30 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nostalgia dan Modernitas “Kumpul Bocah”: Perjalanan Abadi dari Vina Panduwinata ke Maliq & D’Essentials

Putu Gangga Pradipta by Putu Gangga Pradipta
April 16, 2025
in Ulas Musik
Nostalgia dan Modernitas “Kumpul Bocah”: Perjalanan Abadi dari Vina Panduwinata ke Maliq & D’Essentials

video musik Kumpul Bocah - MALIQ & D’Essential (dok: Youtube MALIQ & D’Essential

DI tengah derasnya arus inovasi musik dan transformasi industri hiburan digital, ada karya-karya klasik yang mampu menembus batas waktu. Salah satunya adalah lagu “Kumpul Bocah”. Dikenal luas karena kesan hangatnya, lagu ini awalnya dinyanyikan dengan penuh kehangatan oleh Vina Panduwinata di era 1980-an. Kini, dengan aransemen modern oleh Maliq & D’Essentials, “Kumpul Bocah” kembali mencuri perhatian, terutama setelah menjadi salah satu soundtrack andalan dalam film animasi Jumbo.

Asal-Usul dan Identitas “Kumpul Bocah”

Vina Panduwinata: Ikon Musik Legendaris

Lahir di tengah gejolak musik pop Indonesia, Vina Panduwinata telah lama dikenal sebagai sosok diva yang identik dengan karya-karya yang mengusung semangat positif. “Kumpul Bocah” merupakan salah satu lagu yang melekat di ingatan publik karena iramanya yang ceria dan lirik yang mengandung pesan tentang kebersamaan masa kecil. Di masa itu, lagu ini tidak hanya menjadi hiburan semata, tetapi juga sebuah simbol kenangan akan momen sederhana yang penuh dengan tawa, canda, dan persahabatan antar anak-anak.

Lagu ini disusun dengan sederhana namun memiliki daya tarik universal yang mampu menghubungkan berbagai lapisan masyarakat. Pesannya yang ringan namun mendalam menyampaikan nilai keakraban dan semangat gotong royong—nilai yang sangat dijunjung tinggi dalam budaya Indonesia. Pada masa kemunculannya, “Kumpul Bocah” merupakan representasi dari optimisme, di mana keceriaan masa kecil diangkat sebagai sumber kekuatan dan inspirasi hidup.

Transformasi dalam Era Digital

Memasuki era digital, industri musik Indonesia kian melejit dengan inovasi dan adaptasi terhadap tren global. Salah satu wujud pembaruan ini tampak ketika Maliq & D’Essentials memutuskan untuk mengaransemen ulang “Kumpul Bocah”. Di balik ide tersebut terkandung hasrat untuk tidak hanya melestarikan karya klasik, namun juga mengemasnya dalam format yang lebih relevan dengan selera pendengar modern.

Remake kali ini mempertahankan esensi lirik dan melodi aslinya, namun diberikan sentuhan aransemen kontemporer. Penggunaan instrumen modern seperti bass elektrik, gitar dengan efek ruang, dan sentuhan drum serta keyboard yang lebih kompleks berhasil memberikan warna baru. Inovasi inilah yang membuat lagu tampak segar dan tetap harmonis, sekaligus menjembatani jarak antara pendengar generasi lama dan muda.

Makna Lirik dan Pesan Moral dalam “Kumpul Bocah”

Simbolisme Kesederhanaan

Lirik “Kumpul Bocah” secara eksplisit menggambarkan situasi anak-anak yang berkumpul, bermain, dan merajut kenangan. Meskipun sederhana, susunan kata-katanya sarat dengan nilai moral. Lagu ini mengajak pendengarnya untuk kembali mengenang masa kecil—sebuah masa yang dipenuhi dengan keceriaan, keikhlasan, dan semangat kebersamaan. Dalam konteks sosial budaya Indonesia, pesan tersebut relevan sebagai representasi nilai gotong royong dan kehangatan hubungan antar sesama.

Dari sudut pandang estetika, bahasa yang digunakan dalam lagu ini mudah dicerna dan membuat pendengar merasa akrab. Masing-masing baitnya berhasil mengundang nostalgia sekaligus menyiratkan pesan bahwa kebahagiaan sebenarnya ada pada momen-momen sederhana. Hal ini menjadi relevan di tengah kehidupan modern yang kerap kali terlalu kompleks dan penuh tekanan.

Relevansi Nilai Kebersamaan

Nilai kebersamaan yang diusung “Kumpul Bocah” mengajarkan bahwa dalam setiap pertemuan atau kumpulan, terjalin suatu ikatan emosional yang tidak lekang oleh waktu. Dalam remake kali ini, nilai tersebut pun ditekankan kembali sehingga generasi muda sekalipun dapat merasakan kehangatan dan keaslian pesan tersebut.

