NOVEL Tarian Bumi telah memasuki usia tiga dekade. Awalnya terbit di Magelang di Indonesia Tera. Lalu dan selanjutnya terbit di Gramedia. Mungkin sebagai jalan yang kuat ketika sastra harus diuji oleh pasar. Ujian-ujian sastra dan estetika atas Tarian Bumi sudah selesai. Tapi ketika itu ujian pasar masih membutuhkan proses. Dan, ternyata Tarian Bumi mencapai hal itu. Gemilang. Tarian Bumi dibaca secara luas. Dicetak berkali-kali. Sampulnya pun berubah-ubah. Ketika sastra Indonesia diramaikan oleh para sastrawan perempuan yang memperjuangkan dirinya dengan caranya sendiri; adalah para sastrawati yang wangi. Ini hanya ungkapan untuk mengatakan bahwa para sastrawan Indonesia yang perempuan muda adalah kaum urban Indonesia. Mereka hidup dalam budaya urban di kota besar, dimana menjadi lingkungan penerbitan, menjadi barometer bagi pers nasional Indonesia. Di dalamnya sastra mendapat ruang. Pengarang-pengarang yang wangi itu tumbuh di lingkungan tersebut juga.
Tidak hanya dikenal di kalangan masyarakat pasar sastra Indonesia. Sudah menjadi konsekuensi jika karya sastra yang mendapat sambutan luas seperti Tarian Bumi juga pada akhirnya menjadi bulan-bulanan para peneliti dan mahasiswa di kampus. Selama tiga dekade itu mungkin Tarian Bumi tidak habis-habisnya dibahas. Sejalan dengan itu pendakian Oka Rusmini menuju puncak sastra Indonesia semakin tidak terelakkan. Pun pada akhirnya, Bali telah menyumbangkan tiga puncak prestasi sastra Indonesia.
Puncak pertama adalah cita-cita dan perjuangan seorang raja Bali Anak Agung Pandji Tisna. Lewat beberapa novelnya seperti Ni Rawit, Ceti Penjual Orang, I Swasta Setahun di Bedahulu atau yang paling tenar adalah Sukreni Gadis Bali. Pandji Tisna mencatatkan diri sebagai puncak pertama sastrawan Indonesia dari Bali. Pada makamnya di Bukit Seraya Nabi di dekat sebuah gereja yang bernama Ukir Kawi di Desa Kaliasem (Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng), pada nisan makamnya tertulis namanya sebagai pengarang Pujangg Baru, lengkap mengabadikan beberapa judul romannya. Inilah nisan sastra, satu-satunya di dunia karena di sanalah dipahat identitas kepengarangan Pandji Tisna.
Puncak kedua adalah Putu Wijaya (I Gusti Ngurah Putu Wijaya). Secara kebetulan mungkin masih berasal dari kasta yang sama yaitu kasta ksatria. Putu Wijaya akhirnya banyak dikenal dalam novel-novel absurd dan bukan lokalitas Balinya. Pandji Tisna berbicara tentang lokalitas Bali tetapi ketika itu adalah zaman sastra Indonesia sebagai hal yang lumrah jika menghadirkan kedaerahan sebagaimana dimulai pada Balai Pustaka. Pengapa Pandji Tisna masuk Pujangga Baru padahal di dalam karya-karyanya tidak banyak tampak perjuangan pemikiran untuk sebuah gagasan Indonesia dan pilihan identitas antara Timur atau Barat, sebelum perang, sebagaimana halnhya dalam roman Layar Terkembang? Mungkin karena tahun ketika Pandji Tisna produktif mengarang dimasukkan ke dalam angkatan Pujangga Baru.
Setelah Putu Wijaya maka Oka Rusmini lewat Tarian Bumi benar-benar telah mencapai puncak ketiga sastrawan Bali di atas tahta puncak sastra Indonesia. Bukan lewat Tarian Bumi saja puncak itu didaki. Dia telah mengarang banyak cerpen sebelumnya serta puisi. Tapi Tarian Bumi yang nempatis dirinya di puncak itu.
