6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
July 29, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

TANGGAL 18 Juli lalu diperingati sebagai Hari Mendengarkan Sedunia. Tapi saya yakin para pembaca yang budiman tentu melewatkannya.  Tidak merayakannya.  Ya sebenarnya tidak apa. Tapi tunggu dulu, kita mungkin perlu mengetahui hal ini agar bisa memetik refleksi dari hari yang indah itu.  Ini bukan soal mendengarkan curhatan kawan baik, nasihat emak, atau kuliahan dosen yang kebanyakan kasih tugas. Yang hadir di sini adalah ajakan, yang lebih tepatnya adalah  tamparan halus, untuk kita agar berhenti sejenak dari hingar-bingar dunia, lalu benar-benar mendengarkan.

Hari Mendengarkan Sedunia pertama kali diperingati pada tahun 2010, dan diinisiasi oleh World Listening Project, sebuah organisasi internasional yang mempromosikan suatu pemahaman lebih dalam pada dunia, lingkungan, budaya dan alam sekitar dengan cara mendengar.

Peringatan Hari Mendengarkan Sedunia bukan hanya suatu ajang romantisasi mendengarkan suara alam atau ajakan yang sok-sok mindfulness. Sebenarnya tujuan utamanya adalah membuat kita sadar bahwa lingkungan suara, baik yang dari hutan, kota, atau kamar tetangga, semua itu penting dan layak diperhatikan. Ini soal nguping dengan etika, alias mendengarkan aktif, bukan hanya asal mendengar, macam orang mendengarkan musik sambil scroll TikTok.

Hari  tersebut juga menjadi momen untuk kita menyoroti polusi suara yang makin kacau dan dampaknya yang diam-diam menyiksa, baik ke manusia maupun makhluk lain yang butuh oksigen. Dan terakhir, ini juga merupakan ruang ekspresi, artinya bagaimana suara bisa menjadi karya, entah lewat rekaman, musik nyeleneh, atau seni eksperimental yang membuat orang jadi mikir, “Oh, ternyata dunia ini kedengaran juga, ya.”

Tapi kali ini saya ingin mengajak kita semua untuk “mendengar”, bukan hanya mendengar dalam arti suara masuk ke telinga, tapi mendengarkan secara sadar. Hadir utuh,  ada di sana, untuk mendengar suara lain yang bukan suara kita sendiri. Nah, sayangnya, kita hidup di zaman yang nyaris mustahil untuk itu. Kok bisa?

Begini, selain anak muda yang lalu lalang di depan gang dengan knalpot brong dan suara tahu bulat yang berkumandang sampai malam, sosial media juga telah menciptakan budaya yang luar biasa bising. Story demi story, status demi status, notifikasi, reminder, pop-up. Semua orang punya mikrofon, semua orang punya panggung. Kalau perlu, bikin panggungnya sendiri. Dan tiap orang seperti berseru, “Tolong dengar aku, ni lho!”,

Ya memang,tidak salah ingin didengar. Tapi kalau semua orang bicara pada saat yang sama, terus, siapa yang mendengarkan? Dalam dunia seperti itu, mendengarkan menjadi tindakan yang langka, bahkan bisa dibilang radikal. Sosiolog Sherry Turkle dalam bukunya “Reclaiming Conversation” (2015), menulis bahwa generasi kita makin sulit membangun koneksi mendalam karena terlalu terbiasa berinteraksi tanpa kehadiran. Kita mendengar untuk membalas, bukan untuk memahami.  Lalu, di mana letak makna mendengarkan?

Diam yang Penuh Makna

Hari Mendengarkan Sedunia alias World Listening Day,  diperingati setiap 18 Juli untuk mengenang R. Murray Schafer. Ia seorang  komponis dan pencetus konsep “soundscape” atau lanskap suara, dan dia percaya bahwa cara manusia mendengarkan dunia mencerminkan cara mereka hidup di dalamnya.

Jadi, kalau kita tidak bisa lagi mendengar angin, air, burung, atau rintik hujan, bisa jadi itu artinya kita juga kehilangan koneksi dengan dunia alami. Karena mendengarkan suara lingkungan bukan sekadar latihan telinga, tapi juga suatu bentuk  latihan kesadaran. Kita dipaksa berhenti jadi pusat, dan memberi ruang bagi suara yang selama ini kita abaikan. Suara apa pun. Termasuk suara-suara alam, suara minoritas, suara hati, dan bahkan, yang makin pudar, adalah suara nurani.

Hari ini, kita bisa mendengar lagu dari seluruh penjuru dunia, suara dari Mars, atau di youtube suara dari alam kubur, bahkan giberlink yang merupakan obrolan antar kecerdasan buatan. Tapi ironisnya, kita gagal mendengar suara adik kita sendiri di kamar sebelah yang mungkin sedang ingin curhat.  Carl Rogers, bapak terapi humanistik, menyebut mendengarkan sebagai bentuk paling murni dari penghargaan terhadap manusia lain. Tapi siapa sih yang masih piawai melakukannya hari ini? Orang di sekitar kita lebih sibuk scrolling daripada observing, lebih suka share daripada care. Dalam dunia seperti ini, diam memang kemudian menjadi bentuk sikap yang mencerminkan keberanian.

