24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Refleksi Spiritual Nyepi, Tumpek Wariga, dan Idulfitri dalam Pendidikan Pertanian

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
March 27, 2025
in Esai
Refleksi Spiritual Nyepi, Tumpek Wariga, dan Idulfitri dalam Pendidikan Pertanian

Foto ilustrasi tatkala.co

PADA bulan Maret 2025 ini, dua perayaan besar dari dua tradisi keagamaan yang berbeda hadir hampir bersamaan. Umat Islam merayakan IdulFitri 1446 Hijriah. IdulFitri sebagai momen kemenangan setelah menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadan. Sementara itu, umat Hindu menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1947. Lebih Istimewa lagi, Hari Raya Nyepi pada tahun ini bertepatan dengan Hari Suci Tumpek Wariga. Tentu saja, perayaan ini memiliki esensi spiritual yang sangat dalam.

Melalui perayaan ini umat manusia diajak untuk kembali kepada kesucian hati. Umat manusia mesti mampu menata ulang kehidupan. Lebih dari itu, umat manusia dituntun untuk dapat merefleksikan hubungan manusia dengan alam. Dalam konteks pendidikan pertanian, refleksi ini menjadi sangat relevan untuk menumbuhkan kesadaran terhadap keberlanjutan dan pelestarian lingkungan.

Nyepi adalah momen hening untuk alam. Nyepi adalah hari perenungan yang menuntut umat Hindu untuk menghentikan seluruh aktivitas duniawi, menahan diri dari kesenangan, serta meresapi ketenangan dalam kesunyian. Selama 24 jam, tidak ada penerangan, tidak ada aktivitas fisik di luar rumah, dan bahkan lalu lintas udara di pulau Bali terhenti. Tradisi ini bukan hanya tentang spiritualitas pribadi. Akan tetapi, tradisi ini merupakan bentuk penghormatan kepada alam. Nyepi, yang menenangkan alam dari aktivitas manusia menjadi pengingat bahwa eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan tanpa perhitungan dapat merusak keseimbangan ekosistem.

Pada saat yang sama, Tumpek Wariga adalah momen untuk memuliakan tumbuh-tumbuhan (sarwa tumuwuh). Tumpek Wariga merupakan hari suci yang mengajarkan kita bahwa manusia tidak bisa lepas dari alam. Seperti halnya manusia yang memerlukan makanan, pakaian, dan obat-obatan, tumbuh-tumbuhan pun memerlukan perawatan agar tetap lestari.

Dalam dunia pendidikan pertanian, ajaran Tumpek Wariga mengandung makna yang sangat dalam. Terkhusus bagi siswa di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) bidang agribisnis dan agriteknologi, dapat mengambil pelajaran penting dari filosofi Tumpek Wariga ini. Selain itu, sudah menjadi kewajiban pula bagi semua pelaku bidang pertanian agar lebih mampu menghargai proses bercocok tanam, memahami siklus kehidupan tanaman, serta mengembangkan metode pertanian yang ramah lingkungan.

Di sisi lain, Idulfitri adalah momen untuk kembali ke kesucian dan kesadaran kolektif. Idulfitri juga menjadi perayaan yang menandai akhir dari bulan Ramadan, bulan penuh latihan spiritual, kesabaran, dan pengendalian diri. Umat Islam merayakan Idulfitri dengan kembali kepada kesucian hati, mempererat silaturahmi, serta berbagi kebahagiaan dengan sesama. Konsep kebersamaan dalam Idulfitri dapat dihubungkan dengan bagaimana komunitas pertanian harus bekerja sama dalam membangun ekosistem yang berkelanjutan. Pertanian bukanlah pekerjaan yang dapat dilakukan sendirian. Akan tetapi, pertanian membutuhkan kerja kolektif dari berbagai pihak, mulai dari petani, peneliti, pemerintah, hingga generasi muda yang dididik di SMK pertanian.

Ketika Idulfitri mengajarkan nilai kepedulian terhadap sesama, dalam dunia pertanian, nilai ini dapat diterapkan dengan saling berbagi ilmu tentang metode pertanian yang lebih baik, membangun jaringan pasar yang adil, serta memastikan kesejahteraan petani sebagai ujung tombak ketahanan pangan. Walau faktanya selama ini –masih jauh panggang dari api—inilah saat tepat untuk berkontemplasi agar kita tidak terjebak oleh eksploitasi yang merugikan sumber kehidupan, yakni pertanian itu sendiri. Dengan semangat kebersamaan ini, para siswa SMK (insan pertanian) diharapkan dapat menjadi agen perubahan yang mampu memperbaiki sistem pertanian di Indonesia agar lebih maju dan berkelanjutan.

