25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mata Liontin | Cerpen Rully Andrian Syah

Rully Andrian Syah by Rully Andrian Syah
October 4, 2025
in Cerpen
Mata Liontin | Cerpen Rully Andrian Syah

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

“Boleh aku duduk di sini?”

“Aman, silakan.”

Itu kali pertama mata liontinnya menyulam renda-renda masa remajaku. Tampaknya, gadis itu lebih muda dariku. Setelah pertemuan sekilas di kantin, aku tak pernah lagi melihatnya. Aneh, bahkan hingga aku lulus. Begitulah waktu dan wajah-wajah orang lain bersekutu membuatku lupa. 

Tetapi, kemarin, mataku mengatakan bahwa ia adalah gadis yang pernah kulihat sewaktu mahasiswa. Di kantin kampus bulan April dua belas tahun silam. Apa ingatanku silap? Bagaimanapun otak sebelah kananku tak akan mungkin bergetar tanpa sebab. Potongan demi potongan itu kian jelas membentuk sebuah wajah.

“Kau yakin?” tanya teman kerjaku.

“Tidak salah lagi. Tepatnya setelah kamu pulang. Aku sangat mengenal bentuk mukanya, meski ia kelihatan jauh lebih matang. Selain matanya yang masih sama, yang membuatku yakin seratus persen, ya matanya itu.”

***

Perempuan itu berbalut sweater merah dan liontinnya cukup terang menggantung di leher. Kukira aku sedang melihat tiga liontin sebab matanya pun memendar bagai kunang-kunang. Ia langsung mendatangi konter. Kedua lengannya membekap badan hingga membuat dadanya mengencang sesak. Aku sengaja membuka jendela-jendela bar asalkan bias rembulan terperangkap di lantai. Aku memahami berbagai perangai pelanggan yang mengunjungi bar ini. Dan, perempuan itu datang kemari bukan untuk suatu janji.

“Rice wine.”

“Selera anda seperti bule-bule gila di sini, apa saya tidak salah dengar?”

“Enggak,” ketusnya.

“Maaf, saya buatkan dulu.”

Ia mengambil gelas minumnya seperti seorang musafir. Sekali napas. Betapa berat harinya? Ia jelas menyiratkan ketidaksenangannya ketika satu-dua pengunjung laki-laki duduk dan mencoba melelang obrolan. Tak ada yang berhasil. Semua ditolak. Seorang pria gendut tersinggung karena sikap perempuan itu. Lalu seperti biasa aku menyeret keluar pelanggan resek tersebut. Si gendut sempat melawan, tapi kujelaskan bahwa aku tak akan menahan diri. Mereka, pengunjung semacam itu makin berani saja akhir-akhir ini.

“Selalu seperti ini?”

“Tumben. Tetapi jumlah mereka makin bertambah saja.”

“Kiriman ya? Maksudku dari pulau seberang,” ujar si perempuan.

“Itu sudah pasti. Yang jeleknya itu mereka jarang bawa uang”

“Memangnya kamu tahu dari mana mereka itu bule miskin?”

“Mereka amatir, apalagi coba?” jawabku.

“Yayaya, pokoknya terimakasih…”

“Bentar, amatir, maksudnya?”

“Hahaha, lupakan,” jawabku.

“Aku mau segelas lagi.”

Ia menatap bingung ke samping seraya bibirnya bergumam tetapi tak kudengar ia berkata apa. 

Ia seperti tipe yang gampang bosan. Dagunya rebah di meja konter dan jemarinya yang tirus itu begitu lentur mengukur gelas minum. Lalu kadang-kadang ia mengigit kukunya hingga sedikit berdarah. Kulihat cahaya matanya, kesayupan itu menyiratkan sesuatu yang sulit. Entah, perasaanku berkata demikian. 

“Kamu menikmati pekerjaan ini?” Mata perempuan itu memicing.

“Ya begitulah.”

“Tak punya mimpi lain?”

“Inilah yang saya idamkan, nona.”

“Baiklah Tuan Bartender, kamu kaku sekali.”

Aku sedikit tertawa dan menganggapnya pujian.

“Bagaimana dengan anda?” Tanyaku.

“Tak ada pria yang bisa dipercaya.”

Aku membiarkannya curhat. Sepuas yang ia inginkan. Kuberi ia sapu tangan dan camilan agar membuatnya merasa enakan. Perempuan itu bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan asuransi, ia menikah dengan rekan sekantornya. Bahtera keluarga mereka terjalin selama lima tahun sebelum tragedi memalukan membenamkan hati si perempuan.

Suaminya sejenis pria hidung belang dengan ciri-ciri yang hampir sama dengan semua hidung belang manapun. Ia memergoki suaminya bermain serong. Menurutnya, baik si suami dan simpanannya memanglah sepasang ular. “Dia bukan suamiku, tapi bajingan” ungkap perempuan itu dengan nada kecewa.

