24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tulus dan Pesona Lirik Puitis: Menelusuri Jiwa Remaja dalam “Tujuh Belas”

Putu Gangga Pradipta by Putu Gangga Pradipta
March 31, 2025
in Ulas Musik
Tulus dan Pesona Lirik Puitis: Menelusuri Jiwa Remaja dalam “Tujuh Belas”

Tulus

MUSIK memiliki kekuatan magis untuk membangkitkan kenangan dan menyentuh kalbu, terlebih lagi ketika liriknya menyimpan makna yang mendalam. Tulus, penyanyi sekaligus penulis lagu yang dikenal dengan kepekaan bahasa dan puitisitasnya, telah berkali-kali membuktikan kemampuannya menciptakan karya yang tak hanya enak didengar, tetapi juga mengandung nilai estetika sastra yang tinggi.

Salah satu karya yang menonjol adalah “Tujuh Belas” dari album Manusia (2022), sebuah lagu yang tidak hanya menggambarkan nostalgia masa remaja, tetapi juga menyajikan rangkaian diksi dan majas yang memperkuat pesan jiwa remaja.

Menyelami Esensi Lirik “Tujuh Belas”

Pada intinya, “Tujuh Belas” adalah ode untuk masa remaja yang penuh gejolak, kebebasan, dan pencarian jati diri. Lagu ini mengajak pendengar untuk kembali sejenak menengok masa sekolah, mengingat hari-hari ketika segala sesuatu terasa lebih intens—baik dalam kebahagiaan maupun tantangan.

Bait pembuka, “Masihkah kau mengingat di saat kita masih 17?”, tidak hanya berfungsi sebagai ajakan untuk bernostalgia, tetapi juga membuka ruang bagi pendengar untuk meresapi setiap momen yang pernah mereka alami pada usia tersebut.

Melalui liriknya, Tulus dengan cermat menangkap dinamika emosi yang mewarnai fase transisi antara remaja dan dewasa. Pada saat itu, setiap peristiwa kecil—mulai dari tanggal merah yang membawa keistimewaan hingga tantangan mata pelajaran yang rumit—memiliki nilai emosional yang luar biasa.

Pendekatan ini sejalan dengan temuan dalam studi tentang memori emosional yang menunjukkan bahwa kenangan masa remaja memainkan peran penting dalam pembentukan identitas seseorang. (Referen Jurnal UHAMKA).

Diksi yang Memikat dan Gaya Bahasa yang Puitis

Salah satu kekuatan utama “Tujuh Belas” terletak pada pilihan diksi Tulus yang sangat terencana. Setiap kata dipilih dengan seksama untuk menggambarkan suasana hati dan suasana jiwa remaja yang penuh semangat dan kerapuhan. Ungkapan seperti “putaran bumi dan waktu yang terus berjalan menempa kita” tidak sekadar menggambarkan perjalanan waktu, melainkan juga menyiratkan bahwa setiap momen, sekecil apapun, memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan kepribadian.

Gaya bahasa yang dipergunakan Tulus memiliki keunikan tersendiri. Ia menggabungkan bahasa sehari-hari dengan elemen sastra, sehingga liriknya terasa ringan namun penuh kedalaman. Penggunaan metafora, perumpamaan, dan majas secara halus membuat pendengar tidak hanya mendengar, tetapi juga “merasakan” pesan yang ingin disampaikan. Contohnya, pernyataan “Kita masih sebebas itu, rasa takut yang tak pernah mengganggu” menggambarkan semangat kebebasan dan keberanian yang mengatasi segala keraguan, sebuah refleksi dari jiwa remaja yang idealis dan penuh impian.

