23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nostalgia dan Modernitas “Kumpul Bocah”: Perjalanan Abadi dari Vina Panduwinata ke Maliq & D’Essentials

Putu Gangga Pradipta by Putu Gangga Pradipta
April 16, 2025
in Ulas Musik
Nostalgia dan Modernitas “Kumpul Bocah”: Perjalanan Abadi dari Vina Panduwinata ke Maliq & D’Essentials

video musik Kumpul Bocah - MALIQ & D’Essential (dok: Youtube MALIQ & D’Essential

DI tengah derasnya arus inovasi musik dan transformasi industri hiburan digital, ada karya-karya klasik yang mampu menembus batas waktu. Salah satunya adalah lagu “Kumpul Bocah”. Dikenal luas karena kesan hangatnya, lagu ini awalnya dinyanyikan dengan penuh kehangatan oleh Vina Panduwinata di era 1980-an. Kini, dengan aransemen modern oleh Maliq & D’Essentials, “Kumpul Bocah” kembali mencuri perhatian, terutama setelah menjadi salah satu soundtrack andalan dalam film animasi Jumbo.

Asal-Usul dan Identitas “Kumpul Bocah”

Vina Panduwinata: Ikon Musik Legendaris

Lahir di tengah gejolak musik pop Indonesia, Vina Panduwinata telah lama dikenal sebagai sosok diva yang identik dengan karya-karya yang mengusung semangat positif. “Kumpul Bocah” merupakan salah satu lagu yang melekat di ingatan publik karena iramanya yang ceria dan lirik yang mengandung pesan tentang kebersamaan masa kecil. Di masa itu, lagu ini tidak hanya menjadi hiburan semata, tetapi juga sebuah simbol kenangan akan momen sederhana yang penuh dengan tawa, canda, dan persahabatan antar anak-anak.

Lagu ini disusun dengan sederhana namun memiliki daya tarik universal yang mampu menghubungkan berbagai lapisan masyarakat. Pesannya yang ringan namun mendalam menyampaikan nilai keakraban dan semangat gotong royong—nilai yang sangat dijunjung tinggi dalam budaya Indonesia. Pada masa kemunculannya, “Kumpul Bocah” merupakan representasi dari optimisme, di mana keceriaan masa kecil diangkat sebagai sumber kekuatan dan inspirasi hidup.

Transformasi dalam Era Digital

Memasuki era digital, industri musik Indonesia kian melejit dengan inovasi dan adaptasi terhadap tren global. Salah satu wujud pembaruan ini tampak ketika Maliq & D’Essentials memutuskan untuk mengaransemen ulang “Kumpul Bocah”. Di balik ide tersebut terkandung hasrat untuk tidak hanya melestarikan karya klasik, namun juga mengemasnya dalam format yang lebih relevan dengan selera pendengar modern.

Remake kali ini mempertahankan esensi lirik dan melodi aslinya, namun diberikan sentuhan aransemen kontemporer. Penggunaan instrumen modern seperti bass elektrik, gitar dengan efek ruang, dan sentuhan drum serta keyboard yang lebih kompleks berhasil memberikan warna baru. Inovasi inilah yang membuat lagu tampak segar dan tetap harmonis, sekaligus menjembatani jarak antara pendengar generasi lama dan muda.

Makna Lirik dan Pesan Moral dalam “Kumpul Bocah”

Simbolisme Kesederhanaan

Lirik “Kumpul Bocah” secara eksplisit menggambarkan situasi anak-anak yang berkumpul, bermain, dan merajut kenangan. Meskipun sederhana, susunan kata-katanya sarat dengan nilai moral. Lagu ini mengajak pendengarnya untuk kembali mengenang masa kecil—sebuah masa yang dipenuhi dengan keceriaan, keikhlasan, dan semangat kebersamaan. Dalam konteks sosial budaya Indonesia, pesan tersebut relevan sebagai representasi nilai gotong royong dan kehangatan hubungan antar sesama.

Dari sudut pandang estetika, bahasa yang digunakan dalam lagu ini mudah dicerna dan membuat pendengar merasa akrab. Masing-masing baitnya berhasil mengundang nostalgia sekaligus menyiratkan pesan bahwa kebahagiaan sebenarnya ada pada momen-momen sederhana. Hal ini menjadi relevan di tengah kehidupan modern yang kerap kali terlalu kompleks dan penuh tekanan.

Relevansi Nilai Kebersamaan

Nilai kebersamaan yang diusung “Kumpul Bocah” mengajarkan bahwa dalam setiap pertemuan atau kumpulan, terjalin suatu ikatan emosional yang tidak lekang oleh waktu. Dalam remake kali ini, nilai tersebut pun ditekankan kembali sehingga generasi muda sekalipun dapat merasakan kehangatan dan keaslian pesan tersebut.

