2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mata Liontin | Cerpen Rully Andrian Syah

Rully Andrian Syah by Rully Andrian Syah
October 4, 2025
in Cerpen
Mata Liontin | Cerpen Rully Andrian Syah

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

“Boleh aku duduk di sini?”

“Aman, silakan.”

Itu kali pertama mata liontinnya menyulam renda-renda masa remajaku. Tampaknya, gadis itu lebih muda dariku. Setelah pertemuan sekilas di kantin, aku tak pernah lagi melihatnya. Aneh, bahkan hingga aku lulus. Begitulah waktu dan wajah-wajah orang lain bersekutu membuatku lupa. 

Tetapi, kemarin, mataku mengatakan bahwa ia adalah gadis yang pernah kulihat sewaktu mahasiswa. Di kantin kampus bulan April dua belas tahun silam. Apa ingatanku silap? Bagaimanapun otak sebelah kananku tak akan mungkin bergetar tanpa sebab. Potongan demi potongan itu kian jelas membentuk sebuah wajah.

“Kau yakin?” tanya teman kerjaku.

“Tidak salah lagi. Tepatnya setelah kamu pulang. Aku sangat mengenal bentuk mukanya, meski ia kelihatan jauh lebih matang. Selain matanya yang masih sama, yang membuatku yakin seratus persen, ya matanya itu.”

***

Perempuan itu berbalut sweater merah dan liontinnya cukup terang menggantung di leher. Kukira aku sedang melihat tiga liontin sebab matanya pun memendar bagai kunang-kunang. Ia langsung mendatangi konter. Kedua lengannya membekap badan hingga membuat dadanya mengencang sesak. Aku sengaja membuka jendela-jendela bar asalkan bias rembulan terperangkap di lantai. Aku memahami berbagai perangai pelanggan yang mengunjungi bar ini. Dan, perempuan itu datang kemari bukan untuk suatu janji.

“Rice wine.”

“Selera anda seperti bule-bule gila di sini, apa saya tidak salah dengar?”

“Enggak,” ketusnya.

“Maaf, saya buatkan dulu.”

Ia mengambil gelas minumnya seperti seorang musafir. Sekali napas. Betapa berat harinya? Ia jelas menyiratkan ketidaksenangannya ketika satu-dua pengunjung laki-laki duduk dan mencoba melelang obrolan. Tak ada yang berhasil. Semua ditolak. Seorang pria gendut tersinggung karena sikap perempuan itu. Lalu seperti biasa aku menyeret keluar pelanggan resek tersebut. Si gendut sempat melawan, tapi kujelaskan bahwa aku tak akan menahan diri. Mereka, pengunjung semacam itu makin berani saja akhir-akhir ini.

“Selalu seperti ini?”

“Tumben. Tetapi jumlah mereka makin bertambah saja.”

“Kiriman ya? Maksudku dari pulau seberang,” ujar si perempuan.

“Itu sudah pasti. Yang jeleknya itu mereka jarang bawa uang”

“Memangnya kamu tahu dari mana mereka itu bule miskin?”

“Mereka amatir, apalagi coba?” jawabku.

“Yayaya, pokoknya terimakasih…”

“Bentar, amatir, maksudnya?”

“Hahaha, lupakan,” jawabku.

“Aku mau segelas lagi.”

Ia menatap bingung ke samping seraya bibirnya bergumam tetapi tak kudengar ia berkata apa. 

Ia seperti tipe yang gampang bosan. Dagunya rebah di meja konter dan jemarinya yang tirus itu begitu lentur mengukur gelas minum. Lalu kadang-kadang ia mengigit kukunya hingga sedikit berdarah. Kulihat cahaya matanya, kesayupan itu menyiratkan sesuatu yang sulit. Entah, perasaanku berkata demikian. 

“Kamu menikmati pekerjaan ini?” Mata perempuan itu memicing.

“Ya begitulah.”

“Tak punya mimpi lain?”

“Inilah yang saya idamkan, nona.”

“Baiklah Tuan Bartender, kamu kaku sekali.”

Aku sedikit tertawa dan menganggapnya pujian.

“Bagaimana dengan anda?” Tanyaku.

“Tak ada pria yang bisa dipercaya.”

Aku membiarkannya curhat. Sepuas yang ia inginkan. Kuberi ia sapu tangan dan camilan agar membuatnya merasa enakan. Perempuan itu bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan asuransi, ia menikah dengan rekan sekantornya. Bahtera keluarga mereka terjalin selama lima tahun sebelum tragedi memalukan membenamkan hati si perempuan.

Suaminya sejenis pria hidung belang dengan ciri-ciri yang hampir sama dengan semua hidung belang manapun. Ia memergoki suaminya bermain serong. Menurutnya, baik si suami dan simpanannya memanglah sepasang ular. “Dia bukan suamiku, tapi bajingan” ungkap perempuan itu dengan nada kecewa.

