24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Paskibraka Istimewa dari Desa Panji: Ketika Para Bapak Menjadi Pengibar Bendera Pusaka

Gading Ganesha by Gading Ganesha
August 18, 2025
in Khas
Paskibraka Istimewa dari Desa Panji: Ketika Para Bapak Menjadi Pengibar Bendera Pusaka

Pengibaran bendera merah putih HUT Kemerdekaan RI di Desa Panji, Buleleng | Foto: Ganesha

SETIAP tanggal 17 Agustus, seluruh rakyat Indonesia bersatu dalam semangat nasionalisme untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Di berbagai penjuru negeri dilaksanakan upacara bendera dengan penuh khidmat.  Menjadi bentuk penghormatan kepada para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan bangsa.

Dalam upacara tersebut, Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) memegang peranan yang begitu penting. Umumnya, Paskibraka diisi oleh para pemuda-pemudi terpilih dari kalangan pelajar tingkat SMA atau sederajat. Tubuh tegap, wajah serius dan rupawan serta langkah yang selaras menjadi ciri khas mereka.

Namun, ada yang berbeda di Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng. Dalam peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-80 yang diselenggarakan di Lapangan Kibarak Panji Sakti, hadir sebuah Paskibraka yang unik, menginspirasi, sekaligus membanggakan. Pasukan ini bukanlah para pelajar, bukan pula anggota TNI atau Polri. Mereka adalah para bapak dari Satuan Perlindungan Masyarakat (Linmas) Desa Panji. Dulu kita mengenal mereka dengan sebutan Hansip.

Pengibaran bendera merah putih HUT Kemerdekaan RI di Desa Panji, Buleleng | Foto: Ganesha

Paskibraka yang tak biasa ini, terdiri dari 32 orang anggota Linmas Desa Panji didaulat menjadi Paskibraka dalam upacara bendera kali ini. Usia mereka berkisar antara 35 hingga hampir 60 tahun. Dalam keseharian saya mengenal mereka adalah warga biasa-biasa. Dengan pekerjaan-pekerjaan sederhana. Ada yang berprofesi sebagai tukang bangunan, sopir, tukang cukur, petani, hingga petugas kebersihan. Seperti bapak-bapak desa yang saya kenal pada umumnya.

Dalam balutan seragam Linmas yang sederhana. Dengan sedikit balutan sarung tangan putih dan syal merah yang melingkar di leher. Mereka tampil penuh percaya diri di tengah lapangan. Tidak terlihat raut gugup atau ragu. Langkah mereka tegap dan serentak, mengiringi sang Merah Putih yang berkibar di langit pagi Desa Panji. Paduan suara dari ibu-ibu PKK turut memperindah suasana, menjadikan momen itu begitu sakral dan menyentuh hati.

Mengemban tugas sebagai Paskibraka bukanlah perkara mudah, saya saja merasa tidak mampu. Apalagi bagi mereka yang tidak memiliki dasar latihan baris-berbaris. Mebayangkan saja saya tidak berani. Dari cerita Kasatgas Limnas Desa Panji Nyoman Merta diketahui bahwa mereka latihan hanya sebentar. Pun baru dimulai pada akhir Juli, sekitar 20 hari menjelang upacara.

Pria yang akrab di sapa Mang Bos ini mengungkapkan bahwa mereka cukup sebentar latianya, itupun hanya sore-sore saja sekitar pukul 17.00 Wita jelasnya pada pada saya. Tentu sore hari dipilih menyesuaikan dengan para anggota Linmas yang harus menyelesaikan pekerjaan utama mereka. Meski waktu yang singkat itu harus dimanfaatkan sebaik mungkin.

Pelatih mereka adalah Babinsa Desa Panji, Nyoman Karya. Latihan dilakukan dengan keras dan disiplin. Bahkan, saking beratnya latihan. Mang Bos menuturkan sempat ada satu anggota yang hampir mengundurkan diri, tak hanya dari peran Paskibraka, tetapi juga dari keanggotaan Linmas. Sampai berniat mengembalikan baju linmas. Kenangnya bercerita sembari tertawa.

Namun berkat pendekatan dan komunikasi yang baik dari sang pelatih. Serta demi kekompakan dan dorongan sesama rekan, ia mau tetap bertahan. Ini demi semangat kebersamaan, rasa tanggung jawab dan cinta tanah air begitu kata pelatih waktu itu ujar Mang Bos. Dan memang semangat itu yang menjadi bahan bakar utama mereka.

Bapak-bapak jadi pasukan paskibraka di Desa Panji | Foto: Ganesha

Mang Bos sendiri selaku Kepala Satuan Linmas Desa Panji bertindak menjadi Komandan Upacara. Dirinya menerangkan bahwa tahun ini menjadi momen yang cukup bersejarah. Untuk pertama kalinya, seluruh anggota Linmas dilibatkan sebagai Paskibraka. Sebelumnya, hanya saya sebagai komandan dan beberapa orang saja yang dipilih mejadi membawa bendera, sisanya jadi peserta upacara.

