23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merasa Paling Tahu Padahal Belum Tentu: Fenomena “Dunning-Kruger Effect”

Isran Kamal by Isran Kamal
August 25, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

PERNAHKAH kita bertemu seseorang yang berbicara dengan penuh keyakinan tentang sebuah topik misalnya politik, kesehatan, atau bahkan cara mendidik anak seolah-olah ia benar-benar ahli? Dia bicara dengan lantang, penuh percaya diri, dan membuat orang lain yang mendengarnya sempat terpengaruh.

Namun, ketika ditelisik lebih jauh, ternyata pemahamannya masih dangkal, bahkan kadang keliru. Situasi seperti ini kerap membuat kita mengernyit, antara kagum pada rasa percaya dirinya, sekaligus heran. Bagaimana bisa ia begitu yakin padahal belum menguasai ilmunya?

Fenomena semacam ini sebenarnya bukan hal langka. Hal seperti ini sering kita temukan di  ruang rapat kantor, di tongkrongan kampus, bahkan di kolom komentar media sosial yang penuh dengan “pakar mendadak”. Dalam psikologi, fenomena ini dikenal sebagai Dunning-Kruger Effect, yaitu kondisi ketika seseorang dengan kemampuan rendah justru melebih-lebihkan keahliannya. Menariknya, fenomena ini tidak hanya dialami “orang lain”; ada kalanya, tanpa sadar, kita sendiri pun terjebak di dalamnya.

Apa Itu Dunning-Kruger Effect?

Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh David Dunning dan Justin Kruger pada tahun 1999 melalui serangkaian eksperimen di Cornell University. Dalam penelitian klasik mereka, para peserta diminta mengerjakan tes logika, tata bahasa, dan humor, kemudian diminta menilai seberapa baik kinerja mereka dibandingkan dengan peserta lain. Hasilnya konsisten bahwa individu dengan kemampuan rendah cenderung menilai dirinya berada di atas rata-rata, padahal kenyataannya berada di peringkat terbawah. Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan metakognitif yakni ketidakmampuan untuk menilai secara akurat kemampuan diri sendiri.

Secara sederhana, mereka yang paling tidak kompeten sering kali “tidak tahu bahwa mereka tidak tahu”. Karena keterbatasan pengetahuan membuat seseorang bukan hanya melakukan kesalahan, tetapi juga tidak mampu mengenali kesalahan itu sendiri. Sebaliknya, orang dengan kemampuan tinggi justru kerap meremehkan dirinya. Hal ini bukan karena kurang percaya diri, melainkan karena kesadaran akan kompleksitas suatu bidang membuat mereka merasa bahwa pencapaiannya masih sedikit dibandingkan dengan apa yang belum mereka ketahui.

Efek ganda inilah yang membuat Dunning-Kruger Effect begitu menarik. Di satu sisi, ketidaktahuan dapat melahirkan rasa percaya diri yang berlebihan, sementara di sisi lain, pengetahuan yang luas justru bisa melahirkan kerendahan hati intelektual.

Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari

Fenomena ini bisa kita lihat di berbagai bidang. Misalnya, seseorang yang baru membaca artikel singkat tentang kesehatan tiba-tiba merasa bisa menyaingi dokter dalam memberi saran medis. Atau orang yang baru belajar istilah ekonomi merasa mampu menjelaskan kompleksitas krisis global. Di media sosial, fenomena ini semakin jelas terlihat dengan modal pengetahuan yang terbatas, banyak orang berani berdebat panjang tanpa menyadari keterbatasan diri mereka.

Lebih jauh, ada beberapa pola yang kerap menjadi tanda bahwa seseorang mungkin terjebak dalam efek Dunning-Kruger. Pertama, mereka sering menampilkan keyakinan diri yang berlebihan seperti bicara yang tegas, penuh kepastian, seakan-akan tidak ada ruang untuk salah. Kedua, mereka cenderung meremehkan pendapat orang yang lebih ahli, bahkan menganggap argumen pakar terlalu rumit atau tidak relevan. Ketiga, mereka jarang mengajukan pertanyaan yang tulus, yang ada justru berusaha mendominasi percakapan dengan opini.

Namun menariknya, kita pun harus berhati-hati ketika mencoba mendeteksi fenomena ini pada orang lain. Karena justru merasa “saya bisa mengenali siapa yang terkena Dunning-Kruger” pun berpotensi menjerumuskan kita ke dalam bias yang sama. Inilah paradoksnya, untuk bisa benar-benar mendeteksi, kita sendiri perlu sikap rendah hati, menyadari bahwa bisa jadi kita pun sedang berada di posisi yang salah.

Mengapa Dunning-Kruger Effect Terjadi?

