23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Karangasem Akhir Pekan: Sabtu Berseri, Minggu Penuh Energi

Gede Aries Pidrawan by Gede Aries Pidrawan
August 24, 2025
in Panggung
Karangasem Akhir Pekan: Sabtu Berseri, Minggu Penuh Energi

Panggung anak-anak di Karangasem Akhir Pekan

PERNAHKAH Anda membayangkan Amlapura, yang selama ini dianggap daerah sepi, tiba-tiba hidup seperti kota festival? Dibandingkan dengan Badung atau Denpasar tempat saya 4 tahun merantau, saya pun dulu ragu. Amlapura yang saya kenal adalah kota dengan ritme lambat, malam sepi dan terasa terlalu panjang. Namun, sejak ada Karangasem Akhir Pekan, suasana itu berubah total. Kota ini seperti menemukan nadinya kembali.

Setiap Sabtu sore, menjelang matahari turun di ufuk barat, saya melangkah ke Jalan Veteran—yang oleh banyak orang disebut Jalur Sebelas. Begitu sampai, saya seakan memasuki dunia lain. Jalanan sepanjang satu kilometer itu ditutup untuk kendaraan, digantikan derap langkah manusia. Lampu-lampu menyala, aroma kuliner menyeruak, dan di dekat taman, Panggung Terbuka Jagat Karana berdiri. Di sanalah malam Karangasem berpesta.

Panggung seni di Karangasem Akhir Pekan | Foto: Aries

Sabtu adalah panggung seni. Sejak pukul 18.00 Wita, panggung Jagat Karana tak pernah sepi. Ada yang menari, bernyanyi, berpuisi, berteater, bahkan modeling. Penampilnya? Bukan artis ibu kota, melainkan siswa SD, SMP hingga SMA. Sesekali, komunitas band indie mengambil alih suasana dengan musik yang menggetarkan dada.

Saya selalu terkesima ketika melihat anak-anak dari desa tampil, seperti SMP Negeri 3 Amlapura di Desa Seraya, SMP Negeri 4 Amlapura di Desa Bugbug, SMP Negeri 1 Bebandem di Desa Jungutan, dan SMP Negeri 2 Bebandem di Desa Budakeling. Saat mereka tampil, penonton lebih ramai. Bahkan ada yang datang dari jauh, membawa keluarga besar, kakek, nenek, semua ikut. “Asal anak tampil, kami ikut senang,” kata seorang bapak kepada saya sambil tersenyum bangga. Sungguh, pentas ini bukan hanya soal seni, tapi juga tentang cinta, kebersamaan, dan kebanggaan desa.

Panggung seni di Karangasem Akhir Pekan | Foto: Aries

Siapa sesungguhnya pemilik Karangasem Akhir Pekan? Ya, penampil itu. Atau, siapa panitianya? Tidak ada. Sebab, setiap penampil mengurus sendiri, koordinasi sendiri, hadir dengan waktu, lalu menyelesaikannya sendiri. Mereka bahkan menyiapkan pejati­-nya sendiri, tukang terang­-nya sendiri. Ini adalah gambaran begitu halus dan ikhlasnya kultur “hati” masyarakat Karangasem. Mereka tidak menolak saat diminta, tidak mengeluh mesti harus berkorban.

Lalu datang Minggu pagi, dan Jalan Veteran kembali ramai. Kali ini, bukan denting gitar yang mengisi udara, melainkan hentakan kaki dan tawa orang-orang berolahraga. Komunitas senam memimpin gerakan, musik upbeat terdengar dari pengeras suara, dan saya melihat wajah-wajah segar penuh semangat.

Setelah berkeringat, orang-orang menyerbu stand kuliner yang masih setia buka. Bakso panas, sate lilit, jaje Bali, nasi be guling—semuanya menggoda. Saya pun tak bisa menahan diri untuk mencicipi. Dan benar saja, klaim pemerintah bahwa kegiatan ini memutar uang miliaran rupiah bukan sekadar omong kosong. Stand kuliner tak pernah sepi, malam maupun pagi.

Kegembiraan warga di Karangasem Akhir Pekan | Foto: Aries

Namun, di tengah euforia ini, ada satu hal yang menggelitik saya. Sejak April hingga Agustus, saya mengamati: hampir semua pengisi panggung adalah sekolah-sekolah dan komunitas lokal. Lalu saya bertanya dalam hati, ke mana dinas-dinas kita? Bukankah mereka juga bagian dari masyarakat Karangasem?

Bukankah ini kesempatan emas untuk mendekatkan diri kepada publik, bahkan menyampaikan program dengan cara kreatif?

