1 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [11]: Dosen Tak Kasat Mata

Chusmeru by Chusmeru
April 17, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

CERITA maupun kabar tentang kampus di kaki Gunung Slamet, Purwokerto, Jawa Tengah, yang angker dan menyeramkan bukan rahasia lagi. Semua dosen, pegawai, dan mahasiswa pernah mendengarnya. Hampir semua ruangan di kampus menyimpan misteri.

Begitu pula yang didengar Mita Setiani. Dosen cantik ini kerap mendengar suasana kampus yang menimbulkan bulu kuduk berdiri. Awalnya ia tak mempercayai itu. Meski saat kecil di daerah asalnya Tasikmalaya juga sering mendengar cerita tentang hantu yang bergentayangan di kampung.

Sampai saat ini Mita Setiani belum pernah mengalami kejadian aneh saat berada di kampus. Mungkin karena dia tidak punya bakat untuk melihat hantu. Konon, hanya orang-orang tertentu saja yang memiliki kepekaan untuk dapat melihat mahluk tak kasat mata.

Suasana seram memang ia rasakan ketika melewati sungai kecil di dalam kampus, saat gerimis sore hari dan ia harus mengajar di ruangan yang bersebelahan dengan pohon besar. Kadang ia juga merasakan aura yang kurang enak ketika berjalan di halaman belakang kampus. Namun sekali pun ia tak pernah berjumpa dengan makhluk halus di kampus.

Sudah pasti ia tidak ingin mengalami hal-hal magis yang pernah dirasakan oleh dosen-dosen seperti Pak Kusmedi, Aldo Nugroho, Wisnawan Wijaya, Ibu Dewi Pangesti, Elisabeth Nunce, Asifa Furoda, maupun Ayik Rosita. Mereka semua pernah menjumpai hal-hal yang misterius dan menyeramkan di kampus.

Apalagi Mita Setiani untuk semester ini banyak mengampu mata kuliah, mulai dari semester pertama hingga semester tujuh. Jadwalnya sangat padat. Mulai dari jadwal mengajar pagi sampai malam. Ruangan kuliahnya pun berganti-ganti. Karenanya ia berharap tidak menjumpai hal aneh di kampus, sehingga ia bisa fokus mengajar.

Pagi ini Mita mengajar mata kuliah Komunikasi Digital di ruang 7. Dua hal membuat Mita semangat mengajar. Pertama, mata kuliah ini sangat kekinian. Banyak isu menarik yang dapat dikaitkan dengan Komunikasi Digital. Kedua, ruang 7 merupakan kelas yang sangat nyaman untuk kuliah. Disain ruangan sangat artistik, fasilitas lengkap, seperti meja kursi baru, AC, dan smart TV.

Di mata mahasiswa, Mita dikenal sebagai dosen yang ramah, gaya bicaranya menarik; apalagi diwarnai dengan logat Sunda. Mita selalu mengajarkan kepada mahasiswa untuk selalu optimis dalam melakukan sesuatu. Apalagi di era digital ini, banyak tantangan yang akan dihadapi dalam kehidupan. Bagi mahasiswa, Mita Setiani adalah motivator yang tak henti memompa semangat untuk meraih cita-cita.

                                           ***

Pertemuan pagi ini membahas tentang efek digitalisasi pada generasi Alpha dan Beta nantinya. Saat tengah asyik menayangkan materi kuliah, tiba-tiba telepon genggam Mita berdering. Mita minta izin kepada mahasiswa untuk keluar ruangan menerima telepon. Dalam kontrak kuliah di awal pertemuan Mita memang mengizinkan siapa pun untuk menerima telepon, tetapi harus di luar kelas.

Dilihatnya nomor telepon di layar ponsel Mita. Tidak ada nama dalam daftar kontak telepon Mita. Awalnya Mita malas untuk menerima telepon itu. Biasanya itu telepon dari bank atau sales yang menawarkan produknya. Tapi kali ini Mita mencoba terima telepon itu.

“Hallo… halloo.. hallo..”. 

Berkali-kali Mita mengucapkan kata hallo, namun tak ada suara yang menyahut. Hanya terdengar seperti desir angin yang lewat. Mita kembali mengucapkan hallo. Siapa tahu ada gangguan jaringan telepon. Namun tetap saja tidak ada jawaban. Mita pun menghentikan panggilan masuk itu.

Sementara itu, di dalam kelas terjadi keanehan yang menegangkan. Tayangan slide materi kuliah di layar monitor tiba-tiba bergerak dan berubah sendiri. Bukan pokok bahasan tentang komunikasi digital yang muncul di monitor, tetapi gambar perempuan cantik berwajah none Belanda. Kulitnya putih, rambutnya pirang.

