“Boleh aku duduk di sini?”
“Aman, silakan.”
Itu kali pertama mata liontinnya menyulam renda-renda masa remajaku. Tampaknya, gadis itu lebih muda dariku. Setelah pertemuan sekilas di kantin, aku tak pernah lagi melihatnya. Aneh, bahkan hingga aku lulus. Begitulah waktu dan wajah-wajah orang lain bersekutu membuatku lupa.
Tetapi, kemarin, mataku mengatakan bahwa ia adalah gadis yang pernah kulihat sewaktu mahasiswa. Di kantin kampus bulan April dua belas tahun silam. Apa ingatanku silap? Bagaimanapun otak sebelah kananku tak akan mungkin bergetar tanpa sebab. Potongan demi potongan itu kian jelas membentuk sebuah wajah.
“Kau yakin?” tanya teman kerjaku.
“Tidak salah lagi. Tepatnya setelah kamu pulang. Aku sangat mengenal bentuk mukanya, meski ia kelihatan jauh lebih matang. Selain matanya yang masih sama, yang membuatku yakin seratus persen, ya matanya itu.”
***
Perempuan itu berbalut sweater merah dan liontinnya cukup terang menggantung di leher. Kukira aku sedang melihat tiga liontin sebab matanya pun memendar bagai kunang-kunang. Ia langsung mendatangi konter. Kedua lengannya membekap badan hingga membuat dadanya mengencang sesak. Aku sengaja membuka jendela-jendela bar asalkan bias rembulan terperangkap di lantai. Aku memahami berbagai perangai pelanggan yang mengunjungi bar ini. Dan, perempuan itu datang kemari bukan untuk suatu janji.
“Rice wine.”
“Selera anda seperti bule-bule gila di sini, apa saya tidak salah dengar?”
“Enggak,” ketusnya.
“Maaf, saya buatkan dulu.”
Ia mengambil gelas minumnya seperti seorang musafir. Sekali napas. Betapa berat harinya? Ia jelas menyiratkan ketidaksenangannya ketika satu-dua pengunjung laki-laki duduk dan mencoba melelang obrolan. Tak ada yang berhasil. Semua ditolak. Seorang pria gendut tersinggung karena sikap perempuan itu. Lalu seperti biasa aku menyeret keluar pelanggan resek tersebut. Si gendut sempat melawan, tapi kujelaskan bahwa aku tak akan menahan diri. Mereka, pengunjung semacam itu makin berani saja akhir-akhir ini.
“Selalu seperti ini?”
“Tumben. Tetapi jumlah mereka makin bertambah saja.”
“Kiriman ya? Maksudku dari pulau seberang,” ujar si perempuan.
“Itu sudah pasti. Yang jeleknya itu mereka jarang bawa uang”
“Memangnya kamu tahu dari mana mereka itu bule miskin?”
“Mereka amatir, apalagi coba?” jawabku.
“Yayaya, pokoknya terimakasih…”
“Bentar, amatir, maksudnya?”
“Hahaha, lupakan,” jawabku.
“Aku mau segelas lagi.”
Ia menatap bingung ke samping seraya bibirnya bergumam tetapi tak kudengar ia berkata apa.
Ia seperti tipe yang gampang bosan. Dagunya rebah di meja konter dan jemarinya yang tirus itu begitu lentur mengukur gelas minum. Lalu kadang-kadang ia mengigit kukunya hingga sedikit berdarah. Kulihat cahaya matanya, kesayupan itu menyiratkan sesuatu yang sulit. Entah, perasaanku berkata demikian.
“Kamu menikmati pekerjaan ini?” Mata perempuan itu memicing.
“Ya begitulah.”
“Tak punya mimpi lain?”
“Inilah yang saya idamkan, nona.”
“Baiklah Tuan Bartender, kamu kaku sekali.”
Aku sedikit tertawa dan menganggapnya pujian.
“Bagaimana dengan anda?” Tanyaku.
“Tak ada pria yang bisa dipercaya.”
Aku membiarkannya curhat. Sepuas yang ia inginkan. Kuberi ia sapu tangan dan camilan agar membuatnya merasa enakan. Perempuan itu bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan asuransi, ia menikah dengan rekan sekantornya. Bahtera keluarga mereka terjalin selama lima tahun sebelum tragedi memalukan membenamkan hati si perempuan.
Suaminya sejenis pria hidung belang dengan ciri-ciri yang hampir sama dengan semua hidung belang manapun. Ia memergoki suaminya bermain serong. Menurutnya, baik si suami dan simpanannya memanglah sepasang ular. “Dia bukan suamiku, tapi bajingan” ungkap perempuan itu dengan nada kecewa.
