14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ibu Pertiwi Menangis (Lagi dan Lagi)

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
September 2, 2025
in Esai
Ibu Pertiwi Menangis (Lagi dan Lagi)

ilustrasi tatkala.co

Pertengahan Bulan Mei Tahun 1998

Tidak ada awan gelap yang menutupi langit Indonesia. Tidak ada gunung yang meletus. Bukan gempa bumi, bukan banjir, bukan badai topan – kali ini, yang menghancurkan rumahku, kebunku – anak-anakku sendiri.

Di luar sana, mereka masih saja bicara tentang kesatuan dan persatuan. Mereka bicara tentang penguasa yang korup. Mereka bicara tentang reformasi, yang katanya harus total, harus menyeluruh. Mereka bicara tentang demokrasi. Mereka bicara dan bicara serta bicara. Tidak ada yang menoleh ke belakang. Tidak ada yang menegur aku. Tidak ada yang berupaya mendengarkan teriakanku. Tidak ada yang peduli terhadap tangisanku. Tidak ada yang memperhatikan jeritanku. Aku menangisi mereka yang kehilangan pekerjaan – aku menangisi mereka yang dirampok, dijarah, rumah mereka dibakar – aku menangisi mereka yang diperkosa – jiwaku menjerit bagi mereka. Tidak ada yang mendengarkan aku. Akhirnya aku membisu – inilah anak-anak yang kulahirkan dari rahimku. Inilah putra putriku. Merekalah yang kuberikan air susuku selama ini. Aku sedih, hatiku luka. Lebih baik, tadinya aku mandul saja.

Aku ibumu, Ibu Pertiwi – Ibu Indonesia yang selama ini terlupakan oleh anak-anaknya sendiri. Setiap orang sibuk bicara, sibuk memberikan komentar, sibuk mengeluarkan pendapat – tidak seorang pun yang berupaya mendengarkan aku.

Selama ini aku memang membisu, mungkin aku salah. Mungkin aku sudah harus menegur kamu sejak dulu. Mungkin aku terlalu memanjakan kamu. Aku sempat pada suatu ketika ragu, aku masih berharap. Aku masih bertahan padamu. Tetapi, anakku, aku harus bersikap. Aku harus bicara. Aku harus memperingatkanmu.

Sebab pada suatu ketika nanti, kau akan menyadari kebinatanganmu, ketidakwajaranmu, kekonyolanmu. Aku menggugat nuranimu, aku minta pertanggungjawabanmu – sudah cukup lama aku membisu, sudah cukup lama aku memanjakan kalian. Tiba saatnya sekarang, aku harus bersikap tegas. Suaraku harus jelas.

Apabila kau ingin membungkam suaraku, suara ibumu – jangan lupa akan air susuku yang masih mengalir dalam tubuhmu sebagai darah. Aku akan bicara lewat aliran darahmu. Aku akan bicara lewat tulang-tulangmu, lewat otot-otot dan lewat jaringan sarafmu. Kau tidak bisa membungkam aku. Aku telah memutuskan untuk bicara dan kau harus mendengarkannya, kau akan mendengarkannya. Kau tidak dapat mengelakkan, mengabaikan gugatanku!

(Reformasi: Gugatan Seorang “Ibu”, Guruji Anand Krishna, 1998)

SEJARAH bangsa seolah bergerak dalam lingkaran yang sama, hanya berbeda wajah dan waktu. Ibu Pertiwi menangis pada September 1965, saat darah anak bangsa tumpah karena perebutan kuasa yang dibungkus ideologi. Tangisnya berlanjut pada Mei 1998, ketika suara reformasi dibayar dengan korban yang dirampas hak hidupnya: hilang pekerjaan, rumah dibakar, tubuh diperkosa, harga diri diinjak-injak. Kini, di akhir Agustus 2025, tangis itu terdengar lagi—lebih cepat dari siklus sebelumnya.

