23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
July 29, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

TANGGAL 18 Juli lalu diperingati sebagai Hari Mendengarkan Sedunia. Tapi saya yakin para pembaca yang budiman tentu melewatkannya.  Tidak merayakannya.  Ya sebenarnya tidak apa. Tapi tunggu dulu, kita mungkin perlu mengetahui hal ini agar bisa memetik refleksi dari hari yang indah itu.  Ini bukan soal mendengarkan curhatan kawan baik, nasihat emak, atau kuliahan dosen yang kebanyakan kasih tugas. Yang hadir di sini adalah ajakan, yang lebih tepatnya adalah  tamparan halus, untuk kita agar berhenti sejenak dari hingar-bingar dunia, lalu benar-benar mendengarkan.

Hari Mendengarkan Sedunia pertama kali diperingati pada tahun 2010, dan diinisiasi oleh World Listening Project, sebuah organisasi internasional yang mempromosikan suatu pemahaman lebih dalam pada dunia, lingkungan, budaya dan alam sekitar dengan cara mendengar.

Peringatan Hari Mendengarkan Sedunia bukan hanya suatu ajang romantisasi mendengarkan suara alam atau ajakan yang sok-sok mindfulness. Sebenarnya tujuan utamanya adalah membuat kita sadar bahwa lingkungan suara, baik yang dari hutan, kota, atau kamar tetangga, semua itu penting dan layak diperhatikan. Ini soal nguping dengan etika, alias mendengarkan aktif, bukan hanya asal mendengar, macam orang mendengarkan musik sambil scroll TikTok.

Hari  tersebut juga menjadi momen untuk kita menyoroti polusi suara yang makin kacau dan dampaknya yang diam-diam menyiksa, baik ke manusia maupun makhluk lain yang butuh oksigen. Dan terakhir, ini juga merupakan ruang ekspresi, artinya bagaimana suara bisa menjadi karya, entah lewat rekaman, musik nyeleneh, atau seni eksperimental yang membuat orang jadi mikir, “Oh, ternyata dunia ini kedengaran juga, ya.”

Tapi kali ini saya ingin mengajak kita semua untuk “mendengar”, bukan hanya mendengar dalam arti suara masuk ke telinga, tapi mendengarkan secara sadar. Hadir utuh,  ada di sana, untuk mendengar suara lain yang bukan suara kita sendiri. Nah, sayangnya, kita hidup di zaman yang nyaris mustahil untuk itu. Kok bisa?

Begini, selain anak muda yang lalu lalang di depan gang dengan knalpot brong dan suara tahu bulat yang berkumandang sampai malam, sosial media juga telah menciptakan budaya yang luar biasa bising. Story demi story, status demi status, notifikasi, reminder, pop-up. Semua orang punya mikrofon, semua orang punya panggung. Kalau perlu, bikin panggungnya sendiri. Dan tiap orang seperti berseru, “Tolong dengar aku, ni lho!”,

Ya memang,tidak salah ingin didengar. Tapi kalau semua orang bicara pada saat yang sama, terus, siapa yang mendengarkan? Dalam dunia seperti itu, mendengarkan menjadi tindakan yang langka, bahkan bisa dibilang radikal. Sosiolog Sherry Turkle dalam bukunya “Reclaiming Conversation” (2015), menulis bahwa generasi kita makin sulit membangun koneksi mendalam karena terlalu terbiasa berinteraksi tanpa kehadiran. Kita mendengar untuk membalas, bukan untuk memahami.  Lalu, di mana letak makna mendengarkan?

Diam yang Penuh Makna

Hari Mendengarkan Sedunia alias World Listening Day,  diperingati setiap 18 Juli untuk mengenang R. Murray Schafer. Ia seorang  komponis dan pencetus konsep “soundscape” atau lanskap suara, dan dia percaya bahwa cara manusia mendengarkan dunia mencerminkan cara mereka hidup di dalamnya.

Jadi, kalau kita tidak bisa lagi mendengar angin, air, burung, atau rintik hujan, bisa jadi itu artinya kita juga kehilangan koneksi dengan dunia alami. Karena mendengarkan suara lingkungan bukan sekadar latihan telinga, tapi juga suatu bentuk  latihan kesadaran. Kita dipaksa berhenti jadi pusat, dan memberi ruang bagi suara yang selama ini kita abaikan. Suara apa pun. Termasuk suara-suara alam, suara minoritas, suara hati, dan bahkan, yang makin pudar, adalah suara nurani.

Hari ini, kita bisa mendengar lagu dari seluruh penjuru dunia, suara dari Mars, atau di youtube suara dari alam kubur, bahkan giberlink yang merupakan obrolan antar kecerdasan buatan. Tapi ironisnya, kita gagal mendengar suara adik kita sendiri di kamar sebelah yang mungkin sedang ingin curhat.  Carl Rogers, bapak terapi humanistik, menyebut mendengarkan sebagai bentuk paling murni dari penghargaan terhadap manusia lain. Tapi siapa sih yang masih piawai melakukannya hari ini? Orang di sekitar kita lebih sibuk scrolling daripada observing, lebih suka share daripada care. Dalam dunia seperti ini, diam memang kemudian menjadi bentuk sikap yang mencerminkan keberanian.

