23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Curangologi: Filsafat Curang Seri 1 – Gambar Umbul

Hartanto by Hartanto
February 2, 2018
in Opini

Istimewa

 

SUNGGUH, saya sendiri tidak tahu. Mengapa tiba-tiba ingin memikir lebih dalam soal curang. Yang jelas tak ada kaitan dengan pilkada masa lalu, masa kini, dan masa mendatang. Apakah karena kian maraknya tersangka korupsi, baik yang OTT, terlapor, terdakwa, tersangka, tersadap, ‘tersembunyi’, ‘terlindungi’, dan ‘ter’ – ‘ter’ lainnya ? Atau karena adanya ‘model baru’ dalam kompetisi olah raga – yang secara vulgar, memberi hadiah point pada sebuah klub peserta kompetisi ? Saya tak terlalu paham. Saya hanya ingin menulis saja, meski saya bukan ahli pilkada, pilpres, korupsi, dan juga bukan ahli analisa olah raga.

Sesuai konvensi umum, curang adalah suatu tindak ke-tidak benar-an. Menurut saya, ini berlaku universal. Saya belum pernah mendengar sebuah negara pun yang membenarkan tindak kecurangan. Ia, senantiasa berkait dengan ambisi/keinginan seseorang atau kelompok, untuk meraih sesuatu keuntungan atau kemenangan. Entah menang dalam mengkorup hak yang bukan haknya, memanipulasi sesuatu untuk keuntungan diri pribadi atau kelompok.

Kecurangan juga tak terlepas dari ambisi pemenangan tender proyek, persaingan bisnis, pertandingan olah raga, aneka pemilihan, kompetisi sepak bola, pilkada, pilpres dan bidang-bidang hidup lainnya. Kendati demikian, saya masih percaya ada ‘kejujuran’ diantara tumbuh suburnya tindak curang dalam kehidupan manusia.

Curang, tak bisa dilepaskan dalam kehidupan manusia, kendati tindakan curang acap bertentangan dengan ajaran etika, moral, budi pekerti, agama, dan norma-norma lainnya dalam kehidupan manusia. Memang, terkadang dalam menilai suatu tindakan curang, tidaklah mudah. Sebab, satu sama lain selalu ingin memiliki kebenarannya sendiri. Maka betapa tidak mudahnya menilai salah-benar tentang suatu ‘kebenaran’ itu.

Arti curang, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). cu·rang a tidak jujur; tidak lurus hati; tidak adil: orang yang munafik senantiasa berhati –;

men·cu·rangi v berbuat curang terhadap seseorang; menipu; mengakali;
ke·cu·rang·an n perihal curang; perbuatan yg curang; ketidakjujuran; keculasan.

Saya juga bingung, mengapa kata curang lebih banyak sinonimnya dari pada antonimnya. Sinonimnya ; bengkok, cerdik, kerangkeroh, keroh, korup, lancung, lengit, licik, licin, main kayu, main sabun, patgulipat, serong. Sementara antonimnya hanya ; jujur. Biarlah ahli bahasa yang membahasnya.

Pelajaran tentang curang, saya dapatkan dari permainan gambar umbul di masa kecil. Permainan kuno ini tentu bukan didapat dari download di AppStore, Google Play, dan lain sebagainya. Entah dari mana asalnya permainan ini, yang jelas kita mendapatkan pengetahuan permainan ini dari kakak-kakak kita. Termasuk di dalamnya adalah pengetahuan tentang ‘teknologi kecurangan’ dalam permainan ini.

Gambar umbul terbuat dari karton duplex ukuran A3 atau F4 dengan gramatur 250 gr, atau karton BC 220 gr. Gambar yang tercetak di atasnya, merupakan sebuah cerita film layar lebar yang populer saat itu, antara lain ; Ivan Hoe, Hercules, Spartagus, Zoro, Cleopatra, Flash Gordon, Robin Hood, James Bond, Jango, dan lain sebagainya. Ada juga tentang tokoh-tokoh wayang dan tokoh-tokoh komik seperti; Gundala Putra Petir, Si Buta Goa Hantu, Mahesa Wulung, Pendekar Bambu Kuning, Siti Gahara, Mahabarata, dan masih banyak lagi. Itu di tahun 1960-70 an. Belakangan, gambar umbul banyak mengambil cerita dari film-film serial televisi, seperti Bonanza, Hawai Five’O, The Saint, si Unyil, Doraemon, dan lain sebagainya.