Semua mahasiswa terkejut. Begitu pun dengan Mita yang kembali ke dalam kelas. Dilihatnya slide materi kuliah berubah sendiri. Siapakah yang menggerakkan tayangan materi kuliah dari laptopnya? Apakah ada makhluk tak kasat mata yang memainkan laptop? Namun ketika Mita melihat monitor laptopnya, gambar perempuan itu tidak muncul. Yang ada materi kuliah. Pikiran Mita jadi mengarah pada obrolan dosen-dosen tentang hantu di kampus.

Mita dan mahasiswa bukan hanya terkejut. Mereka juga dicengkeram ketakutan. Gambar none Belanda yang ada di layar monitor mendadak bergerak. Perempuan pirang itu tersenyum dan melambaikan tangan kepada peserta kuliah. Namun sorot matanya tampak sayu, tidak seperi layaknya manusia biasa. Mita merinding. Bahkan ada mahasiswi yang berteriak histeris karena ketakutan.

Mita segera mencabut kabel layar monitor. Ia juga mematikan laptopnya. Gambar perempuan bule Belanda itu hilang dari pandangan. Namun suasana perkuliahan masih menegangkan. Mita mencoba menenangkan mahasiswa. Padahal dirinya sendiri diliputi ketakutan luar biasa. Baru pertama kali Mita mengalami hal misterius dalam perkuliahan.

Ternyata betul kata banyak orang. Kampus tempatnya mengajar memang angker. Bagaimana mungkin ada dosen tak kasat mata yang mengubah dan menggerakkan slide materi kuliah. Apalagi yang muncul bukan pokok bahasan materi kuliah, tetapi perempuan dengan dandanan bule Belanda di masa lalu.

Kuliah pun dilanjutkan kembali. Baru sepuluh menit kuliah berjalan, telepon genggam Mita kembali berdering. Kali ini dengan nomer yang berbeda, tetapi masih dengan kode+62. Artinya itu telepon dari wilayah Indonesia. Mita enggan untuk mengangkat; tetapi kembali berdering. Siapa tahu nomer dari rekan kerjanya di Jakarta yang belum disimpan. Ia pun segera mengangkatnya.

Mita terkaget bukan kepalang. Terdengar suara perempuan tertawa. Nada tawanya aneh. Tak pernah Mita mendengar suara tawa itu. Tidak ada teman maupun saudara Mita yang tertawa seperti itu. “Apakah itu suara perempuan Belanda yang tadi muncul di slide materi kuliah?” pikirnya. Ia pun mematikan telepon genggamnya.

Belum habis kekagetannya, terdengar suara riuh di kelas. Slide di monitor kembali berubah dari materi kuliah yang sedang ditayangkan. Kali ini bukan sosok perempuan yang muncul, tetapi gambar kerkhof atau kuburan Belanda di masa lalu. Mahasiswa dicekam ketakutan. Tak ingin suasana kuliah diteror hantu Belanda, Mita segera mematikan kembali laptopnya dan mengakhiri perkuliahan.

                                  ***

Peristiwa di ruang 7 bukan hanya terjadi sekali. Saat Mita mengajar mata kuliah lain, teror serupa kembali terjadi. Kuliah Dasar-Dasar Kehumasan baru berjalan 30 menit. Mita baru menayangkan beberapa slide materi kuliah. Telepon genggam Mita berdering. Ia ragu antara mematikan atau mengangkat telepon itu. Dengan perasaan berdebar, ia angkat telepon itu di luar kelas.

Bukan suara desiran angin, bukan pula suara perempuan. Sekarang yang terdengar suara anak-anak yang sedang bermain. Dari logat bicara yang Mita dengar, sepertinya bukan logat bahasa Indonesia maupun bahasa daerah di Indonesia. Mita menduga itu suara anak-anak dengan logat bahasa Belanda. Tidak mau dilanda kengerian, Mita mematikan telepon itu.

Suara gaduh terjadi di kelas. Mita segera masuk. Seperti pada kuliah sebelumnya, slide di monitor berubah sendiri. Power point tentang materi kehumasan berubah seolah ada dosen yang menggesernya. Kali ini tampak gambar anak-anak bule sedang bermain. Yang membuat mengerikan, gambar itu bergerak seperti film. Anak-anak berambut pirang sedang bermain-main di kuburan Belanda.

Mita tak habis pikir, mengapa ia selalu menjadi incaran makhluk halus dari Belanda itu. Ia tanyakan kepada dosen lain, apakah pernah mengalami kejadian aneh di ruang 7. Semua mengatakan tidak pernah. Semua dosen bilang ruang 7 tempat yang sejuk untuk kuliah. Tetapi mengapa Mita berkali-kali mengalami kejadian menyeramkan?

