23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Elite Diburu Massa: Psikologi Penjarahan Simbolik di Tengah Krisis Kepercayaan

Isran Kamal by Isran Kamal
September 6, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

KASUS penjarahan rumah beberapa pejabat publik, mulai dari anggota DPR hingga menteri, belakangan menyedot perhatian publik. Di tengah gelombang protes sosial yang kian intens, peristiwa ini menandai sebuah eskalasi baru, yakni kemarahan massa tidak lagi berhenti di jalanan, melainkan menembus batas privat para penguasa. Simbolisme yang lahir darinya tidak kecil. Rumah yang biasanya dipandang sebagai ruang aman dan intim, berubah menjadi sasaran pelampiasan kolektif.

Fenomena ini tentu tidak bisa dibaca hanya sebagai tindak kriminal atau ledakan spontan semata. Di baliknya terdapat dinamika psikologis yang kompleks, mulai dari psikologi massa yang menjelaskan mengapa individu kehilangan kontrol dalam kerumunan, hingga psikologi politik yang menyoroti pudarnya legitimasi institusi. Pada saat yang sama, psikologi kolektif memberi kita lensa untuk memahami bagaimana trauma, rasa ketidakadilan, dan identitas bersama membentuk perilaku yang begitu radikal.

Karena itu, alih-alih melihatnya sebatas kriminalitas, artikel ini mencoba menelisik lapisan psikologis yang mendorong lahirnya tindakan ekstrem tersebut. Dengan mengurai teori psikologi massa, psikologi politik, dan psikologi kolektif, kita bisa memahami mengapa rumah-rumah pejabat akhirnya menjadi simbol sekaligus medan perlawanan. Dari sana, kita bisa melihat bukan hanya soal tindakannya, tetapi juga kondisi psikologis masyarakat yang melatarbelakanginya.

Amarah Kolektif: Dari Ledakan Emosi hingga Legitimasi Kekerasan

Amarah rakyat jarang muncul tiba-tiba. Amarah itu tumbuh perlahan seperti bibit yang ditanam dan dipupuk oleh rasa kecewa dari janji-janji yang tak kunjung ditepati, dari luka kecil yang lama-lama membesar jadi borok. Lalu datanglah satu peristiwa pemicu, sebuah kebijakan yang dirasa melukai, sebuah simbol kemewahan yang dipertontonkan di tengah penderitaan.

Dalam sekejap, emosi yang tadinya berserakan pun menemukan wadahnya. Rumah seorang pejabat yang dijarah bukan sekadar bangunan fisik, rumah tersebut berubah menjadi layar tempat rakyat memproyeksikan seluruh frustrasi mereka.

Inilah momen ketika psikologi massa dapat menjelaskan fenomena ini. Seorang individu yang sendirian mungkin tak berani melempar batu, tapi dalam kerumunan, keberanian itu berlipat ganda. Emile Durkheim pernah menyebut “effervescence collective,” sebuah ekstasi emosional yang lahir dari kebersamaan. Satu teriakan bisa menular ke yang lain, satu tindakan destruktif bisa memicu keberanian seribu orang.

Anonimitas dalam kerumunan membuat batas moral pribadi menjadi kabur.  Rasa malu, rasa takut, bahkan rasa bersalah larut dalam suara ribuan. Apa yang biasanya dianggap tabu, kini terasa wajar, bahkan benar.

Namun kemarahan kolektif ini tidak berdiri di ruang hampa. Kemarahan ini segera bersentuhan dengan ranah politik. Di sinilah psikologi politik berbicara. Rumah pejabat bukan sekadar target acak, melainkan simbol otoritas yang gagal. Ted Robert Gurr (1970) menyebutnya sebagai relative deprivation, jurang antara harapan dan kenyataan yang makin melebar. James C. Davies (1962) bahkan menggambarkannya dengan kurva-J, ketika rakyat sudah merasakan sedikit peningkatan hidup lalu harapan itu tiba-tiba dipatahkan, maka kemarahan yang lahir jauh lebih meledak-ledak.

Contoh nyatanya bisa kita lihat di berbagai belahan dunia. Krisis ekonomi yang tiba-tiba menghantam negara berkembang sering kali melahirkan protes keras, bukan hanya karena kesulitan hidup, melainkan karena rakyat merasa “dikhianati” setelah dijanjikan kesejahteraan. Dalam logika itu, rumah pejabat yang megah dipandang bukan lagi sekadar tempat tinggal pribadi, tapi simbol kesenjangan antara janji politik dan kenyataan rakyat. Hannah Arendt (1970) mengingatkan bahwa kekerasan politik kerap diarahkan pada simbol kekuasaan, bukan individu per se. Maka ketika pintu rumah didobrak, yang benar-benar diruntuhkan bukanlah kayu jati atau beton, melainkan kredibilitas sebuah otoritas.

Emosi politik mempercepat proses ini. Penelitian Marcus, Neuman, dan MacKuen (2000) lewat Affective Intelligence Theory menunjukkan bahwa kemarahan mampu mendorong individu mengambil risiko besar. Inilah mengapa aksi protes yang awalnya damai bisa berbalik arah. Sekali kemarahan kolektif tersulut, hal itu menjadi bahan bakar ledakan. Teriakan “cukup sudah!” bergema, dan kerumunan berubah jadi badai.

