4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sensasi Bonsai di Lapangan Puputan Badung: Bonsai Menyapa Warga Kota

Ni Wayan Suwini by Ni Wayan Suwini
September 2, 2025
in Khas
Sensasi Bonsai di Lapangan Puputan Badung: Bonsai Menyapa Warga Kota

Bonsai yang dipamerkan di lapangan Puputan Badung | Foto: Suwini

SORE itu, Lapangan Puputan Badung di pusat Kota Denpasar, orang-orang ramai mengerumuni meja-meja yang melingkar dengan selimut kain putih. Meja itu tampak mewah dan elegan.

Di atas meja ada tanaman kerdil alias bonsai. Orang yang berkerumun tentu saja melihat bonsai, bukan melihat meja. Ratusan bonsai di pamerkan di atas meja itu dengan berbagai bentuk artistik. Ada yang mungil dengan batang berliku penuh filosofi, ada pula yang gagah seolah pohon tua yang disulap jadi kecil.

Pengunjung lalu-lalang, sebagian asik mengabadikan bonsai lewat kamera ponsel, sebagian lain berburu tanaman yang dijual di stand sekitar.

Warga Kota Denpasar melihat-lihat bonsai di Lapangan Puputan Badung | Foto: Suwini

Suasana makin riuh dengan hadirnya stand-stand lain di sekeliling lapangan. Ada kaktus mungil, sukulen, anggrek dengan kelopak mekar, pot keramik unik, bunga mawar, hingga tanaman buah yang tak kalah menarik.

Di bagian depan, aroma bakso dan makanan lainnya menyeruak dari stand makanan, berpadu dengan teriakan anak-anak yang riang bermain di istana balon. Semua orang bisa menemukan sesuatu untuk dinikmati, baik pecinta bonsai, penggemar tanaman hias, maupun keluarga yang sekadar jalan sore.

Pameran bonsai dengan tajuk Sensasi Bonsai ini digelar sejak 27 Agustus hingga 5 September 2025 oleh Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) cabang Denpasar. Bagi yang belum akrab, PPBI adalah organisasi berbasis nasional yang mewadahi para pecinta bonsai di seluruh Indonesia. Tahun ini, Sensasi Bonsai di Puputan Badung jadi penyelenggaraan kedua, setelah sebelumnya terlaksana di Lapangan Niti Mandala Renon.

Bonsai yang dipamerkan di lapangan Puputan Badung | Foto: Suwini

Tak berhenti di tingkat nasional, PPBI juga berpengalaman di panggung dunia. Beberapa bulan lalu, tepatnya bulan Juli, cabang Gianyar sukses menjadi tuan rumah Konvensi Asia Pacific Bonsai and Suiseki (ASPAC) ke-17 yang berlangsung di Alun-alun Kota Gianyar. Ajang internasional ini mempertemukan ratusan bonsai dari berbagai negara, sekaligus menghadirkan pakar bonsai kelas dunia untuk workshop dan demonstrasi teknik. Dari ASPAC hingga pameran lokal, terlihat jelas bagaimana bonsai menjadi wadah yang menghubungkan seni, ketekunan, dan orang-orang dari berbagai kalangan

Tahun ini merupakan penyelenggaraan kedua di Denpasar, bedanya pameran kali ini terasa lebih istimewa karena bertepatan dengan peringatan 119 tahun Puputan Badung.

 “Kali ini kami bergandengan dengan Puri Agung Satria untuk momentum Puputan Badung, dan juga dengan LPM sebagai wadah UMKM di Denpasar. Jadi acaranya saling mengisi,” jelas Kak Dhika, salah satu panitia Sensasi Bonsai.

Ia juga menjelaskan bahwa ajang ini merupakan ajang tingkat nasional yang memang rutin di adakan 2 tahun sekali, sebelumnya pada tahun 2023 susah diadakan di Renon. Menurutnya, ada sekitar 600–700an bonsai yang dipamerkan.

“Harapannya supaya peminat bonsai di Denpasar semakin banyak, karena menanam pohon juga kan jadi program yang positif,” tambahnya ketika ditanya mengenai harapan ke depannya melalui event Sensasi Bonsai.

