13 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nasionalisme dalam Pusaran Globalisasi dan Post-Truth

Arief Rahzen by Arief Rahzen
September 26, 2025
in Esai
Nasionalisme dalam Pusaran Globalisasi dan Post-Truth

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

NASIONALISME bukan sekadar upacara di Senin pagi. Bukan pula sekadar bersama-sama menyanyikan Indonesia Raya. Kini, nasiolisme itu berdenyut di riuh rendah dunia digital. Nasionalisme selalu berada dalam perjalanan, petualangan yang tak pernah usai. Di satu sisi, kita mewarisi peradaban lampau, dengan akar yang mencengkeram sejak ratusan tahun lalu. Di sisi lain, kita adalah warga dunia, warga global. Kita pun kerap terombang-ambing dalam arus informasi yang deras.

Nasionalisme Indonesia selalu hidup. Terus bergerak dinamis. Nasionalisme bukanlah dogma kaku, melainkan kesadaran yang dinamis. Dibentuk oleh luka sejarah, diperbarui oleh tantangan zaman. Untuk memahaminya hari ini, kita harus kembali ke akarnya.

Nasionalisme lahir sebagai kehendak untuk bersama. Lahir dari keinginan, bukan paksaan. Para pendiri bangsa meletakkan kesatuan di atas segalanya. Mereka tahu, Indonesia adalah sebuah cita-cita yang harus dirajut dari helai-helai perbedaan. Kebinekaan. Nasionalisme sejati berpusat pada sebuah visi bersama, yang melampaui sekat suku, agama, agama, golongan.

Perjalanannya pun merupakan proses evolusi. Dulu, di masa pergerakan, nasionalisme adalah api perlawanan. Lahir dari rasa senasib di bawah penindasan kolonial. Tujuannya satu: merdeka! Puncaknya adalah Sumpah Pemuda, sebuah ikrar suci untuk menjadi satu.

Setelah merdeka, api itu berubah bentuk. Dari perjuangan fisik menjadi konsolidasi politik. Di masa Orde Baru, ia menjadi ideologi negara. Sebuah alat untuk menjaga stabilitas demi pembangunan. Pancasila, yang seharusnya menjadi bintang penuntun, terkadang menjadi belenggu bagi mereka yang berbeda pandangan.

Kini, di era digital, nasionalisme kembali diuji. Tampak memudar, namun tak mati. Ia hanya mencari bentuk baru. Konflik antarkelompok dan benih disintegrasi yang dihadapi bukanlah hal baru. Ini hanya retakan dari fondasi yang dulu dipaksakan, yang tak sepenuhnya lahir dari kebersamaan dalam perbedaan. Tantangan kita hari ini adalah membangun kembali kesadaran itu dari puing-puing kelalaian sejarah.

Globalisasi pun datang seperti gelombang pasang. Arus besar ini bukan sekadar tren, melainkan kekuatan dahsyat yang mengubah segalanya. Batas negara menjadi kabur. Identitas dipertanyakan. Globalisasi merupakan pedang bermata dua. Satu sisi membuka jendela bagi budaya lokal untuk tampil di panggung dunia. Sisi lainnya membawa arus deras yang mampu mengikis kebanggaan kita sebagai negara-bangsa.

Paparan budaya asing yang tak henti-hentinya berdatangan melahirkan pergeseran nilai. Gaya hidup kebarat-baratan atau demam budaya Korea bukanlah sekadar soal mode atau musik. Di baliknya, ada homogenisasi budaya, penyeragaman global. Lebih dalam lagi, arus budaya itu membawa nilai-nilai baru. Individualisme perlahan menggantikan semangat gotong royong. Ada pergeseran fondasi sosial, bukan sekadar riasan kultural di permukaan.

Di tengah lanskap ini, nasionalisme pun terjerat dalam logika pasar. Anak muda lebih bangga memakai produk asing. Musik dan film dari luar dianggap lebih berkualitas. Lebih keren. Namun, percayalah ada arus balik. Gerakan cinta produk dalam negeri lahir sebagai bentuk bela negara di era konsumerisme. Membeli produk lokal menjadi sebuah pernyataan sikap.

Di antara Generasi Z, lahir pula sebuah nasionalisme yang pragmatis. Kesetiaan pada negara diukur dari seberapa baik negara melayani kebutuhan mereka. Isu lapangan kerja dan kesejahteraan ekonomi menjadi lebih penting daripada slogan-slogan ideologis. Loyalitas menjadi bersyarat. Inilah cermin zaman: nasionalisme harus memberi manfaat nyata, bukan sekadar janji-janji masa lalu.

