23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hikayat Penyelamat Naskah Tetralogi Buru Pramoedya Ananta Toer — Obituari Oei Hiem Hwie

Jaswanto by Jaswanto
September 4, 2025
in Khas
Hikayat Penyelamat Naskah Tetralogi Buru Pramoedya Ananta Toer — Obituari Oei Hiem Hwie

Oei Hiem Hwie | Foto: Dok. Karyakarsa

PERPUSTAKAAN Medayu Agung, Surabaya, baru saja bergembira atas terselenggaranya “Pamer Koleksi” sepekan yang lalu. Pameran arsip itu berjalan lancar dan sangat mengesankan bagi pengunjung dan, tentu saja, bagi para Sahabat Medayu Agung. Namun, suka-cita itu sepertinya tak berlangsung lama. Pasalnya, sosok pendiri Medayu Agung, orang yang dihormati atas jasa-jasa dan peninggalan baiknya, mengembuskan napas terakhirnya pada Rabu, 3 September 2025.

Sosok tersebut tak lain ialah Oei Hiem Hwie (1935-2025), seorang jurnalis, pustakawan partikelir, saksi Tapol 65 Pulau Buru, sahabat Pramoedya Ananta Toer, sekaligus penyelamat naskah-naskah Pram selama di Pulau Buru, termasuk naskah Bumi Manusia—novel yang legendaris itu.

Mengutip BBC Indonesia, Hwie lahir pada 26 November 1935 dari keluarga yang disebutnya “sulit bila disebut keluarga Tionghoa asli”. Ibunya, The Lekas Nio, adalah peranakan Tionghoa-Jawa yang sudah beberapa generasi tinggal di kaki Gunung Merbabu, Magelang, dan tidak bisa lagi bicara bahasa Tionghoa. Sedangkan ayahnya, Oei Tiong Han, lahir di Hokkian dan kemudian merantau ke Jawa.

“Saya lahir di Malang dari seorang lelaki Hokian totok dan perempuan peranakan dari Jawa Tengah. Papa berpendidikan Tionghoa, sementara mama yang peranakan Jawa bersekolah honocoroko. Itu yang membuat saya tertarik pada berbagai kebudayaan,” kisah Hwie kepada Soe Tjen Marching yang dipublikasikan di Islam Bergerak.

Hwie sekoah di TNHK (Tionghoa Hoe Kwan). Lulus SMA ia masuk sekolah wartawan, waktu itu ada sekolah wartawan, karena ia mengaku profesi itu dulu sangat dihormati—wartawan dianggap ratu dunia, segala tahu dan bisa—sebagaimana Soe Tjen Marching menuliskannya dalam artikel bertajuk Oei Hiem Hwie: Editor Pramoedya di Buru.

“Tujuh bulan kemudian saya lulus,” ujar Hwie. “Waktu itu tidak dikenal sistem kelas, jadi seperti akademi, asal sudah menyelesaikan tugas dan ketentuan, bisa lulus,” sambungnya.

Oei Hiem Hwie | Foto: Dok. Karyakarsa

Setelah berulangkali mengirimkan lamaran pekerjaan, ia diterima bekerja di Trompet Masjarakat —koran berhaluan tengah, bukan kiri dan bukan kanan—pimpinan Goei Poo An. Kantor Terompet berada di depan Tugu Pahlawan (sampai sekarang masih berdiri), satu lantai dengan percetakan Brantas. Di depannya terdapat banyak penjual koran.

Karir jurnalistik Hwie berhenti saat terjadi peristiwa 30 September 1965. Trompet Masjarakat ditutup dan Hwie ditangkap.

Tapol 65

Ia keturunan Tionghoa. Dan sebagaimana banyak kisah pada tragedi 1965, Hwie dituduh simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan harus ditindak. Tentu saja Hwie bukan anggota PKI. “Waktu Gestok terjadi, saya sedang di Malang. Tak lama sesudah peristiwa itu, puluhan orang berjubah hitam, berpenutup wajah dan hanya kelihatan mata, dan bersenjata datang ke rumah,” Hwie bercerita kepada Soe Tjen Marching.

Orang-orang berjubah hitam dan berpenutup mata itu mengaku ditugaskan untuk memeriksanya. Dokumen dan buku-buku di rumah Hwie di jl. Klojen Kidul nomer 26 Malang (sekarang jadi Jl Arismunandar) juga dirampas.

