6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nasionalisme dalam Pusaran Globalisasi dan Post-Truth

Arief Rahzen by Arief Rahzen
September 26, 2025
in Esai
Nasionalisme dalam Pusaran Globalisasi dan Post-Truth

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

NASIONALISME bukan sekadar upacara di Senin pagi. Bukan pula sekadar bersama-sama menyanyikan Indonesia Raya. Kini, nasiolisme itu berdenyut di riuh rendah dunia digital. Nasionalisme selalu berada dalam perjalanan, petualangan yang tak pernah usai. Di satu sisi, kita mewarisi peradaban lampau, dengan akar yang mencengkeram sejak ratusan tahun lalu. Di sisi lain, kita adalah warga dunia, warga global. Kita pun kerap terombang-ambing dalam arus informasi yang deras.

Nasionalisme Indonesia selalu hidup. Terus bergerak dinamis. Nasionalisme bukanlah dogma kaku, melainkan kesadaran yang dinamis. Dibentuk oleh luka sejarah, diperbarui oleh tantangan zaman. Untuk memahaminya hari ini, kita harus kembali ke akarnya.

Nasionalisme lahir sebagai kehendak untuk bersama. Lahir dari keinginan, bukan paksaan. Para pendiri bangsa meletakkan kesatuan di atas segalanya. Mereka tahu, Indonesia adalah sebuah cita-cita yang harus dirajut dari helai-helai perbedaan. Kebinekaan. Nasionalisme sejati berpusat pada sebuah visi bersama, yang melampaui sekat suku, agama, agama, golongan.

Perjalanannya pun merupakan proses evolusi. Dulu, di masa pergerakan, nasionalisme adalah api perlawanan. Lahir dari rasa senasib di bawah penindasan kolonial. Tujuannya satu: merdeka! Puncaknya adalah Sumpah Pemuda, sebuah ikrar suci untuk menjadi satu.

Setelah merdeka, api itu berubah bentuk. Dari perjuangan fisik menjadi konsolidasi politik. Di masa Orde Baru, ia menjadi ideologi negara. Sebuah alat untuk menjaga stabilitas demi pembangunan. Pancasila, yang seharusnya menjadi bintang penuntun, terkadang menjadi belenggu bagi mereka yang berbeda pandangan.

Kini, di era digital, nasionalisme kembali diuji. Tampak memudar, namun tak mati. Ia hanya mencari bentuk baru. Konflik antarkelompok dan benih disintegrasi yang dihadapi bukanlah hal baru. Ini hanya retakan dari fondasi yang dulu dipaksakan, yang tak sepenuhnya lahir dari kebersamaan dalam perbedaan. Tantangan kita hari ini adalah membangun kembali kesadaran itu dari puing-puing kelalaian sejarah.

Globalisasi pun datang seperti gelombang pasang. Arus besar ini bukan sekadar tren, melainkan kekuatan dahsyat yang mengubah segalanya. Batas negara menjadi kabur. Identitas dipertanyakan. Globalisasi merupakan pedang bermata dua. Satu sisi membuka jendela bagi budaya lokal untuk tampil di panggung dunia. Sisi lainnya membawa arus deras yang mampu mengikis kebanggaan kita sebagai negara-bangsa.

Paparan budaya asing yang tak henti-hentinya berdatangan melahirkan pergeseran nilai. Gaya hidup kebarat-baratan atau demam budaya Korea bukanlah sekadar soal mode atau musik. Di baliknya, ada homogenisasi budaya, penyeragaman global. Lebih dalam lagi, arus budaya itu membawa nilai-nilai baru. Individualisme perlahan menggantikan semangat gotong royong. Ada pergeseran fondasi sosial, bukan sekadar riasan kultural di permukaan.

Di tengah lanskap ini, nasionalisme pun terjerat dalam logika pasar. Anak muda lebih bangga memakai produk asing. Musik dan film dari luar dianggap lebih berkualitas. Lebih keren. Namun, percayalah ada arus balik. Gerakan cinta produk dalam negeri lahir sebagai bentuk bela negara di era konsumerisme. Membeli produk lokal menjadi sebuah pernyataan sikap.

Di antara Generasi Z, lahir pula sebuah nasionalisme yang pragmatis. Kesetiaan pada negara diukur dari seberapa baik negara melayani kebutuhan mereka. Isu lapangan kerja dan kesejahteraan ekonomi menjadi lebih penting daripada slogan-slogan ideologis. Loyalitas menjadi bersyarat. Inilah cermin zaman: nasionalisme harus memberi manfaat nyata, bukan sekadar janji-janji masa lalu.

