13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Kepangku Kapang” dan Kidung yang Menemukan Kita

Emi Suy by Emi Suy
June 26, 2025
in Ulas Musik
“Kepangku Kapang” dan Kidung yang Menemukan Kita

Sumber foto: IG Adif Marhaendra

ADA lagu-lagu yang tidak kita temukan. Lagu-lagu itu justru yang menemukan kita—datang diam-diam, memeluk tanpa suara, menggugah yang paling dalam. Lagu-lagu yang tak lahir untuk ditonton, hanya untuk didengarkan—pelan-pelan, dalam diam. Lagu-lagu yang bukan untuk diputar di pesta, konser, atau keramaian, melainkan untuk dibisikkan ke dalam dada yang menyimpan nama tanpa suara. Seperti tembang, ia bukan sekadar nyanyian, melainkan seruan jiwa yang tak sanggup berteriak.

Itulah yang kurasakan ketika tak sengaja menjumpai sebuah lagu Jawa di beranda media sosial—lirih, nyaris hanya bisikan, tapi mengguncang bagian terdalam dari batin. Lagu itu berjudul “Kepangku Kapang”. Sebuah pertanyaan sederhana namun penuh beban emosional: “Kapan aku bisa memelukmu?”

Aku tak tahu siapa penyanyinya, tak tahu artinya, bahkan tak tahu apakah lagunya baru atau lawas. Tapi tubuhku berhenti. Dadaku sesak. Mataku hangat. Ada bagian dari diriku yang disentuh sebelum sempat dijelaskan. Lagu ini hadir seperti doa yang datang ketika kita sudah terlalu lelah untuk memanjatkan. Ia tidak memaksa masuk, tapi mengisi ruang yang aku sendiri tak sadar sudah kosong begitu lama.

Seperti kebiasaanku jika menemukan sesuatu yang menyentuh, aku mulai mencari tahu. Mencatat liriknya. Menerjemahkannya. Menyelaminya. Dan semakin kuselami, semakin aku tahu: ini bukan lagu biasa. Ini adalah kidung—tembang dari dada yang tak kuat bicara, tapi masih ingin menyampaikan. Ia bukan sekadar rangkaian nada, tapi panggilan batin.

Kepangku Kapang: Tembang dari Rindu yang Mengandung Bawang

Dalam bahasa warganet, ada yang menyebut lagu ini “mengandung bawang.” Sebuah metafora jenaka untuk menjelaskan sesuatu yang membuat air mata menetes diam-diam. Tapi sesungguhnya, lagu ini tak sekadar membuat perih. Ia menyimpan luka dalam—dengan lembut dan hening.

Sumber foto: IG Adif Marhaendra

Liriknya seperti puisi. Tak hanya bermakna, tapi juga berjiwa. Suaranya seperti panggilan dari lorong kenangan—menggugah perasaan yang mungkin sudah lama kita pendam. Dan dalam nyanyian itulah kita bertemu dengan diri kita yang nyaris terlupa: diri yang masih bisa mencinta meski sudah lama sendiri.

Berikut adalah lirik asli dari lagu “Kepangku Kapang”, ciptaan Adif Marhaendra:

Lirik Lagu: Kepangku Kapang

sinten sinambat ing wewangi iki
amung siro yekti
esemmu kang manis madu
duh wong bagus

tresno lir tirto gumanti dahono
awit siro marang roso
endah rumembyak rekmamu
dadyo angenku saben dalu

wengi kadyo setro kagowo lungane baskoro
peteng tanpo condro, tanpo kartiko

lumayu ing awang-awang hanggayuh lintang
nyanding kekaronsih mung dadi lelamunan
liwat kidung iki mugo biso ngerteni
sakjeroning ati iki kangmas ngugemi janji

wengi kadyo setro kagowo lungane baskoro
peteng tanpo condro, tanpo kartiko

lumayu ing awang-awang hanggayuh lintang
nyanding kekaronsih mung dadi lelamunan
liwat kidung iki mugo biso ngerteni
sakjeroning ati sih kawuri ngugemi janji

nadyan datan handarbeni bakal tak rukti suci sejati
duh maruto kandakno saktemene aku isih tresno

lumayu ing awang-awang hanggayuh lintang
nyanding kekaronsih mung dadi lelamunan
liwat kidung iki mugo biso ngerteni
sakjeroning ati sih kawuri ngugemi janji

Yang membuatku terhenyak lebih dalam adalah kenyataan bahwa lagu ini bukan bagian dari naskah kuno, bukan tembang dari macapat atau suluk dari padepokan-padepokan tua. Lagu ini diciptakan oleh Adif Marhaendra, seorang seniman muda dari ruang digital. Ia tidak tampil sebagai dalang, sinden, atau guru budaya. Ia hadir lewat kanal YouTube dan media sosial, namun rasa dan suaranya menembus akar batin budaya Jawa.

