24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Elite Diburu Massa: Psikologi Penjarahan Simbolik di Tengah Krisis Kepercayaan

Isran Kamal by Isran Kamal
September 6, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

KASUS penjarahan rumah beberapa pejabat publik, mulai dari anggota DPR hingga menteri, belakangan menyedot perhatian publik. Di tengah gelombang protes sosial yang kian intens, peristiwa ini menandai sebuah eskalasi baru, yakni kemarahan massa tidak lagi berhenti di jalanan, melainkan menembus batas privat para penguasa. Simbolisme yang lahir darinya tidak kecil. Rumah yang biasanya dipandang sebagai ruang aman dan intim, berubah menjadi sasaran pelampiasan kolektif.

Fenomena ini tentu tidak bisa dibaca hanya sebagai tindak kriminal atau ledakan spontan semata. Di baliknya terdapat dinamika psikologis yang kompleks, mulai dari psikologi massa yang menjelaskan mengapa individu kehilangan kontrol dalam kerumunan, hingga psikologi politik yang menyoroti pudarnya legitimasi institusi. Pada saat yang sama, psikologi kolektif memberi kita lensa untuk memahami bagaimana trauma, rasa ketidakadilan, dan identitas bersama membentuk perilaku yang begitu radikal.

Karena itu, alih-alih melihatnya sebatas kriminalitas, artikel ini mencoba menelisik lapisan psikologis yang mendorong lahirnya tindakan ekstrem tersebut. Dengan mengurai teori psikologi massa, psikologi politik, dan psikologi kolektif, kita bisa memahami mengapa rumah-rumah pejabat akhirnya menjadi simbol sekaligus medan perlawanan. Dari sana, kita bisa melihat bukan hanya soal tindakannya, tetapi juga kondisi psikologis masyarakat yang melatarbelakanginya.

Amarah Kolektif: Dari Ledakan Emosi hingga Legitimasi Kekerasan

Amarah rakyat jarang muncul tiba-tiba. Amarah itu tumbuh perlahan seperti bibit yang ditanam dan dipupuk oleh rasa kecewa dari janji-janji yang tak kunjung ditepati, dari luka kecil yang lama-lama membesar jadi borok. Lalu datanglah satu peristiwa pemicu, sebuah kebijakan yang dirasa melukai, sebuah simbol kemewahan yang dipertontonkan di tengah penderitaan.

Dalam sekejap, emosi yang tadinya berserakan pun menemukan wadahnya. Rumah seorang pejabat yang dijarah bukan sekadar bangunan fisik, rumah tersebut berubah menjadi layar tempat rakyat memproyeksikan seluruh frustrasi mereka.

Inilah momen ketika psikologi massa dapat menjelaskan fenomena ini. Seorang individu yang sendirian mungkin tak berani melempar batu, tapi dalam kerumunan, keberanian itu berlipat ganda. Emile Durkheim pernah menyebut “effervescence collective,” sebuah ekstasi emosional yang lahir dari kebersamaan. Satu teriakan bisa menular ke yang lain, satu tindakan destruktif bisa memicu keberanian seribu orang.

Anonimitas dalam kerumunan membuat batas moral pribadi menjadi kabur.  Rasa malu, rasa takut, bahkan rasa bersalah larut dalam suara ribuan. Apa yang biasanya dianggap tabu, kini terasa wajar, bahkan benar.

Namun kemarahan kolektif ini tidak berdiri di ruang hampa. Kemarahan ini segera bersentuhan dengan ranah politik. Di sinilah psikologi politik berbicara. Rumah pejabat bukan sekadar target acak, melainkan simbol otoritas yang gagal. Ted Robert Gurr (1970) menyebutnya sebagai relative deprivation, jurang antara harapan dan kenyataan yang makin melebar. James C. Davies (1962) bahkan menggambarkannya dengan kurva-J, ketika rakyat sudah merasakan sedikit peningkatan hidup lalu harapan itu tiba-tiba dipatahkan, maka kemarahan yang lahir jauh lebih meledak-ledak.

Contoh nyatanya bisa kita lihat di berbagai belahan dunia. Krisis ekonomi yang tiba-tiba menghantam negara berkembang sering kali melahirkan protes keras, bukan hanya karena kesulitan hidup, melainkan karena rakyat merasa “dikhianati” setelah dijanjikan kesejahteraan. Dalam logika itu, rumah pejabat yang megah dipandang bukan lagi sekadar tempat tinggal pribadi, tapi simbol kesenjangan antara janji politik dan kenyataan rakyat. Hannah Arendt (1970) mengingatkan bahwa kekerasan politik kerap diarahkan pada simbol kekuasaan, bukan individu per se. Maka ketika pintu rumah didobrak, yang benar-benar diruntuhkan bukanlah kayu jati atau beton, melainkan kredibilitas sebuah otoritas.

Emosi politik mempercepat proses ini. Penelitian Marcus, Neuman, dan MacKuen (2000) lewat Affective Intelligence Theory menunjukkan bahwa kemarahan mampu mendorong individu mengambil risiko besar. Inilah mengapa aksi protes yang awalnya damai bisa berbalik arah. Sekali kemarahan kolektif tersulut, hal itu menjadi bahan bakar ledakan. Teriakan “cukup sudah!” bergema, dan kerumunan berubah jadi badai.

