6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mata Liontin | Cerpen Rully Andrian Syah

Rully Andrian Syah by Rully Andrian Syah
October 4, 2025
in Cerpen
Mata Liontin | Cerpen Rully Andrian Syah

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

“Boleh aku duduk di sini?”

“Aman, silakan.”

Itu kali pertama mata liontinnya menyulam renda-renda masa remajaku. Tampaknya, gadis itu lebih muda dariku. Setelah pertemuan sekilas di kantin, aku tak pernah lagi melihatnya. Aneh, bahkan hingga aku lulus. Begitulah waktu dan wajah-wajah orang lain bersekutu membuatku lupa. 

Tetapi, kemarin, mataku mengatakan bahwa ia adalah gadis yang pernah kulihat sewaktu mahasiswa. Di kantin kampus bulan April dua belas tahun silam. Apa ingatanku silap? Bagaimanapun otak sebelah kananku tak akan mungkin bergetar tanpa sebab. Potongan demi potongan itu kian jelas membentuk sebuah wajah.

“Kau yakin?” tanya teman kerjaku.

“Tidak salah lagi. Tepatnya setelah kamu pulang. Aku sangat mengenal bentuk mukanya, meski ia kelihatan jauh lebih matang. Selain matanya yang masih sama, yang membuatku yakin seratus persen, ya matanya itu.”

***

Perempuan itu berbalut sweater merah dan liontinnya cukup terang menggantung di leher. Kukira aku sedang melihat tiga liontin sebab matanya pun memendar bagai kunang-kunang. Ia langsung mendatangi konter. Kedua lengannya membekap badan hingga membuat dadanya mengencang sesak. Aku sengaja membuka jendela-jendela bar asalkan bias rembulan terperangkap di lantai. Aku memahami berbagai perangai pelanggan yang mengunjungi bar ini. Dan, perempuan itu datang kemari bukan untuk suatu janji.

“Rice wine.”

“Selera anda seperti bule-bule gila di sini, apa saya tidak salah dengar?”

“Enggak,” ketusnya.

“Maaf, saya buatkan dulu.”

Ia mengambil gelas minumnya seperti seorang musafir. Sekali napas. Betapa berat harinya? Ia jelas menyiratkan ketidaksenangannya ketika satu-dua pengunjung laki-laki duduk dan mencoba melelang obrolan. Tak ada yang berhasil. Semua ditolak. Seorang pria gendut tersinggung karena sikap perempuan itu. Lalu seperti biasa aku menyeret keluar pelanggan resek tersebut. Si gendut sempat melawan, tapi kujelaskan bahwa aku tak akan menahan diri. Mereka, pengunjung semacam itu makin berani saja akhir-akhir ini.

“Selalu seperti ini?”

“Tumben. Tetapi jumlah mereka makin bertambah saja.”

“Kiriman ya? Maksudku dari pulau seberang,” ujar si perempuan.

“Itu sudah pasti. Yang jeleknya itu mereka jarang bawa uang”

“Memangnya kamu tahu dari mana mereka itu bule miskin?”

“Mereka amatir, apalagi coba?” jawabku.

“Yayaya, pokoknya terimakasih…”

“Bentar, amatir, maksudnya?”

“Hahaha, lupakan,” jawabku.

“Aku mau segelas lagi.”

Ia menatap bingung ke samping seraya bibirnya bergumam tetapi tak kudengar ia berkata apa. 

Ia seperti tipe yang gampang bosan. Dagunya rebah di meja konter dan jemarinya yang tirus itu begitu lentur mengukur gelas minum. Lalu kadang-kadang ia mengigit kukunya hingga sedikit berdarah. Kulihat cahaya matanya, kesayupan itu menyiratkan sesuatu yang sulit. Entah, perasaanku berkata demikian. 

“Kamu menikmati pekerjaan ini?” Mata perempuan itu memicing.

“Ya begitulah.”

“Tak punya mimpi lain?”

“Inilah yang saya idamkan, nona.”

“Baiklah Tuan Bartender, kamu kaku sekali.”

Aku sedikit tertawa dan menganggapnya pujian.

“Bagaimana dengan anda?” Tanyaku.

“Tak ada pria yang bisa dipercaya.”

Aku membiarkannya curhat. Sepuas yang ia inginkan. Kuberi ia sapu tangan dan camilan agar membuatnya merasa enakan. Perempuan itu bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan asuransi, ia menikah dengan rekan sekantornya. Bahtera keluarga mereka terjalin selama lima tahun sebelum tragedi memalukan membenamkan hati si perempuan.

Suaminya sejenis pria hidung belang dengan ciri-ciri yang hampir sama dengan semua hidung belang manapun. Ia memergoki suaminya bermain serong. Menurutnya, baik si suami dan simpanannya memanglah sepasang ular. “Dia bukan suamiku, tapi bajingan” ungkap perempuan itu dengan nada kecewa.

