23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Soft Travel”: Berwisata Lebih Personal dan Berkualitas

Chusmeru by Chusmeru
August 3, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

TAMPAKNYA tren berwisata secara berombongan atau grup besar mulai ditinggalkan secara perlahan. Hal ini terjadi seiring dengan perubahan profil dan motivasi wisatawan. Berwisata kini lebih bersifat personal ketimbang massal. Mucullah soft travel sebagai konsep baru dalam berwisata.

Soft travel merujuk pada gaya perjalanan yang lebih santai, ramah lingkungan, dan berfokus pada pengalaman yang mendalam, bukan hanya sekadar menikmati tempat-tempat wisata terkenal. Pada dasarnya, soft travel mengedepankan kualitas pengalaman, bukan kuantitas tempat yang dikunjungi.

Umumnya, wisatawan dari negara-negara dengan kesadaran yang lebih tinggi terhadap isu keberlanjutan dan budaya lokal cenderung lebih tertarik pada soft travel. Banyak wisatawan dari Jerman mencari pengalaman perjalanan yang berfokus pada keberlanjutan, ekowisata, dan menghormati budaya lokal. Jerman memiliki budaya perjalanan yang sangat memperhatikan dampak lingkungan dan sosial, sehingga banyak yang tertarik dengan konsep soft travel (David Weaver, 2001).

Wisatawan Belanda dikenal sering mengutamakan keberlanjutan dalam perjalanan mereka. Negara ini memiliki tingkat kesadaran lingkungan yang tinggi. Saat ini tidak sedikit wisatawan Belanda memilih untuk menghindari pariwisata massal serta lebih suka berinteraksi dengan masyarakat lokal dan menikmati perjalanan yang lebih tenang.

Negara lain yang wisatawannya lebih menyukai soft travel adalah Swedia, Denmark, Kanada, Amerika Serikat, Australia, dan Inggris. Faktor pendidikan dan kesadaran lingkungan yang tinggi menjadikan soft travel menjadi alternatif baru dalam berwisata.

Indonesia, meski tak sebanyak wisatawan negara lain, mulai melirik soft travel juga. Indonesia, dengan keanekaragaman alam dan budaya yang luar biasa, menawarkan banyak destinasi soft travel yang sangat cocok untuk wisatawan yang mencari pengalaman lebih autentik, personal, ramah lingkungan, dan berkualitas.

Bali memiliki Ubud dan beberapa danau serta air terjun yang masih alami di Buleleng. Ubud dikenal dengan suasananya yang tenang, sawah terasering yang hijau, dan budaya Bali yang beragam. Sedangkan Buleleng memiliki alam yang indah dan masih asri, karena belum tersentuh banyak wisatawan.

Lombok memiliki Senggigi, Desa Sade, dan Gili Meno. Lombok merupakan destinasi yang lebih tenang dibandingkan Bali dan lebih dikenal dengan keindahan alamnya yang masih alami. Wisatawan dapat menikmati pantai yang indah, budaya Sasak yang otentik, dan keindahan alam seperti Gunung Rinjani dan Gili Meno. Lombok menawarkan pengalaman pariwisata yang lebih ramah lingkungan dan berfokus pada keberlanjutan.

Beberapa destinasi lain yang cocok untuk soft travel di Indonesia adalah Danau Toba, Sumatera Utara; Bromo, Jawa Timur; Wakatobi, Sulawesi Tenggara; Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur; Bunaken, Sulawesi Utara; dan tentunya Raja Ampat, Papua Barat. Semua destinasi itu memiliki produk wisata yang cocok untuk berwisata secara personal, berkualitas, dan berkelanjutan.

Kesadaran Berwisata

Banyak wisatawan kini semakin sadar akan dampak lingkungan dari pariwisata massal, seperti polusi, kerusakan ekosistem, dan hilangnya keanekaragaman hayati. Soft travel menawarkan alternatif yang lebih ramah lingkungan dengan fokus pada keberlanjutan. Kesadaran berwisata menjadi salah satu faktor berkembangnya soft travel.

Wisatawan kini banyak yang memilih menggunakan transportasi umum atau berjalan kaki di destinasi wisata daripada menggunakan kendaraan pribadi. Pilihan menginap wisatawan adalah akomodasi yang ramah lingkungan, seperti hotel dengan sertifikasi “hijau”.

