ADA lagu-lagu yang tidak kita temukan. Lagu-lagu itu justru yang menemukan kita—datang diam-diam, memeluk tanpa suara, menggugah yang paling dalam. Lagu-lagu yang tak lahir untuk ditonton, hanya untuk didengarkan—pelan-pelan, dalam diam. Lagu-lagu yang bukan untuk diputar di pesta, konser, atau keramaian, melainkan untuk dibisikkan ke dalam dada yang menyimpan nama tanpa suara. Seperti tembang, ia bukan sekadar nyanyian, melainkan seruan jiwa yang tak sanggup berteriak.
Itulah yang kurasakan ketika tak sengaja menjumpai sebuah lagu Jawa di beranda media sosial—lirih, nyaris hanya bisikan, tapi mengguncang bagian terdalam dari batin. Lagu itu berjudul “Kepangku Kapang”. Sebuah pertanyaan sederhana namun penuh beban emosional: “Kapan aku bisa memelukmu?”
Aku tak tahu siapa penyanyinya, tak tahu artinya, bahkan tak tahu apakah lagunya baru atau lawas. Tapi tubuhku berhenti. Dadaku sesak. Mataku hangat. Ada bagian dari diriku yang disentuh sebelum sempat dijelaskan. Lagu ini hadir seperti doa yang datang ketika kita sudah terlalu lelah untuk memanjatkan. Ia tidak memaksa masuk, tapi mengisi ruang yang aku sendiri tak sadar sudah kosong begitu lama.
Seperti kebiasaanku jika menemukan sesuatu yang menyentuh, aku mulai mencari tahu. Mencatat liriknya. Menerjemahkannya. Menyelaminya. Dan semakin kuselami, semakin aku tahu: ini bukan lagu biasa. Ini adalah kidung—tembang dari dada yang tak kuat bicara, tapi masih ingin menyampaikan. Ia bukan sekadar rangkaian nada, tapi panggilan batin.
Kepangku Kapang: Tembang dari Rindu yang Mengandung Bawang
Dalam bahasa warganet, ada yang menyebut lagu ini “mengandung bawang.” Sebuah metafora jenaka untuk menjelaskan sesuatu yang membuat air mata menetes diam-diam. Tapi sesungguhnya, lagu ini tak sekadar membuat perih. Ia menyimpan luka dalam—dengan lembut dan hening.

Sumber foto: IG Adif Marhaendra
Liriknya seperti puisi. Tak hanya bermakna, tapi juga berjiwa. Suaranya seperti panggilan dari lorong kenangan—menggugah perasaan yang mungkin sudah lama kita pendam. Dan dalam nyanyian itulah kita bertemu dengan diri kita yang nyaris terlupa: diri yang masih bisa mencinta meski sudah lama sendiri.
Berikut adalah lirik asli dari lagu “Kepangku Kapang”, ciptaan Adif Marhaendra:
Lirik Lagu: Kepangku Kapang
sinten sinambat ing wewangi iki
amung siro yekti
esemmu kang manis madu
duh wong bagus
tresno lir tirto gumanti dahono
awit siro marang roso
endah rumembyak rekmamu
dadyo angenku saben dalu
wengi kadyo setro kagowo lungane baskoro
peteng tanpo condro, tanpo kartiko
lumayu ing awang-awang hanggayuh lintang
nyanding kekaronsih mung dadi lelamunan
liwat kidung iki mugo biso ngerteni
sakjeroning ati iki kangmas ngugemi janji
wengi kadyo setro kagowo lungane baskoro
peteng tanpo condro, tanpo kartiko
lumayu ing awang-awang hanggayuh lintang
nyanding kekaronsih mung dadi lelamunan
liwat kidung iki mugo biso ngerteni
sakjeroning ati sih kawuri ngugemi janji
nadyan datan handarbeni bakal tak rukti suci sejati
duh maruto kandakno saktemene aku isih tresno
lumayu ing awang-awang hanggayuh lintang
nyanding kekaronsih mung dadi lelamunan
liwat kidung iki mugo biso ngerteni
sakjeroning ati sih kawuri ngugemi janji
Yang membuatku terhenyak lebih dalam adalah kenyataan bahwa lagu ini bukan bagian dari naskah kuno, bukan tembang dari macapat atau suluk dari padepokan-padepokan tua. Lagu ini diciptakan oleh Adif Marhaendra, seorang seniman muda dari ruang digital. Ia tidak tampil sebagai dalang, sinden, atau guru budaya. Ia hadir lewat kanal YouTube dan media sosial, namun rasa dan suaranya menembus akar batin budaya Jawa.
Adif mengajarkan bahwa kidung tidak harus tua untuk dalam, tidak harus klasik untuk sakral. Lewat tembang ini, bahasa ibu tidak hanya hidup, tapi menyentuh kembali. Ia membuktikan bahwa budaya bukan sekadar yang diwarisi, tapi juga yang dihidupkan ulang—dengan cinta dan kepekaan.
Nguri-uri: Menjaga yang Tak Kasat Mata
Sebagai perempuan Jawa, mendengar lagu ini membangkitkan kenangan: ibu yang menyanyikan lir-ilir di dapur, bapak yang diam-diam mengusap mata mendengar mocopat dari radio tua. Lagu ini seperti jembatan kecil yang menuntunku pulang ke akar. Ke rumah bahasa. Ke rumah rasa.
Nguri-uri bukan cuma memamerkan kebaya atau wayang, tapi menjaga yang tak kasat mata: jiwa, rasa, dan kesetiaan batin. Dan lagu ini adalah penjaga itu—yang tak bersuara keras, tapi menggema pelan-pelan dalam dada.
Rasa yang Tidak Selesai Ditulis
Saya tidak percaya pada keindahan yang hanya berhenti di kata. Keindahan yang sejati adalah yang merambat hingga ke dada—yang tidak hanya dibaca, tapi dialami: dengan napas tertahan, dengan getar kecil yang datang diam-diam, atau dengan sejumput hening yang muncul setelahnya.
Menulis, bagi saya—seperti halnya mendengar lagu Kepangku Kapang—adalah bagian dari olah rasa dan olah pikir yang tidak terpisah. Bahasa bukan hanya alat tukar ide, melainkan alat mengolah luka. Dan dalam luka itu sering tersembunyi akar spiritualitas, akar kemanusiaan, dan akar budaya.
Saya tumbuh dalam keyakinan bahwa:
- Yang terdalam sering kali tak bersuara.
- Yang sederhana sering paling jujur.
- Budaya bukan benda mati, tapi napas yang diwariskan.
- Spiritualitas bukan harus agamis, tapi harus menggugah batin.
Menulis bagi saya bukan tentang menjadi bijak, melainkan tentang menjadi peka—peka terhadap kesunyian, terhadap yang tak terucap, terhadap apa yang tak sempat dikeluhkan. Dan dari situlah saya merangkai kata, seperti orang desa menanak nasi: pelan, penuh perhatian, dan dengan harap agar bisa mengenyangkan—walau hanya sedikit, walau hanya satu jiwa. [T]
Cengkareng, 26 Juni 2025
- Untuk semua suara sunyi yang memilih bertahan lewat tembang.
- Dan untuk para pencipta seperti Adif Marhaendra—yang tidak hanya menulis lagu, tapi menyalakan kembali nyawa budaya.
- Semoga tulisan ini kelak mempertemukan aku dengan Anda.



