Sebetulnya, tidak sekali ia mendapati suaminya berkencan dengan perempuan lain di luar kepentingan kerja. Sampai perempuan itu meyakini jikalau penciumannya tidaklah keliru. Aku juga kurang mengerti alasan perempuan itu menikah muda, apa sebelumnya ia tak meyelami lebih dalam latar belakang si suami. Dalam perkara ini kuakui diriku sedikit naif, rumah tangga tak pernah gampang. Aku mengurungkan niat.

***

“Kau tidak ambil situasi?”

“Sedikit pun tak ada pikiran lain,” jawabku.

“Lalu?” Temanku mendesak amat penasaran.

Aku menenggak sisa kocktail sebelum bercerita lebih lanjut.

***

Malam terasa menggigit, kusilangkan syal tenun di leher. Pelanggan lainnya sudah bubar, saklar-saklar lampu utama telah kumatikan, tetapi perempuan itu belum juga rampung. Ia tak beranjak, meski kulayangkan kode bahwa aku akan segera tutup. Mungkin ia sadar tapi ya sudahlah. Saat kesadarannya meredup di tengah cerita, ia mencubit pelan pipinya dan bergeleng-geleng hingga rambut bergelombangnya tergerai alami. Kupikir ini salahku juga, panjang cerita perempuan itu di luar dugaan.

“Kenapa?” Ia menatapku.

Matanya membundar sempurna, aku terkecoh hingga keliru mencatat uang nota. Sekalipun ini kelewatan dan memang resiko. Pikirku, pemandangan semacam ini begitu lumrah di tempat minum-minum. Tatapannya jelas menyengat jantungku. 

“Anda menginap di mana?”

“Sebelum aku pulang, bisakah kamu memberiku sekaleng bir? Aku butuh minuman di losmen.”

“Tak perlu bayar. Tangkap,” ujarku lalu melempar bir kaleng.

Semoga perempuan itu paham maksudku. Sebab, besok pagi aku mesti  menyeberangi pulau untuk mengisi ulang stok dapur.

“Saya akan mengantar anda sampai losmen, tidurlah. Anda masih ada jadwal snorkeling siang harinya, bukan? Akan sangat lucu anda menyelam dalam kondisi pengar.”

“Biasa itu. Kamu meremehkanku ya, Tuan Bartender!?”

Perempuan itu kian meracau. Kulit putihnya memerah ceri, beda tipis dengan rona sweater yang ia kenakan. Mata kami bertemu dan tak bisa kupahami percikan yang barusan melintas. Di bawah remang cahaya meja konter, bibirnya bergelayut ranum. Anehnya ia belum kepingin muntah, tetapi hampir saja menjatuhkan vas bunga azalea di konter.

Kupapah ia berjalan dan menyuruhnya senyaman mungkin di sadel belakang. Pipinya rebah di punggung, dan kulitku berasa melumer seperti krim coklat. Getaran napas perempuan itu tak ubahnya deruan angin dari benua asing. Kedua lengannya melingkar ketat dan menyebabkan teluk di dalam diriku meriak. Panas di tubuhnya menderas ke palung tubuhku.

Losmen perempuan itu berdekatan dengan dermaga kedatangan. Aku mesti menyisir rute pantai. Pulau ini disebut gili. Ada tiga gili yang berdekatan satu sama lain dan dijadikan nirwana. Surganya para turis dan gadis-gadis macau. Barku ada di gili yang paling ramai. Hanya sepeda kayuh dan skuter listrik yang boleh landas di pulau ini.

Sekian kali sepedaku oleng dan badanku tertekuk sebab kepala perempuan itu mendoyor. Namun, aku selalu dapat menyeimbangkan. Aroma asin dan bebakaran hewan laut merambangi hidungku. Selain mengeja jalan dan memastikan yang di belakang, kulempar juga mataku ke sekitaran; ritel-ritel mini dan bar-bar masih menyala.

Gigil malam bukan jadi pantangan orang-orang untuk keluar kamar. Di luar, bulan telanjang sempurna. Terdengar jelas debur ombak menyerok pasir-pasir dan apa-apa yang terhampar. Semacam kebetulan ganjil, aku membonceng perempuan yang belum kutahu namanya dan yang kuduga dikirim oleh portal masa lalu.

“Di sini!”

 Aku nyaris jatuh. Perempuan itu meloncat dari atas sepeda dan lari ke arah dermaga, terbahak-bahak. Jarak losmennya dekat lagi, tapi ia sudah membuatku jengkel. Suaraku selalu patah di lidah setiap memperingatkan perempuan itu untuk kembali. Luji sepeda belum kukunci. Di pulau ini semua kehilangan sama buruknya. 

“Aku mau di sini,” pintanya.

Gagasan gila apalagi sih maunya?

***

“Tipemu yang seperti itu ya, Pak?”

“Aku belum terlalu tua, ayolah!”

Temanku kesemsem lalu membuka botol baru dan menuangkannya ke gelasku.

“Biar kulanjutkan.”

