2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Karya-karya ‘Eka Warna’ Dollar Astawa

Hartanto by Hartanto
May 28, 2025
in Ulas Rupa
Karya-karya ‘Eka Warna’ Dollar Astawa

Karya Dollar Astawa (crop)

SALAH satu penggayaan dalam seni rupa yang menarik bagi saya adalah gaya Abstraksionisme. Gaya ini bukan sekadar penolakan terhadap gambaran realitas, melainkan perayaan terhadap kebebasan kreatif dan ekspresi jiwa. Dengan membebaskan warna, bentuk, dan tekstur untuk berbicara atas nama perasaan, abstraksionisme mengajak kita menyelami lapisan-lapisan emosi dan ide yang tersembunyi dalam tiap goresan. Dari sejarah para pelopornya, yang menolak konvensi hingga teknik eksperimental yang terus berkembang.  Serta pengaruh kontemporer yang merambah ranah digital, aliran ini terus menginspirasi dan menantang pandangan kita tentang apa itu seni – khususnya senirupa abstraksionisme.

Aliran seni abstraksionisme merupakan sebuah pergerakan dalam dunia seni rupa yang mengalihkan fokus dari representasi literal atau figuratif menuju eksplorasi elemen dasar seperti bentuk, warna, garis, dan tekstur. Seniman abstrak, jarang menggambarkan objek atau narasi yang mudah dikenali. Ia berupaya menyampaikan perasaan, ide, dan pengalaman batin melalui konstruksi visual yang tidak terikat pada realitas dunia luar. Dalam konteks ini, karya seni menjadi wadah ekspresi di mana makna muncul secara berlapis dan bebas dari beban representasi konvensional.

Dollar Astawa, “Keseimbangan 1”, 2024, acrylic on canvas, 155×100

Saya tertarik tentang abstraksionisme, karena menyimak karya monochrome (eka warna) perupa  I Made ‘Dollar’ Astawa. Karya “Energi Aksara 1”  Dollar Astawa ini merupakan contoh yang kuat dari seni abstrak yang menggabungkan dinamika gerakan dengan kekayaan simbolisme. Saat pertama melihat, lukisan ini tampak hidup melalui sapuan kuas yang dinamis, cipratan, dan lapisan tekstur yang menciptakan kesan bahwa energi mengalir tanpa henti. Meskipun palet warnanya terbatas – dominasi hitam, putih, dan abu-abu – penggunaan gradasi dan perbedaan intensitas memberikan dimensi yang mendalam serta mengundang penikmat untuk merasakan ketegangan antara terang dan gelap. Terasa ada daya yang mengimbuhi karya dengan aura misterius yang mengundang interpretasi.

Secara simbolis, judul “Energi Aksara 1” sendiri mengisyaratkan gagasan bahwa setiap goresan dan garis di kanvas mengandung makna yang lebih besar—sebuah pembacaan terhadap “energi” yang tertuang dalam tanda atau aksara. Di dalam budaya Indonesia, (Bali, Jawa, Sunda, dan beberapa daerah lainnya) aksara bukan semata-mata simbol tulisan, tetapi juga berkaitan erat dengan nilai tradisional, sejarah, dan spiritualitas. Dengan demikian, karya ini mengajak kita untuk merenungkan bagaimana tulisan, walaupun abstrak, mampu menyampaikan pesan, emosi, dan identitas budaya yang melekat, seolah menghubungkan warisan leluhur dengan energi kehidupan kontemporer.

