3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ibu Pertiwi Menangis (Lagi dan Lagi)

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
September 2, 2025
in Esai
Ibu Pertiwi Menangis (Lagi dan Lagi)

ilustrasi tatkala.co

Pertengahan Bulan Mei Tahun 1998

Tidak ada awan gelap yang menutupi langit Indonesia. Tidak ada gunung yang meletus. Bukan gempa bumi, bukan banjir, bukan badai topan – kali ini, yang menghancurkan rumahku, kebunku – anak-anakku sendiri.

Di luar sana, mereka masih saja bicara tentang kesatuan dan persatuan. Mereka bicara tentang penguasa yang korup. Mereka bicara tentang reformasi, yang katanya harus total, harus menyeluruh. Mereka bicara tentang demokrasi. Mereka bicara dan bicara serta bicara. Tidak ada yang menoleh ke belakang. Tidak ada yang menegur aku. Tidak ada yang berupaya mendengarkan teriakanku. Tidak ada yang peduli terhadap tangisanku. Tidak ada yang memperhatikan jeritanku. Aku menangisi mereka yang kehilangan pekerjaan – aku menangisi mereka yang dirampok, dijarah, rumah mereka dibakar – aku menangisi mereka yang diperkosa – jiwaku menjerit bagi mereka. Tidak ada yang mendengarkan aku. Akhirnya aku membisu – inilah anak-anak yang kulahirkan dari rahimku. Inilah putra putriku. Merekalah yang kuberikan air susuku selama ini. Aku sedih, hatiku luka. Lebih baik, tadinya aku mandul saja.

Aku ibumu, Ibu Pertiwi – Ibu Indonesia yang selama ini terlupakan oleh anak-anaknya sendiri. Setiap orang sibuk bicara, sibuk memberikan komentar, sibuk mengeluarkan pendapat – tidak seorang pun yang berupaya mendengarkan aku.

Selama ini aku memang membisu, mungkin aku salah. Mungkin aku sudah harus menegur kamu sejak dulu. Mungkin aku terlalu memanjakan kamu. Aku sempat pada suatu ketika ragu, aku masih berharap. Aku masih bertahan padamu. Tetapi, anakku, aku harus bersikap. Aku harus bicara. Aku harus memperingatkanmu.

Sebab pada suatu ketika nanti, kau akan menyadari kebinatanganmu, ketidakwajaranmu, kekonyolanmu. Aku menggugat nuranimu, aku minta pertanggungjawabanmu – sudah cukup lama aku membisu, sudah cukup lama aku memanjakan kalian. Tiba saatnya sekarang, aku harus bersikap tegas. Suaraku harus jelas.

Apabila kau ingin membungkam suaraku, suara ibumu – jangan lupa akan air susuku yang masih mengalir dalam tubuhmu sebagai darah. Aku akan bicara lewat aliran darahmu. Aku akan bicara lewat tulang-tulangmu, lewat otot-otot dan lewat jaringan sarafmu. Kau tidak bisa membungkam aku. Aku telah memutuskan untuk bicara dan kau harus mendengarkannya, kau akan mendengarkannya. Kau tidak dapat mengelakkan, mengabaikan gugatanku!

(Reformasi: Gugatan Seorang “Ibu”, Guruji Anand Krishna, 1998)

SEJARAH bangsa seolah bergerak dalam lingkaran yang sama, hanya berbeda wajah dan waktu. Ibu Pertiwi menangis pada September 1965, saat darah anak bangsa tumpah karena perebutan kuasa yang dibungkus ideologi. Tangisnya berlanjut pada Mei 1998, ketika suara reformasi dibayar dengan korban yang dirampas hak hidupnya: hilang pekerjaan, rumah dibakar, tubuh diperkosa, harga diri diinjak-injak. Kini, di akhir Agustus 2025, tangis itu terdengar lagi—lebih cepat dari siklus sebelumnya.

