25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Empat Catatan untuk Lomba Gong Kebyar Dewasa, Baleganjur Ngarap, dan Baleganjur Kreasi HUT ke-130 Kota Negara

I Putu Adi Putra Kencana by I Putu Adi Putra Kencana
September 2, 2025
in Esai
Empat Catatan untuk Lomba Gong Kebyar Dewasa, Baleganjur Ngarap, dan Baleganjur Kreasi HUT ke-130 Kota Negara

Catatan Lomba Gong Kebyar Dewasa, Baleganjur Ngarap, dan Baleganjur Kreasi HUT ke-130 Kota Negara

Gambaran umum tentang situasi HUT Kota Negara ke-130

SEPERTI biasa, dalam rangka memperingati HUT Kota Negara dan bulan kemerdekaan Republik Indonesia, Pemerintah Kabupaten Jembrana selama satu bulan di bulan Agustus mengadakan beberapa perlombaan dan hiburan-hiburan rakyat.

Hiburan-hiburan rakyat yang saya maksud misalnya seperti beberapa konser musik dan pentas seni. Hiburan-hiburan rakyat ini dipusatkan di Gedung Kesenian Bung Karno atau yang lebih dikenal dengan Twin Tower Jembrana,dan ada juga hiburan yang tampil di stage terbuka Pura Jagatnatha Jembrana.

Selain ada hiburan-hiburan rakyat seperti yang saya bilang tadi, ada juga perlombaan. Oh, ya, ada pameran UMKM juga. Mulai dari pameran lukisan, pakaian adat Bali, accesoris, stand photo booth, pisau Bali, stand kuliner dan lain-lain. Mereka, pelaku UMKM tidak hanya berasal dari Jembrana saja, namun berasal dari luar Kabupaten Jembrana, misalnya dari Gianyar dan Klungkung.

Ada beberapa perlombaan yang diadakan dalam serangkaian memperingati HUT ke-130 Kota Negara antara lain lomba gerak jalan tingkat SD, SMP, SMA/SMK, dan Intansi, serta ada beberapa perlombaan dari cabang seni seperti lomba gong kebyar antar kecamatan, baleganjur ngarap antar STT se-Jembrana, lomba baleganjur tingkat SD dan SMP se-Jembrana.

Gong Kebyar Duta Kecamatan Negara, pentas tanggal 24 Agustus 2025 pukul 15.00 wita di Desa Baluk | Foto: koleksi pribadi I Putu Suardana

Yang patut kita bersama syukuri adalah, seluruh rangkaian perayaan HUT Kota Negara berjalan lancar tanpa ada hal-hal yang membuat keruh suasana. Namun begitu, ada beberapa hal yang patut kita jadikan catatan sebagai bahan pertimbangan dan evaluasi di tahun-tahun selanjutnya.

Kali ini ada beberapa catatan yang perlu kita cermati bersama, kususnya terkait dengan perlombaan gong kebyar, baleganjur ngarap, dan baleganjur tingkat SD dan SMP.  

Catatan yang pertama

Kembalikan sistem perlombaan gong kebyar dari pentas di tempat masing-masing ke pentas mebarung (pentas saling berhadapan di satu tempat yang sama).

Sejak gong kebyar dilombakan secara bergilir per kategori setiap tahunnya, mulai tahun 2014, lomba gong kebyar dipentaskan dengan format mebarung di stage terbuka Pura Jagatnata Jembrana. Maksud saya, dipentaskan secara bergilir adalah, misalnya di tahun 2014 kategori gong kebyar yang dilombakan adalah gong kebyar dewasa, maka di tahun selanjutnya yang dilombakan adalah gong kebyar anak-anak, dan tahun selanjutnya gong kebyar wanita.

Sistem seperti ini berjalan lancar sampai pada akhirnya Covid 19 melanda dunia. Sempat terhenti pada tahun 2020 dan 2021 karena sosial distancing akibat wabah Covid 19. Pada tahun 2022 lomba gong kebyar diadakan lagi dengan format pementasan di kecamatan masing-masing.

