11 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memuja Tuhan dan Logika Untung dan Rugi

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
April 16, 2025
in Esai
Memuja Tuhan dan Logika Untung dan Rugi

Foto ilustrasi" Dok tatkala.co

KEBERADAAN, Kemahakuasaan, Kemahasegalaan Tuhan diyakini, disetiai, diimani oleh umat beragama. Umat Hindu menyebutnya sebagai srada. Yang disebut mahluk hidup, adalah mahluk yang berjiwa raga, yang terikat oleh napas (udara/bayu).

Kuaalitas mahkuk hidup sangat ditentukan oleh kualitas napas yang menjiwaragainya.

Selain unsur napas/bayu/udara, ada unsur ruang/akasa, yang membingkai mahkluk, dan unsur pertiwi/tanah/ material padat, unsur apah/air/zat cair, dan unsur teja/api/temperatur yang menjadikan bentuk, sifat, dan fungsi sesuatu mahluk.

Bentuk keyakinan manusia, di Indonesia khususnya, disebut agama. Agama yang konon diyakini, dijiwaragai manusia di Bali disebut agama Hindu.

Walaupun mengaku beragama Hindu, yang disebutkan berasal dari India, tetapi sebagian besar warga Bali (juga Indonesia bahkan dunia) meyakini dan mengimani, berbagai manisfestasi Tuhan dalam bentuk, sifat dan fungsinya, sebagai Sanghyang (Sang Keilahian/spirit/esensi tanpa tubuh), Dewa (sinar/terang,cahaya) Bhatara (pelindung/aktivitas/perbuatan) dalam sifat dan fungsinya sebagai:  leluhur/asal muasal/kawitan, guru/pembimbing/pendamping/pembantu, manusia untuk mencapai kesentausaan (kepuasan, kebahagian, rasa syukur lahir dan batin).

Hyang (aksara Bali: ᬳ᭄ᬬᬂ; aksara Jawa: ꦲꦾꦁ; aksara Sunda: ᮠᮡᮀ; Osing: Iyang) adalah sebutan keilahiah dalam  agama pribumi di Jawa dan Bali khususnya, yang juga dimaknai spirit/esensi.

Dewa (Dewanagari: देव; IAST: Deva) berasal dari akar kata dev  dalam  bahasa Sanskerta yang berarti ‘sinar atau “terang”,

Bhatara berasal dari kata “bhatr” yang berarti pelindung. Bhatara berarti “pelindung” atau aktivitas yang ilahi, sinar atau terang. Tuhan maupun manifestasinya.

“Kawitan”  berasal dari bahasa Sansekerta “wit” yang berarti asal mula/awal mula atau garis keturunan/leluhur, lebih jauh dan luas bisa berati Tuhan

Leluhur Bali masa lalu, meyakini, mengimani secara lahir batin bahwa tumbuh-tumbuhan adalah saudara tertua, binatang adalah kakak dan manusia adalah yang terkecil.

Alam Bali ternyata telah terlalu sama memanjakan si anak bungsu, sehingga lupa menghargai dan menghormati yang lebih tua, kakak-kakaknya (Pohon dan Binatang) sebagai leluhur/kawitan. Tidak adanya rasa hormat pada yang lebih tua, leluhur, berarti juga telah kehilangan rasa hormat pada dirinya sendiri.

Hilangnya keyakinan, iman diri, sementara karakter manusia sebagai mahluk sosial menjadikan manusia kehilangan eksistensinya (tak percaya diri).

Rasa rendah diri yang ditutupi akan membuat seseorang tak nyaman. Rasa tak nyaman yang ditutupi, dipelihara, dibiakan akan membuat rasa tak aman, tanpa rasa aman, sulit rasanya seorang manusia bisa mendapatkan kebahagiaan.

Sebagai manusia biasa yang punya segala keterbatasan, rasa tak nyaman sering kita tutupi, dengan pikiran kata dan tindakan berlebih (melampaui kapasitas diri) yang mengingkari satya (kejujuran, kebenaran)

Misalnya kita berencana bertemu kakek nenek yang sangat kita hormati, karena keadaan, situasi dan kondisi yang tidak mengijinkan, kita hanya menelpon, melakukan videocall.

Suatu ketika pikiran, kata-kata dan perbuatan kita masih bersepakat, ada saatnya pikiran dan kata-kata kita tak bisa disatukan dengan perbuatan.

Kunci sebagai manusia berjiwa raga sebagai mahluk sosial adalah perbuatan, yang bisa dicerap indria, dan dirasakan oleh diri sendiri dan akan dirasakan juga oleh orang lain, dah lingkungan.

Saat kita tak bisa melakukan perbuatan yang kita yakini dan imani, pikiran yang tajam dan cerdas berusaha beragurmen, mencari pembenaran.

Pada saat pikiran kita merasa benar dengan argumentasinya, tetapi jiwa dan raga kita belum bersepakat, ada rasa tak nyaman yang mengganjal. Untuk menghilangan ganjalan di hati, si cucu, mengirimkan kakek neneknya makanan dan kain.

Kakek-Nenek menghargai pemberian sang cucu, sang cucu pun merasa nyaman.

