24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Makna Merdeka Versi  Suku Baduy: Refleksi  80 Tahun Indonesia Merdeka

Asep Kurnia by Asep Kurnia
August 17, 2025
in Esai
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Asep Kurnia

Delapan puluh tahun, bukan waktu yang pendek, lebih tiga perempat abad lebih loh? Jika waktu yang panjang tersebut pertahunnya diisi oleh satu jenis pembangunan yang berwawasan lingkungan demi membangun kesejahteraan dan kemakmuran bangsa, maka sudah delapan puluh program pemerintah yang sudah terlaksana dan berjalan bukan? Lalu di kekinian, sudah di tahap atau di level berapakah tingkat kemajuan, kesejahteraan dan kemakmuran bangsa ini bertengger?

Dan sudah sejauh mana tentang pencapaian, tantangan, dan kontribusi para pemimpin negeri dalam menciptakan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat NKRI selama 80 tahun perjalanan Indonesia merdeka?  Itu hanya refleksi sederhana atau merenungkan kembali tentang apa yang sudah terjadi dan dilakukan oleh para pemuka bangsa ini dalam mengisi kemerdekaan yang usianya sudah cukup menua.

Jika kemerdekaan yang sudah lama di-launching, diisi, lalu dikelola secara amanah oleh para pemimpin NKRI, maka: “Negara maju, negara kuat dan  negara bermartabat dengan berdaulat penuh secara ekonomi sudah pasti diraih, kemudian  tujuan negara menciptakan makmur dalam keadilan dan adil dalam kemakmuran sudah pasti tercapai sejak lama dan tidak hanya sebatas slogan” (Asep Kurnia, 2025).  Tapi, apakah kenyataan yang kita lihat saat ini? Tercapaikah keadilan kemakmuran tersebut, atau justru makin terbalik? 

Apakah saat ini negeri kita sedang sehat-sehat saja? Apakah rakyat dan bangsa ini sudah merasakan arti, fungsi dan makna “Merdeka” secara menyeluruh dan merata, atau jangan-jangan kata merdeka itu hanya dirasakan dan dinikmati oleh dan untuk kelompok-kelompok tertentu saja? Apakah suku Baduy  sebagai anak bangsa yang konstelasinya tidak terpisahkan dari kerangka NKRI juga sudah merasakan “Merdeka” secara utuh? Itulah beberapa  pemantik yang sengaja  penulis paparkan untuk membawa pembaca menikmati makna, pesan dan ajakan berpikir sehat pada narasi yang dibangun di tulisan ini.

Bagaimana dalam rentang waktu 80 tahun etnis Baduy menikmati, menjalani kehidupan adat dan kontribusinya di setiap peringatan hari kemerdekaan? Apakah etnis Baduy yang konon masih digolongkan sebagai salah satu etnis yang mengasingkan diri dari dunia modern, dan masih dikatagorikan atau dikonotasikan etnis yang kurang aktif dalam partisipasi kenegaraan selalu absen atau ikut memeriahkan kemerdekaan, sementara tugas kesukuan mereka adalah “ Ngasuh Ratu Nyayak Menak, neguhkeun nagara ka sakabeh negara, teu kabagean ngaramekeun nagara.” .. Yuk, ikutilah paparan singkat tulisan ini !

Poin-Poin Penting Refleksi 80 Tahun Kemerdekaan

Refleksi berarti bergerak mundur untuk merenungkan kembali apa yang sudah terjadi dan dilakukan. Refleksi 80 tahun kemerdekaan Indonesia pada tahun 2025 adalah momen perenungan mendalam tentang pencapaian bangsa, tantangan yang masih dihadapi, dan pentingnya menjaga persatuan serta mengusung nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika untuk bangkit dari keterpurukan akibat menjamurnya tindakan korupsi, konfigurasi baru tentang politik dan menurunnya kepercayaan masyarakat pada penegakan hukum yang berkeadilan. Refleksi ini juga merupakan panggilan untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan, membebaskan rakyat dari kebodohan, dan mempertegas arah haluan bangsa demi mencapai keadilan, kesejahteraan  dan kemakmuran bangsa.

Hemat penulis, ada beberapa poin penting Refleksi 80 Tahun Kemerdekaan di antaranya:

Pertama, pentingnya mempertahankan dan mengaktualisasikan nilai-nilai bangsa: “Perayaan kemerdekaan ke-80 adalah momen untuk merenungkan dan menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai pemersatu bangsa, serta menjaga semangat persatuan-kesatuan yang disinyalir makin memudar dalam penerapan kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama di kalangan generasi milenial.