Para kritikus musik menilai bahwa kemampuan Tulus dalam menyusun diksi bukan hanya soal pemilihan kata, tetapi juga cara mengemasnya agar selaras dengan irama dan melodi. Seperti yang diulas oleh sejumlah pengamat di Kompas, kepekaan Tulus terhadap bahasa dan ritme liriknya memberikan warna tersendiri dalam industri musik Indonesia, yang kerap kali mengedepankan produksi bombastis namun kurang dalam hal isi dan keindahan bahasa.

Majas dan Keindahan Imaji dalam Lirik

Lagu “Tujuh Belas” kaya akan penggunaan majas yang menambah lapisan makna pada setiap baitnya. Majas hiperbola, misalnya, digunakan untuk menggambarkan intensitas perasaan masa remaja—di mana setiap pengalaman dipersepsikan seolah-olah memiliki bobot yang lebih besar daripada kenyataan. Ungkapan seperti “kenangan yang abadi di dalam relung hati” merupakan bentuk hiperbola yang menguatkan pesan bahwa memori masa muda adalah sumber kekuatan yang tak tergantikan, meskipun waktu terus berlalu.

Selain itu, penggunaan majas metafora sangat kental dalam lagu ini. Bandingkan, misalnya, antara perjalanan hidup dengan “putaran bumi” yang tiada henti. Imaji ini bukan hanya menyiratkan siklus waktu, tetapi juga mengajak pendengar untuk merenung bahwa setiap liku dan tantangan dalam hidup merupakan bagian dari proses pembentukan diri. Konsep ini selaras dengan pandangan para ahli komunikasi yang menekankan bahwa metafora dalam seni dapat memperdalam pemahaman terhadap realitas kehidupan (Siregar, 2021, dalam Jurnal Komunikasi Nusantara).

Gaya bahasa yang puitis ini juga menunjukkan bahwa bahasa Indonesia memiliki potensi artistik yang luar biasa. Tulus membuktikan bahwa lirik lagu tidak harus dibuat sederhana atau klise agar bisa diterima publik. Justru, dengan memilih kata-kata yang jarang dipakai dalam percakapan sehari-hari, ia membuka ruang bagi kekayaan bahasa dan menumbuhkan apresiasi terhadap sastra dalam musik populer.

Pesan Filosofis dan Nilai Budaya yang Terpancar

Di balik keindahan diksi dan penggunaan majas, “Tujuh Belas” menyimpan pesan-pesan filosofis yang mendalam. Lagu ini bukan sekadar bernada nostalgia, melainkan juga merupakan refleksi atas perjalanan hidup dan pencarian jati diri. Baris “seberapa pun dewasa mengujimu, takkan lebih dari yang engkau bisa” mengandung pesan optimisme yang kuat—sebuah pengingat bahwa setiap tantangan merupakan peluang untuk tumbuh dan belajar.

Nilai budaya juga hadir dalam setiap lirik lagu ini. Latar belakang budaya Minangkabau yang dimiliki Tulus tercermin dalam kepekaannya terhadap keindahan bahasa Melayu, yang tercermin dari pilihan kata yang elegan dan penggunaan majas yang khas. Identitas budaya ini tidak hanya memberikan warna tersendiri pada lagu, tetapi juga menghubungkan pendengar dengan akar budaya yang kaya, menjadikan setiap bait lirik sebagai warisan kearifan lokal yang relevan dalam konteks modern. Hal ini sejalan dengan beberapa studi yang menunjukkan pentingnya nilai budaya dalam pembentukan identitas remaja (Hidayat, 2020, dalam Jurnal Psikologi Musik).

Integrasi Musik dan Lirik: Simfoni Emosi yang Harmonis

Kekuatan “Tujuh Belas” tidak hanya terletak pada liriknya yang mendalam, melainkan juga pada sinergi antara kata-kata dan aransemen musik. Musik yang lembut, melodius, dan penuh kehangatan berfungsi sebagai wadah yang menyampaikan pesan lirik dengan lebih intens. Irama yang mengalun seiring dengan bait-bait lirik menciptakan suasana yang hampir seperti simfoni emosi, di mana pendengar dapat merasakan setiap nuansa yang diungkapkan oleh Tulus.