Adif mengajarkan bahwa kidung tidak harus tua untuk dalam, tidak harus klasik untuk sakral. Lewat tembang ini, bahasa ibu tidak hanya hidup, tapi menyentuh kembali. Ia membuktikan bahwa budaya bukan sekadar yang diwarisi, tapi juga yang dihidupkan ulang—dengan cinta dan kepekaan.

Nguri-uri: Menjaga yang Tak Kasat Mata

Sebagai perempuan Jawa, mendengar lagu ini membangkitkan kenangan: ibu yang menyanyikan lir-ilir di dapur, bapak yang diam-diam mengusap mata mendengar mocopat dari radio tua. Lagu ini seperti jembatan kecil yang menuntunku pulang ke akar. Ke rumah bahasa. Ke rumah rasa.

Nguri-uri bukan cuma memamerkan kebaya atau wayang, tapi menjaga yang tak kasat mata: jiwa, rasa, dan kesetiaan batin. Dan lagu ini adalah penjaga itu—yang tak bersuara keras, tapi menggema pelan-pelan dalam dada.

Rasa yang Tidak Selesai Ditulis

Saya tidak percaya pada keindahan yang hanya berhenti di kata. Keindahan yang sejati adalah yang merambat hingga ke dada—yang tidak hanya dibaca, tapi dialami: dengan napas tertahan, dengan getar kecil yang datang diam-diam, atau dengan sejumput hening yang muncul setelahnya.

Menulis, bagi saya—seperti halnya mendengar lagu Kepangku Kapang—adalah bagian dari olah rasa dan olah pikir yang tidak terpisah. Bahasa bukan hanya alat tukar ide, melainkan alat mengolah luka. Dan dalam luka itu sering tersembunyi akar spiritualitas, akar kemanusiaan, dan akar budaya.

Saya tumbuh dalam keyakinan bahwa:

  • Yang terdalam sering kali tak bersuara.
  • Yang sederhana sering paling jujur.
  • Budaya bukan benda mati, tapi napas yang diwariskan.
  • Spiritualitas bukan harus agamis, tapi harus menggugah batin.

Menulis bagi saya bukan tentang menjadi bijak, melainkan tentang menjadi peka—peka terhadap kesunyian, terhadap yang tak terucap, terhadap apa yang tak sempat dikeluhkan. Dan dari situlah saya merangkai kata, seperti orang desa menanak nasi: pelan, penuh perhatian, dan dengan harap agar bisa mengenyangkan—walau hanya sedikit, walau hanya satu jiwa. [T]

Cengkareng, 26 Juni 2025

  • Untuk semua suara sunyi yang memilih bertahan lewat tembang.
  • Dan untuk para pencipta seperti Adif Marhaendra—yang tidak hanya menulis lagu, tapi menyalakan kembali nyawa budaya.
  • Semoga tulisan ini kelak mempertemukan aku dengan Anda.
Catatan Sekilas tentang Musik Klasik, Mereka yang Terbaik di Piano Klasik, serta Pentingnya Pendidikan Musik
Musik Klasik dan Sastra Semakin Mesra di Kompetisi Piano Nusantara Plus
Sukacinta Desember: Kasih Natal, Kasih Ibu, Kasih Musik & Puisi Melebihi Segala Bencana Alam dan Kemanusiaan
‘SINARENGAN’: Refleksi Rasa pada Sulaman Tembang
Nostalgia dan Modernitas “Kumpul Bocah”: Perjalanan Abadi dari Vina Panduwinata ke Maliq & D’Essentials
Tags: kidunglagu pop jawamusikmusik jawa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“PROGRAM BHUTA KALA” versus “PANUGRAHAN IDA BHATARA”

Next Post

Arja Lingsar, Arja Kekinian, Arja Tak Jadi Mati — Catatan Diskusi Kawiya Bali di Pesta Kesenian Bali 2025

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
0
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

Read moreDetails

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
0
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang...

Read moreDetails

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
0
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

Read moreDetails

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

by Wahyu Thoyyib Pambayun
May 25, 2026
0
Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT)...

Read moreDetails

Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

by Ahmad Sihabudin
May 22, 2026
0
Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

LAGU “The Park” dari album Salisbury karya Uriah Heep sering dipahami sebagai balada progresif yang kontemplatif dan melankolis. Dengan vokal...

Read moreDetails

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
0
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

Read moreDetails

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
0
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

Read moreDetails
Next Post
Arja Lingsar, Arja Kekinian, Arja Tak Jadi Mati — Catatan Diskusi Kawiya Bali di Pesta Kesenian Bali 2025

Arja Lingsar, Arja Kekinian, Arja Tak Jadi Mati -- Catatan Diskusi Kawiya Bali di Pesta Kesenian Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co