Kedua, perenungan dan semangat kebangkitan : “Refleksi ini menekankan bahwa meski telah 80 tahun merdeka, bangsa Indonesia perlu tetap bersatu dan bergotong royong (rereongan), terutama dalam mengentaskan kemiskinan dan memerangi seluruh koruptor sebagai benalu dan penyakit kotor bangsa”.

Ketiga, perlu adanya evaluasi dan arah bangsa: “Refleksi ini mendorong evaluasi terhadap perjalanan bangsa dan memperjelas kembali arah haluan bangsa dalam bentuk GBHN, khususnya pentingnya pendidikan sebagai fondasi peradaban dalam menghadapi tantangan globalisasi sebagai panggilan untuk memerdekakan rakyat dari kungkungan kebodohan dan feodalisme, oligarki serta tidak hanya fokus pada kepentingan primordial semata. 

Keempat, pentingnya memahami sejarah: bahwa semboyan “Jasmerah” (Jangan sekali-kali meninggalkan dan melupakan sejarah) tetap relevan dan penting untuk mengingat perjuangan pahlawan dan menjaga kesadaran sejarah bangsa agar tidak melupakan akar perjuangan. Hindari dan blokade setiap upaya dan usaha dari pihak-pihak tertentu yang berhasrat membelokan peristiwa sejarah.

Kelima, Perlu ditingkatkan peran perjuangan lokal: Refleksi juga bisa mendalami dan mengungkap peran serta kontribusi daerah-daerah seperti etnis Baduy di Provinsi Banten dalam perjuangan kemerdekaan, yang perlu terus dikaji dan ditulis dalam sejarah untuk menjadi rujukan ilmu pengetahuan dan pendidikan peradaban kebangsaan. 

Jejak Leluhur Baduy Ikut dalam Memperjuangkan Kemerdekaan

Kisah ringkas di bawah ini adalah hasil rekam jejak spesial penulis terhadap tokoh adat terkemuka bapak Jaro Saidi sebagai Jaro Tanggungan Dua Belas Sepuh yang berkedudukan sebagai tokoh adat dalam kapasitas sebagai pemegang rahasia tentang silsilah dan cerita tentang siapa suku baduy itu.  Beliau adalah salah satu tokoh adat penting dengan  kewenangan  yang sangat kuat dalam menentukan keselamatan, keajegan dan arah perjalanan hukum adat etnis Baduy.

Manurut beliau, sesuai dengan tugas kesukuannya yaitu : “ neguhkeun agama kasakabeh agama,  neguh negara kasakabeh negara “ (Meneguhkan atau menegaskan agama ke semua agama, negara ke seluruh negara) sejak kehidupan di bumi dibuka, maka mengamati, membimbing keberadaan dan perjalanan manusia di bumi ini menjadi tugas kesukuan Baduy. Termasuk membimbing kemerdekaan NKRI yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Ir. Soekarno dan Bung Hatta.

Pak Jaro Saidi mengisahkan bahwa sebelum memproklamasikan, Bapak Ir. Soekarna datang menemui Puun Jandol, puun-nya Cibeo dan Bapak Jaro Saidi untuk meminta petunjuk dan restu tentang dibentuknya satu nama negara yang bisa mengakomodasi keragaman dan mempersatukan dari 17 Kesultanan dan Kerajaan yang ada pada saat itu. Selama 7 hari, Ir. Soekarno terus berdiskusi dan meminta petunjuk tentang nama negara, dasar negara dan konstitusi yang cocok dengan karakteristik bangsa. Pertanyaan dari Jaro Saidi dan Puun Jandol yang sempat tidak bisa dijawab adalah tentang sanggupkah Bapak memimpin negara baru dengan nama NKRI? Naon nu dimaksud NKRI teh?

Dari 3 pilihan jawaban yang dilontarkan, pak Soekarno memilih nama NKRI dengan makna atau arti “Negara Kesatuan Republik Indonesia”, tidak memilih National Kingdom Republic of Indonesia maupun Negara Kekasih Rahmatan Ilahi.  Itulah salah satu keterlibatan Baduy dalam ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia seperti yang diucapkan Ayah Mursid pada saat HUT RI ke 70 tahun 2015 di Istana Merdeka Jakarta.

Makna dan Arti Merdeka Menurut Suku Baduy

Sudut pandang etnis Baduy tentang Kemerdekaan Indonesia sebagai suatu bangsa belum terekspos secara jelas gamblang dan akurat. Para penulis etnis Baduy nyaris tak ada yang berani untuk mendeskripsikan secara lugas pandangan masyarakat Baduy terhadap arti dan makna “Merdeka “.

