23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merasa Paling Tahu Padahal Belum Tentu: Fenomena “Dunning-Kruger Effect”

Isran Kamal by Isran Kamal
August 25, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

PERNAHKAH kita bertemu seseorang yang berbicara dengan penuh keyakinan tentang sebuah topik misalnya politik, kesehatan, atau bahkan cara mendidik anak seolah-olah ia benar-benar ahli? Dia bicara dengan lantang, penuh percaya diri, dan membuat orang lain yang mendengarnya sempat terpengaruh.

Namun, ketika ditelisik lebih jauh, ternyata pemahamannya masih dangkal, bahkan kadang keliru. Situasi seperti ini kerap membuat kita mengernyit, antara kagum pada rasa percaya dirinya, sekaligus heran. Bagaimana bisa ia begitu yakin padahal belum menguasai ilmunya?

Fenomena semacam ini sebenarnya bukan hal langka. Hal seperti ini sering kita temukan di  ruang rapat kantor, di tongkrongan kampus, bahkan di kolom komentar media sosial yang penuh dengan “pakar mendadak”. Dalam psikologi, fenomena ini dikenal sebagai Dunning-Kruger Effect, yaitu kondisi ketika seseorang dengan kemampuan rendah justru melebih-lebihkan keahliannya. Menariknya, fenomena ini tidak hanya dialami “orang lain”; ada kalanya, tanpa sadar, kita sendiri pun terjebak di dalamnya.

Apa Itu Dunning-Kruger Effect?

Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh David Dunning dan Justin Kruger pada tahun 1999 melalui serangkaian eksperimen di Cornell University. Dalam penelitian klasik mereka, para peserta diminta mengerjakan tes logika, tata bahasa, dan humor, kemudian diminta menilai seberapa baik kinerja mereka dibandingkan dengan peserta lain. Hasilnya konsisten bahwa individu dengan kemampuan rendah cenderung menilai dirinya berada di atas rata-rata, padahal kenyataannya berada di peringkat terbawah. Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan metakognitif yakni ketidakmampuan untuk menilai secara akurat kemampuan diri sendiri.

Secara sederhana, mereka yang paling tidak kompeten sering kali “tidak tahu bahwa mereka tidak tahu”. Karena keterbatasan pengetahuan membuat seseorang bukan hanya melakukan kesalahan, tetapi juga tidak mampu mengenali kesalahan itu sendiri. Sebaliknya, orang dengan kemampuan tinggi justru kerap meremehkan dirinya. Hal ini bukan karena kurang percaya diri, melainkan karena kesadaran akan kompleksitas suatu bidang membuat mereka merasa bahwa pencapaiannya masih sedikit dibandingkan dengan apa yang belum mereka ketahui.

Efek ganda inilah yang membuat Dunning-Kruger Effect begitu menarik. Di satu sisi, ketidaktahuan dapat melahirkan rasa percaya diri yang berlebihan, sementara di sisi lain, pengetahuan yang luas justru bisa melahirkan kerendahan hati intelektual.

Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari

Fenomena ini bisa kita lihat di berbagai bidang. Misalnya, seseorang yang baru membaca artikel singkat tentang kesehatan tiba-tiba merasa bisa menyaingi dokter dalam memberi saran medis. Atau orang yang baru belajar istilah ekonomi merasa mampu menjelaskan kompleksitas krisis global. Di media sosial, fenomena ini semakin jelas terlihat dengan modal pengetahuan yang terbatas, banyak orang berani berdebat panjang tanpa menyadari keterbatasan diri mereka.

Lebih jauh, ada beberapa pola yang kerap menjadi tanda bahwa seseorang mungkin terjebak dalam efek Dunning-Kruger. Pertama, mereka sering menampilkan keyakinan diri yang berlebihan seperti bicara yang tegas, penuh kepastian, seakan-akan tidak ada ruang untuk salah. Kedua, mereka cenderung meremehkan pendapat orang yang lebih ahli, bahkan menganggap argumen pakar terlalu rumit atau tidak relevan. Ketiga, mereka jarang mengajukan pertanyaan yang tulus, yang ada justru berusaha mendominasi percakapan dengan opini.

Namun menariknya, kita pun harus berhati-hati ketika mencoba mendeteksi fenomena ini pada orang lain. Karena justru merasa “saya bisa mengenali siapa yang terkena Dunning-Kruger” pun berpotensi menjerumuskan kita ke dalam bias yang sama. Inilah paradoksnya, untuk bisa benar-benar mendeteksi, kita sendiri perlu sikap rendah hati, menyadari bahwa bisa jadi kita pun sedang berada di posisi yang salah.

Mengapa Dunning-Kruger Effect Terjadi?

