31 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sang Suci Pulang ke Brahma: Mengiringi Pelebon Ida Sinuhun Pande Taman Bali

Abdi Jaya Prawira by Abdi Jaya Prawira
April 16, 2025
in Esai
Sang Suci Pulang ke Brahma: Mengiringi Pelebon Ida Sinuhun Pande Taman Bali

Sang Suci Pulang ke Brahma: Mengiringi Pelebon Ida Sinuhun Pande Taman Bali

SEJAK pagi, Desa Taman Bali, Kabupaten Bangli menjadi pusat keramaian. Ribuan orang, yang berasal dari berbagai penjuru Bali berkumpul dalam lautan seragam didominasi merah menyala. Tujuannya adalah untuk ikut bersama melepas Ida Sinuhun ke perabuannya. Hari itu adalah Selasa (15/4/2025).

Ida Sinuhun dikenal sebagai sulinggih sepuh oleh kalangan warga Pande. Beliau merupakan guru dari para guru. Ida Sinuhun, atau Sira Mpu Taman Bali merupakan nama sebutan yang akrab digunakan umat untuk mengacu beliau, sementara gelar diksa beliau adalah Sira Mpu Dharma Dasi, ‘sang pelayan dharma’.

Sebutan sinuhun merupakan gelar honorifik yang disematkan pada gelar beliau setelah mencapai tingkat tertinggi dalam kesulinggihan di warga Pande.   Beliaulah yang paling senior dan paling matang dalam usia semadi sebagai sulinggih di kalangan warga Pande. Beliau sudah “duduk” sebagai sulinggih selama puluhan tahun, sembari nyala api pun tidak hanya hidup dalam piranti pemujaan di Siwa Upakarananya, namun benar-benar menyala berwujud yoga dalam diri. Beliau ibarat telah membadankan prapén di dalam setiap doa mantra yang purna diucap.

Beliau berpulang untuk menyatu kembali dengan Brahma, tepat ketika masyarakat Bali masih lelap dan terikat dengan Catur Brata Panyepian, Minggu (30/3/2025) pukul 03.00 dini hari. Sepanjang beliau masih nyeneng, Ida Sinuhun dikenal sebagai tokoh yang bersahaja. Tak heran, banyak yang menganggap hari beliau berpulang sebagai isyarat akan kesederhanaan yang senantiasa terbawa hingga akhir tarikan napasnya. Kepergian beliau di hari paling sunyi itu menjadi sebuah pengingat yang akan sulit dilupakan.

Banyak pihak mengenang beliau, tidak hanya warga Pande belaka. Kata-katanya yang terucap dari bibir beliau, seperti embun yang menyegarkan tanah tandus. Selalu menenangkan, menyejukkan dan bahkan menyembuhkan batin yang bingung dan terluka. Arah hidup dan kekusutan rohani banyak orang menjadi lurus saat duduk mendengar wejangan ringkasnya. 

Terakhir kali, saya bertemu dengan beliau ketika ayah saya meninggal. Saya datang bersama keluarga untuk memohon tirta pangentas, kajang dan beberapa perlengkapan upacara ngaben. Kala itu, ketika keluarga saya menangis tersedu-sedu di hadapan beliau, beliau berucap teduh.

“Ajak konyang lakar ajak mrika, dumunan kén dorinan,” (Semua akan ke sana, hanya duluan dan belakangan). Kata-kata beliau membuat keluarga berhenti bersedih dan mulai mengikhlaskan.

Di balik semua itu, sepuluh dari sepuluh orang sepakat bahwa beliau adalah figur yang karismatik dan berwibawa, namun tetap ramah bersahaja.

***

Pagi itu, di depan griya sejumlah orang mendampingi proses pamlaspas wahana berupa lembu putih, Padma, juga panganyutan dan balé salunglung. Dua orang sulinggih, yakni Sira Mpu Banjar Griya Bangli dan Sira Mpu Munggu memimpin ritus sakralisasi tersebut. Ketika memasuki griya, suara angklung dan salonding membahana mengiringi persembahan yang dipimpin Sira Mpu Galuh Tunggak. Halaman dalam griya pun penuh sesak ketika semua yang hadir duduk dan melakukan persembahyangan bersama.

Rincian teknis perjalanan menuju perabuan di tegal suci, areal khusus untuk prosesi pembakaran jenazah, disampaikan oleh panitia melalui pelantang. Ketua Maha Semaya Warga Pande Bali, Pande Nyoman Wahyu Suteja dalam kesempatan itu juga mengapresiasi peran serta seluruh pihak yang sudah menyokong bersama upacara untuk Ida Sinuhun. Sebelum puncak acara, upacara dimulai dengan negtegang karya, Selasa (8/4/2025) dilanjutkan mabersih dan malelet (memandikan jenazah), dilanjutkan narpana saji bertepatan dengan Purnama Kadasa, Sabtu (12/4/2025). Ngening pada Minggu (13/4/2-25). Narpana saji dilakukan setiap hari sejak malelet sampai Senin (14/4/2025).  

***

Sekitar pukul 10.50, berbagai kelengkapan berupa uparengga mulai dibawa ke luar griya melalui sebuah tragtag melintasi tembok griya. Para gadis mengenakan lelunakan mengusung sarana upacara, disusul dua buah gayot ‘tandu’. Sira Mpu Galuh Taman Bali dan Sira Mpu Laplapan duduk di atas gayot itu sembari dipayungi sepasang tedung. Baleganjur mulai ditabuh bertalu-talu bersamaan dengan denting genta puluhan pemangku yang ikut mengiringi sebelum pemberangkatan dimulai sampai tiba di tegal suci.

