24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ibu Pertiwi Menangis (Lagi dan Lagi)

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
September 2, 2025
in Esai
Ibu Pertiwi Menangis (Lagi dan Lagi)

ilustrasi tatkala.co

Pertengahan Bulan Mei Tahun 1998

Tidak ada awan gelap yang menutupi langit Indonesia. Tidak ada gunung yang meletus. Bukan gempa bumi, bukan banjir, bukan badai topan – kali ini, yang menghancurkan rumahku, kebunku – anak-anakku sendiri.

Di luar sana, mereka masih saja bicara tentang kesatuan dan persatuan. Mereka bicara tentang penguasa yang korup. Mereka bicara tentang reformasi, yang katanya harus total, harus menyeluruh. Mereka bicara tentang demokrasi. Mereka bicara dan bicara serta bicara. Tidak ada yang menoleh ke belakang. Tidak ada yang menegur aku. Tidak ada yang berupaya mendengarkan teriakanku. Tidak ada yang peduli terhadap tangisanku. Tidak ada yang memperhatikan jeritanku. Aku menangisi mereka yang kehilangan pekerjaan – aku menangisi mereka yang dirampok, dijarah, rumah mereka dibakar – aku menangisi mereka yang diperkosa – jiwaku menjerit bagi mereka. Tidak ada yang mendengarkan aku. Akhirnya aku membisu – inilah anak-anak yang kulahirkan dari rahimku. Inilah putra putriku. Merekalah yang kuberikan air susuku selama ini. Aku sedih, hatiku luka. Lebih baik, tadinya aku mandul saja.

Aku ibumu, Ibu Pertiwi – Ibu Indonesia yang selama ini terlupakan oleh anak-anaknya sendiri. Setiap orang sibuk bicara, sibuk memberikan komentar, sibuk mengeluarkan pendapat – tidak seorang pun yang berupaya mendengarkan aku.

Selama ini aku memang membisu, mungkin aku salah. Mungkin aku sudah harus menegur kamu sejak dulu. Mungkin aku terlalu memanjakan kamu. Aku sempat pada suatu ketika ragu, aku masih berharap. Aku masih bertahan padamu. Tetapi, anakku, aku harus bersikap. Aku harus bicara. Aku harus memperingatkanmu.

Sebab pada suatu ketika nanti, kau akan menyadari kebinatanganmu, ketidakwajaranmu, kekonyolanmu. Aku menggugat nuranimu, aku minta pertanggungjawabanmu – sudah cukup lama aku membisu, sudah cukup lama aku memanjakan kalian. Tiba saatnya sekarang, aku harus bersikap tegas. Suaraku harus jelas.

Apabila kau ingin membungkam suaraku, suara ibumu – jangan lupa akan air susuku yang masih mengalir dalam tubuhmu sebagai darah. Aku akan bicara lewat aliran darahmu. Aku akan bicara lewat tulang-tulangmu, lewat otot-otot dan lewat jaringan sarafmu. Kau tidak bisa membungkam aku. Aku telah memutuskan untuk bicara dan kau harus mendengarkannya, kau akan mendengarkannya. Kau tidak dapat mengelakkan, mengabaikan gugatanku!

(Reformasi: Gugatan Seorang “Ibu”, Guruji Anand Krishna, 1998)

SEJARAH bangsa seolah bergerak dalam lingkaran yang sama, hanya berbeda wajah dan waktu. Ibu Pertiwi menangis pada September 1965, saat darah anak bangsa tumpah karena perebutan kuasa yang dibungkus ideologi. Tangisnya berlanjut pada Mei 1998, ketika suara reformasi dibayar dengan korban yang dirampas hak hidupnya: hilang pekerjaan, rumah dibakar, tubuh diperkosa, harga diri diinjak-injak. Kini, di akhir Agustus 2025, tangis itu terdengar lagi—lebih cepat dari siklus sebelumnya.