Ada beberapa alasan mengapa efek ini muncul. Pertama, keterbatasan pengetahuan membuat seseorang tidak punya cukup “alat” untuk menilai dirinya secara akurat. Kedua, manusia cenderung ingin mempertahankan harga diri, sehingga lebih mudah merasa yakin daripada mengakui ketidaktahuan. Ketiga, era informasi yang serba cepat sering memberi ilusi pemahaman bahwa membaca sekilas dianggap sama dengan menguasai topik.

Dari sudut neurosains kognitif, fenomena ini juga bisa dijelaskan. Proses evaluasi diri sangat bergantung pada fungsi eksekutif di korteks prefrontal, terutama dalam hal metakognisi yakni suatu kemampuan untuk menilai sejauh mana kita benar-benar memahami sesuatu. Ketika kapasitas pengetahuan masih dangkal, jaringan otak yang bertugas untuk self-monitoring (misalnya anterior cingulate cortex) tidak punya cukup “data” untuk memberi sinyal korektif. Akibatnya, otak lebih mudah menghasilkan keyakinan palsu tentang kompetensi diri.

Sebagai ilustrasi, seseorang yang baru menonton satu video populer tentang nutrisi merasa langsung paham cara kerja metabolisme tubuh. Dari sisi otak, yang terjadi adalah ilusi kompetensi. Informasi sederhana dan mudah dicerna membuat memori kerja terasa “penuh”, sehingga muncul sensasi sudah menguasai topik. Padahal, bila diuji lebih dalam, pengetahuan tersebut dangkal dan tidak bisa diaplikasikan secara tepat.

Dampaknya bagi Individu dan Masyarakat

Dunning-Kruger Effect tidak hanya sebatas fenomena psikologis individual, melainkan memiliki konsekuensi luas pada berbagai level kehidupan. Pada tingkat pribadi, seseorang yang terjebak dalam ilusi kompetensi cenderung berhenti belajar. Ketika merasa sudah cukup tahu, motivasi untuk mencari informasi baru atau mengasah keterampilan akan menurun drastis. Misalnya, seorang mahasiswa yang baru membaca satu artikel ilmiah tentang nutrisi merasa sudah “ahli” dan menolak masukan dari dosen atau sumber terpercaya lainnya. Akibatnya, ia tidak hanya membatasi potensi akademisnya, tetapi juga berisiko menyebarkan informasi keliru.

Ketika fenomena ini menjalar ke ranah sosial, efeknya bisa semakin merugikan. Media sosial menjadi contoh paling nyata: orang yang minim pengetahuan sering kali paling vokal dalam berdebat, bahkan lebih berani menyebarkan klaim tidak berdasar. Fenomena ini dapat menciptakan echo chamber, di mana informasi salah diperkuat secara kolektif. Contoh yang relevan adalah perdebatan seputar vaksinasi: individu tanpa latar belakang medis sering terdengar lebih lantang daripada tenaga profesional, sehingga kebingungan publik pun meningkat.

Yang lebih berbahaya, Dunning-Kruger Effect bisa menjangkiti figur publik atau pengambil kebijakan. Ketika orang dengan pemahaman dangkal tetapi rasa percaya diri tinggi menduduki posisi strategis, keputusan yang dibuat berpotensi keliru. Bayangkan seorang pemimpin daerah yang menganggap dirinya lebih paham epidemiologi daripada para ahli, lalu mengambil keputusan menolak rekomendasi kesehatan. Akibatnya, kebijakan yang lahir tidak hanya kontraproduktif, tetapi juga bisa membahayakan masyarakat luas.

Melampaui Jebakan Percaya Diri Palsu

Menghadapi Dunning-Kruger Effect tidak bisa selesai hanya dengan pengetahuan, tetapi dengan sikap. Kesadaran diri adalah langkah pertama, kita harus berani melihat batas pengetahuan kita sendiri. Kerendahan hati intelektual menjadi kunci, yakni menyadari bahwa selalu ada sesuatu yang belum kita ketahui.

Dari sini, mencari umpan balik, mendengarkan perspektif berbeda, dan melatih berpikir kritis bukan hanya melindungi kita dari kesalahan, tetapi juga membuka jalan menuju pertumbuhan. Dengan begitu, percaya diri kita tidak lahir dari ilusi, melainkan dari kompetensi nyata yang terus diasah. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Penyalahgunaan AI, Privasi, dan Perspektif Psikologis
Bagaimana Psikologi Memandang Korupsi [Bagian 2]
Bagaimana Psikologi Memandang Korupsi [Bagian 1]
Tags: Dunning-Kruger EffectPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sanggar Nong Nong Kling, Tiga Belas Tahun Menjaga Pakem Drama Gong Buleleng di Tengah Arus Zaman

Next Post

Topeng Bali dari Hulu ke Hilir: Dari Ritual, Hiburan, Hingga Wahana Kritik Sosial

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Topeng Bali dari Hulu ke Hilir: Dari Ritual, Hiburan, Hingga Wahana Kritik Sosial

Topeng Bali dari Hulu ke Hilir: Dari Ritual, Hiburan, Hingga Wahana Kritik Sosial

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co