23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Musik Legendaris untuk Kita Tetap Waras

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
April 11, 2025
in Esai
Musik Legendaris untuk Kita Tetap Waras

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy | Gambar diolah dari berbagai sumber

BEBERAPA hari lalu, saya menemukan mahasiswa menyanyikan lagu-lagu tahun 90-an yang kata mereka lebih enak didengar, daripada lagu-lagu sekarang. Bahkan anak saya yang duduk di kelas 8 alias kelas 2 SMP juga memutar lagu -lagu dari Queen, Frank Sinatra, dan malah hafal juga liriknya.  Setelah itu playlistnya beralih ke rapnya 50 Cent, dan ke Dimash Kudaibergen yang beraliran crossover klasik.

Saya jadi merenung, generasi Z dan gen Alpha masih saja menyanyikan lagu legedaris yang lahir dari era saya belum lahir.  Terbersit pemikiran apa jadinya manusia, kalau hidupnya cuma makan nasi, lauk, dan sayur, dengan variasi rasa dan plating ala sekarang yang canggih, tapi tidak pernah “makan lagu”? Pertanyaan yang mungkin aneh, tetapi mungkin jika dicari jawabannya dapat membuat kita memiliki cara pandang baru soal musik.

Lagu dan Resonansi Jiwa

Musik, dalam sejarah umat manusia bukan sekadar bunyi-bunyian pengisi waktu senggang. Justru bisa jadi musik adalah salah satu teknologi paling purba yang diciptakan manusia untuk satu tujuan utama dan sederhana yaitu bertahan hidup secara mental. Dan mengapa sampai ada lagu-lagu legendaris yang bertahan hingga saat ini? Sepertinya mereka adalah salah satu bukti paling keras bahwa manusia tidak cuma butuh makan nasi dengan gizi seimbang tapi juga butuh “makan lagu”.

Jika dikira-kira, mungkin begini cara kerjanya: tubuh butuh gizi, jiwa butuh resonansi. Resonansi itu menurut buku IPA Fisika didefinisikan sebagai peristiwa ikut bergetarnya suatu benda karena pengaruh benda lain yang bergetar. Nah, syaratnya frekuensi kedua benda ini harus sama.

Lagu-lagu legendaris, dari masa ke masa, bertahan memang karena melodinya enak atau liriknya puitis. Tapi pasti bukan semata-mata karena itu. Lagu-lagu itu bertahan, karena membawa frekuensi rasa tertentu yang dibutuhkan orang-orang di zamannya, dan seringkali berlanjut serta tetap relevan di zaman setelahnya.

Lagu bukan cuma datang, lewat, dinikmati, dan pergi. Lagu itu merasuk ke dalam diri, menjadi bagian dari narasi hidup manusia, bagian dari identitas dan gerak jiwa, suatu rasa yang setiap saat bisa dikunjungi kembali dan menimbulkan kenyamanan tertentu. Maka janganlah kita heran kalau dalam masyarakat, kita bisa menemukan lagu-lagu yang jadi staple food mental kita. Sebut saja lagu-lagu Didi Kempot untuk patah hati massal, atau Deny Caknan yang bertutur tentang kesederhanaan dan cinta, lagu-lagu Rhoma Irama untuk keresahan sosial, lagu-lagu kepunyaannya Hindia untuk generasi galau urban modern, dan seterusnya.

Ini semacam logika survival: manusia butuh soundtrack untuk bertahan. Jiwa butuh makanan, dan lagu adalah salah satu sumber pangannya. Ada orang yang bertahan di kerasnya hidup kota karena ditemani lagu Iwan Fals. Ada yang melewati patah hati pertamanya dengan Adele. Ada yang menjaga harapan hidupnya di lorong sempit hidup miskin sambil memutar Don’t Stop Believin’. Ini bukan kebetulan. Ini kerja kultural.

