3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pecalang, Penjaga Denyut Harmoni Bali

Arief Rahzen by Arief Rahzen
September 2, 2025
in Esai
Pecalang, Penjaga Denyut Harmoni Bali

Ilustrasi tatkala.co

SENIN siang itu, 1 September 2025, langit Lapangan Puputan Niti Mandala Renon, Denpasar menjadi saksi pekik damai di Bali. Peristiwa yang menggetarkan. Ribuan sosok tegap berbalut busana adat memadati lapangan, mengubahnya menjadi lautan manusia yang memancarkan aura tegas sekaligus teduh. Mereka adalah para pecalang, penjaga adat dari seluruh penjuru Bali, yang berkumpul dalam sebuah perhelatan akbar bertajuk “Gelar Agung Pecalang Bali”. Ini adalah konsolidasi jiwa Bali setelah kedamaiannya sempat terusik oleh riak aksi demo dua hari sebelumnya.

Di tengah lautan pecalang itu, Gubernur Bali, Wayan Koster, terdengar lantang serukan: “Pecalang Bali, Bali Aman, Bali Aman, Bali Aman, Merdeka!” Gema pekik itu disambut serempak oleh ribuan suara, menciptakan sebuah simfoni komitmen yang membahana. Peristiwa ini merupakan manifestasi dari kesadaran kolektif, dan penegasan kembali identitas. Juga pernyataan bahwa di Bali, harmoni harus jadi napas kehidupan itu sendiri.

Secara sederhana, pecalang sering diterjemahkan sebagai “petugas keamanan adat”. Namun, Pecalang jelas punya peran lebih dari itu. Mereka bukan polisi dalam pengertian modern. Otoritas mereka tidak berasal dari undang-undang negara atau senjata yang terselip di pinggang. Ketua Majelis Desa Adat (MDA) Bali, Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet, menyampaikan kekuatan pecalang terletak pada “ketegasan ucapan” yang dihormati sejak dahulu kala.

Akar kekuatan ini tertanam dalam konsep ngayah, konsep pengabdian tulus tanpa pamrih kepada desa adat, masyarakat, dan Yang Maha Esa. Seorang pecalang menjalankan sebuah dharma, sebuah kewajiban suci. Setiap pecalang dipilih komunitas karena integritas, kebijaksanaan, dan pemahaman mendalam tentang hukum adat dan tradisi. Oleh karena itu, tindak pecalang mewakili suara kolektif dari desa adat itu sendiri. Rasa hormat dan kepatuhan masyarakat muncul bukan karena takut, melainkan karena segan dan pengakuan atas legitimasi moral dan spiritual yang mereka emban.

Peran mereka sangat vital dalam menjaga ritme kehidupan sosial di Bali. Dari mengatur lalu lintas saat upacara keagamaan yang melintasi jalan raya, mengamankan prosesi ngaben (kremasi), hingga menengahi perselisihan antarwarga. Pecalang adalah garda terdepan dalam memastikan semua berjalan sesuai tatanan. Mereka adalah penenun benang-benang harmoni dalam permadani kehidupan komunal Bali yang kompleks. Pecalang memastikan setiap helainya terjalin dengan rapi tanpa ada yang kusut atau putus.

Gelar Agung di Lapangan Puputan menjadi pernyataan sumpah, sebuah janji suci yang diucapkan di hadapan para pemimpin dan disaksikan oleh ribuan saudaranya. Keenam poin tersebut (menolak anarkisme, menjaga Bali sebagai tanah kelahiran, siap membela Bali secara niskala-sekala, mendukung aparat, dan bekerja sama dengan semua pihak) adalah kristalisasi dari nilai-nilai yang dijunjung tinggi. Frasa “membela Bali secara niskala-sekala” menjadi kunci untuk memahami cara pandang mereka. Bagi masyarakat Bali, ketertiban tidak hanya di ranah dunia yang terlihat, sekala), tetapi juga niskala (dunia yang tak terlihat, yang spiritual).