Namun di Tahun 2025 ini berbeda—semua ikut ambil bagian. “Kita ingin mencoba hal yang baru, ini jadi bentuk penghargaan atas pengabdian mereka,” terang Mangbos. “Saya juga ingin ini jadi langkah untuk membuktikan bahwa semua warga, tanpa terkecuali, bisa berperan dalam peringatan hari kemerdekaan. Meskipun hanya bapak-bapak biasa tetapi saya ingin masyarakat tahu bahwa Linmas juga bisa.”

Melihat itu, saya merasakan yang dilakukan Linmas Desa Panji bukan sekadar rutinitas seremonial. Itu adalah bentuk partisipasi aktif masyarakat dalam membangun makna kemerdekaan. Keikutsertaan mereka menjadi cerminan bahwa upacara 17 Agustus bukan milik anak muda saja. Kemerdekaan adalah milik bersama, dan merayakannya adalah hak semua warga negara.

Seperti halnya Made Astawa salah satu anggota Linmas ini, rumahnya bersebelahan dengan saya. Terlihat begitu besar antusiasmenya. Saya liat langsung, Ia tak pernah absen latihan. Bahkan membagikan prosesnya di laman media sosial Facebooknya. Saya cukup yakin ia senang, karena kalau seperti saya. Kalau sesuatu itu tidak bikin bangga dan senang pasti tidak di unggah.

Latihannya meski keras, terlihat keceriaan dan semangat mereka dalam latihan dan saat upacara berlangsung terasa tulus. Tidak ada paksaan. Semua dilakukan dengan sukarela, dengan rasa bangga, dan mungkin sedikit rasa gugup yang tertutupi oleh semangat gotong royong.

Saat latihan | Foto: Ganesha

Saya pribadi yang menyaksikan langsung prosesnya, merasa terharu dan bangga. Momen ini jadi begitu istimewa, bukan hanya soal bendera yang dikibarkan, tetapi tentang semangat warga yang memilih untuk ikut serta, lalu berani mengambil peran, dan menunjukkan kepada saya bahwa nasionalisme bisa lahir dari siapa saja.

Paskibraka Linmas Desa Panji jadi contoh nyata bagi saya, bahwa pengabdian kepada negara tidak selalu harus dalam bentuk besar atau di panggung nasional. Terkadang, di desa kecil, di tengah lapangan sederhana, semangat kemerdekaan justru dapat bersinar terang.

Ketika para bapak yang sehari-hari berkutat dengan pekerjaan kasar, dengan berbagai profesi dan usia yang tak muda lagi, mereka memilih untuk berlatih dan tampil sebagai pengibar bendera, di situlah saya belajar melihat makna kemerdekaan yang sesungguhnya. Pekerjaan mereka mungkin sederhana, tetapi pengabdiaan mereka luar biasa. [T]

Reporter/Penulis: Gading Ganesha
Editor: Jaswanto

  • BACA JUGA:
Hikayat Oven Tembakau: Saksi Bisu Kejayaan Petani Tembakau di Desa Panji
Bicara-bicara Atas Nama Air di Desa Panji Buleleng
Agus dan Yogi, Anak Muda Desa Memimpin Pengelolaan Sampah TPS 3R Desa Panji
Tags: Desa PanjiHUT Kemerdekaan RI
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Setelah Pentas: Garaka, Galang Kangin, dan Wajah Positif Literasi Sekolah

Next Post

Politik Pelayanan Publik Tak Berbentuk: Seni Komunikasi Mengabaikan Rakyat dengan Elegan?

Gading Ganesha

Gading Ganesha

Lahir dan tinggal di Desa Panji, Buleleng, 11 November 1988. Ia adalah founder Bank Sampah Galang Panji dan Co. Founder Rumah Plastik. Juga Ketua BPD Desa Panji.

Related Posts

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails

Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

by Helmi Y Haska
March 31, 2026
0
Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

TIGA buku terbaru menjadi pokok soal diskusi malam itu diselenggarakan Toko Buku Partikular di Pasar Suci, Denpasar, Sabtu, 28 Maret...

Read moreDetails

Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

by Dian Suryantini
March 24, 2026
0
Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

Minggu pagi, 8 Maret 2026, Pasar Intaran terasa agak beda. Biasanya, pasar ini nongkrong manis di pinggir pantai, tepat di...

Read moreDetails

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
March 24, 2026
0
Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Sabtu 21 Maret. Tepat pukul lima sore, saya tiba di SMA Negeri 1 Singaraja—dua belas jam sebelum Alumni Smansa Charity...

Read moreDetails

Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

by Agus Suardiana Putra
March 20, 2026
0
Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

SANG surya mulai turun mengistirahatkan diri setelah seharian bersinar, dan kegelapan perlahan menyelimuti bumi. Tibalah kita pada sandikala, waktu yang...

Read moreDetails
Next Post
Aturan Turunan Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi: Kebijakan “Omon-Omon”?

Politik Pelayanan Publik Tak Berbentuk: Seni Komunikasi Mengabaikan Rakyat dengan Elegan?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co