Mita mencoba menghubungi tantenya di Tasikmalaya. Tante Mita dikenal sebagai paraji atau dukun yang membantu proses persalinan secara adat di Sunda. Biasanya paraji diwariskan secara turun-temurun dan memiliki kemampuan supranatural. Mita menceritakan apa yang ia alami di kampus setiap kali mengajar di ruang 7. Padahal dosen-dosen lain tak pernah mendapat gangguan di ruang itu. Mendengar cerita Mita, tantenya tertawa.

“Ya pantas saja kamu diganggu. Itu hantu-hantu orang Belanda zaman dahulu ketika masa penjajahan,” kata tantenya.

“Tapi kenapa mereka muncul di ruang 7?” tanya Mita.

“Dulu ruang 7 itu adalah bekas kuburan orang Belanda,” jawab tantenya membuat Mita merinding.

“Kenapa hanya saya yang diganggu?” tanya Mita lagi. Tantenya lagi-lagi tertawa.     

“Apa kamu nggak ingat? Kakek buyut Mita kan ada yang menikah dengan none Belanda,” terang tantenya.  

Mita tertegun. Ia baru sadar bahwa kakek buyutnya ada yang beristri orang Belanda. Jadi ia masih ada garis keturunan Belanda. Tetapi apa hanya karena itu ia diganggu dalam perkuliahan?

“Bagaimana caranya agar saya tidak diganggu terus saat kuliah,” tanya Mita penasaran.

“Coba saja, setiap kuliah kamu bawa coklat. Taruh coklat itu di sudut ruang kuliah. Itu bukan sesaji. Bukan juga untuk mengusir roh halus orang Belanda itu. Coklat itu sebagai tanda kasih sayang kamu kepada mereka, sehingga mereka tidak mengganggumu,” jawab tantenya.

Mita terdiam sejenak. Ia tak ingin menyanggah apa yang dikatakan tantenya. Tidak juga ingin bertanya lagi. Meski Mita tak habis pikir, apa hubungan antara coklat dengan roh halus orang Belanda. Baginya yang penting adalah kuliah dengan tenang.

Mita menurut apa yang dikatakan tantenya. Saat kuliah berikutnya Mita membawa dua potong coklat yang ia beli di minimarket. Ditaruhnya coklat itu di sudut ruang kuliah. Benar kata tantenya. Sepanjang perkuliahan tidak ada dering di telepon genggamnya. Juga tidak ada gangguan pada slide materi kuliah di monitor.

Suasana perkuliahan berjalan dengan lancar dan tenang. Tak ada lagi ketakutan mahasiswa selama kuliah. Mita juga merasa lega. Meskipun setiap kuliah ia harus membawa coklat. Harapannya, semester depan dia tidak mengajar di ruang 7 lagi. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Kampusku Sarang Hantu [10]: Cemburu pada Khodam Perempuan
Kampusku Sarang Hantu [9]: Mahasiswi yang Duduk di Pojok Kantin
Kampusku Sarang Hantu [8]: Mobil Bergoyang Tengah Malam
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam
Kampusku Sarang Hantu [2]: Suara Misterius di Ruang Dosen
Kampusku Sarang Hantu [3]: Kuntilanak Beterbangan di Proyek Bangunan
Kampusku Sarang Hantu [4]: Mahasiswa Kesurupan di Ruang Kuliah
Kampusku Sarang Hantu [5]: Tangisan dari Gudang Tua
Kampusku Sarang Hantu [6]: Akik Keramat Dosen
Kampusku Sarang Hantu [7]: Suara Printer dan Keran Air Mengucur
Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterifiksihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tukin Bathin: Mengurai Sengkarut Permasalahan Tukin Dosen

Next Post

METASTOMATA: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin  di Neka Art Museum, Ubud

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Takut Galungan

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
0
Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

by Chusmeru
June 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

Read moreDetails
Next Post
METASTOMATA: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin  di Neka Art Museum, Ubud

METASTOMATA: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin  di Neka Art Museum, Ubud

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia
Khas

The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia

SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna,...

by Angelique Maria Cuaca
July 1, 2026
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta
Ulas Pentas

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
Dua Belas Manifesto Aliansi Cipayung Plus untuk Dewan Perwakilan Rakyat
Politik

Dua Belas Manifesto Aliansi Cipayung Plus untuk Dewan Perwakilan Rakyat

DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu...

by Jaswanto
July 1, 2026
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama
Ulas Buku

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata
Esai

Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali....

by Agung Sudarsa
July 1, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi
Ulas Rupa

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana,...

by Mahesa Putra
June 30, 2026
Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise
Esai

Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat,...

by Iko Amadeus
June 30, 2026
Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan
Khas

Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan

Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi...

by Wahyu Mahaputra
June 30, 2026
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja
Ulas Pentas

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan
Esai

Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah...

by Wayan Gde Yudane
June 30, 2026
‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya
Ulas Rupa

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu,...

by Hartanto
June 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co