KITA hidup di zaman yang menjunjung kekuatan mental, ketahanan emosional, dan ketenangan batin sebagai simbol kemajuan pribadi. Di tengah tekanan hidup modern, banyak orang mencari jalan untuk bertahan. Salah satu jalan yang naik daun dalam beberapa tahun terakhir adalah stoikisme.
Mungkin banyak orang yang sudah tidak asing dengan istilah ini. Stoikisme lahir dari rahim pemikiran Sinisme—mazhab yang menjadi induk filosofisnya, yang dikemukakan oleh Zeno, seorang filsuf Yunani kuno pada abad ke-3 SM (Laërtius, D., 1925). Stoikisme mengajarkan cara mencapai ketenangan batin dan kebahagiaan sejati (Eudaimonia) dengan berfokus pada apa yang bisa kita kendalikan dan menerima apa yang tidak bisa kita kendalikan.
Filosofi kuno dari Yunani ini mendadak populer di media sosial, podcast, hingga buku pengembangan diri. Salah satu buku pengembangan diri yang terkenal hingga menjadi fenomenal membahas seputar stoikisme adalah buku yang ditulis oleh Henry Manampiring dengan judul Filosofi Teras. Dari Zeno, Marcus Aurelius, Epictetus hingga Henry Manampiring, kutipan-kutipan mereka berseliweran—seringkali dipotong, dipermak, dan disajikan sebagai solusi instan untuk masalah hidup yang kompleks.
Namun, ada sesuatu yang perlu kita waspadai. Di balik viralnya filosofi ini, banyak yang tampaknya hanya mengadopsi “kulit”-nya saja. Stoikisme lalu menjelma menjadi semacam perisai emosional yang menolak kelembutan hati, menyangkal duka, dan memuliakan sikap “dingin” atas nama kekuatan. Tanpa disadari, kita sedang menyaksikan bagaimana stoikisme direduksi menjadi versi baru dari toxic positivity.
Stoikisme: Zona Dilarang ‘Baper’
Dalam keseharian, kita sering dengar orang berkata atau mungkin kita yang mengucapkan kalimat-kalimat seperti: “Jangan terlalu berekspektasi” atau “Ikhlasin aja, jangan overthinking” atau yang lebih populer: “Jangan baper, nanti sakit sendiri.” Untuk beberapa momen, kalimat-kalimat ini terdengar seperti nasihat. Tapi dalam frekuensi tertentu, ia berubah jadi tekanan: tekanan untuk selalu tenang, selalu rasional, selalu “kuat”.
Dalam budaya seperti ini, kesedihan dianggap lemah. Marah dianggap kekanak-kanakan. Menangis dianggap tidak dewasa. Kita dipaksa untuk tampak stabil, bahkan ketika jiwa sedang remuk redam.
Stoikisme, ketika disalahpahami, seolah menguatkan narasi ini. Banyak yang mengira stoik itu berarti tidak punya perasaan. Bahwa menjadi dewasa adalah menjadi “kebal”. Dan bahwa kesedihan adalah sesuatu yang harus dihindari, bukan dialami.
Padahal, stoikisme sejati tidak pernah menyuruh kita untuk tidak merasakan. Ia hanya mengajarkan kita untuk tidak dikuasai oleh emosi. Emosi bukan musuh, ia adalah bagian dari hidup yang perlu dikenali, bukan dibungkam.
Stoikisme Sejati: Mengenali, Mengelola, Bukan Menolak
Dalam buku Meditations, Marcus Aurelius menulis: “You have power over your mind—not outside events. Realize this, and you will find strength.” Kalimat ini cukup terkenal dan sering dikutip, tapi jarang dibaca dengan utuh. Kekuatan dalam stoikisme bukan tentang menolak kenyataan, melainkan tentang menerima apa yang tak bisa diubah, dan bertanggung jawab atas reaksi kita terhadapnya.
Stoikisme mengajak kita untuk mengamati emosi, menanyakan asalnya, memahaminya. Marah boleh, sedih boleh, kecewa juga sangat boleh. Tapi yang menjadi penting adalah: apakah kita akan membiarkan emosi itu membajak keputusan kita?
Namun, dalam praktik populer hari ini, proses ini sering dipotong. Banyak yang hanya mengambil kesimpulan cepat: “Kalau kamu terluka, artinya kamu belum stoik.” Justru ini menjadi keliru. Lebih dari itu, stoikisme yang sehat mengakui bahwa luka adalah bagian dari kehidupan. Ia hanya mengingatkan kita agar tidak hanyut dalam naungan luka itu selamanya.
Pseudo-Stoikisme dan Toxic Positivity: Dua Sisi dari Koin yang Sama
Di sisi lain, toxic positivity adalah budaya yang menuntut kita untuk selalu bahagia, selalu berpikir positif, selalu melihat hikmah di balik luka. Walaupun niatnya mungkin baik, toxic positivity sering membuat kita merasa bersalah ketika merasa sedih. Ia memaksa kita untuk “move on” bahkan sebelum kita sempat duduk bersama rasa kehilangan.