Dollar Astawa, “Energi Aksara 2”, 2024, acrylic on canvas, 100×120

Dollar Astawa, “Energi Aksara 1”, 2024, acrylic on canvas, 100×120

Teknik melukis Dollar Astawa di sini berhasil menyeimbangkan antara spontanitas dan perhitungan yang mendalam. Goresan yang tampak acak sebenarnya disusun sedemikian rupa sehingga menciptakan “ritme” visual dan kesan gerakan yang konstan. Persepsi gerakan ini tidak hanya mencerminkan keaktifan fisik dalam proses melukis. Namun, juga dapat ditafsirkan sebagai perwujudan dari ritual dan energi transendental – yang sering kali menjadi inspirasi seniman dalam karya-karya mereka. Keterkaitan antara proses ritual, energi, dan bentuk visual sering terlihat dalam karya-karya Dollar Astawa lain yang mengusung tema serupa, seperti yang termaktub dalam pameran-pamerannya, baik yang di Bali maupun Jakarta atau tempat lain.

Selanjutnyan  mari simak karya Dollar “Enerji Aksara 2”. Ini  merupakan eksplorasi mendalam antara energi visual dan simbolisme budaya yang tersaji melalui bahasa abstrak. Di atas kanvas berukuran 100 x 120 cm, karya ini dibuat dengan teknik akrilik yang menghasilkan tekstur berlapis dan marbled. Terlihat  sapuan kuas yang dinamis—terutama dominasi garis-garis hitam dan putih—menimbulkan kesan gerakan yang intens dan spontan. Kontras antara elemen gelap dan terang tidak hanya menonjolkan kekuatan visual, tetapi juga membangkitkan perasaan mengalami arus energi yang mengalir dari satu lapisan ke lapisan lainnya.

Guratan-guratan tegas dan sapuan kuas yang tampak acak dalam karya ini menyiratkan adanya perpaduan antara spontanitas dan perhitungan artistik. Setiap goresan seolah menjadi representasi dari bahasa simbolik –  seperti sudah dijelaskan di atas, “aksara” tidak hanya berarti huruf atau tulisan, melainkan juga ritual dan makna filosofis. Intensitas gerak yang terlihat mengingatkan penikmat pada ritme kegiatan ritual masyarakat Bali, di mana tiap lapisan persiapan upacara (atau yang dikenal dengan konsep “metanding”) menjadi bentuk manifestasi atas energi yang mengalir.

Dalam melukis, Dollar Astawa yang kerap disebut dengan pendekatan “Layers Dimension”tampak jelas dalam “Enerji Aksara 2”. Pendekatan ini mengharuskan penekanan pada pengaplikasian lapisan demi lapisan cat yang membangun kedalaman visual – sekaligus menyampaikan pengalaman emosional yang kaya. Proses layering ini menyamakan pengalaman visual dengan proses spiritual, seolah-olah tiap lapisan merupakan medicinal partikel dari energi ritual yang menjadi sumber inspirasi—dimana tiap goresan berperan layaknya aksara yang memuat pesan dan energi transendental.

Sisi simbolis dari karya ini pun mengundang penafsiran berlapis. Judul “Enerji Aksara 2” mengisyaratkan bahwa karya ini adalah kelanjutan dari pencarian untuk mengalirkan energi melalui medium visual yang disamakan dengan aksara atau tulisan sakral. Hal ini mengajak penonton untuk tidak hanya melihat, melainkan juga “membaca” setiap lapisan, mendekode interaksi antara bentuk, tekstur, dan gerakan—sebuah dialog antara kekuatan alam, tradisi ritual, dan ekspresi kreatif kontemporer.

Selanjutnya mari kita coba analisis karya Dollar Astawa yang bertajuk ‘Pesan Leluhur 1’, 2024. Tampak sebagai usaha untuk menyapa ruang antara tradisi estetika Bali dengan bahasa visual kontemporer. Dalam lukisan ini, penggunaan warna-warna gelap – terutama nuansa hitam – tidak hanya menciptakan kedalaman visual, tetapi juga mengingatkan pada misteri serta kekuatan ritual yang diwariskan secara turun-temurun. Sapuan kuas yang energik dan percikan warna menciptakan irama yang seolah-olah mengisahkan pergerakan doa dan tari sakral, sekaligus mengajak penikmatnya untuk membaca pesan yang tersembunyi di antara garis-garis abstrak.