Sekolah Ikut Bising

Ada juga yang lebih gawat, dunia pendidikan kita ikut-ikutan ribut. Guru sibuk menyampaikan, murid sibuk mencatat, semua berlomba menyelesaikan kurikulum. Kejar tayang kejar target, tapi nampaknya kita tidak benar-benar mengajak siswa mendengarkan.Bukan mendengarkan guru, tapi mendengarkan dunia sekitar, bukan juga mendengarkan jawaban, tapi lebih ke mendengarkan pertanyaan.  Sepertinya makin hari makin jarang ada pengajaran untuk mendengarkan. Padahal itu dasar dari empati, dialog, dan perdamaian.

Coba bayangkan kegiatan sederhana di mana anak-anak diajak ke luar kelas, diminta duduk diam 10 menit, lalu menceritakan suara apa saja yang mereka dengar. Lalu mereka bisa berdiskusi suara mana yang membuat tenang, mana yang membuat risau, dan suara mana yang terasa manusiawi. Dari situ, kita bisa masuk ke pembelajaran lintasbidang, mulai dari IPA, seni, agama, hingga pendidikan karakter. Karena sesungguhnya, mendengarkan adalah jembatan menuju kebijaksanaan.

Mendengarkan Adalah Tindakan Politis

Banyak hal penting di dunia ini yang tidak berteriak nyaring. Kadang mereka itu,  dalam bahasa puitisnya,  hanya berbisik. Dan kita melewatkannya, karena sudah terlalu sibuk dengan speaker dalam diri kita sendiri. “Suara” hutan yang ditebang habis, laut yang tercemar, petani yang kehilangan lahan, buruh yang dipotong upah, anak yang ditinggal seharian kerja orang tuanya, lansia yang kesepian. Nah, suara alam dari Halmahera sekarang juga makin samar, kan. Mereka tidak viral, tidak juga trending, kadang memang sengaja dibungkam. Tapi  suara-suara itu nyata. Semua ini akhirnya menyoal keadilan dan juga keberpihakan. Ini soal memilih untuk tidak tuli sosial.

Filsuf Perancis, Jacques Rancière, pernah berkata, “Siapa yang diizinkan bicara dan siapa yang didengar adalah bentuk paling dasar dari politik.”  Kalau begitu, mendengarkan sebenarnya adalah tindakan politis. Sebab dengan menentukan arah telinga kita, kita bisa memilih untuk menjadi bagian dari sistem yang hanya mendengar mereka yang punya kuasa, atau melawan dengan cara membuka telinga bagi mereka yang tak pernah didengar.

Mari Mencoba Hening

Hari Mendengarkan Sedunia adalah momen penting untuk kita semua. Tidak hanya penting untuk para aktivis lingkungan, seniman suara, atau guru seni budaya. Tapi untuk siapa saja di antara kita yang masih punya telinga dan hati. Coba dulu, luangkan waktu sebentar. Kita taruh HP, matikan notifikasi. Lalu kita dengarkan suara-suara kecil di sekitar kita, macam suara angin, jam dinding, atau bahkan suara detak hati sendiri yang udah lama kita abaikan.

Dengarkan juga orang-orang yang kita sayangi, sebelum satu-satunya yang tersisa kelak hanya chat yang tak sempat terbaca. Berani juga untuk mendengarkan mereka yang pikirannya berbeda, yang pandangannya kadang bikin sebel, tapi siapa tahu justru di situlah pelajaran hidup bisa diperoleh. Dan, kalau sudah cukup berani, mari coba dengarkan suara dari dalam diri kita  sendiri. Suara yang malah paling sering kita matikan demi validasi likes atau views. Karena di zaman yang semuanya berlomba tampil dan teriak, diam bisa jadi justeru menjadi hal yang dibutuhkan.

Hari Mendengarkan Sedunia bukan hari seremoni. Tapi, mari kita peringati sebagai ajakan untuk merebut kembali kepekaan kita sebagai manusia. Agar kita bisa hadir, bukan hanya tampil, agar kita bisa nyambung, bukan sekadar online. Karena yang dunia butuhkan hari ini bukan lebih banyak pembicara, tapi lebih banyak pendengar. Bisa jadi, itu bentuk cinta paling mahal yang bisa kita berikan, pada orang lain, pada keluarga, dan pada diri sendiri. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Koruptor Apakah ODGJ?
Jadi Pejabat, Strategi, dan Korupsi
Ketika Rumah Tak Lagi Bicara
Generasi X: Kurator Nilai di Tengah Badai AI
Tags: gaya hidupHari Mendengarkan Seduniarenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Musik dan Tari untuk Putu Bawa Samar Gantang di Festival Seni Bali Jani 2025

Next Post

Dewa Nyoman Sarjana, Penerima Bali Jani Nugraha: Penulis Sastra Bali Modern dari Tabanan

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Dewa Nyoman Sarjana, Penerima Bali Jani Nugraha: Penulis Sastra Bali Modern dari Tabanan

Dewa Nyoman Sarjana, Penerima Bali Jani Nugraha: Penulis Sastra Bali Modern dari Tabanan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co