Kombinasi antara toxic positivity dan pseudo-stoikisme menghasilkan generasi yang terampil menahan air mata, tapi kaku dalam mengungkapkan perasaan. Kita jadi terbiasa bilang “Gak apa-apa kok”, bahkan saat hati retak. Kita terbiasa menyemangati teman dengan, “Yasudahlah, ikhlasin aja,” alih-alih duduk mendengarkan.
Kita mengira sedang menolong. Padahal, kita sedang menghilangkan ruang untuk merasakan. Akibatnya, kita menjadi asing dengan perasaan kita sendiri. Kita kehilangan kamus untuk menerjemahkan bahasa hati. Lidah kita menjadi fasih menawarkan solusi dan kutipan penyemangat, namun kelu saat diminta untuk sekadar mengakui, “Iya, ini memang sakit.” Hubungan antarmanusia pun berubah menjadi transaksi motivasi, bukan lagi sebuah perjumpaan dua jiwa yang utuh dengan segala retaknya.
Erosi Lanskap Emosional
Berbagai studi psikologi modern mulai memperingatkan bahaya dari penekanan emosi. Orang yang terbiasa menyangkal kesedihannya cenderung mengalami kecemasan yang lebih besar, kesulitan menjalin hubungan intim, bahkan lebih rentan terhadap burnout. Ini bukan karena mereka lemah, tapi karena sistem emosi mereka tidak pernah diberi kesempatan untuk berfungsi dengan sehat. Kondisi ini secara perlahan memicu erosi pada pondasi emosional mereka.
Sebuah studi tentang Pathak-Wieten Stoicism Ideology Scale menunjukkan bahwa orang dengan skor stoikisme tinggi (dalam artian menolak ekspresi emosi) cenderung menunda mencari bantuan medis, menyangkal kebutuhan sosial, dan mengalami kepuasan hidup yang lebih rendah.
Dengan kata lain: menjadi “kuat” secara emosional tidak selalu berarti “sehat” secara emosional. Karena dasarnya, emosi adalah data yang telah tersistem dalam tiap diri setiap manusia yang merasa. Ia merupakan sistem navigasi biologis yang dirancang untuk memberi kita informasi penting. Rasa sedih memberi tahu kita apa yang kita anggap berharga. Rasa takut menunjukkan di mana kita butuh perlindungan. Rasa marah menandakan batas yang telah dilanggar.
Stoikisme yang Manusiawi
Kita hidup dalam dunia yang memuliakan orang yang “tahan banting”, tapi mencemooh yang “gampang nangis”. Kita lebih suka orang yang tegar diam-diam, daripada yang berani minta tolong. Kita salah kaprah dalam memahami makna kekuatan: bahwa kuat itu tidak berarti tidak pernah goyah, tapi berani menghadapi kegoyahan itu dengan jujur.
Barangkali ini sebabnya kenapa banyak orang hari ini terlihat “heartless” atau nirempati. Bukan karena mereka jahat, tapi karena mereka diajari bahwa menjadi manusia berarti menyingkirkan sisi lembutnya. Mereka tidak jahat, mereka hanya tersesat dalam narasi yang salah.
Stoikisme, jika kita pahami dengan utuh, justru mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang lengkap—yang berpikir jernih, merasa dengan sadar, dan bertindak dengan bijaksana. Ia bukan tentang menjadi batu karang tanpa emosi, melainkan tentang menjadi pelaut yang bisa tetap tenang meski diterjang ombak.
Barangkali sekaranglah saatnya kita bertanya ulang: benarkah kita sedang belajar kuat, atau kita sedang takut terlihat lemah? Benarkah kita sedang “stoik”, atau kita sedang menyangkal emosi diri sendiri? Kita tidak butuh lebih banyak orang yang tahan banting sampai mati rasa. Kita butuh lebih banyak orang yang bisa berkata: “Aku sedang tidak baik-baik saja. Dan itu tidak membuatku gagal sebagai manusia.”
Karena pada akhirnya, menjadi manusia bukan soal tidak pernah goyah, tetapi tentang bagaimana kita mengenali, menerima, dan tetap berjalan bersama semua luka yang pernah kita punya. [T]
Referensi:
Laërtius, D. (1925). Lives of eminent philosophers (R. D. Hicks, Trans., Vol. 2). The Loeb Classical Library. London: William Heinemann
Aurelius, Marcus. 2006. Meditations (M. Hammond, Trans.). London: Penguin Classics.
Pathak, E. B., Wieten, S. E., & Wheldon, C. W. (2017). Stoic beliefs and health: Development and preliminary validation of the Pathak-Wieten Stoicism Ideology Scale. BMJ Open, 7(11), e015137. https://doi.org/10.1136/bmjopen-2016-015137
Penulis: Agnes Monica Marpaung
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:


























