13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nostalgia dan Modernitas “Kumpul Bocah”: Perjalanan Abadi dari Vina Panduwinata ke Maliq & D’Essentials

Putu Gangga Pradipta by Putu Gangga Pradipta
April 16, 2025
in Ulas Musik
Nostalgia dan Modernitas “Kumpul Bocah”: Perjalanan Abadi dari Vina Panduwinata ke Maliq & D’Essentials

video musik Kumpul Bocah - MALIQ & D’Essential (dok: Youtube MALIQ & D’Essential

DI tengah derasnya arus inovasi musik dan transformasi industri hiburan digital, ada karya-karya klasik yang mampu menembus batas waktu. Salah satunya adalah lagu “Kumpul Bocah”. Dikenal luas karena kesan hangatnya, lagu ini awalnya dinyanyikan dengan penuh kehangatan oleh Vina Panduwinata di era 1980-an. Kini, dengan aransemen modern oleh Maliq & D’Essentials, “Kumpul Bocah” kembali mencuri perhatian, terutama setelah menjadi salah satu soundtrack andalan dalam film animasi Jumbo.

Asal-Usul dan Identitas “Kumpul Bocah”

Vina Panduwinata: Ikon Musik Legendaris

Lahir di tengah gejolak musik pop Indonesia, Vina Panduwinata telah lama dikenal sebagai sosok diva yang identik dengan karya-karya yang mengusung semangat positif. “Kumpul Bocah” merupakan salah satu lagu yang melekat di ingatan publik karena iramanya yang ceria dan lirik yang mengandung pesan tentang kebersamaan masa kecil. Di masa itu, lagu ini tidak hanya menjadi hiburan semata, tetapi juga sebuah simbol kenangan akan momen sederhana yang penuh dengan tawa, canda, dan persahabatan antar anak-anak.

Lagu ini disusun dengan sederhana namun memiliki daya tarik universal yang mampu menghubungkan berbagai lapisan masyarakat. Pesannya yang ringan namun mendalam menyampaikan nilai keakraban dan semangat gotong royong—nilai yang sangat dijunjung tinggi dalam budaya Indonesia. Pada masa kemunculannya, “Kumpul Bocah” merupakan representasi dari optimisme, di mana keceriaan masa kecil diangkat sebagai sumber kekuatan dan inspirasi hidup.

Transformasi dalam Era Digital

Memasuki era digital, industri musik Indonesia kian melejit dengan inovasi dan adaptasi terhadap tren global. Salah satu wujud pembaruan ini tampak ketika Maliq & D’Essentials memutuskan untuk mengaransemen ulang “Kumpul Bocah”. Di balik ide tersebut terkandung hasrat untuk tidak hanya melestarikan karya klasik, namun juga mengemasnya dalam format yang lebih relevan dengan selera pendengar modern.

Remake kali ini mempertahankan esensi lirik dan melodi aslinya, namun diberikan sentuhan aransemen kontemporer. Penggunaan instrumen modern seperti bass elektrik, gitar dengan efek ruang, dan sentuhan drum serta keyboard yang lebih kompleks berhasil memberikan warna baru. Inovasi inilah yang membuat lagu tampak segar dan tetap harmonis, sekaligus menjembatani jarak antara pendengar generasi lama dan muda.

Makna Lirik dan Pesan Moral dalam “Kumpul Bocah”

Simbolisme Kesederhanaan

Lirik “Kumpul Bocah” secara eksplisit menggambarkan situasi anak-anak yang berkumpul, bermain, dan merajut kenangan. Meskipun sederhana, susunan kata-katanya sarat dengan nilai moral. Lagu ini mengajak pendengarnya untuk kembali mengenang masa kecil—sebuah masa yang dipenuhi dengan keceriaan, keikhlasan, dan semangat kebersamaan. Dalam konteks sosial budaya Indonesia, pesan tersebut relevan sebagai representasi nilai gotong royong dan kehangatan hubungan antar sesama.

Dari sudut pandang estetika, bahasa yang digunakan dalam lagu ini mudah dicerna dan membuat pendengar merasa akrab. Masing-masing baitnya berhasil mengundang nostalgia sekaligus menyiratkan pesan bahwa kebahagiaan sebenarnya ada pada momen-momen sederhana. Hal ini menjadi relevan di tengah kehidupan modern yang kerap kali terlalu kompleks dan penuh tekanan.

Relevansi Nilai Kebersamaan

Nilai kebersamaan yang diusung “Kumpul Bocah” mengajarkan bahwa dalam setiap pertemuan atau kumpulan, terjalin suatu ikatan emosional yang tidak lekang oleh waktu. Dalam remake kali ini, nilai tersebut pun ditekankan kembali sehingga generasi muda sekalipun dapat merasakan kehangatan dan keaslian pesan tersebut.