Kesadaran berwisata mendorong wisatawan untuk merasakan sisi lain dari sebuah destinasi, jauh dari keramaian tempat wisata populer. Wisatawan memilih untuk mengunjungi desa-desa kecil, berpartisipasi dalam festival lokal, atau belajar keterampilan tradisional dari penduduk setempat.

Banyak wisatawan merasa bosan dengan pengalaman pariwisata yang terlalu komersial atau objek wisata yang sarat pengunjung. Tumbuh kesadaran berwisata dengan mencari pengalaman yang lebih mendalam dan autentik, seperti berinteraksi dengan masyarakat lokal, menikmati kuliner khas daerah, atau mengikuti kegiatan berbasis tradisi lokal.

Berwisata juga merupakan bentuk kesadaran baru untuk mengurangi stres dan menjaga kesejahteraan. Soft travel menjadi perjalanan dengan pengalaman yang lebih santai dan menenangkan. Perjalanan semacam ini seringkali lebih lambat, sehingga memungkinkan wisatawan untuk menikmati waktu tanpa terburu-buru, seperti dalam perjalanan hiking, meditasi, atau mengunjungi spa yang berbasis alam.

Sisi Positif

Belajar dari pengalaman pariwisata massal, seringkali berdampak negatif pada masyarakat lokal, seperti kesenjangan ekonomi atau perilaku wisatawan yang brutal. Soft travel memberi sisi positif pada manfaat ekonomi yang lebih merata untuk masyarakat lokal, dan berusaha untuk menghormati dan melestarikan budaya. Wisatawan memilih untuk bermalam di penginapan milik keluarga lokal atau membeli produk kerajinan tangan dari perajin lokal.

Pengalaman yang lebih personal merupakan keunggulan sekaligus sisi positif dari soft travel.  Wisatawan  cenderung mencari pengalaman yang lebih unik dan tidak biasa, seperti mengunjungi desa kecil, menikmati masakan lokal, atau terlibat dalam kegiatan berbasis komunitas.

Soft travel lebih mengutamakan perjalanan yang tidak tergesa-gesa. Hal ini  memungkinkan wisatawan untuk menikmati momen, bersantai, dan menikmati perjalanan tanpa tekanan waktu. Apalagi bila motivasi wisatawan memang mencari ketenangan, bukan larut dalam kehebohan destinasi wisata massal.

Gejala overtourism yang melanda beberapa negara, termasuk Indonesia, membuat soft travel menjadi alternatif untuk mengurangi tekanan pada destinasi populer. Wisatawan ditawarkan objek-objek wisata yang belum dikenal atau belum banyak dikunjungi wisatawan. Sementara destinasi populer”istirahat” sejenak untuk melakukan pembenahan.

Meski demikian, patut pula diperhitungkan sisi negatif soft travel. Objek wisata yang ada di desa suatu ketika juga akan menjadi padat pengunjung jika terus didatangi. Perlu strategi pengembangan pariwisata agar masayarakat tidak tergantung pada sektor pariwisata di desa.

Satu hal yang perlu diwaspadai oleh wisatawan adalah munculnya praktik greenwashing dalam pariwisata, yaitu praktik pemasaran wisata yang menyesatkan. Pengelola bisnis pariwisata mengklaim produk wisata mereka ramah lingkungan atau berkelanjutan. Padahal mereka tidak memiliki pengelolaan limbah yang baik.

Oleh karena itu, selain kesadaran berwisata diperlukan pula kecerdasan dalam berwisata. Iklan dan promosi tentang objek wisata yang disebut “tersembunyi”, namun dalam kenyataannya ramai dikunjungi. Maka, waspadalah dalam berwisata. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU

Destinasi Bikin Kapok, Alarm bagi Industri Pariwisata
“Micro Tourism”: Berwisata Demi Efisiensi
Promosi Produk Wisata Manipulatif, Bisa Saja
“Noctourism”: Berwisata Sambil Begadang
“Storynomics Tourism”: Tutur Cerita dalam Wisata
“Study Tour”, Bukan Remah-Remah dalam Pariwisata
Tags: Pariwisatawisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Seorang Kakek yang Tak Henti Bercerita | Cerpen I Wayan Paing

Next Post

HERBALOVA, Mendokumentasikan Tanaman Obat Tradisional di Desa Guwang-Sukawati dengan Metoda Scanografi

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
HERBALOVA, Mendokumentasikan Tanaman Obat Tradisional di Desa Guwang-Sukawati dengan Metoda Scanografi

HERBALOVA, Mendokumentasikan Tanaman Obat Tradisional di Desa Guwang-Sukawati dengan Metoda Scanografi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co