14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Empat Catatan untuk Lomba Gong Kebyar Dewasa, Baleganjur Ngarap, dan Baleganjur Kreasi HUT ke-130 Kota Negara

I Putu Adi Putra Kencana by I Putu Adi Putra Kencana
September 2, 2025
in Esai
Empat Catatan untuk Lomba Gong Kebyar Dewasa, Baleganjur Ngarap, dan Baleganjur Kreasi HUT ke-130 Kota Negara

Catatan Lomba Gong Kebyar Dewasa, Baleganjur Ngarap, dan Baleganjur Kreasi HUT ke-130 Kota Negara

Gambaran umum tentang situasi HUT Kota Negara ke-130

SEPERTI biasa, dalam rangka memperingati HUT Kota Negara dan bulan kemerdekaan Republik Indonesia, Pemerintah Kabupaten Jembrana selama satu bulan di bulan Agustus mengadakan beberapa perlombaan dan hiburan-hiburan rakyat.

Hiburan-hiburan rakyat yang saya maksud misalnya seperti beberapa konser musik dan pentas seni. Hiburan-hiburan rakyat ini dipusatkan di Gedung Kesenian Bung Karno atau yang lebih dikenal dengan Twin Tower Jembrana,dan ada juga hiburan yang tampil di stage terbuka Pura Jagatnatha Jembrana.

Selain ada hiburan-hiburan rakyat seperti yang saya bilang tadi, ada juga perlombaan. Oh, ya, ada pameran UMKM juga. Mulai dari pameran lukisan, pakaian adat Bali, accesoris, stand photo booth, pisau Bali, stand kuliner dan lain-lain. Mereka, pelaku UMKM tidak hanya berasal dari Jembrana saja, namun berasal dari luar Kabupaten Jembrana, misalnya dari Gianyar dan Klungkung.

Ada beberapa perlombaan yang diadakan dalam serangkaian memperingati HUT ke-130 Kota Negara antara lain lomba gerak jalan tingkat SD, SMP, SMA/SMK, dan Intansi, serta ada beberapa perlombaan dari cabang seni seperti lomba gong kebyar antar kecamatan, baleganjur ngarap antar STT se-Jembrana, lomba baleganjur tingkat SD dan SMP se-Jembrana.

Gong Kebyar Duta Kecamatan Negara, pentas tanggal 24 Agustus 2025 pukul 15.00 wita di Desa Baluk | Foto: koleksi pribadi I Putu Suardana

Yang patut kita bersama syukuri adalah, seluruh rangkaian perayaan HUT Kota Negara berjalan lancar tanpa ada hal-hal yang membuat keruh suasana. Namun begitu, ada beberapa hal yang patut kita jadikan catatan sebagai bahan pertimbangan dan evaluasi di tahun-tahun selanjutnya.

Kali ini ada beberapa catatan yang perlu kita cermati bersama, kususnya terkait dengan perlombaan gong kebyar, baleganjur ngarap, dan baleganjur tingkat SD dan SMP.  

Catatan yang pertama

Kembalikan sistem perlombaan gong kebyar dari pentas di tempat masing-masing ke pentas mebarung (pentas saling berhadapan di satu tempat yang sama).

Sejak gong kebyar dilombakan secara bergilir per kategori setiap tahunnya, mulai tahun 2014, lomba gong kebyar dipentaskan dengan format mebarung di stage terbuka Pura Jagatnata Jembrana. Maksud saya, dipentaskan secara bergilir adalah, misalnya di tahun 2014 kategori gong kebyar yang dilombakan adalah gong kebyar dewasa, maka di tahun selanjutnya yang dilombakan adalah gong kebyar anak-anak, dan tahun selanjutnya gong kebyar wanita.

Sistem seperti ini berjalan lancar sampai pada akhirnya Covid 19 melanda dunia. Sempat terhenti pada tahun 2020 dan 2021 karena sosial distancing akibat wabah Covid 19. Pada tahun 2022 lomba gong kebyar diadakan lagi dengan format pementasan di kecamatan masing-masing.

Pada tahun 2022 itu, masih bisa diterima lomba gong kebyar dipentaskan di kecamatan masing-masing dengan dasar stabilitas anggaran pasca gempuran wabah Covid 19. Namun di tahun berikutnya, yakni tahun 2023 hingga sekarang 2025, saya kira format pentas di kecamatan masing-masing perlu ditinjau ulang.

Gong Kebyar Duta Kecamatan Mendoyo, pentas tangga 25 Agustus 2025 pukul 15.00 wita di Desa Pohsanten

Ada beberapa alasan perlunya peninjauan ulang format pentas di tempat masing-masing lomba gong kebyar antar kecamatan di Jembrana.