Pesan kebersamaan yang kuat juga menunjukkan bagaimana musik dapat menjadi medium sosial untuk mengingatkan kembali identitas budaya dan kekuatan hubungan interpersonal. Dengan menggabungkan lirik yang sederhana namun penuh makna, lagu ini menegaskan bahwa semangat kolektif merupakan fondasi yang penting bagi perkembangan karakter dan identitas bangsa.

Aransemen Musik: Dari Era Klasik ke Modernitas Eksperimental

Versi Asli yang Menggugah

Pada versi aslinya, “Kumpul Bocah” mengusung aransemen musik khas tahun 1980-an. Karakteristik musik tersebut adalah penggunaan instrumen elektronik yang sederhana namun efektif dalam menciptakan suasana hangat dan mengundang nostalgia. Vina Panduwinata dengan vokalnya yang khas turut menyuntikkan emosi dalam setiap lirik, sehingga lagu ini berhasil membawa pendengarnya ke dalam dunia kenangan masa kecil yang penuh warna.

Sentuhan Modern Maliq & D’Essentials

Maliq & D’Essentials, band yang dikenal dengan inovasi serta kualitas musikalitasnya, memberikan revitalisasi pada “Kumpul Bocah” melalui aransemen ulang yang modern. Mereka tidak sekadar mengadopsi teknologi produksi terkini, melainkan juga berhasil mengintegrasikan elemen-elemen musik jazz, soul, dan funk ke dalam komposisi.

Hasilnya, lagu yang awalnya identik dengan kesederhanaan kini tampil dengan kekayaan tekstur musikal yang lebih mendalam. Teknik mixing dan mastering yang modern memungkinkan setiap lapisan instrumen terdengar dengan jelas, memberikan pengalaman mendengarkan yang lebih immersive. Inovasi ini tidak hanya membuat lagu terasa segar, tetapi juga membawa “Kumpul Bocah” ke ranah musik kontemporer—sebuah bukti bahwa karya klasik dapat terus beradaptasi di tengah dinamika zaman.

Sinergi Musik dan Film: “Kumpul Bocah” dalam Film Jumbo

Kekuatan Narasi Visual dan Audio

Film Jumbo, sebuah karya animasi yang mengusung kisah petualangan dan pertumbuhan, memilih “Kumpul Bocah” sebagai salah satu soundtrack utamanya. Pemilihan ini bukan tanpa alasan; lagu tersebut memiliki kemampuan untuk menyampaikan emosi yang mendalam, menghubungkan narasi visual dengan kenangan emosional penonton.

Dalam beberapa adegan penting, irama dan lirik lagu ini digunakan untuk memperkuat pesan tentang keberanian, persahabatan, dan keajaiban masa kecil. Sinergi antara musik dan visual berhasil menciptakan atmosfer yang resonan, memungkinkan penonton untuk tidak hanya menikmati cerita secara visual, tetapi juga merasakan kehangatan emosi yang terpancar melalui alunan lagu.

Dampak di Era Digital dan Media Sosial

Penggunaan “Kumpul Bocah” sebagai OST dalam film Jumbo memicu lonjakan popularitas di media sosial. Berbagai platform digital seperti YouTube, Instagram, dan Twitter ramai dipenuhi oleh reaksi positif, di mana netizen berbagi kenangan masa kecil mereka melalui postingan yang mengaitkan lagu tersebut dengan pengalaman pribadi.

Kampanye digital yang melibatkan teaser, behind the scenes pembuatan lagu, dan kolaborasi dengan influencer turut mendongkrak antusiasme, sehingga remake ini tidak hanya sukses secara musikal, tetapi juga menjadi fenomena budaya yang menghubungkan berbagai generasi.

Implikasi Sosial dan Ekonomi dari Remake Lagu “Kumpul Bocah”

Penguatan Warisan Budaya

Keberhasilan remake “Kumpul Bocah” adalah bukti bahwa warisan budaya musik Indonesia dapat terus hidup meskipun zaman telah berubah. Pembaruan ini mengajarkan bahwa karya seni yang memiliki nilai intrinsik akan selalu memiliki tempat di hati masyarakat. Dengan membumikan kembali lagu klasik ke dalam format modern, generasi muda pun dapat belajar dan mengapresiasi sejarah musikal bangsa.

Potensi Ekonomi dalam Industri Musik dan Film

Remake lagu ini juga membuka peluang ekonomi yang signifikan. Keterlibatan lagu dalam film Jumbo menciptakan sinergi antara industri musik dan perfilman, yang saling menguntungkan dalam segi branding, pemasaran, dan distribusi. Dalam era digital, sukses sebuah lagu sering kali diukur melalui penayangan online, streaming, dan interaksi di media sosial.