Setelah Tarian Bumi lalu muncul seri prosanya seperti kumpulan cerpen Sagra, Akar Pule, novel Tempurung, dan Kenanga. Kembali orang menyambutnya dalam sangat meriah dan kagum. Demikian pula halnya kalangan peneliti di kampus. Sambutan ini menarik Tarian Bumi ke dalam sastra akademik. Sastra yang tinggi nilai akademiknya. Di samping lewat dunia pasar buku sastra, salah satu cara lain untuk memahami bagaimana masyarakat menerima kehadiran seorang pengarang adalah dengan melihat resepsi atas karya di dunia akademik. Walaupun mungkin metode kajiannya masih harus diuji karena yang mengerjakan adalah para mahasiswa di bawah bimbingan para dosen. Namun pilihannya pada Tarian Bumi atau karya-karya Oka Rusmini lainnya adalah penting dijadikan data.
Ketika sebuah karya seperti Tarian Bumi dianalis, ditelaah, diteliti, dikaji, dan dibahas dalam berbagai karya ilmiah: penelitian, skripsi, makalah, artikel, disertasi, tesis, book chapter; bukti maka ini artinya prestasi bagi karya itu. Pembahasan ini akan melihat hal itu. Namun di luarnya memang masih ada ulasan-ulasan kritik sastra tetapi kurang terdokumentasi secara digital sehingga sulit didapat dan memang kritik-kritik sastra di luar kampus yang mungkin lebih kuat daya justifikasinya, lebih alamiah, namun hal itu tidak banyak tersedia. Mungkin hal ini ada kaitannya dengan kritik sastra yang tengah dilanda krisis. Walaupun seolah tidak banyak kritikus sastra yang membicarakan karya Tarian Bumi jika dibandingkan dengan penelitian di kampus namun untuk saat ini sudah cukup bukti bagi Tarian Bumi atas prestasinya pada jagat sastra Indonesia dan itulah yang menjadi indikator terpenting hadirnya pengarang Bali di atas puncak ketiga sastra Indonesia yang tidak bisa diragukan lagi.
Tarian Bumi berakhir pada upacara patiwangi. Upacara patiwangi adalah pilihan Talaga untuk keluar dari kastanya. Sejak itu ia resmi menjadi perempuan sudra mengasuh anaknya yang ditinggal mati oleh Wayan Sasmitha. Telaga tidak hanya menjadi sudra tetapi seorang janda dengan satu anak. Telaga hidup bersama Luh Gumbreg, ibu mertuanya dan ipar perempuannya, Luh Sadri dalam ancaman perkosaan Putu Sarma. Ia membenci Putu Sarma. Sebaliknya, Luh Sarin anaknya mungkin mendambanya sebagai seorang ayahnya.
Inilah sebenarnya awal Tarian Bumi, terletak di bagin akhir novel. Tetapi dengan teknik naratif sorot balik ada paling belakang atau paling penutup karya. Tapi aspek semacam ini rupanya tidak ada kritikus atau penelitian yang melihat. Bagian ini menjadi narasi kecil dalam Tarian Bumi.
Tarian Bumi dimulai di/dengan halaman 1. Di sini diceritakan seorang ibu menyambut anaknya yang baru pulang dari sekolah dengan berbagai cerita dan prestasi. Disambut ibunya dengan bangga. Tidak ada yang tahu jika perempuan itu adalah brahmana yang sudah memilih jalan sudra lewat upacara patiwangi atas saran Luh Gumbreg, agar hidupnya di keluarga almarhum suaminya, Wayan Sasmitha, tidak lagi membawa sial. Menurut Luh Gumbreg, kematian anaknya, Wayan Sasmitha, suami Telaga, adalah karena pernikahan antara laki-laki sudra dan perempuan berkasta brahmana, yang telah hamil sebelum pernikahannya. Maka patiwangi adalah jalan satu-satunya!
Adegan pada bagian awal novel Tarian Bumi baru bertemu dengan konteksnya yang lebih tekstual yaitu siapa Telaga dan di mana ia hidup dan dengan siapa. Telaga adalah perempuan yang sudah menjadi sudra, ibu tunggal bagi anaknya. Ia bersama ibu mertuanya Luh Gumbreg. Tapi dengan teknik naratif sorot balik pembaca dibawa kepada sekian tahun yang lalu. Maka jadilan Tarian Bumi adalah cerita masa lalu Telaga. Novel ini sejatinya adalah novel rumah tangga. Rumah tangga yang diceritakan adalah rumah tangga brahmana. Rumah tangga (keluarga) atau dunia domestik menurut kajian gender adalah dunia yang paling dekat dengan seseorang perempuan di Bali. Di luar dunia itu setingkat dunia yang lebih luas dan lebih tinggi tentu adalah dunia keluarga besar atau dalam hal ini adalah kisah para penghuni griya (rumah kasat brahmana).
