3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nasionalisme dalam Pusaran Globalisasi dan Post-Truth

Arief Rahzen by Arief Rahzen
September 26, 2025
in Esai
Nasionalisme dalam Pusaran Globalisasi dan Post-Truth

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

NASIONALISME bukan sekadar upacara di Senin pagi. Bukan pula sekadar bersama-sama menyanyikan Indonesia Raya. Kini, nasiolisme itu berdenyut di riuh rendah dunia digital. Nasionalisme selalu berada dalam perjalanan, petualangan yang tak pernah usai. Di satu sisi, kita mewarisi peradaban lampau, dengan akar yang mencengkeram sejak ratusan tahun lalu. Di sisi lain, kita adalah warga dunia, warga global. Kita pun kerap terombang-ambing dalam arus informasi yang deras.

Nasionalisme Indonesia selalu hidup. Terus bergerak dinamis. Nasionalisme bukanlah dogma kaku, melainkan kesadaran yang dinamis. Dibentuk oleh luka sejarah, diperbarui oleh tantangan zaman. Untuk memahaminya hari ini, kita harus kembali ke akarnya.

Nasionalisme lahir sebagai kehendak untuk bersama. Lahir dari keinginan, bukan paksaan. Para pendiri bangsa meletakkan kesatuan di atas segalanya. Mereka tahu, Indonesia adalah sebuah cita-cita yang harus dirajut dari helai-helai perbedaan. Kebinekaan. Nasionalisme sejati berpusat pada sebuah visi bersama, yang melampaui sekat suku, agama, agama, golongan.

Perjalanannya pun merupakan proses evolusi. Dulu, di masa pergerakan, nasionalisme adalah api perlawanan. Lahir dari rasa senasib di bawah penindasan kolonial. Tujuannya satu: merdeka! Puncaknya adalah Sumpah Pemuda, sebuah ikrar suci untuk menjadi satu.

Setelah merdeka, api itu berubah bentuk. Dari perjuangan fisik menjadi konsolidasi politik. Di masa Orde Baru, ia menjadi ideologi negara. Sebuah alat untuk menjaga stabilitas demi pembangunan. Pancasila, yang seharusnya menjadi bintang penuntun, terkadang menjadi belenggu bagi mereka yang berbeda pandangan.

Kini, di era digital, nasionalisme kembali diuji. Tampak memudar, namun tak mati. Ia hanya mencari bentuk baru. Konflik antarkelompok dan benih disintegrasi yang dihadapi bukanlah hal baru. Ini hanya retakan dari fondasi yang dulu dipaksakan, yang tak sepenuhnya lahir dari kebersamaan dalam perbedaan. Tantangan kita hari ini adalah membangun kembali kesadaran itu dari puing-puing kelalaian sejarah.

Globalisasi pun datang seperti gelombang pasang. Arus besar ini bukan sekadar tren, melainkan kekuatan dahsyat yang mengubah segalanya. Batas negara menjadi kabur. Identitas dipertanyakan. Globalisasi merupakan pedang bermata dua. Satu sisi membuka jendela bagi budaya lokal untuk tampil di panggung dunia. Sisi lainnya membawa arus deras yang mampu mengikis kebanggaan kita sebagai negara-bangsa.

Paparan budaya asing yang tak henti-hentinya berdatangan melahirkan pergeseran nilai. Gaya hidup kebarat-baratan atau demam budaya Korea bukanlah sekadar soal mode atau musik. Di baliknya, ada homogenisasi budaya, penyeragaman global. Lebih dalam lagi, arus budaya itu membawa nilai-nilai baru. Individualisme perlahan menggantikan semangat gotong royong. Ada pergeseran fondasi sosial, bukan sekadar riasan kultural di permukaan.

Di tengah lanskap ini, nasionalisme pun terjerat dalam logika pasar. Anak muda lebih bangga memakai produk asing. Musik dan film dari luar dianggap lebih berkualitas. Lebih keren. Namun, percayalah ada arus balik. Gerakan cinta produk dalam negeri lahir sebagai bentuk bela negara di era konsumerisme. Membeli produk lokal menjadi sebuah pernyataan sikap.

Di antara Generasi Z, lahir pula sebuah nasionalisme yang pragmatis. Kesetiaan pada negara diukur dari seberapa baik negara melayani kebutuhan mereka. Isu lapangan kerja dan kesejahteraan ekonomi menjadi lebih penting daripada slogan-slogan ideologis. Loyalitas menjadi bersyarat. Inilah cermin zaman: nasionalisme harus memberi manfaat nyata, bukan sekadar janji-janji masa lalu.