***

Aku dan perempuan itu berselonjor di tepi dermaga, menatap laut melogam. Kurasakan permukaan batu dermaga dan butir-butir pasir yang melengket di telapak. Perempuan itu tak mengeluarkan sepatah kata. Ia melelapkan mata dan menarik napas dalam-dalam, urat lehernya nampak keunguan. Liontinnya mengkilap tertimpa sinar bulan. Dan, aku selalu tiada mengira siapa diriku dalam situasi hening macam ini. Yang pasti tiada tabir yang bisa kusingkap. Mataku tersihir oleh segala kedalaman.

“Kamu mau?” tawar perempuan itu.

“Silakan,” jawabku.

“Oke.” Ia nampak tenggelam menghisap ujung papir. Jari tengah dan ibu jarinya mengapit lintingan begitu cermat.

“Kenapa anda berterus terang soal ini? Bukannya semua pria tak dapat dipercaya?” Tanyaku.

“Aku mengatakan itu, ya? Aku Lupa. Dan, hei, kamu tidak menyebalkan.” Perempuan itu benar-benar lepas. 

Aku dibuat tidak mengerti. Ia lanjut menghembuskan lagu-lagu sedih, wajahku tertangkap basah dan ia menyuruhku untuk mengikutinya. Tenggorokanku jadi gatal lepas sepotong bait. Percikan itu kembali melintas, disayat lirik-lirik murung dari bibir si perempuan. Ia lanjut menceritakan kali pertama mengenal suaminya. Dugaanku tepat, perempuan itu memang pernah sekampus denganku. Namun, aku tak menyinggung bahwa aku sempat melihatnya dua belas tahun lalu. Kendati dulu ia cuman duduk di depanku, selebihnya tak ada. Kusimpan sepotong kenangan itu jauh di dasar.

Perempuan itu melinting lagi dan kali ini aku tak menolak. Aku seperti melihat tiga liontin.

“Mungkin tidak semua pria. Salah satunya ayahku.”

“Aku percaya,” jawabku.

“Kamu tahu, ayahku seorang supir bus yang ceria. Dia begitu menikmati pekerjaannya. Satu-satunya pria di keluarga kecil kami. Sesekali dia mengajakku. Terkadang ia marah sih semisal di jalan aku tiba-tiba merengek. Aku sudah lupa detailnya mengapa dulu aku sering begitu.”

“Aku bisa membayangkan ayahmu. Cerita yang mengharukan.”

“Hei, kenapa haru? Kan, cuman kangen.”

“Lantas?”

Ia tersenyum lalu memanggul dagunya di lutut. Ombak kian melipat dan pecah di bibir lalu kembali ke lambung laut, tak ubahnya selembar papir yang digulung oleh jemari si perempuan.  

“Kamu suka The Smith?” Tanyanya seraya merapatkan wajah.

“Karena ayahmu seorang supir bus?”

Perempuan itu tertawa, aku kurang tahu apakah itu cukup lucu baginya.

“Sudah bisa bercanda ya, Tuan Bartender?”

 “Kita bukan 20-an lagi,” jawabku.

“Aku masih 20, setidaknya akhir,” timpalnya. Ia kembali diam dan menjatuhkan kelopak matanya menuju lubang yang gelapnya tak mampu kubayangkan.

Nasib baik sepedaku tidak hilang, aku berhasil mengantar si perempuan  sampai di losmennya. Rambutnya tak juga kusut, masih bergelombang.

***

“Sepertinya perkiraanmu salah Pak, ia tak kembali malam ini.”

“Tak apa, kita lihat tahun depan.”

Temanku benar, perempuan itu tak pernah lagi datang bahkan setelah liburan berikutnya. Tahun-tahun berganti dan aku kerap mengawasi setiap pelanggan yang main ke barku. Mungkinkah di antara pelanggan ia menyapa lalu memesan Ricewine. Sementara, temanku itu tak lagi bekerja di barku. Ia menikah dan tinggal di negara suaminya. Semoga hidupnya menyenangkan. Sekarang aku benar-benar sendiri mengelola bar sebab tak bisa membayar orang lain. Karena itu aku sering mengunjungi dermaga malam-malam. Dan, setiap mataku beradu dengan wajah bulan, aku selalu teringat wajah perempuan yang kulihat pada bulan April dua belas tahun silam. Aku seperti melihat tiga liontin. [T]

Yogyakarta, 2024 

Penulis: Rully Andrian Syah
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Komang Sujana | Senja Lindap Begitu Saja

Next Post

Bali, Eksistensi, Kepercayaan Diri, dan Over Confident

Rully Andrian Syah

Rully Andrian Syah

Kelahiran 03 Maret, Nusa Tenggara Barat. Mahasiswa Antropologi Budaya Universitas Gadjah Mada. Menulis cerpen dan esai peristiwa. Media Sosial: @rulyandsyah (Instagram)

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Bali, Eksistensi, Kepercayaan Diri, dan Over Confident

Bali, Eksistensi, Kepercayaan Diri, dan Over Confident

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co