Di tengah badai globalisasi, musuh baru muncul. Tak kasat mata, namun mematikan. Namanya post-truth, atau pascakebenaran. Sebuah era di mana kebenaran menjadi rapuh. Kebenaran digeser oleh gema perasaan dan keyakinan pribadi. Fakta tak lagi menjadi panglima.

Hoaks ialah anak kandung zaman ini. Berita bohong diciptakan untuk menggiring opini, untuk kepentingan segelintir orang. Media sosial menjadi medan perangnya. Di sana, kebohongan menyebar lebih cepat dari kebenaran. Kebohongan jadi lebih sibuk daripada kebenaran. Konten bernuansa SARA dan politik menjadi senjata paling ampuh untuk memecah belah.

Nasionalisme kita yang terkadang gamang menjadi tanah subur bagi dusta. Sentimen ras dan agama dengan mudah disulut. Polarisasi mengeras. Kepercayaan pada sesama terkikis, keyakinan pada pemerintah goyah. Krisis kebenaran ini merusak demokrasi. Ia merongrong kedaulatan kita dari dalam. Satu-satunya benteng pertahanan adalah literasi: kemampuan untuk berpikir kritis, untuk membedakan fakta dari fiksi.

Reimajinasi Nasionalisme, Merajut Kembali Negara-Bangsa

Di tengah segala tantangan, nasionalisme takkan bersedia menyerah. Ia pasti menemukan jalan baru untuk bernapas. Ia sanggup bertarung dalam badai serangan. Nasionalisme berevolusi melampaui formalitas kaku, merangkul kreativitas zaman. Inilah sebuah re-imajinasi.

Lihatlah generasi muda. Mereka menggunakan TikTok, Instagram, dan YouTube bukan untuk larut dalam budaya asing, melainkan untuk merayakan Indonesia. Mereka menari tarian tradisi dengan sentuhan modern. Mereka memasak kuliner khas dengan penceritaan yang segar. Mereka mengubah warisan leluhur menjadi konten digital yang relevan. Inilah nasionalisme yang tumbuh dari bawah. Partisipatif, otentik, dan jauh dari indoktrinasi.

Seni sedari dulu telah menjadi penjaga api kebangsaan. Puisi Chairil Anwar adalah pekik heroik perlawanan. Sajak Muhammad Yamin mewakili cinta yang mendalam pada tanah air. Dan dalam karya WS Rendra, kita menemukan nasionalisme yang bergelora. Budaya mengajarkan kita bahwa cinta pada negeri tak harus seragam. Mencintai Indonesia dapat dilakoni dengan kesetiaan yang hening, yang menjaga kewarasan di tengah kebisingan.

Jalan ke depan terbentang melalui pendidikan. Sistem pendidikan kita harus mampu menanamkan karakter yang berakar pada kearifan lokal. Mengajarkan gotong royong dan toleransi, sembari membekali generasi muda dengan literasi media yang kuat. Tujuannya untuk melahirkan manusia Indonesia yang cerdas, juga berjiwa kuat. Manusia yang mampu berdiri tegak di tengah pusaran global tanpa kehilangan jati dirinya.

Nasionalisme Indonesia akan terus melakoni perjalanan, tanpa akhir. Ia berproses “menjadi” yang terus-menerus. Sebuah negosiasi abadi antara warisan dan inovasi, antara kebenaran dan keyakinan.

Nasionalisme yang kita butuhkan hari ini yakni nasionalisme yang lentur dan inklusif. Nasionalisme yang berpijak pada nilai, bukan sekadar simbol. Dalam tindakan sederhana: bangga pada produk petani lokal, menjaga kebersihan fasilitas umum, atau sekadar menolak menyebar berita bohong.

Di antara gemuruh badai dan retakan kebenaran itu, kita dapat temui makna rumah bersama kita: Indonesia. [T]

Penulis: Arief Rahzen
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis ARIEF RAHZEN

Dilema Bali: Pesona, Jenuh, Keberlanjutan
Tags: nasionalisme
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nusantara International Folklore Festival 2025, Ruang Bertemunya Tradisi dan Inovasi

Next Post

Pesona Manggarai Barat, Tak Hanya Komodo, Ada Juga Tarian Khas dan Keindahan Air Terjun

Arief Rahzen

Arief Rahzen

Pekerja budaya yang senang berpetualang. Ia juga peminat kajian seni budaya dan perubahan masyarakat di era digital. Sesekali menulis esai, belajar bercerita, dan kurasi aktivitas budaya.. Saat ini bolakbalik di Gianyar, Mataram, dan Jakarta.

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Pesona Manggarai Barat, Tak Hanya Komodo, Ada Juga Tarian Khas dan Keindahan Air Terjun

Pesona Manggarai Barat, Tak Hanya Komodo, Ada Juga Tarian Khas dan Keindahan Air Terjun

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co