2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Kepangku Kapang” dan Kidung yang Menemukan Kita

Emi Suy by Emi Suy
June 26, 2025
in Ulas Musik
“Kepangku Kapang” dan Kidung yang Menemukan Kita

Sumber foto: IG Adif Marhaendra

ADA lagu-lagu yang tidak kita temukan. Lagu-lagu itu justru yang menemukan kita—datang diam-diam, memeluk tanpa suara, menggugah yang paling dalam. Lagu-lagu yang tak lahir untuk ditonton, hanya untuk didengarkan—pelan-pelan, dalam diam. Lagu-lagu yang bukan untuk diputar di pesta, konser, atau keramaian, melainkan untuk dibisikkan ke dalam dada yang menyimpan nama tanpa suara. Seperti tembang, ia bukan sekadar nyanyian, melainkan seruan jiwa yang tak sanggup berteriak.

Itulah yang kurasakan ketika tak sengaja menjumpai sebuah lagu Jawa di beranda media sosial—lirih, nyaris hanya bisikan, tapi mengguncang bagian terdalam dari batin. Lagu itu berjudul “Kepangku Kapang”. Sebuah pertanyaan sederhana namun penuh beban emosional: “Kapan aku bisa memelukmu?”

Aku tak tahu siapa penyanyinya, tak tahu artinya, bahkan tak tahu apakah lagunya baru atau lawas. Tapi tubuhku berhenti. Dadaku sesak. Mataku hangat. Ada bagian dari diriku yang disentuh sebelum sempat dijelaskan. Lagu ini hadir seperti doa yang datang ketika kita sudah terlalu lelah untuk memanjatkan. Ia tidak memaksa masuk, tapi mengisi ruang yang aku sendiri tak sadar sudah kosong begitu lama.

Seperti kebiasaanku jika menemukan sesuatu yang menyentuh, aku mulai mencari tahu. Mencatat liriknya. Menerjemahkannya. Menyelaminya. Dan semakin kuselami, semakin aku tahu: ini bukan lagu biasa. Ini adalah kidung—tembang dari dada yang tak kuat bicara, tapi masih ingin menyampaikan. Ia bukan sekadar rangkaian nada, tapi panggilan batin.

Kepangku Kapang: Tembang dari Rindu yang Mengandung Bawang

Dalam bahasa warganet, ada yang menyebut lagu ini “mengandung bawang.” Sebuah metafora jenaka untuk menjelaskan sesuatu yang membuat air mata menetes diam-diam. Tapi sesungguhnya, lagu ini tak sekadar membuat perih. Ia menyimpan luka dalam—dengan lembut dan hening.

Sumber foto: IG Adif Marhaendra

Liriknya seperti puisi. Tak hanya bermakna, tapi juga berjiwa. Suaranya seperti panggilan dari lorong kenangan—menggugah perasaan yang mungkin sudah lama kita pendam. Dan dalam nyanyian itulah kita bertemu dengan diri kita yang nyaris terlupa: diri yang masih bisa mencinta meski sudah lama sendiri.

Berikut adalah lirik asli dari lagu “Kepangku Kapang”, ciptaan Adif Marhaendra:

Lirik Lagu: Kepangku Kapang

sinten sinambat ing wewangi iki
amung siro yekti
esemmu kang manis madu
duh wong bagus

tresno lir tirto gumanti dahono
awit siro marang roso
endah rumembyak rekmamu
dadyo angenku saben dalu

wengi kadyo setro kagowo lungane baskoro
peteng tanpo condro, tanpo kartiko

lumayu ing awang-awang hanggayuh lintang
nyanding kekaronsih mung dadi lelamunan
liwat kidung iki mugo biso ngerteni
sakjeroning ati iki kangmas ngugemi janji

wengi kadyo setro kagowo lungane baskoro
peteng tanpo condro, tanpo kartiko

lumayu ing awang-awang hanggayuh lintang
nyanding kekaronsih mung dadi lelamunan
liwat kidung iki mugo biso ngerteni
sakjeroning ati sih kawuri ngugemi janji

nadyan datan handarbeni bakal tak rukti suci sejati
duh maruto kandakno saktemene aku isih tresno

lumayu ing awang-awang hanggayuh lintang
nyanding kekaronsih mung dadi lelamunan
liwat kidung iki mugo biso ngerteni
sakjeroning ati sih kawuri ngugemi janji

Yang membuatku terhenyak lebih dalam adalah kenyataan bahwa lagu ini bukan bagian dari naskah kuno, bukan tembang dari macapat atau suluk dari padepokan-padepokan tua. Lagu ini diciptakan oleh Adif Marhaendra, seorang seniman muda dari ruang digital. Ia tidak tampil sebagai dalang, sinden, atau guru budaya. Ia hadir lewat kanal YouTube dan media sosial, namun rasa dan suaranya menembus akar batin budaya Jawa.

