14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Purbaya Yudhi Sadewa dan Dialektika Baru Politik Ekonomi Indonesia

Ruben Cornelius Siagian by Ruben Cornelius Siagian
October 10, 2025
in Opini
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

Ruben Cornelius Siagian

FENOMENA menarik sedang terjadi di awal masa pemerintahan baru menuju 2029. Nama Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan yang baru beberapa bulan menjabat, mendadak mencuri sorotan publik. Dari kebijakan yang mengguncang pasar hingga gaya komunikasinya yang blak-blakan, Purbaya tampak menampilkan wajah teknokrat yang tak biasa yaitu keras pada angka, tapi santai di depan kamera.

Namun yang lebih menarik, kiprah Purbaya kini dipandang sebagai ujian bagi arah politik ekonomi nasional, bahwa apakah Indonesia benar-benar memasuki era “penyeimbangan baru” antara populisme politik dan rasionalitas teknokratis?

Sebab di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto dikenal sebagai figur dengan orientasi populis-sosialis, dengan gagasan besar seperti makan bergizi gratis, subsidi pangan, dan penguatan kedaulatan ekonomi rakyat.

Kombinasi ini melahirkan satu pertanyaan strategis, bahwa apakah duet Prabowo–Purbaya adalah bentuk keseimbangan antara ideologi “kiri” dan “kanan” dalam tata ekonomi Indonesia modern?

Purbaya dengan Tekanan Fiskal merepresentasikan Ketegasan Gaya Baru

Purbaya muncul bukan sebagai birokrat konvensional, tetapi sebagai teknokrat yang berani menantang status quo. Ia menegur bank yang dianggap “malas menyalurkan kredit”, menggeser triliunan dana negara dari rekening pasif, dan menuntut efisiensi dari lembaga pemerintah. Dalam istilah ekonomi politik, Purbaya sedang memainkan peran “disciplinarian technocrat”, yaitu penjaga disiplin fiskal yang menganggap stabilitas makro sebagai moralitas publik.[1]

Kebijakan efisiensi yang ia dorong kerap berujung kontroversi. Purbaya tahu, fiskal adalah panggung politik yang sebenarnya. Setiap pemangkasan, setiap transfer yang ditunda, selalu berarti gesekan antara pusat dan daerah, antara teknokrat dan politisi.

Hal itu terbukti ketika dalam pekan terakhir, belasan gubernur dari berbagai provinsi yang tergabung dalam Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI) mendatangi kantornya di Jakarta. Aksi yang oleh media disebut “18 Gubernur Geruduk Menkeu” menjadi simbol ketegangan lama bahwa perebutan kontrol atas uang negara antara pusat dan daerah.

Para gubernur memprotes rencana pemotongan Dana Transfer ke Daerah (TKD) dalam APBN 2026, yang mereka nilai akan menjerat fiskal daerah dan menghambat pembangunan.

Purbaya tak gentar. Dengan tenang, ia menegaskan bahwa “daerah harus terlebih dahulu memperbaiki kualitas belanja publik sebelum menuntut tambahan anggaran.”

Bahkan dengan seloroh khasnya, ia berkata takut “dipukul gubernur” karena kebijakan efisiensi ini, bahwa pernyataan ringan tapi sarat makna: bahwa negara kini memasuki era baru, di mana disiplin fiskal harus berdiri di atas politik daerah.

Di sinilah letak keunikan Purbaya. Ia berani menegaskan garis tegas antara efisiensi dan populisme fiskal bahwa sesuatu yang jarang dilakukan pejabat keuangan di tengah tekanan politik yang besar.

Ideologi Kanan dan Kiri adalah dialektika Indonesia yang Tak Pernah Usai

Dalam politik ekonomi Indonesia, “kiri” dan “kanan” tidak pernah hadir secara murni. “Kiri” berarti keberpihakan pada rakyat kecil, intervensi negara, dan perlindungan sosial. “Sementara kanan” berarti disiplin fiskal, keterbukaan pasar, dan efisiensi anggaran.

Selama satu dekade terakhir, Indonesia bergerak di antara dua poros itu yang mencari keseimbangan antara developmental state ala Asia Timur dan populisme sosial khas demokrasi elektoral.

Prabowo datang membawa semangat “kerakyatan” yang kuat, namun ia membutuhkan figur seperti Purbaya untuk menyeimbangkan ambisi besar itu dengan realitas fiskal. Sebaliknya, Purbaya memerlukan legitimasi politik dari Prabowo untuk melindungi kebijakan rasionalnya dari resistensi birokrasi dan kepentingan daerah.

