24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dilema Bali: Pesona, Jenuh, Keberlanjutan

Arief Rahzen by Arief Rahzen
September 19, 2025
in Esai
Dilema Bali: Pesona, Jenuh, Keberlanjutan

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

BALI dalam memori kolektif kita selalu memesona. Hamparan sawah hijau berundak, ombak yang memecah di pantai, dan aroma dupa yang menari di udara. Setiap sudut menawarkan tarian, ukiran, atau upacara sakral. Seluruh pulau menjadi pemandangan hidup dari seni dan spiritualitas. Keindahan yang otentik.

Sayang, citra indah itu mulai retak perlahan.  Jalan yang dulu tenang, sekarang mulai dipenuhi kendaraan.  Terkadang macet. Di beberapa tempat bisa dengan mudah kita temui sampah plastik. Di balik senyum ramah, terkadang bisa temui kejenuhan.  Ada keletihan jiwa yang tak terucap.  Pariwisata jadi berkah, sekaligus jadi beban. Kita dapat merasakan tingkat kejenuhan dari pariwisata yang semakin kencang diterjang gelombang modernisasi. Barangkali, sudah saatnya merenungkan sejenak ihwal pariwisata dengan wajah berbeda.

Pariwisata Bali bukan hal baru. Pada masa kolonial,  Belanda mempromosikan pesona eksotis Bali. Era itu semakin bersinar pada 1920-an, saat itu seniman dan peneliti mulai berdatangan.  Tentu saja mereka terpesona dengan keunikan Bali: kehidupan, seni dan spiritualitas masyarakat. Wisata mereka terletak pada kekaguman spiritual dan intelektual. Saat itu, mereka dipenuhi rasa ingin tahu ihwal budaya dan spiritual.

Perubahan berlangsung pada 1970-an, Bandara Interasional Ngurah Rai mulai beroperasi. Muncullah para peselancar yang ingin menaklukan ombak, kemudian diikuti para penggemar pesta. Uluwatu, Kuta, Legian dan Seminyak menjadi riuh. Pada 2010, film “Eat Pray Love” muncul, semakin riuh. Film itu turut  mengubah demografi wisatawan, industri pariwisata semakin tak terbendung.

Pada dasarnya, Bali selalu berpegang teguh pada filosofi  Tri Hita Karana.  Sayangnya, mesin ekonomi terlalu kencang berlari. Infrastruktur dan promosi wisata digenjot, targetnya kuantitas wisatawan.  Badan Pusat Statistik (2024) mencatat Bali menerima sekitar 6,33 juta wisatawan asing,  dan ada 10,12 juta wisatawan domestik. Sedangkan periode Januari hingga Mei 2025, wisatawan asing yang berkunjung mencapai 2.644.879. Ada kenaikan 13,65% dari periode yang sama di tahun 2024.

Kenaikan signifikan ini jelas mendongkrak ekonomi, jika diukur dari kuantitas. Namun, disinilah muncul ancaman terhadap fondasi Tri Hita Karana. Hadir fenomena desakralisasi. Tekanan pasar mendorong perubahan budaya dan tradisi menjadi produk komersial. Selain desakralisasi, ada pula erosi nilai-nilai sosial.  Masih sering terdengar tentang tingkah laku turis yang tidak sopan. Perilaku seperti ini memicu ketegangan dan merusak citra Bali. Ada kekhawatiran, tradisi lokal memudar karena gaya hidup wisatawan yang lebih menarik untuk diadopsi.

Desakralisasi dan perilaku buruk adalah konsekuensi logis dari kapitalisme pariwisata.  Ketika uang disembah maka budaya pun berubah menjadi produk. Akses dibuka selebar-lebarnya, tanpa peduli lagi dampaknya. Demi cuan, segala hal bisa jadi produk.

Meskipun pariwisata berkontribusi besar terhadap perekonomian Bali, di lapangan menunjukkan dilema ekonomi. Sektor pariwisata menyumbang 56,78% dari struktur ekonomi Bali. Ketergantungan pada pariwisatwa ini membuat Bali sangat rentan terhadap guncangan eksternal. Gangguan keamanan dan Pandemi COVID-19 berpengaruh besar terhadap penurunan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bali.

Ada pula “kebocoran ekonomi” (leakage). Ada keuntungan dari pariwisata Bali yang berpindah ke luar negeri. Hal ini terjadi karena adanya kepemilikan usaha dan investasi dari asing. Diperparah lagi dengan persaingan tenaga kerja, para pendatang semakin banyak di Bali. Sekali lagi, demi cuan.  Hal ini perlu diperhatian agar warga Bali tak termarginalisasi dalam industri pariwisata.

Pariwisata Bali yang Berkelanjutan

Pemerintah tidak berdiam diri. Pemerintah dan berbagai pihak berupaya mengelola arah pariwisata Bali. Targetnya pariwisata yang berkelanjutan. Regulasi ditata ulang, inisiatif komunitas diberi ruang.

Pemerintah Bali sendiri telah menerbitkan Peraturan Gubernur Nomor 28 Tahun 2020 tentang Tata Kelola Pariwisata Bali. Diterbitkan juga Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2020 tentang Standar Penyelenggaraan Kepariwisataan Budaya Bali. Regulasi tersebut hadir sebagai pendukung perlindungan kebudayaan dan lingkungan. Ada pula peraturan yang membatasi sampah plastik.

Pemerataan wisatawan pun direncanakan. Kemenparekraf pun mendorong distribusi wisatawan ke wilayah timur, barat, dan utara Bali. Ini untuk mengurangi terpusatnya wisatawan di wilayah selatan. Hadirlah promosi wisata 3B (Banyuwangi, Bali Barat, Bali Utara) yang menawarkan daya tarik alam, budaya, hingga desa wisata.

Model Pariwisata Berbasis Komunitas (CBT) juga menjadi solusi yang menarik. Di sini, masyarakat lokal punya peran penting dalam aktivitas pariwisata. Contohnya di Desa Pecatu dan Pantai Kedonganan. Masyarakat diuntungkan secara ekonomi, masyarakat aktif pula dalam pelestarian budaya dan lingkungan.

Bali sedang mempertaruhkan identitas budaya dan spritualitasnya.  Masa depan Bali tergantung pada pilihan dan kerja hari ini. Apakah memilih pariwisata massal demi cuan, ataukah pariwisata bermartabat? Pilihan kedua pastinya menuntut prioritas pembangunan yang berprinsip keberlanjutan: pelestarian budaya, perlindungan lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat lokal. Memang bukan jalan yang mudah untuk ditempuh. Tapi dari sinilah Bali dapat menemui kembali jati dirinya. [T]

Penulis: Arief Rahzen
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliBudayaBudaya BaliPariwisatapariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

MITOLOGI BANJIR BALI

Next Post

Mahasiswa Bahasa Bali di Kampus UPMI: Tahun Lalu Perempuan Semua, Tahun Ini Laki-laki Semua

Arief Rahzen

Arief Rahzen

Pekerja budaya yang senang berpetualang. Ia juga peminat kajian seni budaya dan perubahan masyarakat di era digital. Sesekali menulis esai, belajar bercerita, dan kurasi aktivitas budaya.. Saat ini bolakbalik di Gianyar, Mataram, dan Jakarta.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Mahasiswa Bahasa Bali di Kampus UPMI: Tahun Lalu Perempuan Semua, Tahun Ini Laki-laki Semua

Mahasiswa Bahasa Bali di Kampus UPMI: Tahun Lalu Perempuan Semua, Tahun Ini Laki-laki Semua

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co