Air mata Ibu Pertiwi bukan hanya ratapan alam, melainkan jeritan nurani. Ia menangis karena anak-anaknya masih saja terjebak dalam lingkaran kebencian, korupsi, fitnah, dan kekerasan. Dalam bahasa Hawkins, kesadaran kolektif bangsa masih banyak yang bergetar di bawah level 200, yaitu medan energi yang ditandai oleh rasa takut, marah, keserakahan, dan kebencian. Di titik itu, bangsa hidup dalam mode destruktif: mencari kambing hitam, menyalahkan yang lain, dan mengulang pola kekerasan yang seolah diwariskan turun-temurun.

Tragedi 1965 mencerminkan dominasi energi Fear (100) dan Anger (150). Rakyat dicekam ketakutan, lalu diarahkan untuk membenci. Kekerasan pun meledak. Mei 1998 menghadirkan energi serupa: ketakutan akan krisis, kemarahan terhadap penguasa, lalu bermuara pada kerusuhan dan pertumpahan darah. Kini, Agustus 2025, sejarah berulang dengan pola yang semakin singkat. Seakan bangsa ini gagal naik kelas dalam tangga kesadaran.

Namun Hawkins juga memberi harapan: begitu kesadaran kolektif menembus level Courage (200), transformasi mulai mungkin. Di level ini, bangsa berani menghadapi kebenaran, bukan sekadar menyalahkan. Di level Reason (400), bangsa mampu berpikir jernih, tidak larut dalam propaganda. Dan di level Love (500), bangsa hidup dari kasih, bukan kebencian.

Ibu Pertiwi tidak hanya menangis karena luka, ia juga menggugat nurani kita. Suaranya, sebagaimana ditulis Guruji Anand Krishna dalam Reformasi: Gugatan Seorang Ibu, mengalir dalam darah kita. Kita tidak bisa membungkamnya. Pertanyaannya: sampai kapan kita hanya sibuk bicara, berdebat, dan saling tuding, sementara tangisan Ibu tak pernah benar-benar kita dengarkan?

Refleksi ini menuntut keberanian untuk jujur: reformasi 1998 belum selesai, dan kesadaran bangsa belum sepenuhnya bangkit. Jika tragedi selalu berulang, itu pertanda kita masih belajar di kelas yang sama. Kesadaran Hawkins mengajarkan bahwa hanya perubahan batin, dari takut menjadi berani, berani untuk mengubah diri sendiri, dari kesadaran hewani menuju kesadaran insani, lalu perlahan naik menuju kesadaran Ilahi, dari marah menjadi welas asih, yang dapat memutus rantai sejarah berdarah.

Mari kita dengarkan suaraNya, suara Ibu kita untuk terakhir kali:

“Di balik segala macam permasalahan yang sedang kalian hadapi saat ini, ada masalah utama yang terlupakan, krisis moneter bisa diatasi, akan diatasi . Krisis politik bisa diatasi, akan teratasi pula. Tetapi proses reformasi yang kalian harapkan belum terjadi juga. Masalah utama yang kalian hadapi adakah krisis kesadaran. Tanpa kesadaran, tidak akan terjadi reformasi. Dan apa yang harus direformasi? Hanya pemerintahkah? Hanya Dewan Perwakilan Rakyat-kah? Atau seluruh sistem itu yang harus di-reform? Dari mana harus dimulai? Kau harus memulainya dari dirimu sendiri. Anakku, cucuku – kau harus mengubah total dirimu dulu. Setelah itu baru memikirkan orang lain. Kau sendiri masih penuh dengan rasa iri dan cemburu, kau masih egois – kau tidak akan pernah berhasil menyebarkan kasih. Kau sendiri masih belum kenal kasih (Krishna, 1998: 9).

Hari ini, Ibu Pertiwi menangis lagi. Tetapi air matanya bisa kita maknai sebagai panggilan. Apakah kita akan tetap terjebak dalam pusaran rendah kesadaran, ataukah berani melangkah naik menuju cinta dan kebijaksanaan? Pilihan ada pada kita, anak-anaknya. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AGUNG SUDARSA
Tags: ibu pertiwiIndonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sensasi Bonsai di Lapangan Puputan Badung: Bonsai Menyapa Warga Kota

Next Post

Pecalang, Penjaga Denyut Harmoni Bali

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails
Next Post
Pecalang, Penjaga Denyut Harmoni Bali

Pecalang, Penjaga Denyut Harmoni Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co