Umbul, adalah permainan cukup populer di masa kecil saya. Teknis permainannya amat mudah. Kita dan lawan kita masing-masing menjagokan ‘gacuk’ dua lembar gambar umbul. 4 gambar dijadikan satu dijepit antara jari tengah dan telunjuk, dan ditekan oleh ibu jari, lalu dilentingkan ke udara. Nah, kalau misalnya kedua gambar umbul kita jatuhnya menghadap atas, dan kedua gambar lawan atau salah satu tertelungkup, maka kitalah yang menang. Jadi mayoritas yang gambar umbulnya menghadap ke ataslah yang menang. Taruhannya variatif, bisa 5 lembar atau 10 lembar gambar umbul. Jumlah peserta yang bermain bisa bervariatif, tidak hanya 2 orang. Peraturan taruhannya pun, bisa diatur secara fleksible.

Yang namanya permainan tak terlepas dari kecurangan. Seperti yg sudah saya sebutkan di atas, pada permainan inilah saya mulai diperkenalkan dengan teknologi kecurangan. Berbagai teknologi kecurangan, dari yang vulgar sampai yang halus, saya pelajari. Yang vulgar namanya ‘lap-lip’, ini menempel gambar yang sama di belakang gambar – sehingga, ketika gambar umbul jatuh ke tanah selalu dalam posisi gambar di atas. Karena kedua sisinya bergambar. Karena terlalu vulgar, teknologi ini jarang dipakai.

Teknologi yang lain adalah melumuri sisi belakang gambar dengan putih telur, lantas di jemur. Logikanya, sisi belakang memiliki berat yang lebih, hingga ketika jatuh ke tanah, lebih sering telentang menghadap ke atas. Trik yang lain, ketika kita mendapat giliran melempar/melentingkan gambar umbul, kita tekuk sedikit ‘gacuk’ kita – dengan demikian, entah ada gaya fisika apa, memang ‘gacuk’ kita jatuhnya sering menghadap atas.

Begitulah yang saya ingat tentang ilmu pengetahuan curang yang hadir ke dalam diri di usia dini, dengan tujuan keuntungan pribadi. Pelajaran budi pekerti maupun etika memang sudah didapat dari keluarga, sekolah, dan pelajaran agama. Namun, pada sisi lain, dalam bertingkah-laku sebagai perseorangan di lingkungan sosial, banyak pula pengetahuan yang kita serap. Salah satunya adalah ilmu pengetahuan curang.

Apakah serapan ilmu pengetahuan kecurangan itu bisa dimaafkan mengingat pada saat itu kita-kita masih usia kanak? Dan secara alamiah, pengetahuan itu turun-menurun dari lingkungan sosial yang ada. Bahkan merupakan ‘nilai’ yang berharga sebagai sarana menuju ‘kemenangan’ untuk keuntungan pribadi? Terkadang, saya ingin mengkoreksi apakah naluri curang itu sudah terlanjur melekat dalam bawah sadar kita. Atau memang justru di-melekat-kan dalam kesadaran kita? Tanya ini belum terjawab.

Lantas mengapa teknologi curang di jaman ini kian canggih dan kian vulgar saja? Melebihi kevulgaran teknologi ‘lap-lip’ tadi. Begitu banyaknya kecurangan yang vulgar bermunculan dalam kehidupan nyata, hingga mengingatkanku pada masa kanak-kanak yang indah. Tentu, teknologi curang saat itupun termasuk dalam kenangan indahku. Hal ini lah yang menarik minatku untuk mempelajari lebih dalam tentang ‘curangologi’. Meski ketika aku cari di google maupun wikipedia tak kutemukan istilah tersebut, tak apa-apa. Kelak, mungkin ketemu dengan sendirinya. (T)

LANJUTKAN BACA: Curangologi: Filsafat Curang Seri 2 – Sekuni Milenial

 

Tags: Bahasagaya hiduppermainanSeni
Share11TweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Harian Sugi Lanus: Bisnis Lontar

Next Post

Taru Bukit

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post

Taru Bukit

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co