24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nasionalisme dalam Pusaran Globalisasi dan Post-Truth

Arief Rahzen by Arief Rahzen
September 26, 2025
in Esai
Nasionalisme dalam Pusaran Globalisasi dan Post-Truth

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

NASIONALISME bukan sekadar upacara di Senin pagi. Bukan pula sekadar bersama-sama menyanyikan Indonesia Raya. Kini, nasiolisme itu berdenyut di riuh rendah dunia digital. Nasionalisme selalu berada dalam perjalanan, petualangan yang tak pernah usai. Di satu sisi, kita mewarisi peradaban lampau, dengan akar yang mencengkeram sejak ratusan tahun lalu. Di sisi lain, kita adalah warga dunia, warga global. Kita pun kerap terombang-ambing dalam arus informasi yang deras.

Nasionalisme Indonesia selalu hidup. Terus bergerak dinamis. Nasionalisme bukanlah dogma kaku, melainkan kesadaran yang dinamis. Dibentuk oleh luka sejarah, diperbarui oleh tantangan zaman. Untuk memahaminya hari ini, kita harus kembali ke akarnya.

Nasionalisme lahir sebagai kehendak untuk bersama. Lahir dari keinginan, bukan paksaan. Para pendiri bangsa meletakkan kesatuan di atas segalanya. Mereka tahu, Indonesia adalah sebuah cita-cita yang harus dirajut dari helai-helai perbedaan. Kebinekaan. Nasionalisme sejati berpusat pada sebuah visi bersama, yang melampaui sekat suku, agama, agama, golongan.

Perjalanannya pun merupakan proses evolusi. Dulu, di masa pergerakan, nasionalisme adalah api perlawanan. Lahir dari rasa senasib di bawah penindasan kolonial. Tujuannya satu: merdeka! Puncaknya adalah Sumpah Pemuda, sebuah ikrar suci untuk menjadi satu.

Setelah merdeka, api itu berubah bentuk. Dari perjuangan fisik menjadi konsolidasi politik. Di masa Orde Baru, ia menjadi ideologi negara. Sebuah alat untuk menjaga stabilitas demi pembangunan. Pancasila, yang seharusnya menjadi bintang penuntun, terkadang menjadi belenggu bagi mereka yang berbeda pandangan.

Kini, di era digital, nasionalisme kembali diuji. Tampak memudar, namun tak mati. Ia hanya mencari bentuk baru. Konflik antarkelompok dan benih disintegrasi yang dihadapi bukanlah hal baru. Ini hanya retakan dari fondasi yang dulu dipaksakan, yang tak sepenuhnya lahir dari kebersamaan dalam perbedaan. Tantangan kita hari ini adalah membangun kembali kesadaran itu dari puing-puing kelalaian sejarah.

Globalisasi pun datang seperti gelombang pasang. Arus besar ini bukan sekadar tren, melainkan kekuatan dahsyat yang mengubah segalanya. Batas negara menjadi kabur. Identitas dipertanyakan. Globalisasi merupakan pedang bermata dua. Satu sisi membuka jendela bagi budaya lokal untuk tampil di panggung dunia. Sisi lainnya membawa arus deras yang mampu mengikis kebanggaan kita sebagai negara-bangsa.

Paparan budaya asing yang tak henti-hentinya berdatangan melahirkan pergeseran nilai. Gaya hidup kebarat-baratan atau demam budaya Korea bukanlah sekadar soal mode atau musik. Di baliknya, ada homogenisasi budaya, penyeragaman global. Lebih dalam lagi, arus budaya itu membawa nilai-nilai baru. Individualisme perlahan menggantikan semangat gotong royong. Ada pergeseran fondasi sosial, bukan sekadar riasan kultural di permukaan.

Di tengah lanskap ini, nasionalisme pun terjerat dalam logika pasar. Anak muda lebih bangga memakai produk asing. Musik dan film dari luar dianggap lebih berkualitas. Lebih keren. Namun, percayalah ada arus balik. Gerakan cinta produk dalam negeri lahir sebagai bentuk bela negara di era konsumerisme. Membeli produk lokal menjadi sebuah pernyataan sikap.

Di antara Generasi Z, lahir pula sebuah nasionalisme yang pragmatis. Kesetiaan pada negara diukur dari seberapa baik negara melayani kebutuhan mereka. Isu lapangan kerja dan kesejahteraan ekonomi menjadi lebih penting daripada slogan-slogan ideologis. Loyalitas menjadi bersyarat. Inilah cermin zaman: nasionalisme harus memberi manfaat nyata, bukan sekadar janji-janji masa lalu.

