23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tembakau, Kian Dilarang Kian Memukau

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
May 31, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

PARA pembaca yang budiman, tanggal 31 Mei adalah Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Tujuan utama dari peringatan ini adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya tembakau bagi kesehatan, serta mendorong kebijakan yang dapat mengurangi konsumsi tembakau di seluruh dunia.

Di Indonesia, angka perokok terus meningkat, dengan lebih dari 70 juta orang dewasa menggunakan tembakau, membuat negara kita sebagai salah satu negara dengan jumlah perokok tertinggi di dunia.  Memang tembakau di Indonesia adalah paradoks yang terus menyala, bahkan ketika negara sibuk meniup-niup bara api itu dengan kampanye anti-rokok.

Di tengah larangan iklan rokok, larangan merokok di ruang publik, dan mewajibkan tambahan gambar penuh kengerian dan seram di bungkusnya, toh hingga saat ini industri ini masih berdiri dengan tegak, tidak sekedar tegak, bahkan dengan gaya. Sebuah ironi yang tak kunjung usai. Tembakau, sebuah kenikmatan yang menolak punah. Sebuah budaya yang jika kini digelar di muka umum, dituding sebagai kriminal dan tak bermoral.

Kenapa bisa, tembakau tetap eksis? Bukankah sepetinya kita semua telah sepakat bahwa rokok membunuh? Bukankah anak muda sekarang konon dikabarkan lebih ‘sadar kesehatan’?. Mestinya vape, kafein, dan yoga dengan enteng bisa menggantikan gaya hidup nikotin yang dilabeli sesat ini? Nyatanya anak muda di samping menghirup vape, masih juga menghembuskan rokok di sela-selanya, kafein juga makin nikmat jika berkawan tembakau katanya, dan yoga tersempurnakan jika tersapu asapnya. Kenapa daya tahan tembakau dari masa ke masa begitu liat? Para pembaca yang budiman, lepas dari anda suka atau tidak suka tembakau, mari kita coba sapa tembakau ini dari beberapa sisi.

Negosiasi Antara Kenikmatan dan Ancaman Kematian

Berbicara tembakau ini agak unik , biasanya sih buntutnya bikin emosi. Karenanya agar lebih adil saya mencoba menginvestigasi beberapa perokok dan mencoba merangkumnya biar lebih mudah dicerna. Sebab, kalau saya kutipkan semuanya langsung dari penuturan mereka, sepertinya akan terdengar sentimentil.

Jadi begini, nampaknya, dalam konteks tubuh dan kenikmatan, tembakau bukan sekadar zat adiktif. Ia adalah ritual. Bagi banyak perokok, menghisap rokok bukan semata-mata aksi refleks, melainkan bentuk relasi yang intim dengan waktu. Menunda stres, menyusun pikiran, atau sekadar mengambil jeda dari rutinitas hidup yang melelahkan. Di bawah atap seng warung kopi, di pinggir jalan yang berdebu, atau di beranda rumah selepas kerja, sebatang rokok hadir sebagai penanda, “ini waktuku.”

Tembakau, bagi mereka para perokok, menjadi teman yang diam namun akrab. Ia tidak memaksa, hanya menggoda. Dan justru di situlah letak daya pikatnya. Seorang tukang becak yang saya temui di Purwokerto pernah berkata sambil menyulut rokoknya, “Ini satu-satunya yang ngerti saya, Mas. Nggak cerewet, tapi nyenengin.” Di saat dunia menuntut produktivitas, efisiensi, dan kepatuhan, tembakau menyediakan ruang pelarian, betapa pun sempit dan berasap ruang itu.

Michel Foucault mungkin akan bilang,  ini adalah bentuk teknologi diri, suatu praktik di mana individu menggunakan metode atau kebiasaan tertentu untuk membentuk relasi dengan tubuh dan pikirannya. Dalam hal ini, merokok bukan sekadar kebiasaan mekanis, melainkan cara seseorang mengelola eksistensinya di dunia yang makin bising dan makin menekan. Ketika ruang-ruang kontemplatif semakin langka dan semua waktu dimonopoli oleh layar gawai, maka sebatang rokok menjadi semacam mediasi antara keheningan dan kewarasan. Ia membantu seseorang “berpikir seraya menghembuskan.”

Realita di masyarakat memperkuat narasi ini. Di desa-desa, bapak-bapak yang seharian mencangkul ladang memilih rokok linting sebagai penutup kerja keras. Kalau ini bukan karena ingin pamer maskulinitas, tapi karena dari dulu, sejak zaman simbah, “suguhannya ya ngelinting, bukan cuma kopi.” Di kota, pekerja kantoran yang suntuk di depan spreadsheet tak jarang turun ke smoking area, bukan sekadar untuk merokok, tapi untuk “bernapas secara berbeda.” Bahkan anak muda, yang katanya melek kesehatan, kadang tetap nyulut rokok kretek sambil berdalih: “Ini buat ide nulis, bro.”

Tentu, semua ini tidak menghapus fakta-fakta medis. Bahwa ada ancaman nyata di balik tiap hisapan. Paru-paru rusak, jantung terganggu, dan kantong pun menjerit. Tapi tubuh manusia, seperti kata Merleau-Ponty, bukan mesin kalkulasi rasional. Ia adalah entitas yang merasa, yang memilih pengalaman, dan yang terkadang rela rugi demi rasa. Di sinilah negosiasi terjadi, antara kenikmatan dan kematian, antara kesadaran akan risiko, dan hasrat untuk tetap hidup sejenak dengan lebih enak.

