23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Topeng Bali dari Hulu ke Hilir: Dari Ritual, Hiburan, Hingga Wahana Kritik Sosial

I Gede Made Surya Darma by I Gede Made Surya Darma
August 25, 2025
in Khas
Topeng Bali dari Hulu ke Hilir: Dari Ritual, Hiburan, Hingga Wahana Kritik Sosial

Prof Made Bandem dalam seminar topeng Bulfest 2025

“Sejak kapan tari topeng berkembang menjadi seni pertunjukan di Bali?” tanya Anggara Rismandika, seorang seniman dari Buleleng kepada Prof Made Bandem.

Prof Bandem pun menjawab, “Tari topeng berkembang sebagai seni pertunjukan sejak abad ke-14. Tonggak penting terjadi pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong di Gelgel (abad ke-15–16), dimulai dari upacara di Pura Besakih yang dipimpin Sangkul Putih, ketika tari topeng ditetapkan sebagai tari wali (sakral).”

Dialog itu terjadi pada Seminar Budaya bertajuk “Perkembangan Topeng Bali Dewasa Ini: Dari Hulu ke Hilir”, Sabtu, 23 Agustus 2025, di Gedung Wanita Laksmi Graha, Singaraja. Seminar itu dilenggarakan Dinas Kebudayaan Buleleng serangkaian acara Buleleng Festival (Bulfest) 2025.

Selain dialog tentang topeng sebagai seni pertunjukan, juga terjadi dialog tentang beda topeng Bali selatan dan topeng Bali utara dan dialog tentang karakter topeng perempuan.

Pertanyaan tentang topeng Bali selatan dan topeng Bali utara disampaikan Putu Satria Kusuma, seorang dramawan Buleleng.

“Apa yang membedakan karakter topeng Bali Utara dengan daerah lain di Bali?” tanya Putu Satria.

Prof. Bandem menjawab, “Topeng Bali Utara banyak dipengaruhi aliran bairawa. Hal ini tampak pada karya-karya Singa Ambara Raja khas Singaraja yang sarat dengan karakter bairawa. Tradisi pembuatan topeng di Tejakula, misalnya, berawal dari pemberian beberapa topeng dari Kerajaan Bangli yang kemudian dikembangkan dengan karakteristik khas, salah satunya menurut keterangan seniman Bapak Made Gelgel.”

Berbagai Hal Tentang Topeng

Seminar ini semula dijadwalkan dibuka oleh Sekda Kabupaten Buleleng, Drs. Gede Suyasa, M.Pd., namun beliau berhalangan hadir karena mendampingi kunjungan Presiden RI ke-5, Megawati Soekarnoputri, dalam agenda Bulfest 2025.

Acara kemudian dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, Drs. I Nyoman Wisandika, didampingi I Made Tegeh Okta Maheri, S.Sn., Kepala Bidang Kesenian Buleleng, selaku penanggung jawab kegiatan. Bidang Kesenian Disbud Buleleng menjadi penggerak utama pelaksanaan seminar ini.

Prof. Dr. I Made Bandem, MA, maestro tari dan akademisi terkemuka, dalam seminar itu memaparkan perjalanan topeng Bali sejak masa prasejarah hingga era kontemporer. Dalam paparannya, Prof. Bandem menyoroti perkembangan topeng mulai dari fungsinya dalam ritual animisme dan dinamisme pada zaman prasejarah (2000 SM – 800 M), transformasinya menjadi seni pertunjukan istana, hiburan rakyat, hingga media kritik sosial di era modern.

Dalam seminar ini Prof Bandem juga memperkenalkan buku terbarunya yang ditulis bersama penulis dan sejarawan seni Bruce W. Carpenter, berjudul “Masks of Bali: Between Heaven and Hell”.

Buku tersebut mengupas secara mendalam sejarah, fungsi, serta kekayaan estetika topeng Bali, sekaligus menegaskan posisinya sebagai warisan budaya dunia yang masih hidup dan relevan hingga kini.

Kehadiran I Putu Ardiyasa, S.Sn., M.Sn. sebagai moderator turut memberi warna tersendiri dalam jalannya seminar. Dengan latar belakang yang kuat di bidang seni, Ardiyasa berhasil memandu diskusi secara dinamis dan interaktif. Ia dikenal aktif mengasuh Forum Seni Suluh Tulis sejak 2022, anggota Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) Bali sejak 2019, serta pernah menjadi manajer proyek Komunitas I-Pedalangan (2016–2019). Pada 2018, ia mendirikan Sanggar Seni Lemah Tulis yang konsisten mengembangkan seni tradisi di Buleleng.

Kiprah tersebut menjadikannya figur penting generasi muda yang menjembatani gagasan lintas generasi antara maestro, peneliti, dan seniman muda sehingga perannya tidak sebatas moderator, melainkan juga penggerak yang memperkaya substansi seminar.