Sebetulnya, tidak sekali ia mendapati suaminya berkencan dengan perempuan lain di luar kepentingan kerja. Sampai perempuan itu meyakini jikalau penciumannya tidaklah keliru. Aku juga kurang mengerti alasan perempuan itu menikah muda, apa sebelumnya ia tak meyelami lebih dalam latar belakang si suami. Dalam perkara ini kuakui diriku sedikit naif, rumah tangga tak pernah gampang. Aku mengurungkan niat.
***
“Kau tidak ambil situasi?”
“Sedikit pun tak ada pikiran lain,” jawabku.
“Lalu?” Temanku mendesak amat penasaran.
Aku menenggak sisa kocktail sebelum bercerita lebih lanjut.
***
Malam terasa menggigit, kusilangkan syal tenun di leher. Pelanggan lainnya sudah bubar, saklar-saklar lampu utama telah kumatikan, tetapi perempuan itu belum juga rampung. Ia tak beranjak, meski kulayangkan kode bahwa aku akan segera tutup. Mungkin ia sadar tapi ya sudahlah. Saat kesadarannya meredup di tengah cerita, ia mencubit pelan pipinya dan bergeleng-geleng hingga rambut bergelombangnya tergerai alami. Kupikir ini salahku juga, panjang cerita perempuan itu di luar dugaan.
“Kenapa?” Ia menatapku.
Matanya membundar sempurna, aku terkecoh hingga keliru mencatat uang nota. Sekalipun ini kelewatan dan memang resiko. Pikirku, pemandangan semacam ini begitu lumrah di tempat minum-minum. Tatapannya jelas menyengat jantungku.
“Anda menginap di mana?”
“Sebelum aku pulang, bisakah kamu memberiku sekaleng bir? Aku butuh minuman di losmen.”
“Tak perlu bayar. Tangkap,” ujarku lalu melempar bir kaleng.
Semoga perempuan itu paham maksudku. Sebab, besok pagi aku mesti menyeberangi pulau untuk mengisi ulang stok dapur.
“Saya akan mengantar anda sampai losmen, tidurlah. Anda masih ada jadwal snorkeling siang harinya, bukan? Akan sangat lucu anda menyelam dalam kondisi pengar.”
“Biasa itu. Kamu meremehkanku ya, Tuan Bartender!?”
Perempuan itu kian meracau. Kulit putihnya memerah ceri, beda tipis dengan rona sweater yang ia kenakan. Mata kami bertemu dan tak bisa kupahami percikan yang barusan melintas. Di bawah remang cahaya meja konter, bibirnya bergelayut ranum. Anehnya ia belum kepingin muntah, tetapi hampir saja menjatuhkan vas bunga azalea di konter.
Kupapah ia berjalan dan menyuruhnya senyaman mungkin di sadel belakang. Pipinya rebah di punggung, dan kulitku berasa melumer seperti krim coklat. Getaran napas perempuan itu tak ubahnya deruan angin dari benua asing. Kedua lengannya melingkar ketat dan menyebabkan teluk di dalam diriku meriak. Panas di tubuhnya menderas ke palung tubuhku.
Losmen perempuan itu berdekatan dengan dermaga kedatangan. Aku mesti menyisir rute pantai. Pulau ini disebut gili. Ada tiga gili yang berdekatan satu sama lain dan dijadikan nirwana. Surganya para turis dan gadis-gadis macau. Barku ada di gili yang paling ramai. Hanya sepeda kayuh dan skuter listrik yang boleh landas di pulau ini.
Sekian kali sepedaku oleng dan badanku tertekuk sebab kepala perempuan itu mendoyor. Namun, aku selalu dapat menyeimbangkan. Aroma asin dan bebakaran hewan laut merambangi hidungku. Selain mengeja jalan dan memastikan yang di belakang, kulempar juga mataku ke sekitaran; ritel-ritel mini dan bar-bar masih menyala.
Gigil malam bukan jadi pantangan orang-orang untuk keluar kamar. Di luar, bulan telanjang sempurna. Terdengar jelas debur ombak menyerok pasir-pasir dan apa-apa yang terhampar. Semacam kebetulan ganjil, aku membonceng perempuan yang belum kutahu namanya dan yang kuduga dikirim oleh portal masa lalu.
“Di sini!”
Aku nyaris jatuh. Perempuan itu meloncat dari atas sepeda dan lari ke arah dermaga, terbahak-bahak. Jarak losmennya dekat lagi, tapi ia sudah membuatku jengkel. Suaraku selalu patah di lidah setiap memperingatkan perempuan itu untuk kembali. Luji sepeda belum kukunci. Di pulau ini semua kehilangan sama buruknya.
“Aku mau di sini,” pintanya.
Gagasan gila apalagi sih maunya?
***
“Tipemu yang seperti itu ya, Pak?”