 Maka, pertanyaan filosofisnya bukan hanya, “apakah merokok itu salah?” tetapi juga “apa yang sedang diperjuangkan tubuh lewat sebatang rokok?” Dan di antara asap yang mengepul itu, jawaban yang dihadirkan mungkin tidak selalu logis. Tapi sangat manusiawi. Nah, sepertinya jelas kenapa para perokok itu terkesan ngeyel, bukan?

Negara: Sang Pendosa Moralis

Di satu sisi, negara terus menggencarkan kampanye anti-merokok. Tapi di sisi lain, ia tetap sigap menerima triliunan rupiah dari cukai tembakau. Tahun 2023, cukai rokok menyumbang lebih dari Rp200 triliun, menjadikannya salah satu sumber pendapatan negara terbesar. Namun menurut data WHO dan BPJS, biaya kesehatan akibat rokok jauh lebih besar, bahkan bisa mencapai Rp400 triliun per tahun.

Lalu, kenapa tidak dilarang saja? Jawabannya tentu saja  karena negara bukan entitas moral murni, melainkan makhluk politik-ekonomi yang harus berkompromi. Jika tembakau dihapus hari ini, ratusan ribu petani tembakau akan kehilangan mata pencaharian, ribuan buruh pabrik linting gulung tikar, dan pemerintah kehilangan stabilitas sosial.

Tembakau bukan datang semata-mata dari ideologi jahat. Ia adalah tanaman yang sejak zaman kerajaan digunakan dalam ritual, pengobatan, dan diplomasi. Di era kolonial, tembakau adalah komoditas emas. Di era sekarang, ia berubah menjadi musuh publik. Namun, bagi masyarakat desa atau komunitas pinggiran kota, rokok masih menjadi lambang keakraban, solidaritas, bahkan maskulinitas. Di warung kopi, sebatang rokok bisa jadi pembuka percakapan, penutup kesepakatan, atau simbol resistensi kecil terhadap dunia yang terlalu bersih dan terlalu sibuk. Jadi nampaknya, dari sisi ini, melarang rokok begitu saja tanpa memahami makna sosialnya, sama seperti mencabut pohon tanpa memperhatikan apa alasan dia dulu ditanam.

Haruskah Dilarang atau Dibebaskan?

Iklan rokok di Indonesia adalah satu-satunya iklan, yang harus kreatif tanpa boleh menyebut produknya secara langsung. Maka lahirlah karya-karya visual dan narasi yang melebihi batas promosi. Mereka menciptakan dunia tersendiri,  petualangan, persahabatan, keberanian, maskulinitas, kebebasan. 

Larangan justru melahirkan estetika baru. Inilah yang disebut para teoritikus budaya sebagai efek dari represi,  kreativitas meningkat ketika ruang ekspresi dikekang. Dan mungkin, dalam banyak hal, iklan rokok justeru lebih berhasil membentuk citra diri anak muda ketimbang ceramah kesehatan dari lembaga pemerintah.

Jika kita bertanya apakah rokok harus dilarang, kita harus jujur dengan kosekuensinya. Apakah kita siap dengan transisi ekonomi bagi jutaan pekerja dan petani? Apakah kita punya alternatif budaya yang mampu menggantikan peran tembakau dalam ritual sosial? Sebaliknya, jika kita membebaskan tembakau sepenuhnya, apakah kita siap dengan lonjakan penderita kanker paru dan meningkatnya biaya publik untuk kesehatan?

Belum lagi melemahnya sumber daya manusia, karena pada tembakau menempel banyak stigma negatif yang berkaitan dengan budaya kerja dan sebagainya.  Ini bukan soal bermoral atau tidak. Ini soal keberanian untuk mengelola ambiguitas. Ini soal keberanian untuk menyusun ulang narasi tembakau, yang bukan sekadar sebagai produk industri, tapi sebagai warisan budaya yang butuh tata kelola bijak.

Menuju Keadilan Tembakau

Solusinya mungkin bukan pelarangan ekstrem apalagi  pembiaran total, tetapi transisi budaya. Tembakau bisa tetap hidup, bukan sebagai racun massal, tapi sebagai simbol budaya yang dikembalikan ke konteks aslinya.  Petani bisa dibantu untuk bertani secara berkelanjutan. Pabrik bisa diarahkan ke produk nikotin yang lebih aman. Edukasi bisa mengangkat narasi tentang kenikmatan yang bertanggung jawab, bukan kecanduan. Negara sendiri juga harus berani keluar dari jebakan cukai dengan mencari sumber pemasukan lain. Atau terus-menerus hidup dalam dosa struktural yang berbalut kebijakan kesehatan.

Tembakau, kian dilarang, kian memukau. Tapi mungkin justru karena ia dilarang. Karena dalam setiap larangan, ada daya tarik. Dalam setiap represi, ada ekspresi. Dalam surutnya sebatang rokok dari satu isapan demi satu isapan, momen itulah yang menyulut makna, bukan sekadar tembakau.  Dalam setiap asap yang membubung, ada kisah manusia yang mencari makna hidupnya. Semoga pembicaraan kita ini pun mampu menyulut makna, bukan sekadar pertikaian belaka. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Apakah Menulis Masih Relevan di Era Kecerdasan Buatan?
Ogah Baca, Nyalakan Bom Waktu
Teater Ditikam, Akal Sehat yang Mati
Tags: antirokokrokoktembakau
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perayaan Penuh Kelezatan di Ubud Food Festival 2025

Next Post

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Stasiun, Lorong, Diam

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Stasiun, Lorong, Diam

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Stasiun, Lorong, Diam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co