24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tulus dan Pesona Lirik Puitis: Menelusuri Jiwa Remaja dalam “Tujuh Belas”

Putu Gangga Pradipta by Putu Gangga Pradipta
March 31, 2025
in Ulas Musik
Tulus dan Pesona Lirik Puitis: Menelusuri Jiwa Remaja dalam “Tujuh Belas”

Tulus

MUSIK memiliki kekuatan magis untuk membangkitkan kenangan dan menyentuh kalbu, terlebih lagi ketika liriknya menyimpan makna yang mendalam. Tulus, penyanyi sekaligus penulis lagu yang dikenal dengan kepekaan bahasa dan puitisitasnya, telah berkali-kali membuktikan kemampuannya menciptakan karya yang tak hanya enak didengar, tetapi juga mengandung nilai estetika sastra yang tinggi.

Salah satu karya yang menonjol adalah “Tujuh Belas” dari album Manusia (2022), sebuah lagu yang tidak hanya menggambarkan nostalgia masa remaja, tetapi juga menyajikan rangkaian diksi dan majas yang memperkuat pesan jiwa remaja.

Menyelami Esensi Lirik “Tujuh Belas”

Pada intinya, “Tujuh Belas” adalah ode untuk masa remaja yang penuh gejolak, kebebasan, dan pencarian jati diri. Lagu ini mengajak pendengar untuk kembali sejenak menengok masa sekolah, mengingat hari-hari ketika segala sesuatu terasa lebih intens—baik dalam kebahagiaan maupun tantangan.

Bait pembuka, “Masihkah kau mengingat di saat kita masih 17?”, tidak hanya berfungsi sebagai ajakan untuk bernostalgia, tetapi juga membuka ruang bagi pendengar untuk meresapi setiap momen yang pernah mereka alami pada usia tersebut.

Melalui liriknya, Tulus dengan cermat menangkap dinamika emosi yang mewarnai fase transisi antara remaja dan dewasa. Pada saat itu, setiap peristiwa kecil—mulai dari tanggal merah yang membawa keistimewaan hingga tantangan mata pelajaran yang rumit—memiliki nilai emosional yang luar biasa.

Pendekatan ini sejalan dengan temuan dalam studi tentang memori emosional yang menunjukkan bahwa kenangan masa remaja memainkan peran penting dalam pembentukan identitas seseorang. (Referen Jurnal UHAMKA).

Diksi yang Memikat dan Gaya Bahasa yang Puitis

Salah satu kekuatan utama “Tujuh Belas” terletak pada pilihan diksi Tulus yang sangat terencana. Setiap kata dipilih dengan seksama untuk menggambarkan suasana hati dan suasana jiwa remaja yang penuh semangat dan kerapuhan. Ungkapan seperti “putaran bumi dan waktu yang terus berjalan menempa kita” tidak sekadar menggambarkan perjalanan waktu, melainkan juga menyiratkan bahwa setiap momen, sekecil apapun, memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan kepribadian.

Gaya bahasa yang dipergunakan Tulus memiliki keunikan tersendiri. Ia menggabungkan bahasa sehari-hari dengan elemen sastra, sehingga liriknya terasa ringan namun penuh kedalaman. Penggunaan metafora, perumpamaan, dan majas secara halus membuat pendengar tidak hanya mendengar, tetapi juga “merasakan” pesan yang ingin disampaikan. Contohnya, pernyataan “Kita masih sebebas itu, rasa takut yang tak pernah mengganggu” menggambarkan semangat kebebasan dan keberanian yang mengatasi segala keraguan, sebuah refleksi dari jiwa remaja yang idealis dan penuh impian.

Para kritikus musik menilai bahwa kemampuan Tulus dalam menyusun diksi bukan hanya soal pemilihan kata, tetapi juga cara mengemasnya agar selaras dengan irama dan melodi. Seperti yang diulas oleh sejumlah pengamat di Kompas, kepekaan Tulus terhadap bahasa dan ritme liriknya memberikan warna tersendiri dalam industri musik Indonesia, yang kerap kali mengedepankan produksi bombastis namun kurang dalam hal isi dan keindahan bahasa.

Majas dan Keindahan Imaji dalam Lirik

Lagu “Tujuh Belas” kaya akan penggunaan majas yang menambah lapisan makna pada setiap baitnya. Majas hiperbola, misalnya, digunakan untuk menggambarkan intensitas perasaan masa remaja—di mana setiap pengalaman dipersepsikan seolah-olah memiliki bobot yang lebih besar daripada kenyataan. Ungkapan seperti “kenangan yang abadi di dalam relung hati” merupakan bentuk hiperbola yang menguatkan pesan bahwa memori masa muda adalah sumber kekuatan yang tak tergantikan, meskipun waktu terus berlalu.

Selain itu, penggunaan majas metafora sangat kental dalam lagu ini. Bandingkan, misalnya, antara perjalanan hidup dengan “putaran bumi” yang tiada henti. Imaji ini bukan hanya menyiratkan siklus waktu, tetapi juga mengajak pendengar untuk merenung bahwa setiap liku dan tantangan dalam hidup merupakan bagian dari proses pembentukan diri. Konsep ini selaras dengan pandangan para ahli komunikasi yang menekankan bahwa metafora dalam seni dapat memperdalam pemahaman terhadap realitas kehidupan (Siregar, 2021, dalam Jurnal Komunikasi Nusantara).

