2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

CCTV atau Pos Polisi? — Membicarakan Jembatan Tukad Bangkung Agar Tak Jadi Panggung Ulah Pati

Arix Wahyudhi Jana Putra by Arix Wahyudhi Jana Putra
April 19, 2025
in Esai
CCTV atau Pos Polisi? — Membicarakan Jembatan Tukad Bangkung Agar Tak Jadi Panggung Ulah Pati

Ilustrasi tatkala.co | Arix

JEMBATAN Tukad Bangkung megah di Plaga, Badung, Bali. Itu jembatan yang indah saat dilihat dari kejauhan, dan kerap didekati, dijadikan tempat singgah, seperti halnya obyek wisata.

Tapi belakangan jembatan ini lebih dikenal sebagai “jembatan kematian”, karena jembatan itu menjadi obyek dari tragedi-tragedi memilukan yang dialami manusia, Di situ terjadi sejumlah insiden tragis bunuh diri atau yang lebih dikenal dengan istilah ulah pati.

Insiden itu telah mencoreng keindahan tempat ini. Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat seringkali dikejutkan dengan laporan mengenai korban yang melompat dari jembatan.

Tragedi-tragedi ini tentu saja menyisakan pertanyaan besar bagi kita. Apa yang bisa dilakukan untuk mencegahnya?

Jembatan yang seharusnya menjadi saksi bisu perjalanan, justru menjadi tempat bagi mereka yang ingin mengakhiri hidupnya. Dan seperti biasa, begitu tragedi terjadi muncullah wacana untuk mencari solusi. Salah satu usulan yang muncul adalah rencana pemasangan CCTV oleh Pemerintah Kabupaten Badung, dengan anggaran mencapai Rp34 miliar.

Namun, apakah benar solusi teknologi ini cukup untuk mencegah terjadinya tragedi lebih lanjut? Atau mungkin, ada solusi lain yang lebih manusiawi dan lebih efektif?

Ketika mendengar kabar bahwa Pemerintah Kabupaten Badung akan menganggarkan sekitar Rp34 miliar untuk pemasangan CCTV di berbagai lokasi wisata badung yang strategis, termasuk Jembatan Tukad Bangkung, reaksi publik beragam.

Ada yang berdecak kagum karena teknologi canggih itu akan membantu memantau keamanan. Namun, tak sedikit pula yang bertanya-tanya, apakah CCTV benar-benar solusi paling tepat untuk mengatasi tragedi ulah pati  yang sering terjadi di jembatan ini?

Bagi mereka yang akrab dengan komentar warganet di media sosial atau YouTube, wacana ini sudah menjadi ladang perdebatan. Banyak yang merasa anggaran sebesar itu lebih baik digunakan untuk membangun pos polisi, memasang pagar besi dengan kawat berduri, atau bahkan membiayai penjaga manusia yang siaga di ujung-ujung jembatan.

“Kenapa harus CCTV? Emangnya CCTV bisa mencegah orang melompat?” begitu kira-kira sindiran yang sering muncul di kolom komentar.

Mari kita bedah satu per satu. CCTV memang punya keunggulan, memantau secara real-time, merekam aktivitas mencurigakan, dan memberikan data visual untuk diolah lebih lanjut. Tapi, pertanyaannya, apa yang bisa dilakukan oleh kamera saat seseorang sudah berdiri di tepi jembatan dengan niat untuk mengakhiri hidup? Apakah kamera itu bisa berbicara dan membujuk mereka untuk turun?

Atau mungkin kamera canggih ini dilengkapi fitur hologram polisi yang bisa mendadak muncul dan berkata, “Tunggu, pikirkan lagi keputusanmu!”

Atau yang lebih miris lagi, apakah kamera itu bisa menjadi bukti dokumenter kematian yang cantik, agar bisa dijadikan konten oleh para creator pengais rejeki di kala musibah terjadi?

Kenyataan di lapangan jauh lebih kompleks. Kamera hanya bisa menangkap gambar, sementara aksi nyata membutuhkan kehadiran manusia. Di sinilah gagasan untuk membangun pos polisi di dekat jembatan menjadi relevan. Pos polisi tidak hanya berfungsi sebagai tempat petugas bertugas, tetapi juga memberikan rasa aman bagi masyarakat.

Kehadiran polisi di lapangan bisa menjadi deterrent yang efektif bagi mereka yang berniat melompat. Bayangkan saja, seorang petugas dengan seragam lengkap, berdiri di ujung jembatan, tentu akan membuat siapa pun berpikir dua kali.

Namun, mari kita tidak terlalu terburu-buru menyimpulkan bahwa pos polisi adalah solusi tunggal. Alternatif lain seperti pemasangan pagar besi dengan kawat berduri juga patut dipertimbangkan. Memang, pagar ini tidak sepenuhnya mencegah aksi bunuh diri, tetapi setidaknya memberikan waktu lebih bagi pihak keamanan untuk bertindak. Bahkan, solusi ini sudah diimplementasikan di banyak lokasi lain dengan tingkat keberhasilan yang cukup baik.

