12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merasa Paling Tahu Padahal Belum Tentu: Fenomena “Dunning-Kruger Effect”

Isran Kamal by Isran Kamal
August 25, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

PERNAHKAH kita bertemu seseorang yang berbicara dengan penuh keyakinan tentang sebuah topik misalnya politik, kesehatan, atau bahkan cara mendidik anak seolah-olah ia benar-benar ahli? Dia bicara dengan lantang, penuh percaya diri, dan membuat orang lain yang mendengarnya sempat terpengaruh.

Namun, ketika ditelisik lebih jauh, ternyata pemahamannya masih dangkal, bahkan kadang keliru. Situasi seperti ini kerap membuat kita mengernyit, antara kagum pada rasa percaya dirinya, sekaligus heran. Bagaimana bisa ia begitu yakin padahal belum menguasai ilmunya?

Fenomena semacam ini sebenarnya bukan hal langka. Hal seperti ini sering kita temukan di  ruang rapat kantor, di tongkrongan kampus, bahkan di kolom komentar media sosial yang penuh dengan “pakar mendadak”. Dalam psikologi, fenomena ini dikenal sebagai Dunning-Kruger Effect, yaitu kondisi ketika seseorang dengan kemampuan rendah justru melebih-lebihkan keahliannya. Menariknya, fenomena ini tidak hanya dialami “orang lain”; ada kalanya, tanpa sadar, kita sendiri pun terjebak di dalamnya.

Apa Itu Dunning-Kruger Effect?

Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh David Dunning dan Justin Kruger pada tahun 1999 melalui serangkaian eksperimen di Cornell University. Dalam penelitian klasik mereka, para peserta diminta mengerjakan tes logika, tata bahasa, dan humor, kemudian diminta menilai seberapa baik kinerja mereka dibandingkan dengan peserta lain. Hasilnya konsisten bahwa individu dengan kemampuan rendah cenderung menilai dirinya berada di atas rata-rata, padahal kenyataannya berada di peringkat terbawah. Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan metakognitif yakni ketidakmampuan untuk menilai secara akurat kemampuan diri sendiri.

Secara sederhana, mereka yang paling tidak kompeten sering kali “tidak tahu bahwa mereka tidak tahu”. Karena keterbatasan pengetahuan membuat seseorang bukan hanya melakukan kesalahan, tetapi juga tidak mampu mengenali kesalahan itu sendiri. Sebaliknya, orang dengan kemampuan tinggi justru kerap meremehkan dirinya. Hal ini bukan karena kurang percaya diri, melainkan karena kesadaran akan kompleksitas suatu bidang membuat mereka merasa bahwa pencapaiannya masih sedikit dibandingkan dengan apa yang belum mereka ketahui.

Efek ganda inilah yang membuat Dunning-Kruger Effect begitu menarik. Di satu sisi, ketidaktahuan dapat melahirkan rasa percaya diri yang berlebihan, sementara di sisi lain, pengetahuan yang luas justru bisa melahirkan kerendahan hati intelektual.

Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari

Fenomena ini bisa kita lihat di berbagai bidang. Misalnya, seseorang yang baru membaca artikel singkat tentang kesehatan tiba-tiba merasa bisa menyaingi dokter dalam memberi saran medis. Atau orang yang baru belajar istilah ekonomi merasa mampu menjelaskan kompleksitas krisis global. Di media sosial, fenomena ini semakin jelas terlihat dengan modal pengetahuan yang terbatas, banyak orang berani berdebat panjang tanpa menyadari keterbatasan diri mereka.

Lebih jauh, ada beberapa pola yang kerap menjadi tanda bahwa seseorang mungkin terjebak dalam efek Dunning-Kruger. Pertama, mereka sering menampilkan keyakinan diri yang berlebihan seperti bicara yang tegas, penuh kepastian, seakan-akan tidak ada ruang untuk salah. Kedua, mereka cenderung meremehkan pendapat orang yang lebih ahli, bahkan menganggap argumen pakar terlalu rumit atau tidak relevan. Ketiga, mereka jarang mengajukan pertanyaan yang tulus, yang ada justru berusaha mendominasi percakapan dengan opini.

Namun menariknya, kita pun harus berhati-hati ketika mencoba mendeteksi fenomena ini pada orang lain. Karena justru merasa “saya bisa mengenali siapa yang terkena Dunning-Kruger” pun berpotensi menjerumuskan kita ke dalam bias yang sama. Inilah paradoksnya, untuk bisa benar-benar mendeteksi, kita sendiri perlu sikap rendah hati, menyadari bahwa bisa jadi kita pun sedang berada di posisi yang salah.

Mengapa Dunning-Kruger Effect Terjadi?

