SEBAGAI mahluk yang hidup di alam semesta, manusia merupakan satu kesatuan dengan alam semesta dan segala isinya.
Penyatuan dengan alam semesta, bisa dilakukan oleh semua mahluk hidup, sesuai dengan kuantitas dan kualitas yang bersangkutan. Tumbuh-tumbuhan lebih mudah menyatu, binatang lebih sulit dan manusia paling sulit.
Manusia sebagai mahluk yang berjiwaraga dan mempunyai pikiran sebagai buana alit/mikrokosmos/semesta kecil merepresentasikan buana agung/makrokosmos/alam semesta.
Kesatuan manusia dengan alam semesta, fase awal salah satunya dipengaruhi oleh hari kelahiran yang bersangkutan.
Sebagai manusia yang berjiwaraga dan berpikir kelahiran seorang manusia dipengaruhi oleh tempat, ruang dan waktu yang menimbulkan energi, frekwensi dan vibrasi pada yang bersangkutan.
Kelahiran yang menyangkut ketubuhan sebagai fisik menyiratkan lima rasa dasar manusia yang disebut panca wara, yakni ; umanis/rasa/bau manis, sebagai esensi rasa tumbuh-tumbuhan, pahing/rasa pahit, sebagai esensi dari rasa/bau binatang, pon/rasa/bau asin sebagai esensi rasa/bau manusia, wage/rasa/ bau ambar, sebagai esensi dan rasa pengalaman manusia dan kajeng/rasa/bau pedas, sebagai esensi rasa/bau kecerdasan manusia.
Sebagai mahluk yang berpikir kelahiran manusia juga dipengaruhi oleh tempat ruang dan waktu yang terkait dengan sifat/karakter yang tercermin dari hitungan 7 (sapta wara) kelahiran Soma/Senin: dominan dipengaruhi sifat karakter tumbuhan-tumbuhan/ air, Anggara/selasa:binatang/api, Buda/Rabu: manusia/budi, Wrespati/Kamis: pengetahuan alam, Sukra/Jumat: pengetahuan rohani, Saniscara/Sabtu: bulan/ibu, dan Raditya/Minggu: matahari/bapak.
Dalam usaha melakukan proses penyatuan dengan alam semesta, leluhur nusantara/manusia mengajarkan anak cucu dan keturunannya memulai dengan mengenali diri yang diawali dengan pengenalan hari lahir/weton, yang diperingati sebagai oton/paweton.
Proses dan perjalanan kehidupan seorang manusia bisa dimulai dari satu titik untuk mengenali titik-titik selanjutnya yang bisa menjadi garis, bentuk, warna dan lukisan kehidupan diri sebelum bisa menjadi pelukis dan melukis alam semesta, dengan segala isinya.
Selamat merayakan Tumbek Kandang (Tumpek Kebinatangan) pertemuan sifat/bau pahit kebinatangan dan sifat rasa pikiran manusia yang pedas, mudah-mudahan bisa mencapai kosong dan kekosongan yang berasa dan berisi. [T]
Salam, Denpasar, 12/7/2025
Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:


























