12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Psikologi Humanistik Polenk

I Wayan Nuriarta by I Wayan Nuriarta
August 6, 2025
in Ulas Rupa
Psikologi Humanistik Polenk

Teo-Ekologi Sampi Duwe (2025) karya Nyoman ‘Polenk’ Rediasa

  • Artikel ini adalah catatan kuratorial paneran seni rupa “Buda Kecapi: Seni dan Penjelajahan ke Dalam Diri” serangkaian Singaraja Literary Festival, 25-27 Juli 2025 di Galeri Paduraksa FBS Undiksha Singaraja

DI tengah kehidupan masyarakat modern yang dipenuhi tekanan sosial, krisis identitas, dan alienasi, seni lukis muncul sebagai jendela yang membuka kembali hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Lebih dari sekadar estetika visual, seni lukis dapat menjadi sarana perenungan yang mendalam, menghubungkan individu dengan esensi eksistensialnya.

Ketika dipadukan dengan pendekatan psikologi humanistik, seni lukis tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi kreatif, tetapi juga sebagai media penyembuhan batin dan pemulihan kesehatan mental bagi masyarakat.

Psikologi humanistik memandang penyembuhan bukan sekadar mengatasi gejala, tetapi menghidupkan kembali hubungan manusia dengan jati dirinya. Prinsip inilah yang menjadi landasan ketika seni lukis digunakan sebagai media perenungan dan penyembuhan di masyarakat.

Seni lukis menyediakan ruang bagi individu maupun komunitas untuk menyuarakan isi batin yang kerap terpendam. Proses melukis, baik dilakukan secara individual maupun kolektif, merupakan bentuk komunikasi non-verbal yang memungkinkan menghadirkan ekspresi berupa emosi, kenangan, harapan, maupun konflik internal.

Kesehatan mental menjadi isu yang tak terelakkan. Banyak individu mengalami tekanan batin, kecemasan, dan kehilangan makna hidup. Di sinilah psikologi humanistik dan seni rupa bertemu sebagai sebuah pendekatan yang tidak hanya menyembuhkan, tetapi juga memulihkan martabat dan potensi manusia.

Awas Sigap (2023) karya Nyoman ‘Polenk’ Rediasa

Psikologi humanistik—dengan tokoh-tokohnya seperti Carl Rogers dan Abraham Maslow—memusatkan perhatian pada pertumbuhan pribadi, kebebasan memilih, dan aktualisasi diri. Ketika prinsip ini diterapkan dalam seni rupa, lahirlah jalan pengobatan yang unik, yaitu terapi seni yang berlandaskan pada ekspresi bebas, kesadaran diri, dan pencarian makna hidup.

Psikologi humanistik melihat manusia sebagai makhluk yang memiliki kapasitas bawaan untuk berkembang secara positif. Manusia dianggap memiliki kebebasan, kesadaran, dan dorongan alami untuk mencapai aktualisasi diri. Oleh karena itu, pendekatan ini menekankan pengalaman subjektif dan nilai-nilai kemanusiaan seperti kreativitas dan makna-makna kehidupan.

Dalam konteks terapi, pendekatan humanistik tidak bersifat mengoreksi, melainkan mendampingi. Terapi bukan tempat di mana klien “diperbaiki”, melainkan ruang di mana ia didengarkan, dipahami, dan didorong untuk menemukan dirinya sendiri. Di sinilah seni rupa memainkan peran yang signifikan.

Seni rupa—melalui lukisan, memberikan individu medium untuk mengekspresikan pikiran dan perasaannya secara simbolik. Dalam banyak kasus, kata-kata tak cukup untuk menggambarkan trauma, luka batin, atau keresahan eksistensial. Melalui lukisan, warna, dan bentuk, seseorang dapat mengakses lapisan terdalam dari kesadarannya dan menyalurkan apa yang tidak dapat dikatakan.

Dengan terapi seni yang berlandaskan psikologi humanistik, karya seni tidak dinilai berdasarkan keindahan teknisnya, yang lebih penting adalah proses ekspresinya—sebuah proses reflektif yang memfasilitasi kesadaran diri, penerimaan, dan integrasi emosi.

Pendekatan humanistik dalam terapi seni menawarkan ruang aman (safe space) yang bebas dari penilaian. Terapi ini tidak mengarahkan, tetapi memfasilitasi. Tujuannya adalah membantu individu terhubung kembali dengan potensi kreatif dan autentiknya. Dalam konteks art theraphy (seni penyembuhan), karya seni rupa yang dihadirkan oleh Nyoman ‘Polenk’ Rediasa menunjukkan tanda-tanda tersebut. Tiga karyanya yaitu:

(1) Awas Sigap, lukisan yang menyimpan narasi pedih di balik simbolisme heroik. Garuda yang gagah mencengkeram merah-putih justru menjadi ironi di tengah panorama kehancuran alam yang mengelilinginya—hamparan tanah gersang dan pepohonan yang menjadi korban api tak sekadar bencana, melainkan buah kebijakan buta dan keserakahan oligarki.

Namun, lukisan ini tetap menyisakan harapan. Garuda yang berdiri tegak di tengah kehancuran bisa dibaca sebagai seruan untuk bangkit—pengingat bahwa kekuasaan sejati terletak pada kemampuan menyembuhkan, bukan merusak.

Seperti tabib tradisional yang meracik obat dari tumbuhan liar, karya ini mengajak ‘penikmat seni’ mencari solusi di tengah reruntuhan: memulihkan alam dengan kearifan lokal, melawan keserakahan dengan kesadaran kolektif. Ini bukan lagi lukisan tentang kewaspadaan, melainkan peringatan, sebuah penyadaran.