Pada tahun 2022 itu, masih bisa diterima lomba gong kebyar dipentaskan di kecamatan masing-masing dengan dasar stabilitas anggaran pasca gempuran wabah Covid 19. Namun di tahun berikutnya, yakni tahun 2023 hingga sekarang 2025, saya kira format pentas di kecamatan masing-masing perlu ditinjau ulang.

Gong Kebyar Duta Kecamatan Mendoyo, pentas tangga 25 Agustus 2025 pukul 15.00 wita di Desa Pohsanten

Ada beberapa alasan perlunya peninjauan ulang format pentas di tempat masing-masing lomba gong kebyar antar kecamatan di Jembrana.

Pertama:

Penilaian menjadi tidak efektif, karena juri harus keliling mengunjungi tempat pementasan satu ke yang lainnya dan di hari yang berbeda pula. Mengutip dari pendapat Lila Davachi (profesor ilmu saraf dari Colombia University), memori atau otak manusia tidak dirancang untuk mengingat semua hal dengan sempurna.

Jika ada informasi yang serupa, otak manusia hanya merangkum pola umumnya bukan semua detailnya. Dengan dalil tersebut, maka sudah jelas membuat kinerja juri menjadi lebih berat untuk membandingkan karya satu dan yang lainnya.  

Sebagai gambaran, Kabupaten Jembrana terdiri dari lima kecamatan. Biasanya lomba gong kebyar dengan format ini diadakan empat hari. Satu hari satu kontingen, di hari terakhir dua kontingen, pentas di kecamatan masing-masing.

Kedua:

Faktor akustik ruang. Dalam pentas seni karawitan Bali, dalam hal ini gong kebyar, akustik ruang menjadi salah satu penentu dan pembeda. Karena pentasnya di tempat yang berbeda, otomatis akustik ruangnya juga berbeda.

Akustik ruang merupakan salah satu andil yang mempengaruhi jelas atau tidak jelasnya suara gamelan yang dihasilkan. Selain itu juga, dari segi rasa, membawakan gending dengan akustik ruang yang berbeda, tentu rasanya juga berbeda.

Ketiga:

“Perang mental”. Berdasarkan hasil obrolan singkat dengan I Wayan Banda (juri lomba gong kebyar HUT Kota Negara empat tahun terakhir) melalui WA, Banda mengatakan bahwa idealnya lomba gong kebyar dipentaskan dengan format mebarung.  

Karena dengan format mebarung, di sana akan terjadi “perang mental”. Dalam hal seperti ini, mental menjadi faktor yang menentukan penampilan masing-masing sekaa. Bisa jadi sekaa yang teknik bermainnya bagus, ketika mebarung bermain sangat buruk akibat mentalnya buruk.

Keempat:

Menurunnya gairah lomba gong kebyar. Dengan kucuran dana yang sudah tentu lebih besar dari lomba baleganjur ngarap dan kreasi, sepertinya lomba gong kebyar dengan format seperti ini tidak menggairahkan sama sekali.

Dengan format pentas di masing masing kecamatan, cenderung ajang lomba gong kebyar hanya bisa dinikmati oleh masyarakat sekitar saja. Salah satu penyebabnya adalah tempat pentas yang tidak memadai untuk menampung masyarakat yang lebih banyak.

Kelima:

Masing-masing sekaa bermain lebih payah. Dengan format pentas sendiri-sendiri, mau tak mau memaksa masing-masing sekaa memainkan tiga materi secara maraton. Tidak ada jeda antara materi satu dan yang selanjutnya.

Ini bisa saja menyebabkan kualitas membawakan materi yang kedua dan ketiga menjadi tidak maksimal akibat tidak mendapatkan waktu yang cukup untuk meregangkan otot pergelangan tangan.