Beralih dari ajang memamerkan bonsai, di sebelah meja-meja melingkar sebagai tumpuan ratusan bonsai terdapat beberapa stand dengan berbagai jenis tanaman. Salah satunya di stand “Klein Moo.Plant” milik Kak Febi (30), peserta stand asal Buleleng yang menjaga stand tanaman, bercerita bahwa ia ikut serta karena ajakan teman.

“Diajakin sekalian buka stand di sini. Kalau di stand kita sih ada kaktus dan sukulen, jadi beda dari yang lain. Kalau teman-teman yang lain kan mayoritas bonsai,” katanya.

Ia menambahkan bahwa pameran ini memang memberi ruang bagi berbagai jenis tanaman hias. “Di sini semua tanaman sih. Ada anggrek, bonsai, mawar, bahkan tanaman buah juga ada. Oh, ada juga kerajinan kramik, kayak pot-pot gitu,” ucapnya sambil mengingat-ingat ketika ditanya mengenai jenis-jenis stand yang ada.

Bonsai dan tanaman lain yang dijual di ajang pameran bonsai di Lapangan Puputan Badung | Foto: Suwini

Keterlibatan berbagai jenis tanaman inilah yang membuat suasana lebih semarak. Tidak sedikit pengunjung yang berhenti di stand-stand tanaman untuk sekadar melihat-lihat atau membeli tanaman yang bisa dirawat di rumah. Dengan begitu, pameran ini tidak hanya jadi arena bagi para pecinta bonsai, tetapi juga ruang pertemuan bagi komunitas pecinta tanaman secara umum.

Selain pengunjung yang memang sudah sejak awal menjadi pecinta bonsai maupun tanaman, ada pula pengunjung awam yang menjadikan pameran ini sebagai pengalaman pertama bersentuhan langsung dengan dunia bonsai.

Ary Trisna (20), salah satu pengunjung yang sempat memberikan kesannya terhadap event kali ini, ia awalnya mengaku tidak tahu ada acara seperti ini. “Aku ke Lapangan Puputan mau jalan-jalan biasa aja, eh ternyata ada event ini, yaa aku coba mampir deh,” ujarnya.

Meski datang tanpa rencana, ia merasa cukup terkesan. “Menurutku seru, apalagi event kayak gini jarang diadakan di Puputan. Kita bisa dapat wawasan tentang bonsai dan tanaman-tanaman lainnya juga,” katanya sambil melihat ke segala sudut di pameran.

Baginya, bonsai punya daya tarik tersendiri. “Karena bonsai itu tumbuhan yang dimodifikasi dengan unik. Pembuatannya juga memakan waktu cukup lama. Dari segi bentuk dan proporsinya, bonsai bisa jadi tanaman hias yang memanjakan mata,” tambahnya.

Tak hanya bonsai, Ary juga tertarik dengan stand makanan di area pameran. “Setelah keliling lihat bonsai, enak bisa langsung isi energi di sana,” ujarnya sambil tersenyum.

Lebih dari sekadar pameran, acara ini juga menjadi ruang interaksi sosial. Bonsai yang dipamerkan bukan hanya memperlihatkan keterampilan teknik, tapi juga menyampaikan pesan tentang ketekunan, kesabaran, dan hubungan manusia dengan alam.

Setiap batang yang dililit, setiap ranting yang diarahkan atau dibentuk dengan begitu elok adalah simbol kerja keras bertahun-tahun. Di tengah riuh suasana kota, bonsai hadir sebagai pengingat bahwa ada keindahan dalam hal-hal kecil, ada kesabaran, dan ada kebersamaan yang lahir dari cinta terhadap tanaman.

Bonsai, dengan segala bentuk unik dan filosofinya, mampu menarik perhatian berbagai kalangan, dari pecinta tanaman berpengalaman hingga anak muda yang baru mengenal dunia ini.[T]

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co

Penulis: Ni Wayan Suwini
Editor: Adnyana Ole

Tags: bonsaidenpasarfloraLapangan Puputanpameran bonsai
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

RASIS BERTENTANGAN DENGAN AJARAN LELUHUR BALI

Next Post

Ibu Pertiwi Menangis (Lagi dan Lagi)

Ni Wayan Suwini

Ni Wayan Suwini

Lahir 04 Februari 2005. Mahasiswa Universitas PGRI Mahadewa Indonesia Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah

Related Posts

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails
Next Post
Ibu Pertiwi Menangis (Lagi dan Lagi)

Ibu Pertiwi Menangis (Lagi dan Lagi)

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co