(2) Sisa-sisa Pembangunan, lukisan ini merekam jejak pembangunan besar-besaran yang mengorbankan alam. Reruntuhan kayu hangus dan tunggul pohon yang patah mendominasi kanvas, sementara di kejauhan, siluet megah sebuah proyek pembangunan tampak samar.

Sisa-sisa Pembangunan (2023) karya Nyoman ‘Polenk’ Rediasa

Warna abu-abu debu dan hitam arang menciptakan kontras tajam antara kehancuran di depan mata dengan kemegahan yang dijanjikan di belakang. Lukisan ini mengajak masyarakat untuk merenungkan batas-batas kemajuan, sekaligus menyisakan harapan bahwa setiap kerusakan masih mungkin untuk diperbaiki, asalkan kita mau belajar dari sisa-sisa yang ditinggalkan.

(3) Teo-Ekologi Sampi Duwe, lukisan ini merupakan salah satu miniatur seni instalasi partisipatif teo-ekologis sampi duwe di Desa Tambakan Buleleng. Menggabungkan teologi dan ekologi dalam seni instalasi partisipatif, mengeksplorasi kearifan lokal, spiritualitas, dan kelestarian alam di Desa Tambakan. Objek utamanya adalah tengkorak Sampi Duwe, simbol sakral hubungan manusia-alam, diperkuat dengan simbol kehidupan sehari-hari dan ritual.

Pendekatan ecosophy mengajak masyarakat berinteraksi langsung, menciptakan dialog antara seni, budaya, dan lingkungan. Sampi Duwe hadir sebagai medium transformatif yang mendorong perubahan perilaku sekaligus penghormatan terhadap alam melalui pendekatan teo-ekologis. Ruang ini mengajak partisipasi publik menjadi kunci dalam memperkuat kesadaran kolektif akan pelestarian lingkungan dan nilai-nilai tradisi yang terkandung di dalamnya.

Melalui penciptaan ini, Polenk dapat berdialog dengan dirinya sendiri—tanpa kata-kata, mengungkapkan berbabagi kegelisahan terkait dengan alam/ lingkungan yang terluka. Meskipun berangkat dari ranah personal, karya-karyanya dalam pameran ini membuka ruang empati universal.

Masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga peserta dalam ruang penyadaran kolektif. Mereka diajak merasakan, mengingat, bahkan mungkin berdamai dengan luka yang pernah—atau masih—mereka alami terkait dengan kondisi lingkungan yang sedang tidak baik-baik saja dalam arus global pembangunan yang menggila.

Teo-Ekologi Sampi Duwe (2025) karya Nyoman ‘Polenk’ Rediasa

Melalui pendekatan ini, seni lukis mengambil peran penting dalam ranah kesehatan mental dan sosial. Ia menjadi jembatan antara tubuh, pikiran, dan emosi. Ia mengembalikan makna seni sebagai pengalaman spiritual dan eksistensial.

Seni lukis sebagai media penyembuhan membawa kita pada satu kesadaran penting: bahwa di balik luka, selalu ada ruang untuk tumbuh. Bahwa kreativitas bukan hanya milik seniman, tapi milik setiap jiwa yang ingin pulih. Kebutuhan akan ruang-ruang pemulihan menjadi semakin mendesak. Kesehatan mental bukan lagi isu individual, melainkan tantangan kolektif yang dihadapi oleh berbagai lapisan masyarakat.

Melalui seni, dinding antara ‘yang mengalami’ dan ‘yang memahami’ menjadi arena pertemuan untuk saling memahami dan menyadari. Kita tidak lagi hanya menjadi pengamat, tapi bagian dari jaringan penyembuhan bersama.

Di balik coretan, tersembunyi keberanian untuk membuka diri. Di balik warna-warna yang kabur, ada suara hati yang perlahan ingin didengar. Itulah estetika kesembuhan: bukan tentang kesempurnaan visual, melainkan tentang ketulusan emosional.

Dalam setiap lukisan, kita tak hanya melihat apa yang tampak di permukaan, tetapi juga merasakan denyut yang tak kasat mata: denyut pemulihan, keberanian, dan harapan.

Karya-karya Polenk dalam pendekatan psikologi humanistik bukan sekadar bentuk terapi, melainkan jalan pulang ke dalam diri. Kehadiran karyanya memungkinkan kita untuk menyentuh kembali esensi terdalam diri—dalam ruang itulah, penyembuhan sejati dimulai.[T]

Penulis: I Wayan Nuriarta
Editor: Jaswanto

Buda Kecapi: Muara yang Kembali pada Hulu
Buda Kecapi sebagai Metode Art Therapy
https://tatkala.co/2025/08/06/indonesia-kumpulan-pohon-tumbang-lukisan-sia-sia-pembangunan-dan-awas-sigap-karya-polenk-rediasa-di-singaraja-literary-festival-2025
Tags: KuratorialPameranPameran Seni RupaSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Buda Kecapi sebagai Metode Art Therapy

Next Post

Titik dan Garis Ni Nyoman Sani

I Wayan Nuriarta

I Wayan Nuriarta

Dosen Institut Seni Indonesia Bali

Related Posts

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

by Hartanto
August 29, 2026
0
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

Read moreDetails

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

by Hartanto
August 26, 2026
0
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

Read moreDetails

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
0
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

Read moreDetails

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
0
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

Read moreDetails

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

by Hartanto
August 13, 2026
0
Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

Read moreDetails

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

by Hartanto
August 11, 2026
0
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

Read moreDetails

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
0
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

Read moreDetails
Next Post
Titik dan Garis Ni Nyoman Sani

Titik dan Garis Ni Nyoman Sani

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co