Teknik pemakaian lapisan pada kanvas mengundang kita untuk merenungkan keseimbangan antara keteraturan dan kekacauan. Di satu sisi, terdapat struktur yang tegas dalam bentuk sapuan kuas yang jelas dan intens; di sisi lain, terdapat elemen kekacauan yang dihasilkan oleh percikan warna dan tekstur latar, menciptakan ruang kosong namun sarat makna. Kombinasi ini seolah menyimbolkan perjalanan spiritual: proses di mana tradisi dan pengalaman kontemporer saling bertemu, memberikan ruang bagi penebusan dan penemuan makna baru.


Dollar Astawa tampak memanfaatkan simbolisme yang dalam untuk menyampaikan pesan akar tradisi yang tertanam di jiwanya.. Meskipun karya ini tidak menampilkan figuratif tradisional, namun kekayaan tekstur dan penggunaan warna menyiratkan spiritual, mantra, serta kearifan lokal yang menembus batas waktu. Setiap lapisan eka warna dan tekstur bisa ditempuh sebagai jejak-jejak ingatan kolektif, yang mengundang penikmat untuk merenungi kembali nilai-nilai spiritual dan identitas budaya Bali yang mendalam.


Dollar Astawa, “Pesan leluhur 2”, 2024, acrylic on canvas, 100×120

Menurut saya, karya ini lebih dari sekadar tampilan estetika, ‘Pesan Leluhur 1’ ini, mengajak kita untuk merasakan getaran emosional yang intens. Gerakan yang dinamis dan unik seolah menyuarakan hiruk kehidupan yang penuh dengan ambiguitas – antara keheningan sakral dan dinamika energi alam. Secara intuitif, penikmat mungkin menemukan diri mereka larut ke dalam dialog batin mengenai perjalanan hidup, transformasi, dan komunikasi dengan kekuatan yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Selain karya-karya di atas, selanjutnya mari kita simak karya Dollar Astawa yang bertajuk ‘Keseimbangan 1’. Karya ini berukuran 155 x 100 cm dan dibuat dengan teknik akrilik di atas kanvas. Secara keseluruhan, terlihat adanya tarian antara garis-garis hitam yang berputar dan area putih yang memberikan ruang terbuka. Meskipun terdapat elemen-elemen yang tampak acak atau bahkan “kacau” – penataan bentuk dan warna ini menciptakan sebuah keseimbangan dinamis. Kontras antara kekuatan garis hitam dan kelembutan ruang putih memberikan kesan visual yang merujuk pada konsep dualitas – antara kekacauan dan ketertiban – yang kemudian menguatkan makna karya, tepat seperti judul “Keseimbangan” itu sendiri.

Terlihat, DollarAstawa menerapkan teknik pelapisan (layering) secara intens, di mana tiap sapuan kuas dan percikan cat dibangun secara bertahap. Proses ini menciptakan dimensi mendalam dengan berbagai tekstur yang tampak menonjol di permukaan kanvas. Sapuan kuas yang eksplisit serta penggunaan intens dari media akrilik memungkinkan terciptanya gradasi, mulai dari tepi yang halus hingga area yang lebih kasar – seakan-akan menangkap momentum gerakan. Ini mengisyaratkan pendekatan ekspresif yang mengutamakan emosi dan gerakan spontan – sebuah teknik yang juga mencerminkan ritual dan energi budaya Bali yang sering dijadikan sumber inspirasi oleh Dollar Astawa.

Di balik kesan visual yang dinamis, karya “Keseimbangan 1” mengajak penikmat untuk merenungkan konsep kehidupan yang selalu bergerak dan berubah. Keseimbangan yang tampak bukan hanya soal estetika, tetapi juga merupakan perwujudan dari pergulatan batin perupanya antara kekacauan dan ketertiban – suatu refleksi akan perjalanan spiritual manusia. Teknik penggunaan lapisan dan tekstur mengisyaratkan bahwa setiap elemen dalam hidup memiliki peran dan makna tersendiri, meskipun pada awalnya tampak bertolak belakang. Melalui karya ini, Dollar Astawa tampaknya ingin mengajak kita menemukan harmoni di tengah ketidakpastian dan dinamika kehidupan sehari-hari.