Keenam:

Jika alasan pentas di kecamatan masing-masing adalah untuk menghemat anggaran, saya kira bisa kita pikirkan ulang. Meskipun tidak ada keharusan sekaa/penabuh mengenakan kostum pentas yang seperti biasa kita lihat diajang Pesta Kesenian Bali, faktanya semua sekaa menyewa kostum dan tata rias yang sedemikian rupa. Walaupun seadanya, tetap saja sewa kostum dan tata rias itu memerlukan biaya.

Maka, sebaiknya alokasi anggaran untuk sewa kostum dan sejenisnya bisa dianggarkan untuk biaya akomodasi pentas mebarung di Jagatnatha. Dan wajibkan kepada seluruh duta kecamatan untuk mengenakan kostum ke pura tanpa tata rias yang berarti.

Lagi pula, tidak ada spektrum penilaian kostum dan tata rias. Meskipun ada spektrum penilaian penampilan, penampilan yang dimaksud adalah bagaimana para penabuh tersebut membawakan dan menyajikan gending dengan baik.

Catatan yang kedua.

Jadwal pementasan yang terlalu krodit.

Sebagai gambaran singkat, saya akan jelaskan dulu jadwal pementasannya.

Pementasan dimulai dari tanggal 24 Agustus 2025 pukul 15.00 Wita yakni penampilan gong kebyar dewasa duta Kecamatan Negara, pentas di Desa Baluk. Kemudian berlanjut di hari yang sama pukul 19.00 Wita, juri dan peserta harus sudah siap di stage terbuka Pura Jagatnatha untuk mengikuti lomba baleganjur ngarap yang diikuti 10 sekaa.

25 Agustus 2025, gong kebyar dewasa duta Kecamatan Mendoyo di Desa Pohsanten pukul 15.00 Wita. Lomba baleganjur tingkat SMP di Stage Pura Jagatnatha pukul 19.00 Wita yang diikuti 13 peserta.

26 Agustus 2025, gong kebyar dewasa duta Kecamatan Jembrana pukul 15.00 Wita di wantilan Pura Puseh Dauhwaru. Lomba baleganjur tingkat SD dan SMP pukul 19.00 Wita di Stage Jagatnatha. Baleganjur SD 10 peserta, SMP 4 peserta, total 14 peserta.

27 Agustus 2025, gong kebyar duta Kecamatan Pekutatan di Desa Asahduren pukul 14.00 wita, kemudian pukul 17.00 Wita tampil gong kebyar duta Kecamatan Melaya di Desa Ekasari.

Gong Kebyar Duta Kecamatan Jembrana, pentas tanggal 26 Agustus 2025 pukul 15.00 wita di Kelurahan Dauhwaru

Dengan melihat jadwal pementasan yang seperti itu, sekali lagi membuat kinerja para juri relatif lebih ekstra. Banda sendiri mengatakan bahwa mereka (Banda, Monot dan Mang Adi – maaf, saya gunakan nama populer mereka), mereka bertiga sebagai juri HUT Kota Negara ini  agak sedikit kebingungan dalam membahas hasil penampilan masing-masing sekaa. Karena sorenya gong kebyar, malamnya tiba-tiba baleganjur. Dua jenis karawitan Bali yang berbeda.

Kembali ke pernyataan Prof. Lila Davachi, memori manusia tidak dirancang untuk mengingat semua hal secara detail. Sadar atau tak sadar, akan sangat susah mengingat atau membandingkan bagaimana penampilan sekaa yang sekarang dengan penampilan sekaa yang kemarin, dua hari lalu bahkan tiga hari lalu.

Apa yang saya katakan di sini sama sekali tidak bermaksud untuk meremehkan dan merendahkan kredibilitas juri. Banda, Monot dan Mang Adi adalah pelaku seni dan kreator seni yang mumpuni di bidangnya dan telah menjuri di berbagai ajang dan tempat di Bali.