Pesan kebersamaan yang kuat juga menunjukkan bagaimana musik dapat menjadi medium sosial untuk mengingatkan kembali identitas budaya dan kekuatan hubungan interpersonal. Dengan menggabungkan lirik yang sederhana namun penuh makna, lagu ini menegaskan bahwa semangat kolektif merupakan fondasi yang penting bagi perkembangan karakter dan identitas bangsa.

Aransemen Musik: Dari Era Klasik ke Modernitas Eksperimental

Versi Asli yang Menggugah

Pada versi aslinya, “Kumpul Bocah” mengusung aransemen musik khas tahun 1980-an. Karakteristik musik tersebut adalah penggunaan instrumen elektronik yang sederhana namun efektif dalam menciptakan suasana hangat dan mengundang nostalgia. Vina Panduwinata dengan vokalnya yang khas turut menyuntikkan emosi dalam setiap lirik, sehingga lagu ini berhasil membawa pendengarnya ke dalam dunia kenangan masa kecil yang penuh warna.

Sentuhan Modern Maliq & D’Essentials

Maliq & D’Essentials, band yang dikenal dengan inovasi serta kualitas musikalitasnya, memberikan revitalisasi pada “Kumpul Bocah” melalui aransemen ulang yang modern. Mereka tidak sekadar mengadopsi teknologi produksi terkini, melainkan juga berhasil mengintegrasikan elemen-elemen musik jazz, soul, dan funk ke dalam komposisi.

Hasilnya, lagu yang awalnya identik dengan kesederhanaan kini tampil dengan kekayaan tekstur musikal yang lebih mendalam. Teknik mixing dan mastering yang modern memungkinkan setiap lapisan instrumen terdengar dengan jelas, memberikan pengalaman mendengarkan yang lebih immersive. Inovasi ini tidak hanya membuat lagu terasa segar, tetapi juga membawa “Kumpul Bocah” ke ranah musik kontemporer—sebuah bukti bahwa karya klasik dapat terus beradaptasi di tengah dinamika zaman.

Sinergi Musik dan Film: “Kumpul Bocah” dalam Film Jumbo

Kekuatan Narasi Visual dan Audio

Film Jumbo, sebuah karya animasi yang mengusung kisah petualangan dan pertumbuhan, memilih “Kumpul Bocah” sebagai salah satu soundtrack utamanya. Pemilihan ini bukan tanpa alasan; lagu tersebut memiliki kemampuan untuk menyampaikan emosi yang mendalam, menghubungkan narasi visual dengan kenangan emosional penonton.

Dalam beberapa adegan penting, irama dan lirik lagu ini digunakan untuk memperkuat pesan tentang keberanian, persahabatan, dan keajaiban masa kecil. Sinergi antara musik dan visual berhasil menciptakan atmosfer yang resonan, memungkinkan penonton untuk tidak hanya menikmati cerita secara visual, tetapi juga merasakan kehangatan emosi yang terpancar melalui alunan lagu.

Dampak di Era Digital dan Media Sosial

Penggunaan “Kumpul Bocah” sebagai OST dalam film Jumbo memicu lonjakan popularitas di media sosial. Berbagai platform digital seperti YouTube, Instagram, dan Twitter ramai dipenuhi oleh reaksi positif, di mana netizen berbagi kenangan masa kecil mereka melalui postingan yang mengaitkan lagu tersebut dengan pengalaman pribadi.

Kampanye digital yang melibatkan teaser, behind the scenes pembuatan lagu, dan kolaborasi dengan influencer turut mendongkrak antusiasme, sehingga remake ini tidak hanya sukses secara musikal, tetapi juga menjadi fenomena budaya yang menghubungkan berbagai generasi.

Implikasi Sosial dan Ekonomi dari Remake Lagu “Kumpul Bocah”

Penguatan Warisan Budaya

Keberhasilan remake “Kumpul Bocah” adalah bukti bahwa warisan budaya musik Indonesia dapat terus hidup meskipun zaman telah berubah. Pembaruan ini mengajarkan bahwa karya seni yang memiliki nilai intrinsik akan selalu memiliki tempat di hati masyarakat. Dengan membumikan kembali lagu klasik ke dalam format modern, generasi muda pun dapat belajar dan mengapresiasi sejarah musikal bangsa.

