22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

CCTV atau Pos Polisi? — Membicarakan Jembatan Tukad Bangkung Agar Tak Jadi Panggung Ulah Pati

Arix Wahyudhi Jana Putra by Arix Wahyudhi Jana Putra
April 19, 2025
in Esai
CCTV atau Pos Polisi? — Membicarakan Jembatan Tukad Bangkung Agar Tak Jadi Panggung Ulah Pati

Ilustrasi tatkala.co | Arix

JEMBATAN Tukad Bangkung megah di Plaga, Badung, Bali. Itu jembatan yang indah saat dilihat dari kejauhan, dan kerap didekati, dijadikan tempat singgah, seperti halnya obyek wisata.

Tapi belakangan jembatan ini lebih dikenal sebagai “jembatan kematian”, karena jembatan itu menjadi obyek dari tragedi-tragedi memilukan yang dialami manusia, Di situ terjadi sejumlah insiden tragis bunuh diri atau yang lebih dikenal dengan istilah ulah pati.

Insiden itu telah mencoreng keindahan tempat ini. Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat seringkali dikejutkan dengan laporan mengenai korban yang melompat dari jembatan.

Tragedi-tragedi ini tentu saja menyisakan pertanyaan besar bagi kita. Apa yang bisa dilakukan untuk mencegahnya?

Jembatan yang seharusnya menjadi saksi bisu perjalanan, justru menjadi tempat bagi mereka yang ingin mengakhiri hidupnya. Dan seperti biasa, begitu tragedi terjadi muncullah wacana untuk mencari solusi. Salah satu usulan yang muncul adalah rencana pemasangan CCTV oleh Pemerintah Kabupaten Badung, dengan anggaran mencapai Rp34 miliar.

Namun, apakah benar solusi teknologi ini cukup untuk mencegah terjadinya tragedi lebih lanjut? Atau mungkin, ada solusi lain yang lebih manusiawi dan lebih efektif?

Ketika mendengar kabar bahwa Pemerintah Kabupaten Badung akan menganggarkan sekitar Rp34 miliar untuk pemasangan CCTV di berbagai lokasi wisata badung yang strategis, termasuk Jembatan Tukad Bangkung, reaksi publik beragam.

Ada yang berdecak kagum karena teknologi canggih itu akan membantu memantau keamanan. Namun, tak sedikit pula yang bertanya-tanya, apakah CCTV benar-benar solusi paling tepat untuk mengatasi tragedi ulah pati  yang sering terjadi di jembatan ini?

Bagi mereka yang akrab dengan komentar warganet di media sosial atau YouTube, wacana ini sudah menjadi ladang perdebatan. Banyak yang merasa anggaran sebesar itu lebih baik digunakan untuk membangun pos polisi, memasang pagar besi dengan kawat berduri, atau bahkan membiayai penjaga manusia yang siaga di ujung-ujung jembatan.

“Kenapa harus CCTV? Emangnya CCTV bisa mencegah orang melompat?” begitu kira-kira sindiran yang sering muncul di kolom komentar.

Mari kita bedah satu per satu. CCTV memang punya keunggulan, memantau secara real-time, merekam aktivitas mencurigakan, dan memberikan data visual untuk diolah lebih lanjut. Tapi, pertanyaannya, apa yang bisa dilakukan oleh kamera saat seseorang sudah berdiri di tepi jembatan dengan niat untuk mengakhiri hidup? Apakah kamera itu bisa berbicara dan membujuk mereka untuk turun?

Atau mungkin kamera canggih ini dilengkapi fitur hologram polisi yang bisa mendadak muncul dan berkata, “Tunggu, pikirkan lagi keputusanmu!”

Atau yang lebih miris lagi, apakah kamera itu bisa menjadi bukti dokumenter kematian yang cantik, agar bisa dijadikan konten oleh para creator pengais rejeki di kala musibah terjadi?

Kenyataan di lapangan jauh lebih kompleks. Kamera hanya bisa menangkap gambar, sementara aksi nyata membutuhkan kehadiran manusia. Di sinilah gagasan untuk membangun pos polisi di dekat jembatan menjadi relevan. Pos polisi tidak hanya berfungsi sebagai tempat petugas bertugas, tetapi juga memberikan rasa aman bagi masyarakat.

Kehadiran polisi di lapangan bisa menjadi deterrent yang efektif bagi mereka yang berniat melompat. Bayangkan saja, seorang petugas dengan seragam lengkap, berdiri di ujung jembatan, tentu akan membuat siapa pun berpikir dua kali.

Namun, mari kita tidak terlalu terburu-buru menyimpulkan bahwa pos polisi adalah solusi tunggal. Alternatif lain seperti pemasangan pagar besi dengan kawat berduri juga patut dipertimbangkan. Memang, pagar ini tidak sepenuhnya mencegah aksi bunuh diri, tetapi setidaknya memberikan waktu lebih bagi pihak keamanan untuk bertindak. Bahkan, solusi ini sudah diimplementasikan di banyak lokasi lain dengan tingkat keberhasilan yang cukup baik.

