6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jendela Tanpa Kaca: Menatap Luka, Menyusuri Cahaya

Emi Suy by Emi Suy
September 29, 2025
in Ulas Buku
Jendela Tanpa Kaca: Menatap Luka, Menyusuri Cahaya

Penulis dan buku puisi Jendela Tanpa Kaca

BEBERAPA hari lalu, saya menerima sebuah kiriman istimewa dari Bang Nestor Rico Tambunan: sebuah buku puisi yang langsung memanggil mata dan rasa sejak pertama disentuh. Sampulnya menampilkan lukisan sebuah gedung dengan jendela-jendela tanpa kaca, latar pegunungan yang hening, dan segerombolan burung yang terbang semuanya tersaji dalam gradasi monokrom, seakan membawa kita masuk ke ruang waktu yang tak pernah selesai diceritakan. Buku setebal 70 halaman ini diterbitkan oleh TB pada Agustus 2025, namun hadir di tangan saya bukan sekadar sebagai bacaan, melainkan sebagai undangan untuk menyimak suara sunyi yang ditorehkan penyair di antara kaca yang absen dan pandangan yang terbuka lebar.

Membaca Jendela Tanpa Kaca karya Bang Nestor Rico Tambunan, saya seperti diajak menatap dunia tanpa perantara langsung ke dalam luka, ingatan, juga harapan yang sering disembunyikan di balik kaca-kaca kehidupan. Puisi-puisinya tidak sedang mencari indah yang rapi, melainkan menyingkap celah: di mana cahaya masuk, sekaligus di mana angin dingin menusuk.

Ada judul-judul yang seperti mengetuk kesadaran, misalnya “Saksi dari Ketinggian”, yang membuat kita merasa kecil di hadapan semesta namun tetap diingatkan tentang tanggung jawab manusia. Lalu “Burung-Burung yang Hilang dari Layar”, seolah menggugat keheningan yang justru lebih bising daripada keramaian. Atau “Langit yang Tak Menutup Mata”, yang menyiratkan bahwa tak ada yang benar-benar tersembunyi dari pengawasan semesta.

Di balik larik-larik itu, saya merasakan denyut yang sangat manusiawi: kesepian, keterasingan, sekaligus kerinduan pada ruang yang lebih lapang. Buku ini, menurut saya, bukan hanya kumpulan puisi, melainkan juga catatan perjalanan jiwa bagaimana seorang penyair memandang jendela bukan sekadar bukaan pada dinding, melainkan metafora bagi hidup yang tak pernah sepenuhnya terlindungi.

Membaca puisi-puisi Nestor Rico Tambunan membuat saya teringat: sering kali kita tak membutuhkan kaca untuk melihat lebih jelas. Justru dari keterbukaan itulah kita belajar menanggung debu, dingin, dan silau cahaya. Dari sanalah kita akhirnya menyadari, hidup memang menuntut keberanian untuk menatap langsung tanpa tabir.

Di antara banyak buku puisi yang lahir di negeri ini, Jendela Tanpa Kaca karya Bang Nestor Rico Tambunan menempati ruang yang berbeda. Ia tidak sibuk membangun metafora megah, tidak pula mengejar kemewahan diksi. Buku ini justru hadir dengan kesederhanaan yang rawan, seakan-akan sebuah jendela dibiarkan terbuka tanpa kaca: siapa pun bisa menengok keluar, siapa pun bisa masuk, debu dan hujan bisa menerpa kapan saja. Dari kerapuhan itulah puisi-puisi ini memperoleh tenaganya.

Membaca buku ini, saya merasa seperti duduk di sebuah rumah tua di pinggir jalan. Dari balik jendela, saya melihat lalu-lalang manusia: pedagang, anak sekolah, buruh yang pulang dengan wajah letih. Semua tampak biasa, namun dalam puisi Bang Nestor, yang biasa itu justru memantulkan sesuatu yang tak terduga: luka, sunyi, sekaligus keteguhan untuk tetap hidup.

Puisi sebagai Luka yang Tak Disembunyikan

Puisi-puisi dalam Jendela Tanpa Kaca tidak bermaksud memoles kenyataan. Ia mengakui keberadaan luka, lalu membiarkannya hadir di hadapan pembaca. Dalam “Bayangan di Dinding Pasar”, misalnya, keramaian pasar yang riuh justru memperlihatkan kelaparan yang tersembunyi. Penyair menulis: “suara tawar-menawar hanya menutupi perut yang tak pernah kenyang.”

Membaca bait itu, saya teringat wajah para ibu yang sering saya lihat di pasar pagi, membawa anak sambil menimbang harga. Ada getir yang sama, ada perut yang sama-sama merintih meski mulut mencoba tersenyum. Puisi ini tidak sedang mengasihani, tetapi memotret. Dan justru dari potret itulah rasa pedih hadir.

