Bruff…
Lingkaran tepung singkong selebar tiga meter itu hancur lebur. Ayu menghantam garis putih dengan kaki, lalu berputar dan berguling cepat, menyapu batas tak kasatmata.
Butiran tepung beterbangan, membentuk kabut tipis di kulit kuning langsatnya dan gaun merah potongan Shanghai—warnanya memudar, seperti kue red velvet yang jatuh ke lantai.

Penampilan Ayu Permata Sari dalam pertunjukan “Torso” di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF
Napasnya menderu, patah di tengah, seperti ombak yang tak kunjung sampai ke pantai. Rambut yang tadinya terikat rapi kini awut-awutan, menyerupai sarang cucak kutilang yang jatuh dari pohon arao—ara.
Perlahan ia berdiri, bayangannya memanjang di lantai, bergerak mengikuti tarikan dada. Dari kejauhan, ia tampak seperti pekhing—bambu—yang menantang angin.
Matanya menatap pohon tanjung di belakang. Dari kerongkongan keluar senandung ringget—sastra lisan Lampung—dengan nada naik-turun, diulang-ulang, semakin keras, memenuhi ruang.
Lalu hening.
“Minta minum, Rio,” ujarnya lirih. Rio—kru Bli Cotek, berkulit gelap, bertubuh besar—menyerahkan botol air. Ayu meneguk pelan, napasnya masih berat.
Ratusan pasang mata di gerbang Museum Buleleng, Singaraja, Bali, malam itu, terpaku, bimbang antara menolong atau menunggu ia roboh. Saya, duduk di terpal sepuluh meter di depannya, ikut menahan napas.
Kami bertatapan—ia sibuk menenangkan dada, saya sibuk menebak apakah ini akhir pertunjukan atau awal babak baru.
Aroma tepung singkong bercampur rasa was-was. Waktu seolah enggan bergerak. Ingatan saya melayang ke setengah jam sebelumnya, Jumat, 25 Juli 2025, pukul 19.50 WITA. Saat pertunjukan baru dimulai.

Pertunjukan Torso di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF 2025
Ayu berdiri tegak di pusat lingkaran, seperti poros waktu. Dari fragmen Cangget dan Sigeh Penguten, ia merangkai gerak torso: antara legato yang mengalir dan staccato yang memutus. Tubuhnya menjadi naskah tak tertulis; setiap putaran adalah pertaruhan.
Batas antara penonton dan penampil kini telah runtuh, hanya tersisa ruang kosong yang berdetak mengikuti helaan napas kami.
Torso, Suara Muli dari Lampung Utara
Selama 53 menit, panggung 3 x 6 meter di pelataran Museum Buleleng menjadi medan tegangan. Torso, karya Ayu Permata Dance Project(APDP), menutup malam itu dengan tepuk tangan panjang yang tertahan-tahan, seperti enggan mengakhiri pertunjukan.
Secara harfiah, torso adalah batang tubuh—penghubung kepala, leher, lengan, kaki. Bagi Ayu, torso adalah titik mula untuk mempertanyakan tubuhnya sebagai perempuan Lampung. Sejak kecil ia menari Cangget dan Sigeh Penguten, dua tari tradisi yang membatasi gerak torso. Hiasan kepala tak boleh jatuh—jika jatuh, dendanya tidak kecil.
Ketika berkuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, ia melihat tari Jawa, Sunda, dan Bali yang membebaskan torso. Pertanyaan pun lahir: mengapa Lampung membatasi gerak torso, sedangkan ketiga daerah itu tidak?
Pertanyaan itu menjadi riset di 2023, berkembang menjadi pencarian serius di 2024. Menjelang akhir tahun, ia terpilih dalam Open Call Mitra Produksi Karya Inovatif Yayasan Kelola. Sejak awal 2025, didukung Kelola, ia mulai membedah torso bukan sekadar anatomi, tapi dari arsip sejarah dan sikap hidup.