Secara keseluruhan, karya “Enerji Aksara 1”, “Enerji Aksara 2”, “Pesan Leluhur 1”, dan “Keseimbangan 1”  serta karya-karya ‘eka warnanya’ tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi estetika, tetapi juga sebagai medium untuk mengajak penikmatnya merasakan proses spiritual yang sering disinggung dalam tradisi Bali. Dollar Astawa berhasil memadukan kekuatan visual dengan kedalaman makna sehingga setiap elemen—dari sapuan kuas, lapisan tekstur, hingga penggunaan kontras—menjadi jalinan puitis yang menceritakan tentang perpaduan antara energi, ritual, dan komunikasi simbolis. Karya ini mengundang kita untuk masuk lebih jauh ke makna-makna yang tersembunyi di balik tiap lapisan – seakan membaca sebuah kitab rahasia tentang dinamika kehidupan dan budaya.

Dollar Astawa, “Pesan leluhur 1”, 2024, acrylic on canvas, 100×120

Dollar Astawa, “Keseimbangan 3”, 2024, acrylic on canvas, 100×155

Masih banyak lagi karya ‘eka warna’ Dollar Astawa yang mempergunakan teknik serupa. Karya-karya Dollar ini mengundang penikmat untuk tidak hanya melihat – tetapi juga  merasakan dan menafsirkan setiap garis, tekstur, dan ruang yang disajikan. Dalam konteks yang lebih luas, karya-karyanya menekankan betapa seni dapat menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas, mengundang dialog mendalam tentang identitas serta perpaduan antara energi alam dan kekuatan simbolik aksara.

Pembahasan mengenai teknik dan penggunaan simbolisme dalam karya Dollar Astawa membuka ruang untuk mengeksplorasi bagaimana metode improvisasi dalam seni rupa. Ini dapat menciptakan pengalaman estetik yang penuh emosi dan makna. Mungkin menarik untuk melihat bagaimana elemen-elemen ini tidak hanya merefleksikan ekspresi pribadi seniman, tetapi juga mengundang kita, sebagai penikmat seni – untuk menemukan “energi” dan “pesan” yang tersembunyi di balik tiap lapisan lukisan.

Salah satu aspek unik dari tekniknya adalah bagaimana ia mengambil inspirasi dari ritual-ritual Hindu Bali. Dalam tradisi Bali, ada konsep “metanding”, yaitu menyusun sarana upakara dalam lapisan-lapisan yang berkesinambungan. Astawa menerjemahkan konsep ini ke dalam seni lukisnya dengan menciptakan komposisi yang ramai namun tetap memiliki keseimbangan dan harmoni. Selain itu, ia tak pernah lupa melakukan ritual keagamaan di hari-hari raya agama dan tradisinya.  

Ini, menurutnya membantu membawa energi baru ke dalam proses kreatifnya. Menurutnya, ini tidak hanya menghasilkan karya yang kaya secara visual, tetapi juga memiliki dimensi spiritual yang mendalam. Dalam praktiknya, Astawa menggunakan guratan khas yang mencerminkan gerakan spontan namun tetap terkendali. Ia juga sering bekerja dengan panel kanvas yang disusun dalam beberapa bagian, seperti dalam beberapa karyanya, yang terdiri dari tiga panel kanvas berukuran besar.

Menelaah karya-karya Dollar, saya seperti diingatkan kembali proses kreatif (bukan visualnya) para perupa internasional, seperti Jackson Pollock, Wassily Kandinsky, Piet Mondrian, Kazimir Malevich, dan lain sebagainya. Seperti kita ketahui, pada awal abad ke-20, perubahan besar terjadi dalam dunia seni ketika seniman mulai mempertanyakan tujuan seni itu sendiri. Pionir seperti Wassily Kandinsky mulai mengemukakan bahwa warna dan bentuk mempunyai kemampuan untuk menyentuh jiwa manusia secara langsung tanpa harus mengandalkan representasi objek yang nyata.

