6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Suintrah (2024): Keheningan yang Mengguncang | Catatan Film Pemenang FFI 2024 Kategori Film  Cerita Pendek

Dian Suryantini by Dian Suryantini
September 15, 2025
in Ulas Film
Suintrah (2024): Keheningan yang Mengguncang | Catatan Film Pemenang FFI 2024 Kategori Film  Cerita Pendek

Film Suintrah (2024) saat diputar dalam program Market Screening : FFI serangkaian MFW11 | Foto: Dian

FESTIVAL Film Indonesia (FFI) 2024 mencatat satu nama yang patut diingat, Suintrah. Film cerita pendek karya sutradara muda Ayesha Alma Almera ini menyabet penghargaan Film Pendek Terbaik tahun 2024. Film ini yang tidak hanya mengukuhkan kepekaan artistik sang sutradara, tetapi juga memperlihatkan keberanian dalam mengeksplorasi narasi, visual, dan audio secara serentak.

Di tengah gempuran film-film pendek lain yang mencoba tampil dengan gaya realis atau eksperimen visual semata, Suintrah tampil sebagai anomali. Suintrah memiliki premis sederhana—seorang ayah dan anak laki-laki satu-satunya menyewa rumah di sebuah desa dengan aturan ketat. Di desa itu, tidak seorang pun boleh berbicara keras. Namun dari premis itu, Almera berhasil meramu sebuah dunia (universe) yang terasa utuh, believable, dan menyimpan lore (tutur) yang kuat. Film ini discreening di Ruang Audio Visual, Dharma Negara Alaya dalam program Market Screening : FFI, Senin, 15 September 2025.

Keberhasilan Suintrah terletak pada kemampuannya menjadikan satu aturan sederhana—larangan berbicara keras—sebagai fondasi dunia yang misterius. Desa tempat Jor (sang ayah) dan Nayak (sang anak) tinggal digambarkan bak kedamaian. Alamnya rindang, pemandangan gemah ripah, suara angin dan burung yang menenangkan. Namun, justru dalam keindahan itu terkandung ancaman yang tak kasatmata.

Setiap kali ada suara yang meninggi, penonton merasakan getaran ancaman. Serasa itu terlibat dalam mendengar, mengintai, dan siap menghukum. Sosok atau kekuatan itu tidak pernah ditunjukkan secara gamblang, tetapi bayangan kehadirannya mengisi seluruh ruang film. Inilah kekuatan world-building Almera—tidak perlu menjelaskan panjang lebar, cukup dengan satu aturan desa, imaji penonton bekerja sendiri.

Dengan cerdas, film ini mengingatkan pada tradisi horor yang membangun teror dari atmosfer, bukan jumpscare murahan. Semacam resonansi dengan A Quiet Place (2018), tetapi dengan kekhasan lokal dan nuansa desa tropis yang hangat sekaligus mencekam.

Jika ada satu aspek paling menonjol dalam Suintrah, maka jawabannya adalah eksperimen audio. Film ini tidak semata-mata bercerita dengan gambar, tetapi dengan keheningan yang dipaksa.

Film Suintrah (2024) saat diputar dalam program Market Screening : FFI serangkaian MFW11 | Foto: Dian

Dialog yang minim dan penuh bisikan justru membuat penonton terperangkap dalam pengalaman mendengar. Suara desir angin, langkah kaki di tanah kering, atau sekadar helaan napas menjadi titik dramatik. Setiap bunyi terdengar signifikan, seakan mengandung risiko.

Di sinilah Almera membangun lapisan kontras audio. Suara manusia yang berbisik, ditimpa efek suara horor yang samar, seolah-olah ada entitas asing yang menyelinap di setiap kata. Ketegangan bukan datang dari apa yang terlihat, tetapi dari apa yang terdengar. Penonton dipaksa siaga, ikut waspada, seperti Jor dan Nayak.

Kekuatan ini menunjukkan pemahaman mendalam tentang potensi medium film. Almera tidak jatuh pada gimmick suara, tetapi memanfaatkan audio sebagai tulang punggung narasi.

Film Suintrah (2024) saat diputar dalam program Market Screening : FFI serangkaian MFW11 | Foto: Dian

Dari sisi visual, Suintrah menampilkan kontras yang memikat. Sinematografi menghadirkan desa yang tampak damai. Namun, kamera Almera tidak membiarkan penonton menikmati kedamaian itu dengan nyaman. Ada framing yang menekan, komposisi ruang yang terasa mengurung, dan gerakan kamera yang kadang lambat, kadang terhenti tiba-tiba, menciptakan sensasi diawasi.

Desa itu adalah paradoks. Tanah yang tenteram tetapi menyimpan kekerasan aturan. Keindahan visual justru menjadi perangkap psikologis. Penonton diingatkan bahwa kemakmuran tidak selalu identik dengan keramahan. Sebuah aturan sosial bisa meniadakan rasa aman, meski lingkungan tampak ideal.

