4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melihat Bali sebagai Bagian

Agus Wiratama by Agus Wiratama
September 2, 2025
in Esai
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Agus Wiratama || Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

SESAK rasanya ketika membaca komentar teman-teman Bali yang mengatakan bahwa pendemo adalah orang luar Bali: “Mereka mengacaukan kedamaian Bali!” Grudug menggerutu di layar ponselnya melihat ungkapan itu. “Aku tidak paham, kedamaian seperti apa yang mesti dijaga dalam kondisi seperti sekarang,” kata Grudug sambil menghisap sebatang rokok dalam-dalam dan melihat langit yang tiba-tiba mendung.

Sejak beberapa bulan lalu Grudug ingin mengumpat. Ia mendengar cerita dari saudaranya yang tinggal di kampung. Untuk mencapai rumahnya, anda harus melewati jalan gelap yang panjang (orang Bali menyebutnya bengang). Ada beberapa bengangdan pada salah satu bengang itu, terdapat sungai berbibir curam di pinggir jalan. Tapi sungai itu ditutupi rimbun semak dan pohon kelapa. Di sana sempat ditemukan mayat dengan kondisi leher yang hampir putus.

Warga desa di kampung Grudug banyak yang bekerja sebagai pelaku pariwisata. Tentu pekerjaan itu kadang menuntut mereka untuk pulang malam. Bahkan tengah malam. Situasi seperti itu membuat banyak orang tua khawatir. Maka, pada malam hari di ujung jalan desa, banyak orang tua, suami, kakak, atau adik, memarkir motor, melihat ke arah jalan.

Bagi orang yang tak tahu, mereka akan dianggap sebagai preman nongkrong. Padahal, mereka menunggu keluarga yang baru selesai bekerja. Hal itu mereka lakukan karena khawatir keluarganya mesti melewati bengang itu malam-malam dan sendiri-sendiri. Situasi ini tak berubah, bahkan bertambah parah. Jalan kian hancur, penerangan jalan tetap minim, dan jembatan utama putus!

Saudara Grudug pun sempat bercerita soal jalan di kampungnya. “Ada kabar baik!” kata saudara Grudug. Gambar itu begitu jelas di kepala Grudug. Ia ingat mata saudaranya yang berbinar, tangannya mengayun-ayun seolah mempertegas kebahagiaan itu.

Katanya, jalan di kampung akan diperbaiki. Grudug senang, tapi informasi selanjutnya membuat ia jengkel. Jalan di desanya akan diperbaiki karena resort besar yang berdiri di kampung menyumbang pajak yang besar. Bahkan ketika pandemi, penghasilan resort itu tak menurun. Tentu saja Grudug tidak tahu benar-tidaknya informasi itu.

“Jika demikian adanya,” pikir Grudug, “Tentu saya bukan jengkel karena perbaikan jalan itu tak pernah rampung, tapi karena alasan busuk di baliknya: penyumbang pajak terbesar.” Statement tersebut membuat Grudug merasa bahwa warga dipaksa untuk memperoleh prestasi terlebih dahulu agar bisa mengakses hak.

“Padahal, kita tak pernah tahu prestasi dari pejabat yang mengambil keputusan itu. Hmmm.”

Grudug menarik napas panjang. Pikirannya berkeliling. Tahun lalu jembatan penghubung utama–tepat di belakang tempat orang tua atau sanak keluarga yang nongkrong untuk menunggu keluarga pulang kerja itu jebol. Putus. Ambruk. Ada dua akses lain: satu begitu jauh dan memutar, satu lagi situasinya lebih parah: gelap dan jalanan seperti sungai yang tiba-tiba kering. Beberapa hari ini kemarahan-kemarahan yang merembet, memantik Grudug untuk mengingat situasi itu.

“Hak publik ini, mesti diakses dengan syarat. Kadang, ada aroma politik di dalamnya.” Grudug bukan pemikir, ia hanya pengingat. Sialnya, dia hanya pengingat omongan orang lain. Grudug pun ingat kata saudaranya soal fasilitas itu.

“Desa A bukan pemilih Bupati yang sedang menjabat, maka jalanan di desa itu tak pernah diperbaiki,” kata saudara Grudug.

