25 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Empat Catatan untuk Lomba Gong Kebyar Dewasa, Baleganjur Ngarap, dan Baleganjur Kreasi HUT ke-130 Kota Negara

I Putu Adi Putra Kencana by I Putu Adi Putra Kencana
September 2, 2025
in Esai
Empat Catatan untuk Lomba Gong Kebyar Dewasa, Baleganjur Ngarap, dan Baleganjur Kreasi HUT ke-130 Kota Negara

Catatan Lomba Gong Kebyar Dewasa, Baleganjur Ngarap, dan Baleganjur Kreasi HUT ke-130 Kota Negara

Gambaran umum tentang situasi HUT Kota Negara ke-130

SEPERTI biasa, dalam rangka memperingati HUT Kota Negara dan bulan kemerdekaan Republik Indonesia, Pemerintah Kabupaten Jembrana selama satu bulan di bulan Agustus mengadakan beberapa perlombaan dan hiburan-hiburan rakyat.

Hiburan-hiburan rakyat yang saya maksud misalnya seperti beberapa konser musik dan pentas seni. Hiburan-hiburan rakyat ini dipusatkan di Gedung Kesenian Bung Karno atau yang lebih dikenal dengan Twin Tower Jembrana,dan ada juga hiburan yang tampil di stage terbuka Pura Jagatnatha Jembrana.

Selain ada hiburan-hiburan rakyat seperti yang saya bilang tadi, ada juga perlombaan. Oh, ya, ada pameran UMKM juga. Mulai dari pameran lukisan, pakaian adat Bali, accesoris, stand photo booth, pisau Bali, stand kuliner dan lain-lain. Mereka, pelaku UMKM tidak hanya berasal dari Jembrana saja, namun berasal dari luar Kabupaten Jembrana, misalnya dari Gianyar dan Klungkung.

Ada beberapa perlombaan yang diadakan dalam serangkaian memperingati HUT ke-130 Kota Negara antara lain lomba gerak jalan tingkat SD, SMP, SMA/SMK, dan Intansi, serta ada beberapa perlombaan dari cabang seni seperti lomba gong kebyar antar kecamatan, baleganjur ngarap antar STT se-Jembrana, lomba baleganjur tingkat SD dan SMP se-Jembrana.

Gong Kebyar Duta Kecamatan Negara, pentas tanggal 24 Agustus 2025 pukul 15.00 wita di Desa Baluk | Foto: koleksi pribadi I Putu Suardana

Yang patut kita bersama syukuri adalah, seluruh rangkaian perayaan HUT Kota Negara berjalan lancar tanpa ada hal-hal yang membuat keruh suasana. Namun begitu, ada beberapa hal yang patut kita jadikan catatan sebagai bahan pertimbangan dan evaluasi di tahun-tahun selanjutnya.

Kali ini ada beberapa catatan yang perlu kita cermati bersama, kususnya terkait dengan perlombaan gong kebyar, baleganjur ngarap, dan baleganjur tingkat SD dan SMP.  

Catatan yang pertama

Kembalikan sistem perlombaan gong kebyar dari pentas di tempat masing-masing ke pentas mebarung (pentas saling berhadapan di satu tempat yang sama).

Sejak gong kebyar dilombakan secara bergilir per kategori setiap tahunnya, mulai tahun 2014, lomba gong kebyar dipentaskan dengan format mebarung di stage terbuka Pura Jagatnata Jembrana. Maksud saya, dipentaskan secara bergilir adalah, misalnya di tahun 2014 kategori gong kebyar yang dilombakan adalah gong kebyar dewasa, maka di tahun selanjutnya yang dilombakan adalah gong kebyar anak-anak, dan tahun selanjutnya gong kebyar wanita.

Sistem seperti ini berjalan lancar sampai pada akhirnya Covid 19 melanda dunia. Sempat terhenti pada tahun 2020 dan 2021 karena sosial distancing akibat wabah Covid 19. Pada tahun 2022 lomba gong kebyar diadakan lagi dengan format pementasan di kecamatan masing-masing.

Pada tahun 2022 itu, masih bisa diterima lomba gong kebyar dipentaskan di kecamatan masing-masing dengan dasar stabilitas anggaran pasca gempuran wabah Covid 19. Namun di tahun berikutnya, yakni tahun 2023 hingga sekarang 2025, saya kira format pentas di kecamatan masing-masing perlu ditinjau ulang.

Gong Kebyar Duta Kecamatan Mendoyo, pentas tangga 25 Agustus 2025 pukul 15.00 wita di Desa Pohsanten

Ada beberapa alasan perlunya peninjauan ulang format pentas di tempat masing-masing lomba gong kebyar antar kecamatan di Jembrana.