Kesepian yang Bersifat Kolektif

Banyak orang mengira kesepian adalah urusan pribadi. Namun lewat puisinya, Bang Nestor menunjukkan bahwa kesepian kita sesungguhnya bertaut dengan orang lain. Dalam “Jam Dinding yang Berhenti”, waktu digambarkan lumpuh, seakan hidup menolak bergerak. Sedangkan di “Kursi Tua di Beranda”, benda sederhana menjadi saksi dari sepi yang tak pernah benar-benar bisa dijelaskan.

Kursi itu bisa jadi kursi siapa saja: kursi di rumah orang tua yang ditinggal anak-anaknya merantau, kursi di beranda rumah kontrakan yang setiap sore hanya dihuni diam. Membaca puisi-puisi ini, saya merasa sepi bukan lagi milik saya seorang, melainkan gema kolektif yang merayapi banyak rumah di negeri ini.

Suara yang Tertinggal

Ada pula puisi-puisi yang menyinggung soal komunikasi yang gagal. “Surat yang Tak Pernah Sampai” menyingkap betapa banyak pesan dalam hidup kita yang berhenti di tengah jalan. Ada rindu yang tersangkut di pos, ada kata-kata yang tercecer di udara. Membaca ini, saya teringat pada pesan-pesan singkat yang kita ketik di ponsel, tetapi tak pernah benar-benar berani kita kirim.

Sedangkan “Suara di Balik Jendela” membawa kita pada pilihan antara membuka diri atau menutup rapat. Jendela di sini menjadi metafora yang kuat: membuka berarti berisiko disakiti, menutup berarti aman namun terasing. Dan kita, entah sadar atau tidak, setiap hari berhadapan dengan pilihan itu.

Ingatan Sosial yang Menyelinap

Buku ini juga berfungsi sebagai catatan kecil tentang Indonesia. Dalam “Gerimis di Jalan Raya”, penyair menulis tentang buruh dan pedagang kaki lima yang tetap bekerja meski hujan turun. Tidak ada romantisasi, hanya kenyataan: tubuh-tubuh yang dipaksa terus bergerak agar dapur tetap menyala.

“Luka di Tepi Trotoar” bahkan lebih getir. Anak-anak jalanan tampil sebagai wajah yang jarang diingat. Mereka bukan angka di laporan statistik, melainkan manusia dengan tubuh rapuh yang menghadap trotoar sebagai rumah. Membaca puisi ini, saya merasa ada tamparan halus: seberapa sering kita berjalan di trotoar sambil pura-pura tidak melihat?

Cahaya yang Tetap Menyelinap

Namun, meski banyak puisi berbicara tentang luka, buku ini tidak menenggelamkan pembacanya dalam keputusasaan. Ada juga cahaya yang menyelinap. Dalam “Langkah Anak Sekolah”, kita menemukan masa depan yang tetap berjalan, betapapun beratnya dunia orang dewasa. Anak-anak itu membawa buku, membawa mimpi, dan di sanalah secercah harapan hidup.

Begitu pula “Pohon yang Terus Bertumbuh”, yang menggambarkan sebuah pohon kecil di trotoar sempit. Akarnya meretakkan batu, batangnya tumbuh meski terjepit. Pohon itu adalah alegori tentang daya hidup manusia: selalu ada kekuatan yang menolak mati, selalu ada yang bertumbuh meski ruang begitu sempit.

Refleksi Personal: Membaca dengan Tubuh Sendiri

Sebagai pembaca, saya tidak bisa hanya menaruh buku ini di rak. Setiap kali menutup halaman, saya merasa seolah ada suara yang menuntut saya bercermin. Apakah saya termasuk yang selama ini menutup jendela rapat-rapat agar tidak mendengar jeritan di luar? Atau saya berani membuka, meski berarti menerima debu, hujan, bahkan rasa takut?

Membaca Jendela Tanpa Kaca sama seperti berdiri di depan cermin besar: kita melihat wajah sendiri, tetapi di baliknya ada wajah orang lain yang ikut menatap. Puisi-puisi ini membuat batas antara “aku” dan “mereka” mengabur. Kesepian mereka adalah kesepian saya. Luka mereka adalah luka saya. Dan harapan mereka, entah bagaimana, ikut membuat saya masih ingin bertahan.

Keberanian Membuka Jendela

Keseluruhan Jendela Tanpa Kaca dapat dipahami sebagai perjalanan dari luka menuju keberanian. Dari “Bayangan di Dinding Pasar” hingga “Pohon yang Terus Bertumbuh”, penyair mengajak kita untuk tidak menutup mata, tidak menyamarkan realitas. Justru dengan membuka jendela lebar-lebar meski tanpa kaca pelindung kita bisa merasakan dunia secara utuh.