Padahal etnis Baduy sudah ada dan terakui keberadaannya sejak sebelum Indonesia diproklamasikan sebagai negara merdeka. Hal ini bukan tanpa alasan, karena baduy masih diasumsikan tertutup dan menjalani budaya lisan tidak bersahabat dengan budaya tulisan, akibatnya berbagai informasi kesukuan mereka sulit digali sehingga kurang di/ terekspos.

Dari beberapa hasil diskusi, wawancara dengan tokoh adat dan warga Baduy, terpercik bahwa bagi etnis Baduy, arti “merdeka” tidaklah sekadar bebas dari belenggu penjajahan, melainkan kebebasan untuk tetap hidup sesuai dengan koridor adat istiadat, kepercayaan, dan nilai-nilai leluhur yang diwariskan secara turun-temurun. Ini berarti bahwa etnis Baduy diberi kemerdekaan dalam memilih sekaligus menjalankan kehidupan tanpa terpengaruh oleh modernisasi, teknologi, dan budaya luar yang dianggap dapat merusak tatanan kehidupan mereka. Makna lainnya, bahwa merdeka berarti mampu mempertahankan dan melestarikan kearifan lokal sebagai panduan dalam bersikap dan berperilaku yang baik dalam kehidupan sehari-hari tanpa adanya intervensi.

Menurut mereka, kebebasan juga berarti tidak terlepas dari tradisi dan aturan yang disebut ketaatan dan kepatuhan pada hukum adat “Ka-pu’un-an,” sebagai sebuah sistem kepercayaan dan kepemimpinan yang dianut oleh masyarakat suku Baduy Dalam, bahwa ada 3 Tangtu Cibeo, Cikartawana dan Cikeusik, tetapi hakikatnya satu yang disebut “Tri Tunggal”.

Kemerdekaan juga diartikan sebagai kebebasan untuk menolak, menyeleksi, dan atau mengadopsi pola-pola hidup modern dan segala bentuk teknologi, serta pengaruh budaya luar yang dianggap dapat mengganggu keharmonisan dan tatanan hidup mereka. Bagi suku Baduy, kemerdekaan juga terkait dengan kemampuan untuk hidup selaras dengan alam dan menjauhi perubahan yang bisa merusak keseimbangan ekosistem di sekitar mereka. Makna lain yang dianggap penting bahwa “merdeka” mereka maknai sebagai kemandirian dalam menjaga hubungan sosial dan mempertahankan nilai-nilai gotong royong / rereongan ( toleransi ) yang kuat di antara sesama anggota masyarakat. 

Merdeka bagi Baduy adalah dihormatinya seluruh identitas kesukuan serta dijaminnya pelaksaaan hukum adat serta Pikukuh Karuhun , diantaranya Pelaksanaan “ Ritual Seba Baduy dan tugas adat Ngasuh Ratu Nyayak Menak, ngabaratapakeun ngabaratanghikeun, Muja Ngalaksa Kapundayan…” Dan yang paling penting, “merdeka” menurut etnis Baduy adalah adanya kekebasan untuk berinteraksi dengan pihak mana pun serta menjalin bisnis tanpa ada pemaksaan dan intervensi sehingga mereka merasa terjamin dan dijamin untuk melakukan upaya dan usaha dalam rangka meningkatkan tarap kesejahteran mereka bebas dari intimidasi dan kekhawatiran.

Makna dan tafsiran versi lain tentang arti kemerdekaan menurut masyarakat Baduy mungkin masih ada, namun mohon maaf penulis belum mampu mendeskripsikan secara lugas dan meyakinkan. Sampai jumpa ditulisan berikutnya. [T]

Dirgahayu Republik Indonesia : “ Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera Indonesia Maju. — Dari Anak Negeri Cinta Indonesia, NKRI Harga Mati

Penulis: Asep Kurnia
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Strategi Apik Warga Baduy Dalam: Pergeseran Interaksi dari Menghindari Menjadi Menjemput Tamu [1]
Baduy Perlu Menciptakan Budaya Baru Demi Keberlangsungan Masa Depan Kesukuannya
Efek Peran Ganda Pemimpin Adat di Baduy
Modifikasi dan Pembangunan Modern di Tanah Ulayat Baduy
Tags: Hari Kemerdekaan RImasyarakat adatProvinsi BantenSuku Baduy
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merawat Lingkungan, Pariwisata dan Bayang-bayang Orientalisme — Catatan Pentas “Rahasia Bapak” karya Dhira Aditya

Next Post

HUT ke-80 RI, Merah Putih Berkibar di Bukit Belong, Klungkung

Asep Kurnia

Asep Kurnia

Pemerhati Baduy, tinggal di tapal batas Baduy

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
HUT ke-80 RI, Merah Putih Berkibar di Bukit Belong, Klungkung

HUT ke-80 RI, Merah Putih Berkibar di Bukit Belong, Klungkung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co