2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ibu Pertiwi Menangis (Lagi dan Lagi)

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
September 2, 2025
in Esai
Ibu Pertiwi Menangis (Lagi dan Lagi)

ilustrasi tatkala.co

Pertengahan Bulan Mei Tahun 1998

Tidak ada awan gelap yang menutupi langit Indonesia. Tidak ada gunung yang meletus. Bukan gempa bumi, bukan banjir, bukan badai topan – kali ini, yang menghancurkan rumahku, kebunku – anak-anakku sendiri.

Di luar sana, mereka masih saja bicara tentang kesatuan dan persatuan. Mereka bicara tentang penguasa yang korup. Mereka bicara tentang reformasi, yang katanya harus total, harus menyeluruh. Mereka bicara tentang demokrasi. Mereka bicara dan bicara serta bicara. Tidak ada yang menoleh ke belakang. Tidak ada yang menegur aku. Tidak ada yang berupaya mendengarkan teriakanku. Tidak ada yang peduli terhadap tangisanku. Tidak ada yang memperhatikan jeritanku. Aku menangisi mereka yang kehilangan pekerjaan – aku menangisi mereka yang dirampok, dijarah, rumah mereka dibakar – aku menangisi mereka yang diperkosa – jiwaku menjerit bagi mereka. Tidak ada yang mendengarkan aku. Akhirnya aku membisu – inilah anak-anak yang kulahirkan dari rahimku. Inilah putra putriku. Merekalah yang kuberikan air susuku selama ini. Aku sedih, hatiku luka. Lebih baik, tadinya aku mandul saja.

Aku ibumu, Ibu Pertiwi – Ibu Indonesia yang selama ini terlupakan oleh anak-anaknya sendiri. Setiap orang sibuk bicara, sibuk memberikan komentar, sibuk mengeluarkan pendapat – tidak seorang pun yang berupaya mendengarkan aku.

Selama ini aku memang membisu, mungkin aku salah. Mungkin aku sudah harus menegur kamu sejak dulu. Mungkin aku terlalu memanjakan kamu. Aku sempat pada suatu ketika ragu, aku masih berharap. Aku masih bertahan padamu. Tetapi, anakku, aku harus bersikap. Aku harus bicara. Aku harus memperingatkanmu.

Sebab pada suatu ketika nanti, kau akan menyadari kebinatanganmu, ketidakwajaranmu, kekonyolanmu. Aku menggugat nuranimu, aku minta pertanggungjawabanmu – sudah cukup lama aku membisu, sudah cukup lama aku memanjakan kalian. Tiba saatnya sekarang, aku harus bersikap tegas. Suaraku harus jelas.

Apabila kau ingin membungkam suaraku, suara ibumu – jangan lupa akan air susuku yang masih mengalir dalam tubuhmu sebagai darah. Aku akan bicara lewat aliran darahmu. Aku akan bicara lewat tulang-tulangmu, lewat otot-otot dan lewat jaringan sarafmu. Kau tidak bisa membungkam aku. Aku telah memutuskan untuk bicara dan kau harus mendengarkannya, kau akan mendengarkannya. Kau tidak dapat mengelakkan, mengabaikan gugatanku!

(Reformasi: Gugatan Seorang “Ibu”, Guruji Anand Krishna, 1998)

SEJARAH bangsa seolah bergerak dalam lingkaran yang sama, hanya berbeda wajah dan waktu. Ibu Pertiwi menangis pada September 1965, saat darah anak bangsa tumpah karena perebutan kuasa yang dibungkus ideologi. Tangisnya berlanjut pada Mei 1998, ketika suara reformasi dibayar dengan korban yang dirampas hak hidupnya: hilang pekerjaan, rumah dibakar, tubuh diperkosa, harga diri diinjak-injak. Kini, di akhir Agustus 2025, tangis itu terdengar lagi—lebih cepat dari siklus sebelumnya.