Di tengah badai globalisasi, musuh baru muncul. Tak kasat mata, namun mematikan. Namanya post-truth, atau pascakebenaran. Sebuah era di mana kebenaran menjadi rapuh. Kebenaran digeser oleh gema perasaan dan keyakinan pribadi. Fakta tak lagi menjadi panglima.

Hoaks ialah anak kandung zaman ini. Berita bohong diciptakan untuk menggiring opini, untuk kepentingan segelintir orang. Media sosial menjadi medan perangnya. Di sana, kebohongan menyebar lebih cepat dari kebenaran. Kebohongan jadi lebih sibuk daripada kebenaran. Konten bernuansa SARA dan politik menjadi senjata paling ampuh untuk memecah belah.

Nasionalisme kita yang terkadang gamang menjadi tanah subur bagi dusta. Sentimen ras dan agama dengan mudah disulut. Polarisasi mengeras. Kepercayaan pada sesama terkikis, keyakinan pada pemerintah goyah. Krisis kebenaran ini merusak demokrasi. Ia merongrong kedaulatan kita dari dalam. Satu-satunya benteng pertahanan adalah literasi: kemampuan untuk berpikir kritis, untuk membedakan fakta dari fiksi.

Reimajinasi Nasionalisme, Merajut Kembali Negara-Bangsa

Di tengah segala tantangan, nasionalisme takkan bersedia menyerah. Ia pasti menemukan jalan baru untuk bernapas. Ia sanggup bertarung dalam badai serangan. Nasionalisme berevolusi melampaui formalitas kaku, merangkul kreativitas zaman. Inilah sebuah re-imajinasi.

Lihatlah generasi muda. Mereka menggunakan TikTok, Instagram, dan YouTube bukan untuk larut dalam budaya asing, melainkan untuk merayakan Indonesia. Mereka menari tarian tradisi dengan sentuhan modern. Mereka memasak kuliner khas dengan penceritaan yang segar. Mereka mengubah warisan leluhur menjadi konten digital yang relevan. Inilah nasionalisme yang tumbuh dari bawah. Partisipatif, otentik, dan jauh dari indoktrinasi.

Seni sedari dulu telah menjadi penjaga api kebangsaan. Puisi Chairil Anwar adalah pekik heroik perlawanan. Sajak Muhammad Yamin mewakili cinta yang mendalam pada tanah air. Dan dalam karya WS Rendra, kita menemukan nasionalisme yang bergelora. Budaya mengajarkan kita bahwa cinta pada negeri tak harus seragam. Mencintai Indonesia dapat dilakoni dengan kesetiaan yang hening, yang menjaga kewarasan di tengah kebisingan.

Jalan ke depan terbentang melalui pendidikan. Sistem pendidikan kita harus mampu menanamkan karakter yang berakar pada kearifan lokal. Mengajarkan gotong royong dan toleransi, sembari membekali generasi muda dengan literasi media yang kuat. Tujuannya untuk melahirkan manusia Indonesia yang cerdas, juga berjiwa kuat. Manusia yang mampu berdiri tegak di tengah pusaran global tanpa kehilangan jati dirinya.

Nasionalisme Indonesia akan terus melakoni perjalanan, tanpa akhir. Ia berproses “menjadi” yang terus-menerus. Sebuah negosiasi abadi antara warisan dan inovasi, antara kebenaran dan keyakinan.

Nasionalisme yang kita butuhkan hari ini yakni nasionalisme yang lentur dan inklusif. Nasionalisme yang berpijak pada nilai, bukan sekadar simbol. Dalam tindakan sederhana: bangga pada produk petani lokal, menjaga kebersihan fasilitas umum, atau sekadar menolak menyebar berita bohong.

Di antara gemuruh badai dan retakan kebenaran itu, kita dapat temui makna rumah bersama kita: Indonesia. [T]

Penulis: Arief Rahzen
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis ARIEF RAHZEN

Dilema Bali: Pesona, Jenuh, Keberlanjutan
Tags: nasionalisme
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nusantara International Folklore Festival 2025, Ruang Bertemunya Tradisi dan Inovasi

Next Post

Pesona Manggarai Barat, Tak Hanya Komodo, Ada Juga Tarian Khas dan Keindahan Air Terjun

Arief Rahzen

Arief Rahzen

Pekerja budaya yang senang berpetualang. Ia juga peminat kajian seni budaya dan perubahan masyarakat di era digital. Sesekali menulis esai, belajar bercerita, dan kurasi aktivitas budaya.. Saat ini bolakbalik di Gianyar, Mataram, dan Jakarta.

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Pesona Manggarai Barat, Tak Hanya Komodo, Ada Juga Tarian Khas dan Keindahan Air Terjun

Pesona Manggarai Barat, Tak Hanya Komodo, Ada Juga Tarian Khas dan Keindahan Air Terjun

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co