Tetapi yang membuat badai itu semakin berbahaya adalah mekanisme sosial-kolektif yang memberi legitimasi. Ketika orang bergabung dalam kerumunan, identitas pribadi larut ke dalam identitas kelompok. Henri Tajfel dan John Turner (1979) menjelaskan bahwa individu mulai mendefinisikan diri sebagai bagian dari “kami,” bukan lagi “saya.” Elite politik otomatis diposisikan sebagai “mereka”, musuh bersama yang layak dilawan. Dalam bingkai ini, penjarahan bukan lagi tindakan kriminal, melainkan aksi moral atas nama rakyat.

Philip Zimbardo (1969) menyebutnya sebagai deindividuation. Anonimitas membuat rasa tanggung jawab personal melemah, sehingga orang berani melakukan hal-hal yang biasanya tak terbayangkan. Bandura (1999) menambahkan dimensi moral disengagement, rasionalisasi yang membuat tindakan keras dianggap wajar. “Mereka mencuri lebih dulu dari kami,” begitu kira-kira logikanya. Dengan justifikasi seperti ini, bukan hanya rasa bersalah yang hilang, melainkan muncul kepuasan emosional bahwa seakan-akan setiap lembar kaca yang pecah adalah potongan keadilan yang dipulihkan.

Penelitian lebih baru oleh van Zomeren, Postmes, dan Spears (2008) mengkonfirmasi bahwa protes kolektif dipicu oleh kombinasi tiga hal, kemarahan, identitas kelompok, dan keyakinan akan efektivitas aksi. Jika ketiganya hadir, maka legitimasi kolektif atas kekerasan menguat. Inilah mengapa fenomena penjarahan jarang berhenti pada satu rumah saja, begitu satu simbol jatuh, keyakinan massa bertambah, dan mereka siap menumbangkan simbol berikutnya.

Dari sini kita melihat bahwa penjarahan rumah pejabat bukan sekadar peristiwa kriminal, melainkan ritual politik yang merepresentasikan pergeseran moral. Apa yang di luar kerumunan disebut kejahatan, di dalam kerumunan dimaknai sebagai keadilan. Bahayanya, begitu moral kolektif ini terbentuk, hal ini dapat terulang, menular, bahkan diwariskan dalam narasi perlawanan.

Pertanyaannya adalah, “sampai kapan siklus ini dibiarkan?” Bila frustrasi rakyat terus menumpuk tanpa ada ruang dialog, bila simbol-simbol kekuasaan terus dipertontonkan tanpa empati, maka rumah yang dijarah hanyalah permulaan. Kekerasan kolektif selalu mencari simbol baru untuk diruntuhkan. Satu-satunya jalan untuk memutus siklus ini adalah dengan menghadirkan reformasi nyata dan membuka kanal komunikasi yang jujur. Tanpa itu, kemarahan akan terus beranak-pinak, dan legitimasi kekerasan akan kembali menemukan jalannya.

Mengembalikan Empati, Merawat Demokrasi

Aksi penjarahan rumah pejabat memang tak bisa dibenarkan secara hukum, tetapi hal tersebut muncul sebagai wujud dari cermin yang retak antara relasi rakyat dan penguasa. Ketika jurang kepercayaan melebar, masyarakat mencari saluran emosi dengan cara-cara yang destruktif. Dari perspektif psikologi massa dan sosial-kolektif, peristiwa ini mengingatkan kita bahwa kriminalitas kadang hanyalah permukaan, namun di kedalaman, tindakan tersebut adalah ekspresi trauma kolektif yang terlalu lama diabaikan.

Solusi tidak cukup berhenti pada represi. Pemulihan kepercayaan publik menuntut keberanian pejabat untuk hadir dengan transparansi, kesediaan mendengar, dan keberpihakan nyata dalam kebijakan. Psikologi politik memberi pelajaran bahwa kekuasaan tanpa empati hanya melahirkan kemarahan.

Demokrasi tidak akan bertahan lewat janji, melainkan melalui kepercayaan yang dirawat setiap hari. Jika empati dikembalikan ke pusat politik, maka kekerasan berhenti menjadi pilihan, dan rakyat kembali melihat demokrasi sebagai ruang harapan, bukan sekadar arena kekecewaan. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Dari Pajak Rakyat ke Roda Rantis: Psikologi Publik dalam Bayang Kekerasan Negara
Ketika Kursi Empuk Membuat Hati Beku
Tags: demokrasiempatimassaPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Ngalempana”, Pertunjukan di Atas Panggung dan di Belakang Panggung Teater Sepit Tiying Institut Mpu Kuturan

Next Post

Berkelana di Puisi Si Tukang Kebun — Ulas Buku Puisi “Merayakan Pohon di Kebun Puisi” Karya I Nyoman Wirata

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Berkelana di Puisi Si Tukang Kebun — Ulas Buku Puisi “Merayakan Pohon di Kebun Puisi” Karya I Nyoman Wirata

Berkelana di Puisi Si Tukang Kebun -- Ulas Buku Puisi "Merayakan Pohon di Kebun Puisi" Karya I Nyoman Wirata

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co