Jika benar demikian, tentu Grudug menjadi lebih jengkel. Seolah pemimpin yang dipilih langsung oleh warga, tiba-tiba menjadi raja yang kekuasaanya tak terbatas, bahkan melebihi leluhur yang ruhnya telah disucikan. Sialnya, ini menunjukan bahwa pemegang otoritas senang bermain-main dengan kerentanan warga.

“Tak lain tak bukan, orang yang bermain-main dengan kerentanan orang adalah penjahat-keparat!” kata Grudug. “Semoga cerita saudara saya ini fiktif,” lanjut Grudug. Lalu ia rebah. Lalu ia tertidur.

***

Saat ini, pajak naik mencekik–bahkan kata-kata klise ini sesungguhnya Grudug hindari. Tapi rasanya begitulah adanya. Pemerintah kota asal Grudug tak mau ketinggalan soal ini. Kebijakan ini barangkali efek domino dari program ambisius pemerintah pusat yang akhirnya mengambil jalur penghematan anggaran.

Semua orang merasakan cekikan ini, semua orang marah, dan ditengah-tengah situasi ini, tunjangan DPR naik drastis. Anggota DPR pun berjoget-joget, sementara sisanya, mengambil tugas lain: membodoh-bodohi pengkritik–untuk tidak menyebut rakyat. Singkat cerita, masyarakat marah, demo, dan seorang ojek online bernama Affan Kurniawan digilas mobil polisi hingga meninggal.

Grudug tak bisa benar-benar tidur dalam kecamuk situasi belakangan ini. Instagram, facebook, Twitter (X), bahkan tiktok hanya berisi kabar buruk. Semua informasi itu melintas bagai hantu dalam kepala Grudug.

“Affan bisa jadi saya. Ia bisa jadi siapa saja. Kita ditatap sebagai objek tak berharga–benda yang tak ada bedanya dengan marka jalan, serpihan kaca, atau ban dalam mobil. Affan kini menjelma api yang berkobar pada setiap hati orang karena ia telah menunjukan pada kita bagaimana cara aparat dan pejabat memposisikan warganya.”

Ah… Grudug begitu gelisahnya. Ia membuka sosmed walaupun ia tahu semua yang ia dapati hanyalah kabar buruk.

***

Sebagian besar orang Bali, juga tetangga di kampung Grudug, bekerja sebagai pegawai hotel, pemandu wisata, sopir, pelaku usaha travel; banyak juga saudara Grudug bekerja sebagai buruh pabrik, pekerja proyek bangunan, guru, bahkan sebagai polisi/tentara. Semua pekerja ini adalah pekerjaan yang kena dampak dari situasi negara hari ini. Grudug merasa bahwa pemerintah mengambil kebijakan atas pajak seperti preman yang memungut uang keamanan di pasar-pasar.

Grudug pun tak tahan. Ia mulai menulis status yang begitu panjang di Facebook, menyebarnya di X, meng-capture-nya untuk Instagram. Status itu adalah sebagai berikut:

Pendemo adalah mereka yang memprotes situasi ini. Jika kebijakan bergeser, semua lini pekerjaan akan kena dampaknya. Bali tidak harus selalu kita “solek”, kita percantik, atau kita tutup-tutupi borok-boroknya. Bali terlalu sakit dalam situasi hari ini. Pariwisata tercekik karena uang tak berputar, guru yang gajinya sama dengan satu hari gaji DPR–bahkan banyak guru/dosen yang mendapat gaji di bawah 1 juta–bisa-bisanya dianggap beban. Kita mulai bertanya-tanya “ke mana uang kita setelah membayar pajak?”

Kita sudah dicekik oleh preman-preman ini tapi kita selalu mengatakan “Jangan bikin ulah (baca:Demo) di Bali. Apa yang ingin kita tutupi lagi? Saya paham orang Bali hidup dalam pusaran ekonomi pariwisata, saya paham Bali adalah pulau surga sehingga tak punya waktu untuk memikirkan situasi sosial-politik kita hari ini, saya paham bahwa keributan akan berdampak pada pariwisata. Tapi kenapa kita mesti sibuk memikirkan cara menutupi kenyataan kita sendiri? Demo adalah salah satu cara kita untuk berwarga; adalah usaha mengembalikan kebijakan menjadi lebih berpihak pada kita, sehingga kita tak dijerat, diperah, dan tidak diposisikan sebagai pekerja yang diperlakukan layaknya kerbau yang cukup dikasih makan rumput.