Sebetulnya, tidak sekali ia mendapati suaminya berkencan dengan perempuan lain di luar kepentingan kerja. Sampai perempuan itu meyakini jikalau penciumannya tidaklah keliru. Aku juga kurang mengerti alasan perempuan itu menikah muda, apa sebelumnya ia tak meyelami lebih dalam latar belakang si suami. Dalam perkara ini kuakui diriku sedikit naif, rumah tangga tak pernah gampang. Aku mengurungkan niat.

***

“Kau tidak ambil situasi?”

“Sedikit pun tak ada pikiran lain,” jawabku.

“Lalu?” Temanku mendesak amat penasaran.

Aku menenggak sisa kocktail sebelum bercerita lebih lanjut.

***

Malam terasa menggigit, kusilangkan syal tenun di leher. Pelanggan lainnya sudah bubar, saklar-saklar lampu utama telah kumatikan, tetapi perempuan itu belum juga rampung. Ia tak beranjak, meski kulayangkan kode bahwa aku akan segera tutup. Mungkin ia sadar tapi ya sudahlah. Saat kesadarannya meredup di tengah cerita, ia mencubit pelan pipinya dan bergeleng-geleng hingga rambut bergelombangnya tergerai alami. Kupikir ini salahku juga, panjang cerita perempuan itu di luar dugaan.

“Kenapa?” Ia menatapku.

Matanya membundar sempurna, aku terkecoh hingga keliru mencatat uang nota. Sekalipun ini kelewatan dan memang resiko. Pikirku, pemandangan semacam ini begitu lumrah di tempat minum-minum. Tatapannya jelas menyengat jantungku. 

“Anda menginap di mana?”

“Sebelum aku pulang, bisakah kamu memberiku sekaleng bir? Aku butuh minuman di losmen.”

“Tak perlu bayar. Tangkap,” ujarku lalu melempar bir kaleng.

Semoga perempuan itu paham maksudku. Sebab, besok pagi aku mesti  menyeberangi pulau untuk mengisi ulang stok dapur.

“Saya akan mengantar anda sampai losmen, tidurlah. Anda masih ada jadwal snorkeling siang harinya, bukan? Akan sangat lucu anda menyelam dalam kondisi pengar.”

“Biasa itu. Kamu meremehkanku ya, Tuan Bartender!?”

Perempuan itu kian meracau. Kulit putihnya memerah ceri, beda tipis dengan rona sweater yang ia kenakan. Mata kami bertemu dan tak bisa kupahami percikan yang barusan melintas. Di bawah remang cahaya meja konter, bibirnya bergelayut ranum. Anehnya ia belum kepingin muntah, tetapi hampir saja menjatuhkan vas bunga azalea di konter.

Kupapah ia berjalan dan menyuruhnya senyaman mungkin di sadel belakang. Pipinya rebah di punggung, dan kulitku berasa melumer seperti krim coklat. Getaran napas perempuan itu tak ubahnya deruan angin dari benua asing. Kedua lengannya melingkar ketat dan menyebabkan teluk di dalam diriku meriak. Panas di tubuhnya menderas ke palung tubuhku.

Losmen perempuan itu berdekatan dengan dermaga kedatangan. Aku mesti menyisir rute pantai. Pulau ini disebut gili. Ada tiga gili yang berdekatan satu sama lain dan dijadikan nirwana. Surganya para turis dan gadis-gadis macau. Barku ada di gili yang paling ramai. Hanya sepeda kayuh dan skuter listrik yang boleh landas di pulau ini.

Sekian kali sepedaku oleng dan badanku tertekuk sebab kepala perempuan itu mendoyor. Namun, aku selalu dapat menyeimbangkan. Aroma asin dan bebakaran hewan laut merambangi hidungku. Selain mengeja jalan dan memastikan yang di belakang, kulempar juga mataku ke sekitaran; ritel-ritel mini dan bar-bar masih menyala.

Gigil malam bukan jadi pantangan orang-orang untuk keluar kamar. Di luar, bulan telanjang sempurna. Terdengar jelas debur ombak menyerok pasir-pasir dan apa-apa yang terhampar. Semacam kebetulan ganjil, aku membonceng perempuan yang belum kutahu namanya dan yang kuduga dikirim oleh portal masa lalu.

“Di sini!”

 Aku nyaris jatuh. Perempuan itu meloncat dari atas sepeda dan lari ke arah dermaga, terbahak-bahak. Jarak losmennya dekat lagi, tapi ia sudah membuatku jengkel. Suaraku selalu patah di lidah setiap memperingatkan perempuan itu untuk kembali. Luji sepeda belum kukunci. Di pulau ini semua kehilangan sama buruknya. 

“Aku mau di sini,” pintanya.

Gagasan gila apalagi sih maunya?

***

“Tipemu yang seperti itu ya, Pak?”

“Aku belum terlalu tua, ayolah!”

Temanku kesemsem lalu membuka botol baru dan menuangkannya ke gelasku.

“Biar kulanjutkan.”