Ada beberapa alasan mengapa efek ini muncul. Pertama, keterbatasan pengetahuan membuat seseorang tidak punya cukup “alat” untuk menilai dirinya secara akurat. Kedua, manusia cenderung ingin mempertahankan harga diri, sehingga lebih mudah merasa yakin daripada mengakui ketidaktahuan. Ketiga, era informasi yang serba cepat sering memberi ilusi pemahaman bahwa membaca sekilas dianggap sama dengan menguasai topik.

Dari sudut neurosains kognitif, fenomena ini juga bisa dijelaskan. Proses evaluasi diri sangat bergantung pada fungsi eksekutif di korteks prefrontal, terutama dalam hal metakognisi yakni suatu kemampuan untuk menilai sejauh mana kita benar-benar memahami sesuatu. Ketika kapasitas pengetahuan masih dangkal, jaringan otak yang bertugas untuk self-monitoring (misalnya anterior cingulate cortex) tidak punya cukup “data” untuk memberi sinyal korektif. Akibatnya, otak lebih mudah menghasilkan keyakinan palsu tentang kompetensi diri.

Sebagai ilustrasi, seseorang yang baru menonton satu video populer tentang nutrisi merasa langsung paham cara kerja metabolisme tubuh. Dari sisi otak, yang terjadi adalah ilusi kompetensi. Informasi sederhana dan mudah dicerna membuat memori kerja terasa “penuh”, sehingga muncul sensasi sudah menguasai topik. Padahal, bila diuji lebih dalam, pengetahuan tersebut dangkal dan tidak bisa diaplikasikan secara tepat.

Dampaknya bagi Individu dan Masyarakat

Dunning-Kruger Effect tidak hanya sebatas fenomena psikologis individual, melainkan memiliki konsekuensi luas pada berbagai level kehidupan. Pada tingkat pribadi, seseorang yang terjebak dalam ilusi kompetensi cenderung berhenti belajar. Ketika merasa sudah cukup tahu, motivasi untuk mencari informasi baru atau mengasah keterampilan akan menurun drastis. Misalnya, seorang mahasiswa yang baru membaca satu artikel ilmiah tentang nutrisi merasa sudah “ahli” dan menolak masukan dari dosen atau sumber terpercaya lainnya. Akibatnya, ia tidak hanya membatasi potensi akademisnya, tetapi juga berisiko menyebarkan informasi keliru.

Ketika fenomena ini menjalar ke ranah sosial, efeknya bisa semakin merugikan. Media sosial menjadi contoh paling nyata: orang yang minim pengetahuan sering kali paling vokal dalam berdebat, bahkan lebih berani menyebarkan klaim tidak berdasar. Fenomena ini dapat menciptakan echo chamber, di mana informasi salah diperkuat secara kolektif. Contoh yang relevan adalah perdebatan seputar vaksinasi: individu tanpa latar belakang medis sering terdengar lebih lantang daripada tenaga profesional, sehingga kebingungan publik pun meningkat.

Yang lebih berbahaya, Dunning-Kruger Effect bisa menjangkiti figur publik atau pengambil kebijakan. Ketika orang dengan pemahaman dangkal tetapi rasa percaya diri tinggi menduduki posisi strategis, keputusan yang dibuat berpotensi keliru. Bayangkan seorang pemimpin daerah yang menganggap dirinya lebih paham epidemiologi daripada para ahli, lalu mengambil keputusan menolak rekomendasi kesehatan. Akibatnya, kebijakan yang lahir tidak hanya kontraproduktif, tetapi juga bisa membahayakan masyarakat luas.

Melampaui Jebakan Percaya Diri Palsu

Menghadapi Dunning-Kruger Effect tidak bisa selesai hanya dengan pengetahuan, tetapi dengan sikap. Kesadaran diri adalah langkah pertama, kita harus berani melihat batas pengetahuan kita sendiri. Kerendahan hati intelektual menjadi kunci, yakni menyadari bahwa selalu ada sesuatu yang belum kita ketahui.

Dari sini, mencari umpan balik, mendengarkan perspektif berbeda, dan melatih berpikir kritis bukan hanya melindungi kita dari kesalahan, tetapi juga membuka jalan menuju pertumbuhan. Dengan begitu, percaya diri kita tidak lahir dari ilusi, melainkan dari kompetensi nyata yang terus diasah. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Penyalahgunaan AI, Privasi, dan Perspektif Psikologis
Bagaimana Psikologi Memandang Korupsi [Bagian 2]
Bagaimana Psikologi Memandang Korupsi [Bagian 1]
Tags: Dunning-Kruger EffectPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sanggar Nong Nong Kling, Tiga Belas Tahun Menjaga Pakem Drama Gong Buleleng di Tengah Arus Zaman

Next Post

Topeng Bali dari Hulu ke Hilir: Dari Ritual, Hiburan, Hingga Wahana Kritik Sosial

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Topeng Bali dari Hulu ke Hilir: Dari Ritual, Hiburan, Hingga Wahana Kritik Sosial

Topeng Bali dari Hulu ke Hilir: Dari Ritual, Hiburan, Hingga Wahana Kritik Sosial

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co