Bandusa, yakni peti mati berbentuk mirip badan perahu lalu dinaikkan ke Padma. Gamelan gender di sisi Padma mulai mengalun. Dua sulinggih yakni Sira Mpu Batubulan dan Sira Mpu Galiran naik ke Padma, yang satu menyebar sekar ura, satu lagi memegang ubes-ubes berbentuk burung sang dewata. Lelancuban berupa kain putih kuning dan kain berajah, disertai tali berkulit putih menjulur dari Padma. Orang-orang pun memeganginya dari kanan dan kiri. Saya tergolong beruntung bisa ikut memegang kain ini. 

Ribuan orang membanjir mengantarkan Ida Sinuhun ke tegal suci, yang secara sekilas tampak ada di belakang griya. Walau demikian, iring-iringan uparengga berjalan dari depan griya menuju utara, lalu bertolak ke timur sampai di depan Pura Bale Agung Taman Bali lalu menuju selatan sampai perempatan Desa Taman Bali.

Di perempatan ini, lembu dan Padma diputar tiga kali berlawanan arah jarum jam. Setelahnya, iring-iringan dari ribuan pasang kaki itu menuju barat untuk sampai ke lahan suci itu. Para pengguna seragam merah menyala yang mengombak di jalanan, bersukacita, bersorak-sorai mengantar lembu dan Padma. Tak ada duka dalam iring-iringan mengantar seorang yang akan menyatu pada Yang Tak Terbayangkan itu. Warna merah yang tampil di berbagai penjuru laksana lambang api, membawa nyala kesejatian diri yang tak akan pernah padam.

Setibanya di tegal suci, pembawa guling panyugjug dan pembawa baleman berisi kepala kerbau menari-nari. Sederhana, tapi tulus. Berikutnya,tari baris poleng menyambut layon Ida Sinuhun. Seusai persembahan tedun layon, bandusa berisi layon diturunkan lalu berputar berlawan arah putaran jarum jam di lembu yang sudah diistirahatkan di bawah bale pabasmian. Para sulinggih memercikan berbagai air suci setelah layon ditempatkan dengan rapi di dalam perut lembu bersama sejumlah uparengga yang diperlukan.

Usai dengan tahap itu, masyarakat yang hadir di tegal suci mendekat pada lembu. Ada yang menggenggam dupa, sekuntum bunga, hingga kwangen. Semuanya berdoa dengan ucapannya masing-masing. Sarana yang sudah selesai dipakai lalu dikumpulkan bersama di bawah perut lembu. Ratusan dupa yang menyala itu mengepulkan asap wangi, disusul kobaran api yang lebih besar membuat lembu bersama layon di dalamnya menjadi arang dan abu. Api itulah wujud Brahma, jalan pembebasan badan. Abu-abu tulang lalu disusun kembali dalam wujud sekah tunggal.    

***

Sayup-sayup angin menemani doa para sulinggih yang kini memanjatkan doa mengiringi pelebon Ida Sinuhun kala sang surya condong ke barat. Para sulinggih yang juga lahir secara ideologis dari telapak tangan beliau, kini memberi doa dan penghormatan terakhirnya pada sang guru. Angin dan matahari pun membuat saya sadar: angin dan matahari yang sama juga pernah menjadi saksi dalam fragmen suara Ida Sinuhun nan sejuk, yang pernah memimpin doa bertimpal genta, di berbagai pura, rumah umat dan berbagai tempat lain dalam beraneka upacara yang pernah beliau tangani.

Lantunan doa beliau, saya yakin akan senantiasa terngiang di telinga setiap orang yang pernah mendengarnya. Doa yang juga melekat sebagai ingatan abadi dalam ruang yang pernah beliau singgahi. Sementara beliau sendiri sudah menyatu lagi dengan Sang Sangkan Paran. [T]

Taman Bali, Anggara Paing Sungsang (15/4/2025)

Penulis: Abdi Jaya Prawira
Editor: Adnyana Ole

Menebak Karakteristik dari Penampilan Fisik: Catatan dari Lontar Pawetuan Jadma
TRI KARANA SWARŪPA : Temuan Ida Wayan Oka Granoka untuk Menjawab Tantangan Zaman
YONINÉ GENTOSIN: Mengubah Kualitas Kelahiran Perspektif Ida Padanda Made Sidemen
Niksayang Peplajahan: Tujuan Ida Padanda Made Sidemen Menjadi Pendeta
Tags: Bangliin memoriamsulinggih
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nostalgia dan Modernitas “Kumpul Bocah”: Perjalanan Abadi dari Vina Panduwinata ke Maliq & D’Essentials

Next Post

Perupa Rama Pamerkan 7 Karya “Harmony” di ARTspace ARTOTEL Sanur

Abdi Jaya Prawira

Abdi Jaya Prawira

Pande Putu Abdi Jaya Prawira, tinggal di Tulikup, Gianyar. Alumnus Sastra Jawa Kuno Udayana.

Related Posts

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

Read moreDetails

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

Read moreDetails

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

by Chusmeru
October 28, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

Read moreDetails

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails
Next Post
Perupa Rama Pamerkan 7 Karya “Harmony” di ARTspace ARTOTEL Sanur

Perupa Rama Pamerkan 7 Karya "Harmony" di ARTspace ARTOTEL Sanur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari
Budaya

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari

AKHIR pekan ini, Taman Pecangakan di jantung Kota Negara, Jembrana, punya agenda yang berbeda dari biasanya. Selama dua hari, Sabtu–Minggu,...

by tatkala
October 30, 2026
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek
Khas

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Di Ruang Tunggu Kehidupan

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak
Khas

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co