Hubungan ini menyerupai dialektika klasik dalam ekonomi politik, yaitu antara moralitas redistributif dan disiplin teknokratis. Bila berjalan selaras, kombinasi ini bisa menjadi kekuatan. Tapi bila keduanya berlawanan arah, maka hasilnya adalah tarik-ulur kebijakan yang melelahkan seperti yang terjadi di masa-masa reformasi fiskal sebelumnya.

Jejak Jokowi dan Luhut yang membayangi Purbaya

Namun, memahami Purbaya tidak cukup hanya dari hubungan dengan Prabowo.

Jejak panjangnya sebagai teknokrat mengarah ke masa pemerintahan Presiden Joko Widodo. Saat krisis ekonomi akibat COVID-19, Purbaya menjabat sebagai Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang adalah salah satu pilar yang menyelamatkan sistem keuangan nasional dari potensi krisis sistemik.

Di masa itu pula, ia dikenal dekat dengan Luhut Binsar Pandjaitan, tokoh sentral dalam orkestrasi kebijakan ekonomi lintas sektor. Banyak pengamat meyakini bahwa kepercayaan Jokowi dan dukungan Luhut memainkan peran dalam mengantarkan Purbaya ke panggung kabinet baru.

Bahkan, tidak sedikit yang membaca kehadiran Purbaya sebagai “jembatan kesinambungan” antara dua rezim yaitu dari teknokrasi Jokowi ke populisme Prabowo. Sebuah transisi kekuasaan yang lembut atau mungkin, strategi politik yang cermat agar mesin ekonomi nasional tetap stabil di tengah perubahan politik besar.

Sehingga Purbaya bukan sekadar Menteri Keuangan. Ia adalah simbol dari kesinambungan bahwa ia representasi kepentingan teknokratik yang telah menstruktur kebijakan ekonomi sejak era Jokowi, kini bernegosiasi dengan populisme baru Prabowo.

Potret Politik Fiskal di Era Baru

Krisis kecil yang muncul dari “aksi 18 gubernur” sesungguhnya membuka perdebatan besar, bahwa siapa yang berdaulat atas uang negara?

Selama dua dekade terakhir, transfer ke daerah menjadi instrumen utama pemerataan fiskal dan simbol otonomi daerah. Namun, banyak studi menunjukkan belanja daerah kerap tak efisien, bahkan tidak produktif.

Purbaya membaca kenyataan itu dengan tajam, bahwa negara tidak bisa terus “menyiram uang” ke daerah tanpa perbaikan tata kelola. Ia tahu, membenahi struktur fiskal daerah sama pentingnya dengan menekan inflasi.

Tapi langkah ini tak lepas dari risiko politik.

Ketika teknokrasi menabrak kepentingan elektoral, perlawanan pasti muncul. Kepala daerah yang sebagian besar memiliki ambisi politik nasional tentu tak ingin dipotong sumber dayanya. Maka pertemuan panas di kantor Kementerian Keuangan itu bukan sekadar urusan APBN, melainkan pertarungan simbolik antara pusat dan daerah, antara efisiensi dan patronase politik.

Respons Purbaya yang dingin namun tegas menunjukkan satu hal: ia siap menanggung biaya politik dari kebijakan rasional. Dalam konteks pemerintahan Prabowo yang cenderung populis, keberanian semacam ini menjadi penting sekaligus berisiko.

Teknokrasi, Populisme, dan Risiko Friksi

Kombinasi Prabowo–Purbaya adalah eksperimen politik ekonomi yang menarik. Di satu sisi, Prabowo mengusung legitimasi moral dari basis rakyat yaitu ide besar yang menyentuh sisi emosional publik. Di sisi lain, Purbaya membawa disiplin teknokratik yang berbasis data, efisiensi, dan kehati-hatian fiskal. Namun sejarah Indonesia mengajarkan bahwa duet semacam ini jarang bertahan lama tanpa koordinasi yang kuat.

Dulu, kombinasi antara pemimpin politik karismatik dan teknokrat rasional sering berakhir dengan ketegangan, terutama ketika pertumbuhan ekonomi dihadapkan pada tekanan populisme jangka pendek.

Purbaya akan terus diuji, bahwa apakah ia mampu atau tidak ia menjaga kredibilitas fiskal tanpa kehilangan sensitivitas sosial. Dan Prabowo pun diuji bahwa sejauh mana ia siap menahan dorongan populis demi stabilitas ekonomi jangka panjang.