Jadi memang setiap zaman selalu menciptakan lagu-lagu bertahan hidup-nya sendiri. Kadang berupa lagu perjuangan politik. Kadang berupa lagu patah hati. Kadang berupa lagu-lagu pemberontakan. Kadang berupa lagu anak muda yang tidak mau menyerah kalah di tengah dunia yang makin absurd. Bisa kita bayangkan sejarah panjang manusia tanpa lagu-lagu itu. Mungkin revolusi-revolusi besar dunia akan terasa lebih sunyi tanpa mars. Mungkin patah hati akan terasa lebih mengenaskan. Mungkin kesedihan akan terasa lebih sepi dan menyakitkan. Dan mungkin juga, jangan-jangan, manusia sudah lama menyerah pada hidup kalau tidak pernah menemukan lagu-lagu itu. Dan populasi planet ini jadi tidak sebanyak sekarang.

Setiap Zaman Menciptakan Lagunya Sendiri

Lagu-lagu legendaris itu, kalau boleh kita sepakati, bekerja lebih dalam daripada sekadar “soundtrack” kehidupan. Mereka lahir karena ada kegelisahan. Ada luka sosial. Ada keresahan yang mendesak untuk disuarakan. Dan hebatnya, manusia tanpa perlu kursus teori musik, secara alami tahu saja lagu mana yang “bergizi” buat jiwanya di momen tertentu. Ini sejalan dengan gagasan Tia DeNora (2000) dalam bukunya Music in Everyday Life. DeNora bilang bahwa musik itu bukan cuma latar belakang hidup manusia, tapi agen aktif yang membentuk pengalaman, emosi, bahkan identitas kita sehari-hari. Lebih dalam lagi, musik itu alat kerja kehidupan.

Mereka adalah obat perasaan. Mereka adalah tempat persembunyian emosional. Mereka adalah bahan bakar jiwa untuk bisa bertahan sehari lagi, seminggu lagi, setahun lagi, dan entah berapa waktu lagi di dunia ini, yang kadang terasa terlalu keras untuk ditelan mentah-mentah. Itulah sebabnya banyak lagu legendaris justru lahir dari penderitaan sosial. Musik blues lahir dari derita orang kulit hitam di Amerika. Lagu-lagu perjuangan Indonesia lahir dari rakyat yang muak dijajah. Lagu-lagu punk lahir dari kemarahan anak-anak muda kelas pekerja. Bahkan musik dangdut pun, dalam sejarah awalnya, adalah suara minor dari pinggiran kota.

Nah, apakah kita masih merawat tradisi “makan lagu” ini? Atau jangan-jangan generasi kita hari ini malah mulai kehilangan kemampuan dasar ini, suatu kemampuan menikmati musik sebagai nutrisi jiwa. Mengingat dan melihat kenyataan bahwa semua musik kita hari ini terlalu dieksploitasi jadi komoditas, jadi iklan, jadi noise, bahkan jadi sekadar pemantik algoritma agar bisa viral di TikTok. Ini mungkin soal yang patut kita renungkan bersama. Karena manusia modern memang semakin kaya teknologi, semakin canggih gadget, tetapi anehnya juga semakin rapuh mental.

Jangan-jangan karena di tengah semua kemajuan itu, kita lupa caranya mendengarkan dengan benar. Bukan sekadar mendengar, lho ya, tapi mendengarkan. Benar-benar membuka ruang di dalam diri untuk rela beresonansi bersama getaran rasa yang dibawa musik. Menyediakan waktu. Menyediakan keheningan. Menyediakan telinga yang jujur dan hati yang mau disapa. Agak puitis, tapi hanya itu cara yang pas untuk mengungkapkan maksud ini.

Mungkin itulah sebabnya lagu-lagu legendaris tetap bertahan. Mereka adalah warisan kultural yang bukan cuma enak didengar, tapi juga menyediakan ruang aman untuk jiwa manusia istirahat sebentar dari kerasnya hidup. Lagu-lagu itu tidak mati karena fungsi dasarnya masih bekerja, yaitu menjaga manusia tetap waras. Dan pada akhirnya, manusia memang tidak bisa hidup dari roti saja. Atau nasi saja. Atau bahkan gaji saja. Karena di sela-sela semua itu, kita butuh makan lagu.