Ada beberapa alasan mengapa efek ini muncul. Pertama, keterbatasan pengetahuan membuat seseorang tidak punya cukup “alat” untuk menilai dirinya secara akurat. Kedua, manusia cenderung ingin mempertahankan harga diri, sehingga lebih mudah merasa yakin daripada mengakui ketidaktahuan. Ketiga, era informasi yang serba cepat sering memberi ilusi pemahaman bahwa membaca sekilas dianggap sama dengan menguasai topik.

Dari sudut neurosains kognitif, fenomena ini juga bisa dijelaskan. Proses evaluasi diri sangat bergantung pada fungsi eksekutif di korteks prefrontal, terutama dalam hal metakognisi yakni suatu kemampuan untuk menilai sejauh mana kita benar-benar memahami sesuatu. Ketika kapasitas pengetahuan masih dangkal, jaringan otak yang bertugas untuk self-monitoring (misalnya anterior cingulate cortex) tidak punya cukup “data” untuk memberi sinyal korektif. Akibatnya, otak lebih mudah menghasilkan keyakinan palsu tentang kompetensi diri.

Sebagai ilustrasi, seseorang yang baru menonton satu video populer tentang nutrisi merasa langsung paham cara kerja metabolisme tubuh. Dari sisi otak, yang terjadi adalah ilusi kompetensi. Informasi sederhana dan mudah dicerna membuat memori kerja terasa “penuh”, sehingga muncul sensasi sudah menguasai topik. Padahal, bila diuji lebih dalam, pengetahuan tersebut dangkal dan tidak bisa diaplikasikan secara tepat.

Dampaknya bagi Individu dan Masyarakat

Dunning-Kruger Effect tidak hanya sebatas fenomena psikologis individual, melainkan memiliki konsekuensi luas pada berbagai level kehidupan. Pada tingkat pribadi, seseorang yang terjebak dalam ilusi kompetensi cenderung berhenti belajar. Ketika merasa sudah cukup tahu, motivasi untuk mencari informasi baru atau mengasah keterampilan akan menurun drastis. Misalnya, seorang mahasiswa yang baru membaca satu artikel ilmiah tentang nutrisi merasa sudah “ahli” dan menolak masukan dari dosen atau sumber terpercaya lainnya. Akibatnya, ia tidak hanya membatasi potensi akademisnya, tetapi juga berisiko menyebarkan informasi keliru.

Ketika fenomena ini menjalar ke ranah sosial, efeknya bisa semakin merugikan. Media sosial menjadi contoh paling nyata: orang yang minim pengetahuan sering kali paling vokal dalam berdebat, bahkan lebih berani menyebarkan klaim tidak berdasar. Fenomena ini dapat menciptakan echo chamber, di mana informasi salah diperkuat secara kolektif. Contoh yang relevan adalah perdebatan seputar vaksinasi: individu tanpa latar belakang medis sering terdengar lebih lantang daripada tenaga profesional, sehingga kebingungan publik pun meningkat.

Yang lebih berbahaya, Dunning-Kruger Effect bisa menjangkiti figur publik atau pengambil kebijakan. Ketika orang dengan pemahaman dangkal tetapi rasa percaya diri tinggi menduduki posisi strategis, keputusan yang dibuat berpotensi keliru. Bayangkan seorang pemimpin daerah yang menganggap dirinya lebih paham epidemiologi daripada para ahli, lalu mengambil keputusan menolak rekomendasi kesehatan. Akibatnya, kebijakan yang lahir tidak hanya kontraproduktif, tetapi juga bisa membahayakan masyarakat luas.

Melampaui Jebakan Percaya Diri Palsu

Menghadapi Dunning-Kruger Effect tidak bisa selesai hanya dengan pengetahuan, tetapi dengan sikap. Kesadaran diri adalah langkah pertama, kita harus berani melihat batas pengetahuan kita sendiri. Kerendahan hati intelektual menjadi kunci, yakni menyadari bahwa selalu ada sesuatu yang belum kita ketahui.

Dari sini, mencari umpan balik, mendengarkan perspektif berbeda, dan melatih berpikir kritis bukan hanya melindungi kita dari kesalahan, tetapi juga membuka jalan menuju pertumbuhan. Dengan begitu, percaya diri kita tidak lahir dari ilusi, melainkan dari kompetensi nyata yang terus diasah. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Penyalahgunaan AI, Privasi, dan Perspektif Psikologis
Bagaimana Psikologi Memandang Korupsi [Bagian 2]
Bagaimana Psikologi Memandang Korupsi [Bagian 1]
Tags: Dunning-Kruger EffectPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sanggar Nong Nong Kling, Tiga Belas Tahun Menjaga Pakem Drama Gong Buleleng di Tengah Arus Zaman

Next Post

Topeng Bali dari Hulu ke Hilir: Dari Ritual, Hiburan, Hingga Wahana Kritik Sosial

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Topeng Bali dari Hulu ke Hilir: Dari Ritual, Hiburan, Hingga Wahana Kritik Sosial

Topeng Bali dari Hulu ke Hilir: Dari Ritual, Hiburan, Hingga Wahana Kritik Sosial

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co