Pada struktur yang lebih besar, griya berkaitan dengan dunia struktural masyarakat Bali yang terkotak-kotak secara hierarki yaitu sistem kasta (genetik dan darah). Tarian Bumi adalah kisah keluarga brahmana dan keluarga ini digambarkan mengalami persoalan ketika terjadi kawin beda kasta. Inilah yang menjadi narasi besar di dalam tarian bumi: diskriminasi beda kasta. Apakah benar kasta menjadi narasi besarnya pada novel ini? Pertanyaan ini tidak terlalu penting dijawab. Kasta hanyalah konsekuensi dari hubungan struktur sosial masyarakat Bali dengan entitas-entitas yang ada di dalamnya. Ketika berbicara suatu keluarga maka mau tidak mau harus berbicara pula mengenai keluarga yang lebih besar yaitu keluarga satu kasta. Kasta adalah bagian yang paling kontroversial di Bali namun tetap relevan sampai saat ini. Artinya pembagian masyarakat berdasarkan aliran darah tetap ada. Artinya pula bahwa tidak pernah terjadi pembauran sosial. Hubungan-hubungan berdasarkan ikatan keluarga leluhur kawitan dan tentu saja aliran darah atau genetis tidak pernah bisa dihapuskan. Karena itu, kasta adalah pembagian masyarakat Bali menjadi setidaknya empat kelompok besar berdasarkan hubungan darah yaitu sudra,wasia, ksatria, dan brahmana.
Karena itu jika Tarian Bumi dikaitkan dengan narasi besar kasta ini sejatinya adalah permukaan. Kasta dalam pengertian struktur sosial masyarakat Bali bukanlah hal yang mendalam dari Tarian Bumi. Yang mendalam dari Tarian Bumi adalah bagaimana diskriminasi manusia terjadi di tengah-tengah sebuah keluarga (beda kasta). Diskriminasi inilah yang menjiwai Tarian Bumi. Karena itu, memang patut berhati-hati ketika membaca secara analitis sebuah karya sastra dari luar (Bali) sebagai pembacaan etik atau dari luar sistem yang dibangun oleh pengarang. Hampir sebagian besar riset tertarik dengan urusan kasta. Kasta dipandang sebagai inti persoalan Tarian Bumi. Bagi masyarakat Bali kasta itu bukan persoalan. Dan, Tarian Bumi sebenarnya memberikan kejernihan kepada pembaca bahwa bukan pada kasta persoalan manusia tetapi pada diskriminasi yang terjadi.
Novel ini menyajikan diskriminasi antara kasta sudra dan kasta brahmana. Diskriminasi tersebut diberikan habitusnya yaitu pernikahan atau perkawinan. Tarian Bumi kecuali nanti pada bagian akhir ketika seorang perempuan brahmana memilih jalan patiwangi sehingga dia harus pada akhirnya meninggalkan kasta brahmananya dan memilih hidup sebagai perempuan sudra dan janda bersama seorang ibu mertua yang mungkin membencinya; adalah cerita atau konflik yang terjadi di sebuah keluarga karena adanya diskriminasi.
Diskriminasi ini terjadi karena beda kasta yang curam (sudra kasta terbawah paling hina dan kasta brahmana, kasta paling agung dan paling tinggi). Perempuan sudra yang bernai menikah dengan laki-laki brahmana mengalami dua kali diskriminasi. Pertama, diskriminasi karena dia sudah jelas harus direndahkan oleh kasta yang jauh lebih tinggi yaitu brahmana. Kedua, dia direndahkan karena perempuan. Perendahan diri seorang perempuan sering kemudian dilihat dalam konsekuensinya dengan patriarki masyarakat Bali. Ini juga sejatinya bukan persoalan karena sikap penerimaan yang ada di kalangan perempuan Bali.