Di saat yang lain, mungkin sang cucu tak punya uang untuk mengirimkan kakek neneknya makanan dan kain,   hanya bisa menelpon tetangga sebelah rumah kakek nenek untuk menyampaikan kabar, kakak neneknya senang menerima kabar dari cucunya, dan si cucu merasa nyaman, aman dan bahagia karena tahu kakek neneknya nyaman aman dan bahagia.

Hubungan cucu dengan kakek neneknya sesungguhnya serupa dengan hubungan seorang manusia dengan Tuhan yang  yang diyakini dan dimaninya.

Jika kakek nenek adalah manusia dengan kemanusiannya yang berjiwaraga dengan segala jenis kebutuhan yang membuatnya nyaman, mrasa aman dan bahagia, maka Tuhan adalah Maha Segala, Maha Nyaman, Maha Aman, Maha Bahagia, dan Maha itu sendiri.

Inti sebuah hubungan adalah  kenyaman yang menciptakan rasa aman dan bahagia.

Kemajuan pengetahuan  ternyata tidak membuat manusia merasa nyaman, aman dan bahagia, karena hanya difokuskan pada logika (perhintungan-perhitungan) bukan rasa.

Di Bali juga makin berkembang terstruktur dan masif karena terorganisasi oleh sistem sosial keyakinan pada Tuhan, dalam segala manifestasi, didasarkan pada logika manusia/hitung-hitungan.

Melakukan upacara besar (jumlah orang, biaya) akan diberikan hasil yang besar, mengajarkan meyakini Tuhan pada lebih banyak orang akan mendapatkan fee besar, dan lain-lain.

Logika untung rugi, fee dan sejenisnya ini kini dengan semangat dan tanpa malu-malu terus digiatkan, dan dikembangbiakkan oleh orang mengaku dan diakui sebagai pemimpin agama.

Kini Tuhan  dan  segala manusfestasinya (leluhur, manusia, pohon, binatang, tanah, air, api, udara dan ruang kosong) hanya dijadikan obyek semata, tanpa penghormatan, penghormatan dan penjagaan.

Manusia tak lagi menghormati dirinya sendiri, menghormati kemanusiaannya.

Kalau ada niat, kemauan dan usaha belum terlambat untuk kembali menyadari keberadaan diri sebagai manusia, agar tak terombang-ambing oleh keadaan situasi dan kondisi , agar tak mudah menjadi kambing hitam.

Jadi kalau benar, tujuan hidup beragama (khususnya beragama Hindu Bali) bertujuan untuk mencapai kebahagian lahir batin, dunia hakerat, mari sadari kembali diri kita sendiri.

Tenangkan diri sejenak, pusatkan konsentrasi di hulu hati/Padma Hrdaya/ Puri Atma/rumah Atman/Brahnan yang terhubung langsung dengan Paratman/Tuhan. Telisik segala hal yang sudah, sedang dan akan kita lakukan. Termasuk segala bentuk keyakinan pada Tuhan yang telah, sedang dan akan kita lakukan.

Jika ada yang salah di masa lalu, mari terima kesalahan, minta maaflah pada diri, pada leluhur, dan semuanya.

Manusia yang tak sempurna, yakinilah  Tuhan Yang Maha Sempurna pasti tahu ketidaksempurnaan umatnya. Meminta maaf pada Tuhan dan diri tak perlu  diketahui oleh orang lain, cukup dari hati yang paling dalam yang berkesadaran.

Kalaupun ingin melakukan permintaan maaf dengan media/sarana, lakukan kejujuran akan keadaan, situasi dan kondisi dengan media yang ada yang membuat kita merasa nyaman, sehingga tercipta rasa aman dan bahagia.

Tuhan Maha Sempurna, memuja Tuhan, adalah usaha kita dalam hidup untuk lebih menyempurnakan diri, dengan menghormati, menghargai, menjaga leluhur, manusia, binatang, pohon, dan alam dengan setia, jujur,  riang gembira agar tercipta rasa nyaman, aman, dan damai.

Salam,

Semoga pikiran baik datang dari segala penjuru. [T]

Kesiman Denpasar,14/04/2025

Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Kelapa, Kepala, Warna dan Permainan Makelar
Bali, Label dan Ogoh-ogoh

Kembang Rampe dan Kebodohan yang Dipelihara

Harmonisasi Material-Spiritual | Sebuah Renungan

Virus, Masker dan Minyak – [Sebuah Renungan]

Tags: KetuhananTuhan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

”Married by Accident” Bukan Pernikahan Manis Cinderella

Next Post

Nostalgia dan Modernitas “Kumpul Bocah”: Perjalanan Abadi dari Vina Panduwinata ke Maliq & D’Essentials

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

Read moreDetails

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
0
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

Read moreDetails

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
0
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

Read moreDetails

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails
Next Post
Nostalgia dan Modernitas “Kumpul Bocah”: Perjalanan Abadi dari Vina Panduwinata ke Maliq & D’Essentials

Nostalgia dan Modernitas “Kumpul Bocah”: Perjalanan Abadi dari Vina Panduwinata ke Maliq & D’Essentials

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co