Jika sekolah-sekolah yang tidak punya anggaran bisa ikut, mengapa dinas tidak? Saya mendengar cerita dari beberapa guru—mereka rela urunan untuk kostum, menyiapkan konsumsi saat latihan, bahkan hadir mendampingi siswa dengan senyum tulus. Tidak ada urusan absensi, tidak ada cari muka, hanya karena cinta kepada anak didiknya. Jika semangat itu ada di sekolah, mengapa tidak kita temukan di OPD?

Saya percaya, panggung terbuka ini bukan hanya ruang hiburan. Ia adalah ruang sosial, ruang pertemuan, bahkan ruang ekonomi. Di sinilah wajah Karangasem yang ramah dan kreatif dipertontonkan. Jadi, OPD, dinas, ayo turun panggung! Hadir bukan hanya dengan seremonial, tapi dengan kreasi. Tampilkan seni, pamerkan produk, sosialisasikan program dengan cara yang menyenangkan.

Warga menyerbu stand kuliner di Karangasem Akhir Pekan | Foto: Aries

Kolaborasi adalah kuncinya, seperti yang dilakukan gugus SD yang tampil bersama-sama. Sadar bahwa jumlah siswa SD terbatas dan tidak ada anggaran, mereka tampil dengan system gugus. Beberapa sekolah berkolaborasi dengan menampilkan masing-masing satu pementasan. Dari mereka kita belajar, keterbatasan hanya tantangan, alasan “tidak ada anggaran” tidak bisa menjadi penghalang. Mari, belajar tentang gotong royong dari sekolah-sekolah ini?

Berikutnya, perlu penambahan beberapa lampu sorot pada areal panggung agar penampil lebih jelas. Beberapa sekolah yang memiliki dana lebih menyiasatinya dengan menyewa, budget­-nya bisa sampai 5 jutaan rupiah, apalagi jika dilengkapi dengan lampu sorot warna-warni, bisa lebih. Di sinilah saya berharap pemerintah hadir memfasilitasinya, demikian juga kualitas sound sistem.

Karangasem Akhir Pekan telah memberi kita bukti: kota ini bisa hidup, bahkan berdenyut lebih kencang daripada yang kita bayangkan. Ia bukan sekadar acara mingguan, melainkan identitas baru. Identitas yang harus kita rawat bersama. Sebab, sebuah kota bukan hanya tentang jalanan dan gedung, tetapi tentang orang-orang yang mau menciptakan ruang kebersamaan. Dan saya, sebagai saksi setiap Sabtu dan Minggu, percaya: ini baru awal. Jika kita semua ambil bagian, Karangasem akan semakin bersinar.

Semoga ke depan Karangasem Akhir Pekan bisa hadir di kecamatan-kecamatan, mungkin dengan pola yang disesuaikan dengan karakteristik daerah masing-masing. Sekolah-sekolah yang tidak bisa hadir Jalan Veteran, bisa menggunakan ruang kreatif Karangasem Akhir Pekan di kecamatan. Pun UMKM yang tidak bisa menempatkan produknya di Jalan Veteran, bisa menjajakan produknya di Karangasem Akhir Pekan kecamatan sehingga geliat UMKM juga menyentuh pelosok. [T]

Penulis: Gede Aries Pidrawan
Editor: Adnyana Ole

Tags: hiburankarangasemKarangasem Akhir PekankulinerSeni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [12]—Menggigil Ketakutan pada Pagi Buta Saat Keluar dari Tarano

Next Post

Seminar Kesehatan Mental DWP ISI Bali: Berdaya–Berbahagia Bersama

Gede Aries Pidrawan

Gede Aries Pidrawan

Sastrawan dan guru. Lahir di Karangasem, Bali

Related Posts

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
0
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

Read moreDetails

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

Read moreDetails

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

Read moreDetails

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
0
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

Read moreDetails

Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

SALAH satu momen menarik ketika Salamander Big Band tampil membuka Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026 pada Jumat, 7...

Read moreDetails

Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

SORAK sorai suporter terdengar dari sudut aula. Tepuk tangan menyambut setiap penampilan, sementara tawa pecah di antara adegan-adegan drama yang...

Read moreDetails

Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

by Nyoman Budarsana
August 15, 2026
0
Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

KETIKA suling mulai dimainkan, suasana seketika berubah. Para pemain Genjek Pondok Pekak, Ubud, bergerak dengan ekspresi yang kuat. Penari laki-laki...

Read moreDetails

Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’

by Dede Putra Wiguna
August 13, 2026
0
Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’

MALAM di Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026, berjalan dalam suasana tenang ketika Dodot Trio mulai memainkan...

Read moreDetails
Next Post
Seminar Kesehatan Mental DWP ISI Bali: Berdaya–Berbahagia Bersama

Seminar Kesehatan Mental DWP ISI Bali: Berdaya–Berbahagia Bersama

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co