***

Aku dan perempuan itu berselonjor di tepi dermaga, menatap laut melogam. Kurasakan permukaan batu dermaga dan butir-butir pasir yang melengket di telapak. Perempuan itu tak mengeluarkan sepatah kata. Ia melelapkan mata dan menarik napas dalam-dalam, urat lehernya nampak keunguan. Liontinnya mengkilap tertimpa sinar bulan. Dan, aku selalu tiada mengira siapa diriku dalam situasi hening macam ini. Yang pasti tiada tabir yang bisa kusingkap. Mataku tersihir oleh segala kedalaman.

“Kamu mau?” tawar perempuan itu.

“Silakan,” jawabku.

“Oke.” Ia nampak tenggelam menghisap ujung papir. Jari tengah dan ibu jarinya mengapit lintingan begitu cermat.

“Kenapa anda berterus terang soal ini? Bukannya semua pria tak dapat dipercaya?” Tanyaku.

“Aku mengatakan itu, ya? Aku Lupa. Dan, hei, kamu tidak menyebalkan.” Perempuan itu benar-benar lepas. 

Aku dibuat tidak mengerti. Ia lanjut menghembuskan lagu-lagu sedih, wajahku tertangkap basah dan ia menyuruhku untuk mengikutinya. Tenggorokanku jadi gatal lepas sepotong bait. Percikan itu kembali melintas, disayat lirik-lirik murung dari bibir si perempuan. Ia lanjut menceritakan kali pertama mengenal suaminya. Dugaanku tepat, perempuan itu memang pernah sekampus denganku. Namun, aku tak menyinggung bahwa aku sempat melihatnya dua belas tahun lalu. Kendati dulu ia cuman duduk di depanku, selebihnya tak ada. Kusimpan sepotong kenangan itu jauh di dasar.

Perempuan itu melinting lagi dan kali ini aku tak menolak. Aku seperti melihat tiga liontin.

“Mungkin tidak semua pria. Salah satunya ayahku.”

“Aku percaya,” jawabku.

“Kamu tahu, ayahku seorang supir bus yang ceria. Dia begitu menikmati pekerjaannya. Satu-satunya pria di keluarga kecil kami. Sesekali dia mengajakku. Terkadang ia marah sih semisal di jalan aku tiba-tiba merengek. Aku sudah lupa detailnya mengapa dulu aku sering begitu.”

“Aku bisa membayangkan ayahmu. Cerita yang mengharukan.”

“Hei, kenapa haru? Kan, cuman kangen.”

“Lantas?”

Ia tersenyum lalu memanggul dagunya di lutut. Ombak kian melipat dan pecah di bibir lalu kembali ke lambung laut, tak ubahnya selembar papir yang digulung oleh jemari si perempuan.  

“Kamu suka The Smith?” Tanyanya seraya merapatkan wajah.

“Karena ayahmu seorang supir bus?”

Perempuan itu tertawa, aku kurang tahu apakah itu cukup lucu baginya.

“Sudah bisa bercanda ya, Tuan Bartender?”

 “Kita bukan 20-an lagi,” jawabku.

“Aku masih 20, setidaknya akhir,” timpalnya. Ia kembali diam dan menjatuhkan kelopak matanya menuju lubang yang gelapnya tak mampu kubayangkan.

Nasib baik sepedaku tidak hilang, aku berhasil mengantar si perempuan  sampai di losmennya. Rambutnya tak juga kusut, masih bergelombang.

***

“Sepertinya perkiraanmu salah Pak, ia tak kembali malam ini.”

“Tak apa, kita lihat tahun depan.”

Temanku benar, perempuan itu tak pernah lagi datang bahkan setelah liburan berikutnya. Tahun-tahun berganti dan aku kerap mengawasi setiap pelanggan yang main ke barku. Mungkinkah di antara pelanggan ia menyapa lalu memesan Ricewine. Sementara, temanku itu tak lagi bekerja di barku. Ia menikah dan tinggal di negara suaminya. Semoga hidupnya menyenangkan. Sekarang aku benar-benar sendiri mengelola bar sebab tak bisa membayar orang lain. Karena itu aku sering mengunjungi dermaga malam-malam. Dan, setiap mataku beradu dengan wajah bulan, aku selalu teringat wajah perempuan yang kulihat pada bulan April dua belas tahun silam. Aku seperti melihat tiga liontin. [T]

Yogyakarta, 2024 

Penulis: Rully Andrian Syah
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Komang Sujana | Senja Lindap Begitu Saja

Next Post

Bali, Eksistensi, Kepercayaan Diri, dan Over Confident

Rully Andrian Syah

Rully Andrian Syah

Kelahiran 03 Maret, Nusa Tenggara Barat. Mahasiswa Antropologi Budaya Universitas Gadjah Mada. Menulis cerpen dan esai peristiwa. Media Sosial: @rulyandsyah (Instagram)

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post
Bali, Eksistensi, Kepercayaan Diri, dan Over Confident

Bali, Eksistensi, Kepercayaan Diri, dan Over Confident

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co