Atau kenapa pemerintah tidak memiliki program konsultasi psikiater gratis? Dana 34 miliar untuk CCTV? Rasanya kurang tepat. Kenapa psikiater gratis?

Saya mengutip beberapa sumber bahwa di Bali “Secara biologis, penyebabnya kebanyakan memang karena ada kelainan mental pada seseorang seperti depresi, skizofrenia, atau gangguan bipolar. Kondisi psikososial seperti terbelit utang, terutama saat ini adalah pinjol (pinjaman online),” kata Prof Ngoerah, Dr. dr. Anak Ayu Sri Wahyuni, dokter spesialis kejiwaan atau psikiater RSUP. Saya dapat pernyataan itu di detikBali.

Coba kalian yang membaca ini, compare pernyataan itu dengan alasan-alasan mereka yang melakukan ulah pati di Jembatan Bangkung, apakah lebih masuk akal? Harusnya.

Kembali ke pertanyaan awal, CCTV atau pos polisi? Mengapa tidak keduanya? Bayangkan ini, CCTV dipasang untuk memantau seluruh area, sementara pos polisi dilengkapi dengan petugas yang bisa merespons dengan cepat jika ada sesuatu yang mencurigakan. Kombinasi teknologi dan kehadiran manusia ini bisa menjadi solusi yang lebih holistik.

Namun, jika kita bicara soal efektivitas biaya, ide saya ini mungkin terdengar sedikit lebih “kaki di tanah.” Alih-alih menghabiskan Rp 34 miliar untuk CCTV, bagaimana kalau sedikit dana itu dialihkan untuk bayar dua penjaga jembatan yang stand by? Gaji mereka? Ah, nggak usah besar-besar. Umpama saja beri mereka Rp 1 juta per bulan. Jadi, Rp 2 juta per bulan untuk dua orang, dalam setahun cuma butuh sekitar Rp 24 juta. Nah, sisa Rp 33,976 miliar-nya bisa dipakai buat hal-hal penting lainnya.

Bisa jadi, bangun pagar pengaman yang lebih kokoh, atau, siapa tahu, memperbaiki jalanan yang bikin kita mikir dua kali saat lewat. Yang penting, ada manusia nyata di sana, bukan cuma gambar di layar. Gaji tersebut, selain jauh lebih hemat dibandingkan investasi awal CCTV, juga memberikan dampak langsung pada kehidupan masyarakat.

Bayangkan ada dua orang yang mendapatkan pekerjaan tetap, dengan tanggung jawab mulia untuk menjaga nyawa sesama. Apakah itu tidak lebih manusiawi? Tidak ada teknologi yang bisa menggantikan empati manusia, terutama dalam situasi kritis seperti ini, hahahaha, balik lagi, ini hanya opini, selebihnya kita tunggu realisasi.

Tentu saja, tulisan ini tidak bermaksud menyudutkan pihak mana pun. Saya hanya mengajak kita semua untuk berpikir sebelum melangkah. Teknologi memang penting, tetapi kehadiran manusia jauh lebih bermakna.

Dan jika masih ada yang berkata, “Ya, tapi CCTV kan lebih canggih,” saya akan menjawab: “Iya, tapi CCTV tidak bisa menepuk bahu seseorang yang sedang menangis.”

Pada akhirnya, keputusan ada di tangan pemerintah. Apakah ingin mengandalkan teknologi semata, atau memadukannya dengan pendekatan yang lebih humanis? Yang jelas, tujuan kita semua sama, mencegah tragedi dan menjaga Jembatan Tukad Bangkung tetap menjadi simbol kemegahan, bukan panggung kematian.[T]

  • Kutipan: https://www.detik.com/bali/berita/d-7415945/tingkat-bunuh-diri-di-bali-tertinggi-se-indonesia-ini-penyebabnya 
  • Pendukung Opini: https://youtu.be/QMR5a9Efbpc?si=wPccy46Tq81Z4MK1

Penulis: Arix Wahyudhi Jana Putra
Editor; Adnyana Ole

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

Bali pada Persimpangan Budaya: Bunuh Diri hingga Mahalnya Harga Buah Kelapa
Mengenal BISAHelpline, Layanan Pencegahan Bunuh Diri di Bali
Perihal Bunuh Diri dan Hakikat Neraka | Catatan Tentang Film Kembang Api
Tags: Badungbunuh diriDesa Plaga
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nikmat yang Sama  —  Ini Cerita Pawai Ogoh-ogoh Festival Jeron Beteng Yogyakarta

Next Post

Puisi-puisi Leya Kuan | Pernah Aku Menjadi Remaja

Arix Wahyudhi Jana Putra

Arix Wahyudhi Jana Putra

Gede Arix Wahyudhi Jana Putra. Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Leya Kuan | Pernah Aku Menjadi Remaja

Puisi-puisi Leya Kuan | Pernah Aku Menjadi Remaja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co