Tetapi benarkah perempuan Bali merasa tertindas di dalamnya? Ini adalah pertanyaan yang tidak pernah bisa dijawab. Karena kuatnya teori gender yang dipahami oleh para sarjana dan para peneliti maka teori inilah yang unggul atau benar. Novel Tarian Bumi diposisikan di bawah teori atau menjadi subordinat teori gender. Yang berkuasa adalah teori gender dan Tarian Bumi dipandang sebagai data sastra untuk membenarkan teori tersebut.
Narasi besar akademik atas Tarian Bumi adalah novel ini mengandung bias atau ketidakadilan gender dan perjuangan perempuan Bali yang tertindas untuk meraih posisi yang setara atau adil secara gender. Perempuan-perempuan dalam novel Oka Rusmini termasuk Telaga adalah perempuan subaltern. Perempuan subaltern adalah perempuan yang termarjinalkan dan dia berjuang walaupun gagal.
Persoalan yang dialami oleh para perempuan ini sama sekali bukan persoalan besar tetapi persoalan sehari-hari, persoalan alamiah perempuan Bali. Hubungan-hubungan individu hubungan-hubungan antara suami dan istri di sebuah rumah brahmana dan di dalamnya mereka berbeda kasta sehingga diskrimintaif terhadap kasta yang paling rendah dan hina, sudra. Jadi inilah sebab sejatinya kehidupan perempuan yang dikemukakan Tarian Bumi, ialah kehidupan para perempuan yang dengan berani memilih pernikahan beda kasta, dari dua kutub yang ekstrem antara sudra dan brahmana.
Terlepas dari kasta yang mendiskriminasi kehidupan perempuan sudra di tengah keluarga suaminya kaum brahmana. Maka Tarian Bumi tiba-tiba berbicara tentang lesbian. Porsi ceritanya walaupun sebagai sisipan dan walaupun narasi tentang lesbian itu melekat pada perempuan-perempuan penari, maka ada satu pertanyaan; di mana posisi narasi ini dalam masyarakat Bali. Oka Rusmini telah mengisi novelnya dengan persoalan tersebut.
Apakah Oka Rusmini memandang bahwa hal ini hanya sebagai hal yang tragis dan tabu? Jika teks mengungkap apa yang tabu apakah kemudian teks berarti menolaknya. Jika teks mengungkapkan sesuatu yang tabu apakah kemudian berarti teks mengukuhkannya atau bersikap lebih terbuka. Kajian khusus tentang lesbian dalam Tarian Bumi tidak ada dan sekali lagi para peneliti rupanya mengharamkan hal ini sehingga sedemikian banyaknya persoalan tentang lesbian di dalam Tarian Bumi tidak pernah diberikan kajian, semisal dengan menggunakan teori sastra LGBT (queer).
Ini adalah ketidakadilan. Novel ini hanya dibaca sesuai dengan kebutuhan teori yang sedang ngetren di jagat akademik. Teori begitu berkuasa dan digunakan untuk melumpuhkan karya sastra. Jarang sekali kajian-kajian sastra benar-benar membangun otonomi teks sehingga karya-lah yang kemudian mengendalikan teori. Karena itulah patut disayangkan sikap para peneliti yang tidak objektif terhadap data. Data dalam hal ini misalnya, tentu saja Tarian Bumi hanyalah digunakan untuk mengukuhkan teorinya. Maka dosa para peneliti adalah lebih mementingkan atau lebih mendewakan teori yang digunakan untuk membedah karya sastra. Sementara itu di luar kajian akademik terhadap Tarian Bumi sangat sedikit ada pembahasan yang betul-betul dimulai dari karya itu sendiri. Kajian-kajian itu memuliakan pengarang, memuliakan Tarian Bumi. Untuk itu harus ada sikap yang berubah pada para peneliti karena dengan sikap itu sastra menjadi hambanya teori. Maka ini adalah sangat tidak adil terhadap teks.
Para pengkaji atau peneliti menguasai teori tetapi tidak betul-betul menguasai data atau karya sastra (Tarian Bumi). Tujuan para pengkaji adalah teori dan metodologi penelitian. Tarian Bumi digunakan untuk melegitimasi teori tersebut. Seharusnya sebaliknya. Tarian Bumi-lah yang harusnya melahirkan teorinya sendiri. Dengan demikian, Tarian Bumi sebenarnya tidak menganut persoalan gender tetapi Tarian Bumi adalah konflik keluarga yang tajam karena perbedaan kasta. Apakah teori gender bisa menjelaskan perbedaan kasta. Teori gender mengabaikan kasta padahal kasta sangat utama dalam Tarian Bumi. Teori gender menghapuskan kasta sebagai entitas mendasarnya. Tarian Bumi lalu dipaksakan pada asumsi teori gender bahwa ketertindasan perempuan Bali.
