23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Kepangku Kapang” dan Kidung yang Menemukan Kita

Emi Suy by Emi Suy
June 26, 2025
in Ulas Musik
“Kepangku Kapang” dan Kidung yang Menemukan Kita

Sumber foto: IG Adif Marhaendra

ADA lagu-lagu yang tidak kita temukan. Lagu-lagu itu justru yang menemukan kita—datang diam-diam, memeluk tanpa suara, menggugah yang paling dalam. Lagu-lagu yang tak lahir untuk ditonton, hanya untuk didengarkan—pelan-pelan, dalam diam. Lagu-lagu yang bukan untuk diputar di pesta, konser, atau keramaian, melainkan untuk dibisikkan ke dalam dada yang menyimpan nama tanpa suara. Seperti tembang, ia bukan sekadar nyanyian, melainkan seruan jiwa yang tak sanggup berteriak.

Itulah yang kurasakan ketika tak sengaja menjumpai sebuah lagu Jawa di beranda media sosial—lirih, nyaris hanya bisikan, tapi mengguncang bagian terdalam dari batin. Lagu itu berjudul “Kepangku Kapang”. Sebuah pertanyaan sederhana namun penuh beban emosional: “Kapan aku bisa memelukmu?”

Aku tak tahu siapa penyanyinya, tak tahu artinya, bahkan tak tahu apakah lagunya baru atau lawas. Tapi tubuhku berhenti. Dadaku sesak. Mataku hangat. Ada bagian dari diriku yang disentuh sebelum sempat dijelaskan. Lagu ini hadir seperti doa yang datang ketika kita sudah terlalu lelah untuk memanjatkan. Ia tidak memaksa masuk, tapi mengisi ruang yang aku sendiri tak sadar sudah kosong begitu lama.

Seperti kebiasaanku jika menemukan sesuatu yang menyentuh, aku mulai mencari tahu. Mencatat liriknya. Menerjemahkannya. Menyelaminya. Dan semakin kuselami, semakin aku tahu: ini bukan lagu biasa. Ini adalah kidung—tembang dari dada yang tak kuat bicara, tapi masih ingin menyampaikan. Ia bukan sekadar rangkaian nada, tapi panggilan batin.

Kepangku Kapang: Tembang dari Rindu yang Mengandung Bawang

Dalam bahasa warganet, ada yang menyebut lagu ini “mengandung bawang.” Sebuah metafora jenaka untuk menjelaskan sesuatu yang membuat air mata menetes diam-diam. Tapi sesungguhnya, lagu ini tak sekadar membuat perih. Ia menyimpan luka dalam—dengan lembut dan hening.

Sumber foto: IG Adif Marhaendra

Liriknya seperti puisi. Tak hanya bermakna, tapi juga berjiwa. Suaranya seperti panggilan dari lorong kenangan—menggugah perasaan yang mungkin sudah lama kita pendam. Dan dalam nyanyian itulah kita bertemu dengan diri kita yang nyaris terlupa: diri yang masih bisa mencinta meski sudah lama sendiri.

Berikut adalah lirik asli dari lagu “Kepangku Kapang”, ciptaan Adif Marhaendra:

Lirik Lagu: Kepangku Kapang

sinten sinambat ing wewangi iki
amung siro yekti
esemmu kang manis madu
duh wong bagus

tresno lir tirto gumanti dahono
awit siro marang roso
endah rumembyak rekmamu
dadyo angenku saben dalu

wengi kadyo setro kagowo lungane baskoro
peteng tanpo condro, tanpo kartiko

lumayu ing awang-awang hanggayuh lintang
nyanding kekaronsih mung dadi lelamunan
liwat kidung iki mugo biso ngerteni
sakjeroning ati iki kangmas ngugemi janji

wengi kadyo setro kagowo lungane baskoro
peteng tanpo condro, tanpo kartiko

lumayu ing awang-awang hanggayuh lintang
nyanding kekaronsih mung dadi lelamunan
liwat kidung iki mugo biso ngerteni
sakjeroning ati sih kawuri ngugemi janji

nadyan datan handarbeni bakal tak rukti suci sejati
duh maruto kandakno saktemene aku isih tresno

lumayu ing awang-awang hanggayuh lintang
nyanding kekaronsih mung dadi lelamunan
liwat kidung iki mugo biso ngerteni
sakjeroning ati sih kawuri ngugemi janji

Yang membuatku terhenyak lebih dalam adalah kenyataan bahwa lagu ini bukan bagian dari naskah kuno, bukan tembang dari macapat atau suluk dari padepokan-padepokan tua. Lagu ini diciptakan oleh Adif Marhaendra, seorang seniman muda dari ruang digital. Ia tidak tampil sebagai dalang, sinden, atau guru budaya. Ia hadir lewat kanal YouTube dan media sosial, namun rasa dan suaranya menembus akar batin budaya Jawa.

