2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mata Liontin | Cerpen Rully Andrian Syah

Rully Andrian Syah by Rully Andrian Syah
October 4, 2025
in Cerpen
Mata Liontin | Cerpen Rully Andrian Syah

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

“Boleh aku duduk di sini?”

“Aman, silakan.”

Itu kali pertama mata liontinnya menyulam renda-renda masa remajaku. Tampaknya, gadis itu lebih muda dariku. Setelah pertemuan sekilas di kantin, aku tak pernah lagi melihatnya. Aneh, bahkan hingga aku lulus. Begitulah waktu dan wajah-wajah orang lain bersekutu membuatku lupa. 

Tetapi, kemarin, mataku mengatakan bahwa ia adalah gadis yang pernah kulihat sewaktu mahasiswa. Di kantin kampus bulan April dua belas tahun silam. Apa ingatanku silap? Bagaimanapun otak sebelah kananku tak akan mungkin bergetar tanpa sebab. Potongan demi potongan itu kian jelas membentuk sebuah wajah.

“Kau yakin?” tanya teman kerjaku.

“Tidak salah lagi. Tepatnya setelah kamu pulang. Aku sangat mengenal bentuk mukanya, meski ia kelihatan jauh lebih matang. Selain matanya yang masih sama, yang membuatku yakin seratus persen, ya matanya itu.”

***

Perempuan itu berbalut sweater merah dan liontinnya cukup terang menggantung di leher. Kukira aku sedang melihat tiga liontin sebab matanya pun memendar bagai kunang-kunang. Ia langsung mendatangi konter. Kedua lengannya membekap badan hingga membuat dadanya mengencang sesak. Aku sengaja membuka jendela-jendela bar asalkan bias rembulan terperangkap di lantai. Aku memahami berbagai perangai pelanggan yang mengunjungi bar ini. Dan, perempuan itu datang kemari bukan untuk suatu janji.

“Rice wine.”

“Selera anda seperti bule-bule gila di sini, apa saya tidak salah dengar?”

“Enggak,” ketusnya.

“Maaf, saya buatkan dulu.”

Ia mengambil gelas minumnya seperti seorang musafir. Sekali napas. Betapa berat harinya? Ia jelas menyiratkan ketidaksenangannya ketika satu-dua pengunjung laki-laki duduk dan mencoba melelang obrolan. Tak ada yang berhasil. Semua ditolak. Seorang pria gendut tersinggung karena sikap perempuan itu. Lalu seperti biasa aku menyeret keluar pelanggan resek tersebut. Si gendut sempat melawan, tapi kujelaskan bahwa aku tak akan menahan diri. Mereka, pengunjung semacam itu makin berani saja akhir-akhir ini.

“Selalu seperti ini?”

“Tumben. Tetapi jumlah mereka makin bertambah saja.”

“Kiriman ya? Maksudku dari pulau seberang,” ujar si perempuan.

“Itu sudah pasti. Yang jeleknya itu mereka jarang bawa uang”

“Memangnya kamu tahu dari mana mereka itu bule miskin?”

“Mereka amatir, apalagi coba?” jawabku.

“Yayaya, pokoknya terimakasih…”

“Bentar, amatir, maksudnya?”

“Hahaha, lupakan,” jawabku.

“Aku mau segelas lagi.”

Ia menatap bingung ke samping seraya bibirnya bergumam tetapi tak kudengar ia berkata apa. 

Ia seperti tipe yang gampang bosan. Dagunya rebah di meja konter dan jemarinya yang tirus itu begitu lentur mengukur gelas minum. Lalu kadang-kadang ia mengigit kukunya hingga sedikit berdarah. Kulihat cahaya matanya, kesayupan itu menyiratkan sesuatu yang sulit. Entah, perasaanku berkata demikian. 

“Kamu menikmati pekerjaan ini?” Mata perempuan itu memicing.

“Ya begitulah.”

“Tak punya mimpi lain?”

“Inilah yang saya idamkan, nona.”

“Baiklah Tuan Bartender, kamu kaku sekali.”

Aku sedikit tertawa dan menganggapnya pujian.

“Bagaimana dengan anda?” Tanyaku.

“Tak ada pria yang bisa dipercaya.”

Aku membiarkannya curhat. Sepuas yang ia inginkan. Kuberi ia sapu tangan dan camilan agar membuatnya merasa enakan. Perempuan itu bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan asuransi, ia menikah dengan rekan sekantornya. Bahtera keluarga mereka terjalin selama lima tahun sebelum tragedi memalukan membenamkan hati si perempuan.

Suaminya sejenis pria hidung belang dengan ciri-ciri yang hampir sama dengan semua hidung belang manapun. Ia memergoki suaminya bermain serong. Menurutnya, baik si suami dan simpanannya memanglah sepasang ular. “Dia bukan suamiku, tapi bajingan” ungkap perempuan itu dengan nada kecewa.

