2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dilema Bali: Pesona, Jenuh, Keberlanjutan

Arief Rahzen by Arief Rahzen
September 19, 2025
in Esai
Dilema Bali: Pesona, Jenuh, Keberlanjutan

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

BALI dalam memori kolektif kita selalu memesona. Hamparan sawah hijau berundak, ombak yang memecah di pantai, dan aroma dupa yang menari di udara. Setiap sudut menawarkan tarian, ukiran, atau upacara sakral. Seluruh pulau menjadi pemandangan hidup dari seni dan spiritualitas. Keindahan yang otentik.

Sayang, citra indah itu mulai retak perlahan.  Jalan yang dulu tenang, sekarang mulai dipenuhi kendaraan.  Terkadang macet. Di beberapa tempat bisa dengan mudah kita temui sampah plastik. Di balik senyum ramah, terkadang bisa temui kejenuhan.  Ada keletihan jiwa yang tak terucap.  Pariwisata jadi berkah, sekaligus jadi beban. Kita dapat merasakan tingkat kejenuhan dari pariwisata yang semakin kencang diterjang gelombang modernisasi. Barangkali, sudah saatnya merenungkan sejenak ihwal pariwisata dengan wajah berbeda.

Pariwisata Bali bukan hal baru. Pada masa kolonial,  Belanda mempromosikan pesona eksotis Bali. Era itu semakin bersinar pada 1920-an, saat itu seniman dan peneliti mulai berdatangan.  Tentu saja mereka terpesona dengan keunikan Bali: kehidupan, seni dan spiritualitas masyarakat. Wisata mereka terletak pada kekaguman spiritual dan intelektual. Saat itu, mereka dipenuhi rasa ingin tahu ihwal budaya dan spiritual.

Perubahan berlangsung pada 1970-an, Bandara Interasional Ngurah Rai mulai beroperasi. Muncullah para peselancar yang ingin menaklukan ombak, kemudian diikuti para penggemar pesta. Uluwatu, Kuta, Legian dan Seminyak menjadi riuh. Pada 2010, film “Eat Pray Love” muncul, semakin riuh. Film itu turut  mengubah demografi wisatawan, industri pariwisata semakin tak terbendung.

Pada dasarnya, Bali selalu berpegang teguh pada filosofi  Tri Hita Karana.  Sayangnya, mesin ekonomi terlalu kencang berlari. Infrastruktur dan promosi wisata digenjot, targetnya kuantitas wisatawan.  Badan Pusat Statistik (2024) mencatat Bali menerima sekitar 6,33 juta wisatawan asing,  dan ada 10,12 juta wisatawan domestik. Sedangkan periode Januari hingga Mei 2025, wisatawan asing yang berkunjung mencapai 2.644.879. Ada kenaikan 13,65% dari periode yang sama di tahun 2024.

Kenaikan signifikan ini jelas mendongkrak ekonomi, jika diukur dari kuantitas. Namun, disinilah muncul ancaman terhadap fondasi Tri Hita Karana. Hadir fenomena desakralisasi. Tekanan pasar mendorong perubahan budaya dan tradisi menjadi produk komersial. Selain desakralisasi, ada pula erosi nilai-nilai sosial.  Masih sering terdengar tentang tingkah laku turis yang tidak sopan. Perilaku seperti ini memicu ketegangan dan merusak citra Bali. Ada kekhawatiran, tradisi lokal memudar karena gaya hidup wisatawan yang lebih menarik untuk diadopsi.

Desakralisasi dan perilaku buruk adalah konsekuensi logis dari kapitalisme pariwisata.  Ketika uang disembah maka budaya pun berubah menjadi produk. Akses dibuka selebar-lebarnya, tanpa peduli lagi dampaknya. Demi cuan, segala hal bisa jadi produk.

Meskipun pariwisata berkontribusi besar terhadap perekonomian Bali, di lapangan menunjukkan dilema ekonomi. Sektor pariwisata menyumbang 56,78% dari struktur ekonomi Bali. Ketergantungan pada pariwisatwa ini membuat Bali sangat rentan terhadap guncangan eksternal. Gangguan keamanan dan Pandemi COVID-19 berpengaruh besar terhadap penurunan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bali.

Ada pula “kebocoran ekonomi” (leakage). Ada keuntungan dari pariwisata Bali yang berpindah ke luar negeri. Hal ini terjadi karena adanya kepemilikan usaha dan investasi dari asing. Diperparah lagi dengan persaingan tenaga kerja, para pendatang semakin banyak di Bali. Sekali lagi, demi cuan.  Hal ini perlu diperhatian agar warga Bali tak termarginalisasi dalam industri pariwisata.

Pariwisata Bali yang Berkelanjutan

Pemerintah tidak berdiam diri. Pemerintah dan berbagai pihak berupaya mengelola arah pariwisata Bali. Targetnya pariwisata yang berkelanjutan. Regulasi ditata ulang, inisiatif komunitas diberi ruang.

Pemerintah Bali sendiri telah menerbitkan Peraturan Gubernur Nomor 28 Tahun 2020 tentang Tata Kelola Pariwisata Bali. Diterbitkan juga Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2020 tentang Standar Penyelenggaraan Kepariwisataan Budaya Bali. Regulasi tersebut hadir sebagai pendukung perlindungan kebudayaan dan lingkungan. Ada pula peraturan yang membatasi sampah plastik.

Pemerataan wisatawan pun direncanakan. Kemenparekraf pun mendorong distribusi wisatawan ke wilayah timur, barat, dan utara Bali. Ini untuk mengurangi terpusatnya wisatawan di wilayah selatan. Hadirlah promosi wisata 3B (Banyuwangi, Bali Barat, Bali Utara) yang menawarkan daya tarik alam, budaya, hingga desa wisata.

Model Pariwisata Berbasis Komunitas (CBT) juga menjadi solusi yang menarik. Di sini, masyarakat lokal punya peran penting dalam aktivitas pariwisata. Contohnya di Desa Pecatu dan Pantai Kedonganan. Masyarakat diuntungkan secara ekonomi, masyarakat aktif pula dalam pelestarian budaya dan lingkungan.

Bali sedang mempertaruhkan identitas budaya dan spritualitasnya.  Masa depan Bali tergantung pada pilihan dan kerja hari ini. Apakah memilih pariwisata massal demi cuan, ataukah pariwisata bermartabat? Pilihan kedua pastinya menuntut prioritas pembangunan yang berprinsip keberlanjutan: pelestarian budaya, perlindungan lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat lokal. Memang bukan jalan yang mudah untuk ditempuh. Tapi dari sinilah Bali dapat menemui kembali jati dirinya. [T]

Penulis: Arief Rahzen
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliBudayaBudaya BaliPariwisatapariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

MITOLOGI BANJIR BALI

Next Post

Mahasiswa Bahasa Bali di Kampus UPMI: Tahun Lalu Perempuan Semua, Tahun Ini Laki-laki Semua

Arief Rahzen

Arief Rahzen

Pekerja budaya yang senang berpetualang. Ia juga peminat kajian seni budaya dan perubahan masyarakat di era digital. Sesekali menulis esai, belajar bercerita, dan kurasi aktivitas budaya.. Saat ini bolakbalik di Gianyar, Mataram, dan Jakarta.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Mahasiswa Bahasa Bali di Kampus UPMI: Tahun Lalu Perempuan Semua, Tahun Ini Laki-laki Semua

Mahasiswa Bahasa Bali di Kampus UPMI: Tahun Lalu Perempuan Semua, Tahun Ini Laki-laki Semua

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co