Potensi Ekonomi dalam Industri Musik dan Film

Remake lagu ini juga membuka peluang ekonomi yang signifikan. Keterlibatan lagu dalam film Jumbo menciptakan sinergi antara industri musik dan perfilman, yang saling menguntungkan dalam segi branding, pemasaran, dan distribusi. Dalam era digital, sukses sebuah lagu sering kali diukur melalui penayangan online, streaming, dan interaksi di media sosial.

Keberhasilan “Kumpul Bocah” membuktikan bahwa proyek-proyek kolaboratif yang menggabungkan elemen tradisional dengan inovasi modern tidak hanya memiliki nilai sentimental, tetapi juga dapat menciptakan pendapatan ekonomi yang substansial. Hal ini sekaligus menjadi inspirasi bagi musisi dan pembuat film untuk lebih kreatif dalam menciptakan karya yang relevan dan bernilai tinggi.

Refleksi dan Harapan Ke Depan

Merajut Masa Lalu dan Masa Depan

Transformasi “Kumpul Bocah” dari versi Vina Panduwinata ke versi Maliq & D’Essentials adalah contoh nyata bahwa musik tak lekang oleh waktu. Hal ini mengajarkan kita untuk selalu membuka diri terhadap inovasi, tanpa harus melupakan akar budaya yang telah membentuk identitas bangsa.

Karya semacam ini diharapkan dapat terus menginspirasi seniman muda dan membuka jalan bagi lebih banyak kolaborasi kreatif antara generasi. Di masa depan, keberhasilan remix seperti ini dapat menjadi pionir dalam memperkenalkan kembali lagu-lagu klasik kepada khalayak global, sekaligus memperkaya perbendaharaan musik Indonesia.

Mendorong Sinergi Lintas Generasi

Lebih dari sekadar pembaruan musik, fenomena “Kumpul Bocah” juga menggarisbawahi pentingnya sinergi lintas generasi. Di satu sisi, nostalgia masa lalu tetap hidup melalui karya-karya yang pernah menghangatkan hari kita. Di sisi lain, inovasi modern membawa warna baru yang relevan dengan dinamika kehidupan saat ini. Dengan demikian, lagu ini tak hanya menjadi jembatan emosional antar generasi, tetapi juga sebagai inspirasi untuk terus berkreasi tanpa batas.

“Kumpul Bocah” bukan sekadar lagu yang dinyanyikan ulang—ia adalah perjalanan emosional yang mengajak pendengar untuk kembali mengenang momen-momen penuh kehangatan masa kecil. Dari penampilan ikonik Vina Panduwinata yang menyematkan keakraban dalam setiap bait, hingga penafsiran modern oleh Maliq & D’Essentials yang menghadirkan suara baru, lagu ini telah menorehkan sejarah di kancah musik Indonesia.

Dengan ditemukannya kembali melalui film Jumbo, lagu ini semakin mengukuhkan posisinya sebagai simbol keabadian seni, yang mampu menyatukan nilai-nilai tradisional dan inovasi modern. Keberhasilan kolaborasi lintas disiplin ini tidak hanya berdampak pada ranah musik dan film, tetapi juga menggambarkan bagaimana warisan budaya dapat terus berevolusi, beradaptasi, dan menginspirasi.

Harapannya, transformasi “Kumpul Bocah” menjadi cermin bagi industri kreatif Indonesia untuk terus mengeksplorasi potensi diri. Lewat sinergi antara musik, film, dan teknologi digital, karya-karya klasik dapat kembali bersinar, memikat hati penikmat seni di seluruh generasi, dan menambah kekayaan budaya bangsa. [T]

Penulis: Putu Gangga Pradipta
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Dari Puisi ke Melodi: Jejak Puitis Chairil Anwar dalam Musik Banda Neira
Tulus dan Pesona Lirik Puitis: Menelusuri Jiwa Remaja dalam “Tujuh Belas”
Pembacaan Heuristik dan Hermeneutik Lagu “Guru Oemar Bakrie” Karya Iwan Fals
Tags: musik pop indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Memuja Tuhan dan Logika Untung dan Rugi

Next Post

Sang Suci Pulang ke Brahma: Mengiringi Pelebon Ida Sinuhun Pande Taman Bali

Putu Gangga Pradipta

Putu Gangga Pradipta

Lahir di Surabaya, kini sedang menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Singaraja.

Related Posts

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

by Wahyu Thoyyib Pambayun
May 25, 2026
0
Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT)...

Read moreDetails

Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

by Ahmad Sihabudin
May 22, 2026
0
Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

LAGU “The Park” dari album Salisbury karya Uriah Heep sering dipahami sebagai balada progresif yang kontemplatif dan melankolis. Dengan vokal...