“Selain saya, di rumah ada mama dan adik. Papa sudah meninggal tahun 1960. Mereka berani sekali, sama sekali tidak ketakutan. Orang-orang itu mengambil buku-buku dan menaikkannya ke jip Russia yang besar. Karena tidak muat, sebagian buku akhirnya ditinggal. Oleh adik saya, buku yang tertinggal diambil dan disembunyikan di plafon, kebanyakan buku-buku Belanda. Sayangnya beberapa di antaranya hancur karena terkena hujan dan ada pula yang dimakan ngengat,” Soe Tjen Marching menulis pengakuan Hwie.

Sejak saat itu Hwie ditahan. Pertama kali ia ditahan di Batu, Malang, di kamp bekas pabrik kalengan, Kamp Gap Sin. Meskipun pabrik sudah ditutup, masih ada bekas-bekas kaleng, katanya. Di situ, bersama banyak orang, ia diperiksa dan ditanyai: “Kamu orang PKI ya?” Mereka—orang-orang berjubah hitam dan berpenutup mata itu—mencari-cari dan ketemu tulisannya tentang Sukarno. Ia dicap: “Sukarno-centris”. Hwie bilang: “Jadi saya bukan PKI, kan?” Orang itu berkata: “Tidak bisa, nanti kalau kamu saya bebaskan, akan membela Sukarno”.

Setelah 2 bulan di kamp Batu, tanggal 12 Januari 1966, ia dipindah ke penjara Lowokwaru, Malang. “Temboknya lapis 3, berpagar duri dan listrik. Mama saya yang belum mendengar kabar tentang saya, mengira saya sudah mati. Dia sempat mengadakan selamatan,” kisah Hwie.

Selepas dari Lowokwaru, Hwie dikirim ke penjara Kalisosok, sehari-hari diberi makan nasi jagung yang sudah keras dengan kelapa. Orang-orang berjubah hitam dan berpenutup mata memperlakukan para tahanan dengan kejam. “Tahanan di sana tidak diberi minum. Padahal panas luar biasa. Makanan hanya dibungkus daun jati dan dilempar sambil bilang: “Mampus lu!” Kadang didorong dengan kaki,” aku Hwie kepada Soe Tjen Marching.

Namun, nasib Hwie lebih baik daripada tahanan lain. Ia dikasih minum dan diberi makan yang agak lebih baik karena dianggap titipan, belum jelas PKI atau bukan. Sedangkan yang sudah jelas statusnya sebagai orang PKI, langsung diperlakukan buruk dan disiksa. Kalau orang-orang PKI itu haus, mereka mengulurkan keluar baju, kain, atau celana saat hujan. Lalu air itu diperas dan diminum. Banyak yang ususnya lengket karena kurang makan dan kurang minum. Tiap malam, mereka diambil dan disiksa atau hilang. Sungguh kejam.

Arsip koleksi Oei Hiem Hwie | Foto: Dok. Karyakarsa

Di Kalisosok, Hwie mengaku sempat melihat Murahman, bekas walikota Surabaya yang juga penasihat hukum Baperki dan penasihat hukum BTI. Menurut Hwie, Murahman sebenarnya bukan orang PKI, ia pendukung Sukarno dan anggota Baperki. Baperki waktu itu membuka perguruan, namanya Universitas Res Republika. Di Jakarta sekarang jadi Trisakti. Di Surabaya jadi UBAYA. “Saya lihat dia lewat dari jauh. Lalu, kami tidak tahu ke mana dia. Fotonya sekarang di kantor walikota pun tidak ada. Dihancurkan, karena dianggap PKI.”

“Setelah Kalisosok, saya dipindah di Koblen (Penjara Militer), lalu ke Nusakambanagan. Di sini, kami diberi bulgur dan ikan asin (kadang kepala dan buntut saja) atau tempe sepotong kecil sekali. Bulgur itu ampasnya bir, jadi tidak ada gizinya. Biasanya, apabila masih lapar, kami mencari rumput-rumputan dan kulit singkong di tempat sampah. Kami rajang, lalu diberi garam.”

Kira-kira 3-4 bulan Hwie ditahan di Nusakambangan, lalu ia diangkut ke pulau Buru tahun 1970. Karena kapal itu takut ketahuan dunia internasional, jadi sembunyi-sembunyi, lewat pulau-pulau kecil, tidak lewat jalan kapal besar. Gelombang tidak karuan, dan ia muntah-muntah. “Banyak yang muntah, sampai muntahan itu sekamar ada 2 drum. Terus dibuang ke laut, ada tukang buangnya, dari kami-kami juga. Sampai akhirnya kakus buntu. Baunya bukan main.”