Sekolah Ikut Bising

Ada juga yang lebih gawat, dunia pendidikan kita ikut-ikutan ribut. Guru sibuk menyampaikan, murid sibuk mencatat, semua berlomba menyelesaikan kurikulum. Kejar tayang kejar target, tapi nampaknya kita tidak benar-benar mengajak siswa mendengarkan.Bukan mendengarkan guru, tapi mendengarkan dunia sekitar, bukan juga mendengarkan jawaban, tapi lebih ke mendengarkan pertanyaan.  Sepertinya makin hari makin jarang ada pengajaran untuk mendengarkan. Padahal itu dasar dari empati, dialog, dan perdamaian.

Coba bayangkan kegiatan sederhana di mana anak-anak diajak ke luar kelas, diminta duduk diam 10 menit, lalu menceritakan suara apa saja yang mereka dengar. Lalu mereka bisa berdiskusi suara mana yang membuat tenang, mana yang membuat risau, dan suara mana yang terasa manusiawi. Dari situ, kita bisa masuk ke pembelajaran lintasbidang, mulai dari IPA, seni, agama, hingga pendidikan karakter. Karena sesungguhnya, mendengarkan adalah jembatan menuju kebijaksanaan.

Mendengarkan Adalah Tindakan Politis

Banyak hal penting di dunia ini yang tidak berteriak nyaring. Kadang mereka itu,  dalam bahasa puitisnya,  hanya berbisik. Dan kita melewatkannya, karena sudah terlalu sibuk dengan speaker dalam diri kita sendiri. “Suara” hutan yang ditebang habis, laut yang tercemar, petani yang kehilangan lahan, buruh yang dipotong upah, anak yang ditinggal seharian kerja orang tuanya, lansia yang kesepian. Nah, suara alam dari Halmahera sekarang juga makin samar, kan. Mereka tidak viral, tidak juga trending, kadang memang sengaja dibungkam. Tapi  suara-suara itu nyata. Semua ini akhirnya menyoal keadilan dan juga keberpihakan. Ini soal memilih untuk tidak tuli sosial.

Filsuf Perancis, Jacques Rancière, pernah berkata, “Siapa yang diizinkan bicara dan siapa yang didengar adalah bentuk paling dasar dari politik.”  Kalau begitu, mendengarkan sebenarnya adalah tindakan politis. Sebab dengan menentukan arah telinga kita, kita bisa memilih untuk menjadi bagian dari sistem yang hanya mendengar mereka yang punya kuasa, atau melawan dengan cara membuka telinga bagi mereka yang tak pernah didengar.

Mari Mencoba Hening

Hari Mendengarkan Sedunia adalah momen penting untuk kita semua. Tidak hanya penting untuk para aktivis lingkungan, seniman suara, atau guru seni budaya. Tapi untuk siapa saja di antara kita yang masih punya telinga dan hati. Coba dulu, luangkan waktu sebentar. Kita taruh HP, matikan notifikasi. Lalu kita dengarkan suara-suara kecil di sekitar kita, macam suara angin, jam dinding, atau bahkan suara detak hati sendiri yang udah lama kita abaikan.

Dengarkan juga orang-orang yang kita sayangi, sebelum satu-satunya yang tersisa kelak hanya chat yang tak sempat terbaca. Berani juga untuk mendengarkan mereka yang pikirannya berbeda, yang pandangannya kadang bikin sebel, tapi siapa tahu justru di situlah pelajaran hidup bisa diperoleh. Dan, kalau sudah cukup berani, mari coba dengarkan suara dari dalam diri kita  sendiri. Suara yang malah paling sering kita matikan demi validasi likes atau views. Karena di zaman yang semuanya berlomba tampil dan teriak, diam bisa jadi justeru menjadi hal yang dibutuhkan.

Hari Mendengarkan Sedunia bukan hari seremoni. Tapi, mari kita peringati sebagai ajakan untuk merebut kembali kepekaan kita sebagai manusia. Agar kita bisa hadir, bukan hanya tampil, agar kita bisa nyambung, bukan sekadar online. Karena yang dunia butuhkan hari ini bukan lebih banyak pembicara, tapi lebih banyak pendengar. Bisa jadi, itu bentuk cinta paling mahal yang bisa kita berikan, pada orang lain, pada keluarga, dan pada diri sendiri. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Koruptor Apakah ODGJ?
Jadi Pejabat, Strategi, dan Korupsi
Ketika Rumah Tak Lagi Bicara
Generasi X: Kurator Nilai di Tengah Badai AI
Tags: gaya hidupHari Mendengarkan Seduniarenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Musik dan Tari untuk Putu Bawa Samar Gantang di Festival Seni Bali Jani 2025

Next Post

Dewa Nyoman Sarjana, Penerima Bali Jani Nugraha: Penulis Sastra Bali Modern dari Tabanan

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Dewa Nyoman Sarjana, Penerima Bali Jani Nugraha: Penulis Sastra Bali Modern dari Tabanan

Dewa Nyoman Sarjana, Penerima Bali Jani Nugraha: Penulis Sastra Bali Modern dari Tabanan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co