Musik, Memori, dan Penyembuhan

Oliver Sacks (2007) dalam Musicophilia: Tales of Music and the Brain bahkan menyebut musik sebagai jalan pintas menuju ingatan dan perasaan yang paling dalam. Para pembaca yang budiman pasti pernah merasakan, bagaimana lagu bisa membawa kita pulang ke masa lalu dalam hitungan detik lebih cepat dari foto, lebih kuat dari kata-kata. Sungguh luar biasa, bukan?

Makanya, dalam terapi penderita Alzheimer, musik sering dipakai untuk memancing memori yang terkunci. Lagu bisa membangunkan bagian diri yang sudah nyaris hilang. Psikologi modern sebenarnya sudah lama paham soal ini. Ada music therapy, ada sound healing, ada riset tentang pengaruh musik terhadap stres, kecemasan, bahkan daya tahan tubuh. Karena bisa jadi, sebagaimana tubuh kita butuh gizi seimbang, jiwa kita juga butuh playlist yang sehat. Bukan sekadar musik yang viral, bukan sekadar lagu yang ramai di TikTok saja, tapi lagu-lagu apapun, yang betul-betul bisa memberi ruang bagi jiwa kita untuk berteriak, mungkin mengumpat, mengeluh, merengek, bernapas dalam, merenung, atau bahkan sekadar diam dalam damai. Dalam damai maksud saya tentu bukan Rest in Peace.

Lebih jauh lagi, riset-riset psikologi modern juga menunjukkan bahwa musik memang punya efek terapeutik yang serius. Penelitian dari Thoma et al. (2013) misalnya, menemukan bahwa mendengarkan musik tertentu bisa menurunkan kadar hormon stres (kortisol) dalam tubuh. Ini bukan cuma soal feeling, tapi kerja biologis nyata.

Jadi, kalau ada orang bilang: “Aku tuh kalau galau, cuma bisa sembuh kalau dengerin lagu ini,” itu bukan lebay. Itu justru memiliki penjelasan yang sangat ilmiah. Tapi kita jarang memikirkan fungsi ini secara serius. Karena musik sering dianggap remeh sebagai sekadar hiburan, sekadar noise. Padahal mungkin justru sebaliknya, karena kesehatan mental kolektif sebuah masyarakat bisa dilihat dari bagaimana mereka memperlakukan musik.

Apakah kini makin banyak lagu-lagu dangkal? Apakah makin sedikit ruang di hati untuk mendengar musik secara dalam? Apakah makin banyak orang cemas, mudah marah, gampang meledak-ledak? Mungkin itu bukan cuma soal ekonomi atau politik hari kini yang makin tak tentu arah. Mungkin karena jiwa-jiwa itu sedang butuh nutrisi agar waras. Jadi jika ada lagu yang dibungkam, sepertinya memang ada yang tidak menginginkan kewarasan. Tabik.  [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Misteri Layar Lebar: Mengapa Film Horor Merajai Bioskop Indonesia?
Pembatasan Media Sosial Kebijakan Tepat, tetapi Bukan Satu-Satunya Solusi
“Brain Rot” pada Anak: Virus Era Digital
Merenungkan Musik; Sukatani, Perlawanan, dan Penguasa
Tags: musikmusik legendarismusik pop indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melompat ke Jurang Imajinasi: Kreativitas Tak Lagi Punya Pagar

Next Post

Belajar dari SMK Fest:  Ruang Kontemplatif untuk Merefleksikan Arah Pendidikan Vokasi di Bali

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post
Belajar dari SMK Fest:  Ruang Kontemplatif untuk Merefleksikan Arah Pendidikan Vokasi di Bali

Belajar dari SMK Fest:  Ruang Kontemplatif untuk Merefleksikan Arah Pendidikan Vokasi di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co