9 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Art Healing dan Seni Lukis Abstrak: Membaca Karya Putu Fajar Arcana

Made Susanta Dwitanaya by Made Susanta Dwitanaya
August 6, 2025
in Ulas Rupa
Art Healing dan Seni Lukis Abstrak: Membaca Karya Putu Fajar Arcana

A Fish In Lotus (2025) karya Putu Fajar Arcana

  • Artikel ini adalah catatan kuratorial paneran seni rupa “Buda Kecapi: Seni dan Penjelajahan ke Dalam Diri” serangkaian Singaraja Literary Festival, 25-27 Juli 2025 di Galeri Paduraksa FBS Undiksha Singaraja

SENI lukis abstrak memiliki potensi untuk menciptakan ruang persepsi tanpa representasi, sebagai ekspresi batiniah perupa maupun pemirsa. Ia menolak dikurung oleh bahasa dan melepaskan diri dari representasi citra. Seni abstrak juga memiliki aspek sebagai ruang penyembuhan (healing), bahkan spiritualitas. Pendekatan ini melampaui interpretasi logis yang sering membatasi ekspresi batin dan justru mendorong katarsis serta kontemplasi.

Dengan karakteristiknya sebagai seni yang menampakkan aspek nonrepresentasional, seni abstrak menempati posisi khas dalam art healing karena memungkinkan munculnya ekspresi emosi terdalam tanpa batasan citra.

Carl Gustav Jung(1964) dalam Man and His Symbols menyatakan bahwa ketika seseorang menyentuh alam bawah sadar, ia akan berurusan dengan bentuk-bentuk simbolik maupun abstrak yang “bukan produk rasional, melainkan realitas yang hidup, yang mengekspresikan dinamika jiwa.”¹

The Dragon In Your Heart (2025) karya Putu Fajar Arcana

Pandangan ini tercermin kuat dalam karya-karya Putu Fajar Arcana, terutama lukisan The Dragon in Your Heart, yang “secara ritmis ingin menangkap kelebat-kelebat naga yang hidup di dalam hati kita semuanya.”²

Naga, selain menjadi mahkluk mitologis dalam berbagai kebudayaan di dunia seperti dalam kebudayaan Tiongkok dan Bali, dalam karya Putu  menjadi simbol arketipal dari kekuatan batin yang bersemayam di ruang psikis terdalam. Naga adalah simbol energi batiniah yang tak sepenuhnya bisa dijelaskan oleh rasio, namun terasa hadir dan aktif dalam diri manusia.

Seni abstrak berpotensi sebagai art healing seperti yang  diungkapkan oleh Shaun McNiff (2004) , yang menyatakan bahwa “abstraksi mengundang citra dan sensasi penyembuhan untuk muncul.”³ Hal ini mengingatkan kita pada karya Putu Fajar Arcana berjudul Safe the Dragon, yang menampilkan abstraksi naga dengan gestur diagonal. Putu menyebutkan bahwa abstraksi naga ini bermanuver ke bumi sebagai pengingat akan perlunya menjaga keseimbangan batin di tengah arus kekuatan destruktif yang mengintai dari luar maupun dalam diri.⁴

Sedangkan dalam karya Dragon Fly, yang menghadirkan paduan warna hitam, putih, dan merah, hadir kekuatan simbolik dari mitos naga Tiongkok yang menggenggam bulan. Warna-warna tersebut dalam tradisi Bali adalah simbol Tri Datu, yang bermakna siklus kehidupan: Upti (penciptaan), Stiti (pemeliharaan), dan Pralina (peleburan).

Safe The Dragon (2025) karya Putu Fajar Arcana

Dragon Fly (2025) karya Putu Fajar Arcana

Melalui abstraksi warna dan gerak, memori kolektif itu disublimkan menjadi citra emosional yang membuka ruang penyembuhan baik kultural maupun personalbahwa segala yang terjadi di dunia ini digerakkan oleh tiga energi semesta yang tercermin dalam Tri Datu, representasi dari Tri Murti: Brahma, Wisnu, dan Siwa.

Rudolf Arnheim ( 1954) dalam Art and Visual Perception menegaskan bahwa unsur-unsur visual seperti warna dan ritme membangkitkan respons emosional mendalam.⁵ Karya Light in the Black Night menghadirkan kekuatan visual semacam ini. Teknik penuangan dan tiupan warna menciptakan impresi gerak yang seolah dihidupkan oleh napas. Berpadu dengan warna Tri Datu (merah, hitam, putih)  di atas latar gelap dan gestur tuangan cat yang ekspresif, karya ini memberikan sensasi tersendiri tentang gerak, tentang daya yang menggetarkan di tengah kegelapan.

Berbicara tentang diri berarti berbicara tentang tubuh dan jiwa sebagai satu kesatuan. Maka berbicara tentang healing atau penyembuhan diri berarti membicarakan tentang keselarasan keduanya. Dalam khazanah Bali, harmoni ini terangkum dalam lontar Buda Kecapi, yang menekankan hubungan antara aksara, tubuh, dan alam semesta.