Prediksi Kepemimpinan Gaya “Koboi” Purbaya yang Menjadi Peluang dan Risiko bagi Politik Ekonomi Indonesia

Fenomena Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan yang dikenal dengan gaya “koboi”, yang mengartikan berani, blak-blakan, dan kadang melanggar norma birokrasi mendorong pertanyaan strategis, bahwa apa arti gaya kepemimpinan semacam ini bagi ekonomi Indonesia dalam jangka menengah dan panjang? Apakah ini membawa inovasi dan efisiensi, atau justru menimbulkan risiko politik dan fiskal?

Gaya kepemimpinan “koboi” atau maverick leadership dalam literatur manajemen dan kepemimpinan dipahami sebagai pendekatan di mana seorang pemimpin menekankan tindakan cepat, keputusan tegas, dan keberanian menantang status quo.[2] Menurut teori kepemimpinan transformasional, pemimpin semacam ini mampu memotivasi bawahan melalui visi dan keberanian pribadi, sering kali menghasilkan perubahan signifikan dalam sistem yang stagnan.[3] Namun teori transactional leadership juga mengingatkan bahwa tanpa mekanisme kontrol dan koordinasi, keputusan impulsif bisa menimbulkan disfungsi organisasi.[4]

Dalam konteks Purbaya, gaya ini terlihat jelas saat ia menegur bank “malas” menyalurkan kredit, memindahkan triliunan dana negara, dan menolak permintaan transfer daerah sebelum kualitas belanja publik diperbaiki. Tindakan ini menunjukkan ciri pemimpin high-risk, high-reward yaitu keputusan cepat dan tegas yang bisa menghasilkan efisiensi besar, tapi juga memicu resistensi politik.

Jika dibandingkan secara internasional, beberapa kasus serupa memberi pelajaran menarik. Seperti John Connally, Menteri Keuangan AS era Nixon, dikenal dengan gaya agresif dan blak-blakan, mendorong reformasi fiskal dan devaluasi dolar pada 1971, yang menyeimbangkan neraca ekonomi AS tetapi menimbulkan kontroversi politik.[5] Di Asia, Lee Kuan Yew di Singapura menunjukkan kombinasi otoriter dan pragmatis, bahwa ia berani mengambil keputusan drastis demi efisiensi birokrasi dan pembangunan, yang berbuah hasil ekonomi luar biasa.[6] Di India, kebijakan “Shock Therapy” Manmohan Singh di era reformasi 1991—meski bukan koboi personal, menunjukkan bahwa keputusan teknokrat tegas di tengah krisis dapat memecahkan kebuntuan ekonomi, tapi selalu berisiko memicu friksi politik.[7]

Dalam konteks Indonesia, implikasi gaya kepemimpinan koboi Purbaya bersifat ambivalen. Di satu sisi, keputusan tegas seperti menertibkan transfer ke daerah atau memaksa bank menyalurkan kredit dapat memperkuat disiplin fiskal, mengurangi kebocoran anggaran, dan mempercepat pertumbuhan ekonomi. Gaya ini juga memberikan sinyal kuat kepada pasar bahwa pemerintah serius dalam menjaga stabilitas dan kredibilitas anggaran negara, bahwa ini hal yang penting untuk menarik investasi domestik dan asing.

Namun risiko politik tetap tinggi. Indonesia adalah negara demokratis dengan desentralisasi fiskal yang kuat. Setiap kebijakan yang dipersepsikan menekan daerah atau kelompok kepentingan tertentu dapat memicu konflik politik, demonstrasi, atau bahkan ketidakpatuhan birokrasi. Jika gaya koboi Purbaya tidak diimbangi koordinasi politik yang cermat, kebijakan yang tampak efisien secara teknokratis bisa merusak legitimasi pemerintah dan menghambat implementasi.

Risiko psikologis dan kepemimpinan jangka panjang juga perlu diperhatikan. Pemimpin koboi yang terlalu dominan bisa menurunkan kapasitas lembaga untuk membangun prosedur permanen, karena bawahan mungkin menunggu arahan ad-hoc. Efek ini terlihat di beberapa negara di mana reformasi ekonomi impulsif jangka pendek berhasil, tapi institusi jangka panjang menjadi lemah.