Atau kenapa pemerintah tidak memiliki program konsultasi psikiater gratis? Dana 34 miliar untuk CCTV? Rasanya kurang tepat. Kenapa psikiater gratis?

Saya mengutip beberapa sumber bahwa di Bali “Secara biologis, penyebabnya kebanyakan memang karena ada kelainan mental pada seseorang seperti depresi, skizofrenia, atau gangguan bipolar. Kondisi psikososial seperti terbelit utang, terutama saat ini adalah pinjol (pinjaman online),” kata Prof Ngoerah, Dr. dr. Anak Ayu Sri Wahyuni, dokter spesialis kejiwaan atau psikiater RSUP. Saya dapat pernyataan itu di detikBali.

Coba kalian yang membaca ini, compare pernyataan itu dengan alasan-alasan mereka yang melakukan ulah pati di Jembatan Bangkung, apakah lebih masuk akal? Harusnya.

Kembali ke pertanyaan awal, CCTV atau pos polisi? Mengapa tidak keduanya? Bayangkan ini, CCTV dipasang untuk memantau seluruh area, sementara pos polisi dilengkapi dengan petugas yang bisa merespons dengan cepat jika ada sesuatu yang mencurigakan. Kombinasi teknologi dan kehadiran manusia ini bisa menjadi solusi yang lebih holistik.

Namun, jika kita bicara soal efektivitas biaya, ide saya ini mungkin terdengar sedikit lebih “kaki di tanah.” Alih-alih menghabiskan Rp 34 miliar untuk CCTV, bagaimana kalau sedikit dana itu dialihkan untuk bayar dua penjaga jembatan yang stand by? Gaji mereka? Ah, nggak usah besar-besar. Umpama saja beri mereka Rp 1 juta per bulan. Jadi, Rp 2 juta per bulan untuk dua orang, dalam setahun cuma butuh sekitar Rp 24 juta. Nah, sisa Rp 33,976 miliar-nya bisa dipakai buat hal-hal penting lainnya.

Bisa jadi, bangun pagar pengaman yang lebih kokoh, atau, siapa tahu, memperbaiki jalanan yang bikin kita mikir dua kali saat lewat. Yang penting, ada manusia nyata di sana, bukan cuma gambar di layar. Gaji tersebut, selain jauh lebih hemat dibandingkan investasi awal CCTV, juga memberikan dampak langsung pada kehidupan masyarakat.

Bayangkan ada dua orang yang mendapatkan pekerjaan tetap, dengan tanggung jawab mulia untuk menjaga nyawa sesama. Apakah itu tidak lebih manusiawi? Tidak ada teknologi yang bisa menggantikan empati manusia, terutama dalam situasi kritis seperti ini, hahahaha, balik lagi, ini hanya opini, selebihnya kita tunggu realisasi.

Tentu saja, tulisan ini tidak bermaksud menyudutkan pihak mana pun. Saya hanya mengajak kita semua untuk berpikir sebelum melangkah. Teknologi memang penting, tetapi kehadiran manusia jauh lebih bermakna.

Dan jika masih ada yang berkata, “Ya, tapi CCTV kan lebih canggih,” saya akan menjawab: “Iya, tapi CCTV tidak bisa menepuk bahu seseorang yang sedang menangis.”

Pada akhirnya, keputusan ada di tangan pemerintah. Apakah ingin mengandalkan teknologi semata, atau memadukannya dengan pendekatan yang lebih humanis? Yang jelas, tujuan kita semua sama, mencegah tragedi dan menjaga Jembatan Tukad Bangkung tetap menjadi simbol kemegahan, bukan panggung kematian.[T]

  • Kutipan: https://www.detik.com/bali/berita/d-7415945/tingkat-bunuh-diri-di-bali-tertinggi-se-indonesia-ini-penyebabnya 
  • Pendukung Opini: https://youtu.be/QMR5a9Efbpc?si=wPccy46Tq81Z4MK1

Penulis: Arix Wahyudhi Jana Putra
Editor; Adnyana Ole

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

Bali pada Persimpangan Budaya: Bunuh Diri hingga Mahalnya Harga Buah Kelapa
Mengenal BISAHelpline, Layanan Pencegahan Bunuh Diri di Bali
Perihal Bunuh Diri dan Hakikat Neraka | Catatan Tentang Film Kembang Api
Tags: Badungbunuh diriDesa Plaga
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nikmat yang Sama  —  Ini Cerita Pawai Ogoh-ogoh Festival Jeron Beteng Yogyakarta

Next Post

Puisi-puisi Leya Kuan | Pernah Aku Menjadi Remaja

Arix Wahyudhi Jana Putra

Arix Wahyudhi Jana Putra

Gede Arix Wahyudhi Jana Putra. Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Leya Kuan | Pernah Aku Menjadi Remaja

Puisi-puisi Leya Kuan | Pernah Aku Menjadi Remaja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co