25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ayah Soekarno Pernah Kos di Singaraja | Catatan 150 Tahun SDN 1 Paket Agung Singaraja

Dian Suryantini by Dian Suryantini
August 1, 2025
in Khas
Ayah Soekarno Pernah Kos di Singaraja | Catatan 150 Tahun SDN 1 Paket Agung Singaraja

Rumah kos Raden Soekemi Sosrodihardjo (ayah proklamator Soekarno) di Jalan Gunung Batur Singaraja | Foto: Dian

KALAU saja pohon bisa bicara, mungkin pohon belimbing putih di Jalan Gunung Batur itu sudah berteriak dari dulu. Tapi, sayangnya, sejarah kadang lebih sibuk mencatat nama-nama besar di balik meja rapat, lupa pada akar yang menumbuhkannya.

Ya, di balik rumah tua tanpa plang itu—di tengah semerbak cempaka dan sunyi yang tenang—tersembunyi jejak Raden Soekemi Sosrodihardjo. Siapa dia? Guru Jawa. Lulusan Kweekschool Probolinggo. Ayah biologis dari Soekarno. Tapi, jangan buru-buru membayangkan beliau hidup nyaman. Sebab, di rumah kos berdinding bata tanah itulah, sejarah Indonesia pernah bergetar pelan—nyaris tak terdengar.

Dari penuturan keluarga pemilik kos, Soekemi muda dikirim ke Singaraja. Waktu itu belum ada Google Maps, jadi dia datang bukan bawa peta jalan, tapi peta pikirannya sendiri—tentang bagaimana mencerdaskan anak-anak Hindia Belanda lewat sekolah bernama Tweede Klasse School, sekarang dikenal sebagai SDN 1 Paket Agung.

Rumah kos Raden Soekemi Sosrodihardjo (ayah proklamator Soekarno) di Jalan Gunung Batur Singaraja | Foto: Dian

Di sanalah ia mengajar. Mengajar sungguhan. Pakai kapur tulis, bukan spidol. Menginapnya? Di rumah kos milik keluarga almarhum Nyoman Gede Sutha. Kos-kosan zaman itu memang bukan seperti sekarang—tak ada wifi, apalagi AC. Tapi di sinilah benih sejarah ditanam. Karena dari tangan Soekemi, tumbuh pohon belimbing putih yang hingga kini masih berdiri.

Dan lebih dari itu—di bawah pohon itu pula, ditanam ari-ari anak pertamanya. Ya, benar. Ditanam. Karena bagi masyarakat zaman dulu, ari-ari adalah “penjaga” yang harus pulang ke tanah. Seperti sejarah yang seharusnya tak pernah pergi dari ingatan.

Tapi kisah Soekemi tak hanya soal papan tulis dan pelajaran. Ada sisi lain yang lebih mengguncang yakni cinta. Kisah ini sudah terdengar kemana-mana dan biasa. Tapi mari ceritakan sedikit.

Rumah kos Raden Soekemi Sosrodihardjo (ayah proklamator Soekarno) di Jalan Gunung Batur Singaraja | Foto: Dian

Setiap sore, selepas mengajar, Soekemi melangkah ke Pura di kawasan Bale Agung. Bukan semata berdoa—tapi diam-diam menanti seorang gadis Bali yang anggun dan penuh pengabdian, Nyoman Rai Srimben.

Waktu itu cinta mereka seperti upacara yang tak dapat izin. Sah di hati, tapi haram di adat. Seorang lelaki Jawa meminang perempuan Bali? Itu bukan hanya “tidak lazim”, itu bisa dianggap pelanggaran etika sosial—bahkan hukum adat.

Permintaan Soekemi untuk melamar ditolak keras. Tapi cinta, seperti biasa, tidak bisa diteorikan. Mereka memilih jalan berani yakni kawin lari. Bukan karena sinetron, tapi karena cinta tak sabar menunggu restu yang tak kunjung datang.

Dan hebatnya, ketika dipanggil ke sidang desa, Nyoman Rai dengan tenang berkata, “Saya tidak dipaksa.” Hanya beberapa kata, tapi mampu mengubah nasib.

Tapi jangan dikira itu akhir dari drama. Setelah membayar denda adat, mereka akhirnya diakui sebagai pasangan sah. Tahun 1898, Soekarmini lahir. Namun, seperti banyak hal di negeri ini, damai tak pernah benar-benar panjang.

Patung Raden Soekemi Sosrodihardjo (ayah proklamator Soekarno) di SDN 1 Paket Agung Singaraja | Foto: Dian

Tekanan sosial membuat Soekemi akhirnya angkat kaki dari Singaraja. Ia pindah tugas ke Surabaya. Tempat baru. Harapan baru. Dan di sana, lahirlah seorang bayi bernama Kusno, yang kemudian jadi Soekarno.

Di Surabaya, rumah tempat Soekarno lahir kini menjadi situs cagar budaya nasional. Tapi mirisnya, rumah kos tempat ayahnya menanam cinta, ilmu, dan belimbing putih? Tak ada yang menandai. Tidak pula dinobatkan sebagai situs sejarah. Bahkan plang saja tidak.

Seolah-olah, bagian awal dari narasi Bung Karno dianggap terlalu jauh dari Jakarta.

Sekarang, mari kita alihkan pandangan ke sekolah tempat Soekemi mengajar. SDN 1 Paket Agung. Sekolah ini telah berdiri sejak 1875. Itu lebih tua dari banyak bangunan pemerintah yang sekarang.