Read moreDetails

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
0
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

Read moreDetails

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
0
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

Read moreDetails

’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

by Ahmad Sihabudin
May 1, 2026
0
’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

FENOMENA viralnya lagu “Siti Mawarni Ya Incek” tidak bisa dibaca sekadar lagu hiburan digital yang lewat begitu saja. Ia adalah...

Read moreDetails

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
0
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

Read moreDetails

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
0
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

Read moreDetails

Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

by Ahmad Sihabudin
April 11, 2026
0
Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

PADA suatu malam yang panjang di jalan raya antarkota, seseorang mungkin tiba-tiba memahami makna sebuah lagu. Di tengah lampu kendaraan...

Read moreDetails

’Soon’: Etika Menunggu di Zaman yang Kehilangan Kesabaran

by Ahmad Sihabudin
March 28, 2026
0
’Soon’: Etika Menunggu di Zaman yang Kehilangan Kesabaran

Di tengah dunia kontemporer yang serba cepat, gaduh, dan penuh kepastian semu, lagu “Soon” dari grup rock progresif Inggris Yes...

Read moreDetails

’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

by Ahmad Sihabudin
March 24, 2026
0
’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

If I leave here tomorrow, would you still remember me? Pertanyaan dalam lagu Free Bird Lynyrd Skynyrd itu terdengar sederhana,...

Read moreDetails
Next Post
Sang Suci Pulang ke Brahma: Mengiringi Pelebon Ida Sinuhun Pande Taman Bali

Sang Suci Pulang ke Brahma: Mengiringi Pelebon Ida Sinuhun Pande Taman Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Kuta dan Peradaban Palegongan: Radikalisme Estetika di Ambang Pesisir

KETIKA dunia menyebut Kuta hari ini, ingatan kolektif yang muncul hampir selalu seragam, pesisir yang riuh, lanskap global pariwisata, komodifikasi...

by I Gusti Made Darma Putra
May 29, 2026
Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia
Panggung

Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

MEMASUKI tahun kesebelas penyelenggaraannya, Ubud Food Festival kembali digelar di Taman Kuliner Ubud dengan mengusung tema “Farmers: Guardians of Land...

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
Mereka Menunggu di Setia Darma 
Tualang

Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
5 Kesalahan Fatal Saat Pakai Parfum Wanita —Nomor 3 Paling Sering!
Gaya

5 Kesalahan Fatal Saat Pakai Parfum Wanita —Nomor 3 Paling Sering!

MENGGUNAKAN parfum wanita memang jadi cara paling simpel untuk meningkatkan rasa percaya diri dan meninggalkan kesan yang elegan. Tapi, tahukah...

by tatkala
May 29, 2026
‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI
Esai

‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

TERBITNYA ensiklik Magnifica Humanitas: On Safeguarding the Human Person in the Time of Artificial Intelligence karya Paus Leo XIV menandai...

by Ruben Cornelius Siagian
May 29, 2026
(Bukan) Demokrasi Kita
Esai

Pucuk Dicinta, Akar Terlupa  — [Ketika Kritik Berlimpah, Namun Perubahan Tak Kunjung Tiba]

SALAH satu paradoks kehidupan politik hari ini adalah semakin melimpahnya kritik di ruang publik tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan...

by Afgan Fadilla
May 29, 2026
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia
Cerpen

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam
Puisi

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

ASIMTOTE sebentar nyala mataharidari pagimenyalak matakudan matamuselalu silau ada jeda tersembunyidi bibir sianglebih sunyidari celah renggang akan tetapi, bayangmemanjang satu...

by Sholihul Mubarok
May 29, 2026
Ritual Menanam Beras Merah
Liputan Khusus

Ritual Menanam Beras Merah

“RASANYA legit, gurih, dan lebih bertekstur,” ujar I Wayan Agus Saputra di suatu siang yang mendung di Kantor Desa Jatiluwih,...

by Jaswanto
May 28, 2026
Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan
Khas

Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)menggelar acara pelepasan Angkatan V pada Selasa Pon Waregadian, 26 Mei 2026, di Aula Jove...

by I Nyoman Tingkat
May 28, 2026
Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026

SEKITAR 40 mahasiswa dari Korea, laki-laki dan perempuan, bersiap mementaskan kecak di Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII-2026. Cak cak cak…...

by Nyoman Budarsana
May 28, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Ruang Publik [Semestinya] Menjadi Cermin Jiwa

RUANG publik dalam sebuah negara semestinya menjadi tempat di mana akal sehat, etika, dan tanggung jawab bertemu. Ia bukan sekadar...

by Ahmad Sihabudin
May 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co