Air mata Ibu Pertiwi bukan hanya ratapan alam, melainkan jeritan nurani. Ia menangis karena anak-anaknya masih saja terjebak dalam lingkaran kebencian, korupsi, fitnah, dan kekerasan. Dalam bahasa Hawkins, kesadaran kolektif bangsa masih banyak yang bergetar di bawah level 200, yaitu medan energi yang ditandai oleh rasa takut, marah, keserakahan, dan kebencian. Di titik itu, bangsa hidup dalam mode destruktif: mencari kambing hitam, menyalahkan yang lain, dan mengulang pola kekerasan yang seolah diwariskan turun-temurun.

Tragedi 1965 mencerminkan dominasi energi Fear (100) dan Anger (150). Rakyat dicekam ketakutan, lalu diarahkan untuk membenci. Kekerasan pun meledak. Mei 1998 menghadirkan energi serupa: ketakutan akan krisis, kemarahan terhadap penguasa, lalu bermuara pada kerusuhan dan pertumpahan darah. Kini, Agustus 2025, sejarah berulang dengan pola yang semakin singkat. Seakan bangsa ini gagal naik kelas dalam tangga kesadaran.

Namun Hawkins juga memberi harapan: begitu kesadaran kolektif menembus level Courage (200), transformasi mulai mungkin. Di level ini, bangsa berani menghadapi kebenaran, bukan sekadar menyalahkan. Di level Reason (400), bangsa mampu berpikir jernih, tidak larut dalam propaganda. Dan di level Love (500), bangsa hidup dari kasih, bukan kebencian.

Ibu Pertiwi tidak hanya menangis karena luka, ia juga menggugat nurani kita. Suaranya, sebagaimana ditulis Guruji Anand Krishna dalam Reformasi: Gugatan Seorang Ibu, mengalir dalam darah kita. Kita tidak bisa membungkamnya. Pertanyaannya: sampai kapan kita hanya sibuk bicara, berdebat, dan saling tuding, sementara tangisan Ibu tak pernah benar-benar kita dengarkan?

Refleksi ini menuntut keberanian untuk jujur: reformasi 1998 belum selesai, dan kesadaran bangsa belum sepenuhnya bangkit. Jika tragedi selalu berulang, itu pertanda kita masih belajar di kelas yang sama. Kesadaran Hawkins mengajarkan bahwa hanya perubahan batin, dari takut menjadi berani, berani untuk mengubah diri sendiri, dari kesadaran hewani menuju kesadaran insani, lalu perlahan naik menuju kesadaran Ilahi, dari marah menjadi welas asih, yang dapat memutus rantai sejarah berdarah.

Mari kita dengarkan suaraNya, suara Ibu kita untuk terakhir kali:

“Di balik segala macam permasalahan yang sedang kalian hadapi saat ini, ada masalah utama yang terlupakan, krisis moneter bisa diatasi, akan diatasi . Krisis politik bisa diatasi, akan teratasi pula. Tetapi proses reformasi yang kalian harapkan belum terjadi juga. Masalah utama yang kalian hadapi adakah krisis kesadaran. Tanpa kesadaran, tidak akan terjadi reformasi. Dan apa yang harus direformasi? Hanya pemerintahkah? Hanya Dewan Perwakilan Rakyat-kah? Atau seluruh sistem itu yang harus di-reform? Dari mana harus dimulai? Kau harus memulainya dari dirimu sendiri. Anakku, cucuku – kau harus mengubah total dirimu dulu. Setelah itu baru memikirkan orang lain. Kau sendiri masih penuh dengan rasa iri dan cemburu, kau masih egois – kau tidak akan pernah berhasil menyebarkan kasih. Kau sendiri masih belum kenal kasih (Krishna, 1998: 9).

Hari ini, Ibu Pertiwi menangis lagi. Tetapi air matanya bisa kita maknai sebagai panggilan. Apakah kita akan tetap terjebak dalam pusaran rendah kesadaran, ataukah berani melangkah naik menuju cinta dan kebijaksanaan? Pilihan ada pada kita, anak-anaknya. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AGUNG SUDARSA
Tags: ibu pertiwiIndonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sensasi Bonsai di Lapangan Puputan Badung: Bonsai Menyapa Warga Kota

Next Post

Pecalang, Penjaga Denyut Harmoni Bali

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Pecalang, Penjaga Denyut Harmoni Bali

Pecalang, Penjaga Denyut Harmoni Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co