2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Psikologi Humanistik Polenk

I Wayan Nuriarta by I Wayan Nuriarta
August 6, 2025
in Ulas Rupa
Psikologi Humanistik Polenk

Teo-Ekologi Sampi Duwe (2025) karya Nyoman ‘Polenk’ Rediasa

  • Artikel ini adalah catatan kuratorial paneran seni rupa “Buda Kecapi: Seni dan Penjelajahan ke Dalam Diri” serangkaian Singaraja Literary Festival, 25-27 Juli 2025 di Galeri Paduraksa FBS Undiksha Singaraja

DI tengah kehidupan masyarakat modern yang dipenuhi tekanan sosial, krisis identitas, dan alienasi, seni lukis muncul sebagai jendela yang membuka kembali hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Lebih dari sekadar estetika visual, seni lukis dapat menjadi sarana perenungan yang mendalam, menghubungkan individu dengan esensi eksistensialnya.

Ketika dipadukan dengan pendekatan psikologi humanistik, seni lukis tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi kreatif, tetapi juga sebagai media penyembuhan batin dan pemulihan kesehatan mental bagi masyarakat.

Psikologi humanistik memandang penyembuhan bukan sekadar mengatasi gejala, tetapi menghidupkan kembali hubungan manusia dengan jati dirinya. Prinsip inilah yang menjadi landasan ketika seni lukis digunakan sebagai media perenungan dan penyembuhan di masyarakat.

Seni lukis menyediakan ruang bagi individu maupun komunitas untuk menyuarakan isi batin yang kerap terpendam. Proses melukis, baik dilakukan secara individual maupun kolektif, merupakan bentuk komunikasi non-verbal yang memungkinkan menghadirkan ekspresi berupa emosi, kenangan, harapan, maupun konflik internal.

Kesehatan mental menjadi isu yang tak terelakkan. Banyak individu mengalami tekanan batin, kecemasan, dan kehilangan makna hidup. Di sinilah psikologi humanistik dan seni rupa bertemu sebagai sebuah pendekatan yang tidak hanya menyembuhkan, tetapi juga memulihkan martabat dan potensi manusia.

Awas Sigap (2023) karya Nyoman ‘Polenk’ Rediasa

Psikologi humanistik—dengan tokoh-tokohnya seperti Carl Rogers dan Abraham Maslow—memusatkan perhatian pada pertumbuhan pribadi, kebebasan memilih, dan aktualisasi diri. Ketika prinsip ini diterapkan dalam seni rupa, lahirlah jalan pengobatan yang unik, yaitu terapi seni yang berlandaskan pada ekspresi bebas, kesadaran diri, dan pencarian makna hidup.

Psikologi humanistik melihat manusia sebagai makhluk yang memiliki kapasitas bawaan untuk berkembang secara positif. Manusia dianggap memiliki kebebasan, kesadaran, dan dorongan alami untuk mencapai aktualisasi diri. Oleh karena itu, pendekatan ini menekankan pengalaman subjektif dan nilai-nilai kemanusiaan seperti kreativitas dan makna-makna kehidupan.

Dalam konteks terapi, pendekatan humanistik tidak bersifat mengoreksi, melainkan mendampingi. Terapi bukan tempat di mana klien “diperbaiki”, melainkan ruang di mana ia didengarkan, dipahami, dan didorong untuk menemukan dirinya sendiri. Di sinilah seni rupa memainkan peran yang signifikan.

Seni rupa—melalui lukisan, memberikan individu medium untuk mengekspresikan pikiran dan perasaannya secara simbolik. Dalam banyak kasus, kata-kata tak cukup untuk menggambarkan trauma, luka batin, atau keresahan eksistensial. Melalui lukisan, warna, dan bentuk, seseorang dapat mengakses lapisan terdalam dari kesadarannya dan menyalurkan apa yang tidak dapat dikatakan.

Dengan terapi seni yang berlandaskan psikologi humanistik, karya seni tidak dinilai berdasarkan keindahan teknisnya, yang lebih penting adalah proses ekspresinya—sebuah proses reflektif yang memfasilitasi kesadaran diri, penerimaan, dan integrasi emosi.

Pendekatan humanistik dalam terapi seni menawarkan ruang aman (safe space) yang bebas dari penilaian. Terapi ini tidak mengarahkan, tetapi memfasilitasi. Tujuannya adalah membantu individu terhubung kembali dengan potensi kreatif dan autentiknya. Dalam konteks art theraphy (seni penyembuhan), karya seni rupa yang dihadirkan oleh Nyoman ‘Polenk’ Rediasa menunjukkan tanda-tanda tersebut. Tiga karyanya yaitu:

(1) Awas Sigap, lukisan yang menyimpan narasi pedih di balik simbolisme heroik. Garuda yang gagah mencengkeram merah-putih justru menjadi ironi di tengah panorama kehancuran alam yang mengelilinginya—hamparan tanah gersang dan pepohonan yang menjadi korban api tak sekadar bencana, melainkan buah kebijakan buta dan keserakahan oligarki.

Namun, lukisan ini tetap menyisakan harapan. Garuda yang berdiri tegak di tengah kehancuran bisa dibaca sebagai seruan untuk bangkit—pengingat bahwa kekuasaan sejati terletak pada kemampuan menyembuhkan, bukan merusak.

