3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Kepangku Kapang” dan Kidung yang Menemukan Kita

Emi Suy by Emi Suy
June 26, 2025
in Ulas Musik
“Kepangku Kapang” dan Kidung yang Menemukan Kita

Sumber foto: IG Adif Marhaendra

ADA lagu-lagu yang tidak kita temukan. Lagu-lagu itu justru yang menemukan kita—datang diam-diam, memeluk tanpa suara, menggugah yang paling dalam. Lagu-lagu yang tak lahir untuk ditonton, hanya untuk didengarkan—pelan-pelan, dalam diam. Lagu-lagu yang bukan untuk diputar di pesta, konser, atau keramaian, melainkan untuk dibisikkan ke dalam dada yang menyimpan nama tanpa suara. Seperti tembang, ia bukan sekadar nyanyian, melainkan seruan jiwa yang tak sanggup berteriak.

Itulah yang kurasakan ketika tak sengaja menjumpai sebuah lagu Jawa di beranda media sosial—lirih, nyaris hanya bisikan, tapi mengguncang bagian terdalam dari batin. Lagu itu berjudul “Kepangku Kapang”. Sebuah pertanyaan sederhana namun penuh beban emosional: “Kapan aku bisa memelukmu?”

Aku tak tahu siapa penyanyinya, tak tahu artinya, bahkan tak tahu apakah lagunya baru atau lawas. Tapi tubuhku berhenti. Dadaku sesak. Mataku hangat. Ada bagian dari diriku yang disentuh sebelum sempat dijelaskan. Lagu ini hadir seperti doa yang datang ketika kita sudah terlalu lelah untuk memanjatkan. Ia tidak memaksa masuk, tapi mengisi ruang yang aku sendiri tak sadar sudah kosong begitu lama.

Seperti kebiasaanku jika menemukan sesuatu yang menyentuh, aku mulai mencari tahu. Mencatat liriknya. Menerjemahkannya. Menyelaminya. Dan semakin kuselami, semakin aku tahu: ini bukan lagu biasa. Ini adalah kidung—tembang dari dada yang tak kuat bicara, tapi masih ingin menyampaikan. Ia bukan sekadar rangkaian nada, tapi panggilan batin.

Kepangku Kapang: Tembang dari Rindu yang Mengandung Bawang

Dalam bahasa warganet, ada yang menyebut lagu ini “mengandung bawang.” Sebuah metafora jenaka untuk menjelaskan sesuatu yang membuat air mata menetes diam-diam. Tapi sesungguhnya, lagu ini tak sekadar membuat perih. Ia menyimpan luka dalam—dengan lembut dan hening.

Sumber foto: IG Adif Marhaendra

Liriknya seperti puisi. Tak hanya bermakna, tapi juga berjiwa. Suaranya seperti panggilan dari lorong kenangan—menggugah perasaan yang mungkin sudah lama kita pendam. Dan dalam nyanyian itulah kita bertemu dengan diri kita yang nyaris terlupa: diri yang masih bisa mencinta meski sudah lama sendiri.

Berikut adalah lirik asli dari lagu “Kepangku Kapang”, ciptaan Adif Marhaendra:

Lirik Lagu: Kepangku Kapang

sinten sinambat ing wewangi iki
amung siro yekti
esemmu kang manis madu
duh wong bagus

tresno lir tirto gumanti dahono
awit siro marang roso
endah rumembyak rekmamu
dadyo angenku saben dalu

wengi kadyo setro kagowo lungane baskoro
peteng tanpo condro, tanpo kartiko

lumayu ing awang-awang hanggayuh lintang
nyanding kekaronsih mung dadi lelamunan
liwat kidung iki mugo biso ngerteni
sakjeroning ati iki kangmas ngugemi janji

wengi kadyo setro kagowo lungane baskoro
peteng tanpo condro, tanpo kartiko

lumayu ing awang-awang hanggayuh lintang
nyanding kekaronsih mung dadi lelamunan
liwat kidung iki mugo biso ngerteni
sakjeroning ati sih kawuri ngugemi janji

nadyan datan handarbeni bakal tak rukti suci sejati
duh maruto kandakno saktemene aku isih tresno

lumayu ing awang-awang hanggayuh lintang
nyanding kekaronsih mung dadi lelamunan
liwat kidung iki mugo biso ngerteni
sakjeroning ati sih kawuri ngugemi janji

Yang membuatku terhenyak lebih dalam adalah kenyataan bahwa lagu ini bukan bagian dari naskah kuno, bukan tembang dari macapat atau suluk dari padepokan-padepokan tua. Lagu ini diciptakan oleh Adif Marhaendra, seorang seniman muda dari ruang digital. Ia tidak tampil sebagai dalang, sinden, atau guru budaya. Ia hadir lewat kanal YouTube dan media sosial, namun rasa dan suaranya menembus akar batin budaya Jawa.

Adif mengajarkan bahwa kidung tidak harus tua untuk dalam, tidak harus klasik untuk sakral. Lewat tembang ini, bahasa ibu tidak hanya hidup, tapi menyentuh kembali. Ia membuktikan bahwa budaya bukan sekadar yang diwarisi, tapi juga yang dihidupkan ulang—dengan cinta dan kepekaan.