Sebetulnya, tidak sekali ia mendapati suaminya berkencan dengan perempuan lain di luar kepentingan kerja. Sampai perempuan itu meyakini jikalau penciumannya tidaklah keliru. Aku juga kurang mengerti alasan perempuan itu menikah muda, apa sebelumnya ia tak meyelami lebih dalam latar belakang si suami. Dalam perkara ini kuakui diriku sedikit naif, rumah tangga tak pernah gampang. Aku mengurungkan niat.

***

“Kau tidak ambil situasi?”

“Sedikit pun tak ada pikiran lain,” jawabku.

“Lalu?” Temanku mendesak amat penasaran.

Aku menenggak sisa kocktail sebelum bercerita lebih lanjut.

***

Malam terasa menggigit, kusilangkan syal tenun di leher. Pelanggan lainnya sudah bubar, saklar-saklar lampu utama telah kumatikan, tetapi perempuan itu belum juga rampung. Ia tak beranjak, meski kulayangkan kode bahwa aku akan segera tutup. Mungkin ia sadar tapi ya sudahlah. Saat kesadarannya meredup di tengah cerita, ia mencubit pelan pipinya dan bergeleng-geleng hingga rambut bergelombangnya tergerai alami. Kupikir ini salahku juga, panjang cerita perempuan itu di luar dugaan.

“Kenapa?” Ia menatapku.

Matanya membundar sempurna, aku terkecoh hingga keliru mencatat uang nota. Sekalipun ini kelewatan dan memang resiko. Pikirku, pemandangan semacam ini begitu lumrah di tempat minum-minum. Tatapannya jelas menyengat jantungku. 

“Anda menginap di mana?”

“Sebelum aku pulang, bisakah kamu memberiku sekaleng bir? Aku butuh minuman di losmen.”

“Tak perlu bayar. Tangkap,” ujarku lalu melempar bir kaleng.

Semoga perempuan itu paham maksudku. Sebab, besok pagi aku mesti  menyeberangi pulau untuk mengisi ulang stok dapur.

“Saya akan mengantar anda sampai losmen, tidurlah. Anda masih ada jadwal snorkeling siang harinya, bukan? Akan sangat lucu anda menyelam dalam kondisi pengar.”

“Biasa itu. Kamu meremehkanku ya, Tuan Bartender!?”

Perempuan itu kian meracau. Kulit putihnya memerah ceri, beda tipis dengan rona sweater yang ia kenakan. Mata kami bertemu dan tak bisa kupahami percikan yang barusan melintas. Di bawah remang cahaya meja konter, bibirnya bergelayut ranum. Anehnya ia belum kepingin muntah, tetapi hampir saja menjatuhkan vas bunga azalea di konter.

Kupapah ia berjalan dan menyuruhnya senyaman mungkin di sadel belakang. Pipinya rebah di punggung, dan kulitku berasa melumer seperti krim coklat. Getaran napas perempuan itu tak ubahnya deruan angin dari benua asing. Kedua lengannya melingkar ketat dan menyebabkan teluk di dalam diriku meriak. Panas di tubuhnya menderas ke palung tubuhku.

Losmen perempuan itu berdekatan dengan dermaga kedatangan. Aku mesti menyisir rute pantai. Pulau ini disebut gili. Ada tiga gili yang berdekatan satu sama lain dan dijadikan nirwana. Surganya para turis dan gadis-gadis macau. Barku ada di gili yang paling ramai. Hanya sepeda kayuh dan skuter listrik yang boleh landas di pulau ini.

Sekian kali sepedaku oleng dan badanku tertekuk sebab kepala perempuan itu mendoyor. Namun, aku selalu dapat menyeimbangkan. Aroma asin dan bebakaran hewan laut merambangi hidungku. Selain mengeja jalan dan memastikan yang di belakang, kulempar juga mataku ke sekitaran; ritel-ritel mini dan bar-bar masih menyala.

Gigil malam bukan jadi pantangan orang-orang untuk keluar kamar. Di luar, bulan telanjang sempurna. Terdengar jelas debur ombak menyerok pasir-pasir dan apa-apa yang terhampar. Semacam kebetulan ganjil, aku membonceng perempuan yang belum kutahu namanya dan yang kuduga dikirim oleh portal masa lalu.

“Di sini!”

 Aku nyaris jatuh. Perempuan itu meloncat dari atas sepeda dan lari ke arah dermaga, terbahak-bahak. Jarak losmennya dekat lagi, tapi ia sudah membuatku jengkel. Suaraku selalu patah di lidah setiap memperingatkan perempuan itu untuk kembali. Luji sepeda belum kukunci. Di pulau ini semua kehilangan sama buruknya. 

“Aku mau di sini,” pintanya.

Gagasan gila apalagi sih maunya?

***

“Tipemu yang seperti itu ya, Pak?”

“Aku belum terlalu tua, ayolah!”

Temanku kesemsem lalu membuka botol baru dan menuangkannya ke gelasku.

“Biar kulanjutkan.”