Ayu tumbuh di budaya patriarki Lampung Utara: menikah berarti berhenti menari; tubuh dianggap bughak—buruk—tidak pantas dipandang. Sedangkan laki-laki tak ada batasan.
Dalam Torso, ia mengisahkan luka lama: sebambangan, tradisi mirip kawin tangkap. Laki-laki boleh menculik perempuan yang disukainya; penolakan dibalas ancaman atau denda besar.
“Ibuku adalah penyintas. Seorang sarjana pendidikan yang dulunya tak kuasa melawan adat, “ cerita Ayu saat diskusi di hari ke-2 Workshop Analisis Sosial Dalam Teater, 26 Juli 2025 di Pendopo FBS Undiksa Singaraja.
Suaranya memelan. Ia menghela napas panjang.
Lanjutnya,”Temanku pernah jadi korban. Ia tak berdaya, cuma bisa nangis ke aku lewat telepon.” Menurut Ayu, kini praktik itu jauh berkurang, tapi masih terjadi di pedalaman.
Bersama tim—Gelar Soemantri (visual), Edythia Rio (komposer), Sulhan Jamil (cahaya), Nia Agustina (dramaturg), dan Nabilla Kurnia Adzan (produser)—Ayu membangun panggung yang menjadi arsip hidup. Torso tak sekedar pertunjukan. Ia adalah biografi, pertanyaan, sekaligus pernyataan.

Penampilan Ayu Permata Sari dalam pertunjukan “Torso” di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF
Dramaturginya sarat dualitas: tangan kiri terbuka mengajak negosiasi, tangan kanan mengepal menyimpan perlawanan. Gerak berulang menjadi mantra yang mengikat penonton, mengajak mereka membaca tubuh sebagai bahasa berlapis.
Visual art memperluas bahasa tubuh: torso diproyeksikan zoom in dan zoom out di batang pohon, seakan tubuh adalah hutan ingatan. Proyeksi ini menciptakan dialog antara Ayu dan sesuatu yang liyan; bayangan—kadang saling mengisi, kadang beradu. Liyan bisa menjadi sesuatu di masa lalu, sahabat masa kini, sekaligus harapan masa depan.
Lingkaran tepung singkong di lantai tak hanya simbol batas adat yang rapuh dan bisa dilebur, tapi juga luka kolektif: petani singkong Lampung yang terhimpit kebijakan impor, hasil panen tak laku, harga jatuh. Butiran tepung itu membawa beban cerita yang jauh lebih berat dari bentuknya.
“Hampir sebagian besar masyarakat Lampung adalah petani,” ujar Ayu, bibirnya bergetar.
Dengan mata yang menahan hujan, Ayu merasa terpanggil menyuarakan nasib para petani yang menjadi denyut di tanah kelahirannya.
Edythia Rio membuat torso sonik berlapis untuk karya ini: suara Way—sungai—Rarem dan Way Kanan, derit rel kereta dan kendaraan bermotor, berpadu dengan torso kulintang, gambus, gamolan pheking, serdam, dan ringget.
“Way adalah torso,” ucapnya.
“Penghubung desa, sawah, dan kehidupan. Seiring waktu, jalan raya dan rel kereta mulai hadir sebagai jalur transportasi baru. Kondisi ini mengubah lanskap, struktur budaya serta relasi ekonomi politik di Lampung Utara.”
Rio menenun lintasan waktu lewat musiknya—membawa kita melintasi Lampung Utara dari masa kerajaan, melewati bayang kelam kolonial Belanda, hingga ke denyut hari ini.
Setiap nada ia susun dengan cermat, menangkap detail seperti cahaya yang jatuh di permukaan air, mengalirkan suasana yang penuh dinamika dan hiruk-pikuk khas Kotabumi—ibukota Lampung Utara, kota yang tak pernah benar-benar tidur.
Gelar Soemantri memvisualkan jejak riset ini lewat film dokumenter Cangget: Alkisah Sebelum Torso, berdurasi 38 menit. Kamera menelusuri perjalanan Ayu menemui guru dan teman lama—Nani Rahayu, Djohansyah, Ida Noviana, dan siswa Sanggar Cangget Budaya.