Dialog Berlangsung Hangat

Seminar yang dihadiri seniman, akademisi, komunitas seni, serta mahasiswa dari berbagai kampus di Buleleng berlangsung hangat. Para peserta tak segan-segan menyampaikan berbagai pertanyaan kepada Prof Bandem yang memang menguasai seluk-beluk topeng di Bali.

Dian Suryantini misalnya bertanya tentang bagaimana karakter topeng perempuan Buleleng, dan apa bedanya dengan topeng lain di Bali?

Prof. Bandem menjawab topeng Buleleng memiliki karakter lebih tegas. Topeng perempuan yang ditemukan memiliki alis agak tebal, mata besar dan cerdas dengan ujung mata tipis, telinga lebar, serta garis bibir tegas. Topeng ini kemungkinan merepresentasikan wajah perempuan masa lampau, sekaligus menunjukkan pengaruh luar karena Buleleng merupakan wilayah pertama yang dituju ketika sampai Bali, mengingat pintu masuk utama dulu ada di Pelabuhan Julah. Topeng tersebut diduga digunakan dalam persembahan untuk menghormati perempuan, terlihat dari aksesoris seperti anting (subang) pada telinganya.

Sementara itu, I Gede Made Surya Darma bertanya tentang apakah Van der Tuuk juga meneliti topeng, selain bahasa?

Kata Surya Darma, pada masa kehadiran J.H.C. Van der Tuuk di Bali tahun 1870–1880-an, beliau diketahui banyak mengoleksi lukisan Bali, termasuk karya seniman Bali Utara. Apakah iajuga meneliti topeng? Bagaimana dengan pameran besar di Paris pada 1931 dan 1937, siapa seniman topeng Bali Utara yang terlibat?

Hingga kini, jawab Prof Bandem, belum ditemukan catatan Van der Tuuk mengenai penelitian topeng. Namun, salah satu pelukis Bali Utara, I Ketut Gede, pernah melukis barong dan rangda dengan bentuk menyerupai Barong Bangkal, meskipun topeng yang digambarkan adalah barong ket.

Catatan keterlibatan seniman topeng Bali Utara dalam pameran internasional Paris 1931 (Colonial Exhibition) dan 1937 (Exposition Internationale des Arts et Techniques dans la Vie Moderne) juga belum ditemukan sehingga memerlukan penelitian lebih lanjut. Kedua pameran tersebut menjadi cikal bakal pariwisata Bali. Bahkan sejak 1924, Buleleng sudah dikunjungi wisatawan melalui agen perjalanan Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM) dari Belanda.

Ketut Suartana, seorang peserta bertanya, apakah seorang penari topeng harus berasal dari keturunan atau klan tertentu?

Menurut Prof. Bandem, siapa pun dapat menjadi penari topeng dengan latihan serius hingga profesional. Idealnya, seorang penari juga mempelajari lontar Darma Pegambuhan, karena tari topeng merupakan penerjemahan Weda ke-5 yang sarat simbol gerakan mudra dalam puja. Penari juga dianjurkan memahami ajaran Dasa Bayu untuk meningkatkan taksu dan mendalami babad topeng, salah satunya Babad Sidakarya

Dalam kesempatan itu, Prof. Bandem juga menyinggung keberadaan Barong Bangkal, barong khas Buleleng Barat dengan ciri topeng berukuran kecil.

Menjelang akhir seminar, Pemerintah Kabupaten Buleleng melalui I Made Tegeh Okta Maheri, S.Sn. menyerahkan penghargaan kepada Prof. Bandem atas dedikasinya dalam pengembangan seni tari dan topeng Bali. Penghargaan juga diberikan kepada I Putu Ardiyasa, S.Sn., M.Sn. selaku moderator, sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya dalam kesuksesan acara.

Sebagai penutup, dilakukan penyerahan buku Jaya Prana karya Putu Satria kepada Prof. Bandem. Momen ini menjadi simbol kolaborasi lintas generasi antara seniman muda dan maestro tari Bali, sekaligus menegaskan pentingnya kesinambungan tradisi dalam menjaga kebudayaan.

Seminar ini tidak hanya menghadirkan diskusi akademis, tetapi juga menjadi ruang pertukaran pengetahuan antara generasi seniman, peneliti, dan komunitas seni. Kehadiran beragam peserta membuktikan bahwa seni topeng masih memiliki daya hidup kuat, bukan sekadar tontonan, tetapi juga identitas budaya sekaligus spiritual masyarakat Buleleng dan Bali. [T]

Penulis: I Gede Made Surya Darma
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis I GEDE MADE SURYA DARMA
Tags: bulfestBulfest 2025Prof Made Bandemtopeng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merasa Paling Tahu Padahal Belum Tentu: Fenomena “Dunning-Kruger Effect”

Next Post

Kesetiaan Seekor Anjing, Dharma, dan Kesadaran Manusia

I Gede Made Surya Darma

I Gede Made Surya Darma

Pelukis. Lulusan ISI Yogyakarta. Founder Lepud Art Management

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Kesetiaan Seekor Anjing, Dharma, dan Kesadaran Manusia

Kesetiaan Seekor Anjing, Dharma, dan Kesadaran Manusia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co