2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merasa Paling Tahu Padahal Belum Tentu: Fenomena “Dunning-Kruger Effect”

Isran Kamal by Isran Kamal
August 25, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

PERNAHKAH kita bertemu seseorang yang berbicara dengan penuh keyakinan tentang sebuah topik misalnya politik, kesehatan, atau bahkan cara mendidik anak seolah-olah ia benar-benar ahli? Dia bicara dengan lantang, penuh percaya diri, dan membuat orang lain yang mendengarnya sempat terpengaruh.

Namun, ketika ditelisik lebih jauh, ternyata pemahamannya masih dangkal, bahkan kadang keliru. Situasi seperti ini kerap membuat kita mengernyit, antara kagum pada rasa percaya dirinya, sekaligus heran. Bagaimana bisa ia begitu yakin padahal belum menguasai ilmunya?

Fenomena semacam ini sebenarnya bukan hal langka. Hal seperti ini sering kita temukan di  ruang rapat kantor, di tongkrongan kampus, bahkan di kolom komentar media sosial yang penuh dengan “pakar mendadak”. Dalam psikologi, fenomena ini dikenal sebagai Dunning-Kruger Effect, yaitu kondisi ketika seseorang dengan kemampuan rendah justru melebih-lebihkan keahliannya. Menariknya, fenomena ini tidak hanya dialami “orang lain”; ada kalanya, tanpa sadar, kita sendiri pun terjebak di dalamnya.

Apa Itu Dunning-Kruger Effect?

Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh David Dunning dan Justin Kruger pada tahun 1999 melalui serangkaian eksperimen di Cornell University. Dalam penelitian klasik mereka, para peserta diminta mengerjakan tes logika, tata bahasa, dan humor, kemudian diminta menilai seberapa baik kinerja mereka dibandingkan dengan peserta lain. Hasilnya konsisten bahwa individu dengan kemampuan rendah cenderung menilai dirinya berada di atas rata-rata, padahal kenyataannya berada di peringkat terbawah. Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan metakognitif yakni ketidakmampuan untuk menilai secara akurat kemampuan diri sendiri.

Secara sederhana, mereka yang paling tidak kompeten sering kali “tidak tahu bahwa mereka tidak tahu”. Karena keterbatasan pengetahuan membuat seseorang bukan hanya melakukan kesalahan, tetapi juga tidak mampu mengenali kesalahan itu sendiri. Sebaliknya, orang dengan kemampuan tinggi justru kerap meremehkan dirinya. Hal ini bukan karena kurang percaya diri, melainkan karena kesadaran akan kompleksitas suatu bidang membuat mereka merasa bahwa pencapaiannya masih sedikit dibandingkan dengan apa yang belum mereka ketahui.

Efek ganda inilah yang membuat Dunning-Kruger Effect begitu menarik. Di satu sisi, ketidaktahuan dapat melahirkan rasa percaya diri yang berlebihan, sementara di sisi lain, pengetahuan yang luas justru bisa melahirkan kerendahan hati intelektual.

Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari

Fenomena ini bisa kita lihat di berbagai bidang. Misalnya, seseorang yang baru membaca artikel singkat tentang kesehatan tiba-tiba merasa bisa menyaingi dokter dalam memberi saran medis. Atau orang yang baru belajar istilah ekonomi merasa mampu menjelaskan kompleksitas krisis global. Di media sosial, fenomena ini semakin jelas terlihat dengan modal pengetahuan yang terbatas, banyak orang berani berdebat panjang tanpa menyadari keterbatasan diri mereka.

Lebih jauh, ada beberapa pola yang kerap menjadi tanda bahwa seseorang mungkin terjebak dalam efek Dunning-Kruger. Pertama, mereka sering menampilkan keyakinan diri yang berlebihan seperti bicara yang tegas, penuh kepastian, seakan-akan tidak ada ruang untuk salah. Kedua, mereka cenderung meremehkan pendapat orang yang lebih ahli, bahkan menganggap argumen pakar terlalu rumit atau tidak relevan. Ketiga, mereka jarang mengajukan pertanyaan yang tulus, yang ada justru berusaha mendominasi percakapan dengan opini.

Namun menariknya, kita pun harus berhati-hati ketika mencoba mendeteksi fenomena ini pada orang lain. Karena justru merasa “saya bisa mengenali siapa yang terkena Dunning-Kruger” pun berpotensi menjerumuskan kita ke dalam bias yang sama. Inilah paradoksnya, untuk bisa benar-benar mendeteksi, kita sendiri perlu sikap rendah hati, menyadari bahwa bisa jadi kita pun sedang berada di posisi yang salah.

Mengapa Dunning-Kruger Effect Terjadi?