Pertama:

Penilaian menjadi tidak efektif, karena juri harus keliling mengunjungi tempat pementasan satu ke yang lainnya dan di hari yang berbeda pula. Mengutip dari pendapat Lila Davachi (profesor ilmu saraf dari Colombia University), memori atau otak manusia tidak dirancang untuk mengingat semua hal dengan sempurna.

Jika ada informasi yang serupa, otak manusia hanya merangkum pola umumnya bukan semua detailnya. Dengan dalil tersebut, maka sudah jelas membuat kinerja juri menjadi lebih berat untuk membandingkan karya satu dan yang lainnya.  

Sebagai gambaran, Kabupaten Jembrana terdiri dari lima kecamatan. Biasanya lomba gong kebyar dengan format ini diadakan empat hari. Satu hari satu kontingen, di hari terakhir dua kontingen, pentas di kecamatan masing-masing.

Kedua:

Faktor akustik ruang. Dalam pentas seni karawitan Bali, dalam hal ini gong kebyar, akustik ruang menjadi salah satu penentu dan pembeda. Karena pentasnya di tempat yang berbeda, otomatis akustik ruangnya juga berbeda.

Akustik ruang merupakan salah satu andil yang mempengaruhi jelas atau tidak jelasnya suara gamelan yang dihasilkan. Selain itu juga, dari segi rasa, membawakan gending dengan akustik ruang yang berbeda, tentu rasanya juga berbeda.

Ketiga:

“Perang mental”. Berdasarkan hasil obrolan singkat dengan I Wayan Banda (juri lomba gong kebyar HUT Kota Negara empat tahun terakhir) melalui WA, Banda mengatakan bahwa idealnya lomba gong kebyar dipentaskan dengan format mebarung.  

Karena dengan format mebarung, di sana akan terjadi “perang mental”. Dalam hal seperti ini, mental menjadi faktor yang menentukan penampilan masing-masing sekaa. Bisa jadi sekaa yang teknik bermainnya bagus, ketika mebarung bermain sangat buruk akibat mentalnya buruk.

Keempat:

Menurunnya gairah lomba gong kebyar. Dengan kucuran dana yang sudah tentu lebih besar dari lomba baleganjur ngarap dan kreasi, sepertinya lomba gong kebyar dengan format seperti ini tidak menggairahkan sama sekali.

Dengan format pentas di masing masing kecamatan, cenderung ajang lomba gong kebyar hanya bisa dinikmati oleh masyarakat sekitar saja. Salah satu penyebabnya adalah tempat pentas yang tidak memadai untuk menampung masyarakat yang lebih banyak.

Kelima:

Masing-masing sekaa bermain lebih payah. Dengan format pentas sendiri-sendiri, mau tak mau memaksa masing-masing sekaa memainkan tiga materi secara maraton. Tidak ada jeda antara materi satu dan yang selanjutnya.

Ini bisa saja menyebabkan kualitas membawakan materi yang kedua dan ketiga menjadi tidak maksimal akibat tidak mendapatkan waktu yang cukup untuk meregangkan otot pergelangan tangan.

Keenam:

Jika alasan pentas di kecamatan masing-masing adalah untuk menghemat anggaran, saya kira bisa kita pikirkan ulang. Meskipun tidak ada keharusan sekaa/penabuh mengenakan kostum pentas yang seperti biasa kita lihat diajang Pesta Kesenian Bali, faktanya semua sekaa menyewa kostum dan tata rias yang sedemikian rupa. Walaupun seadanya, tetap saja sewa kostum dan tata rias itu memerlukan biaya.

Maka, sebaiknya alokasi anggaran untuk sewa kostum dan sejenisnya bisa dianggarkan untuk biaya akomodasi pentas mebarung di Jagatnatha. Dan wajibkan kepada seluruh duta kecamatan untuk mengenakan kostum ke pura tanpa tata rias yang berarti.

Lagi pula, tidak ada spektrum penilaian kostum dan tata rias. Meskipun ada spektrum penilaian penampilan, penampilan yang dimaksud adalah bagaimana para penabuh tersebut membawakan dan menyajikan gending dengan baik.

Catatan yang kedua.

Jadwal pementasan yang terlalu krodit.

Sebagai gambaran singkat, saya akan jelaskan dulu jadwal pementasannya.

Pementasan dimulai dari tanggal 24 Agustus 2025 pukul 15.00 Wita yakni penampilan gong kebyar dewasa duta Kecamatan Negara, pentas di Desa Baluk. Kemudian berlanjut di hari yang sama pukul 19.00 Wita, juri dan peserta harus sudah siap di stage terbuka Pura Jagatnatha untuk mengikuti lomba baleganjur ngarap yang diikuti 10 sekaa.