Di tengah badai globalisasi, musuh baru muncul. Tak kasat mata, namun mematikan. Namanya post-truth, atau pascakebenaran. Sebuah era di mana kebenaran menjadi rapuh. Kebenaran digeser oleh gema perasaan dan keyakinan pribadi. Fakta tak lagi menjadi panglima.

Hoaks ialah anak kandung zaman ini. Berita bohong diciptakan untuk menggiring opini, untuk kepentingan segelintir orang. Media sosial menjadi medan perangnya. Di sana, kebohongan menyebar lebih cepat dari kebenaran. Kebohongan jadi lebih sibuk daripada kebenaran. Konten bernuansa SARA dan politik menjadi senjata paling ampuh untuk memecah belah.

Nasionalisme kita yang terkadang gamang menjadi tanah subur bagi dusta. Sentimen ras dan agama dengan mudah disulut. Polarisasi mengeras. Kepercayaan pada sesama terkikis, keyakinan pada pemerintah goyah. Krisis kebenaran ini merusak demokrasi. Ia merongrong kedaulatan kita dari dalam. Satu-satunya benteng pertahanan adalah literasi: kemampuan untuk berpikir kritis, untuk membedakan fakta dari fiksi.

Reimajinasi Nasionalisme, Merajut Kembali Negara-Bangsa

Di tengah segala tantangan, nasionalisme takkan bersedia menyerah. Ia pasti menemukan jalan baru untuk bernapas. Ia sanggup bertarung dalam badai serangan. Nasionalisme berevolusi melampaui formalitas kaku, merangkul kreativitas zaman. Inilah sebuah re-imajinasi.

Lihatlah generasi muda. Mereka menggunakan TikTok, Instagram, dan YouTube bukan untuk larut dalam budaya asing, melainkan untuk merayakan Indonesia. Mereka menari tarian tradisi dengan sentuhan modern. Mereka memasak kuliner khas dengan penceritaan yang segar. Mereka mengubah warisan leluhur menjadi konten digital yang relevan. Inilah nasionalisme yang tumbuh dari bawah. Partisipatif, otentik, dan jauh dari indoktrinasi.

Seni sedari dulu telah menjadi penjaga api kebangsaan. Puisi Chairil Anwar adalah pekik heroik perlawanan. Sajak Muhammad Yamin mewakili cinta yang mendalam pada tanah air. Dan dalam karya WS Rendra, kita menemukan nasionalisme yang bergelora. Budaya mengajarkan kita bahwa cinta pada negeri tak harus seragam. Mencintai Indonesia dapat dilakoni dengan kesetiaan yang hening, yang menjaga kewarasan di tengah kebisingan.

Jalan ke depan terbentang melalui pendidikan. Sistem pendidikan kita harus mampu menanamkan karakter yang berakar pada kearifan lokal. Mengajarkan gotong royong dan toleransi, sembari membekali generasi muda dengan literasi media yang kuat. Tujuannya untuk melahirkan manusia Indonesia yang cerdas, juga berjiwa kuat. Manusia yang mampu berdiri tegak di tengah pusaran global tanpa kehilangan jati dirinya.

Nasionalisme Indonesia akan terus melakoni perjalanan, tanpa akhir. Ia berproses “menjadi” yang terus-menerus. Sebuah negosiasi abadi antara warisan dan inovasi, antara kebenaran dan keyakinan.

Nasionalisme yang kita butuhkan hari ini yakni nasionalisme yang lentur dan inklusif. Nasionalisme yang berpijak pada nilai, bukan sekadar simbol. Dalam tindakan sederhana: bangga pada produk petani lokal, menjaga kebersihan fasilitas umum, atau sekadar menolak menyebar berita bohong.

Di antara gemuruh badai dan retakan kebenaran itu, kita dapat temui makna rumah bersama kita: Indonesia. [T]

Penulis: Arief Rahzen
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis ARIEF RAHZEN

Dilema Bali: Pesona, Jenuh, Keberlanjutan
Tags: nasionalisme
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nusantara International Folklore Festival 2025, Ruang Bertemunya Tradisi dan Inovasi

Next Post

Pesona Manggarai Barat, Tak Hanya Komodo, Ada Juga Tarian Khas dan Keindahan Air Terjun

Arief Rahzen

Arief Rahzen

Pekerja budaya yang senang berpetualang. Ia juga peminat kajian seni budaya dan perubahan masyarakat di era digital. Sesekali menulis esai, belajar bercerita, dan kurasi aktivitas budaya.. Saat ini bolakbalik di Gianyar, Mataram, dan Jakarta.

Related Posts

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails
Next Post
Pesona Manggarai Barat, Tak Hanya Komodo, Ada Juga Tarian Khas dan Keindahan Air Terjun

Pesona Manggarai Barat, Tak Hanya Komodo, Ada Juga Tarian Khas dan Keindahan Air Terjun

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co