Di tengah badai globalisasi, musuh baru muncul. Tak kasat mata, namun mematikan. Namanya post-truth, atau pascakebenaran. Sebuah era di mana kebenaran menjadi rapuh. Kebenaran digeser oleh gema perasaan dan keyakinan pribadi. Fakta tak lagi menjadi panglima.

Hoaks ialah anak kandung zaman ini. Berita bohong diciptakan untuk menggiring opini, untuk kepentingan segelintir orang. Media sosial menjadi medan perangnya. Di sana, kebohongan menyebar lebih cepat dari kebenaran. Kebohongan jadi lebih sibuk daripada kebenaran. Konten bernuansa SARA dan politik menjadi senjata paling ampuh untuk memecah belah.

Nasionalisme kita yang terkadang gamang menjadi tanah subur bagi dusta. Sentimen ras dan agama dengan mudah disulut. Polarisasi mengeras. Kepercayaan pada sesama terkikis, keyakinan pada pemerintah goyah. Krisis kebenaran ini merusak demokrasi. Ia merongrong kedaulatan kita dari dalam. Satu-satunya benteng pertahanan adalah literasi: kemampuan untuk berpikir kritis, untuk membedakan fakta dari fiksi.

Reimajinasi Nasionalisme, Merajut Kembali Negara-Bangsa

Di tengah segala tantangan, nasionalisme takkan bersedia menyerah. Ia pasti menemukan jalan baru untuk bernapas. Ia sanggup bertarung dalam badai serangan. Nasionalisme berevolusi melampaui formalitas kaku, merangkul kreativitas zaman. Inilah sebuah re-imajinasi.

Lihatlah generasi muda. Mereka menggunakan TikTok, Instagram, dan YouTube bukan untuk larut dalam budaya asing, melainkan untuk merayakan Indonesia. Mereka menari tarian tradisi dengan sentuhan modern. Mereka memasak kuliner khas dengan penceritaan yang segar. Mereka mengubah warisan leluhur menjadi konten digital yang relevan. Inilah nasionalisme yang tumbuh dari bawah. Partisipatif, otentik, dan jauh dari indoktrinasi.

Seni sedari dulu telah menjadi penjaga api kebangsaan. Puisi Chairil Anwar adalah pekik heroik perlawanan. Sajak Muhammad Yamin mewakili cinta yang mendalam pada tanah air. Dan dalam karya WS Rendra, kita menemukan nasionalisme yang bergelora. Budaya mengajarkan kita bahwa cinta pada negeri tak harus seragam. Mencintai Indonesia dapat dilakoni dengan kesetiaan yang hening, yang menjaga kewarasan di tengah kebisingan.

Jalan ke depan terbentang melalui pendidikan. Sistem pendidikan kita harus mampu menanamkan karakter yang berakar pada kearifan lokal. Mengajarkan gotong royong dan toleransi, sembari membekali generasi muda dengan literasi media yang kuat. Tujuannya untuk melahirkan manusia Indonesia yang cerdas, juga berjiwa kuat. Manusia yang mampu berdiri tegak di tengah pusaran global tanpa kehilangan jati dirinya.

Nasionalisme Indonesia akan terus melakoni perjalanan, tanpa akhir. Ia berproses “menjadi” yang terus-menerus. Sebuah negosiasi abadi antara warisan dan inovasi, antara kebenaran dan keyakinan.

Nasionalisme yang kita butuhkan hari ini yakni nasionalisme yang lentur dan inklusif. Nasionalisme yang berpijak pada nilai, bukan sekadar simbol. Dalam tindakan sederhana: bangga pada produk petani lokal, menjaga kebersihan fasilitas umum, atau sekadar menolak menyebar berita bohong.

Di antara gemuruh badai dan retakan kebenaran itu, kita dapat temui makna rumah bersama kita: Indonesia. [T]

Penulis: Arief Rahzen
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis ARIEF RAHZEN

Dilema Bali: Pesona, Jenuh, Keberlanjutan
Tags: nasionalisme
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nusantara International Folklore Festival 2025, Ruang Bertemunya Tradisi dan Inovasi

Next Post

Pesona Manggarai Barat, Tak Hanya Komodo, Ada Juga Tarian Khas dan Keindahan Air Terjun

Arief Rahzen

Arief Rahzen

Pekerja budaya yang senang berpetualang. Ia juga peminat kajian seni budaya dan perubahan masyarakat di era digital. Sesekali menulis esai, belajar bercerita, dan kurasi aktivitas budaya.. Saat ini bolakbalik di Gianyar, Mataram, dan Jakarta.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Pesona Manggarai Barat, Tak Hanya Komodo, Ada Juga Tarian Khas dan Keindahan Air Terjun

Pesona Manggarai Barat, Tak Hanya Komodo, Ada Juga Tarian Khas dan Keindahan Air Terjun

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co