Ada beberapa alasan mengapa efek ini muncul. Pertama, keterbatasan pengetahuan membuat seseorang tidak punya cukup “alat” untuk menilai dirinya secara akurat. Kedua, manusia cenderung ingin mempertahankan harga diri, sehingga lebih mudah merasa yakin daripada mengakui ketidaktahuan. Ketiga, era informasi yang serba cepat sering memberi ilusi pemahaman bahwa membaca sekilas dianggap sama dengan menguasai topik.

Dari sudut neurosains kognitif, fenomena ini juga bisa dijelaskan. Proses evaluasi diri sangat bergantung pada fungsi eksekutif di korteks prefrontal, terutama dalam hal metakognisi yakni suatu kemampuan untuk menilai sejauh mana kita benar-benar memahami sesuatu. Ketika kapasitas pengetahuan masih dangkal, jaringan otak yang bertugas untuk self-monitoring (misalnya anterior cingulate cortex) tidak punya cukup “data” untuk memberi sinyal korektif. Akibatnya, otak lebih mudah menghasilkan keyakinan palsu tentang kompetensi diri.

Sebagai ilustrasi, seseorang yang baru menonton satu video populer tentang nutrisi merasa langsung paham cara kerja metabolisme tubuh. Dari sisi otak, yang terjadi adalah ilusi kompetensi. Informasi sederhana dan mudah dicerna membuat memori kerja terasa “penuh”, sehingga muncul sensasi sudah menguasai topik. Padahal, bila diuji lebih dalam, pengetahuan tersebut dangkal dan tidak bisa diaplikasikan secara tepat.

Dampaknya bagi Individu dan Masyarakat

Dunning-Kruger Effect tidak hanya sebatas fenomena psikologis individual, melainkan memiliki konsekuensi luas pada berbagai level kehidupan. Pada tingkat pribadi, seseorang yang terjebak dalam ilusi kompetensi cenderung berhenti belajar. Ketika merasa sudah cukup tahu, motivasi untuk mencari informasi baru atau mengasah keterampilan akan menurun drastis. Misalnya, seorang mahasiswa yang baru membaca satu artikel ilmiah tentang nutrisi merasa sudah “ahli” dan menolak masukan dari dosen atau sumber terpercaya lainnya. Akibatnya, ia tidak hanya membatasi potensi akademisnya, tetapi juga berisiko menyebarkan informasi keliru.

Ketika fenomena ini menjalar ke ranah sosial, efeknya bisa semakin merugikan. Media sosial menjadi contoh paling nyata: orang yang minim pengetahuan sering kali paling vokal dalam berdebat, bahkan lebih berani menyebarkan klaim tidak berdasar. Fenomena ini dapat menciptakan echo chamber, di mana informasi salah diperkuat secara kolektif. Contoh yang relevan adalah perdebatan seputar vaksinasi: individu tanpa latar belakang medis sering terdengar lebih lantang daripada tenaga profesional, sehingga kebingungan publik pun meningkat.

Yang lebih berbahaya, Dunning-Kruger Effect bisa menjangkiti figur publik atau pengambil kebijakan. Ketika orang dengan pemahaman dangkal tetapi rasa percaya diri tinggi menduduki posisi strategis, keputusan yang dibuat berpotensi keliru. Bayangkan seorang pemimpin daerah yang menganggap dirinya lebih paham epidemiologi daripada para ahli, lalu mengambil keputusan menolak rekomendasi kesehatan. Akibatnya, kebijakan yang lahir tidak hanya kontraproduktif, tetapi juga bisa membahayakan masyarakat luas.

Melampaui Jebakan Percaya Diri Palsu

Menghadapi Dunning-Kruger Effect tidak bisa selesai hanya dengan pengetahuan, tetapi dengan sikap. Kesadaran diri adalah langkah pertama, kita harus berani melihat batas pengetahuan kita sendiri. Kerendahan hati intelektual menjadi kunci, yakni menyadari bahwa selalu ada sesuatu yang belum kita ketahui.

Dari sini, mencari umpan balik, mendengarkan perspektif berbeda, dan melatih berpikir kritis bukan hanya melindungi kita dari kesalahan, tetapi juga membuka jalan menuju pertumbuhan. Dengan begitu, percaya diri kita tidak lahir dari ilusi, melainkan dari kompetensi nyata yang terus diasah. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Penyalahgunaan AI, Privasi, dan Perspektif Psikologis
Bagaimana Psikologi Memandang Korupsi [Bagian 2]
Bagaimana Psikologi Memandang Korupsi [Bagian 1]
Tags: Dunning-Kruger EffectPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sanggar Nong Nong Kling, Tiga Belas Tahun Menjaga Pakem Drama Gong Buleleng di Tengah Arus Zaman

Next Post

Topeng Bali dari Hulu ke Hilir: Dari Ritual, Hiburan, Hingga Wahana Kritik Sosial

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Topeng Bali dari Hulu ke Hilir: Dari Ritual, Hiburan, Hingga Wahana Kritik Sosial

Topeng Bali dari Hulu ke Hilir: Dari Ritual, Hiburan, Hingga Wahana Kritik Sosial

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co