Gaya bahasa yang puitis ini juga menunjukkan bahwa bahasa Indonesia memiliki potensi artistik yang luar biasa. Tulus membuktikan bahwa lirik lagu tidak harus dibuat sederhana atau klise agar bisa diterima publik. Justru, dengan memilih kata-kata yang jarang dipakai dalam percakapan sehari-hari, ia membuka ruang bagi kekayaan bahasa dan menumbuhkan apresiasi terhadap sastra dalam musik populer.

Pesan Filosofis dan Nilai Budaya yang Terpancar

Di balik keindahan diksi dan penggunaan majas, “Tujuh Belas” menyimpan pesan-pesan filosofis yang mendalam. Lagu ini bukan sekadar bernada nostalgia, melainkan juga merupakan refleksi atas perjalanan hidup dan pencarian jati diri. Baris “seberapa pun dewasa mengujimu, takkan lebih dari yang engkau bisa” mengandung pesan optimisme yang kuat—sebuah pengingat bahwa setiap tantangan merupakan peluang untuk tumbuh dan belajar.

Nilai budaya juga hadir dalam setiap lirik lagu ini. Latar belakang budaya Minangkabau yang dimiliki Tulus tercermin dalam kepekaannya terhadap keindahan bahasa Melayu, yang tercermin dari pilihan kata yang elegan dan penggunaan majas yang khas. Identitas budaya ini tidak hanya memberikan warna tersendiri pada lagu, tetapi juga menghubungkan pendengar dengan akar budaya yang kaya, menjadikan setiap bait lirik sebagai warisan kearifan lokal yang relevan dalam konteks modern. Hal ini sejalan dengan beberapa studi yang menunjukkan pentingnya nilai budaya dalam pembentukan identitas remaja (Hidayat, 2020, dalam Jurnal Psikologi Musik).

Integrasi Musik dan Lirik: Simfoni Emosi yang Harmonis

Kekuatan “Tujuh Belas” tidak hanya terletak pada liriknya yang mendalam, melainkan juga pada sinergi antara kata-kata dan aransemen musik. Musik yang lembut, melodius, dan penuh kehangatan berfungsi sebagai wadah yang menyampaikan pesan lirik dengan lebih intens. Irama yang mengalun seiring dengan bait-bait lirik menciptakan suasana yang hampir seperti simfoni emosi, di mana pendengar dapat merasakan setiap nuansa yang diungkapkan oleh Tulus.

Pendekatan ini membuat lagu “Tujuh Belas” menjadi lebih dari sekadar rangkaian nada dan kata; ia menjadi sebuah pengalaman mendalam yang mengajak pendengar untuk merenungkan perjalanan hidup mereka. Sebagaimana diungkapkan dalam penelitian mengenai pengaruh musik terhadap perkembangan emosional remaja, simbiosis antara musik dan lirik mampu memberikan dampak positif dalam membentuk identitas dan kekuatan batin seseorang (Hidayat, 2020, dalam Jurnal Psikologi Musik).

Refleksi: Kenangan sebagai Sumber Inspirasi dan Perjalanan Hidup

Pada akhirnya, “Tujuh Belas” merupakan karya yang menyuarakan betapa pentingnya menghargai setiap momen dalam hidup, terutama masa remaja yang penuh dengan impian dan tantangan. Lagu ini mengajarkan bahwa kenangan, betapapun sederhana, dapat menjadi sumber inspirasi dan kekuatan untuk menghadapi segala ujian di masa depan. Pesan ini sangat relevan di era modern, di mana arus kehidupan yang serba cepat seringkali membuat kita lupa untuk sesekali berhenti dan mengenang kembali perjalanan hidup yang telah dilalui.

Tulus, melalui lirik puitis dan gaya bahasa yang penuh majas, tidak hanya menghadirkan sebuah karya musik, tetapi juga menyuguhkan sebuah pelajaran tentang pentingnya kejujuran dalam berkarya serta penghargaan terhadap nilai-nilai budaya dan keindahan bahasa. Karya-karyanya, khususnya “Tujuh Belas,” telah mengukirkan kesan mendalam bagi pendengarnya, menjadikannya sebagai simbol perjalanan hidup yang penuh warna dan makna. [T]

Penulis: Putu Gangga Pradipta
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Pembacaan Heuristik dan Hermeneutik Lagu “Guru Oemar Bakrie” Karya Iwan Fals
Pementasan Musik “Gala Resonant”: Perpaduan Tradisi dan Modernitas dalam Narasi Filosofis
Tembang Puitik Ananda Sukarlan: Penerjemahan Intersemiotik
Berimajinasi Bersama Repertoar “Canson” Karya Noé Clerc Trio dari Prancis
Tags: musikmusik pop indonesiaresensi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Idulfitri ala Mahasiswa Rantau di Singaraja: Bertamu, Menelepon Ibu, dan Menangis Usai Sholat Ied

Next Post

Mudik Tanpa Tiket: Pulang dalam Ingatan, Bukan dalam Langkah

Putu Gangga Pradipta

Putu Gangga Pradipta

Lahir di Surabaya, kini sedang menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Singaraja.

Related Posts

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
0
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

Read moreDetails

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
0
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

Read moreDetails

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
0
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

Read moreDetails

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
0
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

Read moreDetails

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails
Next Post
Mudik Tanpa Tiket: Pulang dalam Ingatan, Bukan dalam Langkah

Mudik Tanpa Tiket: Pulang dalam Ingatan, Bukan dalam Langkah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co