Sebagaimana ditulis Bang Nestor Rico Tambunan:

“jendela terbuka, dan aku tak ingin menutupnya lagi, meski angin membawa debu dan dingin yang menusuk.”

Itulah pilihan seorang penyair : memilih rapuh tetapi jujur, memilih terbuka meski berisiko sakit. Dan barangkali, di situlah letak keberanian paling hakiki: tetap membuka jendela, agar kita tidak sekadar hidup, tetapi benar-benar melihat.

Tabik

Salam hormat dan sukses selalu Bang Nestor Rico Tambun menginspirasi semua orang. [T]

Tegal Alur, 29 September 2025

Penulis: Emi Suy
Editor: Adnyana Ole

BACA tulisan-tulisan lain dari penulis EMI SUY

Jose Rizal Manua: Membuka Gerbang Imajinasi Anak dari Emperan TIM ke Panggung Dunia
Tags: antologi puisibuku puisiNestor Rico TambunanSastra Indonesiasastrawan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Anak-anak Main Pukul Main Warna dari Tumbuhan dalam Workshop Ecoprint Festival ke Uma 2025

Next Post

Einstein dan Tagore: Pertemuan Sains dan Spiritualitas

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

by Putu Lina Kamelia
February 28, 2026
0
Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 RUMAH itu mungil...

Read moreDetails

Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

by Wayan Esa Bhaskara
February 20, 2026
0
Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Judul Buku: Lampah Sang Pragina Penulis: Ketut Sugiartha Penerbit: Pustaka Ekspresi Cetakan: Pertama, November 2025 Tebal: 116 halaman ISBN: 978-634-7225-31-3...

Read moreDetails

Catatan Seorang Pembaca atas ‘Epigram 60’ Karya Joko Pinurbo

by Luqi Aditya Wahyu Ramadan
February 11, 2026
0
Catatan Seorang Pembaca atas ‘Epigram 60’ Karya Joko Pinurbo

SUDAH setahun lebih maestro puisi Indonesia, Joko Pinurbo, berpulang ke rumah yang sesungguhnya, meninggalkan jejak yang sunyi namun abadi dalam...

Read moreDetails

“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

by Dede Putra Wiguna
January 31, 2026
0
“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

“Aku belajar bahwa kunci untuk bertahan hidup bukanlah selalu berpikir positif, tetapi mempunyai kemampuan untuk menerima.” Demikian salah satu penggalan...

Read moreDetails

Belajar Menerima Konsekuensi –Catatan Setelah Membaca Buku 23;59

by Radha Dwi Pradnyani
January 29, 2026
0
Belajar Menerima Konsekuensi –Catatan Setelah Membaca Buku 23;59

Judul Buku: 23:59 Penulis Buku: Brian Khrisna Penerbit: Media Kita Tahun Terbit: 2023 Halaman: 232 hlm “Tidak ada yang lebih...

Read moreDetails

Terapi Bagi Dokter yang Normal –Catatan Buku Cerpen ‘Dokter Gila’ karya Putu Arya Nugraha

by Yahya Umar
January 26, 2026
0
Terapi Bagi Dokter yang Normal –Catatan Buku Cerpen ‘Dokter Gila’ karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 DOKTER seperti apa...

Read moreDetails

Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

by I Nengah Juliawan
January 20, 2026
0
Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

Aksamayang atas kedangkalan yang saya miliki. Saya mencoba menantang diri dengan membaca dan memberikan pandangan pada buku kumpulan puisi "Memilih...

Read moreDetails

Mengepak di Tengah Badai 

by Ahmad Fatoni
January 19, 2026
0
Mengepak di Tengah Badai 

Judul : Kepak Sayap Bunda: “Anak Merah Putih Tak Takut Masalah!” Penulis : A. Kusairi, dkk. Editor : Dyah Nkusuma...

Read moreDetails

Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

by Luh Putu Anggreny
January 13, 2026
0
Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

ADA jenis luka yang tidak berdarah, tetapi bergaung lebih lama dari suara jeritan. Ia hidup dalam ingatan, dalam rasa bersalah...

Read moreDetails

Jeda di Secangkir Kopi

by Angga Wijaya
January 2, 2026
0
Jeda di Secangkir Kopi

SIANG di Dalung, Badung, Bali, di penghujung 2025, bergerak pelan. Jalanan tidak benar-benar lengang, tapi cukup memberi ruang bagi pikiran...

Read moreDetails
Next Post
Einstein dan Tagore: Pertemuan Sains dan Spiritualitas

Einstein dan Tagore: Pertemuan Sains dan Spiritualitas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co