“Dokumenter ini menjadi pintu untuk membaca secara kritis tubuh perempuan dalam tradisi Lampung Pepadun yang sarat patriarki,” ujar Ayu.
Negosiasi dimulai Dari Halaman Rumah
Sangun kak tapek bulan sai nyimbat
Nayah yaw ulun mawat kupacei
Anying gham ago dibedak rawan
Nyak pagun neduh yow buhung
(Telah tibalah kita pada bulan yang nahas
Banyak iming-iming orang yang tak bisa dipercaya
Jika kita ingin mendapatkan keberuntungan
Saya tetap menduga bahwa ia berbohong)
Sijo lamun gham ngenah gelagat
Patut bekemas gham kanan kirei
Dang jadi agou keno gudu’an
Tano gham bindem kak kembar payung
(Ini jika kita melihat gelagat
Sudah selayaknya kita semakin waspada
Jangan sampai tertimpa kemalangan
Sekarang kita berteduh, telah kembar payung—yang kita punya)
Suara perempuan dari rekaman tahun 1970-an mengalun—ringget yang menjadi pembuka pertunjukan Torso. Pesannya sederhana: waspada terhadap bahaya di sekitar.
Teras APDP, halaman rumah yang disulap menjadi panggung, tubuh Ayu bergerak perlahan, pinggul dan pundak mengikuti alur irama. Di depannya, duduk berderet tetangga, sanak saudara, tokoh adat, dan perwakilan pemerintah. Malam itu, 18 Juni 2025 pukul delapan, Torso untuk pertama kalinya tampil di Kotabumi–Lampung Utara.

Penampilan Ayu Permata Sari dalam pertunjukan “Torso” di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF
Di belakang panggung, Nia Agustina—sang dramaturg—mengatupkan telapak tangannya erat. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Kesepakatan tim jelas: apa pun reaksi warga, mereka akan tetap berdiri.
Nabila, Gelar, Rio, dan Sulhan siaga. Mereka siap jika ada yang mencoba membubarkan acara. Pilihan mereka tidak goyah: menyuarakan lewat seni, bernegosiasi dari pijakan tradisi budaya.
Menit demi menit berlalu. Wajah penonton berganti-ganti—heran, kagum, penasaran—namun tak ada kemarahan. Hingga akhirnya, tepuk tangan riuh menutup pertunjukan.
Diskusi pun dimulai. Satu per satu penonton bertanya: mengapa karya ini dibuat? Apa tujuannya? Lalu mereka memberikan apresiasi. Tak satupun hujatan, cacian, makian, ataupun penghakiman keluar dari mulut ulun Lampung itu. Ayu dan tim menjawab semua pertanyaan, menceritakan ide dan proses kreatif mereka. Perbincangan menjadi sangat hangat dan intim.
Malam itu, mereka menyadari satu hal: kadang, ketakutan itu hanya prasangka dalam kepala. Yang terpenting adalah keberanian untuk bersuara. Keterbukaan penonton saat itu membuktikan bahwa paham lama bisa berganti. Mesti ada yang memulai mengutarakannya dan mendialogkannya dari hati ke hati.
“Berani bersuara adalah cara membuka ruang-ruang dialog yang bermakna. Setelahnya, banyak kemungkinan akan muncul. Satu percakapan akan membawa kita pada percakapan berikutnya,” ujar Ayu.

Penampilan Ayu Permata Sari dalam pertunjukan “Torso” di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF
Beberapa dekade ini, ruang seni pertunjukan sering terasa transaksional: pertunjukan digelar tanpa dialog; penonton datang sekadar untuk menonton; hubungan antara penyelenggara dan penampil sering kali hanya setara dengan nominal rupiah.
Ayu dan kawan-kawan mencoba membuka ruang baru—tidak hanya membicarakan gagasan Torso, tetapi juga merajut kembali relasi antar manusia. Torso menjadi ruang jumpa, ruang refleksi tentang nilai-nilai hidup yang jarang kita bicarakan lagi.