Mari coba kita simak karya lukisan Wassily Kandinsky, Improvisasi nomor 28 versi kedua. Ini adalah lukisan abstrak yang menggunakan warna dan bentuk seperti musik. Lukisan tersebut tidak sepenuhnya abstrak, tetapi memiliki sedikit nuansa alam. Karya Kandinsky ini mencerminkan kekacauan pada masanya, mengisyaratkan perang dan kisah-kisah kitab suci. Penggunaan warna dan garis yang inovatif menciptakan musikalitas dalam lukisan itu. Lukisan lain karya Kandinsky yang menarik adalah Improvisasi No. 30 (Cannons). Ini adalah lukisan cat minyak yang dibuat antara tahun 1911 dan 1913.

Wassily Kandisky, “Improvisation No.30” , 1911, oil on canvas, 111 x 111.3 cm

Wassily Kandisky, “Improvisation 28” , 1912, oil on canvas, 112.6 x 162.5 cm

Banyak pengamat mengatakan, Kandinsky, dengan karya-karyanya yang berjudul “Improvisations” dan “Compositions”, menunjukkan bahwa seni bisa beroperasi dalam ranah spiritual dan emosional . Selain itu, ada juga perupa Kazimir Malevich. Ia memperkenalkan konsep suprematisme melalui karya-karya seperti “Black Square”, yang menyuarakan gagasan tentang “ruang murni” tanpa ikatan pada bentuk realitas . Sementara itu, Piet Mondrian juga berkontribusi melalui perkembangan aliran neoplastisisme, di mana ia mereduksi bentuk-bentuk visual menjadi garis vertikal dan horizontal dengan warna primer sebagai simbol keteraturan yang abstrak .

Namun, bagi saya, karya-karya Dollar Astawa lebih dekat dengan karya-karya Jackson Pollock. Seperti kita ketahui, selama akhir tahun 1940-an, Jackson Pollock mengembangkan teknik yang membuatnya paling dikenal – lukisan tetes atau ‘drip painting’. Pada saat di wawancara oleh William Wright (radio Sag Harbor) pada awal 1950-an – Jackson Pollock menekankan penggunaan media nontradisional dalam drip painting-nya.

Secara khusus, ia mengungkapkan bahwa ia memanfaatkan cat enamel. Sebab Cat enamel memiliki kekentalan yang memungkinkan cairan tersebut mengalir dan menetes secara spontan di atas kanvas yang ia letakkan di lantai, ketika dipecahkan dengan gerakan fisik. Sifat ini mendukung proses “action painting” di mana kecepatan dan fisikalitas tercermin dalam jejak-jejak tinta atau cat yang tertinggal. “Dengan cara ini saya dapat berjalan di sekitarnya, bekerja dari keempat sisi dan benar-benar berada dalam lukisan”tutur Pollock pada Wright.

”Bagi Pollock, proses meneteskan, menuangkan, dan memercikkan memberinya kombinasi antara peluang dan kendali. Potongan-potongan kecil kehidupan sehari-hari seolah-olah juga masuk ke dalam komposisi. Untuk mencari sesuatu yang dapat mengikuti lukisan tetesnya, Pollock mulai bekerja dalam warna hitam dan putih, yang merupakan cara Convergence dimulai. Tidak puas dengan hasilnya, ia menambahkan warna sebagai cara untuk menyelamatkan karyanya. Pada tahun 1952, para kritikus memperdebatkan apakah ia berhasil atau tidak. Namun, saat ini, Convergence dianggap sebagai salah satu mahakarya seniman tersebut.

