2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

CCTV atau Pos Polisi? — Membicarakan Jembatan Tukad Bangkung Agar Tak Jadi Panggung Ulah Pati

Arix Wahyudhi Jana Putra by Arix Wahyudhi Jana Putra
April 19, 2025
in Esai
CCTV atau Pos Polisi? — Membicarakan Jembatan Tukad Bangkung Agar Tak Jadi Panggung Ulah Pati

Ilustrasi tatkala.co | Arix

JEMBATAN Tukad Bangkung megah di Plaga, Badung, Bali. Itu jembatan yang indah saat dilihat dari kejauhan, dan kerap didekati, dijadikan tempat singgah, seperti halnya obyek wisata.

Tapi belakangan jembatan ini lebih dikenal sebagai “jembatan kematian”, karena jembatan itu menjadi obyek dari tragedi-tragedi memilukan yang dialami manusia, Di situ terjadi sejumlah insiden tragis bunuh diri atau yang lebih dikenal dengan istilah ulah pati.

Insiden itu telah mencoreng keindahan tempat ini. Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat seringkali dikejutkan dengan laporan mengenai korban yang melompat dari jembatan.

Tragedi-tragedi ini tentu saja menyisakan pertanyaan besar bagi kita. Apa yang bisa dilakukan untuk mencegahnya?

Jembatan yang seharusnya menjadi saksi bisu perjalanan, justru menjadi tempat bagi mereka yang ingin mengakhiri hidupnya. Dan seperti biasa, begitu tragedi terjadi muncullah wacana untuk mencari solusi. Salah satu usulan yang muncul adalah rencana pemasangan CCTV oleh Pemerintah Kabupaten Badung, dengan anggaran mencapai Rp34 miliar.

Namun, apakah benar solusi teknologi ini cukup untuk mencegah terjadinya tragedi lebih lanjut? Atau mungkin, ada solusi lain yang lebih manusiawi dan lebih efektif?

Ketika mendengar kabar bahwa Pemerintah Kabupaten Badung akan menganggarkan sekitar Rp34 miliar untuk pemasangan CCTV di berbagai lokasi wisata badung yang strategis, termasuk Jembatan Tukad Bangkung, reaksi publik beragam.

Ada yang berdecak kagum karena teknologi canggih itu akan membantu memantau keamanan. Namun, tak sedikit pula yang bertanya-tanya, apakah CCTV benar-benar solusi paling tepat untuk mengatasi tragedi ulah pati  yang sering terjadi di jembatan ini?

Bagi mereka yang akrab dengan komentar warganet di media sosial atau YouTube, wacana ini sudah menjadi ladang perdebatan. Banyak yang merasa anggaran sebesar itu lebih baik digunakan untuk membangun pos polisi, memasang pagar besi dengan kawat berduri, atau bahkan membiayai penjaga manusia yang siaga di ujung-ujung jembatan.

“Kenapa harus CCTV? Emangnya CCTV bisa mencegah orang melompat?” begitu kira-kira sindiran yang sering muncul di kolom komentar.

Mari kita bedah satu per satu. CCTV memang punya keunggulan, memantau secara real-time, merekam aktivitas mencurigakan, dan memberikan data visual untuk diolah lebih lanjut. Tapi, pertanyaannya, apa yang bisa dilakukan oleh kamera saat seseorang sudah berdiri di tepi jembatan dengan niat untuk mengakhiri hidup? Apakah kamera itu bisa berbicara dan membujuk mereka untuk turun?

Atau mungkin kamera canggih ini dilengkapi fitur hologram polisi yang bisa mendadak muncul dan berkata, “Tunggu, pikirkan lagi keputusanmu!”

Atau yang lebih miris lagi, apakah kamera itu bisa menjadi bukti dokumenter kematian yang cantik, agar bisa dijadikan konten oleh para creator pengais rejeki di kala musibah terjadi?

Kenyataan di lapangan jauh lebih kompleks. Kamera hanya bisa menangkap gambar, sementara aksi nyata membutuhkan kehadiran manusia. Di sinilah gagasan untuk membangun pos polisi di dekat jembatan menjadi relevan. Pos polisi tidak hanya berfungsi sebagai tempat petugas bertugas, tetapi juga memberikan rasa aman bagi masyarakat.

Kehadiran polisi di lapangan bisa menjadi deterrent yang efektif bagi mereka yang berniat melompat. Bayangkan saja, seorang petugas dengan seragam lengkap, berdiri di ujung jembatan, tentu akan membuat siapa pun berpikir dua kali.

Namun, mari kita tidak terlalu terburu-buru menyimpulkan bahwa pos polisi adalah solusi tunggal. Alternatif lain seperti pemasangan pagar besi dengan kawat berduri juga patut dipertimbangkan. Memang, pagar ini tidak sepenuhnya mencegah aksi bunuh diri, tetapi setidaknya memberikan waktu lebih bagi pihak keamanan untuk bertindak. Bahkan, solusi ini sudah diimplementasikan di banyak lokasi lain dengan tingkat keberhasilan yang cukup baik.