Adif mengajarkan bahwa kidung tidak harus tua untuk dalam, tidak harus klasik untuk sakral. Lewat tembang ini, bahasa ibu tidak hanya hidup, tapi menyentuh kembali. Ia membuktikan bahwa budaya bukan sekadar yang diwarisi, tapi juga yang dihidupkan ulang—dengan cinta dan kepekaan.

Nguri-uri: Menjaga yang Tak Kasat Mata

Sebagai perempuan Jawa, mendengar lagu ini membangkitkan kenangan: ibu yang menyanyikan lir-ilir di dapur, bapak yang diam-diam mengusap mata mendengar mocopat dari radio tua. Lagu ini seperti jembatan kecil yang menuntunku pulang ke akar. Ke rumah bahasa. Ke rumah rasa.

Nguri-uri bukan cuma memamerkan kebaya atau wayang, tapi menjaga yang tak kasat mata: jiwa, rasa, dan kesetiaan batin. Dan lagu ini adalah penjaga itu—yang tak bersuara keras, tapi menggema pelan-pelan dalam dada.

Rasa yang Tidak Selesai Ditulis

Saya tidak percaya pada keindahan yang hanya berhenti di kata. Keindahan yang sejati adalah yang merambat hingga ke dada—yang tidak hanya dibaca, tapi dialami: dengan napas tertahan, dengan getar kecil yang datang diam-diam, atau dengan sejumput hening yang muncul setelahnya.

Menulis, bagi saya—seperti halnya mendengar lagu Kepangku Kapang—adalah bagian dari olah rasa dan olah pikir yang tidak terpisah. Bahasa bukan hanya alat tukar ide, melainkan alat mengolah luka. Dan dalam luka itu sering tersembunyi akar spiritualitas, akar kemanusiaan, dan akar budaya.

Saya tumbuh dalam keyakinan bahwa:

  • Yang terdalam sering kali tak bersuara.
  • Yang sederhana sering paling jujur.
  • Budaya bukan benda mati, tapi napas yang diwariskan.
  • Spiritualitas bukan harus agamis, tapi harus menggugah batin.

Menulis bagi saya bukan tentang menjadi bijak, melainkan tentang menjadi peka—peka terhadap kesunyian, terhadap yang tak terucap, terhadap apa yang tak sempat dikeluhkan. Dan dari situlah saya merangkai kata, seperti orang desa menanak nasi: pelan, penuh perhatian, dan dengan harap agar bisa mengenyangkan—walau hanya sedikit, walau hanya satu jiwa. [T]

Cengkareng, 26 Juni 2025

  • Untuk semua suara sunyi yang memilih bertahan lewat tembang.
  • Dan untuk para pencipta seperti Adif Marhaendra—yang tidak hanya menulis lagu, tapi menyalakan kembali nyawa budaya.
  • Semoga tulisan ini kelak mempertemukan aku dengan Anda.
Catatan Sekilas tentang Musik Klasik, Mereka yang Terbaik di Piano Klasik, serta Pentingnya Pendidikan Musik
Musik Klasik dan Sastra Semakin Mesra di Kompetisi Piano Nusantara Plus
Sukacinta Desember: Kasih Natal, Kasih Ibu, Kasih Musik & Puisi Melebihi Segala Bencana Alam dan Kemanusiaan
‘SINARENGAN’: Refleksi Rasa pada Sulaman Tembang
Nostalgia dan Modernitas “Kumpul Bocah”: Perjalanan Abadi dari Vina Panduwinata ke Maliq & D’Essentials
Tags: kidunglagu pop jawamusikmusik jawa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“PROGRAM BHUTA KALA” versus “PANUGRAHAN IDA BHATARA”

Next Post

Arja Lingsar, Arja Kekinian, Arja Tak Jadi Mati — Catatan Diskusi Kawiya Bali di Pesta Kesenian Bali 2025

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
0
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

Read moreDetails

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
0
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

Read moreDetails

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
0
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

Read moreDetails

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
0
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

Read moreDetails

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails
Next Post
Arja Lingsar, Arja Kekinian, Arja Tak Jadi Mati — Catatan Diskusi Kawiya Bali di Pesta Kesenian Bali 2025

Arja Lingsar, Arja Kekinian, Arja Tak Jadi Mati -- Catatan Diskusi Kawiya Bali di Pesta Kesenian Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co