Light In The Black Night (2025) karya Putu Fajar Arcana

A Fish In Lotus (2025) karya Putu Fajar Arcana

A Fish In Lotus (2025) karya Putu Fajar Arcana

Aksara bukan hanya bentuk visual, tetapi juga energi suara dan kesadaran. Seperti dikatakan oleh Dewa Purwita, “Buda Kecapi menguraikan panjang lebar tentang berbagai aksara-aksara suci yang bersemayam di dalam organ-organ tubuh manusia, relasi antara tubuh manusia dengan alam semesta dalam teori mandala.”⁶

Dalam konteks estetika, suara adalah elemen dalam musik; sedangkan dalam seni rupa abstrak, Wassily Kandinsky (1911) tokoh seni lukis, menganggap warna dan bentuk memiliki muatan musikal dan spiritual. Ia menulis: “Color is the keyboard, the eyes are the harmonies, the soul is the piano with many strings.”⁷ Maka tiap elemen visual dan bagaimana proses perupa mengartikulasikannya menjadi bagian dari proses penyembuhan dan pembangkitan kesadaran tentang daya hidup dalam diri.

Karya Angel in Your Mind menjelma seperti partitur kesadaran yang terpecah-pecah. Panel-panel yang terpecah seolah mewakili bagian jiwa yang tercerai-berai karena konflik batin, trauma, atau kegamangan pikiran. Namun, di sanalah letak proses penyembuhan itu dimulai: saat seseorang bersedia menyusun kembali serpihannya dengan kejernihan dan kesadaran sebagai “malaikat penyelamat.” “Keterbukaan pikiran dan kejernihan dalam mengambil keputusan akan membebaskan dari keterpecahan.”⁸

Putu menempatkan karyanya ini bukan hanya sebagai karya individual, tetapi juga interaktif. Ia menawarkan pengalaman batin kepada audiens melalui aktivitas merangkai keping-keping puzzle karyanya, mengajak mereka untuk larut dalam aktivitas tersebut dan menyusun kembali kepingan kepingan jiwa masing-masing.

Circle Of Love (2025) karya Putu Fajar Arcana

A Wild Of Love (2025) karya Putu Fajar Arcana

Dalam karya A Fish in Lotus Flower dan Circle of Love, Arcana mengangkat simbol lotus sebagai padma kebijaksanaan dan cinta. “Keping-keping bunga dan daunnya membentuk lingkaran yang menyerupai mandala.”⁹ Dalam A Wild of Love, mawar menjadi simbol cinta yang “penuh duri, yang bisa melukai siapa saja yang lalai dan tergesa-gesa.”¹⁰ melalui karya ini seperti mengingatkan kita tentang  kewaspadaan, mencintai dengan kehadiran, bukan dengan kelengahan dan pengabaian.

Melalui karya-karya yang dihadirkan Putu Fajar Arcana kita dapat melihat bagaimana seni lukis abstrak/abstraksi tidak kehilangan makna hanya karena karakteristiknya yang kian menjauh dari image–image representasional, dengan warna, komposisi, teknik , hingga simbol yang dihadirkan melalui abstraksi, justru memperluas cakrawala persepsi kita terhadap emosi, dan penyembuhan batiniah.

Putu Fajar Arcana mengabstraksi memori kolektif tentang mitologi, simbol, hingga ekspresi personal,  menjadi irama visual yang menggetarkan secara batiniah, namun tetap puitis secara visual. Dalam konteks karya karya Putu Fajar Arcana, seni abstrak tidak cukup lagi diurai dari aspek formalnya, bukan pula berhenti pada analisis atas style dari sekian banyak style dalam karya abstrak , tetapi jalan menuju pengenalan diri, pengobatan luka, dan penguatan jiwa.[T]

Notes:

1. Carl G. Jung, Man and His Symbols, Dell Publishing, 1964, hlm. 105.

2. Artist Statement Putu Fajar Arcana, untuk karya The Dragon in Your Heart, 2025.

3. Shaun McNiff, Art Heals: How Creativity Cures the Soul, Shambhala Publications, 2004, hlm. 87.

4. Artist Statement Putu Fajar Arcana, untuk karya Safe the Dragon, 2025.

5. Rudolf Arnheim, Art and Visual Perception: A Psychology of the Creative Eye, University of California Press, 1954, hlm. 125–132.

6. Dewa Purwita,  dalam Budakacapi,  Katalogus Pameran SLF 2025.  Buda Kecapi, Penjelajahan Kedalam Diri. Chapter 1.

7. Wassily Kandinsky, Concerning the Spiritual in Art, Dover Publications, 1911, hlm. 25.

8. Artist Statement Putu Fajar Arcana, untuk karya Angel in Your Mind, 2025.

9. Artist Statement Putu Fajar Arcana, untuk  karya Circle of Love, 2025.

10. Artist Statement Putu Fajar Arcana, untuk karya A Wild of Love, 2025.

Penulis: I Made Susanta Dwitanaya
Editor: Jaswanto

Titik dan Garis Ni Nyoman Sani
Psikologi Humanistik Polenk
Buda Kecapi sebagai Metode Art Therapy
Buda Kecapi: Muara yang Kembali pada Hulu
Tags: KuratorialPameran Seni RupaSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Titik dan Garis Ni Nyoman Sani

Next Post

Di Garis Finish Mereka Disambut Seperti Pejuang — Cerita Lomba Gerak Jalan 17 KM Putri di Singaraja

Made Susanta Dwitanaya

Made Susanta Dwitanaya

Penulis dan kurator seni rupa. Lahir dan tinggal di Tampaksiring, Gianyar

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
Di Garis Finish Mereka Disambut Seperti Pejuang — Cerita Lomba Gerak Jalan 17 KM Putri di Singaraja

Di Garis Finish Mereka Disambut Seperti Pejuang -- Cerita Lomba Gerak Jalan 17 KM Putri di Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti
Ulas Buku

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

by Emi Suy
October 8, 2026
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal
Esai

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru
Pameran

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan
Kuliner

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co