Di Pulau Buru, Maluku, kata Hwie, saat ia datang sudah ada 13 unit yang ditempati para tahanan politik (tapol) 1965. Ia dimasukkan di unit 4—unit yang paling dekat dengan laut. “Kira-kira 3 kilo saja. Ada lapangan yang rata, dan juga tidak ada pohon besar-besar, jadi kami bisa bertani dengan cukup enak.”

Yang ditaruh bersama Hwie di unit 4—Unit Savanajaya, begitu para tapol menamainya—memang orang-orang pilihan. Kira-kira ada 1500 orang. Kebanyakan mahasiswa, pelajar, wartawan, dosen dan professor yang dianggap tidak ikut-ikutan partai. “Kalau ada di antara intelektual ini yang ketahuan aktif di partai, ya dibuang ke atas. Itu kata beberapa penjaga penjara,” kata Hwie bercerita kepada Soe Tjen Marching.

Membantu Pram Menulis

Di pulau yang sama, Pramoedya Ananta Toer juga diasingkan. “Dia ditaruh di atas, di unit 3,” kata Hwie. Pada saat itu, menurut kisah Hwie, banyak orang yang sudah mengenal Pram sebagai penulis yang hebat. “Saya sendiri sudah kagum dengan Pram,” ujar Hwie. “Kebetulan di belakang unitnya Pram itu, tepat ladang saya. Waktu melihat Pram, saya sudah ingin sekali bertemu. Jadi, saya menunggu kesempatan. Kalau yang jaga malas dan pergi, saya bisa ngobrol dengan Pram sebentar.”

Mengetahui Pram sebagai seorang penulis, bersama beberapa tahanan Hwie berusaha membantunya.   Bahkan ia mencoba pinjam mesin ketik dari kantor unit dan minta kertas barang sedikit. “Eh, diberi,” celetuk Hwie. Siang hari, waktu semuanya tidur, ia menemui Pram dan memberinya mesin ketik pinjaman itu. “Selesai ngetik, saya ambil lagi dan saya kembalikan ke kantor. Begitu terus. Kalau ada kesempatan, saya bisa menyelinap ke unit Pram dan membantu dia. Pram ngarang dan ngetik, saya ngoreksi ketikan yang salah-salah. Di kertas tipis sekali,” Hwie bercerita.

Naskah-naskah Pram disembunyikan di sebuah lubang mirip septic tank dan dibungkus dengan duan pisang. “Orang-orang berpikir itu tinja. Tidak ada yang berani buka. Jadi, naskah-naskah semua tersimpan di sana. Karena protes luar negeri, akhirnya Pram diizinkan menulis kembali. Waktu itu Kopkamtibnya Sumitro. Dia datang ke pulau Buru dan bilang: ‘Pram, ini mesin ketik buat kamu.’ Tapi, mesin tik itu sudah rusak dan harus diperbaiki sendiri oleh Pram. Pitanya hanya ada 1. Waktu sudah habis, saya carikan nila (indigofera), saya godog, saya basahi pita itu, lalu dijemur, ternyata bisa untuk tinta.”

Selain mesik ketik, Pram juga dikasih kertas, tapi kertas duslah (doorslag, ed)—kertas tipis, sering kali transparan. Waktu kertas itu habis, Pram tidak diberi lagi. “Ia mendapat kertas berkat telur ayam,” kata Hwie. Ya, saat menjadi tapol di Buru, Pram sempat pelihara ayam. Setiap kali teman-teman tapolnya pergi ke Kota Namlea, Pram titip telur. Telur-telur itu kemudian dibarter dengan kertas. Tapi jika tak ada telur untuk ditukar, Hwie mengambil kertas-kertas semen sisa pembangunan, lalu membersihkan dan memotongnya seukuran folio. Ketika Pram menulis buku “Perawan Remaja di Sarang Penyamun”, para tapol lain berusaha melakukan penyelidikan dengan mendatangi para bekas jugun ianfu di Pulau Buru. Hasilnya dilaporkan pada Pram.