Atau kenapa pemerintah tidak memiliki program konsultasi psikiater gratis? Dana 34 miliar untuk CCTV? Rasanya kurang tepat. Kenapa psikiater gratis?

Saya mengutip beberapa sumber bahwa di Bali “Secara biologis, penyebabnya kebanyakan memang karena ada kelainan mental pada seseorang seperti depresi, skizofrenia, atau gangguan bipolar. Kondisi psikososial seperti terbelit utang, terutama saat ini adalah pinjol (pinjaman online),” kata Prof Ngoerah, Dr. dr. Anak Ayu Sri Wahyuni, dokter spesialis kejiwaan atau psikiater RSUP. Saya dapat pernyataan itu di detikBali.

Coba kalian yang membaca ini, compare pernyataan itu dengan alasan-alasan mereka yang melakukan ulah pati di Jembatan Bangkung, apakah lebih masuk akal? Harusnya.

Kembali ke pertanyaan awal, CCTV atau pos polisi? Mengapa tidak keduanya? Bayangkan ini, CCTV dipasang untuk memantau seluruh area, sementara pos polisi dilengkapi dengan petugas yang bisa merespons dengan cepat jika ada sesuatu yang mencurigakan. Kombinasi teknologi dan kehadiran manusia ini bisa menjadi solusi yang lebih holistik.

Namun, jika kita bicara soal efektivitas biaya, ide saya ini mungkin terdengar sedikit lebih “kaki di tanah.” Alih-alih menghabiskan Rp 34 miliar untuk CCTV, bagaimana kalau sedikit dana itu dialihkan untuk bayar dua penjaga jembatan yang stand by? Gaji mereka? Ah, nggak usah besar-besar. Umpama saja beri mereka Rp 1 juta per bulan. Jadi, Rp 2 juta per bulan untuk dua orang, dalam setahun cuma butuh sekitar Rp 24 juta. Nah, sisa Rp 33,976 miliar-nya bisa dipakai buat hal-hal penting lainnya.

Bisa jadi, bangun pagar pengaman yang lebih kokoh, atau, siapa tahu, memperbaiki jalanan yang bikin kita mikir dua kali saat lewat. Yang penting, ada manusia nyata di sana, bukan cuma gambar di layar. Gaji tersebut, selain jauh lebih hemat dibandingkan investasi awal CCTV, juga memberikan dampak langsung pada kehidupan masyarakat.

Bayangkan ada dua orang yang mendapatkan pekerjaan tetap, dengan tanggung jawab mulia untuk menjaga nyawa sesama. Apakah itu tidak lebih manusiawi? Tidak ada teknologi yang bisa menggantikan empati manusia, terutama dalam situasi kritis seperti ini, hahahaha, balik lagi, ini hanya opini, selebihnya kita tunggu realisasi.

Tentu saja, tulisan ini tidak bermaksud menyudutkan pihak mana pun. Saya hanya mengajak kita semua untuk berpikir sebelum melangkah. Teknologi memang penting, tetapi kehadiran manusia jauh lebih bermakna.

Dan jika masih ada yang berkata, “Ya, tapi CCTV kan lebih canggih,” saya akan menjawab: “Iya, tapi CCTV tidak bisa menepuk bahu seseorang yang sedang menangis.”

Pada akhirnya, keputusan ada di tangan pemerintah. Apakah ingin mengandalkan teknologi semata, atau memadukannya dengan pendekatan yang lebih humanis? Yang jelas, tujuan kita semua sama, mencegah tragedi dan menjaga Jembatan Tukad Bangkung tetap menjadi simbol kemegahan, bukan panggung kematian.[T]

  • Kutipan: https://www.detik.com/bali/berita/d-7415945/tingkat-bunuh-diri-di-bali-tertinggi-se-indonesia-ini-penyebabnya 
  • Pendukung Opini: https://youtu.be/QMR5a9Efbpc?si=wPccy46Tq81Z4MK1

Penulis: Arix Wahyudhi Jana Putra
Editor; Adnyana Ole

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

Bali pada Persimpangan Budaya: Bunuh Diri hingga Mahalnya Harga Buah Kelapa
Mengenal BISAHelpline, Layanan Pencegahan Bunuh Diri di Bali
Perihal Bunuh Diri dan Hakikat Neraka | Catatan Tentang Film Kembang Api
Tags: Badungbunuh diriDesa Plaga
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nikmat yang Sama  —  Ini Cerita Pawai Ogoh-ogoh Festival Jeron Beteng Yogyakarta

Next Post

Puisi-puisi Leya Kuan | Pernah Aku Menjadi Remaja

Arix Wahyudhi Jana Putra

Arix Wahyudhi Jana Putra

Gede Arix Wahyudhi Jana Putra. Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Leya Kuan | Pernah Aku Menjadi Remaja

Puisi-puisi Leya Kuan | Pernah Aku Menjadi Remaja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co