23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merasa Paling Tahu Padahal Belum Tentu: Fenomena “Dunning-Kruger Effect”

Isran Kamal by Isran Kamal
August 25, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

PERNAHKAH kita bertemu seseorang yang berbicara dengan penuh keyakinan tentang sebuah topik misalnya politik, kesehatan, atau bahkan cara mendidik anak seolah-olah ia benar-benar ahli? Dia bicara dengan lantang, penuh percaya diri, dan membuat orang lain yang mendengarnya sempat terpengaruh.

Namun, ketika ditelisik lebih jauh, ternyata pemahamannya masih dangkal, bahkan kadang keliru. Situasi seperti ini kerap membuat kita mengernyit, antara kagum pada rasa percaya dirinya, sekaligus heran. Bagaimana bisa ia begitu yakin padahal belum menguasai ilmunya?

Fenomena semacam ini sebenarnya bukan hal langka. Hal seperti ini sering kita temukan di  ruang rapat kantor, di tongkrongan kampus, bahkan di kolom komentar media sosial yang penuh dengan “pakar mendadak”. Dalam psikologi, fenomena ini dikenal sebagai Dunning-Kruger Effect, yaitu kondisi ketika seseorang dengan kemampuan rendah justru melebih-lebihkan keahliannya. Menariknya, fenomena ini tidak hanya dialami “orang lain”; ada kalanya, tanpa sadar, kita sendiri pun terjebak di dalamnya.

Apa Itu Dunning-Kruger Effect?

Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh David Dunning dan Justin Kruger pada tahun 1999 melalui serangkaian eksperimen di Cornell University. Dalam penelitian klasik mereka, para peserta diminta mengerjakan tes logika, tata bahasa, dan humor, kemudian diminta menilai seberapa baik kinerja mereka dibandingkan dengan peserta lain. Hasilnya konsisten bahwa individu dengan kemampuan rendah cenderung menilai dirinya berada di atas rata-rata, padahal kenyataannya berada di peringkat terbawah. Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan metakognitif yakni ketidakmampuan untuk menilai secara akurat kemampuan diri sendiri.

Secara sederhana, mereka yang paling tidak kompeten sering kali “tidak tahu bahwa mereka tidak tahu”. Karena keterbatasan pengetahuan membuat seseorang bukan hanya melakukan kesalahan, tetapi juga tidak mampu mengenali kesalahan itu sendiri. Sebaliknya, orang dengan kemampuan tinggi justru kerap meremehkan dirinya. Hal ini bukan karena kurang percaya diri, melainkan karena kesadaran akan kompleksitas suatu bidang membuat mereka merasa bahwa pencapaiannya masih sedikit dibandingkan dengan apa yang belum mereka ketahui.

Efek ganda inilah yang membuat Dunning-Kruger Effect begitu menarik. Di satu sisi, ketidaktahuan dapat melahirkan rasa percaya diri yang berlebihan, sementara di sisi lain, pengetahuan yang luas justru bisa melahirkan kerendahan hati intelektual.

Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari

Fenomena ini bisa kita lihat di berbagai bidang. Misalnya, seseorang yang baru membaca artikel singkat tentang kesehatan tiba-tiba merasa bisa menyaingi dokter dalam memberi saran medis. Atau orang yang baru belajar istilah ekonomi merasa mampu menjelaskan kompleksitas krisis global. Di media sosial, fenomena ini semakin jelas terlihat dengan modal pengetahuan yang terbatas, banyak orang berani berdebat panjang tanpa menyadari keterbatasan diri mereka.

Lebih jauh, ada beberapa pola yang kerap menjadi tanda bahwa seseorang mungkin terjebak dalam efek Dunning-Kruger. Pertama, mereka sering menampilkan keyakinan diri yang berlebihan seperti bicara yang tegas, penuh kepastian, seakan-akan tidak ada ruang untuk salah. Kedua, mereka cenderung meremehkan pendapat orang yang lebih ahli, bahkan menganggap argumen pakar terlalu rumit atau tidak relevan. Ketiga, mereka jarang mengajukan pertanyaan yang tulus, yang ada justru berusaha mendominasi percakapan dengan opini.

Namun menariknya, kita pun harus berhati-hati ketika mencoba mendeteksi fenomena ini pada orang lain. Karena justru merasa “saya bisa mengenali siapa yang terkena Dunning-Kruger” pun berpotensi menjerumuskan kita ke dalam bias yang sama. Inilah paradoksnya, untuk bisa benar-benar mendeteksi, kita sendiri perlu sikap rendah hati, menyadari bahwa bisa jadi kita pun sedang berada di posisi yang salah.

Mengapa Dunning-Kruger Effect Terjadi?