25 Agustus 2025, gong kebyar dewasa duta Kecamatan Mendoyo di Desa Pohsanten pukul 15.00 Wita. Lomba baleganjur tingkat SMP di Stage Pura Jagatnatha pukul 19.00 Wita yang diikuti 13 peserta.

26 Agustus 2025, gong kebyar dewasa duta Kecamatan Jembrana pukul 15.00 Wita di wantilan Pura Puseh Dauhwaru. Lomba baleganjur tingkat SD dan SMP pukul 19.00 Wita di Stage Jagatnatha. Baleganjur SD 10 peserta, SMP 4 peserta, total 14 peserta.

27 Agustus 2025, gong kebyar duta Kecamatan Pekutatan di Desa Asahduren pukul 14.00 wita, kemudian pukul 17.00 Wita tampil gong kebyar duta Kecamatan Melaya di Desa Ekasari.

Gong Kebyar Duta Kecamatan Jembrana, pentas tanggal 26 Agustus 2025 pukul 15.00 wita di Kelurahan Dauhwaru

Dengan melihat jadwal pementasan yang seperti itu, sekali lagi membuat kinerja para juri relatif lebih ekstra. Banda sendiri mengatakan bahwa mereka (Banda, Monot dan Mang Adi – maaf, saya gunakan nama populer mereka), mereka bertiga sebagai juri HUT Kota Negara ini  agak sedikit kebingungan dalam membahas hasil penampilan masing-masing sekaa. Karena sorenya gong kebyar, malamnya tiba-tiba baleganjur. Dua jenis karawitan Bali yang berbeda.

Kembali ke pernyataan Prof. Lila Davachi, memori manusia tidak dirancang untuk mengingat semua hal secara detail. Sadar atau tak sadar, akan sangat susah mengingat atau membandingkan bagaimana penampilan sekaa yang sekarang dengan penampilan sekaa yang kemarin, dua hari lalu bahkan tiga hari lalu.

Apa yang saya katakan di sini sama sekali tidak bermaksud untuk meremehkan dan merendahkan kredibilitas juri. Banda, Monot dan Mang Adi adalah pelaku seni dan kreator seni yang mumpuni di bidangnya dan telah menjuri di berbagai ajang dan tempat di Bali.

Banda dan Monot adalah komposer muda ternama di Bali, kiprahnya di kancah seni karawitan Bali tidak usah diragukan lagi. Banyak karya-karya hits  dan populer yang lahir dari ide-ide kreatif mereka. Demikian pula Mang Adi, ia adalah salah satu koreografer handal di Bali. Jadi apa yang saya katakan di sini adalah murni untuk mempermudah kinerja juri, siapapun nanti ke depannya.

Gong Kebyar Duta Kecamatan Pekutatan, pentas tangga 27 Agustus 2025 pukul 14.00 wita di Desa Adat Asahduren | Foto: Koleksi pribadi I Kadek Prayoga Adi Astawa

Selain itu juga, jadwal yang seperti ini membuat krodit para pelaku dan seniman yang terlibat. Krodit yang saya maksud adalah, misalnya ada seniman yang terlibat sebagai duta gong kebyar kecamatan dan terlibat pula di baleganjur SD maupun SMP serta baleganjur ngarap.

Jadi, sorenya pentas gong kebyar di kecamatan masing-masing, berselang dua atau tiga jam sudah harus berada di Pura Jagatnatha. Meskipun bisa dikondisikan dengan baik, namun hal-hal semacam ini perlu juga menjadi pertimbangan.

Catatan yang ketiga

Pertimbangkan menggunakan dua kelompok juri.

Catatan yang ketiga ini hanyalah optional saja. Jika catatan yang pertama dan kedua tidak bisa dipertimbangkan, maka catatan yang ketiga ini bisa menjadi opsi selanjutnya.

Artinya jika pentas gong kebyar harus di kecamatan masing-masing dan jadwal pementasan tetap seperti itu, maka lebih baik menggunakan dua kelompok juri. Satu kelompok juri fokus pada penilaian gong kebyar, satu kelompok juri lagi fokus pada penilaian beberapa kategori baleganjur. Dengan demikian juri lebih fokus dan maksimal dalam mengamati seluruh penampilan dari masing-masing peserta.

Catatan keempat

Mempertanyakan maksud pementasan ulang gong kebyar dewasa, wanita dan anak-anak duta Kabupaten Jembrana di ajang PKB 2025 di Stage Terbuka Jagatnatha Jembrana.

Gong Kebyar Duta Kecamatan Melaya, pentas tangga 27 Agustus 2025 pukul 17.00 wita di Desa Adat Ekasari | Foto: Koleksi I Putu Angga Epri Adhi

Pada tanggal 28 Agustus diadakan pementasan ulang gong kebyar anak-anak dan wanita duta Kabupaten Jembrana pada PKB 2025. Sedangkan pada keesokan harinya pada tanggal 29 Agustus diadakan pementasan tunggal gong kebyar dewasa duta Kabupaten Jembrana. Ini tujuannya apa?

