SAYA merasa nyaman berangkat saat udara terasa sejuk dan lalu lintas masih sepi. Selain itu, dengan berangkat ketika hari masih sepi, tidak banyak tetangga yang tahu saat saya keluar rumah membawa sepeda dengan tas di depan, tengah, dan samping kiri-kanan.
Gresik mulai riuh ketika saya sampai di perempatan Sentolang. Saya berharap masih belum banyak truk besar yang melintas dari Romokalisari hingga pertigaan Kalianak Barat-Margomulyo. Tapi ternyata hari itu lalu-lintas kendaraan besar cukup ramai. Jumlah truk dan tronton mulai berkurang ketika saya sampai di pertigaan Margomulyo-Raya Tandes.
Pagi itu saya belum sarapan. Saya juga belum punya rencana akan istirahat untuk makan pagi di Surabaya atau Sidoarjo. Ketika perut mulai lapar, saya teringat dengan kurma pemberian salah satu kawan. “Buat bekal di jalan jika tidak suka dibuang saja,” ujarnya saat mengantar keberangkatan saya.
Setelah makan empat kurma, perut terasa kenyang. Saya melanjutkan bersepeda ke arah Sidoarjo, karena belum menemukan warung yang cocok.
Oh ya, salah satu kendala saya dalam bersepeda adalah mencari warung yang pas. Sebab saya pescotarian, hanya makan ikan, tahu, tempe, telor dan sayur.
Untuk mengatasi hal tersebut, saya biasanya membawa bekal lauk ikan teri balado yang bisa bertahan hingga beberapa hari. Hal ini untuk mengantisipasi bila tidak menemukan warung dengan menu yang sesuai.
Sejak dari Surabaya ada beberapa panggilan masuk di ponsel. Banyak nomor yang saya kenal, tapi tidak sedikit yang tidak masuk dalam daftar telepon.
Bahkan ada di antara para penelepon itu, benar-benar tidak saya kenal secara pribadi. Rata-rata mereka memberikan semangat dan doa untuk keselamatan saya.
Yang menelpon dan mengirim pesan WA tidak hanya kawan di Gresik, juga kawan-kawan sekolah di Surabaya. Entah dari mana mereka mendapatkan informasi saya akan bersepeda ke Labuan Bajo.
Karena selepas Sidoarjo saya tidak menemukan warung yang tepat, saya makan buah kurma lagi. Rasanya cukup hingga mendapatkan warung dengan menu yang saya inginkan.
Akhirnya saya menemukan warung masakan Padang di Kota Pasuruan, pada pukul 10.25 WIB, kilometer 75,05 dari Gresik. Sambil menunggu makanan disajikan saya membuka media sosial. Ternyata sudah sangat banyak notifikasi yang saya terima, baik di WA maupun Facebook.
Sepertinya perjalanan saya kali ini menjadi viral di media sosial. Jujur saja, saya merasa terbebani. Saya tidak suka menjadi ‘artis’—karena saya introvert. Itu alasan kenapa saya suka bersepeda sendiri. Tapi tentu saya merasa senang karena banyak kawan yang mendukung.
Sambil mengayuh, muncul pertanyaan-pertanyan di benak saya. Bagaimana jika saya tidak bisa menyelesaikan misi hingga tuntas? Bagaimana jika saya mengecewakan mereka yang sudah memberikan dukungan?
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat saya terbebani. Kegembiraan yang selama ini saya dapatkan dari bersepeda tiba-tiba menguap. Saya seolah sedang mengikuti sayembara dan dituntut untuk menang.
Selesai makan, saya mengayuh sepeda dengan agak ngebut menuju Kota Probolinggo. Sebelumnya saya sudah berjanji kepada kawan yang tinggal di kota tersebut, untuk mampir ke rumahnya.
Ketika sampai di Kecamatan Nguling, pergelangan kaki kiri terasa nyeri. Tidak lama kemudian muncul rasa sakit di paha kanan. Disusul rasa ngilu di telapak tangan kiri dan kanan. Padahal saya belum sampai di Kota Probolinggo. Perjalanan masih sekitar 900 kilometer lagi. Celaka![T]
Penulis: Made Wirya
Editor: Jaswanto
![Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [2]—Celaka! Baru 100 Kilometer Tapi Sekujur Tubuh Sudah Ngilu](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/08/MADE-WIRYA-750x375.jpg)


























