2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nasionalisme dalam Pusaran Globalisasi dan Post-Truth

Arief Rahzen by Arief Rahzen
September 26, 2025
in Esai
Nasionalisme dalam Pusaran Globalisasi dan Post-Truth

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

NASIONALISME bukan sekadar upacara di Senin pagi. Bukan pula sekadar bersama-sama menyanyikan Indonesia Raya. Kini, nasiolisme itu berdenyut di riuh rendah dunia digital. Nasionalisme selalu berada dalam perjalanan, petualangan yang tak pernah usai. Di satu sisi, kita mewarisi peradaban lampau, dengan akar yang mencengkeram sejak ratusan tahun lalu. Di sisi lain, kita adalah warga dunia, warga global. Kita pun kerap terombang-ambing dalam arus informasi yang deras.

Nasionalisme Indonesia selalu hidup. Terus bergerak dinamis. Nasionalisme bukanlah dogma kaku, melainkan kesadaran yang dinamis. Dibentuk oleh luka sejarah, diperbarui oleh tantangan zaman. Untuk memahaminya hari ini, kita harus kembali ke akarnya.

Nasionalisme lahir sebagai kehendak untuk bersama. Lahir dari keinginan, bukan paksaan. Para pendiri bangsa meletakkan kesatuan di atas segalanya. Mereka tahu, Indonesia adalah sebuah cita-cita yang harus dirajut dari helai-helai perbedaan. Kebinekaan. Nasionalisme sejati berpusat pada sebuah visi bersama, yang melampaui sekat suku, agama, agama, golongan.

Perjalanannya pun merupakan proses evolusi. Dulu, di masa pergerakan, nasionalisme adalah api perlawanan. Lahir dari rasa senasib di bawah penindasan kolonial. Tujuannya satu: merdeka! Puncaknya adalah Sumpah Pemuda, sebuah ikrar suci untuk menjadi satu.

Setelah merdeka, api itu berubah bentuk. Dari perjuangan fisik menjadi konsolidasi politik. Di masa Orde Baru, ia menjadi ideologi negara. Sebuah alat untuk menjaga stabilitas demi pembangunan. Pancasila, yang seharusnya menjadi bintang penuntun, terkadang menjadi belenggu bagi mereka yang berbeda pandangan.

Kini, di era digital, nasionalisme kembali diuji. Tampak memudar, namun tak mati. Ia hanya mencari bentuk baru. Konflik antarkelompok dan benih disintegrasi yang dihadapi bukanlah hal baru. Ini hanya retakan dari fondasi yang dulu dipaksakan, yang tak sepenuhnya lahir dari kebersamaan dalam perbedaan. Tantangan kita hari ini adalah membangun kembali kesadaran itu dari puing-puing kelalaian sejarah.

Globalisasi pun datang seperti gelombang pasang. Arus besar ini bukan sekadar tren, melainkan kekuatan dahsyat yang mengubah segalanya. Batas negara menjadi kabur. Identitas dipertanyakan. Globalisasi merupakan pedang bermata dua. Satu sisi membuka jendela bagi budaya lokal untuk tampil di panggung dunia. Sisi lainnya membawa arus deras yang mampu mengikis kebanggaan kita sebagai negara-bangsa.

Paparan budaya asing yang tak henti-hentinya berdatangan melahirkan pergeseran nilai. Gaya hidup kebarat-baratan atau demam budaya Korea bukanlah sekadar soal mode atau musik. Di baliknya, ada homogenisasi budaya, penyeragaman global. Lebih dalam lagi, arus budaya itu membawa nilai-nilai baru. Individualisme perlahan menggantikan semangat gotong royong. Ada pergeseran fondasi sosial, bukan sekadar riasan kultural di permukaan.

Di tengah lanskap ini, nasionalisme pun terjerat dalam logika pasar. Anak muda lebih bangga memakai produk asing. Musik dan film dari luar dianggap lebih berkualitas. Lebih keren. Namun, percayalah ada arus balik. Gerakan cinta produk dalam negeri lahir sebagai bentuk bela negara di era konsumerisme. Membeli produk lokal menjadi sebuah pernyataan sikap.

Di antara Generasi Z, lahir pula sebuah nasionalisme yang pragmatis. Kesetiaan pada negara diukur dari seberapa baik negara melayani kebutuhan mereka. Isu lapangan kerja dan kesejahteraan ekonomi menjadi lebih penting daripada slogan-slogan ideologis. Loyalitas menjadi bersyarat. Inilah cermin zaman: nasionalisme harus memberi manfaat nyata, bukan sekadar janji-janji masa lalu.