Ada beberapa alasan mengapa efek ini muncul. Pertama, keterbatasan pengetahuan membuat seseorang tidak punya cukup “alat” untuk menilai dirinya secara akurat. Kedua, manusia cenderung ingin mempertahankan harga diri, sehingga lebih mudah merasa yakin daripada mengakui ketidaktahuan. Ketiga, era informasi yang serba cepat sering memberi ilusi pemahaman bahwa membaca sekilas dianggap sama dengan menguasai topik.

Dari sudut neurosains kognitif, fenomena ini juga bisa dijelaskan. Proses evaluasi diri sangat bergantung pada fungsi eksekutif di korteks prefrontal, terutama dalam hal metakognisi yakni suatu kemampuan untuk menilai sejauh mana kita benar-benar memahami sesuatu. Ketika kapasitas pengetahuan masih dangkal, jaringan otak yang bertugas untuk self-monitoring (misalnya anterior cingulate cortex) tidak punya cukup “data” untuk memberi sinyal korektif. Akibatnya, otak lebih mudah menghasilkan keyakinan palsu tentang kompetensi diri.

Sebagai ilustrasi, seseorang yang baru menonton satu video populer tentang nutrisi merasa langsung paham cara kerja metabolisme tubuh. Dari sisi otak, yang terjadi adalah ilusi kompetensi. Informasi sederhana dan mudah dicerna membuat memori kerja terasa “penuh”, sehingga muncul sensasi sudah menguasai topik. Padahal, bila diuji lebih dalam, pengetahuan tersebut dangkal dan tidak bisa diaplikasikan secara tepat.

Dampaknya bagi Individu dan Masyarakat

Dunning-Kruger Effect tidak hanya sebatas fenomena psikologis individual, melainkan memiliki konsekuensi luas pada berbagai level kehidupan. Pada tingkat pribadi, seseorang yang terjebak dalam ilusi kompetensi cenderung berhenti belajar. Ketika merasa sudah cukup tahu, motivasi untuk mencari informasi baru atau mengasah keterampilan akan menurun drastis. Misalnya, seorang mahasiswa yang baru membaca satu artikel ilmiah tentang nutrisi merasa sudah “ahli” dan menolak masukan dari dosen atau sumber terpercaya lainnya. Akibatnya, ia tidak hanya membatasi potensi akademisnya, tetapi juga berisiko menyebarkan informasi keliru.

Ketika fenomena ini menjalar ke ranah sosial, efeknya bisa semakin merugikan. Media sosial menjadi contoh paling nyata: orang yang minim pengetahuan sering kali paling vokal dalam berdebat, bahkan lebih berani menyebarkan klaim tidak berdasar. Fenomena ini dapat menciptakan echo chamber, di mana informasi salah diperkuat secara kolektif. Contoh yang relevan adalah perdebatan seputar vaksinasi: individu tanpa latar belakang medis sering terdengar lebih lantang daripada tenaga profesional, sehingga kebingungan publik pun meningkat.

Yang lebih berbahaya, Dunning-Kruger Effect bisa menjangkiti figur publik atau pengambil kebijakan. Ketika orang dengan pemahaman dangkal tetapi rasa percaya diri tinggi menduduki posisi strategis, keputusan yang dibuat berpotensi keliru. Bayangkan seorang pemimpin daerah yang menganggap dirinya lebih paham epidemiologi daripada para ahli, lalu mengambil keputusan menolak rekomendasi kesehatan. Akibatnya, kebijakan yang lahir tidak hanya kontraproduktif, tetapi juga bisa membahayakan masyarakat luas.

Melampaui Jebakan Percaya Diri Palsu

Menghadapi Dunning-Kruger Effect tidak bisa selesai hanya dengan pengetahuan, tetapi dengan sikap. Kesadaran diri adalah langkah pertama, kita harus berani melihat batas pengetahuan kita sendiri. Kerendahan hati intelektual menjadi kunci, yakni menyadari bahwa selalu ada sesuatu yang belum kita ketahui.

Dari sini, mencari umpan balik, mendengarkan perspektif berbeda, dan melatih berpikir kritis bukan hanya melindungi kita dari kesalahan, tetapi juga membuka jalan menuju pertumbuhan. Dengan begitu, percaya diri kita tidak lahir dari ilusi, melainkan dari kompetensi nyata yang terus diasah. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Penyalahgunaan AI, Privasi, dan Perspektif Psikologis
Bagaimana Psikologi Memandang Korupsi [Bagian 2]
Bagaimana Psikologi Memandang Korupsi [Bagian 1]
Tags: Dunning-Kruger EffectPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sanggar Nong Nong Kling, Tiga Belas Tahun Menjaga Pakem Drama Gong Buleleng di Tengah Arus Zaman

Next Post

Topeng Bali dari Hulu ke Hilir: Dari Ritual, Hiburan, Hingga Wahana Kritik Sosial

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Topeng Bali dari Hulu ke Hilir: Dari Ritual, Hiburan, Hingga Wahana Kritik Sosial

Topeng Bali dari Hulu ke Hilir: Dari Ritual, Hiburan, Hingga Wahana Kritik Sosial

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co