Tugas Hwie yang lain terjadi ketika datang kabar bahwa dia akan dibebaskan. Dikutip dari BBC Indonesia, Pramoedya menitipkan beberapa naskah tulisannya untuk dibawa ke luar Pulau Buru. Salah satunya adalah Bumi Manusia dan Ensiklopedi Citrawi Indonesia, dalam bentuk naskah asli tulisan tangan, dan ada juga salinan yang diketik. Agar tidak ketahuan, naskah Pram dia sembunyikan dalam gulungan baju kotor, lalu dimasukkan ke dalam besek.

“Tulisan-tulisan Pram itu saya kumpulkan, saya lem dengan singkong yang direbus sampai tanak, dan dibendel. Saya press dengan tutupan yang mirip tutup septic tank itu. Saya diberi rangkapan naskah Pram tahun 1975.”

Tahun 1978 Hwie dibebaskan. “Tapi Pram belum, rupanya Suharto masih belum rela,” katanya. Baru setahun kemudian, Pram dan Oei Hai Joen dibebaskan. Sebelum pulang, ia dititipi naskah asli Pramoedya, Bumi Manusia. Ia bawa juga penutup naskah-naskah Pram di Pulau Buru, yang terbuat dari semen itu.

“Saya dinaikkan kapal haji. Sampai di kapal, saya takut sekali karena ada pemeriksaan beberapa kali. Buku Pram dan tutupan semen yang berat ini pasti tidak lolos, atau saya sendiri bisa dicemplungkan ke laut bersama kedua barang ini. Untung sekali saya tidak diperiksa,” ujar jurnalis Trompet Masjarakat  itu.

Kembali ke Malang, Hwie mengaku seperti Tarzan masuk kota. Ia kaget dengan perubahan Indonesia yang pesat. Ia tercengang melihat ada bis besar yang di dalam terdapat sebuah TV. Jalanan tiba-tiba besar, mobil-mobil besar dan banyak. “Juga macet, saya bingung,” katanya.

Sampai di Malang, ia ditaruh di Kodim, wajib lapor. Hwie diberitahu bahwa ia wajib lapor seminggu 3 kali. Setelah itu, ia diperbolehkan pulang. Di sana, orang-orang lain dijemput anak dan istri, juga keluarga. Tapi Hwie tidak melihat anggota keluarganya. “Sudah agak lama saya melihat-lihat, tetap saja tidak ada wajah adik dan mama saya.” Hwie pulang sendiri naik becak. Ia mengaku saat itu agak takut, karena sudah bertahun-tahun tidak di Malang. “Apa saya masih ingat jalan pulang?” gumamnya. “Ternyata masih.”

“Mama sudah meninggal 50 hari yang lalu.” Adik Hwie memberitahunya. Seketika dunianya seolah runtuh. Luar biasa sedihnya. “Saya mengharap bisa bertemu mama, tapi ternyata terlambat 50 hari.” Sepulang dari Pulau Buru, Hwie tak kunjung mendapat pekerjaan karena di KTP-nya terdapat cap ET.

Pustakawan dan Arsiparis Partikelir

Setelah bebas dari penjara, Hwie kembali menekuni hobinya membaca dan membuat kliping. Meski bebas, ruang geraknya terasa terbatas karena dia merasa terus dimata-matai—bahkan di tingkat RT dan RW. “Lalu datang seorang Tionghoa, namanya Haji Masagung yang punya Gunung Agung. Dia bilang, ‘Hwie, kamu kalau di Malang terus nggak bisa maju, sini saya bantu,’ jadi saya pindah ke Surabaya,” kata Hwie seperti dikutip BBC Indonesia. Dia lalu bekerja di perusahaan Haji Masagung hingga pensiun dan memutuskan untuk membuat perpustakaan umum di Surabaya, bernama Perpustakaan Medayu Agung.

Di Jakarta Hwie mengaku sempat belajar tentang perpustakaan. Itu menjadi modal penting saat ia mendirikan Medayu Agung pada 2001 silam. “Buku-buku dan arisp di Malang saya bawa ke sini. Rumah saya jadi penuh buku. Hampir tidak ada ruang untuk manusia.”

Perpustakaan ini dibuka untuk umum, dan berisi berbagai macam buku, puluhan ribu eksemplar koleksi koran, dan beberapa memorabilia. Hwie pernah mendapatkan penghargaan Museum Rekor Indonesia sebagai “kolektor surat kabar terlengkap sejak awal terbit”.