“Aku belum terlalu tua, ayolah!”
Temanku kesemsem lalu membuka botol baru dan menuangkannya ke gelasku.
“Biar kulanjutkan.”
***
Aku dan perempuan itu berselonjor di tepi dermaga, menatap laut melogam. Kurasakan permukaan batu dermaga dan butir-butir pasir yang melengket di telapak. Perempuan itu tak mengeluarkan sepatah kata. Ia melelapkan mata dan menarik napas dalam-dalam, urat lehernya nampak keunguan. Liontinnya mengkilap tertimpa sinar bulan. Dan, aku selalu tiada mengira siapa diriku dalam situasi hening macam ini. Yang pasti tiada tabir yang bisa kusingkap. Mataku tersihir oleh segala kedalaman.
“Kamu mau?” tawar perempuan itu.
“Silakan,” jawabku.
“Oke.” Ia nampak tenggelam menghisap ujung papir. Jari tengah dan ibu jarinya mengapit lintingan begitu cermat.
“Kenapa anda berterus terang soal ini? Bukannya semua pria tak dapat dipercaya?” Tanyaku.
“Aku mengatakan itu, ya? Aku Lupa. Dan, hei, kamu tidak menyebalkan.” Perempuan itu benar-benar lepas.
Aku dibuat tidak mengerti. Ia lanjut menghembuskan lagu-lagu sedih, wajahku tertangkap basah dan ia menyuruhku untuk mengikutinya. Tenggorokanku jadi gatal lepas sepotong bait. Percikan itu kembali melintas, disayat lirik-lirik murung dari bibir si perempuan. Ia lanjut menceritakan kali pertama mengenal suaminya. Dugaanku tepat, perempuan itu memang pernah sekampus denganku. Namun, aku tak menyinggung bahwa aku sempat melihatnya dua belas tahun lalu. Kendati dulu ia cuman duduk di depanku, selebihnya tak ada. Kusimpan sepotong kenangan itu jauh di dasar.
Perempuan itu melinting lagi dan kali ini aku tak menolak. Aku seperti melihat tiga liontin.
“Mungkin tidak semua pria. Salah satunya ayahku.”
“Aku percaya,” jawabku.
“Kamu tahu, ayahku seorang supir bus yang ceria. Dia begitu menikmati pekerjaannya. Satu-satunya pria di keluarga kecil kami. Sesekali dia mengajakku. Terkadang ia marah sih semisal di jalan aku tiba-tiba merengek. Aku sudah lupa detailnya mengapa dulu aku sering begitu.”
“Aku bisa membayangkan ayahmu. Cerita yang mengharukan.”
“Hei, kenapa haru? Kan, cuman kangen.”
“Lantas?”
Ia tersenyum lalu memanggul dagunya di lutut. Ombak kian melipat dan pecah di bibir lalu kembali ke lambung laut, tak ubahnya selembar papir yang digulung oleh jemari si perempuan.
“Kamu suka The Smith?” Tanyanya seraya merapatkan wajah.
“Karena ayahmu seorang supir bus?”
Perempuan itu tertawa, aku kurang tahu apakah itu cukup lucu baginya.
“Sudah bisa bercanda ya, Tuan Bartender?”
“Kita bukan 20-an lagi,” jawabku.
“Aku masih 20, setidaknya akhir,” timpalnya. Ia kembali diam dan menjatuhkan kelopak matanya menuju lubang yang gelapnya tak mampu kubayangkan.
Nasib baik sepedaku tidak hilang, aku berhasil mengantar si perempuan sampai di losmennya. Rambutnya tak juga kusut, masih bergelombang.
***
“Sepertinya perkiraanmu salah Pak, ia tak kembali malam ini.”
“Tak apa, kita lihat tahun depan.”
Temanku benar, perempuan itu tak pernah lagi datang bahkan setelah liburan berikutnya. Tahun-tahun berganti dan aku kerap mengawasi setiap pelanggan yang main ke barku. Mungkinkah di antara pelanggan ia menyapa lalu memesan Ricewine. Sementara, temanku itu tak lagi bekerja di barku. Ia menikah dan tinggal di negara suaminya. Semoga hidupnya menyenangkan. Sekarang aku benar-benar sendiri mengelola bar sebab tak bisa membayar orang lain. Karena itu aku sering mengunjungi dermaga malam-malam. Dan, setiap mataku beradu dengan wajah bulan, aku selalu teringat wajah perempuan yang kulihat pada bulan April dua belas tahun silam. Aku seperti melihat tiga liontin. [T]
Yogyakarta, 2024
Penulis: Rully Andrian Syah
Editor: Adnyana Ole



























