- Artikel ini adalah catatan kuratorial paneran seni rupa “Buda Kecapi: Seni dan Penjelajahan ke Dalam Diri” serangkaian Singaraja Literary Festival, 25-27 Juli 2025 di Galeri Paduraksa FBS Undiksha Singaraja
TITIK. Garis.
Dua hal yang hari ini luput menjadi esensi dari mempelajari seni rupa. Pun luput dalam melihat sebuah gambar visual yang terus bertumpuk terlihat di layar keseharian. Dunia visual kita sudah banyak berubah dan pesat di ambang 15 tahun terakhir. Terlihat anak muda yang baru duduk di bangku kuliah sering tidak bisa menjawab dan tidak ingat apa saja unsur-unsur seni rupa. Seakan tidak diingat bahwa garis, titik, bidang membentuk apa yang mereka lihat sebagai karya seni rupa.
Salah satu perupa yang menelusuri kembali unsur-unsur seni rupa ini adalah perempuan perupa Ni Nyoman Sani. Ia telah menelusuri cara berkarya yang bersifat art therapy sejak pandemi 2020.
Diawali dengan karya-karya yang sifatnya seperti sket, ia menelusuri goresan garis menggunakan tinta pada kertas-kertas kecil berwarna kuning, jingga dan putih. Sket itu datang dari hasil pengamatan sekitar Sanur maupun secara abstrak, sebuah refleksi me-Nyepi di tahun baru Saka—di mana perputaran bulan terjadi, bulan baru muncul, tahun baru datang. Hasil sket itu ia lekatkan dalam satu kanvas dan menjadi karya yang ia namakan “Meditative Series”.
Seakan saat itu Sani kembali ke titik nol, tidak saja dalam berkarya dengan teknik membuat garis saja tetapi juga ke sebuah unsur seni yang esensial. Dari sini berkembanglah karya-karya lain yang berbasis suatu unsur seni rupa lagi: titik. Seperti karyanya berisikan titik-titik putih yang berjudul “Tranquility”.

Lingga Yoni #2 (2025) karya Ni Nyoman Sani
Titik putih yang dibuat menggunakan cat akrilik itu menjadi art therapy juga untuknya. Dan lagi-lagi berbasis sekitaran Sanur dimana ia mengambil gambar-gambar bayangan berjalan di pantai. Ia merefleksikan kembali dalam bentuk yang paling sederhana, menghasilkan kreasi yang abstrak namun sungguh bermakna.
Kedua seri karya di atas membawa kita berefleksi, karya-karya ekspresif abstrak yang sungguh tenang. Ada ajakan untuk merasakan ketenangan dalam seri karya ini serta membawa kita untuk memahami kembali kesederhanaan melalui unsur titik dan garis.
Metode berkarya ini lalu berlanjut dalam kekaryaan Sani sampai hari ini. Selama membuat karya yang berbasis titik, ia tidak luput tetap mengembangkan karya yang berbasis garis.
Di pameran ini (paneran seni rupa “Buda Kecapi: Seni dan Penjelajahan ke Dalam Diri”), Sani menghadirkan karya periode garis yang ia buat menggunakan cat akrilik dan juga teknik cetak. Dengan garis ia menghadirkan bentuk-bentuk yang kita kenal dan bisa juga asing dengannya.

Lingga Yoni #3 (2025) karya Ni Nyoman Sani
Karya “Entrance” ia sebut sebagai “karya periode garis yang membentuk sebuah metafora bentuk bagian tubuh perempuan”. Sani menyebutkan makna dari karya ini begitu beragam untuknya,
…memiliki makna lautan kehidupan yang penuh kelembutan, kekuatan, dan juga merupakan sumber kehidupan, yang penuh kemampuan untuk menciptakan, melindungi dan merawat kehidupan.
Sedangkan “Lingga Yoni” merupakan simbolisasi dari 2 (dua) energi, begitu juga energi dan ruang, yang ia lihat sebagai “keselarasan dan keseimbangan pemeliharaan kehidupan.”
Garis Sani berkembang, tidak lagi menghadirkan sesuatu yang abstrak tetapi mulai masuk pada simbolisasi serta metafora. Ada suatu proses yang bertahap yang ingin Sani hadirkan, sebagaimana art therapy dapat menjadi cara dalam menghadapi kehidupan secara bertahap juga. Ada sebuah pengingat di antara bahwa hidup mungkin penuh keriuhan, tetapi seni dapat hadir sebagai bagian dari ketenangan.

The Portal (2024) karya Ni Nyoman Sani
Tidak itu saja, seni bisa hadir sebagai metode penyembuhan, secara perlahan dan tidak tergesa-gesa. Ditambah dalam Buda Kecapi yang menjadi tema kali ini, merupakan pengingat bahwa dalam penyembuhan tidak saja secara fisik tetapi juga secara aktivasi energi dalam diri manusia, terutama memohon penyembuhan terhadap Kadapat atau Bija Aksara yang telah menemani kita dari dalam kandungan sampai di kehidupan.
Mengutip penjelasan Dewa Gde Purwita kepada kawan-kawan Gurat Institute, bahwa Panca Aksara dan Panca Brahma yang “secara spesifik dapat dipecah dan diringkas menempati organ-organ tubuh dan arah mata angin” bisa “mendapatkan harmonisasi oleh Budakacapi tentu melalui samadhi/tapa/yoga” untuk meraih fokus pada Panca Tatagatha.” Ini bersambung dengan kekaryaan Sani yang kali ini menghadirkan harmonisasi organ tubuh—keselarasan, keseimbangan, serta merawat kehidupan.
Maka, kesabaran dalam mengaktivasi energi dan ruang, yang tercerminkan dalam karya-karya Sani ini, kiranya bisa menjadi sebuah wadah untuk berkaca bersama. Melihat kembali bagaimana garis tidak hanya penting dikenal menjadi unsur seni rupa tetapi juga bagian yang vital dalam art therapy. Juga, kembali menggores unsur seni rupa secara sederhana bukanlah suatu kemunduran, tetapi kesempatan untuk mengembangkan diri secara bertahap lagi.[T]
Penulis: Savitri Sastrawan
Editor: Jaswanto



