Di tengah badai globalisasi, musuh baru muncul. Tak kasat mata, namun mematikan. Namanya post-truth, atau pascakebenaran. Sebuah era di mana kebenaran menjadi rapuh. Kebenaran digeser oleh gema perasaan dan keyakinan pribadi. Fakta tak lagi menjadi panglima.

Hoaks ialah anak kandung zaman ini. Berita bohong diciptakan untuk menggiring opini, untuk kepentingan segelintir orang. Media sosial menjadi medan perangnya. Di sana, kebohongan menyebar lebih cepat dari kebenaran. Kebohongan jadi lebih sibuk daripada kebenaran. Konten bernuansa SARA dan politik menjadi senjata paling ampuh untuk memecah belah.

Nasionalisme kita yang terkadang gamang menjadi tanah subur bagi dusta. Sentimen ras dan agama dengan mudah disulut. Polarisasi mengeras. Kepercayaan pada sesama terkikis, keyakinan pada pemerintah goyah. Krisis kebenaran ini merusak demokrasi. Ia merongrong kedaulatan kita dari dalam. Satu-satunya benteng pertahanan adalah literasi: kemampuan untuk berpikir kritis, untuk membedakan fakta dari fiksi.

Reimajinasi Nasionalisme, Merajut Kembali Negara-Bangsa

Di tengah segala tantangan, nasionalisme takkan bersedia menyerah. Ia pasti menemukan jalan baru untuk bernapas. Ia sanggup bertarung dalam badai serangan. Nasionalisme berevolusi melampaui formalitas kaku, merangkul kreativitas zaman. Inilah sebuah re-imajinasi.

Lihatlah generasi muda. Mereka menggunakan TikTok, Instagram, dan YouTube bukan untuk larut dalam budaya asing, melainkan untuk merayakan Indonesia. Mereka menari tarian tradisi dengan sentuhan modern. Mereka memasak kuliner khas dengan penceritaan yang segar. Mereka mengubah warisan leluhur menjadi konten digital yang relevan. Inilah nasionalisme yang tumbuh dari bawah. Partisipatif, otentik, dan jauh dari indoktrinasi.

Seni sedari dulu telah menjadi penjaga api kebangsaan. Puisi Chairil Anwar adalah pekik heroik perlawanan. Sajak Muhammad Yamin mewakili cinta yang mendalam pada tanah air. Dan dalam karya WS Rendra, kita menemukan nasionalisme yang bergelora. Budaya mengajarkan kita bahwa cinta pada negeri tak harus seragam. Mencintai Indonesia dapat dilakoni dengan kesetiaan yang hening, yang menjaga kewarasan di tengah kebisingan.

Jalan ke depan terbentang melalui pendidikan. Sistem pendidikan kita harus mampu menanamkan karakter yang berakar pada kearifan lokal. Mengajarkan gotong royong dan toleransi, sembari membekali generasi muda dengan literasi media yang kuat. Tujuannya untuk melahirkan manusia Indonesia yang cerdas, juga berjiwa kuat. Manusia yang mampu berdiri tegak di tengah pusaran global tanpa kehilangan jati dirinya.

Nasionalisme Indonesia akan terus melakoni perjalanan, tanpa akhir. Ia berproses “menjadi” yang terus-menerus. Sebuah negosiasi abadi antara warisan dan inovasi, antara kebenaran dan keyakinan.

Nasionalisme yang kita butuhkan hari ini yakni nasionalisme yang lentur dan inklusif. Nasionalisme yang berpijak pada nilai, bukan sekadar simbol. Dalam tindakan sederhana: bangga pada produk petani lokal, menjaga kebersihan fasilitas umum, atau sekadar menolak menyebar berita bohong.

Di antara gemuruh badai dan retakan kebenaran itu, kita dapat temui makna rumah bersama kita: Indonesia. [T]

Penulis: Arief Rahzen
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis ARIEF RAHZEN

Dilema Bali: Pesona, Jenuh, Keberlanjutan
Tags: nasionalisme
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nusantara International Folklore Festival 2025, Ruang Bertemunya Tradisi dan Inovasi

Next Post

Pesona Manggarai Barat, Tak Hanya Komodo, Ada Juga Tarian Khas dan Keindahan Air Terjun

Arief Rahzen

Arief Rahzen

Pekerja budaya yang senang berpetualang. Ia juga peminat kajian seni budaya dan perubahan masyarakat di era digital. Sesekali menulis esai, belajar bercerita, dan kurasi aktivitas budaya.. Saat ini bolakbalik di Gianyar, Mataram, dan Jakarta.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Pesona Manggarai Barat, Tak Hanya Komodo, Ada Juga Tarian Khas dan Keindahan Air Terjun

Pesona Manggarai Barat, Tak Hanya Komodo, Ada Juga Tarian Khas dan Keindahan Air Terjun

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co