Aksi anarkis dalam unjuk rasa dapat dianggap perusakan fisik (sekala), juga pencemaran terhadap keseimbangan niskala. Aksi yang mengganggu harmoni kosmis Tri Hita Karana. Di  mana aksi tersebut mengganggu keselarasan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam. Oleh sebab itu, respons para pecalang tak sekadar respons mengamankan wilayah, juga upaya pemulihan. Gelar Agung itu sendiri adalah upaya memulihkan ketertiban niskala yang terganggu. Mereka berkumpul untuk membersihkan “gurat” spiritual tersebut. Sekaligus untuk menegaskan komitmen mereka sebagai penjaga keseimbangan holistik ini.

Sinergi Adat dan Negara, Harmoni dalam Tata Kelola

Kehadiran Gubernur, Ketua DPRD, dan jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dalam acara tersebut menunjukkan keunikan tata kelola di Bali. Struktur negara modern dan institusi adat saling bersinergi. Pemerintah daerah secara sadar mengakui pecalang dibutuhkan untuk menjaga Bali, bersama TNI dan Polri. Kedamaian di Bali tidak bisa dipaksakan dengan todongan senjata atau ancaman hukum  saja. Kedamaian itu harus tumbuh dari dalam, dari kesadaran masyarakat yang dijaga dan dirawat oleh institusi adat seperti pecalang.

Pernyataan Ketua DPRD Bali, Dewa “Jack” Mahayadnya, bahwa pecalang tidak perlu membunyikan kulkul bulus (kentongan tanda bahaya) karena mereka sudah terorganisir, menggarisbawahi efektivitas dan kemandirian sistem adat ini. Ini adalah pengakuan bahwa pecalang memiliki mekanisme internal yang solid dan responsif, yang mampu bergerak secara kolektif berdasarkan panggilan tanggung jawab, bukan sekadar perintah formal.

Sinergi ini menjadi modal sosial yang tak ternilai. Sinergi institusi adat dan negara akan membangun sistem keamanan ketertiban yang kokoh. Pecalang pun berperan sebagai komunikator antara masyarakat adat dengan negara. Pecalang dapat meredam potensi konflik sejak dini. Pecalang dapat menyelesaikan potensi konflik dengan persuasif dan kultural, bukan represif.

Kembali ke Gelar Agung Pecalang Bali pada 1 September 2025 lalu. Peristiwa ini tercatat sebagai perayaan keteguhan. Di tengah dunia yang semakin sering diwarnai oleh kekerasan dan polarisasi, Bali, melalui para pecalangnya, menunjukkan jalan lain: jalan ketegasan yang berakar pada kebijaksanaan. Bukan kekuatan. Jalan ketertiban yang lahir dari pengabdian, bukan paksaan.

Pekik “Bali Aman!” yang digemakan di Lapangan Puputan Renon menjadi pesan kuat bagi dunia luar dan pengingat bagi generasi penerus. Pesan itu: Bali tidak hanya terletak pada pesona pantai dan sawahnya, tetapi juga harmoni sosial dan spiritualnya. Dan ekosistem ini memiliki penjaga-penjaga setia yang siap berdiri paling depan untuk melindunginya dari segala bentuk perusakan.

Para pecalang telah menunjukkan bahwa tugas adatnya memiliki tanggung jawab besar. Mereka adalah denyut nadi yang memastikan harmoni terus mengalir di sekujur Pulau Dewata. Selama para pecalang masih berdiri tegak dengan landasan ngayah dan semangat menjaga tatanan sekala-niskala, Bali akan tetap menjadi pulau yang teduh, damai, dan harmonis. [T]

Penulis: Arief Rahzen
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliHindu Balikeamananpecalang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ibu Pertiwi Menangis (Lagi dan Lagi)

Next Post

Melihat Bali sebagai Bagian

Arief Rahzen

Arief Rahzen

Pekerja budaya yang senang berpetualang. Ia juga peminat kajian seni budaya dan perubahan masyarakat di era digital. Sesekali menulis esai, belajar bercerita, dan kurasi aktivitas budaya.. Saat ini bolakbalik di Gianyar, Mataram, dan Jakarta.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Melihat Bali sebagai Bagian

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co