Banda dan Monot adalah komposer muda ternama di Bali, kiprahnya di kancah seni karawitan Bali tidak usah diragukan lagi. Banyak karya-karya hits  dan populer yang lahir dari ide-ide kreatif mereka. Demikian pula Mang Adi, ia adalah salah satu koreografer handal di Bali. Jadi apa yang saya katakan di sini adalah murni untuk mempermudah kinerja juri, siapapun nanti ke depannya.

Gong Kebyar Duta Kecamatan Pekutatan, pentas tangga 27 Agustus 2025 pukul 14.00 wita di Desa Adat Asahduren | Foto: Koleksi pribadi I Kadek Prayoga Adi Astawa

Selain itu juga, jadwal yang seperti ini membuat krodit para pelaku dan seniman yang terlibat. Krodit yang saya maksud adalah, misalnya ada seniman yang terlibat sebagai duta gong kebyar kecamatan dan terlibat pula di baleganjur SD maupun SMP serta baleganjur ngarap.

Jadi, sorenya pentas gong kebyar di kecamatan masing-masing, berselang dua atau tiga jam sudah harus berada di Pura Jagatnatha. Meskipun bisa dikondisikan dengan baik, namun hal-hal semacam ini perlu juga menjadi pertimbangan.

Catatan yang ketiga

Pertimbangkan menggunakan dua kelompok juri.

Catatan yang ketiga ini hanyalah optional saja. Jika catatan yang pertama dan kedua tidak bisa dipertimbangkan, maka catatan yang ketiga ini bisa menjadi opsi selanjutnya.

Artinya jika pentas gong kebyar harus di kecamatan masing-masing dan jadwal pementasan tetap seperti itu, maka lebih baik menggunakan dua kelompok juri. Satu kelompok juri fokus pada penilaian gong kebyar, satu kelompok juri lagi fokus pada penilaian beberapa kategori baleganjur. Dengan demikian juri lebih fokus dan maksimal dalam mengamati seluruh penampilan dari masing-masing peserta.

Catatan keempat

Mempertanyakan maksud pementasan ulang gong kebyar dewasa, wanita dan anak-anak duta Kabupaten Jembrana di ajang PKB 2025 di Stage Terbuka Jagatnatha Jembrana.

Gong Kebyar Duta Kecamatan Melaya, pentas tangga 27 Agustus 2025 pukul 17.00 wita di Desa Adat Ekasari | Foto: Koleksi I Putu Angga Epri Adhi

Pada tanggal 28 Agustus diadakan pementasan ulang gong kebyar anak-anak dan wanita duta Kabupaten Jembrana pada PKB 2025. Sedangkan pada keesokan harinya pada tanggal 29 Agustus diadakan pementasan tunggal gong kebyar dewasa duta Kabupaten Jembrana. Ini tujuannya apa?

Jika tujuannya adalah memperpanjang hiburan rakyat, maka lebih baik jadwal lomba gong kebyar dan baleganjurnya ditata ulang. Dengan mengubah sistem pementasan gong kebyar dari pentas di kecamatan masing-masing ke format mebarung, maka akan mendapatkan enam hari pementasan di Pura Jagatnata. Satu hari lomba baleganjur ngarap, dua hari lomba baleganjur SD dan SMP, tiga hari lomba gong kebyar (lima kecamatan di tambah satu pendamping).

Jika tujuannya adalah untuk menampilkan ke masyarakat bahwa “Inilah gong kebyar duta Kabupaten Jembrana yang tampil di Pesta Kesenian Bali lalu”, maka ini adalah hal yang mubazir. Jika ingin menampilkan duta Kabupaten Jembrana yang akan berkiprah di ajang PKB, maka berikan support anggaran untuk mengadakan uji coba di Stage Jagatnatha sebelum pentas di Arda Candra, Art Center Denpasar.