Jika tujuannya adalah memperpanjang hiburan rakyat, maka lebih baik jadwal lomba gong kebyar dan baleganjurnya ditata ulang. Dengan mengubah sistem pementasan gong kebyar dari pentas di kecamatan masing-masing ke format mebarung, maka akan mendapatkan enam hari pementasan di Pura Jagatnata. Satu hari lomba baleganjur ngarap, dua hari lomba baleganjur SD dan SMP, tiga hari lomba gong kebyar (lima kecamatan di tambah satu pendamping).

Jika tujuannya adalah untuk menampilkan ke masyarakat bahwa “Inilah gong kebyar duta Kabupaten Jembrana yang tampil di Pesta Kesenian Bali lalu”, maka ini adalah hal yang mubazir. Jika ingin menampilkan duta Kabupaten Jembrana yang akan berkiprah di ajang PKB, maka berikan support anggaran untuk mengadakan uji coba di Stage Jagatnatha sebelum pentas di Arda Candra, Art Center Denpasar.

Dengan mempertimbangkan dua hal di atas, maka saya rasa dana yang dikucurkan untuk membiayai acara pementasan ulang duta gong kebyar dewasa, anak-anak dan wanita di Stage Pura Jagatnatha bisa dialokasikan ke sesuatu yang lebih tepat guna.

Misalnya, pertama, penambahan honorarium juri, karna hari pementasan dari empat hari menjadi enam hari atau karna menggunakan dua kelompok juri.

Kedua, pemberian support dana kepada kelima sekaa gong kebyar duta kecamatan masing-masing untuk biaya akomodasi pentas mebarung di Jagatnatha dan satu pendamping. Pendamping bisa diambil dari Gong Kebyar duta kabupaten Jembrana yang tampil di PKB sebelumnya.

Ketiga, pemberian support dana kepada STT yang mengikuti lomba baleganjur ngarap.

Keempat, memaksimalkan fasilitas pementasan seperti Sound System di Stage Jagatnatha agar benar-benar memadai untuk melaksanakan skema pentas mebarung  gong kebyar duta lima kecamatan.

Keempat opsi di atas adalah opsi yang bisa dipilih salah satu sesuai dengan pertimbangan sekala prioritas.

Penampilan salah satu SMP pada ajang lomba baleganjur tingkat SD dan SMP se-Jembrana

***

Baiklah, saya rasa empat catatan diatas bisa kita jadikan bahan evaluasi dan pertimbangan ke depannya bagi pihak yang bertugas dan berwenang dalam menyelenggarakan acara ini. Catatan catatan ini murni sebuah aspirasi dari masyarakat pelaku dan pecinta seni di Jembrana, tidak ada maksud lain selain itu.

Dan yang terpenting adalah, bagaimana agar ekosistem berkesenian di Jembrana ke depannya semakin baik dan berkembang. Tidak hanya dari sisi pelakunya namun berkembang dan lebih baik dari sisi birokrat yang menaunginya juga. [T]

Penulis: I Putu Adi Putra Kencana
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis I PUTU ADI PUTRA KENCANA
Tags: baleganjurgong kebyarHUT Kota Negarakabupaten jembranakesenian balilomba baleganjur
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melihat Bali sebagai Bagian

Next Post

Pro-Kontra Fotografer “fotoyou” di CFD Renon: Antara Dokumentasi Olahraga dan Perlindungan Privasi

I Putu Adi Putra Kencana

I Putu Adi Putra Kencana

Biasa dipanggil dengan nama “Somat”. Lahir pada 29 Desember 1994 di Mengenuanyar, Jembrana Bali. Somat merupakan seorang seniman, komposer, pengajar tabuh yang berasal dari Jembrana. Ia mulai mengenal dunia megambel semenjak duduk di bangku SMP dan rutin mendapat kesempatan sebagai penabuh pada ajang PKB. Somat menimba ilmu di ISI Denpasar pada tahun 2013 dan berhasil mendapatkan gelar sarjananya ditahun 2017 dengan karya tugas akhir Sewagati. Selain bergelut di dunia seni, keseharian somat sekarang juga bekerja di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng sebagai Penyuluh Agama Hindu.

Related Posts

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
0
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

Read moreDetails

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
0
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

Read moreDetails

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails
Next Post
Pro-Kontra Fotografer “fotoyou” di CFD Renon: Antara Dokumentasi Olahraga dan Perlindungan Privasi

Pro-Kontra Fotografer "fotoyou" di CFD Renon: Antara Dokumentasi Olahraga dan Perlindungan Privasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co