Menghubungkan kembali dengan esensi Nyepi, Tumpek Wariga, dan Idulfitri, dalam pendidikan pertanian membuka wawasan baru bagi generasi muda. Bahwa pertanian bukan sekadar soal membajak tanah dan menanam benih. Lebih dari itu, pertanian adalah cara manusia berinteraksi dengan alam, menjaga, dan mengembangkannya agar terus memberikan manfaat bagi kehidupan. Jika ajaran Nyepi mengingatkan kita untuk menjaga keseimbangan alam, dan Tumpek Wariga menuntun kita untuk menghormati tumbuh-tumbuhan maka semangat Idulfitri mendorong kita untuk bekerja sama dalam menjaga keberlanjutan pertanian. Semua itu mengajarkan umat manusia untuk menjalinkan diri secara harmonis dengan alam.

Di SMK dengan jurusan agribisnis dan agriteknologi, filosofi ini sesungguhnya telah diterapkan dalam berbagai praktik pembelajaran. Di antaranya, siswa diajarkan untuk mengembangkan pertanian organik yang tidak merusak ekosistem. Selain itu, diajarkan pula memahami pentingnya konservasi air dan tanah serta menerapkan inovasi teknologi dalam pertanian tanpa melupakan kearifan lokal. Dengan memahami nilai-nilai spiritual dari dua hari raya besar ini, siswa SMK tidak hanya dibekali keterampilan teknis dalam bertani tetapi juga memiliki kesadaran moral dan ekologis untuk menjaga keseimbangan alam.

Baik Nyepi, Tumpek Wariga, maupun Idulfitri mengajarkan kita bahwa kehidupan yang baik adalah kehidupan yang selaras dengan alam, sesama manusia dan Sang Pencipta (Tri Hita Karana). Pendidikan pertanian yang baik tidak hanya mencetak lulusan yang mahir dalam mengelola lahan pertanian semata. Pendidikan yang baik juga menghasilkan individu yang memiliki karakter dan kepedulian terhadap lingkungan serta mampu beradaptasi dengan tantangan zaman. Dengan menyerap nilai-nilai spiritual dari perayaan ini, semua pihak diharapkan mampu membawa perubahan positif dalam dunia pertanian dan menciptakan inovasi yang berkelanjutan. Selain itu bagaimana menjaga kesejahteraan petani sebagai penjaga ketahanan pangan bangsa.

Semua pihak tentu berharap bahwa momen perayaan ini tidak hanya menjadi ritual tahunan saja. Perayaan hari besar keagamaan ini juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga harmoni dalam kehidupan, baik dalam hubungan antar sesama manusia, dengan alam dan Sang Pencipta yang memberi kita kehidupan. Dengan semangat refleksi dari Nyepi dan kemenangan dari Idulfitri, komitmen akan terus berkembangnya pendidikan pertanian yang lebih baik demi masa depan yang berkelanjutan, semoga makin menggelora. [T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis I WAYAN YUDANA

SMKN 1 Petang: Dari Lahan Sekolah, Mencetak Generasi Muda Cinta Pertanian
Padupadan Pariwisata dan Pertanian di SMKN 1 Petang: Membangun Masa Depan Berkelanjutan
Mengelola Pertanian di Sela Riuh Pariwisata — Catatan Perjuangan dari SMKN 1 Petang
Mengintegrasikan Pertanian dan Pariwisata, Kurikulum Agrowisata Berkelanjutan untuk Masa Depan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tidak ke Laut, Warga Adat Nagasepaha Melasti ke Batas Desa, di Mata Air Penyawangan Pura Segara

Next Post

Aksara di Bali Tak Akan Lekang oleh Zaman | Dari Seminar Internasional di STAHN Mpu Kuturan

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Aksara di Bali Tak Akan Lekang oleh Zaman | Dari Seminar Internasional di STAHN Mpu Kuturan

Aksara di Bali Tak Akan Lekang oleh Zaman | Dari Seminar Internasional di STAHN Mpu Kuturan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co