Dengan adanya sikap untuk lebih mengutamakan karya ketimbang teori diharapkan kajian-kajian novel bisa memberikan sumbangan yang lebih besar bagi teori tersebut bukan sebaliknya teori menjadi stagnan karena teori digunakan sebatas memahami karya secara metodologis. Teori menggunakan data novel, dalam hal ini Tarian Bumi sebatas melegitimasi suatu teori. Karena itu akan sangat tidak menguntungkan kajian-kajian yang lebih memihak kepada teori ketimbang karya. Tarian bumi membawa pengarangnya ke puncak ketiga sastrawan Bali di kancah sastra Indonesia pasti bukan karena kajian-kajian teori tetapi karena ujian berat pasar yang telah dilewati oleh novel ini. Pasar atau pembaca sama sekali tidak menggunakan teori. Pasar atau pembaca berdasarkan hubungan personal atau hubungan-hubungan sosial mereka dengan karya. Karena itu pasar berjalan sendiri dan tidak ada hubungannya dengan riset sastra.
Berikutnya, yang menjadi narasi kecil, narasi yang karena kecilnya mungkin diabaikan oleh para pengkaji adalah bahwa di samping dunia keluarga beda kasta dan diskriminasinya di dalam griya; novel ini adalah cerita tentang kehidupan para penari. Jangan lupa Telaga adalah penari yang sangat sulit digambarkan karena saking sempurnanya. Tapi yang jelas Telaga adalah penari yang mendapatkan taksu para dewa. Di sini tidak ada riset yang mengaitkan Bali dengan perempuan dan dengan tarian. Padahal novel ini berbicara banyak tentang dunia penari Bali. Karena itu novel ini juga bisa dipandang sebagai potret Pulau Bali yang diidealkan oleh pariwisata era kolonial yaitu penari Bali dengan mata yang indah dan bunga kamboja.
Dalam Tarian Bumi perempuan dan penari Bali digambarkan dengan bahasa yang indah. Karena itu tampak hubungan antara dunia penari perempuan dan Bali dengan judul yaitu Tarian Bumi. Ini bukan urusan yang tidak ada alasannya. Tarian dalam novel Tarian Bumi berkaitan dengan kehidupan para penari dan bumi adalah perempuan. Karena itu, novel ini adalah cerita atau kisah para perempuan Bali yang menari, dengan berbagai persoalannya, seperti birahi, keperawanan, lesbian, model, dan pesta seks. Hal ini misalnya bisa lebih mudah dipahami dalam kehidupan Ni Nyoman Pollok. Tampak sekali Oka Rusmini memuliakan para maestro penari Bali perempuan. Dalam novel ini Telaga sebagai perempuan brahmana adalah salah seorang penari yang berguru kepada penari-penari besar di atasnya.
Yang sedikit meragukan dari Tarian Bumi adalah seperti asumsi bahwa sastra angkatan 2000 diberikan pembeda bahwa angkatan 2000 ini melahirkan sastrawan perempuan urban. Mereka mulai membicarakan tubuh laki-laki mereka mulai membicarakan erotisme atau birahinya sendiri terhadap laki-laki. Hal ini juga ditemukan banyak di dalam novel ini tetapi sekali lagi ini adalah narasi kecil yang juga diabaikan oleh para peneliti. [T]
- Materi pada kegiatan Diskusi Sastra “Perayaan Tiga Dekade Tarian Bumi Oka Rusmini”, Singaraja Literary Festival 2025, Kampus FBS Undiksha, 25 Juli 2025
Penulis: Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum.
Editor: Adnyana Ole







![Mengenang Joko Pinurbo [2-Tamat]: Sore Hari Bersama Sang Penyair](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/05/wicaksono-adi.-foto-jokpin2-1-360x180.jpg)
![Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/05/wicaksono-adi.-foto-jokpin-360x180.jpeg)


