Bagi Ayu, tidak semua tradisi layak ditinggalkan. Ada yang harus dipertanyakan ulang, ada yang perlu dipertahankan. Karya ini berpijak pada tradisi Kotabumi–Lampung Utara, yang menyimpan relasi erat antara manusia dan semesta.
Selain dua tarian tradisi Lampung, Torso juga berakar pada ringget—sastra lisan Lampung berisi nasihat atau wejangan dalam bentuk puisi, syair, atau pantun. Tahun 2019, ringget diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia.
Ringget tak memiliki sampiran; setiap barisnya adalah isi, biasanya 4–6 baris per bait, berirama. Di tahun 1970-an, ia masih hadir dalam acara adat. Kini, jarang sekali terdengar.
“Menghadirkan ringget dalam karya ini bukan hanya soal identitas, tapi juga ajakan ke orang muda untuk melestarikannya kembali,” ujar Ayu.
Dalam Torso, ringget dialihwahanakan menjadi gerak tubuh, visual, properti, dan lafal.
“Ini adalah ruang negosiasi,” kata Ayu, “tempatku mempertanyakan ulang kepemilikan dan kedaulatan tubuh perempuan. Tidak dengan kekerasan. Apakah cara lama masih bisa dipakai? Atau kita perlu perubahan demi kehidupan yang lebih beradab?”
Saya teringat pada perbincangan hangat dengan beberapa teman aktivis perempuan soal cancel culture. Cancel culture dengan cepat dan tegas seperti palu menghantam meja—menutup pintu, memutus tali, memberi pesan keras bahwa kekerasan berbasis gender tak lagi punya ruang. Tapi negosiasi adalah tangan yang tetap duduk di meja, membuka pintu perlahan, mencari jalan keluar yang adil tanpa menghapus peluang pembelajaran.
Keduanya ibarat dua arus yang saling tarik-menarik. Cancel culture mengguncang dan memaksa dunia menoleh; negosiasi menata puing setelah badai. Pertanyaannya: kapan memang kita perlu mengecam, dan kapan kita harus bersabar membenahinya dari akar?
Bagi Ayu, perjuangan kesetaraan bukan soal perempuan mengungguli laki-laki, tapi soal dunia yang lebih baik karena keduanya saling membangun. Ada dialog, ada kesepahaman.
Ringget terakhir mengalun—kali ini dinyanyikan bersama, laki-laki dan perempuan. Sebuah konklusi: ajakan untuk membebaskan dunia dari patriarki, mengubah adat usang, dan membangun kehidupan yang lebih bermartabat.
Seranjo kiri kanan
mak sino pik betappang
Mangi negeri aman
Sabar wayou segudang
Dughi meno giliran
Sai tehadep lagi panjang
(wahai semuanya
mari kita tanggalkan ego masing-masing
supaya negeri aman
perbanyaklah sabar dan keceriaan
meski mendapat giliran belakangan atau lebih dahulu
Yang akan kita hadapi ke depannya masih sangat panjang)
Torso dan SLF : Sastra dari Semesta yang Memulihkan Perempuan
Pertunjukan Torso dari Ayu Permata Dance Project (APDP) adalah bagian dari rangkaian Singaraja Literary Festival (SLF) 2025. SLF berangkat dari alihwahana sastra lontar yang tersimpan di Gedong Kirtya, Singaraja—perpustakaan naskah manuskrip yang menyimpan ribuan lontar warisan sastra Bali. Pilihan kuratorial tahun ini jatuh pada Buda Kecapi, sebuah teks usada (pengetahuan pengobatan) yang menjadi rujukan utama di kalangan penekun pengobatan tradisional Bali.

Penampilan Ayu Permata Sari dalam pertunjukan “Torso” di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF
Menurut Kadek Sonia, Direktur Festival sekaligus pendiri Mahima Institute Indonesia, lontar Buda Kecapi dialihwahanakan ke berbagai medium—dari karya rupa, seni pertunjukan, teater, monolog, hingga lokakarya dan diskusi sastra. Semangatnya: menumbuhkan imaji kota dari gagasan tradisi.