Pertama:

Penilaian menjadi tidak efektif, karena juri harus keliling mengunjungi tempat pementasan satu ke yang lainnya dan di hari yang berbeda pula. Mengutip dari pendapat Lila Davachi (profesor ilmu saraf dari Colombia University), memori atau otak manusia tidak dirancang untuk mengingat semua hal dengan sempurna.

Jika ada informasi yang serupa, otak manusia hanya merangkum pola umumnya bukan semua detailnya. Dengan dalil tersebut, maka sudah jelas membuat kinerja juri menjadi lebih berat untuk membandingkan karya satu dan yang lainnya.  

Sebagai gambaran, Kabupaten Jembrana terdiri dari lima kecamatan. Biasanya lomba gong kebyar dengan format ini diadakan empat hari. Satu hari satu kontingen, di hari terakhir dua kontingen, pentas di kecamatan masing-masing.

Kedua:

Faktor akustik ruang. Dalam pentas seni karawitan Bali, dalam hal ini gong kebyar, akustik ruang menjadi salah satu penentu dan pembeda. Karena pentasnya di tempat yang berbeda, otomatis akustik ruangnya juga berbeda.

Akustik ruang merupakan salah satu andil yang mempengaruhi jelas atau tidak jelasnya suara gamelan yang dihasilkan. Selain itu juga, dari segi rasa, membawakan gending dengan akustik ruang yang berbeda, tentu rasanya juga berbeda.

Ketiga:

“Perang mental”. Berdasarkan hasil obrolan singkat dengan I Wayan Banda (juri lomba gong kebyar HUT Kota Negara empat tahun terakhir) melalui WA, Banda mengatakan bahwa idealnya lomba gong kebyar dipentaskan dengan format mebarung.  

Karena dengan format mebarung, di sana akan terjadi “perang mental”. Dalam hal seperti ini, mental menjadi faktor yang menentukan penampilan masing-masing sekaa. Bisa jadi sekaa yang teknik bermainnya bagus, ketika mebarung bermain sangat buruk akibat mentalnya buruk.

Keempat:

Menurunnya gairah lomba gong kebyar. Dengan kucuran dana yang sudah tentu lebih besar dari lomba baleganjur ngarap dan kreasi, sepertinya lomba gong kebyar dengan format seperti ini tidak menggairahkan sama sekali.

Dengan format pentas di masing masing kecamatan, cenderung ajang lomba gong kebyar hanya bisa dinikmati oleh masyarakat sekitar saja. Salah satu penyebabnya adalah tempat pentas yang tidak memadai untuk menampung masyarakat yang lebih banyak.

Kelima:

Masing-masing sekaa bermain lebih payah. Dengan format pentas sendiri-sendiri, mau tak mau memaksa masing-masing sekaa memainkan tiga materi secara maraton. Tidak ada jeda antara materi satu dan yang selanjutnya.

Ini bisa saja menyebabkan kualitas membawakan materi yang kedua dan ketiga menjadi tidak maksimal akibat tidak mendapatkan waktu yang cukup untuk meregangkan otot pergelangan tangan.

Keenam:

Jika alasan pentas di kecamatan masing-masing adalah untuk menghemat anggaran, saya kira bisa kita pikirkan ulang. Meskipun tidak ada keharusan sekaa/penabuh mengenakan kostum pentas yang seperti biasa kita lihat diajang Pesta Kesenian Bali, faktanya semua sekaa menyewa kostum dan tata rias yang sedemikian rupa. Walaupun seadanya, tetap saja sewa kostum dan tata rias itu memerlukan biaya.

Maka, sebaiknya alokasi anggaran untuk sewa kostum dan sejenisnya bisa dianggarkan untuk biaya akomodasi pentas mebarung di Jagatnatha. Dan wajibkan kepada seluruh duta kecamatan untuk mengenakan kostum ke pura tanpa tata rias yang berarti.

Lagi pula, tidak ada spektrum penilaian kostum dan tata rias. Meskipun ada spektrum penilaian penampilan, penampilan yang dimaksud adalah bagaimana para penabuh tersebut membawakan dan menyajikan gending dengan baik.

Catatan yang kedua.

Jadwal pementasan yang terlalu krodit.

Sebagai gambaran singkat, saya akan jelaskan dulu jadwal pementasannya.

Pementasan dimulai dari tanggal 24 Agustus 2025 pukul 15.00 Wita yakni penampilan gong kebyar dewasa duta Kecamatan Negara, pentas di Desa Baluk. Kemudian berlanjut di hari yang sama pukul 19.00 Wita, juri dan peserta harus sudah siap di stage terbuka Pura Jagatnatha untuk mengikuti lomba baleganjur ngarap yang diikuti 10 sekaa.