Tetapi yang membuat badai itu semakin berbahaya adalah mekanisme sosial-kolektif yang memberi legitimasi. Ketika orang bergabung dalam kerumunan, identitas pribadi larut ke dalam identitas kelompok. Henri Tajfel dan John Turner (1979) menjelaskan bahwa individu mulai mendefinisikan diri sebagai bagian dari “kami,” bukan lagi “saya.” Elite politik otomatis diposisikan sebagai “mereka”, musuh bersama yang layak dilawan. Dalam bingkai ini, penjarahan bukan lagi tindakan kriminal, melainkan aksi moral atas nama rakyat.

Philip Zimbardo (1969) menyebutnya sebagai deindividuation. Anonimitas membuat rasa tanggung jawab personal melemah, sehingga orang berani melakukan hal-hal yang biasanya tak terbayangkan. Bandura (1999) menambahkan dimensi moral disengagement, rasionalisasi yang membuat tindakan keras dianggap wajar. “Mereka mencuri lebih dulu dari kami,” begitu kira-kira logikanya. Dengan justifikasi seperti ini, bukan hanya rasa bersalah yang hilang, melainkan muncul kepuasan emosional bahwa seakan-akan setiap lembar kaca yang pecah adalah potongan keadilan yang dipulihkan.

Penelitian lebih baru oleh van Zomeren, Postmes, dan Spears (2008) mengkonfirmasi bahwa protes kolektif dipicu oleh kombinasi tiga hal, kemarahan, identitas kelompok, dan keyakinan akan efektivitas aksi. Jika ketiganya hadir, maka legitimasi kolektif atas kekerasan menguat. Inilah mengapa fenomena penjarahan jarang berhenti pada satu rumah saja, begitu satu simbol jatuh, keyakinan massa bertambah, dan mereka siap menumbangkan simbol berikutnya.

Dari sini kita melihat bahwa penjarahan rumah pejabat bukan sekadar peristiwa kriminal, melainkan ritual politik yang merepresentasikan pergeseran moral. Apa yang di luar kerumunan disebut kejahatan, di dalam kerumunan dimaknai sebagai keadilan. Bahayanya, begitu moral kolektif ini terbentuk, hal ini dapat terulang, menular, bahkan diwariskan dalam narasi perlawanan.

Pertanyaannya adalah, “sampai kapan siklus ini dibiarkan?” Bila frustrasi rakyat terus menumpuk tanpa ada ruang dialog, bila simbol-simbol kekuasaan terus dipertontonkan tanpa empati, maka rumah yang dijarah hanyalah permulaan. Kekerasan kolektif selalu mencari simbol baru untuk diruntuhkan. Satu-satunya jalan untuk memutus siklus ini adalah dengan menghadirkan reformasi nyata dan membuka kanal komunikasi yang jujur. Tanpa itu, kemarahan akan terus beranak-pinak, dan legitimasi kekerasan akan kembali menemukan jalannya.

Mengembalikan Empati, Merawat Demokrasi

Aksi penjarahan rumah pejabat memang tak bisa dibenarkan secara hukum, tetapi hal tersebut muncul sebagai wujud dari cermin yang retak antara relasi rakyat dan penguasa. Ketika jurang kepercayaan melebar, masyarakat mencari saluran emosi dengan cara-cara yang destruktif. Dari perspektif psikologi massa dan sosial-kolektif, peristiwa ini mengingatkan kita bahwa kriminalitas kadang hanyalah permukaan, namun di kedalaman, tindakan tersebut adalah ekspresi trauma kolektif yang terlalu lama diabaikan.

Solusi tidak cukup berhenti pada represi. Pemulihan kepercayaan publik menuntut keberanian pejabat untuk hadir dengan transparansi, kesediaan mendengar, dan keberpihakan nyata dalam kebijakan. Psikologi politik memberi pelajaran bahwa kekuasaan tanpa empati hanya melahirkan kemarahan.

Demokrasi tidak akan bertahan lewat janji, melainkan melalui kepercayaan yang dirawat setiap hari. Jika empati dikembalikan ke pusat politik, maka kekerasan berhenti menjadi pilihan, dan rakyat kembali melihat demokrasi sebagai ruang harapan, bukan sekadar arena kekecewaan. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Dari Pajak Rakyat ke Roda Rantis: Psikologi Publik dalam Bayang Kekerasan Negara
Ketika Kursi Empuk Membuat Hati Beku
Tags: demokrasiempatimassaPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Ngalempana”, Pertunjukan di Atas Panggung dan di Belakang Panggung Teater Sepit Tiying Institut Mpu Kuturan

Next Post

Berkelana di Puisi Si Tukang Kebun — Ulas Buku Puisi “Merayakan Pohon di Kebun Puisi” Karya I Nyoman Wirata

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Berkelana di Puisi Si Tukang Kebun — Ulas Buku Puisi “Merayakan Pohon di Kebun Puisi” Karya I Nyoman Wirata

Berkelana di Puisi Si Tukang Kebun -- Ulas Buku Puisi "Merayakan Pohon di Kebun Puisi" Karya I Nyoman Wirata

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co