Keberhasilan “Kumpul Bocah” membuktikan bahwa proyek-proyek kolaboratif yang menggabungkan elemen tradisional dengan inovasi modern tidak hanya memiliki nilai sentimental, tetapi juga dapat menciptakan pendapatan ekonomi yang substansial. Hal ini sekaligus menjadi inspirasi bagi musisi dan pembuat film untuk lebih kreatif dalam menciptakan karya yang relevan dan bernilai tinggi.

Refleksi dan Harapan Ke Depan

Merajut Masa Lalu dan Masa Depan

Transformasi “Kumpul Bocah” dari versi Vina Panduwinata ke versi Maliq & D’Essentials adalah contoh nyata bahwa musik tak lekang oleh waktu. Hal ini mengajarkan kita untuk selalu membuka diri terhadap inovasi, tanpa harus melupakan akar budaya yang telah membentuk identitas bangsa.

Karya semacam ini diharapkan dapat terus menginspirasi seniman muda dan membuka jalan bagi lebih banyak kolaborasi kreatif antara generasi. Di masa depan, keberhasilan remix seperti ini dapat menjadi pionir dalam memperkenalkan kembali lagu-lagu klasik kepada khalayak global, sekaligus memperkaya perbendaharaan musik Indonesia.

Mendorong Sinergi Lintas Generasi

Lebih dari sekadar pembaruan musik, fenomena “Kumpul Bocah” juga menggarisbawahi pentingnya sinergi lintas generasi. Di satu sisi, nostalgia masa lalu tetap hidup melalui karya-karya yang pernah menghangatkan hari kita. Di sisi lain, inovasi modern membawa warna baru yang relevan dengan dinamika kehidupan saat ini. Dengan demikian, lagu ini tak hanya menjadi jembatan emosional antar generasi, tetapi juga sebagai inspirasi untuk terus berkreasi tanpa batas.

“Kumpul Bocah” bukan sekadar lagu yang dinyanyikan ulang—ia adalah perjalanan emosional yang mengajak pendengar untuk kembali mengenang momen-momen penuh kehangatan masa kecil. Dari penampilan ikonik Vina Panduwinata yang menyematkan keakraban dalam setiap bait, hingga penafsiran modern oleh Maliq & D’Essentials yang menghadirkan suara baru, lagu ini telah menorehkan sejarah di kancah musik Indonesia.

Dengan ditemukannya kembali melalui film Jumbo, lagu ini semakin mengukuhkan posisinya sebagai simbol keabadian seni, yang mampu menyatukan nilai-nilai tradisional dan inovasi modern. Keberhasilan kolaborasi lintas disiplin ini tidak hanya berdampak pada ranah musik dan film, tetapi juga menggambarkan bagaimana warisan budaya dapat terus berevolusi, beradaptasi, dan menginspirasi.

Harapannya, transformasi “Kumpul Bocah” menjadi cermin bagi industri kreatif Indonesia untuk terus mengeksplorasi potensi diri. Lewat sinergi antara musik, film, dan teknologi digital, karya-karya klasik dapat kembali bersinar, memikat hati penikmat seni di seluruh generasi, dan menambah kekayaan budaya bangsa. [T]

Penulis: Putu Gangga Pradipta
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Dari Puisi ke Melodi: Jejak Puitis Chairil Anwar dalam Musik Banda Neira
Tulus dan Pesona Lirik Puitis: Menelusuri Jiwa Remaja dalam “Tujuh Belas”
Pembacaan Heuristik dan Hermeneutik Lagu “Guru Oemar Bakrie” Karya Iwan Fals
Tags: musik pop indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Memuja Tuhan dan Logika Untung dan Rugi

Next Post

Sang Suci Pulang ke Brahma: Mengiringi Pelebon Ida Sinuhun Pande Taman Bali

Putu Gangga Pradipta

Putu Gangga Pradipta

Lahir di Surabaya, kini sedang menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Singaraja.

Related Posts

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
0
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

Read moreDetails

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
0
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang...

Read moreDetails

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
0
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

Read moreDetails

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

by Wahyu Thoyyib Pambayun
May 25, 2026
0
Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT)...

Read moreDetails

Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

by Ahmad Sihabudin
May 22, 2026
0
Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

LAGU “The Park” dari album Salisbury karya Uriah Heep sering dipahami sebagai balada progresif yang kontemplatif dan melankolis. Dengan vokal...

Read moreDetails

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
0
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

Read moreDetails

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
0
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

Read moreDetails

’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

by Ahmad Sihabudin
May 1, 2026
0
’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

FENOMENA viralnya lagu “Siti Mawarni Ya Incek” tidak bisa dibaca sekadar lagu hiburan digital yang lewat begitu saja. Ia adalah...

Read moreDetails

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
0
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

Read moreDetails

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
0
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Sang Suci Pulang ke Brahma: Mengiringi Pelebon Ida Sinuhun Pande Taman Bali

Sang Suci Pulang ke Brahma: Mengiringi Pelebon Ida Sinuhun Pande Taman Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

by Dewa Rhadea
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co