***

Aku dan perempuan itu berselonjor di tepi dermaga, menatap laut melogam. Kurasakan permukaan batu dermaga dan butir-butir pasir yang melengket di telapak. Perempuan itu tak mengeluarkan sepatah kata. Ia melelapkan mata dan menarik napas dalam-dalam, urat lehernya nampak keunguan. Liontinnya mengkilap tertimpa sinar bulan. Dan, aku selalu tiada mengira siapa diriku dalam situasi hening macam ini. Yang pasti tiada tabir yang bisa kusingkap. Mataku tersihir oleh segala kedalaman.

“Kamu mau?” tawar perempuan itu.

“Silakan,” jawabku.

“Oke.” Ia nampak tenggelam menghisap ujung papir. Jari tengah dan ibu jarinya mengapit lintingan begitu cermat.

“Kenapa anda berterus terang soal ini? Bukannya semua pria tak dapat dipercaya?” Tanyaku.

“Aku mengatakan itu, ya? Aku Lupa. Dan, hei, kamu tidak menyebalkan.” Perempuan itu benar-benar lepas. 

Aku dibuat tidak mengerti. Ia lanjut menghembuskan lagu-lagu sedih, wajahku tertangkap basah dan ia menyuruhku untuk mengikutinya. Tenggorokanku jadi gatal lepas sepotong bait. Percikan itu kembali melintas, disayat lirik-lirik murung dari bibir si perempuan. Ia lanjut menceritakan kali pertama mengenal suaminya. Dugaanku tepat, perempuan itu memang pernah sekampus denganku. Namun, aku tak menyinggung bahwa aku sempat melihatnya dua belas tahun lalu. Kendati dulu ia cuman duduk di depanku, selebihnya tak ada. Kusimpan sepotong kenangan itu jauh di dasar.

Perempuan itu melinting lagi dan kali ini aku tak menolak. Aku seperti melihat tiga liontin.

“Mungkin tidak semua pria. Salah satunya ayahku.”

“Aku percaya,” jawabku.

“Kamu tahu, ayahku seorang supir bus yang ceria. Dia begitu menikmati pekerjaannya. Satu-satunya pria di keluarga kecil kami. Sesekali dia mengajakku. Terkadang ia marah sih semisal di jalan aku tiba-tiba merengek. Aku sudah lupa detailnya mengapa dulu aku sering begitu.”

“Aku bisa membayangkan ayahmu. Cerita yang mengharukan.”

“Hei, kenapa haru? Kan, cuman kangen.”

“Lantas?”

Ia tersenyum lalu memanggul dagunya di lutut. Ombak kian melipat dan pecah di bibir lalu kembali ke lambung laut, tak ubahnya selembar papir yang digulung oleh jemari si perempuan.  

“Kamu suka The Smith?” Tanyanya seraya merapatkan wajah.

“Karena ayahmu seorang supir bus?”

Perempuan itu tertawa, aku kurang tahu apakah itu cukup lucu baginya.

“Sudah bisa bercanda ya, Tuan Bartender?”

 “Kita bukan 20-an lagi,” jawabku.

“Aku masih 20, setidaknya akhir,” timpalnya. Ia kembali diam dan menjatuhkan kelopak matanya menuju lubang yang gelapnya tak mampu kubayangkan.

Nasib baik sepedaku tidak hilang, aku berhasil mengantar si perempuan  sampai di losmennya. Rambutnya tak juga kusut, masih bergelombang.

***

“Sepertinya perkiraanmu salah Pak, ia tak kembali malam ini.”

“Tak apa, kita lihat tahun depan.”

Temanku benar, perempuan itu tak pernah lagi datang bahkan setelah liburan berikutnya. Tahun-tahun berganti dan aku kerap mengawasi setiap pelanggan yang main ke barku. Mungkinkah di antara pelanggan ia menyapa lalu memesan Ricewine. Sementara, temanku itu tak lagi bekerja di barku. Ia menikah dan tinggal di negara suaminya. Semoga hidupnya menyenangkan. Sekarang aku benar-benar sendiri mengelola bar sebab tak bisa membayar orang lain. Karena itu aku sering mengunjungi dermaga malam-malam. Dan, setiap mataku beradu dengan wajah bulan, aku selalu teringat wajah perempuan yang kulihat pada bulan April dua belas tahun silam. Aku seperti melihat tiga liontin. [T]

Yogyakarta, 2024 

Penulis: Rully Andrian Syah
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Komang Sujana | Senja Lindap Begitu Saja

Next Post

Bali, Eksistensi, Kepercayaan Diri, dan Over Confident

Rully Andrian Syah

Rully Andrian Syah

Kelahiran 03 Maret, Nusa Tenggara Barat. Mahasiswa Antropologi Budaya Universitas Gadjah Mada. Menulis cerpen dan esai peristiwa. Media Sosial: @rulyandsyah (Instagram)

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Bali, Eksistensi, Kepercayaan Diri, dan Over Confident

Bali, Eksistensi, Kepercayaan Diri, dan Over Confident

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co