Sebetulnya, tidak sekali ia mendapati suaminya berkencan dengan perempuan lain di luar kepentingan kerja. Sampai perempuan itu meyakini jikalau penciumannya tidaklah keliru. Aku juga kurang mengerti alasan perempuan itu menikah muda, apa sebelumnya ia tak meyelami lebih dalam latar belakang si suami. Dalam perkara ini kuakui diriku sedikit naif, rumah tangga tak pernah gampang. Aku mengurungkan niat.

***

“Kau tidak ambil situasi?”

“Sedikit pun tak ada pikiran lain,” jawabku.

“Lalu?” Temanku mendesak amat penasaran.

Aku menenggak sisa kocktail sebelum bercerita lebih lanjut.

***

Malam terasa menggigit, kusilangkan syal tenun di leher. Pelanggan lainnya sudah bubar, saklar-saklar lampu utama telah kumatikan, tetapi perempuan itu belum juga rampung. Ia tak beranjak, meski kulayangkan kode bahwa aku akan segera tutup. Mungkin ia sadar tapi ya sudahlah. Saat kesadarannya meredup di tengah cerita, ia mencubit pelan pipinya dan bergeleng-geleng hingga rambut bergelombangnya tergerai alami. Kupikir ini salahku juga, panjang cerita perempuan itu di luar dugaan.

“Kenapa?” Ia menatapku.

Matanya membundar sempurna, aku terkecoh hingga keliru mencatat uang nota. Sekalipun ini kelewatan dan memang resiko. Pikirku, pemandangan semacam ini begitu lumrah di tempat minum-minum. Tatapannya jelas menyengat jantungku. 

“Anda menginap di mana?”

“Sebelum aku pulang, bisakah kamu memberiku sekaleng bir? Aku butuh minuman di losmen.”

“Tak perlu bayar. Tangkap,” ujarku lalu melempar bir kaleng.

Semoga perempuan itu paham maksudku. Sebab, besok pagi aku mesti  menyeberangi pulau untuk mengisi ulang stok dapur.

“Saya akan mengantar anda sampai losmen, tidurlah. Anda masih ada jadwal snorkeling siang harinya, bukan? Akan sangat lucu anda menyelam dalam kondisi pengar.”

“Biasa itu. Kamu meremehkanku ya, Tuan Bartender!?”

Perempuan itu kian meracau. Kulit putihnya memerah ceri, beda tipis dengan rona sweater yang ia kenakan. Mata kami bertemu dan tak bisa kupahami percikan yang barusan melintas. Di bawah remang cahaya meja konter, bibirnya bergelayut ranum. Anehnya ia belum kepingin muntah, tetapi hampir saja menjatuhkan vas bunga azalea di konter.

Kupapah ia berjalan dan menyuruhnya senyaman mungkin di sadel belakang. Pipinya rebah di punggung, dan kulitku berasa melumer seperti krim coklat. Getaran napas perempuan itu tak ubahnya deruan angin dari benua asing. Kedua lengannya melingkar ketat dan menyebabkan teluk di dalam diriku meriak. Panas di tubuhnya menderas ke palung tubuhku.

Losmen perempuan itu berdekatan dengan dermaga kedatangan. Aku mesti menyisir rute pantai. Pulau ini disebut gili. Ada tiga gili yang berdekatan satu sama lain dan dijadikan nirwana. Surganya para turis dan gadis-gadis macau. Barku ada di gili yang paling ramai. Hanya sepeda kayuh dan skuter listrik yang boleh landas di pulau ini.

Sekian kali sepedaku oleng dan badanku tertekuk sebab kepala perempuan itu mendoyor. Namun, aku selalu dapat menyeimbangkan. Aroma asin dan bebakaran hewan laut merambangi hidungku. Selain mengeja jalan dan memastikan yang di belakang, kulempar juga mataku ke sekitaran; ritel-ritel mini dan bar-bar masih menyala.

Gigil malam bukan jadi pantangan orang-orang untuk keluar kamar. Di luar, bulan telanjang sempurna. Terdengar jelas debur ombak menyerok pasir-pasir dan apa-apa yang terhampar. Semacam kebetulan ganjil, aku membonceng perempuan yang belum kutahu namanya dan yang kuduga dikirim oleh portal masa lalu.

“Di sini!”

 Aku nyaris jatuh. Perempuan itu meloncat dari atas sepeda dan lari ke arah dermaga, terbahak-bahak. Jarak losmennya dekat lagi, tapi ia sudah membuatku jengkel. Suaraku selalu patah di lidah setiap memperingatkan perempuan itu untuk kembali. Luji sepeda belum kukunci. Di pulau ini semua kehilangan sama buruknya. 

“Aku mau di sini,” pintanya.

Gagasan gila apalagi sih maunya?

***

“Tipemu yang seperti itu ya, Pak?”

“Aku belum terlalu tua, ayolah!”

Temanku kesemsem lalu membuka botol baru dan menuangkannya ke gelasku.

“Biar kulanjutkan.”