Pesan kebersamaan yang kuat juga menunjukkan bagaimana musik dapat menjadi medium sosial untuk mengingatkan kembali identitas budaya dan kekuatan hubungan interpersonal. Dengan menggabungkan lirik yang sederhana namun penuh makna, lagu ini menegaskan bahwa semangat kolektif merupakan fondasi yang penting bagi perkembangan karakter dan identitas bangsa.

Aransemen Musik: Dari Era Klasik ke Modernitas Eksperimental

Versi Asli yang Menggugah

Pada versi aslinya, “Kumpul Bocah” mengusung aransemen musik khas tahun 1980-an. Karakteristik musik tersebut adalah penggunaan instrumen elektronik yang sederhana namun efektif dalam menciptakan suasana hangat dan mengundang nostalgia. Vina Panduwinata dengan vokalnya yang khas turut menyuntikkan emosi dalam setiap lirik, sehingga lagu ini berhasil membawa pendengarnya ke dalam dunia kenangan masa kecil yang penuh warna.

Sentuhan Modern Maliq & D’Essentials

Maliq & D’Essentials, band yang dikenal dengan inovasi serta kualitas musikalitasnya, memberikan revitalisasi pada “Kumpul Bocah” melalui aransemen ulang yang modern. Mereka tidak sekadar mengadopsi teknologi produksi terkini, melainkan juga berhasil mengintegrasikan elemen-elemen musik jazz, soul, dan funk ke dalam komposisi.

Hasilnya, lagu yang awalnya identik dengan kesederhanaan kini tampil dengan kekayaan tekstur musikal yang lebih mendalam. Teknik mixing dan mastering yang modern memungkinkan setiap lapisan instrumen terdengar dengan jelas, memberikan pengalaman mendengarkan yang lebih immersive. Inovasi ini tidak hanya membuat lagu terasa segar, tetapi juga membawa “Kumpul Bocah” ke ranah musik kontemporer—sebuah bukti bahwa karya klasik dapat terus beradaptasi di tengah dinamika zaman.

Sinergi Musik dan Film: “Kumpul Bocah” dalam Film Jumbo

Kekuatan Narasi Visual dan Audio

Film Jumbo, sebuah karya animasi yang mengusung kisah petualangan dan pertumbuhan, memilih “Kumpul Bocah” sebagai salah satu soundtrack utamanya. Pemilihan ini bukan tanpa alasan; lagu tersebut memiliki kemampuan untuk menyampaikan emosi yang mendalam, menghubungkan narasi visual dengan kenangan emosional penonton.

Dalam beberapa adegan penting, irama dan lirik lagu ini digunakan untuk memperkuat pesan tentang keberanian, persahabatan, dan keajaiban masa kecil. Sinergi antara musik dan visual berhasil menciptakan atmosfer yang resonan, memungkinkan penonton untuk tidak hanya menikmati cerita secara visual, tetapi juga merasakan kehangatan emosi yang terpancar melalui alunan lagu.

Dampak di Era Digital dan Media Sosial

Penggunaan “Kumpul Bocah” sebagai OST dalam film Jumbo memicu lonjakan popularitas di media sosial. Berbagai platform digital seperti YouTube, Instagram, dan Twitter ramai dipenuhi oleh reaksi positif, di mana netizen berbagi kenangan masa kecil mereka melalui postingan yang mengaitkan lagu tersebut dengan pengalaman pribadi.

Kampanye digital yang melibatkan teaser, behind the scenes pembuatan lagu, dan kolaborasi dengan influencer turut mendongkrak antusiasme, sehingga remake ini tidak hanya sukses secara musikal, tetapi juga menjadi fenomena budaya yang menghubungkan berbagai generasi.

Implikasi Sosial dan Ekonomi dari Remake Lagu “Kumpul Bocah”

Penguatan Warisan Budaya

Keberhasilan remake “Kumpul Bocah” adalah bukti bahwa warisan budaya musik Indonesia dapat terus hidup meskipun zaman telah berubah. Pembaruan ini mengajarkan bahwa karya seni yang memiliki nilai intrinsik akan selalu memiliki tempat di hati masyarakat. Dengan membumikan kembali lagu klasik ke dalam format modern, generasi muda pun dapat belajar dan mengapresiasi sejarah musikal bangsa.

Potensi Ekonomi dalam Industri Musik dan Film

Remake lagu ini juga membuka peluang ekonomi yang signifikan. Keterlibatan lagu dalam film Jumbo menciptakan sinergi antara industri musik dan perfilman, yang saling menguntungkan dalam segi branding, pemasaran, dan distribusi. Dalam era digital, sukses sebuah lagu sering kali diukur melalui penayangan online, streaming, dan interaksi di media sosial.