Nguri-uri: Menjaga yang Tak Kasat Mata

Sebagai perempuan Jawa, mendengar lagu ini membangkitkan kenangan: ibu yang menyanyikan lir-ilir di dapur, bapak yang diam-diam mengusap mata mendengar mocopat dari radio tua. Lagu ini seperti jembatan kecil yang menuntunku pulang ke akar. Ke rumah bahasa. Ke rumah rasa.

Nguri-uri bukan cuma memamerkan kebaya atau wayang, tapi menjaga yang tak kasat mata: jiwa, rasa, dan kesetiaan batin. Dan lagu ini adalah penjaga itu—yang tak bersuara keras, tapi menggema pelan-pelan dalam dada.

Rasa yang Tidak Selesai Ditulis

Saya tidak percaya pada keindahan yang hanya berhenti di kata. Keindahan yang sejati adalah yang merambat hingga ke dada—yang tidak hanya dibaca, tapi dialami: dengan napas tertahan, dengan getar kecil yang datang diam-diam, atau dengan sejumput hening yang muncul setelahnya.

Menulis, bagi saya—seperti halnya mendengar lagu Kepangku Kapang—adalah bagian dari olah rasa dan olah pikir yang tidak terpisah. Bahasa bukan hanya alat tukar ide, melainkan alat mengolah luka. Dan dalam luka itu sering tersembunyi akar spiritualitas, akar kemanusiaan, dan akar budaya.

Saya tumbuh dalam keyakinan bahwa:

  • Yang terdalam sering kali tak bersuara.
  • Yang sederhana sering paling jujur.
  • Budaya bukan benda mati, tapi napas yang diwariskan.
  • Spiritualitas bukan harus agamis, tapi harus menggugah batin.

Menulis bagi saya bukan tentang menjadi bijak, melainkan tentang menjadi peka—peka terhadap kesunyian, terhadap yang tak terucap, terhadap apa yang tak sempat dikeluhkan. Dan dari situlah saya merangkai kata, seperti orang desa menanak nasi: pelan, penuh perhatian, dan dengan harap agar bisa mengenyangkan—walau hanya sedikit, walau hanya satu jiwa. [T]

Cengkareng, 26 Juni 2025

  • Untuk semua suara sunyi yang memilih bertahan lewat tembang.
  • Dan untuk para pencipta seperti Adif Marhaendra—yang tidak hanya menulis lagu, tapi menyalakan kembali nyawa budaya.
  • Semoga tulisan ini kelak mempertemukan aku dengan Anda.
Catatan Sekilas tentang Musik Klasik, Mereka yang Terbaik di Piano Klasik, serta Pentingnya Pendidikan Musik
Musik Klasik dan Sastra Semakin Mesra di Kompetisi Piano Nusantara Plus
Sukacinta Desember: Kasih Natal, Kasih Ibu, Kasih Musik & Puisi Melebihi Segala Bencana Alam dan Kemanusiaan
‘SINARENGAN’: Refleksi Rasa pada Sulaman Tembang
Nostalgia dan Modernitas “Kumpul Bocah”: Perjalanan Abadi dari Vina Panduwinata ke Maliq & D’Essentials
Tags: kidunglagu pop jawamusikmusik jawa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“PROGRAM BHUTA KALA” versus “PANUGRAHAN IDA BHATARA”

Next Post

Arja Lingsar, Arja Kekinian, Arja Tak Jadi Mati — Catatan Diskusi Kawiya Bali di Pesta Kesenian Bali 2025

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
0
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

Read moreDetails

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

by Wahyu Thoyyib Pambayun
May 25, 2026
0
Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT)...

Read moreDetails

Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

by Ahmad Sihabudin
May 22, 2026
0
Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

LAGU “The Park” dari album Salisbury karya Uriah Heep sering dipahami sebagai balada progresif yang kontemplatif dan melankolis. Dengan vokal...

Read moreDetails

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
0
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

Read moreDetails

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
0
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

Read moreDetails

’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

by Ahmad Sihabudin
May 1, 2026
0
’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

FENOMENA viralnya lagu “Siti Mawarni Ya Incek” tidak bisa dibaca sekadar lagu hiburan digital yang lewat begitu saja. Ia adalah...

Read moreDetails

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
0
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

Read moreDetails

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
0
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

Read moreDetails

Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

by Ahmad Sihabudin
April 11, 2026
0
Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

PADA suatu malam yang panjang di jalan raya antarkota, seseorang mungkin tiba-tiba memahami makna sebuah lagu. Di tengah lampu kendaraan...

Read moreDetails

’Soon’: Etika Menunggu di Zaman yang Kehilangan Kesabaran

by Ahmad Sihabudin
March 28, 2026
0
’Soon’: Etika Menunggu di Zaman yang Kehilangan Kesabaran

Di tengah dunia kontemporer yang serba cepat, gaduh, dan penuh kepastian semu, lagu “Soon” dari grup rock progresif Inggris Yes...

Read moreDetails
Next Post
Arja Lingsar, Arja Kekinian, Arja Tak Jadi Mati — Catatan Diskusi Kawiya Bali di Pesta Kesenian Bali 2025

Arja Lingsar, Arja Kekinian, Arja Tak Jadi Mati -- Catatan Diskusi Kawiya Bali di Pesta Kesenian Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co