Air mata Ibu Pertiwi bukan hanya ratapan alam, melainkan jeritan nurani. Ia menangis karena anak-anaknya masih saja terjebak dalam lingkaran kebencian, korupsi, fitnah, dan kekerasan. Dalam bahasa Hawkins, kesadaran kolektif bangsa masih banyak yang bergetar di bawah level 200, yaitu medan energi yang ditandai oleh rasa takut, marah, keserakahan, dan kebencian. Di titik itu, bangsa hidup dalam mode destruktif: mencari kambing hitam, menyalahkan yang lain, dan mengulang pola kekerasan yang seolah diwariskan turun-temurun.

Tragedi 1965 mencerminkan dominasi energi Fear (100) dan Anger (150). Rakyat dicekam ketakutan, lalu diarahkan untuk membenci. Kekerasan pun meledak. Mei 1998 menghadirkan energi serupa: ketakutan akan krisis, kemarahan terhadap penguasa, lalu bermuara pada kerusuhan dan pertumpahan darah. Kini, Agustus 2025, sejarah berulang dengan pola yang semakin singkat. Seakan bangsa ini gagal naik kelas dalam tangga kesadaran.

Namun Hawkins juga memberi harapan: begitu kesadaran kolektif menembus level Courage (200), transformasi mulai mungkin. Di level ini, bangsa berani menghadapi kebenaran, bukan sekadar menyalahkan. Di level Reason (400), bangsa mampu berpikir jernih, tidak larut dalam propaganda. Dan di level Love (500), bangsa hidup dari kasih, bukan kebencian.

Ibu Pertiwi tidak hanya menangis karena luka, ia juga menggugat nurani kita. Suaranya, sebagaimana ditulis Guruji Anand Krishna dalam Reformasi: Gugatan Seorang Ibu, mengalir dalam darah kita. Kita tidak bisa membungkamnya. Pertanyaannya: sampai kapan kita hanya sibuk bicara, berdebat, dan saling tuding, sementara tangisan Ibu tak pernah benar-benar kita dengarkan?

Refleksi ini menuntut keberanian untuk jujur: reformasi 1998 belum selesai, dan kesadaran bangsa belum sepenuhnya bangkit. Jika tragedi selalu berulang, itu pertanda kita masih belajar di kelas yang sama. Kesadaran Hawkins mengajarkan bahwa hanya perubahan batin, dari takut menjadi berani, berani untuk mengubah diri sendiri, dari kesadaran hewani menuju kesadaran insani, lalu perlahan naik menuju kesadaran Ilahi, dari marah menjadi welas asih, yang dapat memutus rantai sejarah berdarah.

Mari kita dengarkan suaraNya, suara Ibu kita untuk terakhir kali:

“Di balik segala macam permasalahan yang sedang kalian hadapi saat ini, ada masalah utama yang terlupakan, krisis moneter bisa diatasi, akan diatasi . Krisis politik bisa diatasi, akan teratasi pula. Tetapi proses reformasi yang kalian harapkan belum terjadi juga. Masalah utama yang kalian hadapi adakah krisis kesadaran. Tanpa kesadaran, tidak akan terjadi reformasi. Dan apa yang harus direformasi? Hanya pemerintahkah? Hanya Dewan Perwakilan Rakyat-kah? Atau seluruh sistem itu yang harus di-reform? Dari mana harus dimulai? Kau harus memulainya dari dirimu sendiri. Anakku, cucuku – kau harus mengubah total dirimu dulu. Setelah itu baru memikirkan orang lain. Kau sendiri masih penuh dengan rasa iri dan cemburu, kau masih egois – kau tidak akan pernah berhasil menyebarkan kasih. Kau sendiri masih belum kenal kasih (Krishna, 1998: 9).

Hari ini, Ibu Pertiwi menangis lagi. Tetapi air matanya bisa kita maknai sebagai panggilan. Apakah kita akan tetap terjebak dalam pusaran rendah kesadaran, ataukah berani melangkah naik menuju cinta dan kebijaksanaan? Pilihan ada pada kita, anak-anaknya. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AGUNG SUDARSA
Tags: ibu pertiwiIndonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sensasi Bonsai di Lapangan Puputan Badung: Bonsai Menyapa Warga Kota

Next Post

Pecalang, Penjaga Denyut Harmoni Bali

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post
Pecalang, Penjaga Denyut Harmoni Bali

Pecalang, Penjaga Denyut Harmoni Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co