Sesekali, lihatlah Jakarta. Khususnya kawasan Bundaran HI. Barangkali dalam radius 1-2 km anda akan melihat kemegahan kota. Gedung-gedung tinggi yang bersih, indah, variatif; lingkungan hijau tertata, kabel rapi tak seperti di Denpasar, jembatan penyeberangan, angkutan umum yang layak dan sebagainya. “Wilayah ini seperti kota impian” kata teman saya. Tapi, saya membayangkan uang kita dari Bali bertumpuk di sana: Sawah yang menjadi hotel–pajaknya ke Jakarta, kebun yang menjadi resort–pajaknya ke Jakarta, bahkan motor kita yang butut–pajaknya ke Jakarta. Ada banyak gedung yang bukan milik pemerintah di sana, tapi isinya adalah perusahaan-perusahaan tertentu yang barangnya dijual pada kita: kita hanyalah pekerja yang disusupi iklan, kemudian membeli barang-barang yang dikelola dari gedung-gedung mewah itu. Bekerja untuk belanja. Terdengar mirip dengan dikasih rumput untuk diperah.

Saya berharap anda sesekali melihat bill jika membeli makan, membeli sabun mandi, membeli minyak, dan lain-lain. Adakah tulisan “tax” di sana? Jika ada, terima kasih anda sudah menyumbang untuk … (entah siapa), bukan untuk fasilitas kita. Dan, dalam konteks ini, bagaimana kita bisa memisahkan peristiwa di Jakarta dan Bali? Saya sebal melihat komentar seperti ini: “Itu kejadian di Jakarta, kenapa di Bali heboh?” Tentu orang-orang seperti ini lupa bahwa Bali tidak berdiri sendiri. Bali bukan negara. Bahkan, sekelas Daerah Istimewa Yogyakarta pun merasakan cekikan ini. Anggaran Dana Istimewa dipotong! Itu daerah istimewa. Bali yang bukan Daerah Istimewa bagaimana?

Bali tidak kedap dari situasi politik-ekonomi hari ini. Bali tetap terimbas kebijakan pemerintah di Jakarta. Bali–walaupun menyumbang banyak dari penghasilan pariwisata–tetaplah bagian dari Indonesia seperti Madura, Flores, Kupang, Ambon, Papua, Kalimantan, Sulawesi, Aceh, Bandung, dan lain sebagainya yang terhubung dengan Jakarta.

Bali tak mesti selalu disolek, Bali tak mesti selalu malu memperlihatkan borok. Hari ini, barangkali masih ada orang yang mesti membayar lebih untuk mendapat izin tertentu, melamar pekerjaan tertentu, dan sebagainya. Benarkah kita baik-baik saja dan mesti “Damai” dalam artian diam saja?

Jika Negara ini sakit, maka Bali juga sakit!

***

Status itu pun beres. Tapi itu lebih mirip gerutuan daripada refleksi. Ya… Grudug tak pandai berefleksi. Ia lebih pandai menggerutu, maka ia menggerutu. Biarkan saja begitu. Barangkali dengan begitu, tidurnya bisa lelap malam ini. [T]

Penulis: Agus Wiratama
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AGUS WIRATAMA
Tags: balidemonstrasiIndonesiaorang bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pecalang, Penjaga Denyut Harmoni Bali

Next Post

Empat Catatan untuk Lomba Gong Kebyar Dewasa, Baleganjur Ngarap, dan Baleganjur Kreasi HUT ke-130 Kota Negara

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
Empat Catatan untuk Lomba Gong Kebyar Dewasa, Baleganjur Ngarap, dan Baleganjur Kreasi HUT ke-130 Kota Negara

Empat Catatan untuk Lomba Gong Kebyar Dewasa, Baleganjur Ngarap, dan Baleganjur Kreasi HUT ke-130 Kota Negara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co