Oei Hiem Hwie | Foto: Dok. Karyakarsa

Sekitar tahun 1998, kisah Hwie kepada Soe Tjen Marching, ada 2 orang Australia mendatanginya. Buku-buku, majalah, dan koran yang ia miliki mau dibeli. “Semua pokoknya. Saya ditawari 1 Milliar,” ujarnya. Waktu itu, uang 1 M tentu saja sangat banyak. Kata Hwie bisa dibelikan rumah yang besar dan mewah di Surabaya. Tapi ia bilang tidak—walaupun sebenarnya ia kebingungan dengan biaya perawatan buku-buku itu.

Ia mendirikan Medayu Agung berkat bantuan pengusaha Sindhunata Sambudi dan Ongko Tikdoyo dari Surabaya. Mereka membelikan rumah yang kini dijadikan gedung perpustakaan di JL. Medayu Selatan Gang IV No. 42-44, Medokan Ayu, Rungkut, Surabaya.

Sebuah liputan di Kumparan menyebut puluhan ribu eksemplar koran memenuhi lantai dua Medayu Agung. Sebagian dijilid, sisanya dibungkus plastik sesuai bulan terbitnya masing-masing. Kamar-kamar dan ruangan di lantai satu penuh dengan rak berisi buku dan majalah, juga beberapa memorabilia. Di antara berbagai dokumen itu, ada naskah asli salah Pramoedya Ananta Toer yang ditulis di kertas pembungkus semen.

Dalam wawancaranya dengan Soe Tjen Marching, Hwie mengaku banyak peneliti dari berbagai negara, termasuk Ben Anderson (Cornell University) dan Daniel S. Lev (Washington University) datang ke Medayu Agung.

“Harapan saya, semoga perpustakaan ini bisa terus berkembang, koleksi buku yang bermutu juga bisa bertambah, dan kalau bisa juga terus gratisan seperti ini, supaya generasi muda bisa belajar dari sini. Saya tidak pernah menyesal akan apa yang terjadi pada saya. Saya anggap “disekolahke karo Pak Harto [Disekolahkan oleh Soeharto]”, supaya tambah pengalaman dan tabah,” kata Hwie menutup wawancaranya.

Memilih menjadi Indonesia

Satu hal penting yang tidak boleh dilupakan dari sosok Oei Hiem Hwie adalah tetap memilih Indonesia sebagai negaranya—walaupun ia pernah diperlakukan semena-mena.

Sebagai keturunan Tionghoa pada masa itu, seperti yang dilaporkan BBC Indonesia, menjadi Indonesia bukan hal yang otomatis terjadi. Hwie memutuskan menjadi warga negara Indonesia atas pilihannya sendiri. Karena ayahnya adalah warga negara asing, meskipun lahir dan besar di Indonesia, awalnya Hwie mengikuti kewarganegaraan ayahnya. Hingga muncul aturan baru pada tahun 50-an, bahwa warga keturunan Tionghoa harus memilih untuk menjadi WNI atau warga negara Tiongkok. Dan ia memilih menjadi WNI.

Dalam memoarnya Dari Pulau Buru Sampai Medayu Agung, Hwie menulis bahwa dia memilih menjadi WNI karena “berarti ikut membantu kemajuan Indonesia dan sosialisme yang kami banggakan”. Untuk mencapai tujuan itu, Hwie aktif berorganisasi di Baperki—Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia, organisasi massa yang didirikan oleh warga keturunan Tionghoa yang bertujuan menentang diskriminasi berdasarkan keturunan seseorang.

“Di kepala dan hati saya tertanam perjuangan melawan diskriminasi, bagaimana berintegrasi dengan rakyat Indonesia dan berjuang bersama-sama mewujudkan tatanan sosialisme,” kata Hwie dalam memoarnya.

Kini, Oei Hiem Hwie telah berpulang. Kembali ke Asal, sangkan paraning dumadi, dengan peninggalan yang tak ternilai. Selama Perpustakaan Medayu Agung masih ada, namanya akan tetap harum. Perjuangan dan kisah-kisahnya akan terus hidup selamanya. Selama-lamanya. Terima kasih sudah turut menumbuhkan literasi di Indonesia. Selamat jalan, Pak Hwie.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: Oei Hiem HwiePerpustakaan Medayu AgungPramoedya Ananta ToerSurabaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rumah Kecil di Atas Kepala Gangga

Next Post

Tiga Air Terjun yang Eksotik, Pemikat Wisata di Desa Munduk-Buleleng

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Tiga Air Terjun yang Eksotik, Pemikat Wisata di Desa Munduk-Buleleng

Tiga Air Terjun yang Eksotik, Pemikat Wisata di Desa Munduk-Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co