Jackson Pollock, “Convergence” , 1952, oil on canvas, 93.5 x 155

Beberapa karya Jackson Pollock yang sepenuhnya matang – dibuatnya antara tahun 1942 dan 1947. Ia menggunakan ikonografi khas yang ia kembangkan sebagian sebagai respons terhadap Surealisme. Karya-karya terobosan Pollock muncul dari pertemuan abstraksi dan figuratif ini, yang umumnya dianggap sebagai abstraksi murni dan dibuat selama periode yang meledak-ledak antara akhir tahun 1947 dan 1950, seperti dalam Number 18 (1950). Selama periode waktu ini, Jackson Pollock mulai menggunakan cat berbasis resin sintetis, yang pada saat itu merupakan media baru. Teknik Pollock dalam menuangkan dan meneteskan cat dianggap sebagai salah satu asal mula istilah lukisan aksi.

Dengan teknik ini, Pollock mampu mencapai cara yang lebih cepat dalam menciptakan karya seni, cat kini benar-benar mengalir dari alat yang dipilihnya ke kanvas. Dengan menentang konvensi melukis di permukaan tegak, ia menambahkan dimensi baru dengan mampu melihat dan mengaplikasikan cat ke kanvasnya dari segala arah. Hal ini, teknik ‘drip painting’ Pollock – juga dipergunakan oleh Dollar Astawa.

Begitulah penelisikan saya pada karya-karya ‘eka warna’ Dollar Astawa. Kontras antara warna hitam yang dominan dan ruang putih yang memberikan ruang kosong dapat dimaknai sebagai simbol interaksi antara ketegangan dan ketenangan, antara energi dan refleksi, atau antara kekacauan dan keteraturan. Ini mencerminkan prinsip keseimbangan dalam filsafat Timur—mirip dengan konsep yin dan yang – di mana keberadaan satu elemen bergantung pada kehadiran lawannya untuk menciptakan kesatuan.

“Keberadaan tentang ritual atau proses keagamaan,  merupakan metode saat saya menciptakan karya seni. Yang di dalam nya mengandung tentang pengetahuan, kekhusukan,keriuhan ,etika, moral, spiritual,dan logika,  hal ini lah yang menjadi filosofi saya dalam berkesenian. Dimana saya berusaha menampilkan energi itu semua lewat garis, warna, komposisi, dan ekpresi di dalam karya saya”, ujar Dollar Astawa suatu saat.

Dollar Astawa, “Keseimbangan 2”, 2024, acrylic on canvas, 100×155

Dollar Astawa, melalui karya-karyanya tampaknya ingin menunjukkan bahwa dualitas (rwa bhineda) bukanlah suatu hal yang kaku atau diam, tetapi merupakan interaksi dinamis antara berbagai elemen yang saling berkontribusi dalam membentuk harmoni. Sebab, “Rwa Bhineda” juga mencerminkan prinsip keseimbangan dan harmoni antara manusia, alam, dan kosmos. Dollar memang acap menyisipkan konten spiritual pada karya-karyanya. Begitulah yang ‘diucapkan’ Dollar Astawa melalui karya-karya ‘Eka warna’nya (‘hitam-putih’nya). [T]

  • Sejumlah referensi diambil dari sejumlah sumber

Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA
Mengkaji Puisi Picasso : Tekstualisasi Karya Rupa Pablo Picasso
‘Prosa Liris Visual’ Made Gunawan
‘Puisi Visual’ I Nyoman Diwarupa
Satire Visual Wayan Setem
‘Semiotika Senirupa’ Ardika
Tags: Dollar AstawaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Waktu Terbaik Mengasuh dan Mengasah Kemampuan Anak: Catatan dari Kakawin Nītiśāstra

Next Post

Sulaman Sejarah dan Alam dalam Peed Aya Duta Buleleng untuk PKB 2025

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
Sulaman Sejarah dan Alam dalam Peed Aya Duta Buleleng untuk PKB 2025

Sulaman Sejarah dan Alam dalam Peed Aya Duta Buleleng untuk PKB 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co