Dulu namanya Tweede Klasse School. Sekolah untuk anak-anak pribumi kelas dua. Di sanalah Soekemi mengajar. Mengajar dengan cara yang mungkin tak banyak guru lakukan sekarang. Mengajar dengan hati dan keberanian.

Tahun ini, sekolah itu merayakan ulang tahun ke-150. Sebuah angka yang seharusnya membuat kita semua bergetar. Tapi sayangnya, perayaan ini masih terasa “lokal”. Belum menjadi sorotan nasional, padahal sejarah bangsa dimulai di sini. Ironi, ya?

Padahal, di salah satu ruang kelas, masih ada bangku kayu dengan lubang tinta, tempat para murid dulu menulis dengan pena celup. Lemari tua dengan tulisan “SR No.1 Singaraja, 8-8-28” masih berdiri gagah, seperti ingin berkata, “Aku saksi semua itu!”

Lemari dan bangku tua di SDN 1 Paket Agung Singaraja | Foto: Dian

Sungguh menarik, bagaimana sekolah ini tetap berdiri, tapi tidak pernah benar-benar disorot. Dalam perayaan 1,5 abad itu, Sekda Buleleng Gede Suyasa menyampaikan harapan agar sekolah ini tetap menjadi kebanggaan daerah.

Bagus. Tapi kita bertanya-tanya juga, kenapa baru sekarang terasa penting? Kenapa situs rumah kos Soekemi belum ditetapkan sebagai cagar budaya? Padahal jelas, rumah itu tak sekadar tempat tinggal, tapi saksi kelahiran semangat kebangsaan.

Kalau mau jujur, rumah kos di Jalan Gunung Batur itu jauh lebih “hidup” daripada banyak monumen yang dibangun hanya untuk selfie. Bangunan itu saksi cinta, pendidikan, bahkan perlawanan sosial terhadap adat. Tapi sayang, diamnya rumah itu justru dikalahkan oleh bisunya sejarah resmi.

Sejarah nama sekolah ini panjang dan berliku. Dari Tweede Klasse School, jadi Sekolah Rendah, lalu Sekolah Rakyat. Pernah juga dibuka di Jalan Gajah Mada (SMPN 1 Singaraja saat ini) saat zaman Jepang, lalu kembali lagi. Pernah disebut SD 10, lalu SDN 1 dan 2 Paket Agung, hingga akhirnya kini disebut SDN 1 Paket Agung.

Seperti kehidupan bangsa ini—berubah-ubah nama, tapi akar masalahnya tetap sama, bagaimana kita memperlakukan sejarah?

Apakah hanya sebagai bahan ujian? Atau sebagai napas hidup?

Rumah kos Raden Soekemi Sosrodihardjo (ayah proklamator Soekarno) di Jalan Gunung Batur Singaraja | Foto: Dian

Kini, rumah kos Soekemi masih berdiri. Sudah direnovasi, tapi tetap mempertahankan lokasi aslinya. Fondasi tetap sama. Pohon belimbing putih tetap tumbuh di halaman belakang. Dan udara di situ masih membawa aroma masa lalu yang sabar menunggu diakui.

Pohon itu bukan sekadar tumbuhan, tapi simbol dari semua hal yang tumbuh diam-diam tapi mengubah segalanya. Seperti pendidikan. Seperti cinta. Seperti keberanian melawan adat.

Dan seperti Soekemi, guru yang tak pernah masuk halaman depan buku sejarah, tapi dari tangannya lahir bangsa.

Sejarah bangsa ini tak hanya dibangun di istana dan medan perang. Tapi juga di dapur sempit rumah kos, di pelataran pura, di lubang tinta meja sekolah tua, dan di bawah pohon belimbing putih yang tak pernah berhenti berbuah. [T]

Penulis: Dian Suryantini
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Soekarno Lahir dari Drama Cinta Jawa-Bali yang Romantis
12 Naskah Teater Karya Bung Karno: Soekarno, Frankenstein & Indonesia Tanpa Nyawa
Ada Soekarno di Balik Doctor Honoris Causa Ki Hajar Dewantara
Soekarno: Pemimpin yang Mendengarkan Ahli Bahasa dan Sastra
Tags: bulelengRai SrimbenSoekarno
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Terjebak dan Mematung di Forum Diskusi “Puisi yang Mengobati Diri”—Catatan Kecil Singaraja Literary Festival 2025

Next Post

“Drama” Dibalik Drama Kisah Cinta Rai Srimben: Kumis Gatal, Kain Melorot, dan Badmood Sebelum Pentas

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails

Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

by Helmi Y Haska
March 31, 2026
0
Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

TIGA buku terbaru menjadi pokok soal diskusi malam itu diselenggarakan Toko Buku Partikular di Pasar Suci, Denpasar, Sabtu, 28 Maret...

Read moreDetails

Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

by Dian Suryantini
March 24, 2026
0
Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

Minggu pagi, 8 Maret 2026, Pasar Intaran terasa agak beda. Biasanya, pasar ini nongkrong manis di pinggir pantai, tepat di...

Read moreDetails

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
March 24, 2026
0
Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Sabtu 21 Maret. Tepat pukul lima sore, saya tiba di SMA Negeri 1 Singaraja—dua belas jam sebelum Alumni Smansa Charity...

Read moreDetails
Next Post
“Drama” Dibalik Drama Kisah Cinta Rai Srimben: Kumis Gatal, Kain Melorot, dan Badmood Sebelum Pentas

“Drama” Dibalik Drama Kisah Cinta Rai Srimben: Kumis Gatal, Kain Melorot, dan Badmood Sebelum Pentas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co