Adif mengajarkan bahwa kidung tidak harus tua untuk dalam, tidak harus klasik untuk sakral. Lewat tembang ini, bahasa ibu tidak hanya hidup, tapi menyentuh kembali. Ia membuktikan bahwa budaya bukan sekadar yang diwarisi, tapi juga yang dihidupkan ulang—dengan cinta dan kepekaan.

Nguri-uri: Menjaga yang Tak Kasat Mata

Sebagai perempuan Jawa, mendengar lagu ini membangkitkan kenangan: ibu yang menyanyikan lir-ilir di dapur, bapak yang diam-diam mengusap mata mendengar mocopat dari radio tua. Lagu ini seperti jembatan kecil yang menuntunku pulang ke akar. Ke rumah bahasa. Ke rumah rasa.

Nguri-uri bukan cuma memamerkan kebaya atau wayang, tapi menjaga yang tak kasat mata: jiwa, rasa, dan kesetiaan batin. Dan lagu ini adalah penjaga itu—yang tak bersuara keras, tapi menggema pelan-pelan dalam dada.

Rasa yang Tidak Selesai Ditulis

Saya tidak percaya pada keindahan yang hanya berhenti di kata. Keindahan yang sejati adalah yang merambat hingga ke dada—yang tidak hanya dibaca, tapi dialami: dengan napas tertahan, dengan getar kecil yang datang diam-diam, atau dengan sejumput hening yang muncul setelahnya.

Menulis, bagi saya—seperti halnya mendengar lagu Kepangku Kapang—adalah bagian dari olah rasa dan olah pikir yang tidak terpisah. Bahasa bukan hanya alat tukar ide, melainkan alat mengolah luka. Dan dalam luka itu sering tersembunyi akar spiritualitas, akar kemanusiaan, dan akar budaya.

Saya tumbuh dalam keyakinan bahwa:

  • Yang terdalam sering kali tak bersuara.
  • Yang sederhana sering paling jujur.
  • Budaya bukan benda mati, tapi napas yang diwariskan.
  • Spiritualitas bukan harus agamis, tapi harus menggugah batin.

Menulis bagi saya bukan tentang menjadi bijak, melainkan tentang menjadi peka—peka terhadap kesunyian, terhadap yang tak terucap, terhadap apa yang tak sempat dikeluhkan. Dan dari situlah saya merangkai kata, seperti orang desa menanak nasi: pelan, penuh perhatian, dan dengan harap agar bisa mengenyangkan—walau hanya sedikit, walau hanya satu jiwa. [T]

Cengkareng, 26 Juni 2025

  • Untuk semua suara sunyi yang memilih bertahan lewat tembang.
  • Dan untuk para pencipta seperti Adif Marhaendra—yang tidak hanya menulis lagu, tapi menyalakan kembali nyawa budaya.
  • Semoga tulisan ini kelak mempertemukan aku dengan Anda.
Catatan Sekilas tentang Musik Klasik, Mereka yang Terbaik di Piano Klasik, serta Pentingnya Pendidikan Musik
Musik Klasik dan Sastra Semakin Mesra di Kompetisi Piano Nusantara Plus
Sukacinta Desember: Kasih Natal, Kasih Ibu, Kasih Musik & Puisi Melebihi Segala Bencana Alam dan Kemanusiaan
‘SINARENGAN’: Refleksi Rasa pada Sulaman Tembang
Nostalgia dan Modernitas “Kumpul Bocah”: Perjalanan Abadi dari Vina Panduwinata ke Maliq & D’Essentials
Tags: kidunglagu pop jawamusikmusik jawa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“PROGRAM BHUTA KALA” versus “PANUGRAHAN IDA BHATARA”

Next Post

Arja Lingsar, Arja Kekinian, Arja Tak Jadi Mati — Catatan Diskusi Kawiya Bali di Pesta Kesenian Bali 2025

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
0
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

Read moreDetails

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
0
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang...

Read moreDetails

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
0
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

Read moreDetails

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

by Wahyu Thoyyib Pambayun
May 25, 2026
0
Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT)...

Read moreDetails
Next Post
Arja Lingsar, Arja Kekinian, Arja Tak Jadi Mati — Catatan Diskusi Kawiya Bali di Pesta Kesenian Bali 2025

Arja Lingsar, Arja Kekinian, Arja Tak Jadi Mati -- Catatan Diskusi Kawiya Bali di Pesta Kesenian Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co