25 Agustus 2025, gong kebyar dewasa duta Kecamatan Mendoyo di Desa Pohsanten pukul 15.00 Wita. Lomba baleganjur tingkat SMP di Stage Pura Jagatnatha pukul 19.00 Wita yang diikuti 13 peserta.

26 Agustus 2025, gong kebyar dewasa duta Kecamatan Jembrana pukul 15.00 Wita di wantilan Pura Puseh Dauhwaru. Lomba baleganjur tingkat SD dan SMP pukul 19.00 Wita di Stage Jagatnatha. Baleganjur SD 10 peserta, SMP 4 peserta, total 14 peserta.

27 Agustus 2025, gong kebyar duta Kecamatan Pekutatan di Desa Asahduren pukul 14.00 wita, kemudian pukul 17.00 Wita tampil gong kebyar duta Kecamatan Melaya di Desa Ekasari.

Gong Kebyar Duta Kecamatan Jembrana, pentas tanggal 26 Agustus 2025 pukul 15.00 wita di Kelurahan Dauhwaru

Dengan melihat jadwal pementasan yang seperti itu, sekali lagi membuat kinerja para juri relatif lebih ekstra. Banda sendiri mengatakan bahwa mereka (Banda, Monot dan Mang Adi – maaf, saya gunakan nama populer mereka), mereka bertiga sebagai juri HUT Kota Negara ini  agak sedikit kebingungan dalam membahas hasil penampilan masing-masing sekaa. Karena sorenya gong kebyar, malamnya tiba-tiba baleganjur. Dua jenis karawitan Bali yang berbeda.

Kembali ke pernyataan Prof. Lila Davachi, memori manusia tidak dirancang untuk mengingat semua hal secara detail. Sadar atau tak sadar, akan sangat susah mengingat atau membandingkan bagaimana penampilan sekaa yang sekarang dengan penampilan sekaa yang kemarin, dua hari lalu bahkan tiga hari lalu.

Apa yang saya katakan di sini sama sekali tidak bermaksud untuk meremehkan dan merendahkan kredibilitas juri. Banda, Monot dan Mang Adi adalah pelaku seni dan kreator seni yang mumpuni di bidangnya dan telah menjuri di berbagai ajang dan tempat di Bali.

Banda dan Monot adalah komposer muda ternama di Bali, kiprahnya di kancah seni karawitan Bali tidak usah diragukan lagi. Banyak karya-karya hits  dan populer yang lahir dari ide-ide kreatif mereka. Demikian pula Mang Adi, ia adalah salah satu koreografer handal di Bali. Jadi apa yang saya katakan di sini adalah murni untuk mempermudah kinerja juri, siapapun nanti ke depannya.

Gong Kebyar Duta Kecamatan Pekutatan, pentas tangga 27 Agustus 2025 pukul 14.00 wita di Desa Adat Asahduren | Foto: Koleksi pribadi I Kadek Prayoga Adi Astawa

Selain itu juga, jadwal yang seperti ini membuat krodit para pelaku dan seniman yang terlibat. Krodit yang saya maksud adalah, misalnya ada seniman yang terlibat sebagai duta gong kebyar kecamatan dan terlibat pula di baleganjur SD maupun SMP serta baleganjur ngarap.

Jadi, sorenya pentas gong kebyar di kecamatan masing-masing, berselang dua atau tiga jam sudah harus berada di Pura Jagatnatha. Meskipun bisa dikondisikan dengan baik, namun hal-hal semacam ini perlu juga menjadi pertimbangan.

Catatan yang ketiga

Pertimbangkan menggunakan dua kelompok juri.

Catatan yang ketiga ini hanyalah optional saja. Jika catatan yang pertama dan kedua tidak bisa dipertimbangkan, maka catatan yang ketiga ini bisa menjadi opsi selanjutnya.

Artinya jika pentas gong kebyar harus di kecamatan masing-masing dan jadwal pementasan tetap seperti itu, maka lebih baik menggunakan dua kelompok juri. Satu kelompok juri fokus pada penilaian gong kebyar, satu kelompok juri lagi fokus pada penilaian beberapa kategori baleganjur. Dengan demikian juri lebih fokus dan maksimal dalam mengamati seluruh penampilan dari masing-masing peserta.

Catatan keempat

Mempertanyakan maksud pementasan ulang gong kebyar dewasa, wanita dan anak-anak duta Kabupaten Jembrana di ajang PKB 2025 di Stage Terbuka Jagatnatha Jembrana.

Gong Kebyar Duta Kecamatan Melaya, pentas tangga 27 Agustus 2025 pukul 17.00 wita di Desa Adat Ekasari | Foto: Koleksi I Putu Angga Epri Adhi

Pada tanggal 28 Agustus diadakan pementasan ulang gong kebyar anak-anak dan wanita duta Kabupaten Jembrana pada PKB 2025. Sedangkan pada keesokan harinya pada tanggal 29 Agustus diadakan pementasan tunggal gong kebyar dewasa duta Kabupaten Jembrana. Ini tujuannya apa?