Pendekatan ini membuat lagu “Tujuh Belas” menjadi lebih dari sekadar rangkaian nada dan kata; ia menjadi sebuah pengalaman mendalam yang mengajak pendengar untuk merenungkan perjalanan hidup mereka. Sebagaimana diungkapkan dalam penelitian mengenai pengaruh musik terhadap perkembangan emosional remaja, simbiosis antara musik dan lirik mampu memberikan dampak positif dalam membentuk identitas dan kekuatan batin seseorang (Hidayat, 2020, dalam Jurnal Psikologi Musik).

Refleksi: Kenangan sebagai Sumber Inspirasi dan Perjalanan Hidup

Pada akhirnya, “Tujuh Belas” merupakan karya yang menyuarakan betapa pentingnya menghargai setiap momen dalam hidup, terutama masa remaja yang penuh dengan impian dan tantangan. Lagu ini mengajarkan bahwa kenangan, betapapun sederhana, dapat menjadi sumber inspirasi dan kekuatan untuk menghadapi segala ujian di masa depan. Pesan ini sangat relevan di era modern, di mana arus kehidupan yang serba cepat seringkali membuat kita lupa untuk sesekali berhenti dan mengenang kembali perjalanan hidup yang telah dilalui.

Tulus, melalui lirik puitis dan gaya bahasa yang penuh majas, tidak hanya menghadirkan sebuah karya musik, tetapi juga menyuguhkan sebuah pelajaran tentang pentingnya kejujuran dalam berkarya serta penghargaan terhadap nilai-nilai budaya dan keindahan bahasa. Karya-karyanya, khususnya “Tujuh Belas,” telah mengukirkan kesan mendalam bagi pendengarnya, menjadikannya sebagai simbol perjalanan hidup yang penuh warna dan makna. [T]

Penulis: Putu Gangga Pradipta
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Pembacaan Heuristik dan Hermeneutik Lagu “Guru Oemar Bakrie” Karya Iwan Fals
Pementasan Musik “Gala Resonant”: Perpaduan Tradisi dan Modernitas dalam Narasi Filosofis
Tembang Puitik Ananda Sukarlan: Penerjemahan Intersemiotik
Berimajinasi Bersama Repertoar “Canson” Karya Noé Clerc Trio dari Prancis
Tags: musikmusik pop indonesiaresensi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Idulfitri ala Mahasiswa Rantau di Singaraja: Bertamu, Menelepon Ibu, dan Menangis Usai Sholat Ied

Next Post

Mudik Tanpa Tiket: Pulang dalam Ingatan, Bukan dalam Langkah

Putu Gangga Pradipta

Putu Gangga Pradipta

Lahir di Surabaya, kini sedang menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Singaraja.

Related Posts

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
0
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

Read moreDetails

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
0
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang...

Read moreDetails

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
0
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

Read moreDetails

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

by Wahyu Thoyyib Pambayun
May 25, 2026
0
Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT)...

Read moreDetails

Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

by Ahmad Sihabudin
May 22, 2026
0
Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

LAGU “The Park” dari album Salisbury karya Uriah Heep sering dipahami sebagai balada progresif yang kontemplatif dan melankolis. Dengan vokal...

Read moreDetails

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
0
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

Read moreDetails

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
0
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

Read moreDetails

’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

by Ahmad Sihabudin
May 1, 2026
0
’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

FENOMENA viralnya lagu “Siti Mawarni Ya Incek” tidak bisa dibaca sekadar lagu hiburan digital yang lewat begitu saja. Ia adalah...

Read moreDetails

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
0
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

Read moreDetails
Next Post
Mudik Tanpa Tiket: Pulang dalam Ingatan, Bukan dalam Langkah

Mudik Tanpa Tiket: Pulang dalam Ingatan, Bukan dalam Langkah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co