Seperti tabib tradisional yang meracik obat dari tumbuhan liar, karya ini mengajak ‘penikmat seni’ mencari solusi di tengah reruntuhan: memulihkan alam dengan kearifan lokal, melawan keserakahan dengan kesadaran kolektif. Ini bukan lagi lukisan tentang kewaspadaan, melainkan peringatan, sebuah penyadaran.

(2) Sisa-sisa Pembangunan, lukisan ini merekam jejak pembangunan besar-besaran yang mengorbankan alam. Reruntuhan kayu hangus dan tunggul pohon yang patah mendominasi kanvas, sementara di kejauhan, siluet megah sebuah proyek pembangunan tampak samar.

Sisa-sisa Pembangunan (2023) karya Nyoman ‘Polenk’ Rediasa

Warna abu-abu debu dan hitam arang menciptakan kontras tajam antara kehancuran di depan mata dengan kemegahan yang dijanjikan di belakang. Lukisan ini mengajak masyarakat untuk merenungkan batas-batas kemajuan, sekaligus menyisakan harapan bahwa setiap kerusakan masih mungkin untuk diperbaiki, asalkan kita mau belajar dari sisa-sisa yang ditinggalkan.

(3) Teo-Ekologi Sampi Duwe, lukisan ini merupakan salah satu miniatur seni instalasi partisipatif teo-ekologis sampi duwe di Desa Tambakan Buleleng. Menggabungkan teologi dan ekologi dalam seni instalasi partisipatif, mengeksplorasi kearifan lokal, spiritualitas, dan kelestarian alam di Desa Tambakan. Objek utamanya adalah tengkorak Sampi Duwe, simbol sakral hubungan manusia-alam, diperkuat dengan simbol kehidupan sehari-hari dan ritual.

Pendekatan ecosophy mengajak masyarakat berinteraksi langsung, menciptakan dialog antara seni, budaya, dan lingkungan. Sampi Duwe hadir sebagai medium transformatif yang mendorong perubahan perilaku sekaligus penghormatan terhadap alam melalui pendekatan teo-ekologis. Ruang ini mengajak partisipasi publik menjadi kunci dalam memperkuat kesadaran kolektif akan pelestarian lingkungan dan nilai-nilai tradisi yang terkandung di dalamnya.

Melalui penciptaan ini, Polenk dapat berdialog dengan dirinya sendiri—tanpa kata-kata, mengungkapkan berbabagi kegelisahan terkait dengan alam/ lingkungan yang terluka. Meskipun berangkat dari ranah personal, karya-karyanya dalam pameran ini membuka ruang empati universal.

Masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga peserta dalam ruang penyadaran kolektif. Mereka diajak merasakan, mengingat, bahkan mungkin berdamai dengan luka yang pernah—atau masih—mereka alami terkait dengan kondisi lingkungan yang sedang tidak baik-baik saja dalam arus global pembangunan yang menggila.

Teo-Ekologi Sampi Duwe (2025) karya Nyoman ‘Polenk’ Rediasa

Melalui pendekatan ini, seni lukis mengambil peran penting dalam ranah kesehatan mental dan sosial. Ia menjadi jembatan antara tubuh, pikiran, dan emosi. Ia mengembalikan makna seni sebagai pengalaman spiritual dan eksistensial.

Seni lukis sebagai media penyembuhan membawa kita pada satu kesadaran penting: bahwa di balik luka, selalu ada ruang untuk tumbuh. Bahwa kreativitas bukan hanya milik seniman, tapi milik setiap jiwa yang ingin pulih. Kebutuhan akan ruang-ruang pemulihan menjadi semakin mendesak. Kesehatan mental bukan lagi isu individual, melainkan tantangan kolektif yang dihadapi oleh berbagai lapisan masyarakat.

Melalui seni, dinding antara ‘yang mengalami’ dan ‘yang memahami’ menjadi arena pertemuan untuk saling memahami dan menyadari. Kita tidak lagi hanya menjadi pengamat, tapi bagian dari jaringan penyembuhan bersama.

Di balik coretan, tersembunyi keberanian untuk membuka diri. Di balik warna-warna yang kabur, ada suara hati yang perlahan ingin didengar. Itulah estetika kesembuhan: bukan tentang kesempurnaan visual, melainkan tentang ketulusan emosional.

Dalam setiap lukisan, kita tak hanya melihat apa yang tampak di permukaan, tetapi juga merasakan denyut yang tak kasat mata: denyut pemulihan, keberanian, dan harapan.

Karya-karya Polenk dalam pendekatan psikologi humanistik bukan sekadar bentuk terapi, melainkan jalan pulang ke dalam diri. Kehadiran karyanya memungkinkan kita untuk menyentuh kembali esensi terdalam diri—dalam ruang itulah, penyembuhan sejati dimulai.[T]

Penulis: I Wayan Nuriarta
Editor: Jaswanto

Buda Kecapi: Muara yang Kembali pada Hulu
Buda Kecapi sebagai Metode Art Therapy
https://tatkala.co/2025/08/06/indonesia-kumpulan-pohon-tumbang-lukisan-sia-sia-pembangunan-dan-awas-sigap-karya-polenk-rediasa-di-singaraja-literary-festival-2025
Tags: KuratorialPameranPameran Seni RupaSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Buda Kecapi sebagai Metode Art Therapy

Next Post

Titik dan Garis Ni Nyoman Sani

I Wayan Nuriarta

I Wayan Nuriarta

Dosen Institut Seni Indonesia Bali

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
Titik dan Garis Ni Nyoman Sani

Titik dan Garis Ni Nyoman Sani

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co