Tradisi di sini bukan nostalgia yang beku, melainkan pijakan untuk membaca dunia kontemporer. SLF tidak dibangun dengan semangat pariwisata; bagi Sonia, napas Bali bukan pada paket wisata yang dijual ke turis, melainkan pada sastra dan pengetahuan—denyut kehidupan yang lahir dari akar masyarakat, yang menjaga martabat dan keberadaban.
Dari semangat itulah, semua konten SLF tahun ini mengarah pada gagasan penyembuhan lewat karya sastra. Dan di titik ini, napas Torso sejalan dengan napas festival.
Jika SLF mengalihwahanakan lontar, Torso mengalihwahanakan ringget. Keduanya sama-sama membicarakan energi penyembuhan, khususnya bagi perempuan. Kehadiran Torso di SLF menjadi cara membuka lapis-lapis perjuangan perempuan yang beririsan dengan isu kelas, etnis, budaya, dan sejarah—sebuah interseksionalitas yang jarang diangkat di panggung publik.
Selama tiga hari penyelenggaraan SLF (25–27 Juli 2025) di berbagai titik Singaraja, program yang menyoroti pemulihan perempuan memiliki ruang lapang. Dalam ruang festival ini, negosiasi antara laki-laki dan perempuan tidak sekadar tema, tapi dirayakan sebagai praktik nyata di praktik produksi hingga artistik festival.
Pertemuan antara SLF dan Torso mengingatkan saya pada kutipan kelompok Sweet Honey In The Rock, kolektif a cappella perempuan Afrika-Amerika yang berperan penting dalam Sisterfire—festival musik tahunan yang mendukung perjuangan perempuan, pekerja, minoritas, dan kaum miskin melawan sistem politik dan ekonomi yang merendahkan manusia:
Culture, in its most valid form, expresses a mass or popular character. It must not be defined and perpetuated by an elite few for the benefit of a few. Culture must, of necessity, reflect and chart humanity’s attempt to live in harmony with itself and nature.
(Budaya, dalam bentuknya yang paling autentik, mencerminkan karakter masyarakat. Ia tidak boleh didefinisikan dan dipertahankan oleh segelintir elit untuk kepentingan segelintir orang. Budaya, secara inheren, harus mencerminkan dan menggambarkan upaya manusia—laki-laki dan perempuan—untuk hidup harmonis dengan dirinya sendiri dan alam.)
Kutipan ini pernah dipakai Angela Davis, seorang feminis marxist Afrika-Amerika dalam bukunya Women, Culture, and Politics (1984). Kutipan itu seolah bertemu pada napas SLF dan Torso: bahwa seni dan tradisi bukan milik segelintir orang, melainkan ruang hidup bersama—tempat penyembuhan, pertemuan, dan perundingan masa depan yang lebih setara.
Seperti Buda Kecapi yang mengajarkan ramuan untuk tubuh, dan ringget yang meramu kata untuk jiwa—keduanya adalah bahasa penyembuhan yang melintasi waktu. Di SLF, keduanya bertemu: pengetahuan tradisi dan suara perempuan, mengalir dalam satu aliran yang sama, menghapus batas antara masa lalu dan masa depan.
Malam menutup festival hari pertama dengan napas yang lebih tenang. Di tengah lampu yang meredup, kita mengerti: penyembuhan bukan hanya soal mengobati luka, tapi tentang keberanian untuk tetap saling menyapa, saling mendengar, dan saling mengubah. Seperti Torso dan SLF, kita semua adalah bagian dari upaya itu—menjaga agar dunia tetap punya ruang untuk hidup harmonis dengan dirinya sendiri dan semesta. [T]
Penulis: Angelique Maria Cuaca
Editor: Adnyana Ole




