Dengan mempertimbangkan dua hal di atas, maka saya rasa dana yang dikucurkan untuk membiayai acara pementasan ulang duta gong kebyar dewasa, anak-anak dan wanita di Stage Pura Jagatnatha bisa dialokasikan ke sesuatu yang lebih tepat guna.

Misalnya, pertama, penambahan honorarium juri, karna hari pementasan dari empat hari menjadi enam hari atau karna menggunakan dua kelompok juri.

Kedua, pemberian support dana kepada kelima sekaa gong kebyar duta kecamatan masing-masing untuk biaya akomodasi pentas mebarung di Jagatnatha dan satu pendamping. Pendamping bisa diambil dari Gong Kebyar duta kabupaten Jembrana yang tampil di PKB sebelumnya.

Ketiga, pemberian support dana kepada STT yang mengikuti lomba baleganjur ngarap.

Keempat, memaksimalkan fasilitas pementasan seperti Sound System di Stage Jagatnatha agar benar-benar memadai untuk melaksanakan skema pentas mebarung  gong kebyar duta lima kecamatan.

Keempat opsi di atas adalah opsi yang bisa dipilih salah satu sesuai dengan pertimbangan sekala prioritas.

Penampilan salah satu SMP pada ajang lomba baleganjur tingkat SD dan SMP se-Jembrana

***

Baiklah, saya rasa empat catatan diatas bisa kita jadikan bahan evaluasi dan pertimbangan ke depannya bagi pihak yang bertugas dan berwenang dalam menyelenggarakan acara ini. Catatan catatan ini murni sebuah aspirasi dari masyarakat pelaku dan pecinta seni di Jembrana, tidak ada maksud lain selain itu.

Dan yang terpenting adalah, bagaimana agar ekosistem berkesenian di Jembrana ke depannya semakin baik dan berkembang. Tidak hanya dari sisi pelakunya namun berkembang dan lebih baik dari sisi birokrat yang menaunginya juga. [T]

Penulis: I Putu Adi Putra Kencana
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis I PUTU ADI PUTRA KENCANA
Tags: baleganjurgong kebyarHUT Kota Negarakabupaten jembranakesenian balilomba baleganjur
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melihat Bali sebagai Bagian

Next Post

Pro-Kontra Fotografer “fotoyou” di CFD Renon: Antara Dokumentasi Olahraga dan Perlindungan Privasi

I Putu Adi Putra Kencana

I Putu Adi Putra Kencana

Biasa dipanggil dengan nama “Somat”. Lahir pada 29 Desember 1994 di Mengenuanyar, Jembrana Bali. Somat merupakan seorang seniman, komposer, pengajar tabuh yang berasal dari Jembrana. Ia mulai mengenal dunia megambel semenjak duduk di bangku SMP dan rutin mendapat kesempatan sebagai penabuh pada ajang PKB. Somat menimba ilmu di ISI Denpasar pada tahun 2013 dan berhasil mendapatkan gelar sarjananya ditahun 2017 dengan karya tugas akhir Sewagati. Selain bergelut di dunia seni, keseharian somat sekarang juga bekerja di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng sebagai Penyuluh Agama Hindu.

Related Posts

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
0
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

Read moreDetails

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

by Chusmeru
June 24, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

Read moreDetails

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails
Next Post
Pro-Kontra Fotografer “fotoyou” di CFD Renon: Antara Dokumentasi Olahraga dan Perlindungan Privasi

Pro-Kontra Fotografer "fotoyou" di CFD Renon: Antara Dokumentasi Olahraga dan Perlindungan Privasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand
Pendidikan

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand

SINGARAJA – TATKALA.CO | Tim Pengabdi Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha sukses menggelar International Community Service-Based Workshop bertajuk “PROMOTING...

by tatkala
June 25, 2026
Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket
Bahasa

Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma...

by I Made Sudiana
June 25, 2026
Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
Khas

Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal
Panggung

‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal

PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co