***

Aku dan perempuan itu berselonjor di tepi dermaga, menatap laut melogam. Kurasakan permukaan batu dermaga dan butir-butir pasir yang melengket di telapak. Perempuan itu tak mengeluarkan sepatah kata. Ia melelapkan mata dan menarik napas dalam-dalam, urat lehernya nampak keunguan. Liontinnya mengkilap tertimpa sinar bulan. Dan, aku selalu tiada mengira siapa diriku dalam situasi hening macam ini. Yang pasti tiada tabir yang bisa kusingkap. Mataku tersihir oleh segala kedalaman.

“Kamu mau?” tawar perempuan itu.

“Silakan,” jawabku.

“Oke.” Ia nampak tenggelam menghisap ujung papir. Jari tengah dan ibu jarinya mengapit lintingan begitu cermat.

“Kenapa anda berterus terang soal ini? Bukannya semua pria tak dapat dipercaya?” Tanyaku.

“Aku mengatakan itu, ya? Aku Lupa. Dan, hei, kamu tidak menyebalkan.” Perempuan itu benar-benar lepas. 

Aku dibuat tidak mengerti. Ia lanjut menghembuskan lagu-lagu sedih, wajahku tertangkap basah dan ia menyuruhku untuk mengikutinya. Tenggorokanku jadi gatal lepas sepotong bait. Percikan itu kembali melintas, disayat lirik-lirik murung dari bibir si perempuan. Ia lanjut menceritakan kali pertama mengenal suaminya. Dugaanku tepat, perempuan itu memang pernah sekampus denganku. Namun, aku tak menyinggung bahwa aku sempat melihatnya dua belas tahun lalu. Kendati dulu ia cuman duduk di depanku, selebihnya tak ada. Kusimpan sepotong kenangan itu jauh di dasar.

Perempuan itu melinting lagi dan kali ini aku tak menolak. Aku seperti melihat tiga liontin.

“Mungkin tidak semua pria. Salah satunya ayahku.”

“Aku percaya,” jawabku.

“Kamu tahu, ayahku seorang supir bus yang ceria. Dia begitu menikmati pekerjaannya. Satu-satunya pria di keluarga kecil kami. Sesekali dia mengajakku. Terkadang ia marah sih semisal di jalan aku tiba-tiba merengek. Aku sudah lupa detailnya mengapa dulu aku sering begitu.”

“Aku bisa membayangkan ayahmu. Cerita yang mengharukan.”

“Hei, kenapa haru? Kan, cuman kangen.”

“Lantas?”

Ia tersenyum lalu memanggul dagunya di lutut. Ombak kian melipat dan pecah di bibir lalu kembali ke lambung laut, tak ubahnya selembar papir yang digulung oleh jemari si perempuan.  

“Kamu suka The Smith?” Tanyanya seraya merapatkan wajah.

“Karena ayahmu seorang supir bus?”

Perempuan itu tertawa, aku kurang tahu apakah itu cukup lucu baginya.

“Sudah bisa bercanda ya, Tuan Bartender?”

 “Kita bukan 20-an lagi,” jawabku.

“Aku masih 20, setidaknya akhir,” timpalnya. Ia kembali diam dan menjatuhkan kelopak matanya menuju lubang yang gelapnya tak mampu kubayangkan.

Nasib baik sepedaku tidak hilang, aku berhasil mengantar si perempuan  sampai di losmennya. Rambutnya tak juga kusut, masih bergelombang.

***

“Sepertinya perkiraanmu salah Pak, ia tak kembali malam ini.”

“Tak apa, kita lihat tahun depan.”

Temanku benar, perempuan itu tak pernah lagi datang bahkan setelah liburan berikutnya. Tahun-tahun berganti dan aku kerap mengawasi setiap pelanggan yang main ke barku. Mungkinkah di antara pelanggan ia menyapa lalu memesan Ricewine. Sementara, temanku itu tak lagi bekerja di barku. Ia menikah dan tinggal di negara suaminya. Semoga hidupnya menyenangkan. Sekarang aku benar-benar sendiri mengelola bar sebab tak bisa membayar orang lain. Karena itu aku sering mengunjungi dermaga malam-malam. Dan, setiap mataku beradu dengan wajah bulan, aku selalu teringat wajah perempuan yang kulihat pada bulan April dua belas tahun silam. Aku seperti melihat tiga liontin. [T]

Yogyakarta, 2024 

Penulis: Rully Andrian Syah
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Komang Sujana | Senja Lindap Begitu Saja

Next Post

Bali, Eksistensi, Kepercayaan Diri, dan Over Confident

Rully Andrian Syah

Rully Andrian Syah

Kelahiran 03 Maret, Nusa Tenggara Barat. Mahasiswa Antropologi Budaya Universitas Gadjah Mada. Menulis cerpen dan esai peristiwa. Media Sosial: @rulyandsyah (Instagram)

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Bali, Eksistensi, Kepercayaan Diri, dan Over Confident

Bali, Eksistensi, Kepercayaan Diri, dan Over Confident

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co