Berdasarkan penelitian tentang kepemimpinan maverick di sektor publik, kesuksesan bergantung pada tiga faktor, antara lain; (1) kredibilitas teknokratik pemimpin, (2) dukungan politik dari elite, dan (3) mekanisme kontrol internal agar keputusan drastis tidak menimbulkan disfungsi.[8]  Purbaya, dengan rekam jejak di era Jokowi dan kedekatan dengan Luhut, memiliki dua faktor pertama. Faktor ketiga yaitu kontrol internal dan koordinasi lintas kementerian serta daerah akan menjadi kunci untuk menentukan apakah gaya koboi ini akan menghasilkan harmoni atau friksi.

Secara prediktif, jika Purbaya mampu menjaga keseimbangan antara keberanian tindakan dan koordinasi institusional, gaya koboi bisa menjadi driver reformasi fiskal dan efisiensi ekonomi. Ia bisa menjadi katalisator yang mendorong modernisasi birokrasi dan tata kelola publik. Namun jika ketegangan dengan elite politik dan kepala daerah meningkat, risiko tarik-ulur kebijakan bisa menimbulkan ketidakpastian pasar, stagnasi fiskal, atau konflik sosial.

Sehingga gaya kepemimpinan Purbaya adalah pedang bermata dua, bahwa ia berpotensi inovasi dan efisiensi besar, tetapi risiko politik dan implementasi tetap nyata. Sejarah global menunjukkan bahwa pemimpin maverick yang sukses adalah mereka yang mampu memadukan keberanian dengan strategi institusional, bukan sekadar bertindak solo. Indonesia kini sedang diuji, bahwa apakah gaya koboi Purbaya akan menjadi contoh reformasi fiskal yang kuat, atau ujian ketegangan politik yang panjang.

Harmoni yang Rawan Retak

Indonesia kini berdiri di persimpangan antara kesinambungan dan perubahan.

Purbaya adalah simbol teknokrasi yang dibentuk oleh Jokowi dan Luhut, tetapi kini harus bekerja di bawah visi politik Prabowo.

Hubungan mereka, sejauh ini, masih produktif namun di baliknya tersimpan potensi friksi yang besar. Apakah duet kanan–kiri ini akan menjadi harmoni baru bagi politik ekonomi Indonesia, atau justru membuka tekanan laten antara populisme dan teknokrasi? Waktu yang akan menjawab. Untuk saat ini, publik hanya bisa mengamati seorang presiden yang berpikir besar tentang rakyat, seorang menteri yang berpikir tajam tentang angka, dan dua bayangan lama  Jokowi dan Luhut yang masih memantau dari kejauhan.

Tiga generasi kekuasaan, satu panggung ekonomi nasional.

Dan mungkin, justru dari tarik-ulur itulah lahir resep keseimbangan baru politik-ekonomi Indonesia pasca-2029. [T]


[1] Roberts, The logic of discipline: Global capitalism and the architecture of government.

[2] Lewis dkk., Mavericks: How bold leadership changes the world.

[3] Lewis dkk., Mavericks: How bold leadership changes the world.

[4] Nash, Transformation and Transactional Leadership in Mental Health and Substance Abuse Organizations.

[5] Stein, Pivotal decade: How the United States traded factories for finance in the seventies.

[6] Tan, “The ideology of pragmatism: Neo-liberal globalisation and political authoritarianism in Singapore.”

[7] Singh, Economic Reforms in India: Problems & Prospects.

[8] Obicci, “Corrupt elites, administrative cadres and public service in Africa: Islands of vanity.”

Penulis: Ruben Cornelius Siagian
Editor: Adnyana Ole

Tags: ekonomikeuanganmenteri keuanganPolitikpolitik ekonomi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Sing Ngerambang Bangken Dongkang!”: Tingkah Polah Negeri Apatis

Next Post

Museum Bali: Tetangga Sunyi di Tengah Ramainya Lapangan Puputan di Denpasar

Ruben Cornelius Siagian

Ruben Cornelius Siagian

Peneliti Independen & Pengamat Kebijakan Publik

Related Posts

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

Read moreDetails

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

Read moreDetails

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
0
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

Read moreDetails

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

Read moreDetails

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails

Rekonstruksi Status Tanah ‘Ex Eigendom Verponding’: Antara Legalitas Formal dan Penguasaan Fisik dalam Perspektif Keadilan Agraria

by I Made Pria Dharsana
April 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH bekas hak barat berupa eigendom verponding menyisakan persoalan hukum yang tidak pernah sepenuhnya selesai sejak berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria....

Read moreDetails
Next Post
Museum Bali: Tetangga Sunyi di Tengah Ramainya Lapangan Puputan di Denpasar

Museum Bali: Tetangga Sunyi di Tengah Ramainya Lapangan Puputan di Denpasar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co