagi emosi yang tak bisa diucapkan. Dalam kombinasi keduanya, lahirlah karya yang bukan sekadar indah secara visual, tetapi juga menggugah secara ideologis.

Citra menolak menganggap seni sebagai ruang netral. Dia sadar bahwa setiap goresan adalah pernyataan politik. Dalam dunia seni rupa yang masih bias gender, dia menegaskan posisinya sebagai perempuan yang berdiri dengan kuas dan pena, yang siap bertarung dengan laki-laki.

Hal itu senada dengan pernyataan salah satu baris puisinya: “keangkuhanku mesti lebih keras dari biji jakun seorang laki-laki”. Citra menulis puisinya dengan kemarahan, dan melukis dengan keberanian. Lukisan-lukisannya adalah catatan atas luka, tetapi juga perayaan atas keberlangsungan hidup.

Melalui Book of Fire, Citra menghadirkan seni yang politis tanpa kehilangan kedalaman estetiknya. Citra mengingatkan kita bahwa keindahan tidak harus jinak. Bahwa api tidak selalu menghancurkan, kadang ia justru menerangi jalan bagi kesadaran baru. Karya-karya Citra Sasmita adalah ajakan untuk membaca ulang tubuh, mitos, dan sejarah dari sudut pandang perempuan. Dia menggali akar tradisi Bali bukan untuk nostalgia, tetapi untuk mengungkap lapisan kuasa yang tersembunyi di baliknya. Dalam lukisannya, tubuh perempuan yang dulu dianggap aib kini menjadi sumber cahaya, api yang menolak padam. [T]

Penulis: Wayan Jengki Sunarta
Editor: Adnyana Ole

Tags: buku puisiCitra SasmitaPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Krisis Adab dan Mentalitas Pelajar Indonesia: Cermin Gagalnya Sistem Pendidikan Kita

Next Post

Mengemas Hidup Hari-Hari Biasa pada Pameran “TOLERAKSI” di Kampus Undiksha Singaraja

Wayan Jengki Sunarta

Wayan Jengki Sunarta

Penulis puisi, cerpen, novel, esai/artikel/ulasan seni. Penyuka seni, batu akik & barang antik.

Related Posts

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

by Made Chandra
June 2, 2026
0
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

Read moreDetails

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026
0
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

Read moreDetails

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

by Made Chandra
May 4, 2026
0
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

Read moreDetails

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

by Made Chandra
April 14, 2026
0
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam...

Read moreDetails

Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan? —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

by I Wayan Sujana Suklu
March 27, 2026
0
Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan?  —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

Membaca Aurora Blue dan Red Blossom karya Wayan Kun Adnyana, pameran Parama Paraga Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New...

Read moreDetails

SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

by I Wayan Sujana Suklu
March 24, 2026
0
SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

Liminalitas sebagai Ambang Kosmologis LIMINALITAS, dalam pengertian paling mendasar, bukan sekadar fase peralihan, melainkan kondisi ontologis di mana batas-batas eksistensi...

Read moreDetails

Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

by Agung Bawantara
March 23, 2026
0
Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

Di tengah hiruk-pikuk malam pengerupukan, sehari menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Çaka 1948, ketika ogoh-ogoh diarak dalam gegap gempita, sosok...

Read moreDetails

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

by Agung Bawantara
March 17, 2026
0
Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Karya ogoh-ogoh berjudul “Tugu Mayang” dari ST. Pandawa Banjar Tarukan, Desa Adat Mas, Ubud, Gianyar, menguatkan sebuah kecenderungan estetika yang...

Read moreDetails

Gerabah dan Manusia yang Berubah

by Mas Ruscitadewi
March 7, 2026
0
Gerabah dan Manusia yang Berubah

Dalam pameran Bali Bhuwana Rupa oleh ISI Denpasar di ARMA Museum Ubud, yang bertajuk ' Adhi Jnana Astam (Mastery-Mind-Marvel), banyak...

Read moreDetails

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

by Hartanto
February 24, 2026
0
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana...

Read moreDetails
Next Post
Mengemas Hidup Hari-Hari Biasa pada Pameran “TOLERAKSI” di Kampus Undiksha Singaraja

Mengemas Hidup Hari-Hari Biasa pada Pameran “TOLERAKSI” di Kampus Undiksha Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co