Air mata Ibu Pertiwi bukan hanya ratapan alam, melainkan jeritan nurani. Ia menangis karena anak-anaknya masih saja terjebak dalam lingkaran kebencian, korupsi, fitnah, dan kekerasan. Dalam bahasa Hawkins, kesadaran kolektif bangsa masih banyak yang bergetar di bawah level 200, yaitu medan energi yang ditandai oleh rasa takut, marah, keserakahan, dan kebencian. Di titik itu, bangsa hidup dalam mode destruktif: mencari kambing hitam, menyalahkan yang lain, dan mengulang pola kekerasan yang seolah diwariskan turun-temurun.

Tragedi 1965 mencerminkan dominasi energi Fear (100) dan Anger (150). Rakyat dicekam ketakutan, lalu diarahkan untuk membenci. Kekerasan pun meledak. Mei 1998 menghadirkan energi serupa: ketakutan akan krisis, kemarahan terhadap penguasa, lalu bermuara pada kerusuhan dan pertumpahan darah. Kini, Agustus 2025, sejarah berulang dengan pola yang semakin singkat. Seakan bangsa ini gagal naik kelas dalam tangga kesadaran.

Namun Hawkins juga memberi harapan: begitu kesadaran kolektif menembus level Courage (200), transformasi mulai mungkin. Di level ini, bangsa berani menghadapi kebenaran, bukan sekadar menyalahkan. Di level Reason (400), bangsa mampu berpikir jernih, tidak larut dalam propaganda. Dan di level Love (500), bangsa hidup dari kasih, bukan kebencian.

Ibu Pertiwi tidak hanya menangis karena luka, ia juga menggugat nurani kita. Suaranya, sebagaimana ditulis Guruji Anand Krishna dalam Reformasi: Gugatan Seorang Ibu, mengalir dalam darah kita. Kita tidak bisa membungkamnya. Pertanyaannya: sampai kapan kita hanya sibuk bicara, berdebat, dan saling tuding, sementara tangisan Ibu tak pernah benar-benar kita dengarkan?

Refleksi ini menuntut keberanian untuk jujur: reformasi 1998 belum selesai, dan kesadaran bangsa belum sepenuhnya bangkit. Jika tragedi selalu berulang, itu pertanda kita masih belajar di kelas yang sama. Kesadaran Hawkins mengajarkan bahwa hanya perubahan batin, dari takut menjadi berani, berani untuk mengubah diri sendiri, dari kesadaran hewani menuju kesadaran insani, lalu perlahan naik menuju kesadaran Ilahi, dari marah menjadi welas asih, yang dapat memutus rantai sejarah berdarah.

Mari kita dengarkan suaraNya, suara Ibu kita untuk terakhir kali:

“Di balik segala macam permasalahan yang sedang kalian hadapi saat ini, ada masalah utama yang terlupakan, krisis moneter bisa diatasi, akan diatasi . Krisis politik bisa diatasi, akan teratasi pula. Tetapi proses reformasi yang kalian harapkan belum terjadi juga. Masalah utama yang kalian hadapi adakah krisis kesadaran. Tanpa kesadaran, tidak akan terjadi reformasi. Dan apa yang harus direformasi? Hanya pemerintahkah? Hanya Dewan Perwakilan Rakyat-kah? Atau seluruh sistem itu yang harus di-reform? Dari mana harus dimulai? Kau harus memulainya dari dirimu sendiri. Anakku, cucuku – kau harus mengubah total dirimu dulu. Setelah itu baru memikirkan orang lain. Kau sendiri masih penuh dengan rasa iri dan cemburu, kau masih egois – kau tidak akan pernah berhasil menyebarkan kasih. Kau sendiri masih belum kenal kasih (Krishna, 1998: 9).

Hari ini, Ibu Pertiwi menangis lagi. Tetapi air matanya bisa kita maknai sebagai panggilan. Apakah kita akan tetap terjebak dalam pusaran rendah kesadaran, ataukah berani melangkah naik menuju cinta dan kebijaksanaan? Pilihan ada pada kita, anak-anaknya. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AGUNG SUDARSA
Tags: ibu pertiwiIndonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sensasi Bonsai di Lapangan Puputan Badung: Bonsai Menyapa Warga Kota

Next Post

Pecalang, Penjaga Denyut Harmoni Bali

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Pecalang, Penjaga Denyut Harmoni Bali

Pecalang, Penjaga Denyut Harmoni Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co