Keberhasilan “Kumpul Bocah” membuktikan bahwa proyek-proyek kolaboratif yang menggabungkan elemen tradisional dengan inovasi modern tidak hanya memiliki nilai sentimental, tetapi juga dapat menciptakan pendapatan ekonomi yang substansial. Hal ini sekaligus menjadi inspirasi bagi musisi dan pembuat film untuk lebih kreatif dalam menciptakan karya yang relevan dan bernilai tinggi.

Refleksi dan Harapan Ke Depan

Merajut Masa Lalu dan Masa Depan

Transformasi “Kumpul Bocah” dari versi Vina Panduwinata ke versi Maliq & D’Essentials adalah contoh nyata bahwa musik tak lekang oleh waktu. Hal ini mengajarkan kita untuk selalu membuka diri terhadap inovasi, tanpa harus melupakan akar budaya yang telah membentuk identitas bangsa.

Karya semacam ini diharapkan dapat terus menginspirasi seniman muda dan membuka jalan bagi lebih banyak kolaborasi kreatif antara generasi. Di masa depan, keberhasilan remix seperti ini dapat menjadi pionir dalam memperkenalkan kembali lagu-lagu klasik kepada khalayak global, sekaligus memperkaya perbendaharaan musik Indonesia.

Mendorong Sinergi Lintas Generasi

Lebih dari sekadar pembaruan musik, fenomena “Kumpul Bocah” juga menggarisbawahi pentingnya sinergi lintas generasi. Di satu sisi, nostalgia masa lalu tetap hidup melalui karya-karya yang pernah menghangatkan hari kita. Di sisi lain, inovasi modern membawa warna baru yang relevan dengan dinamika kehidupan saat ini. Dengan demikian, lagu ini tak hanya menjadi jembatan emosional antar generasi, tetapi juga sebagai inspirasi untuk terus berkreasi tanpa batas.

“Kumpul Bocah” bukan sekadar lagu yang dinyanyikan ulang—ia adalah perjalanan emosional yang mengajak pendengar untuk kembali mengenang momen-momen penuh kehangatan masa kecil. Dari penampilan ikonik Vina Panduwinata yang menyematkan keakraban dalam setiap bait, hingga penafsiran modern oleh Maliq & D’Essentials yang menghadirkan suara baru, lagu ini telah menorehkan sejarah di kancah musik Indonesia.

Dengan ditemukannya kembali melalui film Jumbo, lagu ini semakin mengukuhkan posisinya sebagai simbol keabadian seni, yang mampu menyatukan nilai-nilai tradisional dan inovasi modern. Keberhasilan kolaborasi lintas disiplin ini tidak hanya berdampak pada ranah musik dan film, tetapi juga menggambarkan bagaimana warisan budaya dapat terus berevolusi, beradaptasi, dan menginspirasi.

Harapannya, transformasi “Kumpul Bocah” menjadi cermin bagi industri kreatif Indonesia untuk terus mengeksplorasi potensi diri. Lewat sinergi antara musik, film, dan teknologi digital, karya-karya klasik dapat kembali bersinar, memikat hati penikmat seni di seluruh generasi, dan menambah kekayaan budaya bangsa. [T]

Penulis: Putu Gangga Pradipta
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Dari Puisi ke Melodi: Jejak Puitis Chairil Anwar dalam Musik Banda Neira
Tulus dan Pesona Lirik Puitis: Menelusuri Jiwa Remaja dalam “Tujuh Belas”
Pembacaan Heuristik dan Hermeneutik Lagu “Guru Oemar Bakrie” Karya Iwan Fals
Tags: musik pop indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Memuja Tuhan dan Logika Untung dan Rugi

Next Post

Sang Suci Pulang ke Brahma: Mengiringi Pelebon Ida Sinuhun Pande Taman Bali

Putu Gangga Pradipta

Putu Gangga Pradipta

Lahir di Surabaya, kini sedang menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Singaraja.

Related Posts

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
0
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

Read moreDetails

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
0
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang...

Read moreDetails

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
0
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

Read moreDetails

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

by Wahyu Thoyyib Pambayun
May 25, 2026
0
Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT)...

Read moreDetails

Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

by Ahmad Sihabudin
May 22, 2026
0
Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

LAGU “The Park” dari album Salisbury karya Uriah Heep sering dipahami sebagai balada progresif yang kontemplatif dan melankolis. Dengan vokal...

Read moreDetails

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
0
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

Read moreDetails

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
0
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

Read moreDetails
Next Post
Sang Suci Pulang ke Brahma: Mengiringi Pelebon Ida Sinuhun Pande Taman Bali

Sang Suci Pulang ke Brahma: Mengiringi Pelebon Ida Sinuhun Pande Taman Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co