Dua tokoh utama, Jor dan Nayak, hadir tanpa banyak latar belakang. Almera menolak untuk memberi penjelasan gamblang—dan justru di situlah letak kekuatan narasi. Ayah (Jor) digambarkan sebagai figur yang waspada, berusaha menyesuaikan diri dengan aturan baru yang asing dan menekan. Tetapi Nayak justru berbalik. Rasa acuh dan ketidakpercayaan yang digambarkan oleh anak kecil menjadi titik konflik dalam film ini.

Hubungan mereka tidak sekadar hubungan biologis, tetapi juga simbolik. Ayah sebagai benteng perlindungan yang retak, anak sebagai generasi yang harus menanggung resiko dalam keheningan. Penonton perlahan menangkap bahwa desa dengan aturan sunyi ini bukan sekadar tempat fisik, melainkan cermin dari represi sosial yang diwariskan dari satu generasi ke generasi lain.

Mengapa Suintrah terasa relevan? Karena film ini bicara tentang represi suara, larangan untuk berbicara keras, yang bisa dibaca sebagai metafora pembungkaman ekspresi di masyarakat. Aturan desa bukan hanya hukum fiksi, melainkan refleksi sebuah suara individu yang sering diredam oleh norma, kuasa, atau tradisi.

Film ini tidak menyajikan jawaban, tetapi menantang penonton untuk bertanya. Apa yang terjadi jika masyarakat dibangun di atas larangan berbicara dengan keras? Bagaimana identitas, trauma, dan rasa takut diturunkan? Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Suintrah tidak berhenti sebagai tontonan, tetapi juga sebagai wacana sosial.

Meski begitu, film ini juga menyisakan ruang kritik. Sebagai penonton saya merasa narasi terlalu tertutup, minim informasi, sehingga sulit diakses. Ending yang ambigu—tidak menjelaskan asal-usul ancaman—akan menimbulkan frustrasi bagi sebagian orang. Namun, justru di titik inilah letak keberanian Almera. Ia memilih untuk tidak memanjakan penonton dengan jawaban instan.

Film Suintrah (2024) saat diputar dalam program Market Screening : FFI serangkaian MFW11 | Foto: Dian

Tidak berlebihan jika banyak kritikus menyebut Suintrah sebagai film pendek dengan potensi besar untuk dikembangkan menjadi film panjang. Lore (tutur) yang sudah terbentuk—aturan desa, atmosfer, karakter ayah-anak—cukup kuat untuk ditarik lebih jauh.

Versi panjang bisa menggali lebih dalam asal-usul aturan, konflik masyarakat desa, atau transformasi psikologis Jor dan Nayak. Jika dieksekusi tepat, Suintrah berpeluang menjadi horor psikologis lokal yang mendunia.

Kemenangan Suintrah di FFI 2024 bukan sekadar kemenangan teknis, tetapi kemenangan ide. Film ini membuktikan bahwa kekuatan sinema tidak selalu datang dari cerita besar, tetapi dari premis kecil yang dieksplorasi dengan totalitas.

Ayesha Alma Almera telah menunjukkan bahwa keheningan bisa lebih mengguncang daripada teriakan. Suintrah mengajarkan penonton bahwa di balik sunyi, ada suara-suara yang ingin keluar, tetapi ditahan oleh ketakutan. Dan mungkin, di situlah horor yang sesungguhnya. [T]

Penulis: Dian Suryantini
Editor: Adnyana Ole

Tags: festival filmFestival Film Indonesiafilmfilm pendekMinikinoMinikino Film WeekMinikino Film Week 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Warung Badak, Sajikan Kuliner Tradisional di Tengah Kota Denpasar

Next Post

Bernostalgia ke Pantai Balangan: Dulu Terpencil Kini Terkenal

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails

Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

by Jaswanto
December 18, 2025
0
Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

ADA sebuah komentar dari netizen―yang saya lupa entah di mana―tentang drama Korea (drakor) berjudul “Taxi Driver”. Komentar itu begini, “Seandainya...

Read moreDetails

Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

by Vivit Arista Dewi
December 2, 2025
0
Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

Film Agak Laen kembali hadir dengan langkah yang jauh lebih berani dari sebelumnya. Setelah sukses mengacak-acak rumah hantu, kini mereka...

Read moreDetails

Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

by Bayu Wira Handyan
November 13, 2025
0
Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

SEDIKIT film di Indonesia yang berani menampilkan kemiskinan sebagaimana adanya—banal, kasar, tanpa romantisasi. Sebagian besar memilih jalan aman, menjadikan kemiskinan...

Read moreDetails

The Long Walk (2025): Ritus Kekejaman di Jalan Panjang Tak Berujung

by Bayu Wira Handyan
November 7, 2025
0
The Long Walk (2025): Ritus Kekejaman di Jalan Panjang Tak Berujung

ADA sesuatu yang menakutkan tentang jalanan yang lurus. Ia tidak menjanjikan sebuah tujuan, tetapi yang ia berikan adalah cakrawala yang...

Read moreDetails
Next Post
Bernostalgia ke Pantai Balangan: Dulu Terpencil Kini Terkenal

Bernostalgia ke Pantai Balangan: Dulu Terpencil Kini Terkenal

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co