Jika tujuannya adalah memperpanjang hiburan rakyat, maka lebih baik jadwal lomba gong kebyar dan baleganjurnya ditata ulang. Dengan mengubah sistem pementasan gong kebyar dari pentas di kecamatan masing-masing ke format mebarung, maka akan mendapatkan enam hari pementasan di Pura Jagatnata. Satu hari lomba baleganjur ngarap, dua hari lomba baleganjur SD dan SMP, tiga hari lomba gong kebyar (lima kecamatan di tambah satu pendamping).

Jika tujuannya adalah untuk menampilkan ke masyarakat bahwa “Inilah gong kebyar duta Kabupaten Jembrana yang tampil di Pesta Kesenian Bali lalu”, maka ini adalah hal yang mubazir. Jika ingin menampilkan duta Kabupaten Jembrana yang akan berkiprah di ajang PKB, maka berikan support anggaran untuk mengadakan uji coba di Stage Jagatnatha sebelum pentas di Arda Candra, Art Center Denpasar.

Dengan mempertimbangkan dua hal di atas, maka saya rasa dana yang dikucurkan untuk membiayai acara pementasan ulang duta gong kebyar dewasa, anak-anak dan wanita di Stage Pura Jagatnatha bisa dialokasikan ke sesuatu yang lebih tepat guna.

Misalnya, pertama, penambahan honorarium juri, karna hari pementasan dari empat hari menjadi enam hari atau karna menggunakan dua kelompok juri.

Kedua, pemberian support dana kepada kelima sekaa gong kebyar duta kecamatan masing-masing untuk biaya akomodasi pentas mebarung di Jagatnatha dan satu pendamping. Pendamping bisa diambil dari Gong Kebyar duta kabupaten Jembrana yang tampil di PKB sebelumnya.

Ketiga, pemberian support dana kepada STT yang mengikuti lomba baleganjur ngarap.

Keempat, memaksimalkan fasilitas pementasan seperti Sound System di Stage Jagatnatha agar benar-benar memadai untuk melaksanakan skema pentas mebarung  gong kebyar duta lima kecamatan.

Keempat opsi di atas adalah opsi yang bisa dipilih salah satu sesuai dengan pertimbangan sekala prioritas.

Penampilan salah satu SMP pada ajang lomba baleganjur tingkat SD dan SMP se-Jembrana

***

Baiklah, saya rasa empat catatan diatas bisa kita jadikan bahan evaluasi dan pertimbangan ke depannya bagi pihak yang bertugas dan berwenang dalam menyelenggarakan acara ini. Catatan catatan ini murni sebuah aspirasi dari masyarakat pelaku dan pecinta seni di Jembrana, tidak ada maksud lain selain itu.

Dan yang terpenting adalah, bagaimana agar ekosistem berkesenian di Jembrana ke depannya semakin baik dan berkembang. Tidak hanya dari sisi pelakunya namun berkembang dan lebih baik dari sisi birokrat yang menaunginya juga. [T]

Penulis: I Putu Adi Putra Kencana
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis I PUTU ADI PUTRA KENCANA
Tags: baleganjurgong kebyarHUT Kota Negarakabupaten jembranakesenian balilomba baleganjur
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melihat Bali sebagai Bagian

Next Post

Pro-Kontra Fotografer “fotoyou” di CFD Renon: Antara Dokumentasi Olahraga dan Perlindungan Privasi

I Putu Adi Putra Kencana

I Putu Adi Putra Kencana

Biasa dipanggil dengan nama “Somat”. Lahir pada 29 Desember 1994 di Mengenuanyar, Jembrana Bali. Somat merupakan seorang seniman, komposer, pengajar tabuh yang berasal dari Jembrana. Ia mulai mengenal dunia megambel semenjak duduk di bangku SMP dan rutin mendapat kesempatan sebagai penabuh pada ajang PKB. Somat menimba ilmu di ISI Denpasar pada tahun 2013 dan berhasil mendapatkan gelar sarjananya ditahun 2017 dengan karya tugas akhir Sewagati. Selain bergelut di dunia seni, keseharian somat sekarang juga bekerja di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng sebagai Penyuluh Agama Hindu.

Related Posts

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails
Next Post
Pro-Kontra Fotografer “fotoyou” di CFD Renon: Antara Dokumentasi Olahraga dan Perlindungan Privasi

Pro-Kontra Fotografer "fotoyou" di CFD Renon: Antara Dokumentasi Olahraga dan Perlindungan Privasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co